Sunday, January 3, 2016

Melangkah dalam Keterbatasan



Judul Buku
Laskar Pelangi
Penulis
Andrea Hirata
Penerbit
PT Bentang Pustaka
Cetakan
30, Agustus 2015
Tebal
xiv + 529 halaman
ISBN
979-3062-79-7

Jika ditanya siapakah novelis hebat di Indonesia, tentu nama ‘Andrea Hirata’ tak kan terlupakan. Andrea adalah salah satu di antara novelis Indonesia yang namanya tenar di saentero negeri sejak diluncurkan karya pertamannya, Laskar Pelangi.

Hadirnya Laskar Pelangi menjadi inspirator masa depan bangsa, tanpa membedakan ras, suku, pangkat, dan agama. Membaca, merenungkan, dan melebur di dalam ceritanya, sedikit banyak pasti terbersit dalam pikiran pembaca: karya itu bukanlah karya biasa daripada novel-novel yang lain. Kualitas karya ini tak hanya dilihat dari label bestseller yang disematkan di cover depan, tetapi respons positif pembaca di pelosok dunia terhadap karya ini. Salah satunya, komentar Vikas Swarup—penulis Slumdog Millionaire; international bestseller—yaitu “A wonderful tale about what a pack of school kids, two caring teachers and a powerful sense hope can achieve. I love it.” Sebuah cerita yang sangat bagus tentang apa yang diraih sekelompok anak-anak sekolah, dua guru yang prihatin/peduli, dan sebuah harapan yang kuat. Saya menyukainya.

Dan, Laskar Pelangi ini telah diterjemahkan ke dalam 34 bahasa asing: USA (The Rainbow Troops), Jerman (Die Regenbogen Truppe), India (The Rainbow Troops), Kanada (The Rainbow Troops), Prancis (Les Guerriers de l’arc-en-ciel), Belanda (De Regenboogrende), dst. Terus, Laskar Pelangi ini diterbitkan penerbit-penerbit utama seperti FSG, Random House, Penguin, Mercure de France, Harper Collins di lebih dari 120 negara, di 5 benua, mulai Amerika Selatan, Eropa Timur hingga Afrika (baca: Cover Belakang Sang Pemimpi).

Pertanyaannya, apa kelebihan Laskar Pelangi hingga menuai pujian dan menjadi karya sastra yang diminati berjuta-juta pembaca? Seperti apakah sih kehebatan Andrea berkisah dan merangkai kata demi kata hingga membentuk sebuah karya yang monumental? Bukankah itu hanya karya manusia yang sama dengan karya sastra yang lain? Tak seperti Al-Qur’an sebagai karya Tuhan? Jika itu benar-benar bukan karya-Nya, lalu apa rahasia yang menjadi misteri atas booming-nya karya Andrea ini?

Baca dan renungkan judul novel ini: Laskar Pelangi. Puitis nggak? Istilah baru, bukan? Tentunya, jawabannya, “Iya”. Iya benar-benar puitis; mendengarnya enak. Terus, benar: judul itu termasuk istilah baru. Tak lama setelah diluncurkannya buku ini, mendengar istilah itu tak terkesan klise. Thus, gimana dengan isinya? Menarikah? Tak kalah menarik saat kali pertama Anda membaca judul buku ini?

Laskar Pelangi merupakan nama sebelas siswa Sekolah Muhammadiyah di daerah Melayu Belitong. Mereka, di antaranya, Ikal (tentunya, tokoh “Ikal” itu adalah Andrea Hirata sendiri yang sering disebut-sebut dalam karya ini dengan kata ganti “Aku”), Lintang, Mahar, Trapani, Harun, Syahdan, Flo, Samson, Kucai, A Kiong, dan Sahara.  Nama “Laskar Pelangi” terispirasi dari kebiasaan mereka melihat pelangi di langit. Warnanya tampak indah. Saking indahnya menatap pelangi bersama-sama yang merekah dan menghiasi langit, Mahar berkisah. “Jika berhasil melintasi pelangi maka kita akan bertemu dengan orang-orang Belitong tempo dulu dan nenek moyang orang-orang Sawang.” (hal 161).

