Friday, July 24, 2015

Setelah Saya Update Status “Tunangan” di Facebook



Sejak saya update status “bertunangan (got angaged)” pada 9 Juli 2015, teman-teman Facebook saya—mulai teman, sahabat, hingga murid saya—berkomentar. Hanya iseng-iseng, komentar disertai komentar jawaban saya mencapai 109 komentar. Belum pernah saya update status dikomentari sebanyak itu.

Saya hanya bertafakur: Kenapa komentar teman-teman sebanyak itu? Apakah ada yang aneh dan menarik dari status itu? Salahkah saya update status seperti itu?

Isi komentar tersebut jika saya simpulkan meliputi pertanyaan nama tunangan saya; alamatnya; akun Facebooknya; minta kue tunangan; ungkapan rasa ketidakpercayaan mereka, doa mereka; dsb. Untungnya, mereka tidak minta foto tunangan saya untuk di-posting, hanya saja saya kirim foto orang lain di inbox sebagian teman Facebook untuk menguatkan kepercayaan mereka tanpa mengetahui planning saya yang masih tersimpan di hati. Di antara akun Facebook yang saya kirimi foto palsu tunangan saya, Elvien ElviaNa, Lee Lenient, Malzum Penuh Misteri, dan Rijalir Rochim (rijal el-ricim).

Saat teman saya, Lely, ngobrol di ponsel, awalnya dia mengucapkan “selamat” atas ikatan pertunangan saya. Saya menyadari semua itu hanya status palsu, tapi saya tetap membenarkannya. Sekedar share saya tanya, “Kenapa teman kasih komentar sebanyak itu?”

Dia menjawab, “Bisa jadi karena aneh mendengar orang kayak kamu bertunangan; bisa jadi mereka termasuk orang yang engkau PHP-in; atau….”

Saya membatin, “Masa iya? Banyak orang yang sedang naksir sama cowok kayak aku? Jadi, mereka benar-benar fall in love me? Ihhh, tidak-tidak.”

Jika prediksi saya benar—banyak cewek yang fall in love atau merasa di-PHP-in—mumpung masih baru-baru selesai hari raya saya ucapkan, “Minal aidzin wal faizin mohon maaf atas perbuatan saya.” Tanpa saya sadari—mencuplik pernyataan Ronald Frank, motivator cinta—bahwa kebanyakan laki-laki tidak peka membaca psikologi orang perempuan. Sehingga, banyak perempuan berujung “patah hati” karena cintanya tidak terjawab. Tak ingin menyalahkan perempuan untuk tidak berusaha. Jika kita mengingat terhadap besarnya perasaan malu orang perempuan yaitu 99%, sungguh sangat sulit mengungkapkan perasaan cintanya kecuali orang perempuan tomboy atau bersifat kelelaki-lakian.

Update status “bertunangan” di publik, tak lain, [1] untuk menjadi tameng diri saya sekarang dari gangguan godaan perempuan yang menggiurkan sehingga mampu mengalahkan saya meraih cita-cita di masa depan yaitu sebagai penulis dan pembisnis. Sebab, banyak orang gagal pendidikannya, lebih-lebih kariernya, karena terlena berpacaran, tunangan, terus menikah. Tragisnya, anak belum lulus Sekolah Dasar (SD) tiba-tiba menikah atau dinikahkan. Coba Anda berfikir sejenak tentang keminusan pendidikan pasangan suami-istri ini dalam menjalani rumah tangga dan membina anak; dan memberikan nafkah terhadap istri dan anaknya. Bisa jadi haram menikah karena tidak mampu memberikan nafkah—baik lahir atau batin—terhadap istrinya.

Saya juga mengimpikan pendidikan saya minimal tuntas sampai Strata 2 (S2). Di era sekarang banyak pelajar yang mampu menyelesaikan hingga Strata 1 (S1). Tak heran, banyak wisudawan/wisudawati yang nganggur karena tidak punya pekerjaan. Mendaftar menjadi guru, sudah penuh. Melamar jadi dosen, tidak diterima karena persyaratan dosen adalah lulusan S2 atau S3. Saya tak ingin diri saya terjatuh karena disibukkan dengan pacaran. Biarlah “pacaran” saya letakkan nomor sekian, yang terpenting atau nomor satu adalah kesuksesan pendidikan dan karier.

