Wednesday, July 8, 2015

Literatur dan Perjalanan Hidup Saya



Kaya literatur tak luput dari semangat seseorang membaca masa depan. Dibacalah dari teks yang berbahasa Indonesia, berbahasa Arab, berbahasa Inggris, dan teks-teks dalam bahasa yang lain. Varian literatur ini juga ditentukan dari kemampuan pembaca. Jika kemampun pembaca terbatas pada bahasa ibunya, maka ia akan kesulitan—untuk tidak mengatakan mengabaikan—memahami literatur yang berbahasa asing. Andaikan ia ambisi mengerti maknanya, pasti ia menjadikan terjemahan sebagai alternatif.

Sebelum menempa ilmu di PP. Annuqayah daerah Lubangsa, semangat membaca dan mengkaji literatur klasik (kitab kuning) mengingatkan saya pada Imam Syafi’ie, Imam Bukhari, dan Imam Al-Ghazali yang rela merantau ke daerah orang lain. Kalau pun saya tidak sepedih itu perjuangannya, izinkan saya menyatakan bahwa saya mencari guru yang alim kitab kuning untuk diminta keikhlasannya mengajar. Kala menyelam, saya sadar, bahwa kitab kuning identik dengan turats—tradisi-tradisi ulama yang dipresentasikan secara tertulis. Karena itu tradisi, sedikit banyak ada yang kontras dihadapkan dengan tradisi-tradisi di daerah lain. Maka, Nasar Hamid Abu Zaid menginginkan setiap teks ada tajdid (pembaharuan).

Nikmat bersanding dengan teks klasik, bukanlah suatu yang sungkan karena dianggap “kolot” atau tidak update. Bagi saya, kenyamanan dan ketenangan jiwa sangat menentukan terhadap kepribadian saya. Biarkan orang lain komentar nyeleneh, saya tidak peduli. Lebih baik saya diam, dari pada mengekor karena masing-masing orang punya prinsip. Apalagi, mendengar dan mengingat dorongan orang tua yang terus-menerus mensugesti saya untuk fokus belajar kitab. Saya akui dan sadari sejak beberapa hari beradaptasi di lingkungan PP. Annuqayah, gagasan yang terlontar terkesan kolot. Tak ayal, kata-kata sinis menghujani saya. Saya sedikit sakit hati karena tersendir.

Akhirnya, saya tidak kuat melawan arus. Kitab kuning yang biasa dibaca berganti buku-buku berbahasa Indonesia. Aneka buku yang saya jumpai-baca. Salah satunya, Tapak Sabda, Semesta Sabda, Berpikir seperti Nabi, Menegakkankan Pluralisme, dll. Beberapa buku itu mampu sedikit merubah mindset saya dari sok panatik menjadi agak liberal. Seakan-akan saya terbawa opini-opini penulis berkenaan dengan rahmat dalam ikhtilaf (berbeda pendapat). Berbeda pendapat bukan berarti tercela. Yang masih saya ingat ikhtilaf antara guru dan murid yaitu Plato dan Aristoteles, Imam Malik dan Imam Syafi’ie, dan Wasil bin Atho’ dan Abu Hasan Al-Asy’ari. Mabuk membaca buku, sebuah kitab kuning, Mawahib al-Shamad, yang hampir finis, terpaksa molor dan tidak selesai-selesai hingga sekarang. Hanya buku-buku saja yang banyak diselesaikan bacaannya, baik non-fiksi atau fiksi.

Karena buku-buku yang saya baca adalah buku filsafat, sering saya jumpai pernyataan filsuf yang mengajak saya berpikir. Misal, cogito ergo sum (aku berpikir, maka aku ada). Saya bertanya-tanya maksud statemen itu. Apakah ada pohon kelapa, bangku, dll karena benda itu berpikir? Apakah manusia yang dikaruniai akal, tapi tidak menggunakannya—berpikir—adanya seperti tidak adanya? Benar njelimet mengetahui maksud yang sebenarnya.

