Saturday, April 9, 2016

Sang Penebar Sejuta Kesejukan



Wahai penebar sejuta kesejukan!

Izinkan aku bercerita sekelumit masa silam dan masa depanku;

Aku adalah orang yang tertindas sebab jahil menitipkan amanah kepada orang yang salah. Titipan itu adalah suatu kepercayaan. Penyerahan total cinta. Kala amanah itu diremeh-temehkan, dampaknya pada diriku sendiri. Aku harus tersungkur dan tercampakkan karena sakit. Sakit psikis. Yaitu sakit hati.

Ekspresi tangis dengan ritme sesegukan dan isyarat tetesan air mata tak seberapa dibandingkan sakit itu. Aku diam. Merenung. Mengadu pada Tuhan. Cukup!

Goresan luka seperti goresan kaca yang pecah. Semangat menambal dengan sesuap kata-kata “maaf” tak dapat menghilangkan bias. Bias itu mencipta sejarah suram dan tragis.

Aku belajar dari sejarah. Sejarah adalah masa lalu yang menginspirasiku menjemput masa depan. Akhirnya, aku sedikit tegar melupakan sakit dengan hiburan dan janji mimpi-mimpi indah masa depanku. Mimpi yang menginspirasiku merantau ke Jakarta. Di ibu kota modern ini kubertaruh: membaca dan menulis. Dua aktivitas favoritku ini dapat membingkai Jakarta semakin hidup di benakku. Kemudian, kuputuskan kuliah di UIN Jakarta.

Wahai penebar sejuta kesejukan!

Kecantikan adalah keindahan yang mampu menghipnotis alam bawah sadar para lelaki. Awalnya “suka” dan selesai. Tak ada kata lanjut. Ada yang memulai dari perasaan suka dan kemudian dilanjutkan dengan perasaan cinta. Entah... cinta itu bersemi sebab apa: tingkah lakunya yang sopan, kata-katanya yang santun, dan intektualnya yang cemerlang.

Demikian persepsi-persepsi yang aku tahu. Tetapi, kali ini aku merasakan berbeda. Ia hadir membawa sejuta kesejukan yang mampu menenangkan hatiku yang kalut dan gundah. Kata-katanya yang santun, sikapnya yang agamis, dan perhatiannya yang keibuan, mencipta benih-benih cinta yang tulus berlabuh dan tertanam di laman hatiku.

Rasanya, aku seperti kedatangan tamu yang Tuhan utus sembari membawa cinta sejati. Aku sadar, aku sedang tersipu, tetapi aku tidak kuasa mengelak. Apalagi, di saat kesempatan yang berbeda ia datang dengan ayat-ayat Tuhan yang dilantunkan dengan bacaan penuh ritme-ritme ketulusan, sampai ayat-ayat itu menjelma menjadi mukjizat yang melemahkan hatiku yang keras sekeras hati Syayyidina Umar bin Khattab sebelum memeluk Islam. Akhirnya, aku memilih dia, sekalipun itu hanya bisik nurani yang ia sendiri tidak mengetahui, mungkin.

Wahai penebar sejuta kesejukan!

Kini hatiku menjadi tenang. Sakinah. Aman. Sebuah tanya: Benarkah dia adalah malaikat yang diutus Tuhan dan dipercayai menjaga amanah-amanah yang Dia titipkan? Pertanyaan itu terjawab dengan sendirinya oleh ketenangan yang tiba-tiba menyelusup ke dalam relung-relung hati terdalam.

Di saat itu, aku memilihnya sebagai calon khalifah yang setia bersama-sama berjuang menuju kepastian-kepastian hidup yang dijadikan sunah Nabi saw, yaitu menikah. Menikah adalah suatu ikatan yang diperintahkan dalam ajaran Islam. Ikatan itu bukan sekedar ikatan biasa, tetapi ikatan yang diwarnai dengan kedewasaan berpikir dan bertindak, dan sikap bertanggung jawab. Tanpa bermodalkan dua ini, ikatan ini sulit langgeng.

Serius sekali aku membicarakan ikatan pernikahan ini. Memang. Aku bukan anak kecil lagi yang bahagia dengan hubungan pacaran. Sejauh yang aku tahu, pacaran itu adalah pelampiasan nafsu semata tanpa diberengi rasa kedewasaan dan tanggung jawab.

Sungguh beruntung dia merengkuh hatiku, wahai penebar sejuta kesejukan. “Siapa kamu?” hatiku berdesis, “Bukankah kamu Eka Fitria Atmawati Hartono?”

Pamekasan, 27 Januari 2016

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...