Thursday, August 20, 2015

Kutemukan Makna Cinta



Judul Buku
Rectoverso
Penulis
Dee/Dewi Lestari
Penerbit
PT Bentang Pustaka
Cetakan
1, Januari 2013
Tebal
x + 170 halaman
ISBN
978-602-7888-03-603

Dalam biografi penulis dijelaskan, Rectoverso-nya Dee diterbitkan kali pertama pada 2008 dan merupakan mahakarya dalam format hibrida yang unik sekaligus pertama di Indonesia. Gabungan Dee, musik dan buku, dalam satu kesatuan karya yang terdiri dari sebelas kisah dan sebelas lagu. Didukung para musisi dan orkesta terbaik Indonesia, sebagai karya music Rectoverso menghasilkan lagu berkualitas seperti “Malaikat Juga Tahu”, “Aku Ada”, dan “Peluk”.

Keberhasilan Rectoverso menjadi bestseller pada 2013, lima tahun setelah penerbitan bukunya, Keanan Production melansir film omnibus berjudul Rectoverso: Cinta yang Tak Terucap yang mengangkat lima kisah dari sebelas cerpen dalam buku Rectoverso. Di antaranya, Malaikat Juga Tahu, Hanya Isyarat, Cicak di Dinding, Firasat, dan Peluk.

Kiprah Dee dalam beragam bahasa, salah satunya bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, di antara sebelas cerpen ini ditulis menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris: sembilan berbahasa Indonesia dan 2 berbahasa Inggris seperti Grow a Day Older dan Back to Heaven’s Light. Potensi Dee dalam bahasa Inggris tak perlu dipertanyakan lagi, mulai tatabahasa (grammar), pemilihan diksi, hingga penyesuaian dengan bahasa inggris tulen.

Rectoverso, tafsir saya, mengisahkan tentang aneka percintaan: [a] cinta seorang autis yang disebut Abang dalam cerpennya yang berjudul Malaikat Juga Tahu. Tanpa dinyana, Abang yang punya kebiasaan rutin: memangkas rambut setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu; mencuci baju putih setiap Senin, baju berwarna gelap setiap Rabu, baju berwarna sedang setiap Jum’at; menjerang air panas setiap hari pukul enam pagi untuk semua penghuni rumah; dan menghitung koleksi sabun mandinya yang bermerek sama dan berjumlah genap seratus setiap pagi dan sore, harus jatuh cinta pada perempuan yang indekos di rumah Bunda, ibunya Abang. Perasaan cinta Abang yang membikin perempuan itu terenyuh dan pergi dari rumah. Sadar, kebersamaan antar perempuan itu dan Abang hanya sebatas teman/sahabat, tak lebih. Demikian tafsirnya, tidak bagi seorang Abang. Ia terlalu jauh dari batas-batas kebersamaan, sekalipun sejak awal batas-batas itu tak dibahas. Itulah cinta.

[b] Cinta mampu mempengaruhi kepribadian seseorang. Dalam cerpennya yang bertajuk Firasat dikisahkan seorang gadis molek yang ikut nimbrung di  Klub Firasat, klub yang punya kegiatan bermeditasi sehingga dapat mengindera yang tak terindera, tampak aneh di mata ibunya. Si gadis tumben bikin kue. Setelah ditanya ibunya, dijawabnya kue itu diperuntukkan untuk perayaan ulang tahun klub itu. Seorang ibu yang lebih dahulu mengalami perjalanan cinta, tak asing untuk mengatakan bahwa anaknya telah jatuh cinta pada seseorang. Tapi siapa? Dialah pencetus berdirinya klub itu. Sayang, cinta itu hanya dirasa hati, tak sampai terungkap. Isak tangis si gadis pecah, sedang laki-laki itu harus pergi ke tempat orang tuanya dan terpaksa tidak mengikuti perayaan ulang tahun. Kenapa cinta yang dikorbankan saat keinginan mendesaknya? Apakah keinginan telah membunuh dan mengalahkan kekuatan cinta?

