Wednesday, July 15, 2015

Cinta ala Santri (Cara Membingkai Cinta ke Shirathal Mustaqim)



Sudah menjadi sunnatullah, setiap kali nafas bertandang dalam diri manusia, di situlah cinta bersemi, entah cinta itu pada sesamanya (maskulin atau feminin) atau terhadap lainnya. Jadi, musnahlah jiwa manusia, bisa-bisa berakibat hancurnya alam atau kiamat karena ketidakadaan cinta.

Manusia berstatus khalifah fil ardhi adalah anugerah Tuhan. Sebab, tak semua makhluk menyandang status mulia itu. Satu alasan, kenapa status tersebut Dia nobatkan kepada manusia? “manusia diketahui sebagai makhluk yang kreatif.” Kreatif. Kekreatifan, kata Jens Forster, seorang psikolog dari Universitas of Amsterdam, tumbuh karena atas dasar cinta.

Kekreatifan manusia tentang cinta banyak ditemukan dalam karya-karya monumental, baik tulisan atau lagu. Misalkan, Everytime (lirik Britney Spears) yang mengisahkan ketidakberdayaan seorang gadis tanpa seorang baby (kekasih); Be with You (lirik Akon) yang menceritakan kesatuan jiwa antara dua sejoli. No one knows that I’m into you; Innocence (lirik Avril Lavigne) tentang seorang gadis yang tidak ingin berpisah dengan kekasihnya. I need you now; As long as you love me (lirik Justin Bieber) tentang ukuran cinta seseorang terhadap kekasihnya; dan lain sebagainya.

Begitu pun tulisan yang membahas tentang cinta. Sebut saja, karya-karya Habiburrahman El-Shirazy: Ayat-Ayat Cinta, Pudarnya Pesona Kleopatra, Ketika Cinta Bertasbih, Mihrab Cinta, Cinta Suci Zahrana, Bumi Cinta. Atau juga Hamka dengan Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk-nya, serta beberapa karya penulis lainnya.

Sungguh cinta bikin orang kreatif!

Cinta yang menuai berjuta-juta sanjungan dan pujian, ternyata masih banyak pula yang menuding negatif. Dikecamlah, “Cinta itu buta.” Sungguh hati para pemuja cinta bagai disayat pisau tajam mendapat tudingan amoral. Perih. Tapi, kerena cinta timbul bukan atas unsur keterpaksaan, bersemi penuh kearifan, tangan dielus-eluskan di dadanya sambil berucap, “Be patient!” Sabar. Sehingga, segala cobaan dan kecaman tak mudah membuat lentur dan ambruk.

Tundingan negatif, sering ditemukan di pesantren, sebuah institusi Islam yang akut dengan pengetahuan keagamaan. Suatu kefatalan jika ada seorang santri diketahui memiliki hubungan dengan lawan jenis demi untuk memosisikan cinta pada jalan yang benar (shirathal mustaqim), dibandingkan diobral (israf) pada sesama jenis seperti yang terjadi pada kaum Luth. Akibatnya, banyak santri tidak kerasan, sehingga mengakibatkan terhadap matinya semangat belajar demi menyongsong masa depan. Tragis!

Jika cinta negatif, kenapa Nabi Adam jadi tidak kerasan berdiam sendirian di Surga yang panoramanya melebihi panorama di muka bumi? Cinta telah bikin manusia jadi kreatif dan cerdas. Sudikah dua sifat baik itu membusuk karena tanpa dorongan cinta? Lalu, siapakah pengganti manusia sebagai khalifah fil ardhi yang dikenal kreatif? Malaikat? Hewan? atau tumbuh-tumbuhan?

Nah, dikira penting adanya regulasi khusus untuk memediasi rasa cinta dalam diri santri agar figur dan kader ulama sebagai waratsatul anbiya’ tetap terjaga. Hal yang sangat dominan untuk menjembatani keberlangsungan cinta, penulisan buku diary. Catatan harian yang diisi suara hati penulis akan menjadi teman curhat setiap waktu naluri manusia bertandang: bahagia, sedih, galau, dan lain sebagainya. Mencurahkan cinta secara face to face di pesantren adalah suatu kemungkinan yang sulit. Tatapan setiap kali bertemu atau berpapasan yang dibingkai dengan kedipan mata merupakan kesempatan yang tak setiap hari terjadi. Beda hal, dengan buku diary yang free dibawa ke mana-mana dan romantis dalam dekapan.