[2] Ungkapan rasa berani saya mengambil tindakan setelah saya putus hubungan percintaan dengan perempuan asal Situbondo—banyak orang memanggilnya “Nai”. Biarlah status “bertungangan” ini menjadi modal saya membayar kelelakian saya. Orang Madura, banyak orang menilainya, ambisi; sekali melangkah harus tercapai. Jika kenyataan berseberangan dengan keinginan adalah suatu masalah yang harus segera diatasi dengan mengambil tindakan lain agar image sebagai orang Madura tidak luntur. Saya yang berdarah Madura masih selalu mengingat kometmen kuat Orang Madura yaitu Lebih baik putih tulang dari pada putih mata.

Dan, [3] iseng-iseng update status yang dikira langka, “bertunangan”, apalagi “nikah”. Kedua status ini biasanya mengundang banyak komentar. Untuk seusia saya dengan status santri aktif dan mahasiswa semester 7, sulit dipercaya—untuk tidak mengatakan “mustahil”—update status “menikah”, lalu saya memilih status “bertunangan”, menurut saya, sangat netral dan serasi dengan status saya sekarang. Tak ayal, komentar meledak di jaringan sosial seperti Facebook.

Demikian, fakta update status “bertunangan” saya. Namanya status di Facebook, keabsahannya membutuhkan investigasi lebih radikal. Saya minta teman-teman tidak langsung percaya.[]

Congka’, 19 Juli 2015

Setelah Saya Membaca Karya-Karya Dee



Setelah saya membaca-tuntas buku Supernova; Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh, Supernova; Akar, Supernova; Petir, Supernova; Partikel, Perahu Kertas, dan Pilosofi Kopi, akhirnya kesukaan saya mengoleksi buku-buku karya Dee (Dewi Lestari) semakin membakar diri saya. Dilanjutkan saya menonton film yang dirilis dari salah satu novel dan atau kumpulan tulisan-tulisan Dee yaitu film Perahu Kertas, Recteverso, dan Madre. Menarik!

Awalnya membaca karya Dee—semisal Perahu Kertas dan Supernova—tak semudah membaca novelnya Habiburrahman El-Shirazy seperti Ketika Cinta Bertasbih 1 & 2, Ayat-Ayat Cinta, Cinta Suci Zahrana, Dalam Mihrab Cinta, dll. Sekalipun karya kedua penulis tersebut mampu menarik pembaca melebur dalam tulisan itu, membaca karya Dee membutuhkan kemampuan bidang pengetahuan lain selain sastra seperti Bahasa Inggris, Fisika, dsb. Saya sempat berkeluh awal kali berjumpa dan membaca Perahu Kertas dan Supernova; Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh, “Ini novel atau karya ilmiah? Sulitnya minta ampun.” Tapi, kala saya berusaha menyelam; beberapa karya Dee saya lalui kendati tak mafhum seluruhnya, tiba-tiba rasa jengkel berubah menjadi rasa senang hingga bikin saya ketagihan membaca semua karya Dee.

Kemampuan Dee dalam merangkai kata dan menyelipkan pesan dalam tulisannya telah membuat saya takjub. Dia tidak blakblakan menceritakan percintaan, dendam dan perbuatan terlarang (hubungan intim). Hal semacam ini dapat saya baca dalam karyanya yang berjudul Perahu Kertas yang mengceritakan percintaan seorang Kenan dan Kugy yang tercipta dengan kerakter yang berbeda; Kenan, orangnya teratur, sedangkan Kugy, orangnya berantakan, tapi keduanya memiliki pontensi tersendiri yaitu Kenan mampu melukis dan Kugy mahir menulis dongeng, sehingga dogeng Kugy mampu menjadi inspirasi lukisan Kenan. Hebat, bukan?

Dalam karya Dee yang lain, Madre, saya tertarik pada salah satu tulisannya yang terakhir yang bertajuk Menunggu Layang-Layang. Tulisan itu menceritakan percintaan dua orang yang diawali dengan status pertemanan. Mereka adalah Christian dan Starla. Magnet cinta di antara mereka lama terungkap karena kharakter mereka yang berseberangan; Christian yang setia menunggu dan Starla yang sabar mencari. Sehingga, keduanya, sama-sama kesepian. Akhirnya, cinta itu terungkap juga. Dee mengiaskan menunggunya Christian seperti menunggu layang-layang.