Dan, [c] kata hati (cinta) seorang gadis—dalam tulisannya yang berjudul Hanya Isyarat—yang duduk di suatu tempat mirip bar. Di sana hanya ada tiga orang laki-laki dan dia sendiri. Tiga laki-laki itu berkisah tentang pengalaman mereka seperti kisah putus cinta, kisah kehilangan teman, dan kisah bencana alam. Kisah-kisah mereka terkesan biasa, tapi saat si gadis itu diajak ngumpul bersama mereka dan mengiyakan duduk, sebuah cerita meluncur dari mulutnya yaitu kisah sahabatnya yang lahir di negeri orang, lalu menjalani kehidupan imigran yang sederhana. Setiap ibunya membelikannya daging ayam sebagai lauk pauk di pasar, bagian ayam yang dibawa selalu punggungnya, padahal ayam tidak hanya memiliki punggung tetapi memiliki paha, dada, dan sayap. Bagi si anak itu tak jadi soal, namun itu, bagi gadis itu, sesuatu yang menyedihkan karena ‘dibiarkannya’ bagian ayam selain punggung telah bikin dia mengetahui apa yang tidak sanggung dia miliki. Betapa menyakitkan jika cinta itu hanya sebatas harapan!

Menurut saya, selain Madre, Perahu Kertas, dan Supernova; Partikel, karya Dee yang menarik bagi saya adalah Rectoverso. Di antara sebelas cerpen di buku ini yang menarik adalah Malaikat Juga Tahu, Aku Ada, Hanya Isyarat, dan Firasat.

Tak dapat ditampik gaya berkisah. Dee mengurai kisah percintaan dalam tulisan-tulisannya tak jauh dari lingkungan di mana dia tinggal, yaitu Bandung, dan latar belakang pendidikannya yakni di luar pesantren. Sama sekali kisah percintaannya banyak disandarkan pada interaksi percintaan ala luar pesantren: cinta yang mudah diungkapkan sebebas mungkin, pergaulan bebas, cara berpakaian, cara berpikir, kebiasaan sehari-hari, dsb. Persentuhan kebebasan sangat apik dikisah dalam tulisan-tulisannya karena kecakapan Dee dalam tulis-menulis. Tak terlalu kentara.

Tentu, jika saya membaca karya-karya Dee—salah satunya Rectoverso—dan karya-karya Kang Abik (Habiburrahman El-Shirazy), akan terkesan beda. Iya, kisah-kisah dua novelis ini tak lepas tentang cinta, tapi karya-karya Kang Abik adalah percintaan islami. Saya menyadari, selain latar belakang pendidikan Dee dan Kang Abik yang berbeda, mendekati benar bahwa Dee lebih banyak dicekoki novel-novel barat.

Mayoritas pembaca karya-karya Dee—salah satunya Rectoverso—menilai bukan karya biasa yang dapat dibaca secara santai—untuk tidak mengatakan ‘ogal-ogalan’—tapi membutuhkan kinerja otak guna memahami kalimat demi kalimat dan pragraf demi pragraf. Lebih jauh lagi, pesan penulis (Dee) tentang tulisannya.

Tapi, jangan terlalu khawatir atau kikuk, sejauh saya membaca karya Dee saya seperti meneguk air laut. Tegukan air itu bukan menghapus haus yang mencekal saya, melainkan menambah haus dan haus. Semakin banyak membaca karya-karya Dee, Anda akan terus kehausan mengkoleksi karya-karyanya yang lain. Selamat membaca![]

Lubangsa, 9 Agustus 2015

Kiai Mamak dan “Ta’lim Mutaallim”



Rutinitas pembelajaran kitab sore hari di PP. Annuqayah daerah Lubangsa baru dimulai pada hari Ahad kemarin (9/8). Kitab yang diajarkan adalah Ta’lim Mutaallim-nya Imam Az-Zarnuji. Sebagai kitab turats yang membahas metode-metode pelajar dalam menuntut ilmu, kehadiran kitab ini—sekalipun pernah dikritik sebagian pihak yang ‘sok’ pintar—tak terkesan ‘basi’ melalui penjelasan Kiai Mamak—sebutan KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, M.Hum—di telinga para santri, bahkan terkesan asyik karena keterangannya penuh joke-joke segar ala Gus Dur.

