Sunday, January 3, 2016

Tiga Tip Memikat Hati Perempuan



Allah swt berfirman: …dan diciptakan darinya (satu jiwa) pasangannya… (Al-Qur’an s. An-Nisa’ a. 1). Tahukah Anda maksud Tuhan dalam penggalan ayat ini? Yang jelas, diciptanya pasangan untuk manusia. Jika Anda seorang lelaki, tentu di situlah Allah swt. ciptakan seorang gadis sebagai istri/pasangan Anda nanti. 

Merujuk pada Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini ditafsirkan bi al-ra’yi: “Lafal zaujaha (pasangannya) berarti Hawa yang tercipta dari tulang rusuk kiri Nabi Adam yang dalam keadaan tidur. Saat bangun, beliau melihat Hawa, lalu ia (Hawa) terkejut. Terus, beliau (Adam) menyukainya, dan ia (Hawa) suka pula.” Penciptaan Hawa dari rusuk kiri Nabi Adam adalah hubungan simbiosis mutualisme. Kendati tulang itu tiada, beliau rela. Sebab, ketiadaannya tak dapat ditukar dengan kehilangan Hawa dari sisi beliau. Cinta tak ada logika—menyitir kata-kata Agnes Monica.

Adalah suatu keniscayaan interaksi keturunan Adam dan Hawa hingga sekarang tiada henti mabuk cinta. Klise. Apalagi mereka menginjak masa remaja: kesukaan pada lawan jenis bersifat pasti. Mustahil alias modus mengaku “biasa-biasa saja” melihat lawan jenis: tidak suka, tidak tertarik, lebih-lebih tidak cinta. Anda termasuk generasi ke generasi yang mengenyam romansa Nabi Adam dan Hawa.

Jika cinta itu niscaya, tentu itu hukum alam (sunnatullah). Masalahnya, Anda layaknya Nabi Adam yang sebagian rusuk Anda tidak utuh lagi karena dijadikan bahan penciptaan pasangan Anda. Sayang, Anda sendiri tidak tahu siapakah orang itu. Baru tahu, apabila pasangan itu jelas-jelas jadi istri Anda sepanjang masa.

Anda yang masih bujang tentu dalam tahap pencarian seperti Nabi Ibrahim mencari Tuhan. Ke sana ke mari Anda berijtihad. Menentukan ini atau itu, bukanlah soal sepele, melainkan butuh pengorbanan. Adakalanya, perjuangan ini berakhir manis: senada dengan pepatah, pucuk dicinta ulam tiba. Adakalanya, perngorbanan ini berujung pahit: sungguh itu menjadi petaka yang menyayat hati nan menyakitkan. Demikian, potret perjuangan sang pencinta; sukses dan gagal tampil saat finis.

Mencari yang satu (pasangan Anda) sering bikin senewen. Anda tak ubahnya Romeo yang majnun pada Juliet; Zainuddin yang semaput karena dihianati Hayati; dst. Jika Anda seorang perempuan, saya pikir, tak jadi soal. No problem. Yang malu-memalukan jika yang senewen itu seorang lelaki. Anda tahu? Laki-laki dicipta berbeda daripada perempuan: laki-laki adalah makhluk yang kuat—baik mental maupun tubuh—daripada perempuan. Sebuah petikan kalam-Nya: Laki-laki menjadi pelindung bagi perempuan. Benar, kan? Tak perlu kaget lagi. Tuhan menjadikan laki-laki sebagai qawwamun (pelindung) karena dua alasan: [1] Allah swt telah melebihkan laki-laki atas sebagian yang lain (perempuan). [2] Sebagian hartanya laki-laki telah diberikan kepada perempuan (saat terikat dalam tali pernikahan) (baca Al-Qur’an s. An-Nisa’ a. 34).  

Apalagi Nabi Muhammad bersabda tegas: Lan yufliha qawmun wallaw amrahum imraatan (Tidak akan berhasil suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan).