Sekedar menikmati karya-karya Dee, ghirah kepenulisan saya semakin berkobar setelah berbulan-bulan mati suri. “Aku ingin menjadi penulis hebat seperti Dee, bahkan Aku ingin berguru kepadanya,” batin saya bergumam, “semoga kesempatan itu menjadi kenyataan.”

Terima kasih Mbak Dee—saya memanggilnya—atas karya-karyanya! Melalui karya-karya Mbak kecintaan saya untuk menulis semakin berkobar dan saya mampu bangun dari keterpurukan menulis.[]

Congka’, 19 Juli 2015

Pak Hernowo; Anda, Motivator Saya



Memilah dan memilih tulisan non-fiksi yang mudah dikenyam telah saya lalui sejak kali pertama saya belajar menulis kira-kira tahun 2010-an. Kala itu saya berkenalan dengan tulisan A.S. Laksana yang terbit setiap hari minggu Koran Jawa Pos dan tulisan Samuel Mulia yang juga nongol setiap minggu Koran Kompas. Tulisan-tulisan dua penulis hebat yang dibingkai dengan kata-kata yang ringan disertai pembahasannya yang luas dan kritis mampu bikin saya terlena menikmati setiap tulisan itu setiap minggu. Selalu saya melongo dan berdiri kelamaan di depan Koran Jawa Pos setiap hari Minggu atau tanya lalu pinjam koran-koran langganan milik teman-teman pondok atau perpustakaan. Saking ngefannya, saya kliping tulisan-tulisan mereka sehingga dapat saya baca berkali-kali.

Setelah berbulan-bulan tidak mencicipi tulisan A.S. Lakasana dan Samuel Mulia karena berganti selera membaca karya-karya fiksinya Dee (Dewi Lestari) dan karya-karya penulis yang lain, saya dipertemukan dengan Mengikat Makna Update-nya Hernowo, penulis produktif dan percetak buku-buku best-seller. Saya dengar nama Hernowo tiga tahun silam kira-kira tahun 2011 melalui cerita teman-teman yang mengikuti Diklat Kepenulisan di MAT Annuqayah yang disampaikan oleh Bapak Hernowo. Sekedar membaca esai-esai yang dituangkan dalam lembaran kertas yang di-print out, masih melekat di memori saya frasa atau kalimat yaitu Mengikat Makna dan Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, tapi saya belum tahu bahwa frasa dan kalimat tersebut termasuk tajuk buku karyanya. Dan, saya belum tahu apa sih maksud mengikat makna menurut Hernowo.

Setelah saya berkunjung ke rumah famili, di sana saya ketemu dengan tumpukan buku-buku miliknya yang sedang dalam tahap diperbaiki. Sekedar iseng-iseng, saya menghampiri tumpukan buku itu, dijumpai beberapa buku menarik yang ditulis penulis-penulis hebat seperti Madre, Rectoverso (keduanya karya Dee), Mengikat Makna Update (karya Hernowo), dll. Saya kegirangan menatap buku-buku Dee karena karya-karyanya selain Perahu Kertas, Supernova, dan Pilosofi Kopi, masih saya cari dan baru saat itu baru ketemu. Akhir-akhir ini cara saya mengoleksi buku tampak berbeda dibandingkan dengan masa dulu; sekarang saya lebih selektif dalam memilih buku; hanya buku-buku karya penulis-penulis hebat yang saya cari dan baca. Sebut, penulis seperti Prof. Dr. Said Aqil Siradj (karyanya, Tasawuf sebagai Kritik Sosial dan Islam Kalap dan Islam Karib), Prof. Dr. M. Quraish Shihab (salah satu karya monumentalnya, Tafsir Al-Misbah), dan beberapa penulis hebat lainnya.

Selesai membaca Madre-nya Dee, saya lanjut-membaca karya Hernowo tersebut. Awal kali membaca Pembuka dalam buku Mengikat Makna Update dilanjutkan pada bab-bab berikutnya, saya diperkenalkan dengan pentingnya membaca dan menulis dalam kehidupan manusia. Membaca dan menulis, menurut Hernowo, merupakan dua aktivitas yang saling mengikat; membaca tanpa menulis akan sia-sia dan menulis tanpa membaca akan hampa. Saya baru menyadari manfaat membaca dan menulis. Saya menyesal bertahun-tahun tidak rajin membaca dan menulis.

