Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai
Penulis
Emha Ainun Nadjib
Penerbit
PT Bentang Pustaka
Cetakan
2, Maret 2015
Tebal
x + 414 halaman
ISBN
978-602-291-007-0
Gerak-gerik hidup manusia tidak lepas dari ikatan
aktivitas. Aktivitas apapun juga dapat diperbuat selain manusia—salah satunya
binatang. Hanyasanya yang membedakan aktivitas manusia dan selainnya adalah kualitas aktivitas yang
ditentukan akal. Melalui aktivitas yang
bernilai sedikit banyak telah mengangkat derajat manusia dari yang hina menjadi
yang mulia.
Hampir dikata banyak manusia beraktivitas kaya
“polesan-polesan” sehingga tampak baik, megah, dan “wah” di mata manusia.
Sayangnya, itu hanya topeng belaka. Di balik layar terkadang manusia hanya
bermain-main. Padahal, tanpa terasa mereka telah munafik.
Kesalahan yang bertubi-tubi—tanpa ada kehendak berkembang
menjadi lebih baik—terkait semua gerak-gerik manusia direkam Emha Ainun Nadjib dalam
tulisan-tulisannya yang kemudian dikumpulkan menjadi sebuah buku berjudul Anggukan
Ritmis Kaki Pak Kiai. Kendatipun artikel-artikel ini ditulis sekitar tahun
1990-an, pesan-pesan yang disampaikan Emha masih tersambung dengan dinamika
hidup manusia sekarang ini.
Emha dikenal sebagai seorang budayawan dan cendekiawan
yang piawai dalam dunia kepenulisan. Kontribusinya dalam dunia kepenulisan
telah mewarnai banyak media, baik puisi, cerpen, kolom, hingga esai. Latar
belakang pendidikan dan hidup Emha sangat mempengaruhi tulisan-tulisannya. Ia
pernah belajar di Pondok Modern Gontor Ponorogo dan meneruskan studinya di
Eropa.
Dalam buku ini Emha menguliti dalam-dalam perkara
kemusliman yang kian buram. Misalkan, kurangnya penghayatan pada elemen-elemen
rukun iman yang lima. Tak sedikitit manusia berikrar dengan dua syahadat;
shalat; puasa; zakat; lalu naik haji ke Baitulllah hanya sebagai topeng semata.
Banyak manusia yang giat shalat tetapi mereka tetap
berkelakuan keji dan munkar. Padahal dalam Al-Qur’an telah dinyatakan bahwa
shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Hal ini menjadi pertanyaan
pelik. Tentunya, bukan shalatnya tidak berfungsi, tetapi cara mereka shalat
yang masih dipertanyakan.
Dalam kasus haji Emha menggambarkan dengan dua macam: ada
seseorang yang sudah bertahun-tahun menambung pergi haji, tetapi ia terpanggil
untuk menolong keterdesakan darurat ekonomi tetangganya sehingga ia batalkan
naik haji dan memberikan uang keputusan dengan kualitas naik haji. Sebaliknya,
ada yang berkali-kali pergi ke Baitullah tetapi kualitas kepribadiannya,
mentalitas pribadi, dan moralitas sosialnya tak kunjung haji, hingga mati. (hal
107).
Sejatinya dalam pengaplikasian dan dampak lima rukun iman, dinyatakan Emha: Shahadat memfokuskan diafragma
idealisme hidup. Shalat mencahayai kejernihan, objektivitas akal, keseimbangan
mental, kutulusan hati, dan ketentraman jiwa. Zakat melatih kesadaran bahwa
susu kambing harus diperah untuk anak-anaknya atau makhluk lain, karena dalam
harta yang kita miliki terdapat milik orang lain. Puasa membuat manusia menjadi
pendekar kehidupan. Dan haji adalah madu dari semuannya. (hal 87-88).
Di sisi lain Emha juga mengupas tentang pentingnya ukhwah
islamiyah. Banyak disalahartikan “ukhwah islamiyah” adalah persaudaran sesama
Islam, tetapi yang semestinya “ukhwah islamiyah” adalah persaudaran dengan
prinsip-prinsip keislaman, pola keislaman, dan napas keislaman. (hal 111).
Jadi, yang dimaksud ukhwah islamiyah sebenarnya merupakan
persaudaran yang menyeluruh, tidak hanya terfokus pada yang beragama Islam.
Dalam sebagaian tulisannya, Emha menceritakan pengalamannya sejak mondok di Pondok
Modern Gontor dalam sebuah tulisan yang berjudul The Snowball of Gontor. Sejak
belajar di Eropa pada tahun 1984-1985, Emha pernah mengalami kesepian kultural,
kesepian psikologi, kesepian politis dan kesepian ekonomi. Sungguh tak terasa
Emha dapat bertahan ditangan kesepian yang menghantam sebab ia telah terlatih
sejak menimba ilmu di pondok: di sana ia diajari mandiri, belajar yang fokus,
dan bersosial yang baik dengan sesama teman-teman sepondok. “Seandainya saya
tak mengalami sepi dan dingin seperti di Gontor, demi Allah saya tak sanggup
keluar dari mati kecil di negeri orang yang jauh begini....” Kesan Emha.
(hal 163).
Dan, Emha menganalisis kepribadian seorang Kiai Sudrun.
Ia termasuk kiai yang nyentrik dan nyeleneh di mata banyak orang. Kemewahan
dunia bukanlah visi hidupnya. Sama sekali ia tak diperbudak dengan buaian
dunia. Kehidupannya yang sederhana, tetapi sangat ramah dan humanis sama orang
lain. Ia selalu menghadiri undangan siapapun. Diisukan Sudrun berada di
beberapa tempat dalam waktu yang sama. Secara logika hal yang demikian tidak
masuk akal, tetapi secara tasawuf peristiwa itu mungkin saja. Itu biasanya yang
disebut orang yang wali.
Sikap nyentrik Sudrun banyak menyindir kelakuan
orang-orang yang hanya menyentuh lahir, tanpa disertai penghayatan hingga
menyentuh batin. “Saya tidak kenal mereka. Saya juga tidak pernah mengeluarkan
suara untuk telinga yang tuli, tidak pernah menyampaikan minuman kepada
tenggorokan yang tidak haus!” Kritik Sudrun halus tentang ulama-ulama, para
cendekiawan muslim, dan majelis ulama saat bercakap dengan
Santri Delan
yang berkehendak berguru padanya. (hal 217).
Artikel-artikel Emha dirasa penting untuk dibaca siapapun
yang telah mengaku-ngaku muslim, sayang mereka belum “berserah diri” dan
menghayati substansi kemuslimannya. Dan, mereka yang dihantam derasnya arus modernisasi
yang kejam sampai menggerus kesadaran moral dan berdampak kekeringan spiritual.
So, jika mencoba
merenung sebentar sebenarnya kita berada di posisi yang mana: yang dicerca Emha
melalui tulisan-tulisannya atau yang telah mencapai level Kiai Sudrun?[]
Annuqayah,
22 Desember 2015

No comments:
Post a Comment