Monday, June 29, 2015

Antara PHP dan Munafik



Menjadi momen yang sulit terlupakan saat saya membaca kisah kehidupan makhluk Allah (malaikat, setan, dan Adam) yang dihias dengan karakter yang berbeda-beda di surga. Malaikat, makhluk-Nya yang tidak dikarunai nafsu, sehingga jejak hidupnya selalu positif (bertasbih kepada Allah); setan, makhluk-Nya yang diciptakan setelah penciptaan malaikat dan dianugerahi nafsu. Sayangnya, dia tidak mampu menjinakkan nafsunya, sehingga dia, dalam Al-Qur’an, berani membangkang terhadap perintah-Nya (sujud terhadap Adam). Tragisnya, Allah melaknat setan menjadi ciptaan-Nya yang terus-menerus durhaka, bahkan sampai hari kiamat nanti; dan Adam, ciptaan-Nya yang terakhir. Selain dia punya nafsu, dia dikaruniahi akal sebagai media berpikir.

Sebab nafsu dan akal, manusia, sejak Adam hingga sekarang, terhias dengan beragam karakter: penyayang, jujur, pembohong, pemberani, penakut dan lain-lain. Macam-macam karakter ini jika dipilah tentu menjadi karakter baik dan karakter buruk. Penyayang, jujur, dan pemberani termasuk karakter baik yang mampu menghias kepribadian manusia tampak karismatik di mata banyak orang. Sebaliknya, pembohong, penakut, sampai penipu, merupakan karakter buruk yang bisa-bisa mengakibatkan dampak negatif, baik terhadap sipelaku sendiri atau orang lain.

Anehnya, karakter buruk yang disadari jelek di mata manusia (lebih-lebih di hadapan Tuhan), bahkan semua agama melarangnya, tak henti-henti bersemayam dan menguasai pikiran dan hati manusia. Tak heran, berjuta-juta manusia berani korupsi, berbohong dan menipu orang lain. Anda tahu, perbuatan serupa pernah terjadi saat Rasulullah Saw dan sahabatnya menyebarkan agama Islam. Biasanya pelakunya bermuka manis dan suka menggadai janji-janji palsu di depan orang Islam. Dalam Al-Qur’an, orang semacam itu dikenal dengan “orang munafik,” sedangkan, sekarang populer dengan sebutan PHP (Pemberi Harapan Palsu).

Allah Swt mengungkap orang itu dalam QS. Al-Baqarah: 14: Wa idza laqu al-ladzi amanuu qaluu amannaa, wa idza khalau ila syayathinihim qaluu innaa maakum innama nahnu mustahzi’un. Apabila mereka (orang kafir) berjumpa dengan orang mukmin, mereka berkata, “Kami beriman.” Tapi, apabila mereka kembali kepada golongan mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami tetap bersamamu. Hanya saja kami mengolok-olok mereka (orang mukmin).”

Dalam Tafsir al-Qur’an al-Adzim (populer dengan sebutan Tafsir Ibnu Katsir), Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut dengan tipe-tipe orang munafik (al-munafiqun). Bahwa orang munafik, jika bertemu dengan orang mukmin, selalu mengaku dirinya mukmin, sok akrab, dan berjabat tangan. Sebenarnya, mereka berbohong.

Pun, Muhammad Ali Al-Shabuny menyebutkan dalam tafsirnya, Shafwat al-Tafasir, bahwa tipe orang yang digambarkan Allah dalam QS. Al-Baqarah di atas adalah orang munafiq. Oleh sebab itulah, orang mukmin wajib mengurangi bergaul dengan tipe orang seperti itu.

Gambaran di atas hanya sebagian misal yang diungkap Allah agar orang mukmin berhati-hati dalam memilih teman, lebih-lebih pasangan hidup (suami atau istri).

Mengetahui kemunafikan atau ke-PHP-an lawan bicara kita tidak mudah. Sebab, orang yang seperti itu, dalam hadits Nabi, bermuka dua: baik dan buruk. Secara lahir tampak baik, namun hatinya bermaksud lain. Hati, bersifat tersembunyi dan samar. Hanya Allah yang mengetahui maksud hati manusia.

Jadi, perbedaan istilah “PHP” dan “munafik” berdasarkan uraian di atas hanya berkutat terhadap perkembangan zaman semata (dari zaman klasik hingga zaman modern), sedangkan arti kedua kata tersebut sama. Bukankah “memberi harapan palsu” adalah “omong kosong” atau “perkataan dusta” yang menjadi ciri-ciri orang munafik?

Nabi Muhammad menyebutkan: “Ciri-ciri orang munafik ada tiga: pertama, apabila berbicara, ia berdusta. Kedua, apabila berjanji, ia ingkar. Ketiga, apabila dipercaya, ia berkhianat.”