Saya tertarik koleksi buku-buku filsafat, bisa jadi, karena statemen-statemennya banyak yang nyeleneh. Selain itu, karena filsafat banyak mengkaji tentang ciptaan Allah secara radikal, seakan-akan saya dibikin sadar bahwa saya masih kurang memahami dengan benar sebelum itu. Artinya, memahami sesuatu tidak kritis, padahal warna biru langit, menurut keterbatasan penglihatan, menghasilkan kesimpulan yang salah, karena warna langit tidak biru, sebenarnya.

Menduakan kitab kuning, bukan berarti mengakhiri membaca. Yang namanya menduakan tetap menjadikan dua literatur itu bersanding di samping saya, hanya kecondongan yang membedakan. Kalau pun saya suka baca buku, nurani saya tetap berpihak pada kitab kuning sebagai hobi saya. Makanya, saya pilih jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) di kampus INSTIKA pada tahun 2012. IQT memang jurusan yang banyak dijauhi mahasiswa karena materi kuliahnya yang berat. Sebut, Hadits, Kajian Kitab Tafsir, Tafsir, dll yang semua itu mengharuskan membaca literatur berbahasa Arab. Jamak mahasiswa tahun 2015 minim kemampuan bahasa Arabnya.

Soal pengambilan jurusan, sering kata-kata sinis menghantam diri saya. Misal, ingin jadi kiai atau dai bermodalkan jurusanmu itu; jurusanmu tidak punya prosfek; katanya, kamu punya lembaga di rumahmu, anehnya kamu pilih jurusan IQT, bukan PAI; dan lain-lain. Sedikit tersendir? Pasti. Patah semangat? Tidak.

Bagi saya, jurusan IQT bukan sepenuhnya menjadi penentu hidup saya di masa mendatang. Soalnya, menjadi pembisnis, manager, dan yang lainya, tak harus belajar di bangku kuliah, melainkan dapat saya jumpai di perpustakaan, diskusi, seminar, dan kesempatan yang lain. Belajar tak harus dibatasi dengan tempat. Di mana saja anda bisa menimba ilmu. Tergantung anda sendiri, ingin menjadi bisa atau tidak?

Selang 5 tahun saya jarang bersentuhan dengan teks-teks berbahasa Arab, ketajaman ide atau gagasan di masa silam, sedikit banyak menjadi tumpul. Sejenak saya berpikir bahwa saya harus kembali akrab dengan teks Arab tersebut, tapi tidak menafikan buku-buku bacaan sebagai pengaya referensi dan kosa kata. Sekarang ini saya berinisiatif menyelesaikan bacaan kitab Manahil al-Irfan fi Ulum al-Qur’an karya Syaikh Muhammad Abdul Adhim Ar-Razzaqani. Semoga saja tak kandas di tengah perjalanan!

Penafian atau penanaman rasa jengkel bersentuhan dengan sebagian literatur sebaiknya dikubur dalam-dalam. Dikhawatirkan terjerembab dengan kata-kata sendiri. Awalnya dicerca, akhirnya dicinta.[]

Melihat Keberagaman



Setiap kita munajat (berzikir, berdoa, atau tahlil) sering berjumpa dengan versi bacaan yang berbeda. Misalkan, lafal “subhanallah wa bi hamdih” yang dipakai dalam tahlil untuk orang yang meninggal tanpa lafal “subhana Allahi al-adim, sedangkan, versi lain memakai kedua lafal tasbih tersebut.

Tentang versi munajat, saya teringat dengan penjelasan KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, M.Hum, putra Drs. KH. A. Warits Ilyas (alm.), pada kegiatan rutin ajian kitab karya Az-Zarnuji, Ta’lim Muta’allim, bahwa beragam versi bacaan tak lepas dari rujukan yang diyakini mashur dan sahih. Perbedaan itu sering ditemukan saat saya bandingkan versi bacaan yang dipakai antara pesantren ini dengan pesantren itu. Saya bukan ingin menghakimi yang ini benar dan yang itu salah. Sekali lagi, tidak. Tapi, saya ingin menggarisbawahi versi-versi tersebut.