Catatan yang tampak dalam kegiatan ini adalah review Kiai Mamak berkenan item-item yang telah disampaikan beberapa bulan sebelum liburan Ramadhan tahun 2015. Di antaranya, [1] Prakata kitab Ta’lim Mutaallim, Al-hamdulillah lillah al-ladzi faddlala bani adama bi al-ilm wa al-amal ala jami al-alam.” Segala puji bagi Allah swt yang memuliakan anak Adam atas seluruh alam dengan ilmu dan perbuatannya (hal 2). Manusia menjadi lebih mulia dari malaikat, dsb karena ilmunya.

[2] Pasal tentang esensi ilmu, fiqh, dan keutamaannya. Dalam sebuah hadits Nabi saw: Thalab al-ilm faridah ala kulli muslim wa muslimah (Menuntut ilmu wajib bagi mulim dan muslimah). Artinya, tidak diwajibkan bagi semua orang Islam—laki-laki maupun perempuan—belajar semua ilmu, melainkan—diwajibkan—belajar ilmu hal (bahasa Madura: elmona tengka) (hal 4). Disederhanakan kembali, ilmu hal itu, menurut Kiai Mamak, ilmu yang digunakan setiap waktu seperti ilmu tauhid, ilmu akhlak, dll.

[3] Pasal tentang niat mencari ilmu. Yang di-review dari pasal ini meliputi: [a] Niat adalah esensi dalam segala perbuatan. Sabda Nabi saw: “Banyak amal dunia akhirnya menjadi amal akhirat karena niatnya yang baik, sebaliknya banyak amal akhirat akhirnya menjadi amal dunia karena niatnya yang jelek” (hal 10); dan [b] Sepatutnya pelajar berniat karena mengharap ridha Allah swt, menghapus kebodohan—sendiri dan atau orang lain—menegakkan agama Islam (hal 10).

Dan, [4] pasal tentang memilih ilmu, guru, dan teman; dan fokus/konsisten. Sub review meliputi: [a] Seyogianya, pelajar memilih ilmu yang paling baik guna mendukung kepentingannya di masa mendatang (hal 13); [b] Sepatutnya pelajar sabar-menyertai guru dan kitabnya; fokus pada satu objek—tidak disibukkan hal-hal yang lain—sebelum matang, dan sabar-tinggal di suatu daerah hingga tidak pindah ke daerah yang lain. Perbuatan yang sebaliknya dapat mengacaukan segala hal, membikin hati gundah, menyia-nyiakan waktu, dan menyakiti guru. Dan, pelajar sebaiknya sabar menghadapi gejolak hawa nafsu (hal 15); [c] Ilmu dapat diperoleh melalui enam cara: cerdas (dzaka’), semangat yang tinggi (hirsh), sabar (ishtibar), punya bekal (bulghah), petunjuk guru (irsyad al-ustadz), dan lama masanya (thulu al-zaman) (hal 15); dan [d] Tipe teman yang patut dipilih adalah rajin, warak, baik, dan paham (hal 15).  “Dalam permainan sepak bola pun demikian; tidak mungkin kita akan mencari teman yang loyo. Andaikan Drogba, pasti kita akan pilih dia,” jelas Kiai Mamak.

Penjelasan tambahan Kiai Mamak yang masih segar dalam ingatan saya, di antaranya, [1] Tidak ada hubungannya antara diri kita dengan yang lain. Misalkan, zaman menjadi edan, kita tetap baik-baik saja; bapak kita marah, kita tidak boleh galau; dll; dan [2] 2 hal sepele yang sering terabaikan, sehingga berdampak negatif terhadap perjalanan hidup seseorang: [a] tidak memperdengar bacaan rukun dalam shalat pada diri kita sendiri; dan [b] mendahului imam dalam shalat.

Sangat singkat penjelasan Kiai Mamak, tapi sarat makna. Saya tunggu keterangan dan petuah berikutnya. Nyo’on barakanah, Kiai![]

Lubangsa, 13 Agustus 2015

Kegaduhan Muktamar NU dan Wafatnya Ulama



Muktamar NU ke-33 di Jombang kemarin—seperti dimuat dalam Koran Jawa Pos (4/8)—telah mencoreng image NU: kompeten menjunjung kultur pesantren, berakhlakul karimah, kritis dan moderat. Apalagi pelaksanaan muktamar ini dibanding-bandingkan dengan Muktamar Muhammadiyah ke-43. Kemarin (3/8) tajuk berita NU Gaduh, Muhammadiyah Teduh dimuat di koran yang sama.

