Kaya literatur tak luput dari semangat seseorang membaca masa
depan. Dibacalah dari teks yang berbahasa Indonesia, berbahasa Arab, berbahasa
Inggris, dan teks-teks dalam bahasa yang lain. Varian literatur ini juga
ditentukan dari kemampuan pembaca. Jika kemampun pembaca terbatas pada bahasa
ibunya, maka ia akan kesulitan—untuk tidak mengatakan mengabaikan—memahami
literatur yang berbahasa asing. Andaikan ia ambisi mengerti maknanya,
pasti ia menjadikan terjemahan sebagai alternatif.
Sebelum menempa ilmu di PP. Annuqayah daerah Lubangsa, semangat
membaca dan mengkaji literatur klasik (kitab kuning) mengingatkan saya pada
Imam Syafi’ie, Imam Bukhari, dan Imam Al-Ghazali yang rela merantau ke daerah
orang lain. Kalau pun saya tidak sepedih itu perjuangannya, izinkan saya
menyatakan bahwa saya mencari guru yang alim kitab kuning untuk diminta
keikhlasannya mengajar. Kala menyelam, saya sadar, bahwa kitab kuning identik
dengan turats—tradisi-tradisi ulama
yang dipresentasikan secara tertulis. Karena itu tradisi, sedikit banyak ada
yang kontras dihadapkan dengan tradisi-tradisi di daerah lain. Maka, Nasar
Hamid Abu Zaid menginginkan setiap teks ada tajdid
(pembaharuan).
Nikmat bersanding dengan teks klasik, bukanlah suatu yang sungkan
karena dianggap “kolot” atau tidak update.
Bagi saya, kenyamanan dan ketenangan jiwa sangat menentukan terhadap
kepribadian saya. Biarkan orang lain komentar nyeleneh, saya tidak peduli. Lebih baik saya diam, dari pada
mengekor karena masing-masing orang punya prinsip. Apalagi, mendengar dan
mengingat dorongan orang tua yang terus-menerus mensugesti saya untuk fokus
belajar kitab. Saya akui dan sadari sejak beberapa hari beradaptasi di
lingkungan PP. Annuqayah, gagasan yang terlontar terkesan kolot. Tak ayal,
kata-kata sinis menghujani saya. Saya sedikit sakit hati karena tersendir.
Akhirnya, saya tidak kuat melawan arus. Kitab kuning yang biasa
dibaca berganti buku-buku berbahasa Indonesia. Aneka buku yang saya
jumpai-baca. Salah satunya, Tapak Sabda, Semesta
Sabda, Berpikir seperti Nabi, Menegakkankan Pluralisme, dll. Beberapa buku
itu mampu sedikit merubah mindset saya
dari sok panatik menjadi agak liberal. Seakan-akan saya terbawa opini-opini
penulis berkenaan dengan rahmat dalam
ikhtilaf (berbeda pendapat). Berbeda
pendapat bukan berarti tercela. Yang masih saya ingat ikhtilaf antara guru dan murid yaitu Plato dan Aristoteles, Imam
Malik dan Imam Syafi’ie, dan Wasil bin Atho’ dan Abu Hasan Al-Asy’ari. Mabuk
membaca buku, sebuah kitab kuning, Mawahib al-Shamad, yang hampir finis,
terpaksa molor dan tidak selesai-selesai hingga sekarang. Hanya buku-buku saja
yang banyak diselesaikan bacaannya, baik non-fiksi atau fiksi.
Karena buku-buku yang saya baca adalah buku filsafat, sering
saya jumpai pernyataan filsuf yang mengajak saya berpikir. Misal, cogito ergo sum (aku berpikir, maka aku
ada). Saya bertanya-tanya maksud statemen itu. Apakah ada pohon kelapa, bangku,
dll karena benda itu berpikir? Apakah manusia yang dikaruniai akal, tapi tidak
menggunakannya—berpikir—adanya seperti tidak adanya? Benar njelimet mengetahui maksud yang sebenarnya.
Saya tertarik koleksi buku-buku filsafat, bisa jadi, karena
statemen-statemennya banyak yang nyeleneh. Selain itu, karena filsafat banyak
mengkaji tentang ciptaan Allah secara radikal, seakan-akan saya dibikin sadar
bahwa saya masih kurang memahami dengan benar sebelum itu. Artinya, memahami
sesuatu tidak kritis, padahal warna biru langit, menurut keterbatasan
penglihatan, menghasilkan kesimpulan yang salah, karena warna langit tidak biru,
sebenarnya.
Menduakan kitab kuning, bukan berarti mengakhiri membaca. Yang
namanya menduakan tetap menjadikan dua literatur itu bersanding di samping
saya, hanya kecondongan yang membedakan. Kalau pun saya suka baca buku, nurani saya
tetap berpihak pada kitab kuning sebagai hobi saya. Makanya, saya pilih jurusan
Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) di kampus INSTIKA pada tahun 2012. IQT memang
jurusan yang banyak dijauhi mahasiswa karena materi kuliahnya yang berat.
Sebut, Hadits, Kajian Kitab Tafsir, Tafsir, dll yang semua itu mengharuskan membaca
literatur berbahasa Arab. Jamak mahasiswa tahun 2015 minim kemampuan bahasa
Arabnya.
Soal pengambilan jurusan, sering kata-kata sinis menghantam diri
saya. Misal, ingin jadi kiai atau dai bermodalkan jurusanmu itu; jurusanmu
tidak punya prosfek; katanya, kamu punya lembaga di rumahmu, anehnya kamu pilih
jurusan IQT, bukan PAI; dan lain-lain. Sedikit tersendir? Pasti. Patah
semangat? Tidak.
Bagi saya, jurusan IQT bukan sepenuhnya menjadi penentu hidup
saya di masa mendatang. Soalnya, menjadi pembisnis, manager, dan yang lainya,
tak harus belajar di bangku kuliah, melainkan dapat saya jumpai di
perpustakaan, diskusi, seminar, dan kesempatan yang lain. Belajar tak harus dibatasi
dengan tempat. Di mana saja anda bisa menimba ilmu. Tergantung anda sendiri,
ingin menjadi bisa atau tidak?
Selang 5 tahun saya jarang bersentuhan dengan teks-teks
berbahasa Arab, ketajaman ide atau gagasan di masa silam, sedikit banyak
menjadi tumpul. Sejenak saya berpikir bahwa saya harus kembali akrab dengan
teks Arab tersebut, tapi tidak menafikan buku-buku bacaan sebagai pengaya
referensi dan kosa kata. Sekarang ini saya berinisiatif menyelesaikan bacaan
kitab Manahil al-Irfan fi Ulum al-Qur’an karya Syaikh Muhammad Abdul
Adhim Ar-Razzaqani. Semoga saja tak kandas di tengah perjalanan!
Penafian atau penanaman rasa jengkel bersentuhan dengan sebagian
literatur sebaiknya dikubur dalam-dalam. Dikhawatirkan terjerembab dengan
kata-kata sendiri. Awalnya dicerca, akhirnya dicinta.[]