Friday, August 21, 2015

Tafsir Sosok Kiai Warits



Judul Buku
Oase Keteladanan K.H. A. Warits Ilyas
Penulis
K.H. M. Syafi’ie Anshori, dkk.
Penerbit
Q Media Yogyakarta
Cetakan
1, Februari 2015
Tebal
131 halaman
ISBN
978-602-71599-2-1

Menjalani hidup tak lepas dari tantangan. Pribadi yang terpuji ditentukan sejauh mana pribadi itu mampu menaklukkan segala cobaan hingga ajal menjemputnya.

Warna-warni hidup juga dapat dilihat dari perjalanan hidup Kiai Warits—sebutan KH. A. Warits Ilyas—yang diurai secara detail dalam buku Oase Keteladanaan K.H. A. Warits Ilyas. Buku ini memuat satu profil Kiai Warits dan dua puluh tulisan alumni Pondok Pesantren Annuqayah.

Tiga tafsir kepribadian Kiai Warits yang tetap membekas: beliau sebagai kiai, tokoh masyarakat, dan politisi.

Pertama, sosok Kiai Warits sebagai kiai yang terpancar: [a] menjunjung tinggi akhlakul karimah. Kata KH. Syafi’ie Anshori (santri PP. Annuqayah 1966-1972) dalam tulisannya, Warna-Warni Keteladanan, Hati-hati, peduli, dan menghormati. Itulah di antara sikap Kiai Warits yang sangat berkesan bagi saya dan penting diteladani” (hal. 13); [b] mewariskan Al-Qur’an sebagai pegangan hidup santri beliau, baik saat mondok maupun saat pulang ke masyarakat. Muhdori AR (santri PP. Annuqayah 1979-1985) menyatakan dalam tulisannya, Mewariskan Al-Qur’an, “Sekitar empat tahun lamanya saya belajar membaca Al-Qur’an diasuh langsung oleh sang kiai. Setiap hari ba’dha Subuh saya bersama beberapa santri mengaji di serambi rumah beliau. Saya yakin dengan barokah bimbingan beliau dalam mengaji, saat ini saya di Jakarta menjadi pengajar Al-Qur’an dari pinggiran kota Jakarta hingga di Masjid Istiqlal” (hal. 44); dan [c] menjadi pendidik sejati. Dalam tulisan Hasani Asro (santri PP. Annuqayah 1989-1994) yang bertajuk Ulama, Pendidik dan Politisi, Kiai Warits selain menjadi pengasuh/kiai pesantren, beliau juga aktif di dunia politik, namun beliau tetap mendidik santri beliau tanpa terkecuali. Sikap seperti ini sangat sulit dimiliki banyak orang; jamak orang yang terjun di politik, mengesampingkan dunia pendidikan, begitupun sebaliknya (hal. 101).

Kedua, beliau sebagai tokoh masyarakat. Menjadi tokoh mayarakat, bukan suatu hal yang mudah diemban. Setiap gerak-geriknya menjadi cermin bagi masyarakatnya. Kultur yang baik dan jelek di suatu masyarakat, salah satunya, bisa dilihat dari sikap tokoh masyakatnya.

Sebagai tokoh masyarakat, Kiai Warits telah mendapat penilaian positif dari masyarakat dan santri-santri beliau. Di antara pelbagai komentar [a] Kiai Warits konsisten menjunjung ideologi Ahlussunnah wal Jamaah (hal. 83-84). Kekonsistenan ini menjadi tameng saat zaman semakin edan dan mayoritas orang mumet dihadapkan pada aneka macam paham seperti ISIS, Wahabi, JIL, Ahmadiyah, dll; dan [b] dedikasi yang tinggi kepada masyarakat. Di antara pengabdian beliau kepada masyarakat yang tampak adalah silaturrahmim kepada alumni Annuqayah tetap terjalin, sekalipun berada di tempat yang jauh. Jufri Halim (santri PP. Annuqayah 1983-1993) menyatakan dalam tulisannya, Tak Henti Mengayomi Alumni, Jati diri sebagai santri Annuqayah makin terasa, terlebih setelah intensitas silaturrahim dijalin di antara santri Annuqayah yang ada di Jakarta, mulai dari Ikatan Alumni Annuqayah (IAA), Forum Silaturrahim Santri Alumni Annuqayah (ForSAA), bahkan pertemuan keluarga yang mayoritas merupakan alumni santri Annuqayah” (hal. 64). Tak ternyana, beliau tetap hadir, sekipun jarak antara Annuqayah-Guluk-Guluk Sumenep—kediaman beliau—dan Jakarta sangat jauh dan umur beliau yang sepuh yaitu 76 (1938-2014).

