Terbitnya
buku saya, Kado Cerita untuk Ade’ku, merupakan
momen bersejarah dibandingkan buku saya yang lain. Buku ini adalah buku pertama
yang memuat tulisan-tulisan non-fiksi saya. Sebelum buku ini terbit, saya fokus
menulis buku yang berkaitan dengan bahasa Inggris seperti Essential English Expression, BPBA English Grammar Book 1, BPBA English
Grammar Book 2, BPBA English Grammar Book 3, dan BPBA English Grammar Book 4.
Kado Cerita untuk Ade’ku yang
saya tulis tak lepas dari beberapa faktor-faktor pendukung. Di antaranya, [1] keinginan
saya mendokumentasikan secara tertulis tentang kisah—bahagia, sedih, senang,
duka, dll—saya dengan Naila. Tulisan, bagi saya, adalah satu-satunya cara
membingkai kisah kita. Selain kesenangan saya menulis, saya teringat dengan
sejarah penulisan Al-Qur’an. Sekelumit mencuplik sejarah itu, kalam Allah swt
sulit—untuk tidak mengatakan “tidak akan”—dikonsumsi kita sekarang tanpa
kehadiran mushaf, lembaran-lembaran yang berisi tulisan-tulisan Al-Qur’an. Kekhawatiran
Abu Bakar melihat banyaknya sahabat-sahabat yang hafal Al-Qur’an mati di medan
peperangan menjadi cambuk atas penolakan Umar bin Khattab karena mematuhi
perintah Nabi Muhammad saw untuk tidak menulis Al-Qur’an. Akhirnya, Umar
menyetujui pernyataan Abu Bakar. Maka, dikumpulkan Al-Qur’an lalu ditulis
secara resmi pada masa kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan.
[2] Ketulusan
cinta Naila menjelma menjadi motivasi yang menyelusup ke dalam diri saya. Saya
tak sadar dan sulit melogikakan bahwa cinta mampu menjadi energi. Karena energi
yang meletup-letup, saya bisa menulis buku Kado
Cerita untuk Ade’ku dengan jumlah halaman lebih dari 400 halaman dan tipe
kertasnya adalah A4 dibagi dua. Tak terbayang, buku setebal itu dapat saya
selesaikan kurang lebih 4 bulan dengan bermodalkan ketikan komputer milik BPBA
Bidang bahasa Inggris PP. Annuqayah daerah Lubangsa.
[3] Planning memberi. Rencana ini memiliki
kaitan arti dengan pernyataan—kalo nggak salah, itu hadits—yaitu tahaadu tahabbu (saling beri-memberi
hadiah, maka akan saling tumbuh perasaan cinta). Kaidah memberi atau berkorban
sehingga dapat membangkitkan rasa cinta ditolak oleh Ronald Frank, motivator
cinta. “Cinta tidak butuh pengorbanan,” kata Frank. Pernyataan ini bercermin
dari banyaknya cowok yang mati-matian berkorban guna menggapai skala cinta
semakin melangit, malahan ceweknya semakin menjauh. Aneh, bukan? Sebab, cinta
tumbuh bukan karena pengorbanan, tapi karena kecocokan jiwa.
Jika
saya menyitir statemen M. Quraish Shihab menjelang waktu sahur kira-kira pukul
03:00 dalam acara dengan tajuk Tafsir Al-Misbah, opini Frank dan Quraish Shihab
tampak berseberangan. “Semakin banyak berkorban, semakin luhur akhlak
seseorang,” jelas Quraish Shihab. Saya tak ingin menghakimi perbedaan opini
ini. Perbedaan ini terjadi kerena cara pendekatan Frank dan Quraish Shihab yang
berbeda; Frank lebih kepada peristiwa secara langsung, sedangkan Quraish Shibab
lebih pada teori dan kedekatanya dengan teks Al-Qur’an dan hadits.
[4] Membuat
tameng. Artinya, terbitnya buku ini, bagi saya, telah cukup menggantikan diri
Naila jika takdir tidak berpihak kepada kita nanti. Melalui buku ini, saya tak
gampang menyesal yang berkepanjangan hingga berakibat stress. Andaikan takdir pro kepada kita, sehingga kita jodoh, saya
beruntung dua kali: mendapatkan diri Naila dan buku itu. Keinginan saya ini
pernah saya sampaikan langsung di depan Naila saat bertemu di dekat masjid PP.
Salafiyah Safi’iyah Sukorejo.
Dan,
[5] wujud cita-cita saya, yaitu menjadi penulis. Cita-cita sepadan dengan
impian/mimpi. Mimpi tidak akan terwujud tanpa di sertai semangat yang melangit
dan usaha yang membumi. Cita-cita terbangun karena kesenangan. Orang yang suka
nyanyi, cita-citanya menjadi penyanyi hebat seperti Ahmad Dani, Rosa, dll;
orang yang suka menulis, cita-citanya pasti menjadi penulis yang produktif dan
bergengsi seperti Dee, Dahlan Iskan, Hernowo, dsb.
Sejak
saya kelas 3 MTs saya pernah mengikuti acara seminar. Penyajinya M. Faizi,
pengasuh PP. Annuqayah daerah Al-Fur’qan dan penyair nasional. “Perasaan
seseorang selalu diungkap melalui kesenangannya. Jika ia senang main drum, maka ia pukul drum itu sekencang mungkin saat perasaan lagi marah. Andai saja ia
suka nulis puisi, maka lahirlah puisi-puisi indah saat lagi jatuh cinta,” tutur
beliau.
Pernyataan
beliau masih saya ingat sekalipun saya tak hafal deretan kalimatnya secara
persis. Karena saya suka nulis, maka ungkapan perasaan saya adalah tulisan yang
lahir dari tangan saya sendiri. Saya pikir hadiah yang paling berharga di
antara yang lain dilihat dari ketulusan pemberinya dan siapa yang memberi.
Selain
itu, membingkai cerita lewat tulisan sulit saya temukan di antara teman-teman
saya yang suka berpacaran. Hanya saja saya menikmati cerita-cerita mereka yang
romantis dan patah hati secara oral. Sekalipun saya dapat mendengarkan dari
pelakunya langsung, saya masih merasakan ada yang minus yaitu cerita itu tak dapat bertahan lama setelah ceritanya
selesai. Kekuatan otak merekam segala hal masih terbatas. Tak ayal, banyak
orang selalu lupa setelah menghafal atau hilang ingatan. Jika lupa menjangkit
otak kita, apa yang dapat kita perbuat. Masihkah kita memutar ingatan kita?
Kendati mungkin, tapi sulit. Jika tulisan yang mengikatnya, kala lupa menghapus
segala memori, tulisan itu adalah alternatif terakhir untuk memulihkan ingatan
ini.
Makanya,
Hernowo dalam bukunya, Mengikat Makna
Update, menyatakan aktivitas menulis benar-benar dibiasakan dalam kehidupan
manusia selain kebiasaan membaca. Karena menulis apa yang telah kita baca atau
yang lain, adalah mengikat makna. Ilmu itu bagai binatang yang gesit, sehingga
tulisan adalah pengikatnya.[]
Congka’, 21 Juli 2015
No comments:
Post a Comment