Para Laskah Pelangi rata-rata siswa miskin dan kampungan, selain Flo. Apalagi sekolah mereka bukanlah sekolah terpandang, tak seperti Sekolah PN Timah yang kaya raya. Anda bisa membayangkan Sekolah Muhammadiyah di Belitong seperti apa: tempatnya kumuh, dindingnya yang terbuat dari kayu yang rentan roboh jika diterpa angin kencang, terpencil, dan kotor. Kendati begitu, semangat guru-gurunya yang patut diajungi jempol. Mereka, Bu Muslimah dan Pak Harfan. Setiap hari, mereka tak pernah absen. Beragam pelajaran, mulai dari sejarah, matematika, hingga Ke-Muhammdiyah-an, diajarkan. Mereka tak pernah mengeluh, pesimis, dan frustasi. 

Takdir miskin dan terbelakang bukanlah aral yang mematahkan semangat mereka hijrah dari takdir susah menjadi orang mulia. Mereka percaya bahwa Tuhan Maha Melihat dan Maha Mendengar. Tak ayal, di antara mereka saling menggadai cita-cita sebagai bekal menempuh hidup. Di antara Laskar Pelangi, selain Ikal, tak sedikit yang punya cita-cita istimewa: Sahara yang bercita-cita menjadi pejuang hak-hak asasi manusia; A Kiong bermimpi menjadi kapten kapal; dan Kucai yang bercita-cita menjadi seorang wakil rakyat, anggota dewan. Cita-cita ini adalah kutub magnet yang menggerakkan jarum kompas di dalam kepalaku dan membimbing hidupku secara meyakinkan. Setelah selesai merumuskan masa depanku itu sejenak aku merasa menjadi manusia yang agak berguna. (hal 342). 

Semangat pengabdian yang Bu Mus dan Pak Harfah torehkan demi berlangsungnya pendidikan tak kalah berapi-apinya Ki Hajar Dewantara dalam mendengungkan arti pendidikan. Mereka mendidik siswa-siswa mereka dengan sabar dan tulus. Misalkan, [1] Kedisiplinan. “Bukan kerena karyamu tidak bermutu, tapi dalam bekerja apa pun kita harus memiliki disiplin.” (hal 190). Teguran Bu Mus kepada Mahar karena terlambat menyerahkan karyanya. [2] Kesabaran  dan kepatuhan. Perintah Bu Mus kepada Laskar Pelangi untuk menyiram bunga dan membeli kapur. Disadari pekerjaan itu tidak menyenangkan, tapi itulah langkah melatih diri menjadi insan yang sabar dan patuh kepada guru. Dan, [3] menghormati guru. Menghormat lebih baik daripada taat. Demikian petikan dalam kitab Ta’lim Mutaallim-nya Az-Zarnuji. Demikian yang disampaikan secara tersirat dalam novel ini: “Melawan guru sama hukumannya dengan melawan kedua orangtua, durhaka! Siksa dunia yang segera kauterima adalah burut! Pangkal pahamu akan membesar seperti timun suri hingga langkahmu ngangkang!”(hal 351). Kucai memarahi Mahar yang membantah Bu Mus dan egois mempertahankan kehendaknya: mempercayai ritual perdukunan. Semua siswa merasa prihatin melihat raut muka Bu Mus yang memerah.

Pendidikan yang ditanamkan bertahun-tahun, ternyata, tak kosong. Semangat Bu Mus dan Pak Harfan mengantarkan mereka menjadi sang juara di ajang-ajang bergengsi. Sekolah Muhammadiyah menang dalam ajang karnaval, dan memenangkan lomba kecerdasan melalui tiga siswa yang dikira the best dan menjanjikan di sana yaitu Ikal, Sahara, dan Lintang. Siapa yang tidak meneteskan air mata? Air mata menetes bukan karena sedih, tapi kagum sekolah yang dari dulu diremeh-temehkan, dikucilkan, dan diejek-ejek, mampu menuai prestasi.

Anda bisa belajar, bahwa itu semua tak jauh dari usaha. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Demikian, petikan pantun yang kaya inspiratif.

Tentang usaha, Andrea menyelipkan dalam pesan Tuk-Bayan-Tula kepada Mahar dan Flo yang tertulis dalam kertas, “Kalau ingin lulus ujian, buka buku, belajar!”(hal 424). Pesan itu diperolah saat mereka berdua pergi menemui Tuk. Kendati Tuk seorang dukun sakti, ia masih mempercayai efek positif usaha dalam menjalani takdir.

