Friday, July 24, 2015

5 Faktor, Saya Menulis buku Kado Cerita untuk Ade’ku



Terbitnya buku saya, Kado Cerita untuk Ade’ku, merupakan momen bersejarah dibandingkan buku saya yang lain. Buku ini adalah buku pertama yang memuat tulisan-tulisan non-fiksi saya. Sebelum buku ini terbit, saya fokus menulis buku yang berkaitan dengan bahasa Inggris seperti Essential English Expression, BPBA English Grammar Book 1, BPBA English Grammar Book 2, BPBA English Grammar Book 3, dan BPBA English Grammar Book 4.  

Kado Cerita untuk Ade’ku yang saya tulis tak lepas dari beberapa faktor-faktor pendukung. Di antaranya, [1] keinginan saya mendokumentasikan secara tertulis tentang kisah—bahagia, sedih, senang, duka, dll—saya dengan Naila. Tulisan, bagi saya, adalah satu-satunya cara membingkai kisah kita. Selain kesenangan saya menulis, saya teringat dengan sejarah penulisan Al-Qur’an. Sekelumit mencuplik sejarah itu, kalam Allah swt sulit—untuk tidak mengatakan “tidak akan”—dikonsumsi kita sekarang tanpa kehadiran mushaf, lembaran-lembaran yang berisi tulisan-tulisan Al-Qur’an. Kekhawatiran Abu Bakar melihat banyaknya sahabat-sahabat yang hafal Al-Qur’an mati di medan peperangan menjadi cambuk atas penolakan Umar bin Khattab karena mematuhi perintah Nabi Muhammad saw untuk tidak menulis Al-Qur’an. Akhirnya, Umar menyetujui pernyataan Abu Bakar. Maka, dikumpulkan Al-Qur’an lalu ditulis secara resmi pada masa kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan.

[2] Ketulusan cinta Naila menjelma menjadi motivasi yang menyelusup ke dalam diri saya. Saya tak sadar dan sulit melogikakan bahwa cinta mampu menjadi energi. Karena energi yang meletup-letup, saya bisa menulis buku Kado Cerita untuk Ade’ku dengan jumlah halaman lebih dari 400 halaman dan tipe kertasnya adalah A4 dibagi dua. Tak terbayang, buku setebal itu dapat saya selesaikan kurang lebih 4 bulan dengan bermodalkan ketikan komputer milik BPBA Bidang bahasa Inggris PP. Annuqayah daerah Lubangsa.   

[3] Planning memberi. Rencana ini memiliki kaitan arti dengan pernyataan—kalo nggak salah, itu hadits—yaitu tahaadu tahabbu (saling beri-memberi hadiah, maka akan saling tumbuh perasaan cinta). Kaidah memberi atau berkorban sehingga dapat membangkitkan rasa cinta ditolak oleh Ronald Frank, motivator cinta. “Cinta tidak butuh pengorbanan,” kata Frank. Pernyataan ini bercermin dari banyaknya cowok yang mati-matian berkorban guna menggapai skala cinta semakin melangit, malahan ceweknya semakin menjauh. Aneh, bukan? Sebab, cinta tumbuh bukan karena pengorbanan, tapi karena kecocokan jiwa.

Jika saya menyitir statemen M. Quraish Shihab menjelang waktu sahur kira-kira pukul 03:00 dalam acara dengan tajuk Tafsir Al-Misbah, opini Frank dan Quraish Shihab tampak berseberangan. “Semakin banyak berkorban, semakin luhur akhlak seseorang,” jelas Quraish Shihab. Saya tak ingin menghakimi perbedaan opini ini. Perbedaan ini terjadi kerena cara pendekatan Frank dan Quraish Shihab yang berbeda; Frank lebih kepada peristiwa secara langsung, sedangkan Quraish Shibab lebih pada teori dan kedekatanya dengan teks Al-Qur’an dan hadits.

[4] Membuat tameng. Artinya, terbitnya buku ini, bagi saya, telah cukup menggantikan diri Naila jika takdir tidak berpihak kepada kita nanti. Melalui buku ini, saya tak gampang menyesal yang berkepanjangan hingga berakibat stress. Andaikan takdir pro kepada kita, sehingga kita jodoh, saya beruntung dua kali: mendapatkan diri Naila dan buku itu. Keinginan saya ini pernah saya sampaikan langsung di depan Naila saat bertemu di dekat masjid PP. Salafiyah Safi’iyah Sukorejo.

Dan, [5] wujud cita-cita saya, yaitu menjadi penulis. Cita-cita sepadan dengan impian/mimpi. Mimpi tidak akan terwujud tanpa di sertai semangat yang melangit dan usaha yang membumi. Cita-cita terbangun karena kesenangan. Orang yang suka nyanyi, cita-citanya menjadi penyanyi hebat seperti Ahmad Dani, Rosa, dll; orang yang suka menulis, cita-citanya pasti menjadi penulis yang produktif dan bergengsi seperti Dee, Dahlan Iskan, Hernowo, dsb.

Sejak saya kelas 3 MTs saya pernah mengikuti acara seminar. Penyajinya M. Faizi, pengasuh PP. Annuqayah daerah Al-Fur’qan dan penyair nasional. “Perasaan seseorang selalu diungkap melalui kesenangannya. Jika ia senang main drum, maka ia pukul drum itu sekencang mungkin saat perasaan lagi marah. Andai saja ia suka nulis puisi, maka lahirlah puisi-puisi indah saat lagi jatuh cinta,” tutur beliau.

Pernyataan beliau masih saya ingat sekalipun saya tak hafal deretan kalimatnya secara persis. Karena saya suka nulis, maka ungkapan perasaan saya adalah tulisan yang lahir dari tangan saya sendiri. Saya pikir hadiah yang paling berharga di antara yang lain dilihat dari ketulusan pemberinya dan siapa yang memberi.

Selain itu, membingkai cerita lewat tulisan sulit saya temukan di antara teman-teman saya yang suka berpacaran. Hanya saja saya menikmati cerita-cerita mereka yang romantis dan patah hati secara oral. Sekalipun saya dapat mendengarkan dari pelakunya langsung, saya masih merasakan ada yang minus yaitu cerita itu tak dapat bertahan lama setelah ceritanya selesai. Kekuatan otak merekam segala hal masih terbatas. Tak ayal, banyak orang selalu lupa setelah menghafal atau hilang ingatan. Jika lupa menjangkit otak kita, apa yang dapat kita perbuat. Masihkah kita memutar ingatan kita? Kendati mungkin, tapi sulit. Jika tulisan yang mengikatnya, kala lupa menghapus segala memori, tulisan itu adalah alternatif terakhir untuk memulihkan ingatan ini.

Makanya, Hernowo dalam bukunya, Mengikat Makna Update, menyatakan aktivitas menulis benar-benar dibiasakan dalam kehidupan manusia selain kebiasaan membaca. Karena menulis apa yang telah kita baca atau yang lain, adalah mengikat makna. Ilmu itu bagai binatang yang gesit, sehingga tulisan adalah pengikatnya.[]

Congka’, 21 Juli 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...