Kegaduhan ini timbul dari muktamirin yang saling beradu argumen: pro dan kontra lalu di antara mereka menanggalkan etika berpendapat. Seolah-olah etika tak terpakai dalam ranah organisasi; mereka dikuasai nafsu dan lupa para kiai-kiai—guru-guru mereka—yang hadir saat itu.

Gus Mus—sebutan akrab KH. A. Mustafa Bisri—terpaksa menyampaikan tausyiyah sebelum pleno 1 dilanjutkan. Beliau prihatin sebagai pengurus NU melihat kondisi NU akhir-akhir ini kian memprihatinkan, baik melalui informasi maupun melihat kondisi langsung. Tausyiyah beliau telah membikin para muktamirin sadar. Tangis mereka pecah. Dalam tausyiah itu, kata-kata Gus Mus yang ‘meringis’ adalah “Mohon dengarkan saya. Dengan hormat, kalau perlu saya cium kaki-kaki Anda semua, saya cium kaki-kaki Anda semua, agar mengikuti akhlakul karimah, akhlak KH. Hasyim Asy’ari, dan pendahulu-pendahulu kita.”

Bayangkan! Betapa tragis dan parah peristiwa Muktamar NU saat itu! Gus Mus sebagai salah satu kiai sepuh di tubuh NU berucap dengan bahasa seperti itu. Anda tahu kultur pesantren sampai sekarang ini belum ada kiai mencium kaki santrinya. Yang semestinya santri yang mencium kaki kiainya guna mengharapkan barakah. Naudzubillah!

Saya terenyuh melihat peristiwa itu. Sekedar menduga peristiwa itu sebagai evaluasi untuk perjalanan NU selanjutnya; tanpa terasa NU kini sudah jauh berbeda dari NU sejak Kyai Hasyim Asy’ari masih hidup. Dan, perubahan NU tampak pascawafatnya Kyai Hasyim Asy’ari, Kyai Cholil Bangkalan, Kyai As’ad, Kyai Wahab Hasbullah, Kyai Wahid Hasyim, Gus Dur, dsb.

Apa kaitan wafatnya beliau dengan peristiwa gaduh ini? Suatu hadits Nabi saw—dalam kitab Al-Tajrid al-Sharih (tt)—mungkin menjawab kebuntuan otak: Dari Abdullah bin Amr bin Ash r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari diri manusia secara langsung, melainkan Ia mencabut ilmu melalui wafatnya ulama hingga apabila ulama tak muncul, maka manusia menjadikan orang yang bodoh sebagai pemimpin lalu pemimpin tersebut ditanya dan dijawab secara asal-asalan (tanpa didasarkan pada ilmu), maka terjadilah sesat-menyesatkan.”

Ilmu sebagai bekal, baik di dunia dan di akhirat, sepaket dengan lahirnya ulama. Sebagai waratsah al-biyaa’ ulama mendapat warisan ilmu dari Nabi Muhammad saw, bukan harta atau selainnya. Karena Allah swt menyalurkan ilmu kepada hamba-Nya melalui perantara ulama yang ikhlas mengajar dan mendidik, dicabutnya ilmu tanpa terasa melalui wafatnya ulama. Semakin Anda ditinggal ulama, orang-orang bodoh bertebaran di sana-sini. Mereka berbuat tanpa berdasar ilmu, sehingga tak menutup kemungkinan kesesatan harus terjadi.

Diskursi ‘ilmu’ dapat dihubungkan dengan petikan hadits Nabi saw: Thalab al-ilm faridah ala kulli muslim wa muslimah (Mencari ilmu wajib bagi muslim dan muslimah). Ilmu yang bersifat wajib individual (fardu ain)—Az-Zarnuji dalam kitab Ta’lim Muta’allim (tt)—hanya terfokus pada ilmu hal (ilm al-hal). Ilmu hal, merujuk statemen Kyai Mama’—sebutan akrab KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, M.Hum—adalah ilmu yang terus-menerus dikonsumsi masing-masing orang dalam beraktivitas. Andai saya sederhanakan, ‘ilmu hal’ kata lain ‘ilmu akhlak’.

Nah, wafatnya ulama akan menjadi goncangan dahsyat dalam jiwa sampai berimbas menjadi tingkah laku amoral/menanggalkan akhlak sebagai substansi hidup manusia. Mereka berbuat tanpa ilmu, melainkan didorong nafsu/kepentingan pribadi dan atau kelompok.

