Friday, July 24, 2015

Ngobro; Cinta, Mistik, dll



Anak tetangga dekat saya dihitan kemarin. Kepanikan orang tua, famili, dan tetangganya bermulai dari kontolnya yang keluar darah deras tanpa henti setelah pulang dari rumah si dokter. Mereka panik karena takut terjadi apa-apa. Banyak tetangga memanggil si anak itu Rehan.

Tadi malam (20/7) saya diminta untuk menghadiri rumahnya dalam rangka selamatan (tasyakuran). Selamatan dengan baca Surah Yasin, tahlil, dan doa bersama sering digelar di kampung saya. Saya mafhum masyarakat masih mempercayai keampuhan tasyakuran demi kesembuhan dan kebaikan orang yang disyukuri. Doa, berbasis kepercayaan mereka, merupakan media curhat antara hamba dan Tuhannya. Mereka merasa diri mereka lemah sehingga butuh pertolongan Dzat yang Maha Kuasa (al-qudrah). Dan, doa merupakan bentuk penyerahan terakhir seorang hamba kepada-Nya—jamak orang menyebut penyerahan itu dengan “tawakal”.

Ketika saya sampai di rumah tetangga yang mengundang saya, saya dipertemukan dengan teman sekaligus famili saya. Karena acara tasyakurannya belum dimulai, saya dan dia gobrol di pinggir beranda rumah. Aneka macam tema dibahas—dari yang privasi hingga yang umum—seperti tipe cewek tahun 2015 yang pemberani berinteraksi dan nekat berpacaran; perkenalan saya dengan famili  saya (perempuan) di Banyuangi melalui Facebook; cerita status single mbak saya, Ayis, sekarang setelah bertahun-tahun terikat dengan ikatan pertunangan; dan proses pernikahan teman saya, Amin, dengan seorang perempuan yang ditinggal kedua orang tuanya berkerja ke Malaysia.

Yang menarik dan membekas di benak saya, cerita teman saya yang tampak dewasa; bertanggung jawab. Dia tidak seperti kebanyakan orang yang berpacaran lalu mengombar janji-janji palsu: bilang setia, tulus, atau apalah. Akhirnya, dia PHP. Sikap seperti ini, menurut saya, termasuk kembaran dari tipe play-boy dan play-girl. Dua tipe ini lahir karena sikap kedewasaan seseorang yang belum matang—untuk tidak mengatakan “tidak dewasa”. Saat teman saya tahu kondisi istrinya yang termarjinalkan sebelum diikat dengan pertunangan dan pernikahan karena famili yang dipasrahi untuk menjaga kurang bertanggung jawab, teman saya merasa kasihan mendengarnya. Rasa iba mendorongnya mengambil keputusan meminang lalu menikahinya. “Betapa dewasanya temanku ini!” batin saya.

Selesai tasyakuran dan makan bareng, perbincangan hitan Rehan kepada Pak Fajar menghangat, mulai dari proses penghitanan, darah yang mengalir deras usai dihitan hingga perawatan ulang. Di sela-sela itu teman saya tadi tiba-tiba duduk di samping saya sembari bergumam, “Aku bareng Anam—tetangga dekat teman saya—dihitan dulu. Anam menahan jeritannya saat rasa sakit kambuh karena takut pada Pak Midi, familinya. Sedangkan, aku berteriak sekeras mungkin. Benar kata kebanyakan orang bahwa orang yang menjerit saat dihitan akan cepat-cepat menjalin pernikahan.” Kira-kira seperti itu saya menerjemah pernyataannya dari bahasa Madura ke bahasa Indonesia.

Saya kaget, “Masa iya?!”

“Itu hanya dugaan semata,” lanjut saya, “kira-kira siapa selain kamu yang punya peristiwa yang sama dengan yang kamu alami?”

“Fauzi dan Fauzan,” jawab Amin.

“Terus….” Pinta saya penasaran.

“Mereka kan saudara kembar, tapi mereka memiliki kharakter yang berbeda. Fauzi orangnya betah terutama menahan rasa sakit saat dihitan. Beda hal dengan Fauzan; dia menjerit dan berteriak mati-matian saat dihitan. Dia kan nggak betah merasakan perih dan pedihnya sakit,” jelas Amin panjang lebar.

Cerita teman saya mengingatkan saya pada pembahasan mistik dan filsafat waktu belajar di bangku kuliah INSTIKA—jika tidak salah semester 2 materi Filsafat yang diampuh Bapak Damanhuri, M.Ag. Mistik dan filsafat merupakan dua hal yang pradoks; sederhananya, mistik termasuk peristiwa yang tidak dapat dirasionalkan, sedangkan filsafat merupakan ilmu yang erat kaitannya dengan pemikiran rasional, sistematis, dan radikal. Tak ayal, jika mistik dan filsafat selalu berseberangan dan bertolak-belakang.

Selain itu, saya teringat dengan kekayaan mistik di pulau Madura—sejauh pengalaman saya menjalani hidup mulai masa kecil hingga dewasa kini. Madura yang berlatar pedesaan, setiap peristiwa yang telah, sedang, dan akan terjadi tak lepas/selalu dikaitkan dengan hal-hal yang berbau mistik. Orang ingin mondok, misalkan, hari keberangkatannya selalu didasarkan pada hari kelahirannya. Orang Madura sering menyebutnya “dedinan” (hari baik). Berbuat di luar dedinan yang baik tersebut diyakini akan berdampak negatif terhadap masa depannya.

Saya tidak menyangkal dan tidak menuhankan keberadaan mistik. Soal mistik bukan soal akal, tapi soal rasa dan fakta. Banyak kepercayaan tentang mistik ini yang akhirnya menjadi kenyataan. Misalkan dalam peristiwa yang lain yaitu pengantin laki-laki yang hendak masuk kamar-menemui si istri usai akad nikah berlangsung. Sering sandal si pengantin laki-laki dijaga; dikhawatirkan ada orang yang benci lalu membalikkan sandal tersebut. Jika sandal itu dibalik, maka akan mengakibatkan si lelaki itu impoten.

Satu cerita lagi, hampir-hampir saya beli sapi untuk peluang berbisnis lewat akad bagi hasil (mudarabah), segala hal saya pasrahkan kepada orang tua setelah saya tawakal kepada Allah swt. Waktu saya berada di Tebuireng Jombang karena mengikuti hataman kitab Shahih Bukhari, iseng-iseng saya tanya kepada umi selesai atau tidaknya pembelian sapi itu. Kata beliau, aba saya masih menunggu hari yang tepat untuk rencana pembelian itu. Diri saya membatin, “Menunggu hari yang tepat?!”

Melihat peristiwa-peristiwa mistik di atas, sebuah hadits tentang pengusapan dua sepatu (mash al-khaffain) yang saya dengar tempo dulu sejak belajar di MTs Al-Fur’qan tiba-tiba bertandang dalam otak saya, “Andaikan agama selalu didasarkan pada akal, niscaya tidak akan masuk akal mengusap bagian atas sepatu—sebab, yang kotor adalah bagian bawahnya.” Artinya, dunia tidak hanya diwarnai dengan peristiwa rasional semata, melainkan juga dihias dengan peristiwa mistik. Cinta pun demikian, bukankah?[] 

Slopeng, 21 Juli 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...