Bingkai cinta di atas diary adalah langkah awal manusia memulihkan kreatifitasnya menjadi seorang penulis. Sering ditemukan, penulis yang dimulai dari menulis diary. Dalam Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis, rata-rata penulis diawali dengan menulis diary seperti Rijal Mumazziq Zionis, penulis asal Jember; Noviana Herliyanti, penulis asal Batang-Batang; Muhammad Suhaidi RB, penulis asal Sumenep; Ach. Syaiful A’la, penulis asal Desa Candi Kecamatan Dungkek; dan para penulis yang lain.  

Pembingkaian cinta dengan kelakuan yang amoral, seperti wet kiss, dry kiss, peluk-pelukan, apalagi menjurus pada perzinahan, sungguh telah menodai kesucian cinta. Cinta yang menjadi sifat Tuhan, al-wadud, yang dimanifestasikan terhadap manusia sejatinya diposisikan pada tempat yang benar supaya kemurnian cinta tidak buram karena jeratan hawa nafsu yang mengotorinya.

Thus, dampak positif dilegalkannya diary sebagai media curhat pemuja cinta, menjadi kebanggaan bergengsi seorang santri hingga mampu membikin tulisannya tembus di jurnal atau media lokal hingga internasional seperti Horison, Jawa Pos, Kompas, Tempo, dan lain sebagainya.

Selain itu, cinta ala santri setidaknya dibingkai dengan doa-doa atas orang yang menjadi tangkai hatinya. Karena, tak ada hadiah yang paling indah kecuali doa. Dalam sebuah adagium arab, al-Dua shilah al-mu’minin. Doa senjata orang mukmin.

Terapi buat hati terpikat, doa. Di dalam doa ada muatan yang mampu menyambung hati yang satu dengan hati yang lain. Kaitan antara cinta dan hati bagai dua jari telunjuk dan jari tengah yang dijadikan perumpamaan kedekatan antara Rasulullah saw dan anak yatim dalam sebuah hadits. Cinta bukan kata yang mudah diucapkan, tapi cinta itu adalah kata hati yang hanya dirasakan. Makanya, satukan cinta dengan hati, melalui syair-syair doa supaya kesucian cinta tetap terpelihara.

Tanamkan cinta yang sehat agar hidup penuh dengan hudan. Hanya orang pencintalah, yang akan merengkuh medali kesuksesan.[]

Tulisan ini dimuat di Majalah Mu’jizat Edisi V Rubrik Opini

UM Surabaya Tak Seperti yang Saya Bayangkan



Selama dua hari saya dan teman saya, Atho’, berada di perjalanan dari Pondok Pesantren Annuqayah menuju Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya. Sebelum berangkat, sempat terbersit di pikiran saya, bahwa kampus berlabel “universitas” tampak megah, indah, dan ramai dengan mahasiswa dibandingkan kampus-kampus yang berlabel “sekolah tinggi” atau “institut”.

Karena prediksi ini berpijak kuat, semangat menempuh perjalanan mampu menghapus kekelahan, malahan semakin menambah energi. Anda tahu? Setelah turun dari bus jurusan kabupaten Sumenep hingga stasiun Bungurasi, kepala saya sakit, stamina telah banyak terkuras. Sehingga, shalat Maghrib pun yang sempat jika dilaksanakan di musala dekat Bungurasi, terpaksa di-jama’ takhir (mengumpulkan dan mengakhirkan dua shalat wajib) di rumah famili Atho’ pada waktu shalat Isya’ di pertengahan malam kira-kira jam 02:00.

Besoknya, hari Ahad.

Saya dan Atho’ siap-siap berangkat ke UM Surabaya. Kita berkemas di rumah famili teman yang letak rumahnya tak jauh dari stasiun Surabaya itu. Saya bersyukur bisa numpang tidur, shalat, mandi, dan makan di rumah itu tanpa tarif biaya sepeser pun alias gratis. Selain itu, di malam harinya (malam Ahad) saya, Atho’, dan Riskon (adik Rijalirrohim) jalan-jalan, walau hujan mengguyur. “Syukur kita punya famili dekat-dekat sini. Andai saja tidak, apa jadinya…,” ketus teman saya.

