Sunday, January 3, 2016

Mencoba Mawas Diri Mulai yang Terkecil



Judul Buku
Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai
Penulis
Emha Ainun Nadjib
Penerbit
PT Bentang Pustaka
Cetakan
2, Maret 2015
Tebal
x + 414 halaman
ISBN
978-602-291-007-0

Gerak-gerik hidup manusia tidak lepas dari ikatan aktivitas. Aktivitas apapun juga dapat diperbuat selain manusia—salah satunya binatang. Hanyasanya yang membedakan aktivitas manusia dan selainnya adalah kualitas aktivitas yang ditentukan akal. Melalui aktivitas yang bernilai sedikit banyak telah mengangkat derajat manusia dari yang hina menjadi yang mulia.

Hampir dikata banyak manusia beraktivitas kaya “polesan-polesan” sehingga tampak baik, megah, dan “wah” di mata manusia. Sayangnya, itu hanya topeng belaka. Di balik layar terkadang manusia hanya bermain-main. Padahal, tanpa terasa mereka telah munafik.

Kesalahan yang bertubi-tubi—tanpa ada kehendak berkembang menjadi lebih baik—terkait semua gerak-gerik manusia direkam Emha Ainun Nadjib dalam tulisan-tulisannya yang kemudian dikumpulkan menjadi sebuah buku berjudul Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai. Kendatipun artikel-artikel ini ditulis sekitar tahun 1990-an, pesan-pesan yang disampaikan Emha masih tersambung dengan dinamika hidup manusia sekarang ini.

Emha dikenal sebagai seorang budayawan dan cendekiawan yang piawai dalam dunia kepenulisan. Kontribusinya dalam dunia kepenulisan telah mewarnai banyak media, baik puisi, cerpen, kolom, hingga esai. Latar belakang pendidikan dan hidup Emha sangat mempengaruhi tulisan-tulisannya. Ia pernah belajar di Pondok Modern Gontor Ponorogo dan meneruskan studinya di Eropa.

Dalam buku ini Emha menguliti dalam-dalam perkara kemusliman yang kian buram. Misalkan, kurangnya penghayatan pada elemen-elemen rukun iman yang lima. Tak sedikitit manusia berikrar dengan dua syahadat; shalat; puasa; zakat; lalu naik haji ke Baitulllah hanya sebagai topeng semata.

Banyak manusia yang giat shalat tetapi mereka tetap berkelakuan keji dan munkar. Padahal dalam Al-Qur’an telah dinyatakan bahwa shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Hal ini menjadi pertanyaan pelik. Tentunya, bukan shalatnya tidak berfungsi, tetapi cara mereka shalat yang masih dipertanyakan.

Dalam kasus haji Emha menggambarkan dengan dua macam: ada seseorang yang sudah bertahun-tahun menambung pergi haji, tetapi ia terpanggil untuk menolong keterdesakan darurat ekonomi tetangganya sehingga ia batalkan naik haji dan memberikan uang keputusan dengan kualitas naik haji. Sebaliknya, ada yang berkali-kali pergi ke Baitullah tetapi kualitas kepribadiannya, mentalitas pribadi, dan moralitas sosialnya tak kunjung haji, hingga mati. (hal 107).

Sejatinya dalam pengaplikasian dan dampak lima rukun iman, dinyatakan Emha: Shahadat memfokuskan diafragma idealisme hidup. Shalat mencahayai kejernihan, objektivitas akal, keseimbangan mental, kutulusan hati, dan ketentraman jiwa. Zakat melatih kesadaran bahwa susu kambing harus diperah untuk anak-anaknya atau makhluk lain, karena dalam harta yang kita miliki terdapat milik orang lain. Puasa membuat manusia menjadi pendekar kehidupan. Dan haji adalah madu dari semuannya. (hal 87-88).

Di sisi lain Emha juga mengupas tentang pentingnya ukhwah islamiyah. Banyak disalahartikan “ukhwah islamiyah” adalah persaudaran sesama Islam, tetapi yang semestinya “ukhwah islamiyah” adalah persaudaran dengan prinsip-prinsip keislaman, pola keislaman, dan napas keislaman. (hal 111). Jadi, yang dimaksud ukhwah islamiyah sebenarnya merupakan persaudaran yang menyeluruh, tidak hanya terfokus pada yang beragama Islam.

Dalam sebagaian tulisannya, Emha menceritakan pengalamannya sejak mondok di Pondok Modern Gontor dalam sebuah tulisan yang berjudul The Snowball of Gontor. Sejak belajar di Eropa pada tahun 1984-1985, Emha pernah mengalami kesepian kultural, kesepian psikologi, kesepian politis dan kesepian ekonomi. Sungguh tak terasa Emha dapat bertahan ditangan kesepian yang menghantam sebab ia telah terlatih sejak menimba ilmu di pondok: di sana ia diajari mandiri, belajar yang fokus, dan bersosial yang baik dengan sesama teman-teman sepondok. “Seandainya saya tak mengalami sepi dan dingin seperti di Gontor, demi Allah saya tak sanggup keluar dari mati kecil di negeri orang yang jauh begini....” Kesan Emha. (hal 163).

Dan, Emha menganalisis kepribadian seorang Kiai Sudrun. Ia termasuk kiai yang nyentrik dan nyeleneh di mata banyak orang. Kemewahan dunia bukanlah visi hidupnya. Sama sekali ia tak diperbudak dengan buaian dunia. Kehidupannya yang sederhana, tetapi sangat ramah dan humanis sama orang lain. Ia selalu menghadiri undangan siapapun. Diisukan Sudrun berada di beberapa tempat dalam waktu yang sama. Secara logika hal yang demikian tidak masuk akal, tetapi secara tasawuf peristiwa itu mungkin saja. Itu biasanya yang disebut orang yang wali.

Sikap nyentrik Sudrun banyak menyindir kelakuan orang-orang yang hanya menyentuh lahir, tanpa disertai penghayatan hingga menyentuh batin. “Saya tidak kenal mereka. Saya juga tidak pernah mengeluarkan suara untuk telinga yang tuli, tidak pernah menyampaikan minuman kepada tenggorokan yang tidak haus!” Kritik Sudrun halus tentang ulama-ulama, para cendekiawan muslim, dan majelis ulama saat bercakap dengan Santri Delan yang berkehendak berguru padanya. (hal 217).

Artikel-artikel Emha dirasa penting untuk dibaca siapapun yang telah mengaku-ngaku muslim, sayang mereka belum “berserah diri” dan menghayati substansi kemuslimannya. Dan, mereka yang dihantam derasnya arus modernisasi yang kejam sampai menggerus kesadaran moral dan berdampak kekeringan spiritual.

So, jika mencoba merenung sebentar sebenarnya kita berada di posisi yang mana: yang dicerca Emha melalui tulisan-tulisannya atau yang telah mencapai level Kiai Sudrun?[]  

Annuqayah, 22 Desember 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...