Sunday, January 3, 2016

Bukan Mimpi Lagi, Kawan…



Judul Buku
Edensor
Penulis
Andrea Hirata
Penerbit
PT Bentang Pustaka
Cetakan
5 Edisi Revisi, Februari 2015
Tebal
xiv + 288 halaman
ISBN
978-602-7888-98-2

Lanjutan Laskar Pelangi yang ketiga berjudul Edensor. Novel ini bercerita perjalanan Andrea Hirata selama kuliah di Universite de Paris, Sorbonne, dan lain sebagainya.

Ceritanya;

Mimpi-mimpi itu bukan imajinasi lagi, tapi mencipta jadi fakta. Mimpi mampu memompa semangat Andrea. Itu semua bermulai dari suntikan motivasi para gurunya. Salah satunya, kata-kata Bu Mus (yang telah dikisahkan dalam Laskar Pelangi). Dulu, waktu aku masih SD, Bu Muslimah Hafsari pernah berpesan pada kami, murid-muridnya, para Laskar Pelangi, “Jika ingin menjadi manusia yang berubah, jalani tiga hal ini: sekolah, banyak-banyak membaca Al-Qur’an dan berkelana.” (hal 229).

Pak Balia menyampaikan di depan siswa, “Murid-muridku, berkelanalah, jelajahi Eropa, jamah Afrika, temukan muzaik nasibmu di pelosok-pelosok dunia. Tuntut ilmu sampai ke Sorbonne di Prancis, saksikan karya-karya besar Antoni Gaudi di Spanyol.”

Dilanjutkan, “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.”

Kata-kata Bu Mus dan Pak Balia seakan-akan muskil melihat kondisi Andrea yang tak bersahabat: ia bukan anak orang kaya. Tapi, sebuah pertemuannya dengan Pak Toha dan Weh, laki-laki terbuang dengan pilihan hidup getir, membangkitkan semangat yang hampir terkubur. Mereka tak terasa mencerahkan hidup Ikal dengan cara yang tak dapat ia jelaskan. Paling tidak, Pak Toha mengajarinya moral nomor empat belas tentang filosofi kebahagiaan: Tertawalah, seisi dunia akan tertawa bersamamu; jangan bersedih karena kau hanya akan bersedih sendirian. (hal 227)

Ternyata, benar. Mimpi Ikal dan Arai dulu dikira muskil, Tuhan menjawab dengan kelulusan beasiswa Uni Eropa. Renungan punya renungan mengingatkan pada masa lalu: sering onar, yaitu Ikal pernah menghasut adiknya si nomor enam untuk menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dengan pengeras suara di masjid; dan Ia pernah melumuri kopiah Wak Tarjik dengan minyak rem. Tapi, saat dewasa kesadaran mereka berdua tumbuh di atas keterbatasan yang membebani mereka. Mereka makin dewasa menjadi orang mandiri: Ikal bekerja diterima bekerja di kantor pos. Arai merantau ke Kalimantan, bekerja dan kuliah di sana.

Kali pertama sampai di Eropa Ikal dan Arai tidak mendapatkan tempat bermalam. Sebab, mereka tidak lengkap secara administrasi. Mereka kedinginan di tengah-tengah salju yang berterbangan. Kendatipun ini semua rekayasa ketidakpedulian Simon Van Der Wall, mereka tetap bersabar.

Di ujung jalan Oudlaan mereka menemukan bangku taman. Di sana mereka duduk di bawah naungan kanopi sambil melihat hujan salju makin lebat. Dingin salju menusuk-nusuk tulang. Kali ini mereka merasa kedinginan dijerang suhu dalam kisaran tiga puluh empat derajat Celcius.

Mereka ketemu dengan Dr. Woodward, penulis artikel berjudul Why Monetary Reform Works? Sayang, kedatangan mereka bukan pada waktu yang tepat karena Dr. Woodward sedang diprotes Famka Somers lewat telepon. Rupanya, semalam Famke menelepon Simon Van Der Wall untuk menanyakan keadaan mereka. Mengetahui perlakuan Simon, Famke menyemprot John Waynekodian habis-bisan. (hal 70)

Seminggu mereka sibuk bekerja keras merumuskan terms riset. Jika mereka punya sedikit waktu, mereka berkelana ke La rue de L’etuve, melihat bocah lucu yang sendang pipis: manekken pis, aikon pariwisata Belgia pahatan Jerome Duquesnoy tahun 1619.

Saat di Prancis menara Eiffel yang diimpi-impikan dulu tampak mencakar langit. Kudekati Eiffel. Kusentuhkan tanganku padanya. Ia masih tak peduli. Apalagi sekarang, ia makin cantik karena matahari merekah menghangatkan lengan-lengan perkasanya hitam berkilat-kilat. (hal 79)

Ikal dan Arai tinggal di apartemen Mallot terletak dekat Stasiun Gare de Lyon, salah satu stasiun antarnegara. Di sana mereka ketemu dengan Murent LeBlanch. Kemudian ia mengajak mereka melakukan tur orientasi. Mereka jalan-jalan melewati sebuah selasar yang dibangun pada Abad Pertengahan. Ia menjelaskan bahwa ruang kuliah di kiri kanan selasar itu pernah dihinggapi Montesquieu, Voltaire, Pascal, Louis Pasteur, Rene Descartes, Derrida, dan Baudelaire. (hal 86).