Di lain sisi, sebutan “PHP” lebih populer dan mengarah terhadap hubungan asmara (love affair). Misalkan, janji-janji palsu laki-laki (boy) yang sering digadai terhadap ceweknya (girl-friend), bahwa silelaki berjanji akan meminang dan mengawininya sebagai bentuk keseriusan dan kesetian atas cinta yang dijalani. Tapi, karena itu hanya omong kosong alias PHP saja, kenyataan tak seindah kata-katanya. Sebelum yang dijanjikan menjadi kenyataan, sicewek dibiarkan terlantar dan broken heart. Tragisnya, silelaki itu move on terhadap perempuan lain. Naudzubillah!

Nah, hindailah PHP dan orang munafik. Jangan sampai ia menjadi teman, lebih-lebih pasangan hidup anda. Karena, PHP dan munafik berakar dalam satu arti, “omong kosong.”[] 

Tulisan ini dimuat di Majalah Infitah Edisi Spesial XXV April 2015.

Sekilas tentang Aku



Hidup seseorang selalu memikat. Yang satu dengan yang lain saling bahu-membahu. Kala kesulitan membebaninya, minta bantuan tetangga atau siapa pun adalah cara untuk melepaskan beban berat yang tak dapat dipikul sendiri, hingga beban itu menjadi ringan. Kala keberhasilan terwujud, orang  sekitar pun ikut bangga.

Aku lahir di pedesaan agamis amat. Sungguh menjadi isu negatif (negative issue), jika diketahui dua orang lawan jenis kepergok berduaan di tempat yang sepi, misalkan. Atau, terlihat dua orang bukan makhram boncengan, kendati sudah berstatus tunangan. Tapi, kondisi ini bertumpu sebelum tahun 2009-an. Sedangkan, tahun-tahun berikutnya hingga sekarang kesadaran akan perkembangan zaman dari waktu ke waktu semakin tersentuh. In fact, sudah kenal teknologi seperti ponsel, komputer dan lain sebagainya, dan mengerti gelagat pemuda: tak mudah menuding negatif, tapi memberikan kebebasan untuk menikmati masa muda sebelum beranjak menjadi tua. Pesan Sayyidina Ali tentang pendidikan tersentuh dalam benaknya, “Didiklah anakmu sesuai dengan masa anakmu, tapi jangan perbuat anakmu mengikuti zamanmu.”

Ketaatan mereka dalam memposisikan ajaran Islam sebagai the way of life dipahami secara teks, bukan secara konteks, sehingga, fiqh dan tasawuf sebagai dasar-dasar Islam setelah tauhid sulit membumi. Padahal, dua ajaran itu dari waktu ke waktu tak lepas dari perkembangan dan perubahan. Permasalahan muncul tak kunjung pupus. Sehingga, terlihat sulit menjawab tantangan yang menjamah hidup mereka. Problem yang tidak menemukan titik temunya, terutama kasus yang berkaitan dengan masalah fiqh akhirnya ditangguhkan (mawquf). Keresahan sedikit demi sedikit mereka rasakan. Karena, Islam  sebagai agama yang dengan ajarannya, fiqh atau apalah, diharapkan dapat menjembatani setiap inci permasalahan mereka, malahan hanya mengombar janji palsu. Banyak orang merintih dan meresah karena tidak terpenuhi kebutuhan hidupnya. Misal, kemiskinan yang tidak dientaskan, perkembangan yang dibungkam, dan kebebasan yang dijerat.

Belajar ilmu agama lebih menyentuh benak masyarakat: belajar tauhid, fiqh, dan tasawuf. Bahan bacaannya berupa kitab-kitab klasik (kitab turats) seperti Ummu al-Barahin, Jawahir al-Kalam, Fathu al-Qarib, Fathu al-Mu’in, Bidayah al-Hidayah,  Maraqi al-Ubudiyah, Sullamu al-Taufiq dan lain-lain. Ditambah kajian kitab Khalashatu Nuri al-Yaqin (kitab Tarikh), dan beberapa kitab yang membahas ilmu alat yaitu Nahwu-Sharraf seperti Awamil, Jurmiyah, Imrithi, Mutammimah, Kailani, Asmawi, al-Fiyah, dan beberapa kitab lainnya.