Uuups, saya mengutip sebagian ayat dan hadits tersebut bukan bermaksud memojokkan kaum perempuan. Sama sekali tidak. Kendati saya seorang lelaki, saya masih menghargai kualitas ciptaan Allah, baik laki atau perempuan, dalam menyulam mimpi-mimpi untuk masa depan, misalkan, ingin jadi presiden, penulis, politikus, dst. Hanyasanya, kutipan tersebut sebagai bentuk kritik bagi laki-laki yang suka merengek dan membebek.

Coba Anda baca dalam Al-Qur’an kisah Nabi Yusuf dan Nabi Sulaiman!

Dikisahkan Ratu Balqis di negeri Saba’ hidup kaya raya. Punya singgasana megah. Kerajaan Sabaiyah. Di situlah ia dikelilingi para pembesar—saya boleh menyebutnya para bodyguard. Tapi, Nabi Sulaiman sedikit pun tak pernah kikuk dan keder. Sebuah surat dikirim kepada Balqis.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang. Janganlah engkau berlaku sombong kepadaku dan datanglah kepadaku sebagai orang yang berserah diri. (Al-Qur’an s. An-Naml a. 30-31).

Sebagai raja, sikap Balqis tidak otoriter. Dia minta masukan dari para pembesar tentang surat itu. Sayang, mereka tidak bisa memberikan keputusan. Mereka bisanya melakukan perintah (berperang). Suatu keputusan ada padanya seorang.

Balqis punya ide untuk mencoba Nabi Sulaiman dengan mengirim utusan yang membawa hadiah. Ia ingin tahu reaksi beliau. Sayangnya, saat hadiah itu disodorkan, Sulaiman memekik, “Apakah kamu akan memberikan harta kepadaku? Apa yang Allah berikan kepadaku lebih baik daripada apa yang kamu berikan kepadaku; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. Kembalilah kepada mereka! Sungguh, kami pasti akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak mampu melawannya dan akan kami usir dari negeri itu (Saba’) secara terhina dan mereka akan menjadi (tawanan) yang hina dina.” (s. An-Nisa’ a. 36-37).

Kemudian Nabi Sulaiman menawarkan kepada para pembesar beliau untuk mengerjakan tugas: membawa singgasana Balqis sebelum ia datang kepada beliau dalam keadaan menyerahkan diri. Jin Ifrit yang menjawab permintaan beliau. Katanya, ia akan siap membawa singgasana itu sebelum Nabi Sulaiman berdiri dari tempat duduk.

Benar. Singgasana itu tampak di depan Sulaiman. Beliau takjub. Sadar, ini semua merupakan atas kekuasaan Allah swt. Beliau bersyukur, benar-benar bersyukur. Dan, beliau minta singgasana itu dirubah dengan wujud yang lain, sehingga nanti Balqis tidak mengenalnya.

Dan, ketika Balqis diminta memasuki istana Nabi Sulaiman, dilihatlah lantai seakan-akan kolam sehingga disingkap penutup kedua betisnya. Padahal, itu hanya lantai istana yang dilapisi kaca. Balqis terharu, “Ya Tuhanku, sungguh, aku telah berbuat zalim terhadap diriku. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam.” (s. An-Nisa’ a. 44).

Sebuah cerita yang saya kutip agak panjang menjelma menjadi sebuah inspirasi: optimis menaklukkan kecongkakan perempuan, sehingga Anda dapat mengetuk hatinya. Memang, disadari, agak atau amat sulit, tetapi hanya laki-laki yang mengetahui sisi kelemahan perempuan itu pemenangnya. Jika perempuan itu jelas-jelas tajir, Anda, seorang lelaki, dapat mematahkannya dengan kekayaan yang Anda miliki. Pasti, si perempuan itu akan klepek-klepek di depan Anda seperti Balqis yang bertekuk lutut dan berpasrah diri kepada Allah swt. di depan Nabi Sulaiman. Karena, kekayaan Nabi Sulaiman telah membikin Ratu Balqis excited.

Lain lagi jika si perempuan itu rupawan nan cantik jelita. Kecantikannya sering menutup jalan bagi Anda masuk. Sebuah kisah yang dapat saya petik dari “Al-Qur’an s. Yusuf a. 31.”