Kesahihan dan kemutawatiran sanad sangat menentukan kesahihan bacaan seseorang bermunajat. Hemat saya, versi yang sahih tentu disitir dari seorang guru yang bersambung hingga Nabi Muhammad saw. Keterikatan sanad ini yang menjadi tolak ukur kualitas bacaan; berbeda versi bacaan yang sering kita temukan di beberapa buku-buku yang dijajankan di pasar karena banyak penjual yang tidak bertanggung jawab atas kualitas barang, lebih-lebih isi atau substansinya. Yang terpenting laku. Pemberian ijazah (tanda izin) sama sekali jarang ditemukan di sana.

Sekarang keyakinan-keyakinan semacam itu tak ngefek lagi. Mayoritas pelajar cenderung mendahulukan akal dari pada hati. Padahal, disadari atau tidak bahwa kekuatan akal sangat terbatas. Akal yang erat kaitannya dengan kecerdasan intelektual dinilai nisbi. Sedangkan, hati yang menjadi media kecerdasan spiritual diakui menempati kedudukan tertinggi di antara kecerdasan yang lain. Tak heran, jika Al-Ghazali dalam pengembaraannya mencari kebenaran sejati bermulai dari ilmu adab, ilmu kalam, ilmu filsafat, sama sekali belum menggapai impiannya. Nah, ia raih kepuasan itu saat ketemu seorang guru yang ikhlas mengajarkan ilmunya yaitu ilmu tasawuf.

Kemarin (18/1) selesai shalat Maghrib saya tadarus bersama teman-teman pondok. Selesai tadarus sambil duduk menunggu azan shalat Isya’, salah satu teman saya tanya tentang Surat Yasin yang terpopuler dan digemari banyak pencinta ibadah dibandingkan surat-surat Al-Qur’an yang lain. Dia cerita, “Kata seorang tetangga saya yang dikenal alim, Surat Yasin, isinya, untuk mohon mati kepada Tuhan.” Pernyataan ini saya pikir biasa. Yang bikin saya kaget lanjutan ceritanya, “Kata si bapak itu, kita hendaknya berhenti membaca Surat Yasin.”

Mengingat penggemar Surat Yasin yang tak terhitung jumlahnya, adalah hal yang tabu mendengar larangan tegas tadi. Sebab, membaca keutamaan Surat Yasin merujuk terhadap beragam referensi kitab klasik seperti Tafsir Surat Yasin, Surat Yasin jika dibacakan terhadap orang yang meninggal, dosanya sewaktu masih hidup dapat terhapus; Surat Yasin jika dibaca untuk memohon terkabulnya cita-cita hidup, maka dipastikan akan tercapai; dan lain-lain. Kita pasti membayangkan betapa dahsyatnya pengaruh Surat Yasin itu.

Tetap dalam cerita teman tadarus saya, dijawab bahwa versi pemikiran dan keyakinan yang melekat dalam diri setiap orang tak luput dari rujukan atau guru yang membimbingnya. Karena, guru (mursyid) yang mengkonsep dan menjalankannya. Tak semua guru mengajarkan ilmu yang sahih, ada juga guru yang mengajarkan kesesatan. Terkadang murid tidak sadar. Saat detik-detik ini ingatlah bahwa memilih guru adalah suatu keharusan sebelum belajar. Ada tiga tipe guru—menurut Al-Zarnuji dalam kitab Ta’lim Muta’allim—yang layak diberi apresiasi yaitu lebih senior, alim, dan wara’.

Sebagai santri Pondok Pesantren Annuqayah, saya tak perlu repot-repot dan pusing; mengikuti jejak kiai-kiai pondok pesantren ini—sebut, Kiai Moh. Syarqawi dari Kudus, Kiai Ilyas, Kiai Warits, dan cucu-cucu beliau—terjamin keselamatannya. Beliau dikenal alim dan wara’. Setiap ilmu yang diperoleh dan diterapkan beliau, sudah dikaji dan dipertimbangkan sebelumnya.