Ikal naik ke tingkat tertinggi gedung Sorbonne. Dari atas terlihat belantara gedung dan Sungai Seine yang berkelak-kelok, sayup sampai di luar batas pandang.

Suasan kelas beragam secara intelektual: ada yang cerdas, ada yang louding. Yang genius, di antaranya, Abraham Levin, Y’hudit Oxxenberg, Yoram Ben Mazuz dan Becky Avshalom. Mereka juga dapat menyaingi kecerdasan Saskia dan Marike. Termasuk mahasiswa yang louding adalah Monahar Vikram Raj Chauduri Manooj, Pablo Arian Gonzales, Ninochka Stronovsky, dan Ikal sendiri.

Di antara banyak perempuan di kelas, Katya yang kian memikat ketertarikan. Banyak mahasiswa yang “nembak” dan “pedekate” berakhir nihil. Tak kebayang dan sungguh di luar jangkauan akal saat Ikal menerima e-mail dari Katya: //Hi, there…//If you want to date me, all you have to do…//Just…//Ask…//Much love, Katya//. Berjuta-juta tanya bertandang di pikiran Ikal: Katya menyukaiku? (hal 124). Ia seakan-akan kejatuhan durin.

Mengingat pesan Bu Mus tentang arti penting “berkelana” dalam menyongsong “pengalaman”. Ikal, Arai dan teman-teman—Ninochka, Stansfield, Townsend, D’Archy, MVRC Manooj, Katya, dan Gonzales—berencana menjelajah Erofa hingga Afrika. Penjelahan ini di-setting tak ubahnya kompetisi. Kemenangan diukur dari banyaknya kota dan negara yang ditempuh selama perjalanan. Sedangkan, yang menempuh paling sedikit kota dan negara—tentunya, yang kalah—akan mendapat hukuman, yaitu mengurus laundry peserta lain selama tiga bulan, membayar cover charger untuk clubbing, dan menuntun sepeda secara mundur dari museum legendaris Le Louvre ke gerbang L’Arc de Triomphe melintasi kawasan paling prestisius di Paris: L’Avenue des Champs-Elysees. 

Selama menjelajahi Eropa hingga Afrika, banyak kota dan negara yang Ikal dan Arai singgahi. Dengan keterbatasan bekal (uang), tapi karena semangat yang membakar mereka, keterbatasan ini tak sedikit pun membikin mereka patah. Sebuah saran dan bantuan Famke Somers yang makin mereka punya cara: seakan-akan Eropa dan Afrika ada di dalam genggaman.

Cara satu-satunya, mengamen: mereka tampil di pinngir jalan sebagai manusia patung. “Kalian akan menjadi ikan duyung!!” (hal 180). Setelah selesai percobaan, mereka disarankan Famke, Ikal karena ber-body kecil lebih patut jadi anak ikan duyung, sedangkan Arai yang bertubuh besar sebagai ibu ikan duyung. Terus, penampilan ini lebih menarik Famke memberikan arahan bahwa tema yang diangkat tentang lingkungan: ikan duyung yang sedih karena eksploitasi laut.

Teman-teman mereka pun mempertunjukkan bakat sesuai dengan kemampuan masing-masing. Gonzales memainkan bola dengan kaki, dada, tandukan, bahkan dengan perut gendutnya. MVRC Manooj tampil dengan busana yang membuat napas tertahan. Stansfield meniup trombone dengan teknik tinggi. Townsend melentingkan nada-nada akordionnya. Dan, Ninoch akan mempertunjukan kehebatan bermain catur di pinggir jalan, sehingga tiga langkah skak mati (hal 171/173-175). Usaha-usaha mereka tak lain tak bukan untuk mendapatkan duit sebagai bekal perjalajanan.

Di antara tempat, kota dan negara yang Ikal dan Arai jelajahi, Damrak, Koninklijk, Belomorok di Rusia, Syzran, Belush’ye, Olovyannaya, Laut Kaspian, Akropilis di Yunani, Negeri Balkan, Bulgaria, Rumania, Estonia, Swiss, Oruzgan di Afganistan, rumah tua di Verona, Milan, Kota Palermo di Pulau Sisilia, dan Zaire di Afrika.

Penjelajahan usai, tim yang kalah adalah Gonzales dan MVRC Manooj. Mereka termangu-mangu mengingat hukuman yang hendak mereka terima. Sedangkan, tim yang menang adalah Ikal dan Arai. Aku terharu, rasanya ingin kunyanyikan lagu “Indonesia Raya”. (hal 273).

Satu hal yang dapat digarisbawahi dari ketercapaai Ikal dan Arai ini: lulus beasiswa Uni Eropa, sehingga mereka dapat kesempatan kuliah di Universite de Paris, Sorbonne; mendapat perhatian Famke Somers dalam mengatasi keterbatasan duit dalam menjelajahi Eropa dan Afrika; kemenangan di antara teman-teman sekelasnya dalam penjelajahan ini; dan—satu lagi sebagai tambahan atas keberhasilan mereka—pertemuan Ikal dengan desa Edensor di Inggris saat menjalani bimbingan tesis pada Profesor Turnbull, yaitu jawaban Famke Somers saat ditanya Ikal: “Karena kalian berani bermimpi. Mimpi-mimpi kalian mengispirasiku.” (hal 186).

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...