Jalan menuju UM Surabaya lumayan jauh, jika keberangkatannya melewati jalur stasiun Bungurasi. Jelasnya, naik bus jurusan Parenduan sampai stasiun Bungurasi; turun bus cari angkot jurusan Bungurasi ke stasiun Joyoboyo; dan naik angkot jurusan Joyoboyo ke UM Surabaya. Saya sadar kejauhan rute ini setelah fokus perhatian saya mengarah jam di layar ponsel saya: kira satu jam-an. Padahal mobil taxi-nya ngebut. Saya masih ingat masing-masing angkot dari stasiun ke stasiun menarik tarif Rp. 5.000,-.

Turun dari angkot di depan pintu masuk kampus, dua cewek lewat di depan saya. Sekedar memastikan, saya tanya, benar tidaknya kampus ini UM Surabaya yang saya maksud.

“Sampean peserta technical meeting ya? Benar ini kampus UM,” jelas salah seorang dari mereka.

Kemudian kami berdua masuk lewat pintu gerbang yang tampak di depan mata. Di pagar jalan depan pintu terpampang banner ucapan selamat datang peserta technical meeting dalam rangka lomba. Prediksi saya semakin menurun. “Bukankah saya salah masuk?” desis saya.

“Mahasiswanya mana? Sepi!” tanya saya membatin.

“Seberapa luas kampus ini?” Saya semakin tambah penasaran saja melihat keluasan halaman dan ketinggian gedung.

Selesai naik lantai dua, saya mendaftarkan peserta lomba: 6 orang delegasi English Education Program Pondok Pesantren Annuqayah (EEP-PPA), salah satu institusi bahasa Inggris pusat yang berada di bawah naungan pesantren; dan 3 siswi delegasi Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Putri. Dan, kita masuk ruangan dekat tempat pendaftaran untuk mengikuti acara technical meeting. Tiba di ruangan, rasa tidak kerasan tiba-tiba menghapus sedikit demi sedikit semangat ikut acara. Suatu hal yang bikin saya begini: kursi kampus yang tak jauh berbeda dengan kampus saya di pondok, INSTIKA (Institut Ilmu Keislaman Annuqayah), suasana kampus yang agak sepi, dan lain-lain. Prediksi turun drastis.

“Katanya universitas, kok fasilitasnya biasa-biasa saja? Nggak semewah Universitas Indonesia (UI),” keluh saya.

Karena acara masih belum dimulai, saya coba lihat halaman belakang kampus melalui jendela. Nyatanya, yang tampak jemuran pakaian dan sampah yang berserakan. Melihat lebih jauh, sawah-sawah penuh dengan air kotor di luar area kampus. Ternyata UM Surabaya tak seperti yang saya bayangkan. Jadi, fasilitas UM Surabaya masih jauh disejajarkan dengan fasilitas UI.

Gubuk Bahasa Asing, 17 Februari 2015

Saya dan Shalat Tahajud



Dalam buku yang ditulis Dr. Sholeh yaitu Terapi Shalat Tahajud, suatu hal yang masih saya ingat selain penjelasan bahwa shalat Tahajud yang dikerjakan dengan khusuk dan ikhlas akan menjadi obat yang mampu menyembuhkan penyakit, adalah kronologi (as-bab an-nuzul) surat al-Muzzammil yang berkaitan dengan perintah shalat malam ini terhadap Nabi saw.

Diceritakan dalam surat itu, bahwa saat Nabi saw menghadapi ancaman sengit yaitu rencana kafir Quraisy untuk menghabisi nyawa beliau, Tuhan memerintahkan beliau untuk bangun malam, shalat Tahajud. Ancaman ini tak lepas dari kekontrasan agama beliau, Islam, dengan agama yang mereka elu-elukan. Akhirnya, berkat shalat itu, perasaan panik yang mencekam psikologi beliau dapat diretas.

Ya ayyuha al-muzzammil qum al-layla illa qalilaa (QS. al-Muzzammil: 1-2).  Wahai orang yang berselimut! Bangunlah (untuk shalat) di waktu malam walaupun sebentar.