Bahan bacaan yang berbentuk buku sedikit pun tak menjadi daya tarik untuk menemukan setitik makna di dalammnya seperti Nuansa Fiqh Sosial (karya Sahal Mahfud), Tapak Sabda, Semesta Sabda, Berpikir seperti Nabi (karya Fauz Noer), Studi Islam  Kontemporer (karya Moh. Asrori, M.Ag), Berkenalan dengan Filsafat Islam  (karya Sunardi Tiam), Tidak Ada Negara Islam  (karya Cak Nur dan Moh. Roem), Ngobrol dengan Gus Dur di Alam Kubur (karya Argawi Kandinto), Pembaharuan Pesantren (karya Abd. A’la), Kapita Selekta Yurisprundensi Islam  (karya M. Afif Hasan) dan beberapa buku yang lain. Padahal, isi buku-buku itu tak jauh berbeda dari yang disampaikan dalam kitab-kitab klasik tersebut. Mungkin, titik perbedaannya hanya relevan atau tidaknya. Dapat dipastikan bahwa buku-buku tersebut lebih relevan dibandingkan kitab-kitab karya ulama terdahulu. Sebab, situasi dan kondisi di masa kini tidak sama dan persis dengan kondisi di masa silam. Sehingga, perubahan kondisi (al-ahwal) membutuhkan hukum yang berbeda pula. La yankuru taghyiru al-ahkami bi taghyiri zamani wa al-ahwal. No problem terjadi perubahan hukum karena situasi dan kondisi yang berlainan.” Masih ingat? Ada perbedaan yang mencolok yang lahir dari satu ulama besar, yaitu Imam Syafi’ie. Dua qaul yaitu qaul jadid dan qaul qadim yang populer sebagai pendapatnya yang dihasilkan dari kondisi yang berlainan antara Mesir dengan Irak.

Nah, aku pun begitu. Di atas kebiasan membaca teks-teks turats, otakku diporsir sedemikian rupa memahami teks tersebut, sekalipun penuh kesulitan sebab membacanya membutuhkan kebiasaan dan penguasaan ilmu alat, Nahwu-Sharraf. Kitab-kitab turast itu, bagiku, terlihat unik karena tak semua orang mampu membacanya dengan fasih dan benar. Awalnya, aku merasa terpaksa, tapi setelah dijalani dan ada bintik-bintik pengetahuan yang masuk menyelusup ke dalam memoriku, perasaan senang semakin tumbuh hingga dibuat menjadi-jadi. Then, para pakar kitab turast yang hidup di desaku, sempat aku kunjungi dan belajar. Mereka kelihatan senang melihat kehadiranku. Beragam motivasi tak henti disodorkan. Aku hanya duduk termangu sembari khusuk mendengarkan setiap kalimat yang mereka katakan. “Perkataan mereka adalah jalan menuju kesuksesan,” yakinku dalam-dalam.

Di sela kekosongan, bait-bait Al-Fiyah melantun membentuk irama. Aku kelihatan tertarik menghafal bait-bait yang ditulis Muhammad bin Abdillah bin Malik Al-Andalusy. Sekalipun, bait tersebut sangat banyak dan sulit. Bayangkan, bait itu berjumlah seribu nazam seirama dengan judul kitabnya, Al-Fiyah. Sungguh sangat banyak. Sedikit banyak butuh memeras otak. Tapi, karena abah terus mendorong disertai cerita tentang perjuangan Kiai Warits yang hafal bait ini selama sepekan, aku mulai niat baik ini dan terus menghafal hingga akhirnya hafal secara sempurna. Aku masih ingat kalau Al-Fiyah itu sudah dihafal mulai awal semester 2 kelas 2 MTs sampai akhir semester 2 kelas 3 MTs sebelum berangkat ke pondok.

Belajar nulis seperti artikel, opini, esai, cerpen, puisi, atau nulis di buku harian, masih belum tumbuh di benakku, apalagi masih belum tahu macam tulisan tersebut. Sedangkan, tumbuhnya semangat bersama pena, aku rasakan, kira-kira setahun setelah berada di PP. Annuqayah daerah Lubangsa. Di sana banyak ditemukan penulis terkenal seperti M. Faizi dan K. Mustafa dan beberapa santri. Banyak tulisan mereka nongol di media cetak: mading, buletin, majalah, koran, dan lembaran.

Dipikir-pikir bikin tulisan seperti itu, apalagi berbahasa Indonesia dikira mudah. Tapi, setelah pena dan buku diambil, pikiran menjadi blank. Gagasan yang bertandang sebelumnya tiba-tiba hilang ibarat musafir yang terkapar di tengah jalan karena tidak menemukan sesuap nasi. “Kenapa aku hanya bisa berbicara, menulis saja kewalahan?” Secarik pertanyaan terbersit di pikiran.

Finally, aku paksakan menulis, walau hasilnya masih morat-marit. Lalu hasil tulisan itu, kadang di biarkan tenang di dalam buku, kadang diberikan pada orang lain untuk diberi komentar. Bagaimana pun hasilnya, bagus atau belum, diriku bangga, karena tulisan itu lahir dari tanganku sendiri.[]

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...