Ketiga, beliau sebagai politisi: politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), anggota DPRD Sumenep, wakil ketua DPRD Sumenep dan wakil ketua MPR RI. Terjun di dunia politik adalah tantangan yang amat berat. Tak sedikit orang yang aktif di dunia politik terjatuh ke jurang kenistaan seperti kasus korupsi, kongkalikong, nepotisme, dll. Sejauh tafsir penulis-penulis dalam buku ini, Kiai Warits benar-benar mampu menepis perbuatan-perbuatan amoral dan tidak manusiawi ini. Beberapa hal yang patut diteladani dari sosok Kiai Warits sebagai politisi: [a] kedisiplinan (tepat waktu). Beliau dikenal disiplin berangkat ke dan pulang dari kantor. Dalam kondisi yang lain, seperti mengajar, menghadiri undangan, dll, kedisiplinan tetap beliau jaga. Hal demikian terungkap dalam tulisan Ida Royani (santri PP. Annuqayah 1991-2005) yang berjudul Selalu Tepat Waktu, “…saya juga mengingat beliau sebagai sosok yang sangat menghargai waktu. Suatu ketika, saya, Ning Oot, dan Sahani (santri seperti saya), diundang ke pernikahan. …undangan jam 10:00 WIB beliau sudah berangkat karena takut terlambat” (hal. 108).

Dan, [b] warak. Sikap mulia ini terpancar dari kebiasaan bijak Kiai Warits menggunakan mobil negara dan mobil pribadi secara teratur. Artinya, kepentingan pribadi hendaknya menggunakan mobil pribadi, sedangkan mobil negara boleh dipakai jika bersangkutan dengan kepentingan negara. Sikap seperti ini sulit ditemukan di antara pemimpin sekarang. Sikap warak beliau juga menjadi tameng dari perbuatan amoral seperti korupsi. Selain itu, kehati-hatian beliau dari uang haram; beliau rajin mencatat pengeluaran, sekalipun sekecil Rp. 500,-.

Nah, demikian tafsir kepribadian Kiai Warits, mulai sebagai kiai, tokoh masyarakat, hingga politisi. Hasil tafsir yang positif tentang beliau patut dijadikan contoh/teladan bagi kita dalam menjalani hidup yang penuh tantangan.[] 

Tulisan ini dimuat di Majalah Infitah Edisi XXVI April 2016 

Pandangan Islam tentang Perempuan



Judul Buku
Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan
Penulis
Prof. Dr. HAMKA
Penerbit
GEMA INSANI
Cetakan
1, Oktober 2014
Tebal
viii + 134 halaman
ISBN
978-602-250-236-4

Isu perempuan—terutama dalam pergaulan rumah tangga—menjadi diskursi yang tak kunjung tuntas hingga sekarang. Diskriminasi gender terus- menerus digembar-gemborkan para pengusung liberalisme dan orientalis yang tidak menyukai cara Islam melindungi, memuliakan dan menghormati perempuan.

Lahirnya liberalisme dan orientalis yang “sok” bijak menyetarakan perempuan dan laki-laki dalam segala hal—seperti bagian harta warisan, menjadi pemimpin, menjadi imam shalat, dll—telah menyulut emosi mayoritas pemeluk agama Islam. Sepertinya ajaran Islam yang berbasis Al-Qur’an dan hadits bukan di-tajdid, tetapi dirombak total/dirubah.

Buya Hamka merespons persepsi-persepsi salah ini dengan tulisan-tulisannya yang diterbitkan di Majalah Panji Masyarakat pada tahun 1990-an. Kemudian, tulisan-tulisan diterbitkan dalam bentuk buku yang diberi judul, Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan ini.