Kata qum al-layla masih ambigu: bangun dari tidur dan begadang atau bangun kemudian melaksanakan shalat malam (shalat Tahajud). Dalam Tafsir al-Nawawi (Tafsir Marah Labid) Imam Nawawi menafsirkan ayat tersebut dengan “bangun di tengah malam untuk melaksanakan shalat Tahajud.” Begadang di malam hari beraneka macam juga. Jadi, bangun yang bernilai dan utama jika diniatkan ibadah.

Terus, dalam kitab Tafsir al-Qur’an al-Adiim yang populer dengan sebutan Tafsir Ibnu Katsir, ayat itu punya kaitan (munasabah) dengan QS. al-Isra’: 79 yaitu “Wa min al-layli fatahajjad bihi nafilatan laka asaa an yab’atsaka rabbuka maqaman mahmudan (Sebagian dari malam hendaknya engkau laksanakan shalat Tahajud (fatahajjad) sebagai ibadah sunnah agar Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji (maqaman mahmudan).

Saya membatin, bagaimana dengan pribadi saya yang setiap waktu masalah datang silih berganti? Satu masalah belum selesai, masalah yang lain datang lagi. Batin saya merintih.

Misalkan, mandeknya prestasi (tak meningkat di atas level Jawa Timur); uang tak kunjung datang, kalau pun perut menjerit; masa depan yang tak menentu; tak mampu mengendalikan emosi; dan lain-lain.

Masalah demi masalah sering saya curhatkan pada Tuhan yang Maha Mendengar (al-sami’) selesai shalat Tahajud atau selesai shalat fardu. Air mata menetes tak terduga. Rasa optimis disertai husn al-dhan, bahwa masalah itu akan kunjung berakhir pula karena Tuhan mendengar setiap bait doa saya.

Beberapa hari, efek shalat itu benar-benar terasa. Perjalanan hidup saya tampak semakin energik dan berkharisma dibandingkan hari-hari sebelumnya. Al-Hamdulillah, saya diminta sebagai guru asisten Kiai Farid Hasan BA, pengasuh PP. Annuqayah daerah Al-Hasan, untuk mengajar bahasa Inggris di Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Putra; sudah tiga kali wali santri memberikan uang sebesar Rp. 50.000,- kepada saya; dan lain-lain.

Beberapa fakta di atas hanya sebagian dampak positif yang saya kira. Sejatinya, banyak efek positif yang dapat saya rasakan dan tak perlu saya tulis di sini. Saya yakin semua ini adalah barakah shalat Tahajud dan bangun di pertengahan malam.

Realitas itu sangat sesuai dengan firman Allah dalam QS. al-Isra’: 79. Kata maqaman mahmudan ditafsirkan oleh Imam Nawawi al-Bantani dalam Tafsir Al-Nawawi dengan “tempat kemuliaan yang ada di sisi pengamal shalat Tahajud dan di sisi orang lain.” Lebih jelasnya, anda bisa perhatikan antara orang yang mengamalkan ibadah ini dengan orang yang tidak sama sekali. Kira-kira ada atau tidak perbedaan di antara mereka? Yang empiris dan logis lebih dinyakini dari pada yang berbentuk teori.

Saya rasa cerita di atas bukan untuk promosi, melainkan tahadduts bi al-ni’ma (mengurai kenikmatan yang Allah swt berikan kepada saya) saja. Selanjutnya, tergantung anda menilai cerita ini.[]

Gubuk Bahasa Inggris, 04 Maret 2015

Pascawafatnya Kiai Warits



Kepergian Kiai Warits bikin banyak santri Pondok Pesantren Annuqayah tak mampu menyeka lelehan air mata. Seakan-akan pesantren ini tidak siap dengan kepergian beliau. Tapi, kalau Tuhan berkehendak, kita tidak mampu menahan. La mania lima a’thaita wala mu’thiya lima mana’ta.

Setelah wafatnya Kiai Warits banyak cerita yang perlu saya tulis. Di antaranya, penentuan penerus beliau dan wisuda putra beliau.

***

Jum’at kemarin saya mendapat kabar bahwa KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, putra Kiai Warits sendiri, akan diwisuda tahun ini sebagai isyarat kelulusan beliau pada jenjang S2 di Universitas Indonesia (UI) Jakarta. Kabar ini disitir dari petuah Kiai Wafi Nuch, pengajar dan pembimbing kursus ngaji Al-Qur’an di pondok pesantren ini. Saya dengar langsung petuah tersebut di depan Kantor Madrasah Diniyah PP. Annuqayah daerah Lubangsa.

