Thursday, August 20, 2015

Kiai Mamak dan “Ta’lim Mutaallim”



Rutinitas pembelajaran kitab sore hari di PP. Annuqayah daerah Lubangsa baru dimulai pada hari Ahad kemarin (9/8). Kitab yang diajarkan adalah Ta’lim Mutaallim-nya Imam Az-Zarnuji. Sebagai kitab turats yang membahas metode-metode pelajar dalam menuntut ilmu, kehadiran kitab ini—sekalipun pernah dikritik sebagian pihak yang ‘sok’ pintar—tak terkesan ‘basi’ melalui penjelasan Kiai Mamak—sebutan KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, M.Hum—di telinga para santri, bahkan terkesan asyik karena keterangannya penuh joke-joke segar ala Gus Dur.

Catatan yang tampak dalam kegiatan ini adalah review Kiai Mamak berkenan item-item yang telah disampaikan beberapa bulan sebelum liburan Ramadhan tahun 2015. Di antaranya, [1] Prakata kitab Ta’lim Mutaallim, Al-hamdulillah lillah al-ladzi faddlala bani adama bi al-ilm wa al-amal ala jami al-alam.” Segala puji bagi Allah swt yang memuliakan anak Adam atas seluruh alam dengan ilmu dan perbuatannya (hal 2). Manusia menjadi lebih mulia dari malaikat, dsb karena ilmunya.

[2] Pasal tentang esensi ilmu, fiqh, dan keutamaannya. Dalam sebuah hadits Nabi saw: Thalab al-ilm faridah ala kulli muslim wa muslimah (Menuntut ilmu wajib bagi mulim dan muslimah). Artinya, tidak diwajibkan bagi semua orang Islam—laki-laki maupun perempuan—belajar semua ilmu, melainkan—diwajibkan—belajar ilmu hal (bahasa Madura: elmona tengka) (hal 4). Disederhanakan kembali, ilmu hal itu, menurut Kiai Mamak, ilmu yang digunakan setiap waktu seperti ilmu tauhid, ilmu akhlak, dll.

[3] Pasal tentang niat mencari ilmu. Yang di-review dari pasal ini meliputi: [a] Niat adalah esensi dalam segala perbuatan. Sabda Nabi saw: “Banyak amal dunia akhirnya menjadi amal akhirat karena niatnya yang baik, sebaliknya banyak amal akhirat akhirnya menjadi amal dunia karena niatnya yang jelek” (hal 10); dan [b] Sepatutnya pelajar berniat karena mengharap ridha Allah swt, menghapus kebodohan—sendiri dan atau orang lain—menegakkan agama Islam (hal 10).

Dan, [4] pasal tentang memilih ilmu, guru, dan teman; dan fokus/konsisten. Sub review meliputi: [a] Seyogianya, pelajar memilih ilmu yang paling baik guna mendukung kepentingannya di masa mendatang (hal 13); [b] Sepatutnya pelajar sabar-menyertai guru dan kitabnya; fokus pada satu objek—tidak disibukkan hal-hal yang lain—sebelum matang, dan sabar-tinggal di suatu daerah hingga tidak pindah ke daerah yang lain. Perbuatan yang sebaliknya dapat mengacaukan segala hal, membikin hati gundah, menyia-nyiakan waktu, dan menyakiti guru. Dan, pelajar sebaiknya sabar menghadapi gejolak hawa nafsu (hal 15); [c] Ilmu dapat diperoleh melalui enam cara: cerdas (dzaka’), semangat yang tinggi (hirsh), sabar (ishtibar), punya bekal (bulghah), petunjuk guru (irsyad al-ustadz), dan lama masanya (thulu al-zaman) (hal 15); dan [d] Tipe teman yang patut dipilih adalah rajin, warak, baik, dan paham (hal 15).  “Dalam permainan sepak bola pun demikian; tidak mungkin kita akan mencari teman yang loyo. Andaikan Drogba, pasti kita akan pilih dia,” jelas Kiai Mamak.

Penjelasan tambahan Kiai Mamak yang masih segar dalam ingatan saya, di antaranya, [1] Tidak ada hubungannya antara diri kita dengan yang lain. Misalkan, zaman menjadi edan, kita tetap baik-baik saja; bapak kita marah, kita tidak boleh galau; dll; dan [2] 2 hal sepele yang sering terabaikan, sehingga berdampak negatif terhadap perjalanan hidup seseorang: [a] tidak memperdengar bacaan rukun dalam shalat pada diri kita sendiri; dan [b] mendahului imam dalam shalat.

Sangat singkat penjelasan Kiai Mamak, tapi sarat makna. Saya tunggu keterangan dan petuah berikutnya. Nyo’on barakanah, Kiai![]

Lubangsa, 13 Agustus 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...