Menjadi pelajar (mutaallim) seperti muktamirin dalam Muktamar NU, tetap terikat dengan akhlak/etika. Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulum al-Din memerinci etika-etika pelajar. Di antaranya, [a] terlebih dahulu menyucikan jiwa dari akhlak/sifat yang jelek; [b] tidak banyak berbaur mencari harta dan menjauh dari keluarga dan tanah airnya; [c] tidak sombong dan tidak menyepelekan guru; dll.

Al-Ghazali sebagai tokoh yang dijadikan cermin dalam Ahlussunnah wal Jama’ah juga membentang kuat di tubuh organisasi besar NU ini. Karya Kyai Hasyim, Adab al-Alim wa al-Muta’allim, tak jauh berbeda isinya dengan statemen Al-Ghazali di atas. Pesan-pesan Al-Ghazali patut dijadikan pegangan.

Mari bercermin pada Kyai Hasyim Asy’ari dan pendahulu-pendahulu kita yang menjadikan akhlak sebagai jembatan dan tameng hidup agar tidak terlena dengan zaman yang semakin edan! Mumpung kesempatan memperbaiki diri masih luas supaya segala amal baik Anda tidak terhapus karena kelalaian Anda sendiri. Allah swt berfirman: Wahai orang-orang yang beriman jangan kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi dan jangan kamu mengeraskan suara kepadanya dalam perkataan sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagiannya nanti bisa menghapus (pahala) segala amalmu sedangkan kamu tidak merasa (QS. Al-Hujarat: 2). Tetap semangat Muktamar Nu ke-33![]

Lubangsa, 4 Agustus 2015

Belajar Mengabdi; Jalan Beribadah



Pelantikan pengurus PP. Annuqayah daerah Lubangsa masa bakti 2015-2017 M. telah selesai Malam Sabtu (14/8) di Aula Lubangsa. Beberapa santri yang terpilih sebagai pungurus dan terlantik secara legal-formal sah merencanakan kerja dan menjalankan renca mereka.

Seperti biasa pelantikan melewati jembatan ikrar sumpah kepada Allah swt; sifat hianat—salah satu tipe orang munafik—semestinya dikubur sedalam mungkin. Kerja keras disesuaikan dengan kemampuan guna memajukan pondok pesantren, bagi mereka, salah satu pengabdian kepada Allah swt.

Pelantik adalah K. Muhammad Ali Fikri, M.Pd.I, pengasuh PP. Annuqayah daerah Lubangsa. Kehadiran beliau dalam acara ini—secara tidak langsung—memberikan contoh/teladan; bertanggung jawab dan semangat beliau dalam mengayomi santri. Semangat yang terpancar, tafsir saya, tak jauh dari moto hidup beliau yang memukau, “Kami adalah pekerja keras yang selalu tersenyum karena kerja kami adalah pengabdian. Dan, pengabdian adalah jalan ibadah kami.”

Yang bikin saya terkejut menghadiri pelantikan ini—karena saya termasuk salah satu pengurus PP. Annuqayah daerah Lubangsa yang diundang dan akan dilantik—adalah periode/masa bakti kepengurusan yang tampak berbeda dari masa-masa sebelumnya. Jika sebelumnya periode kepengurusan hanya berkisar kurang lebih satu tahun, maka periode kepengurusan sekarang berkisar kurang lebih dua tahun. Perubahan ini—sebagaimana disampaikan Kiai Fikri—terjadi karena perjalanan masa bakti kepengurusan satu tahun yang terkesan rumit; ketika akhir periode selalu disibukkan dengan pemilihan dan pelantikan kepengurusan, sehingga kegiatan-kegiatan banyak yang molor.

Selanjutnya, Ali Hisyam, S.Ud menyapaikan sambutan. Dari sekian sambutan yang panjang lebar, petikan menarik kalimat-kalimatnya yang dapat saya sitir dan segar dalam pikiran saya: //Belajar bersabar, sekalipun sukar//Rencanakan kerjamu dan kerjakan rencanamu//. Hati saya benar-benar tersentuh mengingat saya menjalani proses yang tak luput dari tantangan hingga saya terkadang merengek dan mengeluh.

