Thursday, August 20, 2015

Kutemukan Makna Cinta



Judul Buku
Rectoverso
Penulis
Dee/Dewi Lestari
Penerbit
PT Bentang Pustaka
Cetakan
1, Januari 2013
Tebal
x + 170 halaman
ISBN
978-602-7888-03-603

Dalam biografi penulis dijelaskan, Rectoverso-nya Dee diterbitkan kali pertama pada 2008 dan merupakan mahakarya dalam format hibrida yang unik sekaligus pertama di Indonesia. Gabungan Dee, musik dan buku, dalam satu kesatuan karya yang terdiri dari sebelas kisah dan sebelas lagu. Didukung para musisi dan orkesta terbaik Indonesia, sebagai karya music Rectoverso menghasilkan lagu berkualitas seperti “Malaikat Juga Tahu”, “Aku Ada”, dan “Peluk”.

Keberhasilan Rectoverso menjadi bestseller pada 2013, lima tahun setelah penerbitan bukunya, Keanan Production melansir film omnibus berjudul Rectoverso: Cinta yang Tak Terucap yang mengangkat lima kisah dari sebelas cerpen dalam buku Rectoverso. Di antaranya, Malaikat Juga Tahu, Hanya Isyarat, Cicak di Dinding, Firasat, dan Peluk.

Kiprah Dee dalam beragam bahasa, salah satunya bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, di antara sebelas cerpen ini ditulis menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris: sembilan berbahasa Indonesia dan 2 berbahasa Inggris seperti Grow a Day Older dan Back to Heaven’s Light. Potensi Dee dalam bahasa Inggris tak perlu dipertanyakan lagi, mulai tatabahasa (grammar), pemilihan diksi, hingga penyesuaian dengan bahasa inggris tulen.

Rectoverso, tafsir saya, mengisahkan tentang aneka percintaan: [a] cinta seorang autis yang disebut Abang dalam cerpennya yang berjudul Malaikat Juga Tahu. Tanpa dinyana, Abang yang punya kebiasaan rutin: memangkas rambut setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu; mencuci baju putih setiap Senin, baju berwarna gelap setiap Rabu, baju berwarna sedang setiap Jum’at; menjerang air panas setiap hari pukul enam pagi untuk semua penghuni rumah; dan menghitung koleksi sabun mandinya yang bermerek sama dan berjumlah genap seratus setiap pagi dan sore, harus jatuh cinta pada perempuan yang indekos di rumah Bunda, ibunya Abang. Perasaan cinta Abang yang membikin perempuan itu terenyuh dan pergi dari rumah. Sadar, kebersamaan antar perempuan itu dan Abang hanya sebatas teman/sahabat, tak lebih. Demikian tafsirnya, tidak bagi seorang Abang. Ia terlalu jauh dari batas-batas kebersamaan, sekalipun sejak awal batas-batas itu tak dibahas. Itulah cinta.

[b] Cinta mampu mempengaruhi kepribadian seseorang. Dalam cerpennya yang bertajuk Firasat dikisahkan seorang gadis molek yang ikut nimbrung di  Klub Firasat, klub yang punya kegiatan bermeditasi sehingga dapat mengindera yang tak terindera, tampak aneh di mata ibunya. Si gadis tumben bikin kue. Setelah ditanya ibunya, dijawabnya kue itu diperuntukkan untuk perayaan ulang tahun klub itu. Seorang ibu yang lebih dahulu mengalami perjalanan cinta, tak asing untuk mengatakan bahwa anaknya telah jatuh cinta pada seseorang. Tapi siapa? Dialah pencetus berdirinya klub itu. Sayang, cinta itu hanya dirasa hati, tak sampai terungkap. Isak tangis si gadis pecah, sedang laki-laki itu harus pergi ke tempat orang tuanya dan terpaksa tidak mengikuti perayaan ulang tahun. Kenapa cinta yang dikorbankan saat keinginan mendesaknya? Apakah keinginan telah membunuh dan mengalahkan kekuatan cinta?

Dan, [c] kata hati (cinta) seorang gadis—dalam tulisannya yang berjudul Hanya Isyarat—yang duduk di suatu tempat mirip bar. Di sana hanya ada tiga orang laki-laki dan dia sendiri. Tiga laki-laki itu berkisah tentang pengalaman mereka seperti kisah putus cinta, kisah kehilangan teman, dan kisah bencana alam. Kisah-kisah mereka terkesan biasa, tapi saat si gadis itu diajak ngumpul bersama mereka dan mengiyakan duduk, sebuah cerita meluncur dari mulutnya yaitu kisah sahabatnya yang lahir di negeri orang, lalu menjalani kehidupan imigran yang sederhana. Setiap ibunya membelikannya daging ayam sebagai lauk pauk di pasar, bagian ayam yang dibawa selalu punggungnya, padahal ayam tidak hanya memiliki punggung tetapi memiliki paha, dada, dan sayap. Bagi si anak itu tak jadi soal, namun itu, bagi gadis itu, sesuatu yang menyedihkan karena ‘dibiarkannya’ bagian ayam selain punggung telah bikin dia mengetahui apa yang tidak sanggung dia miliki. Betapa menyakitkan jika cinta itu hanya sebatas harapan!

Menurut saya, selain Madre, Perahu Kertas, dan Supernova; Partikel, karya Dee yang menarik bagi saya adalah Rectoverso. Di antara sebelas cerpen di buku ini yang menarik adalah Malaikat Juga Tahu, Aku Ada, Hanya Isyarat, dan Firasat.

Tak dapat ditampik gaya berkisah. Dee mengurai kisah percintaan dalam tulisan-tulisannya tak jauh dari lingkungan di mana dia tinggal, yaitu Bandung, dan latar belakang pendidikannya yakni di luar pesantren. Sama sekali kisah percintaannya banyak disandarkan pada interaksi percintaan ala luar pesantren: cinta yang mudah diungkapkan sebebas mungkin, pergaulan bebas, cara berpakaian, cara berpikir, kebiasaan sehari-hari, dsb. Persentuhan kebebasan sangat apik dikisah dalam tulisan-tulisannya karena kecakapan Dee dalam tulis-menulis. Tak terlalu kentara.

Tentu, jika saya membaca karya-karya Dee—salah satunya Rectoverso—dan karya-karya Kang Abik (Habiburrahman El-Shirazy), akan terkesan beda. Iya, kisah-kisah dua novelis ini tak lepas tentang cinta, tapi karya-karya Kang Abik adalah percintaan islami. Saya menyadari, selain latar belakang pendidikan Dee dan Kang Abik yang berbeda, mendekati benar bahwa Dee lebih banyak dicekoki novel-novel barat.

Mayoritas pembaca karya-karya Dee—salah satunya Rectoverso—menilai bukan karya biasa yang dapat dibaca secara santai—untuk tidak mengatakan ‘ogal-ogalan’—tapi membutuhkan kinerja otak guna memahami kalimat demi kalimat dan pragraf demi pragraf. Lebih jauh lagi, pesan penulis (Dee) tentang tulisannya.

Tapi, jangan terlalu khawatir atau kikuk, sejauh saya membaca karya Dee saya seperti meneguk air laut. Tegukan air itu bukan menghapus haus yang mencekal saya, melainkan menambah haus dan haus. Semakin banyak membaca karya-karya Dee, Anda akan terus kehausan mengkoleksi karya-karyanya yang lain. Selamat membaca![]

Lubangsa, 9 Agustus 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...