Maka ketika perempuan itu mendengar cercaan mereka diundanglah perempuan-perempuan itu dan disediakannya tempat duduk bagi mereka, dan kepada masing-masing mereka diberikanlah sebuah pisau (untuk memotong jamuan). Kemudian dia berkata kepada Yusuf: Keluarlah (tampakkan dirimu) kepada mereka. Ketika perempuan-perempuan itu melihatnya, mereka terpesona kepada (keelokan rupa)nya. Dan, mereka tanpa sadar melukai tangannya sendiri seraya berkata: “Maha sempurna Allah. Ini bukanlah manusia. Ini benar-benar malaikat yang mulai.”

Anda sekarang sudah punya jalan: tunjukkan bahwa dirimu rupawan. Keren. Percaya diri (pe-de). Sehingga, kecantikan perempuan akan menjadi pudar layaknya Pudarnya Kecantikan Kleopatra dalam novelnya Kang Abik. Bayangkan! Para gadis dalam kisah di atas takjub-tidak kuat melihat ketampanan Nabi Yusuf. Subhanallah.

Pertanyaannya, jika Anda tidak kaya dan rupawan, lalu bagaimana? Jadilah seperti Nabi Muhammad yang dilamar Siti Khadijah, seorang saudagar kaya. Padahal, beliau orang miskin. Satu hal yang bikin hati Khadijah terketuk adalah sikap beliau: jujur. Beliau bertahun-tahun bekerja sebagai pedagang kambing milik Khadijah tanpa dipoles dengan sikap dusta. Jujur benar-benar menjadi berlian yang tak ternilai harganya dibandingkan harta yang Khadijah punya. Jujur merupakan sikap yang mengantarkan seseorang menjadi tulus.

Kisah-kisah di atas telah menjawab kebuntuan otak Anda dalam memikat hati perempuan. Tiga tip: menampakkan kekayaan, tampil lebih rupawan, dan atau bersikap jujur adalah salah satu langkah positif Anda ketemu tulang rusuk kiri Anda dengan diselimuti sikap optimis. Silahkan dicoba!

Annuqayah, 25 November 2015

Sang Ilmuwan Sejati



Kembali setelah berlibur menyambut Hari Raya Idhul Adha tahun 2015, kuliah kitab kuning setiap Ahad yang diampuh Kiai Mamak kembali dimulai. Shalat Jamaah Ashar usai, santri yang siap dengan kitab Ta’lim Mutaallim duduk berderet di saf depan dan baris patah-patah di belakang dan belakang. Sedangkan, santri yang lain keluar mengambil kitab di kamar masing-masing.

Sambil menunggu, Kiai Mamak mengurut-ngurut layar ponsel. Saya mengamati, beliau tak lepas dari ponsel ke manapun beliau pergi, kendati ke masjid shalat Jum’at atau mengimami shalat jamaah. Saya sekedar husnuddzan: Cara beliau mengoperasikan ponsel tak seperti saya dan para santri yang lain. Jika saya banyak ogal-ogalannya, tapi beliau tidak. Beliau lebih pasnya disebut fail (pengendali) daripada maf’ul (dipengaruhi). Teknologi dipergunakan semestinya.

Di sela-sela menunggu santri, beliau ngasih jeda sebentar: kira-kira sepuluh menit untuk persiapan. Saat itu pula saya ditanya beliau tentang batas akhir maqra’ yang diajarkan sebelum liburan. Saya menoleh kanan-kiri: kira-kira yang dipanggil beliau, saya atau santri yang lain. Jelas saya, sayalah yang maju sambil membawa sebagian lembar kertas kitab Ta’lim Mutaallim sembari menunjukkan ini dan itu.

