Muktamar NU ke-33 di Jombang kemarin—seperti dimuat dalam
Koran Jawa Pos (4/8)—telah mencoreng image NU: kompeten
menjunjung kultur pesantren, berakhlakul karimah, kritis dan moderat. Apalagi
pelaksanaan muktamar ini dibanding-bandingkan dengan Muktamar Muhammadiyah
ke-43. Kemarin (3/8) tajuk berita NU Gaduh, Muhammadiyah Teduh dimuat di
koran yang sama.
Kegaduhan ini timbul dari muktamirin yang saling beradu argumen:
pro dan kontra lalu di antara mereka menanggalkan etika berpendapat. Seolah-olah
etika tak terpakai dalam ranah organisasi; mereka dikuasai nafsu dan lupa para
kiai-kiai—guru-guru mereka—yang hadir saat itu.
Gus Mus—sebutan akrab KH. A. Mustafa Bisri—terpaksa
menyampaikan tausyiyah sebelum pleno 1 dilanjutkan. Beliau prihatin sebagai
pengurus NU melihat kondisi NU akhir-akhir ini kian memprihatinkan, baik melalui
informasi maupun melihat kondisi langsung. Tausyiyah beliau telah membikin para
muktamirin sadar. Tangis mereka pecah. Dalam tausyiah itu, kata-kata Gus Mus
yang ‘meringis’ adalah “Mohon dengarkan saya. Dengan hormat, kalau perlu saya
cium kaki-kaki Anda semua, saya cium kaki-kaki Anda semua, agar mengikuti akhlakul
karimah, akhlak KH. Hasyim Asy’ari, dan pendahulu-pendahulu kita.”
Bayangkan! Betapa tragis dan parah peristiwa Muktamar NU saat
itu! Gus Mus sebagai salah satu kiai sepuh di tubuh NU berucap dengan bahasa
seperti itu. Anda tahu kultur pesantren sampai sekarang ini belum ada kiai
mencium kaki santrinya. Yang semestinya santri yang mencium kaki kiainya guna
mengharapkan barakah. Naudzubillah!
Saya terenyuh melihat peristiwa itu. Sekedar menduga
peristiwa itu sebagai evaluasi untuk perjalanan NU selanjutnya; tanpa terasa NU
kini sudah jauh berbeda dari NU sejak Kyai Hasyim Asy’ari masih hidup. Dan, perubahan
NU tampak pascawafatnya Kyai Hasyim Asy’ari, Kyai Cholil Bangkalan, Kyai As’ad,
Kyai Wahab Hasbullah, Kyai Wahid Hasyim, Gus Dur, dsb.
Apa kaitan wafatnya beliau dengan peristiwa gaduh ini? Suatu
hadits Nabi saw—dalam kitab Al-Tajrid al-Sharih (tt)—mungkin menjawab
kebuntuan otak: Dari Abdullah bin Amr bin Ash r.a. berkata: Saya mendengar
Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari diri
manusia secara langsung, melainkan Ia mencabut ilmu melalui wafatnya ulama
hingga apabila ulama tak muncul, maka manusia menjadikan orang yang bodoh
sebagai pemimpin lalu pemimpin tersebut ditanya dan dijawab secara asal-asalan
(tanpa didasarkan pada ilmu), maka terjadilah sesat-menyesatkan.”
Ilmu sebagai bekal, baik di dunia dan di akhirat, sepaket
dengan lahirnya ulama. Sebagai waratsah al-biyaa’ ulama mendapat warisan
ilmu dari Nabi Muhammad saw, bukan harta atau selainnya. Karena Allah swt
menyalurkan ilmu kepada hamba-Nya melalui perantara ulama yang ikhlas mengajar
dan mendidik, dicabutnya ilmu tanpa terasa melalui wafatnya ulama. Semakin Anda
ditinggal ulama, orang-orang bodoh bertebaran di sana-sini. Mereka berbuat
tanpa berdasar ilmu, sehingga tak menutup kemungkinan kesesatan harus terjadi.
Diskursi ‘ilmu’ dapat dihubungkan dengan petikan hadits Nabi
saw: Thalab al-ilm faridah ala kulli muslim wa muslimah (Mencari ilmu
wajib bagi muslim dan muslimah). Ilmu yang bersifat wajib individual (fardu
ain)—Az-Zarnuji dalam kitab Ta’lim Muta’allim (tt)—hanya terfokus
pada ilmu hal (ilm al-hal). Ilmu hal, merujuk statemen Kyai
Mama’—sebutan akrab KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, M.Hum—adalah ilmu yang
terus-menerus dikonsumsi masing-masing orang dalam beraktivitas. Andai saya
sederhanakan, ‘ilmu hal’ kata lain ‘ilmu akhlak’.
Nah, wafatnya ulama akan menjadi goncangan dahsyat dalam jiwa
sampai berimbas menjadi tingkah laku amoral/menanggalkan akhlak sebagai
substansi hidup manusia. Mereka berbuat tanpa ilmu, melainkan didorong
nafsu/kepentingan pribadi dan atau kelompok.
Menjadi pelajar (mutaallim) seperti muktamirin dalam
Muktamar NU, tetap terikat dengan akhlak/etika. Al-Ghazali dalam kitab Ihya’
Ulum al-Din memerinci etika-etika pelajar. Di antaranya, [a] terlebih
dahulu menyucikan jiwa dari akhlak/sifat yang jelek; [b] tidak banyak berbaur
mencari harta dan menjauh dari keluarga dan tanah airnya; [c] tidak sombong dan
tidak menyepelekan guru; dll.
Al-Ghazali sebagai tokoh yang dijadikan cermin dalam
Ahlussunnah wal Jama’ah juga membentang kuat di tubuh organisasi besar NU ini. Karya
Kyai Hasyim, Adab al-Alim wa al-Muta’allim, tak jauh berbeda isinya
dengan statemen Al-Ghazali di atas. Pesan-pesan Al-Ghazali patut dijadikan
pegangan.
Mari bercermin pada Kyai Hasyim Asy’ari dan
pendahulu-pendahulu kita yang menjadikan akhlak sebagai jembatan dan tameng hidup
agar tidak terlena dengan zaman yang semakin edan! Mumpung kesempatan
memperbaiki diri masih luas supaya segala amal baik Anda tidak terhapus karena
kelalaian Anda sendiri. Allah swt berfirman: Wahai orang-orang yang beriman
jangan kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi dan jangan kamu mengeraskan
suara kepadanya dalam perkataan sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu
terhadap sebagiannya nanti bisa menghapus (pahala) segala amalmu sedangkan kamu
tidak merasa (QS. Al-Hujarat: 2). Tetap semangat Muktamar Nu ke-33![]
Lubangsa, 4 Agustus 2015
No comments:
Post a Comment