Selesai. Kiai Fikri menyampaikan sambutan, sekaligus tausyiyah. Sekian tausyiah yang masih saya ingat: [a] Perubahan format struktur kepengurusan. Dalam struktur ini, kepengurusan ditambah dengan Seksi Badan Konseling—seksi ini bertugas mengatasi santri-santri yang melanggar—dan Waka HUMAS yang menjadi media komunikasi dengan masyarakat, lebih-lebih wali santri; [b] Cara mengatasi santri yang melanggar. Mental adalah satu-satunya yang menjadi penggerak santri bertindak baik atau brutal. Jadi, siapapun, termasuk santri, yang melanggar semestinya yang diatasi atau disentuh adalah mentalnya seperti diajak bicara, diberi tausyiyah, dll. Menindak dengan cara kekerasan seperti dipukul, ditempeleng, dsb, yang teratasi bukan mentalnya, melainkan jasadnya yang mengalami kefatalan seperti trauma dan stress; [c] Kreatif berpikir dan responsif terhadap masalah. Kiai tidak suka santri yang rewel dan lembek. Sedikit-sedikit punya masalah, tanpa dikaji, direnungkan dan dicari solusinya, langsung mengadu kepada beliau. Sebab, tipe orang seperti ini tidak kreatif; [d] Mengajari cara berbisnis yang baik. Pengurus KPL (Kebersihan dan Pelestarian Lingkungan) punya peluang membuka lahan bisnis seperti menanam aneka macam bunga dan dipasarkan dengan biaya yang ditentukan, dll; [e] Rencana membeli mobil pick up untuk kepentingan pesantren. Di antaranya, membuang sampah, mengantarkan barang-barang koperasi, dsb; [f] Rencana penggunaan Wi-Fi untuk kepentingan pesantren dan men-certer-kan semua komputer lembaga unit sehingga beliau mudah mengontrol pengoperasiannya dan hunting data; [g] Follow up rencana penerapan A’mal al-Yaum—buku pandungan PP. Annuqayah daerah Lubangsa meliputi doa-doa, tahlil, dll—berdasarkan jenjang pendidikan formal. Rencanan ini adalah tugas pengurus P2PK (Pendidikan, Pengajaran, dan Pengembangan Keilmuan). Indikatornya, santri minimal hafal doa-doa setelah shalat fardu, bisa menjadi imam, dsb; [h] Respons positif beliau atas rencana saya dan teman saya, Ach. Fairosi, untuk mendirikan Darul Alfiyah Lubangsa (DAL). Lembaga ini menjadi media santri yang berkeinginan belajar dan mengembangkan kitab kuning serta menghafalkan nazam Alfiyah-nya Muhammad bin Abdillah bin Malik Al-Andalusy. Suatu rencana, respons beliau, yang harus didukung guna memajukan Lubangsa Putra karena tanpa disadari Lubangsa Putra tertinggal dibandingkan Lubangsa Putri yang sedari tahun-tahun silam berdiri lembaga kitab yakni JTK; dan [i] Harapan beliau: pengurus PK (Pribadatan dan Kepesantrenan) menerapkan hataman Al-Qur’an setiap Maghrib dengan membentuk lingkaran, dan tidak menjadi munafik/menyepelekan tanggung jawab.

Tentang munafik, suatu kisah disampaikan Kiai Fikri mengenai pasukan perang Badar yang berpura-pura setia kepada Nabi Muhammad saw, namun akhirnya mereka ingkar alias munafik. Kira-kira 300% munafik dari 100% pasukan muslim. “Jika pada masa Nabi orang munafik mencapai 300%, kira-kira berapa persen orang munafik sekarang ini?” kata beliau.

Pembahasan munafik menjadi penutup di antara sekian sub-sub pembahasan yang disampaikan dalam tausyiyah itu. Munafik—menyitir ungkapan Kiai Fikri—adalah musuh dalam selimut. “Jangan ada dusta di antara kita,” harap beliau.

So, mari kita sama-sama berbaris melangkah guna beribadah kepada Allah swt melalui perantara mengabdi kepada pesantren! Hilangkan sifat ‘sok’ atau ‘keakuan’, karena yang menang di pesantren bukan mereka yang kuasa tapi mereka yang ikhlas.[]

Lubangsa, 16 Agustus 2015

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...