Tulisan-tulisan ini ditulis Hamka dengan merujuk pada Al-Qur’an dan hadits sebagai dua sumber sahih dalam Islam. Perempuan, tafsir Hamka, merupakan bagian ciptaan yang disebut-sebut Allah swt dalam QS. An-Nisa’: 1 dengan nafsin wahidatin. Petikan lafal tersebut tidak ditafsirkan dengan tubuh yang kasar, melainkan pengertian yang biasa, yaitu “diri”. Diri manusia pada hakikatnya satu, kemudian dibagi dua: satu menjadi bagian laki-laki dan yang satu menjadi bagian perempuan. Nah, dua coraknya, jantan dan betina, hakikat jenisnya tetap satu, yaitu manusia. Laki-laki dan perempuan sama-sama manusia (hal. 2).

Islam sama-sekali tidak memihak pada kaum laki-laki. Allah swt mencipta laki-laki dan perempuan dengan kualitas yang sama, sedangkan yang membedakan adalah ketakwaan mereka. Difirmankan dalam Al-Qur’an: Inna akramakum indha Allahi atqakum (Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah swt adalah yang paling tinggi kualitas ketakwaannya).

Dilanjutkan dengan firman-Nya dalam QS. At-Taubah: 71-72: [71] Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [72] Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan, keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.

Melalui ayat-ayat tersebut, perempuan disetarakan dengan laki-laki oleh Allah swt dalam berbuat. Mereka sama-sama diperbolehkan berbuat baik dan mencegah kemungkaran, mendirikan shalat, dll.

Dalam hadits Nabi Muhammad pun dirawikan oleh Thalhah bin Muawiyah as-Sulami, dia mengatakan bahwa dia datang kepada Rasulullah saw menyatakan bahwa dia ingin sekali turut berjihad fi sabilillah bersama Rasulullah. Lalu Rasulullah bertanya, “Apakah ibumu masih hidup?” Ia menjawab, “Masih!” Rasulullah saw bersabda, “Tetaplah berada pada kedua kaki ibumu dan di situlah terdapat surga.”

Betapa mulianya Islam memosisikan kaum perempuan sampai-sampai surga—tempat yang mulia—diletakkan di bawah telapak kaki ibu. Bahkan, dalam hadits yang lain dinyatakan bahwa ketika ada sahabat yang tanya kepada Nabi saw tentang siapa yang patut dimuliakan atau dihormat, beliau menjawab “ibu” sampai 3 kali beturut-turut lalu “bapak”.

Di sisi lain, persepsi salah kaum liberal dan orientalis tentang ketidakadilan Islam dalam pembagian harta warisan—faliddakari mitslu haddhi al-untsayain (dua bagian perempuan sama dengan satu bagian laki-laki)—telah dibahas tuntas oleh Dr. H. Abdoerrauf, S.H. ketika mempertahankan disertasi untuk meraih gelar doktornya di Universitas Islam (UI) Jakarta yang berjudul “Al-Qur’an dan Ilmu Hukum” pada hari Jum’at tanggal 19 Juni 1970 (hal. 116-117).

Persepsi/tafsir orientalis tentang ketidakadilan Islam, dalam desertasi Adboerrauf, tidak “pas” disandingkan dalam kasus pembagian harta warisan. Sebab, adil tidak harus sama. Andai saja, mereka sadar dan menelaah lebih radikal, pasti disimpulkan bahwa bagian utuh seorang laki-laki disesuaikan dengan tanggung jawabnya untuk yang lain yaitu memberikan nafkah, sedangkan perempuan mendapat separuh karena bagian itu hanya untuk dirinya sendiri.

Tentang tugas perempuan, Hamka membahas dalam tulisannya yang berjudul Hak-Hak Istimewa Perempuan. Ternyata, perempuan juga memiliki hak istimewa dalam berinteraksi: [1] mendapat nafkah dari suami; [2] boleh meminta cerai (khulu’) jika seorang istri merasa di dalam pergaulan dengan suaminya ada hal-hal yang membuatnya menderita; dan [3] berhak atas dirinya menentukan siapa yang akan menjadi jodohnya (hal. 129-134). 