Seperti yang telah saya jelaskan dalam tulisan saya sebelumnya, bahwa metode review tak lepas dari karakter Kiai Mamak. Di antara yang saya tandai; beberapa yang beliau review, [a] Ketahuilah bahwa sesungguhnya pelajar tidak akan mendapatkan ilmu dan manfaat ilmu kecuali dengan menghormat ilmu dan ilmuwan sejati... (hal 16). [b] Dinyatakan, “Menghormat lebih baik daripada taat.” (hal 16). [c] Sesungguhnya manusia tidak akan menjadi kafir karena maksiat. Dan, hanyasanya ia menjadi kafir karena tidak hormat. (hal 16). [d] Siapapun yang ingin anaknya menjadi alim, seyogyanya ia menghormati dan mengagungkan para guru, dan memberikan mereka sesuatu. (hal 17). Dan, [e] Burhanuddin, penulis kitab “Shahib al-Hidayah”, bercerita: “Salah seorang ilmuwan besar di daerah Bukhara duduk di ruang belajar. Di tengah-tengah pelajaran berlangsung beliau berdiri. Mereka tanya tentang peristiwa ini. Beliau jawab: Anak guruku bermain bersama anak-anak yang lain di jalan. Jika aku melihatnya, maka aku berdiri karena mengagungkan guruku.”

Beberapa item yang telah tertelan masa selama berlibur kira-kira sepekan merekah kembali dalam ingatan saya. Ingatan ini menjadi kuat, benar-benar kuat. Tak lama, Kiai Mamak melanjutkan pada item-item berikutnya.

Imam Az-Zarnuji menuturkan dalam kitabnya: Fahruddin As-Syabandi adalah pemimpin imam di wilayah Marwa. Beliau mendapat penghormatan dari para raja. Beliau bilang: Saya mendapatkan kedudukan ini karena menghormat guru. Saya pernah membantu guruku, Al-Qhady Aba Yazid Ad-Dabbusy. Saya pernah memasakkannya; tetapi saya tidak memakannya. (hal 17).

Saya membayangkan iklim pelajar sekarang: Masihkah saya—atau yang lain—mengaplikasikan cara menghormat guru seperti yang diperbuat As-Sabandi? Kayaknya “Tidak!” Jangankan hormat, taat saja rasanya sulit. Saya merasa bersalah mengingat keonaran saya saat sekolah dan kuliah dulu. Saya pernah membikin dosen marah karena saya masih membantah begini dan begitu saat beliau minta ngasih pemisalan tentang kecintaan kita kepada Al-Qur’an.

Sebagai penutup Kiai Mamak sering menyampaikan beberapa baris kata yang mudah diingat audiens. Tapi, kali ini beda: beliau menutup dengan pernyataan Az-Zarnuji langsung.

Al-Hulwany keluar dari daerah Bukhara. Beliau tinggal di sebagian desa. Beliau dikunjungi murid-murid beliau kecuali Abi Bakar Az-Zaranjy. Al-Hulwani tanya kepada Az-Zaranjy saat ketemu: “Kenapa kamu tidak mengunjungiku?” Ia jawab: “Saya sibuk karena membantu ibuku.” Beliau bilang, “Kamu akan mendapatkan keberkahan umur, tapi bukan mutiara ilmu.” Beberapa waktu setelah itu, yang dikatakan Al-Hulwany terjadi pada Az-Zaranjy. (hal 17-18).

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!” Beliau melanjutkan dengan salam. Santri berdiri tanda menghormat ala Pondok Pesantren Annuqayah. Setelah beliau beranjak keluar dan samar-samar dari arah penglihatan saat beliau jelas-jelas di luar Masjid Jami’ Annuqayah, santri bubar otomatis, baik masih duduk-duduk di masjid sambil ngobrol, bergegas keluar keburu menuju kamar mandi, atau merebahkan badan sekedar istirahat sejenak.[]   

Annuqayah, 22 November 2015     

Melangkah dalam Keterbatasan



Judul Buku
Laskar Pelangi
Penulis
Andrea Hirata
Penerbit
PT Bentang Pustaka
Cetakan
30, Agustus 2015
Tebal
xiv + 529 halaman
ISBN
979-3062-79-7

Jika ditanya siapakah novelis hebat di Indonesia, tentu nama ‘Andrea Hirata’ tak kan terlupakan. Andrea adalah salah satu di antara novelis Indonesia yang namanya tenar di saentero negeri sejak diluncurkan karya pertamannya, Laskar Pelangi.

