Thursday, August 20, 2015

Kegaduhan Muktamar NU dan Wafatnya Ulama



Muktamar NU ke-33 di Jombang kemarin—seperti dimuat dalam Koran Jawa Pos (4/8)—telah mencoreng image NU: kompeten menjunjung kultur pesantren, berakhlakul karimah, kritis dan moderat. Apalagi pelaksanaan muktamar ini dibanding-bandingkan dengan Muktamar Muhammadiyah ke-43. Kemarin (3/8) tajuk berita NU Gaduh, Muhammadiyah Teduh dimuat di koran yang sama.

Kegaduhan ini timbul dari muktamirin yang saling beradu argumen: pro dan kontra lalu di antara mereka menanggalkan etika berpendapat. Seolah-olah etika tak terpakai dalam ranah organisasi; mereka dikuasai nafsu dan lupa para kiai-kiai—guru-guru mereka—yang hadir saat itu.

Gus Mus—sebutan akrab KH. A. Mustafa Bisri—terpaksa menyampaikan tausyiyah sebelum pleno 1 dilanjutkan. Beliau prihatin sebagai pengurus NU melihat kondisi NU akhir-akhir ini kian memprihatinkan, baik melalui informasi maupun melihat kondisi langsung. Tausyiyah beliau telah membikin para muktamirin sadar. Tangis mereka pecah. Dalam tausyiah itu, kata-kata Gus Mus yang ‘meringis’ adalah “Mohon dengarkan saya. Dengan hormat, kalau perlu saya cium kaki-kaki Anda semua, saya cium kaki-kaki Anda semua, agar mengikuti akhlakul karimah, akhlak KH. Hasyim Asy’ari, dan pendahulu-pendahulu kita.”

Bayangkan! Betapa tragis dan parah peristiwa Muktamar NU saat itu! Gus Mus sebagai salah satu kiai sepuh di tubuh NU berucap dengan bahasa seperti itu. Anda tahu kultur pesantren sampai sekarang ini belum ada kiai mencium kaki santrinya. Yang semestinya santri yang mencium kaki kiainya guna mengharapkan barakah. Naudzubillah!

Saya terenyuh melihat peristiwa itu. Sekedar menduga peristiwa itu sebagai evaluasi untuk perjalanan NU selanjutnya; tanpa terasa NU kini sudah jauh berbeda dari NU sejak Kyai Hasyim Asy’ari masih hidup. Dan, perubahan NU tampak pascawafatnya Kyai Hasyim Asy’ari, Kyai Cholil Bangkalan, Kyai As’ad, Kyai Wahab Hasbullah, Kyai Wahid Hasyim, Gus Dur, dsb.

Apa kaitan wafatnya beliau dengan peristiwa gaduh ini? Suatu hadits Nabi saw—dalam kitab Al-Tajrid al-Sharih (tt)—mungkin menjawab kebuntuan otak: Dari Abdullah bin Amr bin Ash r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari diri manusia secara langsung, melainkan Ia mencabut ilmu melalui wafatnya ulama hingga apabila ulama tak muncul, maka manusia menjadikan orang yang bodoh sebagai pemimpin lalu pemimpin tersebut ditanya dan dijawab secara asal-asalan (tanpa didasarkan pada ilmu), maka terjadilah sesat-menyesatkan.”

Ilmu sebagai bekal, baik di dunia dan di akhirat, sepaket dengan lahirnya ulama. Sebagai waratsah al-biyaa’ ulama mendapat warisan ilmu dari Nabi Muhammad saw, bukan harta atau selainnya. Karena Allah swt menyalurkan ilmu kepada hamba-Nya melalui perantara ulama yang ikhlas mengajar dan mendidik, dicabutnya ilmu tanpa terasa melalui wafatnya ulama. Semakin Anda ditinggal ulama, orang-orang bodoh bertebaran di sana-sini. Mereka berbuat tanpa berdasar ilmu, sehingga tak menutup kemungkinan kesesatan harus terjadi.

Diskursi ‘ilmu’ dapat dihubungkan dengan petikan hadits Nabi saw: Thalab al-ilm faridah ala kulli muslim wa muslimah (Mencari ilmu wajib bagi muslim dan muslimah). Ilmu yang bersifat wajib individual (fardu ain)—Az-Zarnuji dalam kitab Ta’lim Muta’allim (tt)—hanya terfokus pada ilmu hal (ilm al-hal). Ilmu hal, merujuk statemen Kyai Mama’—sebutan akrab KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, M.Hum—adalah ilmu yang terus-menerus dikonsumsi masing-masing orang dalam beraktivitas. Andai saya sederhanakan, ‘ilmu hal’ kata lain ‘ilmu akhlak’.

Nah, wafatnya ulama akan menjadi goncangan dahsyat dalam jiwa sampai berimbas menjadi tingkah laku amoral/menanggalkan akhlak sebagai substansi hidup manusia. Mereka berbuat tanpa ilmu, melainkan didorong nafsu/kepentingan pribadi dan atau kelompok.

Menjadi pelajar (mutaallim) seperti muktamirin dalam Muktamar NU, tetap terikat dengan akhlak/etika. Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulum al-Din memerinci etika-etika pelajar. Di antaranya, [a] terlebih dahulu menyucikan jiwa dari akhlak/sifat yang jelek; [b] tidak banyak berbaur mencari harta dan menjauh dari keluarga dan tanah airnya; [c] tidak sombong dan tidak menyepelekan guru; dll.

Al-Ghazali sebagai tokoh yang dijadikan cermin dalam Ahlussunnah wal Jama’ah juga membentang kuat di tubuh organisasi besar NU ini. Karya Kyai Hasyim, Adab al-Alim wa al-Muta’allim, tak jauh berbeda isinya dengan statemen Al-Ghazali di atas. Pesan-pesan Al-Ghazali patut dijadikan pegangan.

Mari bercermin pada Kyai Hasyim Asy’ari dan pendahulu-pendahulu kita yang menjadikan akhlak sebagai jembatan dan tameng hidup agar tidak terlena dengan zaman yang semakin edan! Mumpung kesempatan memperbaiki diri masih luas supaya segala amal baik Anda tidak terhapus karena kelalaian Anda sendiri. Allah swt berfirman: Wahai orang-orang yang beriman jangan kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi dan jangan kamu mengeraskan suara kepadanya dalam perkataan sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagiannya nanti bisa menghapus (pahala) segala amalmu sedangkan kamu tidak merasa (QS. Al-Hujarat: 2). Tetap semangat Muktamar Nu ke-33![]

Lubangsa, 4 Agustus 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...