Di samping menikmati tulisan-tulisan Hernowo yang renyah dan ringan, saya termotivasi dengan gambar-gambar buku dan sinopsisnya serta komentarnya yang diselipkan di dalam tulisannya yang dijadikan cuplikan/rujukan dalam buku Mengikat Makna Update ini. Di antara buku-buku tersebut,  The World is Flat-nya Thomas L. Friedman; New Wave Marketing-nya Hermawan Kartajaya; Crowd Marketing Become Horizontal-nya Yuswohady; The 28 Laws Attraction-nya Thomas J. Leonard; Brain-Based Learning-nya Eric Jensen; Quantum Learning-nya Bobi DePoster dan Mike Hernacki; Spiritual Capitas (SC)-nya Zohar dan Marshall; Ketika Diam Bukan Emas-nya James W. Pennebaker; Writing without Teacher-nya Peter Elbow; Main-Main dengan Teks, Vitamin T, Langkah Mudah Membuat Buku, Self Digesting, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, Aku Ingin Bunuh Harry Potter!, Mengikat Makna Sehari-hari, dan Bu Slim dan Pak Bil-nya Hernowo; Membumikan Al-Qur’an-nya M. Quraish Shihab; dan lain-lain.

Sederetan buku tersebut, sejujurnya, belum saya baca. Tak ayal, rasa takjub melihat Hernowo yang kutu buku mampu membangkitkan saya dari keterpurukan membaca dan menulis. Kemudian terbentuk kometmen kuat dalam benak saya, “Jika Hernowo mampu membaca banyak buku dan menulis banyak buku di kala berusia lebih 40 tahun, saya harus menjadi seperti atau melebihi dia pada usia 21 tahun sekarang ini.”

Kekayaan bahan bacaan dan kebiasaan menulis Hernowo, tulisan-tulisannya tak kesan hambar atau hampa literatur dan rakitan kata demi kata dalam tulisannya benar-benar mengalir dan renyah. Buku Mengikat Makna Update ini ditulis berbasis pengalaman Hernowo. Tak heran jika dalam tulisannya dia sering menggunakan kata “saya” sebagai isyarat subjektifitas penulis.

Selain tulisannya yang renyah dan ringan, otak saya tidak njelimet dan ruet-ruet memahami. Melalui tulisannya saya dapat menggarisbawahi beberapa main point yaitu cara mudah menulis dengan menggunakan kata ganti “saya” atau “aku” guna mengungkapkan perasaan dan pengalaman penulis; penerapan mindmapping dan outlining untuk menjembatani kesulitan menulis atau kekacauan sistematisasi ide; dan 3 cara membuat buku yaitu ‘ide’, ‘mengomunikasikan ide’, dan ‘mengemas ide’.

Sebagai penutup dalam tulisan ini, saya memberikan apresiasi positif atas karya Hernowo ini. Terima kasih, Pak Hernowo! Anda adalah motivor saya.[]

Congka’, 20 Juli 2015

Oleh-Oleh usai Silaturrahim



Menjelang hari raya, tak sedikit orang bersilaturahim, baik kepada famili sendiri, teman, sahabat, tunangan, dsb. Selain termasuk sunah Nabi saw, silaturrahim di hari raya merupakan momen rutinitas tahunan yang tetap langgeng hingga kini.

Kemarin usai shalat idul fitri, saya ketemu teman lama sejak MTs dulu. Dialah Moh. Rusydi. Agak lama ngobrol tentang saya dan dia. Dia tahu saya masih mondok di Pondok Pesantren Annuqayah, terus saya mafhum bahwa status dia sekarang ngantor di Bali selain kuliah di kampus Universitas Tabanan Bali.

Setiap kali ketemu orang yang kerja di daerah orang lain, saya sering tanya tentang honor atau gaji per-bulan. “Gajinya berapa setiap bulan?” tanya saya. Karena kerja di perkantoran, teman saya tadi dapat gaji 2 jutaan lebih.

Pertanyaan yang sama juga saya sodorkan pada teman saya yang lain. Namanya Lely—akun Facebooknya, Lely See Boungshuu. Dia kerja di sebuah restoran di Batam. Jika tidak salah dengar, gajinya setiap bulan tak kurang dari 2 jutaan.