Kembali pada sejarah, perbedaan sering dijumpai tempo dulu, bahkan perbedaan antara guru dan murid. Misal, perbedaan pendapat antara Imam Malik dan Imam Syafi’i, Plato dan Aristoteles, dll. Kini perbedaan itu semakin meledak dari yang moderat hingga yang ekstrim. Kalau yang moderat, tak jadi soal. Yang bikin masalah adalah perbedaan yang estrim seperti Wahabi, Front Pembela Islam (FPI) hingga Islamic State of Irak and Syiria (ISIS). Ketiga kelompok ini benar-benar kalap dan keras dalam berjihad. Perang adalah aktivitas favorit mereka. Sehingga, tahun 2015 manusia semakin getir dan goncang psikologinya saat melihat saudara-saudara kita di negara lain ditindas karena menghindar dari kelompok keras ini. Naudzubillah!

Islam memang terbuka; melihat perbedaan bukan sebagai petaka, melainkan sebagai rahmat. Tak ayal, Allah swt berfirman: “Wama arsalnaka illa rahmatan lil alamin” (Kami tidak mengutus kamu (Nabi Muhammad saw) melainkan sebagai penebar kasih sayang bagi semesta alam). Silahkan berbeda, tapi yang tetap kita pegang adalah perbedaan itu bukan makin menambah rumit, melainkan menjadi jalan keluar dari masalah yang pelik. Sehingga, visi Islam (yaitu rahmatan alamin) tercapai. []

Bertanya pada Nurani



Dua hal yang berlawanan dalam kehidupan musti ada. Ada benci, ada cinta; ada baik, ada buruk; ada cantik, ada jelek; dan pemisalan yang serupa.

Kadang anda dipuji bahwa anda cantik atau diejek bermuka jelek. Kadang kala anda merasa benci sama seseorang, padahal orang itu tidak punya kasus atau masalah dengan diri anda atau tiba-tiba anda kagum, hingga tumbuh perasaan cinta. Nah, semua itu tak lepas dari gejolak atau perdebatan pikiran dan psikologi seseorang sebagai manusia yang terpaut dengan nafsu.

Tahun 2010 hingga 2014 awal, jiwa saya dibikin terombang-ambing dalam menentukan masa depan. Padahal sejak kecil, saya masih belum merasakan hidup se-njelimet itu karena saya menjalaninya santai (tidak banyak mikir). Soal asmara tak penting untuk dipersoalkan. Biarkan itu datang dengan sendiri, pada saatnya saya jemput. Nurani saya meyakini.

Kegalauan pikiran mampu terobati dengan melepas hidup yang serba terikat. Dari yang anti-perempuan seperti ngobrol, apel, dan yang lainya, berubah menjadi mabuk cewek. Ponsel yang tampaknya asing berubah menjadi teman yang setiap hari menyertai, entah di mana dan kapan pun. Saya terdorong koleksi nomor-nomor perempuan, hingga ngobrol berjam-jam atau kirim SMS.

Mengenal mereka tak lain untuk bikin rasa galau sedikit demi sedikit terkurangi. Dua perempuan yang saya kenal, hingga bikin hati terpikat dan terjalin dalam hubungan asmara. Perempuan yang pertama berkharakter agamis tulen. Tampaknya anti menyelam dalam ikatan asrama (hubungan cinta). Saya tahu saat membaca raut wajahnya dan cara dia bersikap. Selain itu, background pendidikanya yang dimulai dari pedesaan serta jauh dari pergaulan bebas, bahkan selektif dalam berteman. Dia berkometmen tidak ingin punya hubungan asmara dengan lelaki karena troma yang membebani jiwanya. Akhirnya, cinta saya diterima setelah berbagai upaya saya perbuat. Tak lama, kira-kira hampir setahun, kita sudah putus.