Hadirnya Laskar Pelangi menjadi inspirator masa depan bangsa, tanpa membedakan ras, suku, pangkat, dan agama. Membaca, merenungkan, dan melebur di dalam ceritanya, sedikit banyak pasti terbersit dalam pikiran pembaca: karya itu bukanlah karya biasa daripada novel-novel yang lain. Kualitas karya ini tak hanya dilihat dari label bestseller yang disematkan di cover depan, tetapi respons positif pembaca di pelosok dunia terhadap karya ini. Salah satunya, komentar Vikas Swarup—penulis Slumdog Millionaire; international bestseller—yaitu “A wonderful tale about what a pack of school kids, two caring teachers and a powerful sense hope can achieve. I love it.” Sebuah cerita yang sangat bagus tentang apa yang diraih sekelompok anak-anak sekolah, dua guru yang prihatin/peduli, dan sebuah harapan yang kuat. Saya menyukainya.

Dan, Laskar Pelangi ini telah diterjemahkan ke dalam 34 bahasa asing: USA (The Rainbow Troops), Jerman (Die Regenbogen Truppe), India (The Rainbow Troops), Kanada (The Rainbow Troops), Prancis (Les Guerriers de l’arc-en-ciel), Belanda (De Regenboogrende), dst. Terus, Laskar Pelangi ini diterbitkan penerbit-penerbit utama seperti FSG, Random House, Penguin, Mercure de France, Harper Collins di lebih dari 120 negara, di 5 benua, mulai Amerika Selatan, Eropa Timur hingga Afrika (baca: Cover Belakang Sang Pemimpi).

Pertanyaannya, apa kelebihan Laskar Pelangi hingga menuai pujian dan menjadi karya sastra yang diminati berjuta-juta pembaca? Seperti apakah sih kehebatan Andrea berkisah dan merangkai kata demi kata hingga membentuk sebuah karya yang monumental? Bukankah itu hanya karya manusia yang sama dengan karya sastra yang lain? Tak seperti Al-Qur’an sebagai karya Tuhan? Jika itu benar-benar bukan karya-Nya, lalu apa rahasia yang menjadi misteri atas booming-nya karya Andrea ini?

Baca dan renungkan judul novel ini: Laskar Pelangi. Puitis nggak? Istilah baru, bukan? Tentunya, jawabannya, “Iya”. Iya benar-benar puitis; mendengarnya enak. Terus, benar: judul itu termasuk istilah baru. Tak lama setelah diluncurkannya buku ini, mendengar istilah itu tak terkesan klise. Thus, gimana dengan isinya? Menarikah? Tak kalah menarik saat kali pertama Anda membaca judul buku ini?

Laskar Pelangi merupakan nama sebelas siswa Sekolah Muhammadiyah di daerah Melayu Belitong. Mereka, di antaranya, Ikal (tentunya, tokoh “Ikal” itu adalah Andrea Hirata sendiri yang sering disebut-sebut dalam karya ini dengan kata ganti “Aku”), Lintang, Mahar, Trapani, Harun, Syahdan, Flo, Samson, Kucai, A Kiong, dan Sahara.  Nama “Laskar Pelangi” terispirasi dari kebiasaan mereka melihat pelangi di langit. Warnanya tampak indah. Saking indahnya menatap pelangi bersama-sama yang merekah dan menghiasi langit, Mahar berkisah. “Jika berhasil melintasi pelangi maka kita akan bertemu dengan orang-orang Belitong tempo dulu dan nenek moyang orang-orang Sawang.” (hal 161).

Para Laskah Pelangi rata-rata siswa miskin dan kampungan, selain Flo. Apalagi sekolah mereka bukanlah sekolah terpandang, tak seperti Sekolah PN Timah yang kaya raya. Anda bisa membayangkan Sekolah Muhammadiyah di Belitong seperti apa: tempatnya kumuh, dindingnya yang terbuat dari kayu yang rentan roboh jika diterpa angin kencang, terpencil, dan kotor. Kendati begitu, semangat guru-gurunya yang patut diajungi jempol. Mereka, Bu Muslimah dan Pak Harfan. Setiap hari, mereka tak pernah absen. Beragam pelajaran, mulai dari sejarah, matematika, hingga Ke-Muhammdiyah-an, diajarkan. Mereka tak pernah mengeluh, pesimis, dan frustasi. 

