Friday, July 24, 2015

Oleh-Oleh usai Silaturrahim



Menjelang hari raya, tak sedikit orang bersilaturahim, baik kepada famili sendiri, teman, sahabat, tunangan, dsb. Selain termasuk sunah Nabi saw, silaturrahim di hari raya merupakan momen rutinitas tahunan yang tetap langgeng hingga kini.

Kemarin usai shalat idul fitri, saya ketemu teman lama sejak MTs dulu. Dialah Moh. Rusydi. Agak lama ngobrol tentang saya dan dia. Dia tahu saya masih mondok di Pondok Pesantren Annuqayah, terus saya mafhum bahwa status dia sekarang ngantor di Bali selain kuliah di kampus Universitas Tabanan Bali.

Setiap kali ketemu orang yang kerja di daerah orang lain, saya sering tanya tentang honor atau gaji per-bulan. “Gajinya berapa setiap bulan?” tanya saya. Karena kerja di perkantoran, teman saya tadi dapat gaji 2 jutaan lebih.

Pertanyaan yang sama juga saya sodorkan pada teman saya yang lain. Namanya Lely—akun Facebooknya, Lely See Boungshuu. Dia kerja di sebuah restoran di Batam. Jika tidak salah dengar, gajinya setiap bulan tak kurang dari 2 jutaan.

***

Tadi malam saya dan adik saya berkunjung ke kediaman guru saya, Kiai Wakid. Karena beliau sedang keluar—pulang ke rumahnya—kami berdua ditemui guru lama saya, sekaligus mertua beliau, Kiai Suaidi. Banyak cerita menarik dan bermanfaat yang tetap otak saya merekamnya, lebih-lebih mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di antara cerita beliau, [1] barakah dalam mencari ilmu adalah sesuatu yang amat diharapkan. Tanpa barakah, ilmu (saince) itu akan menjadi kering keronta. Menyitir pesan Kiai Khalil Ambunten yang dinukil aba saya, “Ilmu yang kita pelajari seperti sapu lidi yang berserakan, sedangkan pengikatnya adalah barakah.”

[2] Kesenangan Kiai Warits, pengasuh PP. Annuqayah daerah Lubangsa sebelum Kiai Ali Fikri, terhadap santri beliau yang bangun malam. Mengingat bangun malam (qiyam al-lail) tak pernah saya mendengar efek negatifnya. Melainkan efek positifnya yang mencuat hingga bikin pengamalnya mampu meraih impian atau cita-citanya. Dia menjadi orang yang sukses, baik selama hidup dan atau nanti di akhirat saat menghadap Tuhannya.

[3] Sebuah pesan yang disitir dari Kiai Muzakki, alumni PP. Annuqayah daerah Lubangsa, yang sempat Kiai Suaidi sampaikan saat saya beranjak pulang, tetapi masih belum menginjak sandal, “Orang yang mondok hendaknya memperbanyak tarakat.” Sejauh bacaan dan penelitian saya, tarakat di masing-masing pondok pesantren tidak sama: ada pondok pesantren yang mengimpikan santrinya memperbanyak puasa sunah; ada pondok pesantren yang lain yang menginginkan santrinya menjalani tarakat sederhana, tapi tak semua orang mengerjakannya secara kontinu yaitu shalat jamaah; dll. Shalat jamaah hingga menggapai 41 hari secara berturut-turut termasuk tarakat PP. Annuqayah daerah Lubangsa. Soal puasa di pondok pesantren yang satu ini, telah ditanggung para sesepuh yang ikhlas berpuasa 41 tahun atau 29 tahun.

[4] Mustajab-nya doa orang tua dan rasa takdim murid kepada guru dapat menjadi jembatan melangkah dengan mudah dalam mengarungi masa depan. Dua ini sering diabaikan. Banyak anak yang durhaka kepada orang tuanya, padahal Allah swt melarang dalam Al-Qur’an: wala taqul lahuma uffin wala tanharhuma waqul lahuma qawlan karima (jangan kamu mengatakan ‘ah’ kepada orang tuamu; jangan menghardik mereka berdua; dan katakan kepada mereka berdua dengan perkataan yang baik). Dalam sebuah legenda diceritakan seorang anak, Malin Kundang, yang mendurhakai ibunya, hingga si ibu mengutuk dia menjadi patung. Pesan Tuhan dan legenda kuno itu dapat dijadikan cermin bagi kita berproses menjadi anak shaleh—dalam sebuah hadis …anak yang selalu mendoakan kedua orang tuanya. Sebab kemuliaan seorang ibu, Allah swt rela meletakkan surga di bawah telapak kaki ibu.

Peran guru tentang masa depan murid tak dapat dilupakan. Tuhan mengajarkan ilmu tidak secara langsung, melainkan melalui proses atau perantara yaitu guru. Betapa mulianya guru yang telah mampu menjadi media ilmu Tuhan! Sungguh sangat tercela dan tertutup mata hatinya murid yang menjelek-jelekkan gurunya sendiri hingga bikin hati guru tersakiti! Banyak murid sekarang yang mengabaikan sikap hormat kepada guru, terutama di bangku perkuliahan. Sering dosen dibikin tersinggung. Naudzu billah!

Dan, [5] kelebihan Kiai Warits, di antaranya, cara memberikan makna kitab yang mudah dimengerti, sekalipun belum dijelaskan. Kiai Suaidi menafsirkan tetang kepribadian beliau yang ahli tafsir, ahli ilmu balaghah, ahli ilmu mantik/logika, dll. Sekedar saya menyitir cerita teman-teman, Kiai Warits dijuluki “kamus berjalan” oleh teman-teman beliau karena beliau hafal kamus setebal Munjid.

***

Demikian oleh-oleh saya usai silaturrahim di hari raya idul fitri tahun 2015. Cerita selanjutnya dapat ditemui pada silaturahim berikutnya.[]

Congka’, 18 Juli 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...