Itulah pendidikan. Tapi, novel ini tidak hanya mengulas tentang pendidikan. Di sana Andrea memperkaya novel ini dengan kisah percintaan, kritik yang mambangun, dsb. Tentang kisah percintaan, yang diangkat adalah percintaan antara Ikal dan A Ling, seorang perempuan cantik yang sedang bantu-bantu orang tuanya melayani pembeli. Cinta itu merekah saat kali pertama Ikal melihat A Ling di tokonya untuk menjalani perintah Bu Mus, yaitu membeli kapur. Yang menggerakkan hati Ikal adalah jari-jari A Ling yang indah. Cinta kami adalah cinta yang bisu, cinta yang sederhana, dan cinta yang sangat malu, tapi indah, indah sekali tak terperikan. (hal 252).

Andrea juga menyelipkan kritik: [1] Kritik untuk orang anti-seni. Banyak seniman hebat yang jarang sekali mendapat perhatian dan penghargaan yang memadai. Gaya hidup dan pemikiran mereka yang cemerlang sering disalahartikan. Misal, Mahar; [2] kritik atas manusia yang rakus. Di tempat dilaksanakannya sembahyang rebut atau Chiong Si Ku—acara semarak di mana seluruh warga Tionghoa berkumpul—masyarakat kompaks membawa tak kurang dari 150 jenis barang seperti wajan, radio, transistor, televisi, berbagai jenis kue, biskuit, gula, dst. Yang hadir tak ubahnya bersikap seperti anak-anak: ambisius dan membabi buta merebut barang-barang berharga itu, kendatipun akhirnya barang tersebut jadi rusak kerena desakan dan hantaman, tarikan dan dorongan mereka satu sama lain. Kalau yang direbut radio, ada yang mendapatkan tombolnya. Dan yang lain memperoleh antenanya, dst.  Mereka merasa puas ansalkan yang lain tidak mendapatkan yang utuh. Sungguh serakah!; [3] kritik mempercayai dukun. “Artinya Ananda tidak punya sebuah rencana yang positif, tak pernah lagi mau membaca buku dan mengerjakan PR karena menghabiskan waktu untuk kegiatan perdukunan yang membelakangi waktu untuk kegiatan perdukunan yang membelakangi ayat-ayat Allah.” (hal 350); [4] kritik pecandu rokok. Seorang bapak yang menguji motivation letter Ikal untuk mendapatkan beasiswa terkenal sangat pintar bukan hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri sumbangannya tak kecil untu bangsa ini. (hal 462). Sayangnya, ia perokok berat; dan [5] kritik atas kapitalis. Kehancuran PN Timah adalah kehancuran agen kapitalis yang membawa berkah bagi kaum yang selama ini terpinggirkan, yakni penduduk pribumi Belitong. (hal 485)

Sejauh saya membaca karya Andrea, tak hanya Laskar Pelangi, tetapi juga novel-novelnya yang lain seperti Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov, dan Ayah, Andrea selalu menyertakan pemisalan dalam mendiskripsikan sesuatu. Sebagai misal dalam Laskar Pelangi, //Seluruh bagian ini disirami sinar matahari dan aliran sungai payau tampak sampai jauh berkelok-kelok seperti cucuran perak yang dicairkan. (hal 180)//setiap kali berdiri di bibir pantai aku selalu merasa terkejut, persis seperti pasukan Alexander Agung pertama kali menemukan india. (hal 179)//Mammillaria harus diperlakukan dengan sopan seperti porselen mahal dari Tioangkok . (hal 192)//Itulah kebun sekolah Muhammadiyah, indah dalam ketidakteraturan seperti lukisan Kandinsky. (hal 195)//.  

Membaca novel ini, sejujurnya saya terkadang dibikin terharu, tertawa, terenyuh, dan kaget, “Masa iya!”. Sebab, kisah dalam novel ini diangkat dari kisah nyata Andrea Hirata sendiri yang kaya dengan komplik. Sehingga, pengalaman Andrea menjelma menjadi kisah-kisah yang faktual, kendatipun ini adalah karya fiksi: sedikit banyak dipoles dengan imajinasi.
 
Annuqayah, 19 November 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...