Diskriminasi gender atau marjinalisasi kaum feminin yang sering dilontar-lontarkan pengusung liberalisme dan orientalis merupakan sekian persepsi yang dibuat-buat dan tidak didasarkan pada dalil Al-Qur’an dan hadits, melainkan didasarkan pada akal semata. Islam sangat santun memandang perempuan.[]

Lubangsa, 3 Agustus 2015

Menjelajahi Hidup



Judul Buku
Dunia Kafka
Penulis
Haruki Murakami
Penerbit
Pustaka Alvabet
Cetakan
1, Juni 2011
Tebal
597  halaman
ISBN
978-602-9193-03-9

Novelis Jepang Kontemporer, Haruki Murakami, menulis karya fiksi monumental berjudul Dunia Kafka. Dengan label kover bestseller international buku ini tentu booming dan dimininati jamak pembaca.

Haruki mengemas cerita dalam buku ini dengan dua plot berbeda namun saling terkait: cerita seorang Kafka Tamura—anak usia lima belas tahun yang kabur dari rumahnya—dan Nakata—orang tua yang bodoh; tidak bisa membaca dan menulis sebab kecelakaan, tapi dia memiliki kelebihan, dapat berbicara dengan kucing.

Pertama, Kafka, diceritakan, seorang pemberani berdasar usianya yang masih baru menginjak masa pubertas nekat menjelajahi dunia; kabur dari rumahnya di Tokyo menuju Takamatsu. Kehendak bulat meninggalkan rumah, segala kebutuhan di perjalanan: pakaian, benda tajam, uang, dll, dimasukkan ke dalam ranselnya. Dia pergi bukan tanpa alasan; suatu hal yang mendorongnya adalah keinginan menghindar dari ramalan nahas bapaknya, Koichi Tamura; Kafka nanti akan membunuh bapaknya sendiri dan meniduri ibu kandung dan kakaknya.

Pengalaman menarik yang dapat diungkap selama kepergian Kafka, di antaranya, [a] pertemuannya dengan Sakura hingga tanpa terasa sikap nakal, berhubungan seks, terjadi di malam kelam saat Kafka tidak bisa tidur. Kelakuan tercela—menurut perspektif Islam—menjadi biasa bagi Sakura guna menghapus kegundahan dan perasaan galau mencekam. Hingga Kafka meninggalkan Sakura menuju perpustakaan Komura di Takamatsu tanpa pamit.

[b] Pertemuannya dengan seorang gadis sukarelawan, Otsima—pustakawaan Komura—sampai Kafka disediakan tempat tinggal dan bebas baca-baca buku di perpustakaan. Ditambah jalan-jalan keliling dan lihat-lihat museum perpustakaan yang tampak megah dan penuh sejarah. Persahabatan kian menguat, mereka berdua seolah-olah kakak dan adik. Pernah Kafka ikut Otsima ke pondoknya di suatu daerah terpencil. Di sanalah Kafka menjelajahi hutan luas dan lebat. Sikap berani membuat Kafka tidak keder, sekalipun dia tahu keluasan hutan itu menyebabkan banyak pengunjung tersesat.

[c] Percintaan Kafka dengan Nona Saeki, pekerja di perpustakaan Komura, yang telah berusia lima puluhan. Dibandingkan dengan usia Kafka—lima belas tahun—perasaan Kafka seakan aneh di telinga Nona Saeki. Tapi, itulah cinta. Sulit dirasionalkan. Memang cinta tak pandang usia. Akhirnya, cinta itu menemukan muaranya.

Sedari ketemu dengan Nona Saeki, Kafka melihat roh Nona Saeki duduk di kursi sembari memandang sebuah lukisan indah di tengah gulita yang menyesaki ruangan. Dan, di malam berikutnya, tanpa disadari, roh itu mendekati jasad Kafka yang terbaring di sofa. Nona Saeki melepas pakaian hingga telanjang. Saat itulah, hubungan seks, terjalin antara Kafka dan Nona Saeki, tanpa sepatah kata pun. Diam.

Dan, [d] perasaan panik saat dikejar polisi usai kematian bapaknya, Koichi Tamura, di ruang kerjanya. Pembunuhan yang tak terungkap pelakunya mendorong polisi investigasi. Salah satu yang disorot adalah putranya sendiri, Kafka. Ketulusan Otsima sebagai sahabat, terus update tentang investigasi ini; Kafka disarankan tidak keluar dari kamar dekat perpustakaan agar selamat dari kejaran polisi.