Terus, sakit hati menjamah jiwa saya. Pikiran bingung menemukan penggantinya. Saya masih belum puas menempuh perjalanan ini. Sehingga, saya terus melangkah. Entahlah, bagaimana hasilnya.

Di tengah jalan saya kenal dengan seorang perempuan lain yang dekat dengan famili saya di pondok, bahkan mereka satu kamar. Mendengar cerita dan sepak terjang pendidikannya serta support Mbak, saya semakin optimis melangkah. Jalan sedang terbentang di hadapan mata, tinggal melangkah.

Mengingat cerita-cerita sepupu saya, si perempuan itu termasuk orang yang membenci habis-habisan diri saya. Padahal, sejauh yang saya ingat, saya tak punya salah. Aneh, bukan?

Kebenciannya dan support Mbak yang bikin saya terdorong melangkah. Pada waktu liburan pondok saya coba komunikasi lewat telepon. Awalnya cuek banget, tapi, akhirnya, semakin dekat. Kemudian, tukaran buku harian. Sungguh langkah yang strategis untuk saling mengetahui isi hati kita.

Pada tahun 2013 buku harian itu sama dikembalikan. Milik saya yang telah penuh dengan catatan hariannya dan miliknya yang saya pegang saling diserahkan di Pakong. Pertemuan berlangsung berjam-jam. Tak terasa hati dibikin terpikat dan terjatuh. Awal semua itu dari pertemuan ini. Hari berikutnya, Ahad, detik-detik dia berada di pulau Madura, nafas cinta yang baru saja bersemi terpaksa bertaut dalam jarak yang berjauhan di antara beda pulau sampai sekarang.

Hantaman badai selalu kita temukan. Terkadang kita hampir terombang-ambing. Syukur, kita masih bisa bertahan. Sebab, badai merupakan ujian dalam berproses hingga finis.

Entah kenapa kobaran semangat menyelam lebih dalam di samudera yang kaya dengan permata-permata asmara, sedikit-sedikit tertelan masa yang semakin lama menjadi ambruk. Saya sendiri bertanya-tanya. Apakah saya kecewa karenanya; kesan ibunya yang sinis; jarak yang berjauhan; atau yang lainnya?

Saya butuh refleksi lebih jauh. Biarkan, nurani yang menjawabnya. Sebab, hanya nuranilah, hati terdalam yang tak mungkin bersikap dusta.

“Karena kurang tulus,” nurani menjawab.[]

Lubangsa, 23 Agustus 2014

Cara Menyongsong Perkembangan Pesantren dan Masa Depan Santri



Jika ditanya, “Kenapa anda mati-matian mengerahkan segala tenaga dan pikiran di pondok pesantren tanpa pandang waktu dan tempat?” selalu dijawab “Karena untuk mendapatkan barakah.” Jawaban itu disampaikan dengan tegas, kalaupun mereka belum tahu definisi barakah.

Meraih barakah tak semudah hunting makanan-makanan ringan di kantin yang cukup ditukar dengan uang kertas, melainkan barakah itu digapai dengan keikhlasan dan kesabaran. Berbuat tanpa pamrih, tidak ingin dilihat orang lain (riya’), bukan karena tendensi pribadi, dll. 

Santri (thalib al-ilm) sering berpikir sempit dalam menggapai barakah. Menurutnya, barakah dapat digapai hanya bagi santri yang banting tulang sana-sini  tanpa pandang waktu seperti mengangkut batu, menyapu halaman atau membersihkan lingkungan pesantren, ikut menyelesaikan pembangunan dan kerja keras lainnya.

Apakah pesantren berdiri dan menjadi besar (bertahan hingga kini) karena mayoritas santrinya yang giat kerja banting tulang? Sedangkan, santri yang berbadan kerempeng dan kurus, tapi memiliki otak besar (cerdas atau alim) dikira kurang penting dalam perkembangan pesantren?