Takdir miskin dan terbelakang bukanlah aral yang mematahkan semangat mereka hijrah dari takdir susah menjadi orang mulia. Mereka percaya bahwa Tuhan Maha Melihat dan Maha Mendengar. Tak ayal, di antara mereka saling menggadai cita-cita sebagai bekal menempuh hidup. Di antara Laskar Pelangi, selain Ikal, tak sedikit yang punya cita-cita istimewa: Sahara yang bercita-cita menjadi pejuang hak-hak asasi manusia; A Kiong bermimpi menjadi kapten kapal; dan Kucai yang bercita-cita menjadi seorang wakil rakyat, anggota dewan. Cita-cita ini adalah kutub magnet yang menggerakkan jarum kompas di dalam kepalaku dan membimbing hidupku secara meyakinkan. Setelah selesai merumuskan masa depanku itu sejenak aku merasa menjadi manusia yang agak berguna. (hal 342). 

Semangat pengabdian yang Bu Mus dan Pak Harfah torehkan demi berlangsungnya pendidikan tak kalah berapi-apinya Ki Hajar Dewantara dalam mendengungkan arti pendidikan. Mereka mendidik siswa-siswa mereka dengan sabar dan tulus. Misalkan, [1] Kedisiplinan. “Bukan kerena karyamu tidak bermutu, tapi dalam bekerja apa pun kita harus memiliki disiplin.” (hal 190). Teguran Bu Mus kepada Mahar karena terlambat menyerahkan karyanya. [2] Kesabaran  dan kepatuhan. Perintah Bu Mus kepada Laskar Pelangi untuk menyiram bunga dan membeli kapur. Disadari pekerjaan itu tidak menyenangkan, tapi itulah langkah melatih diri menjadi insan yang sabar dan patuh kepada guru. Dan, [3] menghormati guru. Menghormat lebih baik daripada taat. Demikian petikan dalam kitab Ta’lim Mutaallim-nya Az-Zarnuji. Demikian yang disampaikan secara tersirat dalam novel ini: “Melawan guru sama hukumannya dengan melawan kedua orangtua, durhaka! Siksa dunia yang segera kauterima adalah burut! Pangkal pahamu akan membesar seperti timun suri hingga langkahmu ngangkang!”(hal 351). Kucai memarahi Mahar yang membantah Bu Mus dan egois mempertahankan kehendaknya: mempercayai ritual perdukunan. Semua siswa merasa prihatin melihat raut muka Bu Mus yang memerah.

Pendidikan yang ditanamkan bertahun-tahun, ternyata, tak kosong. Semangat Bu Mus dan Pak Harfan mengantarkan mereka menjadi sang juara di ajang-ajang bergengsi. Sekolah Muhammadiyah menang dalam ajang karnaval, dan memenangkan lomba kecerdasan melalui tiga siswa yang dikira the best dan menjanjikan di sana yaitu Ikal, Sahara, dan Lintang. Siapa yang tidak meneteskan air mata? Air mata menetes bukan karena sedih, tapi kagum sekolah yang dari dulu diremeh-temehkan, dikucilkan, dan diejek-ejek, mampu menuai prestasi.

Anda bisa belajar, bahwa itu semua tak jauh dari usaha. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Demikian, petikan pantun yang kaya inspiratif.

Tentang usaha, Andrea menyelipkan dalam pesan Tuk-Bayan-Tula kepada Mahar dan Flo yang tertulis dalam kertas, “Kalau ingin lulus ujian, buka buku, belajar!”(hal 424). Pesan itu diperolah saat mereka berdua pergi menemui Tuk. Kendati Tuk seorang dukun sakti, ia masih mempercayai efek positif usaha dalam menjalani takdir.

