Rectoverso
Penulis
Dee/Dewi Lestari
Penerbit
PT Bentang Pustaka
Cetakan
1, Januari 2013
Tebal
x + 170 halaman
ISBN
978-602-7888-03-603
Dalam biografi penulis dijelaskan, Rectoverso-nya Dee
diterbitkan kali pertama pada 2008 dan merupakan mahakarya dalam format hibrida
yang unik sekaligus pertama di Indonesia. Gabungan Dee, musik dan buku, dalam
satu kesatuan karya yang terdiri dari sebelas kisah dan sebelas lagu. Didukung
para musisi dan orkesta terbaik Indonesia, sebagai karya music Rectoverso menghasilkan
lagu berkualitas seperti “Malaikat Juga Tahu”, “Aku Ada”, dan “Peluk”.
Keberhasilan Rectoverso menjadi bestseller pada
2013, lima tahun setelah penerbitan bukunya, Keanan Production melansir film
omnibus berjudul Rectoverso: Cinta yang Tak Terucap yang mengangkat lima
kisah dari sebelas cerpen dalam buku Rectoverso. Di antaranya, Malaikat
Juga Tahu, Hanya Isyarat, Cicak di Dinding, Firasat, dan Peluk.
Kiprah Dee dalam beragam bahasa, salah satunya bahasa Inggris
dan bahasa Indonesia, di antara sebelas cerpen ini ditulis menggunakan bahasa
Indonesia dan bahasa Inggris: sembilan berbahasa Indonesia dan 2 berbahasa
Inggris seperti Grow a Day Older dan Back to Heaven’s Light. Potensi
Dee dalam bahasa Inggris tak perlu dipertanyakan lagi, mulai tatabahasa (grammar),
pemilihan diksi, hingga penyesuaian dengan bahasa inggris tulen.
Rectoverso, tafsir
saya, mengisahkan tentang aneka percintaan: [a] cinta seorang autis yang
disebut Abang dalam cerpennya yang berjudul Malaikat Juga Tahu. Tanpa
dinyana, Abang yang punya kebiasaan rutin: memangkas rambut setiap Selasa,
Kamis, dan Sabtu; mencuci baju putih setiap Senin, baju berwarna gelap setiap
Rabu, baju berwarna sedang setiap Jum’at; menjerang air panas setiap hari pukul
enam pagi untuk semua penghuni rumah; dan menghitung koleksi sabun mandinya
yang bermerek sama dan berjumlah genap seratus setiap pagi dan sore, harus
jatuh cinta pada perempuan yang indekos di rumah Bunda, ibunya Abang. Perasaan
cinta Abang yang membikin perempuan itu terenyuh dan pergi dari rumah. Sadar,
kebersamaan antar perempuan itu dan Abang hanya sebatas teman/sahabat, tak
lebih. Demikian tafsirnya, tidak bagi seorang Abang. Ia terlalu jauh dari
batas-batas kebersamaan, sekalipun sejak awal batas-batas itu tak dibahas.
Itulah cinta.
[b] Cinta mampu mempengaruhi kepribadian seseorang. Dalam
cerpennya yang bertajuk Firasat dikisahkan seorang gadis molek yang ikut
nimbrung di Klub Firasat, klub yang
punya kegiatan bermeditasi sehingga dapat mengindera yang tak terindera, tampak
aneh di mata ibunya. Si gadis tumben bikin kue. Setelah ditanya ibunya, dijawabnya
kue itu diperuntukkan untuk perayaan ulang tahun klub itu. Seorang ibu yang lebih
dahulu mengalami perjalanan cinta, tak asing untuk mengatakan bahwa anaknya
telah jatuh cinta pada seseorang. Tapi siapa? Dialah pencetus berdirinya klub
itu. Sayang, cinta itu hanya dirasa hati, tak sampai terungkap. Isak tangis si
gadis pecah, sedang laki-laki itu harus pergi ke tempat orang tuanya dan
terpaksa tidak mengikuti perayaan ulang tahun. Kenapa cinta yang dikorbankan
saat keinginan mendesaknya? Apakah keinginan telah membunuh dan mengalahkan
kekuatan cinta?