Sebuah buku menarik, Wejangan Kiai As’ad dan Kiai Fawaid, mengupas tentang tip-tip menggapai barakah. Barakah, kata Kiai As’ad, dapat diraih melalui tiga cara: Pertama, memperbanyak membaca Al-Qur’an. Kedua, ingat terhadap kedua orang tua. Ketiga, ingat terhadap guru. Tiga langkah itu sering kita abaikan, padahal itu ungkapan seorang ulama besar yang pernah belajar pada Kiai Khalil-Bangkalan dan nyantri di PP. Annuqayah.

Coba investigasi ulama-ulama kesohor yang lahir dari pesantren! Misalkan, Kiai Ilyas As-Syarqawi-Guluk-Guluk, Kiai Khalil-Bangkalan, Kiai As’ad-Sukorejo, Kiai Hasyim Asy’ari-Jombang, Gus Dur (Abdurrahman Wahid)-Jombang, dan kiai-kiai lainnya. Ulama hebat ini musti punya tip-tip yang terus mereka tekuni hingga membuahkan hasil yang melimpah.

Langkah kiai besar itu beragam: Kiai As’ad sejak nyantri ke Khalil Bangkalan hanya senang ngaji Al-Qur’an dan sabar menjaga amanah gurunya (menyampaikan tongkat) ke Kiai Hasyim As’ari sebagai simbol setujunya Kiai Khalil atas berdirinya NU; Kiai Khalil sejak mondok pernah menjadi pemanjat pohon kelapa karena diperintah gurunya; Gus Dur yang dikenal kutu buku sejak usia dini dapat menyalurkan pengetahuannya di pondoknya; dan langkah-langkah yang lain.

Tip-tip cerdas tanpa membatasi pengabdian (ngabdih, Madura) benar-benar mengesankan saat para kiai tersebut pulang ke kediamannya, menjadi orang yang dipercaya orang lain (sukses). Kendatipun “ikhlas” dan “tulus” hanya Allah swt yang Maha Tahu, setidaknya kita sebagai makhluk dapat menyimpulkan perjuangan dan pengabdian para kiai tersebut dibangun tanpa mengesampingkan keikhlasan dan ketulusan.

Penting diingat dan dipatuhi bahwa perjalanan pesantren tak lepas dari ikatan peraturan. Perasaan jenuh dan pikiran mumet banyak disebabkan peraturan yang membatasi gerak bebas santri. Santri yang tidak sabar lebih memilih melanggar dari pada patuh, “sami’na wa atha’na” terhadap peraturan. Andaikan sadar, peraturan dibuat demi kesejahteraan dan kekondusifan perjalanan pesantren, bukan untuk mengkerdilkan santri dalam berproses, niscaya sedikit terjadi pelanggaran.

Pertanyaannya, jika peraturan mengarah terhadap hal yang positif, bagaimana dengan aktivitas, secara kasat mata, dapat terlaksana dengan menomorduakan peraturan? Masihkah aktivitas itu dikategorikan perbuatan yang baik karena dibumbuhi alasan logis (mengabdi untuk pesantren), kalaupun memarjinalkan peraturan sebagai tali kendali perjalanan pesantren dari masa ke masa?

Tanpa memihak terhadap salah satun pihak, mencari langkah alternatif dirasa lebih penting dari pada mengedepankan ego pribadi. Misalkan, minta izin terhadap pihak yang berwenang (sebut, kiai atau pengurus pesantren). Jika santri telah diizinkan keluar dari batas peraturan, maka berbuat di luar garis peraturan, tidak akan dinilai negatif. Mereka dapat bergerak bebas.  

Nah, gerahkan seluruh tenaga dan pikiran demi perkembangan pesantren ke depan, tanpa menghilangkan kharisma peraturan yang telah mendapat kesepakatan umum. Pesantren tidak memandang tipe pengabdian santri, tapi melihat substansi pengabdian itu; “Ikhlaskah”? atau “Durhakakah”?

Tulisan ini dipublikasikan di Mading Lazer IKSAPUTRA tahun 2015. Dan, sebagian teks dalam tulisan ini ada yang diedit dari tulisan semula.

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...