Itulah pendidikan. Tapi, novel ini tidak hanya mengulas tentang pendidikan. Di sana Andrea memperkaya novel ini dengan kisah percintaan, kritik yang mambangun, dsb. Tentang kisah percintaan, yang diangkat adalah percintaan antara Ikal dan A Ling, seorang perempuan cantik yang sedang bantu-bantu orang tuanya melayani pembeli. Cinta itu merekah saat kali pertama Ikal melihat A Ling di tokonya untuk menjalani perintah Bu Mus, yaitu membeli kapur. Yang menggerakkan hati Ikal adalah jari-jari A Ling yang indah. Cinta kami adalah cinta yang bisu, cinta yang sederhana, dan cinta yang sangat malu, tapi indah, indah sekali tak terperikan. (hal 252).

Andrea juga menyelipkan kritik: [1] Kritik untuk orang anti-seni. Banyak seniman hebat yang jarang sekali mendapat perhatian dan penghargaan yang memadai. Gaya hidup dan pemikiran mereka yang cemerlang sering disalahartikan. Misal, Mahar; [2] kritik atas manusia yang rakus. Di tempat dilaksanakannya sembahyang rebut atau Chiong Si Ku—acara semarak di mana seluruh warga Tionghoa berkumpul—masyarakat kompaks membawa tak kurang dari 150 jenis barang seperti wajan, radio, transistor, televisi, berbagai jenis kue, biskuit, gula, dst. Yang hadir tak ubahnya bersikap seperti anak-anak: ambisius dan membabi buta merebut barang-barang berharga itu, kendatipun akhirnya barang tersebut jadi rusak kerena desakan dan hantaman, tarikan dan dorongan mereka satu sama lain. Kalau yang direbut radio, ada yang mendapatkan tombolnya. Dan yang lain memperoleh antenanya, dst.  Mereka merasa puas ansalkan yang lain tidak mendapatkan yang utuh. Sungguh serakah!; [3] kritik mempercayai dukun. “Artinya Ananda tidak punya sebuah rencana yang positif, tak pernah lagi mau membaca buku dan mengerjakan PR karena menghabiskan waktu untuk kegiatan perdukunan yang membelakangi waktu untuk kegiatan perdukunan yang membelakangi ayat-ayat Allah.” (hal 350); [4] kritik pecandu rokok. Seorang bapak yang menguji motivation letter Ikal untuk mendapatkan beasiswa terkenal sangat pintar bukan hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri sumbangannya tak kecil untu bangsa ini. (hal 462). Sayangnya, ia perokok berat; dan [5] kritik atas kapitalis. Kehancuran PN Timah adalah kehancuran agen kapitalis yang membawa berkah bagi kaum yang selama ini terpinggirkan, yakni penduduk pribumi Belitong. (hal 485)

Sejauh saya membaca karya Andrea, tak hanya Laskar Pelangi, tetapi juga novel-novelnya yang lain seperti Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov, dan Ayah, Andrea selalu menyertakan pemisalan dalam mendiskripsikan sesuatu. Sebagai misal dalam Laskar Pelangi, //Seluruh bagian ini disirami sinar matahari dan aliran sungai payau tampak sampai jauh berkelok-kelok seperti cucuran perak yang dicairkan. (hal 180)//setiap kali berdiri di bibir pantai aku selalu merasa terkejut, persis seperti pasukan Alexander Agung pertama kali menemukan india. (hal 179)//Mammillaria harus diperlakukan dengan sopan seperti porselen mahal dari Tioangkok . (hal 192)//Itulah kebun sekolah Muhammadiyah, indah dalam ketidakteraturan seperti lukisan Kandinsky. (hal 195)//.  

Membaca novel ini, sejujurnya saya terkadang dibikin terharu, tertawa, terenyuh, dan kaget, “Masa iya!”. Sebab, kisah dalam novel ini diangkat dari kisah nyata Andrea Hirata sendiri yang kaya dengan komplik. Sehingga, pengalaman Andrea menjelma menjadi kisah-kisah yang faktual, kendatipun ini adalah karya fiksi: sedikit banyak dipoles dengan imajinasi.
 
Annuqayah, 19 November 2015

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...