Dan, [c] kata hati (cinta) seorang gadis—dalam tulisannya
yang berjudul Hanya Isyarat—yang duduk di suatu tempat mirip bar. Di
sana hanya ada tiga orang laki-laki dan dia sendiri. Tiga laki-laki itu
berkisah tentang pengalaman mereka seperti kisah putus cinta, kisah kehilangan
teman, dan kisah bencana alam. Kisah-kisah mereka terkesan biasa, tapi saat si
gadis itu diajak ngumpul bersama mereka dan mengiyakan duduk, sebuah cerita
meluncur dari mulutnya yaitu kisah sahabatnya yang lahir di negeri orang, lalu
menjalani kehidupan imigran yang sederhana. Setiap ibunya membelikannya daging
ayam sebagai lauk pauk di pasar, bagian ayam yang dibawa selalu punggungnya,
padahal ayam tidak hanya memiliki punggung tetapi memiliki paha, dada, dan
sayap. Bagi si anak itu tak jadi soal, namun itu, bagi gadis itu, sesuatu yang
menyedihkan karena ‘dibiarkannya’ bagian ayam selain punggung telah bikin dia mengetahui
apa yang tidak sanggung dia miliki. Betapa menyakitkan jika cinta itu hanya
sebatas harapan!
Menurut saya, selain Madre, Perahu Kertas, dan Supernova;
Partikel, karya Dee yang menarik bagi saya adalah Rectoverso. Di
antara sebelas cerpen di buku ini yang menarik adalah Malaikat Juga Tahu,
Aku Ada, Hanya Isyarat, dan Firasat.
Tak dapat ditampik gaya berkisah. Dee mengurai kisah
percintaan dalam tulisan-tulisannya tak jauh dari lingkungan di mana dia
tinggal, yaitu Bandung, dan latar belakang pendidikannya yakni di luar
pesantren. Sama sekali kisah percintaannya banyak disandarkan pada interaksi percintaan
ala luar pesantren: cinta yang mudah diungkapkan sebebas mungkin, pergaulan
bebas, cara berpakaian, cara berpikir, kebiasaan sehari-hari, dsb. Persentuhan
kebebasan sangat apik dikisah dalam tulisan-tulisannya karena kecakapan Dee
dalam tulis-menulis. Tak terlalu kentara.
Tentu, jika saya membaca karya-karya Dee—salah satunya Rectoverso—dan
karya-karya Kang Abik (Habiburrahman El-Shirazy), akan terkesan beda. Iya,
kisah-kisah dua novelis ini tak lepas tentang cinta, tapi karya-karya Kang Abik
adalah percintaan islami. Saya menyadari, selain latar belakang pendidikan Dee
dan Kang Abik yang berbeda, mendekati benar bahwa Dee lebih banyak dicekoki novel-novel
barat.
Mayoritas pembaca karya-karya Dee—salah satunya Rectoverso—menilai
bukan karya biasa yang dapat dibaca secara santai—untuk tidak mengatakan ‘ogal-ogalan’—tapi
membutuhkan kinerja otak guna memahami kalimat demi kalimat dan pragraf demi
pragraf. Lebih jauh lagi, pesan penulis (Dee) tentang tulisannya.
Tapi, jangan terlalu khawatir atau kikuk, sejauh saya membaca
karya Dee saya seperti meneguk air laut. Tegukan air itu bukan menghapus haus
yang mencekal saya, melainkan menambah haus dan haus. Semakin banyak membaca
karya-karya Dee, Anda akan terus kehausan mengkoleksi karya-karyanya yang lain.
Selamat membaca![]
Lubangsa, 9 Agustus 2015