“Kiai Fikri berangkat ke Jakarta sekarang untuk menyambut wisuda Kiai Mamak (panggilan KH. Shalahuddin A. Warits),” ujar Kiai Wafi.

Saya hanya mengangguk dengan muka sedikit menunduk. “Engki,” jawab saya singkat.

Informasi ini ada sangkut pautnya dengan ngaji Al-Qur’an sebagian santri yang lulus tes seleksi ke Kiai Wafi. Kemudian, dilanjutkan ngaji ke Kiai Ali Fikri. Saya sendiri termasuk peserta dalam tes seleksi ini. Alhamdulillah, saya dinyatakan lulus.

Tentang wisuda adik Kiai Fikri, saya pernah nguping cerita teman yang bersumber dari salah seorang alumni pondok pesantren ini, bahwa Kiai Mamak menanggalkan wisuda tahun ini. Sebab, dia sengaja tidak menyelesaikan tesis sebagai persyaratan untuk S2. Entah, atas alasan apa persyaratan itu beliau tidak penuhi.

Yang jelas, semua santri mengharap Kiai Mamak cepat-cepat lulus, sehingga dapat mengganti dan meneruskan jejak abanya yang wafat beberapa hari sebelumnya yaitu tanggal 22 Pebruari 2014. Sebab, informasi atau isu yang jelas dan sahih dinyatakan, bahwa penerus aba beliau adalah Kiai Mamak sendiri. Isu ini sudah booming sebelum Kiai Warits wafat.

Tentang Kiai Fikri yang beberapa tahun silam telah menamatkan jenjang pendidikannya hingga S2, para santri tak punya pikiran bahwa beliaulah penggantinya. Diketahui, Kiai Fikri telah membangun dhalem di belakang area pondok putri. Posisi dhalem itu agak berjauhan dengan area pondok pesantren putra.

“Kiai Mamak, penggantinya,” ketus sebagian santri waktu ngobrol.

Keambinguan menentukan penerus kiai bikin pikiran saya mumet. Hingga, saya sendiri ikut investigasi informasi yang lebih sahih, baik dari pembantu dhalem kiai, teman-teman santri, pengurus pesantren, wali santri, sampai umi saya sendiri.

Katanya, penerus kiai adalah Kiai Fikri. Awalnya saya masih ragu. Tapi, setelah informasi itu terdengar dari pengakuan Nyi Nuh, istri Kiai Warits, kayakinan saya naik menjadi 100%.

“Kiai Fikri, katanya Nyi Nuh,” ucap umi saya tandas.

Di suatu acara pelantikan pengurus Madrasah Diniyah, Moh. Khalili, S.PdI, pengurus pesantren, menyebut dua putra Kiai Warits yaitu Kiai Mamak dan Kiai Fikri, sebagai pengasuh. Pikiran saya menyimpulkan, pengasuh PP. Annuqayah daerah Lubangsa ada 2 person.

Dipikir-pikir, tidak jadi soal tentang kuantitas kepengasuhan. Yang terpenting, perkembangan pesantren tidak menyusut. Apalagi ini tentang kepemimpinan manusia, bukan Tuhan yang tidak boleh dua atau lebih. 

* * *

Tadi Subuh (tanggal 1 September 2014) Kiai Fikri baru saja sampai di PP. Annuqayah setelah berada di Jakarta selama 3 hari, kemudian mengimami shalat Subuh. Wisuda Kiai Mamak baru saja selesai. Tapi, saya masih belum melihat Kiai Mamak jalan-jalan di lingkungan pondok.

“Apakah beliau masih menetap di Jakarta?” tanya saya pada diri sendiri.

Walau saya tak dapat menyambut wisuda beliau secara langsung, cukup saya ucapkan, “Selamat atas ketuntasan studi Kiai!

Semoga kehadiran beliau di pondok pesantren ini mampu mengajarkan ilmu beliau dan mendidik santri beliau. Rindu ketemu beliau masih membekas kuat di dalam nurani.

Lubangsa, 1 September 2014

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...