***

Tadi malam saya dan adik saya berkunjung ke kediaman guru saya, Kiai Wakid. Karena beliau sedang keluar—pulang ke rumahnya—kami berdua ditemui guru lama saya, sekaligus mertua beliau, Kiai Suaidi. Banyak cerita menarik dan bermanfaat yang tetap otak saya merekamnya, lebih-lebih mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di antara cerita beliau, [1] barakah dalam mencari ilmu adalah sesuatu yang amat diharapkan. Tanpa barakah, ilmu (saince) itu akan menjadi kering keronta. Menyitir pesan Kiai Khalil Ambunten yang dinukil aba saya, “Ilmu yang kita pelajari seperti sapu lidi yang berserakan, sedangkan pengikatnya adalah barakah.”

[2] Kesenangan Kiai Warits, pengasuh PP. Annuqayah daerah Lubangsa sebelum Kiai Ali Fikri, terhadap santri beliau yang bangun malam. Mengingat bangun malam (qiyam al-lail) tak pernah saya mendengar efek negatifnya. Melainkan efek positifnya yang mencuat hingga bikin pengamalnya mampu meraih impian atau cita-citanya. Dia menjadi orang yang sukses, baik selama hidup dan atau nanti di akhirat saat menghadap Tuhannya.

[3] Sebuah pesan yang disitir dari Kiai Muzakki, alumni PP. Annuqayah daerah Lubangsa, yang sempat Kiai Suaidi sampaikan saat saya beranjak pulang, tetapi masih belum menginjak sandal, “Orang yang mondok hendaknya memperbanyak tarakat.” Sejauh bacaan dan penelitian saya, tarakat di masing-masing pondok pesantren tidak sama: ada pondok pesantren yang mengimpikan santrinya memperbanyak puasa sunah; ada pondok pesantren yang lain yang menginginkan santrinya menjalani tarakat sederhana, tapi tak semua orang mengerjakannya secara kontinu yaitu shalat jamaah; dll. Shalat jamaah hingga menggapai 41 hari secara berturut-turut termasuk tarakat PP. Annuqayah daerah Lubangsa. Soal puasa di pondok pesantren yang satu ini, telah ditanggung para sesepuh yang ikhlas berpuasa 41 tahun atau 29 tahun.

[4] Mustajab-nya doa orang tua dan rasa takdim murid kepada guru dapat menjadi jembatan melangkah dengan mudah dalam mengarungi masa depan. Dua ini sering diabaikan. Banyak anak yang durhaka kepada orang tuanya, padahal Allah swt melarang dalam Al-Qur’an: wala taqul lahuma uffin wala tanharhuma waqul lahuma qawlan karima (jangan kamu mengatakan ‘ah’ kepada orang tuamu; jangan menghardik mereka berdua; dan katakan kepada mereka berdua dengan perkataan yang baik). Dalam sebuah legenda diceritakan seorang anak, Malin Kundang, yang mendurhakai ibunya, hingga si ibu mengutuk dia menjadi patung. Pesan Tuhan dan legenda kuno itu dapat dijadikan cermin bagi kita berproses menjadi anak shaleh—dalam sebuah hadis …anak yang selalu mendoakan kedua orang tuanya. Sebab kemuliaan seorang ibu, Allah swt rela meletakkan surga di bawah telapak kaki ibu.

Peran guru tentang masa depan murid tak dapat dilupakan. Tuhan mengajarkan ilmu tidak secara langsung, melainkan melalui proses atau perantara yaitu guru. Betapa mulianya guru yang telah mampu menjadi media ilmu Tuhan! Sungguh sangat tercela dan tertutup mata hatinya murid yang menjelek-jelekkan gurunya sendiri hingga bikin hati guru tersakiti! Banyak murid sekarang yang mengabaikan sikap hormat kepada guru, terutama di bangku perkuliahan. Sering dosen dibikin tersinggung. Naudzu billah!

Dan, [5] kelebihan Kiai Warits, di antaranya, cara memberikan makna kitab yang mudah dimengerti, sekalipun belum dijelaskan. Kiai Suaidi menafsirkan tetang kepribadian beliau yang ahli tafsir, ahli ilmu balaghah, ahli ilmu mantik/logika, dll. Sekedar saya menyitir cerita teman-teman, Kiai Warits dijuluki “kamus berjalan” oleh teman-teman beliau karena beliau hafal kamus setebal Munjid.

***

Demikian oleh-oleh saya usai silaturrahim di hari raya idul fitri tahun 2015. Cerita selanjutnya dapat ditemui pada silaturahim berikutnya.[]

Congka’, 18 Juli 2015

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...