Jejak perjalanan Kafka selalu dalam pantauan seorang bocah bernama Gagak. Bocah ini terkadang datang tanpa dinyana; mengomentari setiap kelakuan Kafka. Hubungan seks dengan Sakura dan Nona Saeki tanpa diduga telah terpelosok dalam ramalan ayahnya sendiri. Kata Gagak, Sakura adalah kakak Kafka, sedangkan Nona Saeki adalah ibunya Kafka. Dua perempuan itu meninggalkan Kafka sedari usia kanak-kanak.

Kafka Kaget. Melangkahi ramalan itu tentu akan memikul konsekuensi yaitu kutukan. Tapi, semangat Kafka menghindar dari kutukan itu tetap terpikat kuat. Saat curhat pada Gagak untuk minta solusi, disarankan Kafka berani menjelajahi hutan tanpa banyak perhitungan. Di sanalah perasaan takut mencekam. Sebab keinginan yang kuat, semuanya hilang dengan sendirinya. Hingga Kafka selamat dan kembali ke tempat asalnya, Tokyo.

Komentar Kafka di akhir cerita buku ini yang memukau, “Tapi aku tetap tidak tahu apa-apa tentang kehidupan.” (hal 596).

Kegalauan ini terjawab lewat komentar Gagak, “Lihat lukisan itu dan dengarkan angin.” (hal 597).

Tafsir saya, kegundahan-ketidakpuasan Kafka menjelajahi dunia, persis dengan sikap orang alim yang merasa bodoh. Segala ilmu yang menyerap dalam otaknya seakan-akan tidak ada, bukan kosong. Spirit belajar tetap membara.

Dan, kedua, Nakata yang tampak aneh diukur dari kebiasaan manusia. Dia: [a] dapat berbicara dengan pelbagai kucing seperti Mimi (kucing cantik yang tidak ceroboh), Goma (kucing yang hilang hingga menyebabkan pemiliknya resah), dsb. Kedekatannya dengan kucing-kucing tampak seperti sahabat, lebih-lebih keluarga. Tak ayal, Nakata mendapat uang sebagai bekal hidup melalui mencari kucing yang hilang.

Suatu ketika Nakata membunuh Johnnie Walker, pembunuh kucing-kucing untuk diambil hatinya lalu ditelan mentah-mentah dan potongan kepalanya disimpan di dalam kulkas es. Tindakan kriminal Nakata sejatinya telah diperintah Johnnie sebelumnya karena ia merasa bersalah telah membunuh kucing bertahun-tahun. Namun, Nakata tak langsung menerima tawaran itu. Membunuh, bagi Nakata, adalah tindakan jahat yang belum pernah dikerjakan selama hidup. Melalui rasa prihatin Nakata atas kucing-kucing yang terbunuh mengenaskan, Johnnie ditusuk Nakata dengan pisau dapur. Johnnie jatuh dan tergeletak di lantai. Nakata pingsan tanpa sadar telah bertindak kriminal. Darah mengalir deras.

Aneh, Nakata selamat dari penjara/hukuman karena polisi yang dikunjungi tidak percaya melihat tindakan Nakata yang terkesan aneh; setelah disuruh nulis di surat pernyataan, Nakata bilang tidak bisa menulis, apalagi membaca.

[b] Nakata dapat tidur kurang lebih dua hari saat capek membeban. Tapi, temannya yang amat setia, Hoshino, membiarkannya berbaring di sofa empuk hingga bangun.

[c] Selain dapat mengerti bahasa hewan, Nakata juga dapat membaca isyarat yang disampaikan benda mati seperti ‘batu masuk’. Nakata mampu menyampaikan pesan-pesan batu itu.

Dan, [d] selama Nakata merantau, peristiwa aneh sering terjadi: hujan ikan dan lintah dari langit, padahal suasana saat itu tidak mendung. Keanehannya sungguh di luar jangkauan akal.

Cerita dengan kemasan menarik, saya menyadari, awal kali membaca tidak tertantang, tapi saat pada bab akhir-menjelang finis, saya dibikin haus sekalipun bab demi bab telah saya kenyam seakan-akan saya minum air laut; bukan semakin menghapus dahaga, tapi semakin menambah haus. Selain itu, saya selalu dibikin bertanya-tanya saat membaca bab per-bab. Sebelum berlanjut pada bab berikutnya, pikiran saya tidak mampu menerka plot cerita di bab tersebut.

Novel penuh fantastik. Selamat membaca![]

Lubangsa, 17 Agustus 2015

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...