Menjelang
hari raya, tak sedikit orang bersilaturahim, baik kepada famili sendiri, teman,
sahabat, tunangan, dsb. Selain termasuk sunah Nabi saw, silaturrahim di hari
raya merupakan momen rutinitas tahunan yang tetap langgeng hingga kini.
Kemarin
usai shalat idul fitri, saya ketemu teman lama sejak MTs dulu. Dialah Moh.
Rusydi. Agak lama ngobrol tentang saya dan dia. Dia tahu saya masih mondok di
Pondok Pesantren Annuqayah, terus saya mafhum bahwa status dia sekarang ngantor
di Bali selain kuliah di kampus Universitas Tabanan Bali.
Setiap
kali ketemu orang yang kerja di daerah orang lain, saya sering tanya tentang honor
atau gaji per-bulan. “Gajinya berapa setiap bulan?” tanya saya. Karena kerja di
perkantoran, teman saya tadi dapat gaji 2 jutaan lebih.
Pertanyaan
yang sama juga saya sodorkan pada teman saya yang lain. Namanya Lely—akun
Facebooknya, Lely See Boungshuu. Dia kerja di sebuah restoran di Batam. Jika
tidak salah dengar, gajinya setiap bulan tak kurang dari 2 jutaan.
***
Tadi
malam saya dan adik saya berkunjung ke kediaman guru saya, Kiai Wakid. Karena
beliau sedang keluar—pulang ke rumahnya—kami berdua ditemui guru lama saya,
sekaligus mertua beliau, Kiai Suaidi. Banyak cerita menarik dan bermanfaat yang
tetap otak saya merekamnya, lebih-lebih mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di
antara cerita beliau, [1] barakah dalam mencari ilmu adalah sesuatu yang amat
diharapkan. Tanpa barakah, ilmu (saince)
itu akan menjadi kering keronta. Menyitir pesan Kiai Khalil Ambunten yang
dinukil aba saya, “Ilmu yang kita pelajari seperti sapu lidi yang berserakan,
sedangkan pengikatnya adalah barakah.”
[2]
Kesenangan Kiai Warits, pengasuh PP. Annuqayah daerah Lubangsa sebelum Kiai Ali
Fikri, terhadap santri beliau yang bangun malam. Mengingat bangun malam (qiyam al-lail) tak pernah saya mendengar
efek negatifnya. Melainkan efek positifnya yang mencuat hingga bikin
pengamalnya mampu meraih impian atau cita-citanya. Dia menjadi orang yang
sukses, baik selama hidup dan atau nanti di akhirat saat menghadap Tuhannya.
[3]
Sebuah pesan yang disitir dari Kiai Muzakki, alumni PP. Annuqayah daerah
Lubangsa, yang sempat Kiai Suaidi sampaikan saat saya beranjak pulang, tetapi
masih belum menginjak sandal, “Orang yang mondok hendaknya memperbanyak tarakat.” Sejauh bacaan dan penelitian
saya, tarakat di masing-masing pondok
pesantren tidak sama: ada pondok pesantren yang mengimpikan santrinya
memperbanyak puasa sunah; ada pondok pesantren yang lain yang menginginkan santrinya
menjalani tarakat sederhana, tapi tak
semua orang mengerjakannya secara kontinu yaitu shalat jamaah; dll. Shalat
jamaah hingga menggapai 41 hari secara berturut-turut termasuk tarakat PP. Annuqayah daerah Lubangsa. Soal
puasa di pondok pesantren yang satu ini, telah ditanggung para sesepuh yang
ikhlas berpuasa 41 tahun atau 29 tahun.
[4] Mustajab-nya doa orang tua dan rasa takdim
murid kepada guru dapat menjadi jembatan melangkah dengan mudah dalam
mengarungi masa depan. Dua ini sering diabaikan. Banyak anak yang durhaka
kepada orang tuanya, padahal Allah swt melarang dalam Al-Qur’an: wala taqul lahuma uffin wala tanharhuma
waqul lahuma qawlan karima (jangan kamu mengatakan ‘ah’ kepada orang tuamu;
jangan menghardik mereka berdua; dan katakan kepada mereka berdua dengan
perkataan yang baik). Dalam sebuah legenda diceritakan seorang anak, Malin
Kundang, yang mendurhakai ibunya, hingga si ibu mengutuk dia menjadi patung. Pesan
Tuhan dan legenda kuno itu dapat dijadikan cermin bagi kita berproses menjadi
anak shaleh—dalam sebuah hadis …anak yang
selalu mendoakan kedua orang tuanya. Sebab kemuliaan seorang ibu, Allah swt
rela meletakkan surga di bawah telapak kaki ibu.
Peran
guru tentang masa depan murid tak dapat dilupakan. Tuhan mengajarkan ilmu tidak
secara langsung, melainkan melalui proses atau perantara yaitu guru. Betapa
mulianya guru yang telah mampu menjadi media ilmu Tuhan! Sungguh sangat tercela
dan tertutup mata hatinya murid yang menjelek-jelekkan gurunya sendiri hingga
bikin hati guru tersakiti! Banyak murid sekarang yang mengabaikan sikap hormat
kepada guru, terutama di bangku perkuliahan. Sering dosen dibikin tersinggung. Naudzu billah!
Dan,
[5] kelebihan Kiai Warits, di antaranya, cara memberikan makna kitab yang mudah
dimengerti, sekalipun belum dijelaskan. Kiai Suaidi menafsirkan tetang
kepribadian beliau yang ahli tafsir, ahli ilmu balaghah, ahli ilmu
mantik/logika, dll. Sekedar saya menyitir cerita teman-teman, Kiai Warits
dijuluki “kamus berjalan” oleh teman-teman beliau karena beliau hafal kamus
setebal Munjid.
***
Demikian
oleh-oleh saya usai silaturrahim di hari raya idul fitri tahun 2015. Cerita
selanjutnya dapat ditemui pada silaturahim berikutnya.[]
Congka’, 18 Juli 2015
No comments:
Post a Comment