Wednesday, July 8, 2015

Cara Menyongsong Perkembangan Pesantren dan Masa Depan Santri



Jika ditanya, “Kenapa anda mati-matian mengerahkan segala tenaga dan pikiran di pondok pesantren tanpa pandang waktu dan tempat?” selalu dijawab “Karena untuk mendapatkan barakah.” Jawaban itu disampaikan dengan tegas, kalaupun mereka belum tahu definisi barakah.

Meraih barakah tak semudah hunting makanan-makanan ringan di kantin yang cukup ditukar dengan uang kertas, melainkan barakah itu digapai dengan keikhlasan dan kesabaran. Berbuat tanpa pamrih, tidak ingin dilihat orang lain (riya’), bukan karena tendensi pribadi, dll. 

Santri (thalib al-ilm) sering berpikir sempit dalam menggapai barakah. Menurutnya, barakah dapat digapai hanya bagi santri yang banting tulang sana-sini  tanpa pandang waktu seperti mengangkut batu, menyapu halaman atau membersihkan lingkungan pesantren, ikut menyelesaikan pembangunan dan kerja keras lainnya.

Apakah pesantren berdiri dan menjadi besar (bertahan hingga kini) karena mayoritas santrinya yang giat kerja banting tulang? Sedangkan, santri yang berbadan kerempeng dan kurus, tapi memiliki otak besar (cerdas atau alim) dikira kurang penting dalam perkembangan pesantren?

Sebuah buku menarik, Wejangan Kiai As’ad dan Kiai Fawaid, mengupas tentang tip-tip menggapai barakah. Barakah, kata Kiai As’ad, dapat diraih melalui tiga cara: Pertama, memperbanyak membaca Al-Qur’an. Kedua, ingat terhadap kedua orang tua. Ketiga, ingat terhadap guru. Tiga langkah itu sering kita abaikan, padahal itu ungkapan seorang ulama besar yang pernah belajar pada Kiai Khalil-Bangkalan dan nyantri di PP. Annuqayah.

Coba investigasi ulama-ulama kesohor yang lahir dari pesantren! Misalkan, Kiai Ilyas As-Syarqawi-Guluk-Guluk, Kiai Khalil-Bangkalan, Kiai As’ad-Sukorejo, Kiai Hasyim Asy’ari-Jombang, Gus Dur (Abdurrahman Wahid)-Jombang, dan kiai-kiai lainnya. Ulama hebat ini musti punya tip-tip yang terus mereka tekuni hingga membuahkan hasil yang melimpah.

Langkah kiai besar itu beragam: Kiai As’ad sejak nyantri ke Khalil Bangkalan hanya senang ngaji Al-Qur’an dan sabar menjaga amanah gurunya (menyampaikan tongkat) ke Kiai Hasyim As’ari sebagai simbol setujunya Kiai Khalil atas berdirinya NU; Kiai Khalil sejak mondok pernah menjadi pemanjat pohon kelapa karena diperintah gurunya; Gus Dur yang dikenal kutu buku sejak usia dini dapat menyalurkan pengetahuannya di pondoknya; dan langkah-langkah yang lain.

Tip-tip cerdas tanpa membatasi pengabdian (ngabdih, Madura) benar-benar mengesankan saat para kiai tersebut pulang ke kediamannya, menjadi orang yang dipercaya orang lain (sukses). Kendatipun “ikhlas” dan “tulus” hanya Allah swt yang Maha Tahu, setidaknya kita sebagai makhluk dapat menyimpulkan perjuangan dan pengabdian para kiai tersebut dibangun tanpa mengesampingkan keikhlasan dan ketulusan.

Penting diingat dan dipatuhi bahwa perjalanan pesantren tak lepas dari ikatan peraturan. Perasaan jenuh dan pikiran mumet banyak disebabkan peraturan yang membatasi gerak bebas santri. Santri yang tidak sabar lebih memilih melanggar dari pada patuh, “sami’na wa atha’na” terhadap peraturan. Andaikan sadar, peraturan dibuat demi kesejahteraan dan kekondusifan perjalanan pesantren, bukan untuk mengkerdilkan santri dalam berproses, niscaya sedikit terjadi pelanggaran.

Pertanyaannya, jika peraturan mengarah terhadap hal yang positif, bagaimana dengan aktivitas, secara kasat mata, dapat terlaksana dengan menomorduakan peraturan? Masihkah aktivitas itu dikategorikan perbuatan yang baik karena dibumbuhi alasan logis (mengabdi untuk pesantren), kalaupun memarjinalkan peraturan sebagai tali kendali perjalanan pesantren dari masa ke masa?

Tanpa memihak terhadap salah satun pihak, mencari langkah alternatif dirasa lebih penting dari pada mengedepankan ego pribadi. Misalkan, minta izin terhadap pihak yang berwenang (sebut, kiai atau pengurus pesantren). Jika santri telah diizinkan keluar dari batas peraturan, maka berbuat di luar garis peraturan, tidak akan dinilai negatif. Mereka dapat bergerak bebas.  

Nah, gerahkan seluruh tenaga dan pikiran demi perkembangan pesantren ke depan, tanpa menghilangkan kharisma peraturan yang telah mendapat kesepakatan umum. Pesantren tidak memandang tipe pengabdian santri, tapi melihat substansi pengabdian itu; “Ikhlaskah”? atau “Durhakakah”?

Tulisan ini dipublikasikan di Mading Lazer IKSAPUTRA tahun 2015. Dan, sebagian teks dalam tulisan ini ada yang diedit dari tulisan semula.

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...