Anak
tetangga dekat saya dihitan kemarin. Kepanikan orang tua, famili, dan
tetangganya bermulai dari kontolnya yang keluar darah deras tanpa henti setelah
pulang dari rumah si dokter. Mereka panik karena takut terjadi apa-apa. Banyak
tetangga memanggil si anak itu Rehan.
Tadi
malam (20/7) saya diminta untuk menghadiri rumahnya dalam rangka selamatan
(tasyakuran). Selamatan dengan baca Surah Yasin, tahlil, dan doa bersama sering
digelar di kampung saya. Saya mafhum masyarakat masih mempercayai keampuhan
tasyakuran demi kesembuhan dan kebaikan orang yang disyukuri. Doa, berbasis
kepercayaan mereka, merupakan media curhat antara hamba dan Tuhannya. Mereka
merasa diri mereka lemah sehingga butuh pertolongan Dzat yang Maha Kuasa (al-qudrah). Dan, doa merupakan bentuk
penyerahan terakhir seorang hamba kepada-Nya—jamak orang menyebut penyerahan
itu dengan “tawakal”.
Ketika
saya sampai di rumah tetangga yang mengundang saya, saya dipertemukan dengan
teman sekaligus famili saya. Karena acara tasyakurannya belum dimulai, saya dan
dia gobrol di pinggir beranda rumah. Aneka macam tema dibahas—dari yang privasi
hingga yang umum—seperti tipe cewek tahun 2015 yang pemberani berinteraksi dan nekat
berpacaran; perkenalan saya dengan famili saya (perempuan) di Banyuangi melalui
Facebook; cerita status single mbak
saya, Ayis, sekarang setelah bertahun-tahun terikat dengan ikatan pertunangan; dan
proses pernikahan teman saya, Amin, dengan seorang perempuan yang ditinggal
kedua orang tuanya berkerja ke Malaysia.
Yang
menarik dan membekas di benak saya, cerita teman saya yang tampak dewasa;
bertanggung jawab. Dia tidak seperti kebanyakan orang yang berpacaran lalu
mengombar janji-janji palsu: bilang setia, tulus, atau apalah. Akhirnya, dia
PHP. Sikap seperti ini, menurut saya, termasuk kembaran dari tipe play-boy dan play-girl. Dua tipe ini lahir karena sikap kedewasaan seseorang
yang belum matang—untuk tidak mengatakan “tidak dewasa”. Saat teman saya tahu
kondisi istrinya yang termarjinalkan sebelum diikat dengan pertunangan dan
pernikahan karena famili yang dipasrahi untuk menjaga kurang bertanggung jawab,
teman saya merasa kasihan mendengarnya. Rasa iba mendorongnya mengambil
keputusan meminang lalu menikahinya. “Betapa dewasanya temanku ini!” batin
saya.
Selesai
tasyakuran dan makan bareng, perbincangan hitan Rehan kepada Pak Fajar
menghangat, mulai dari proses penghitanan, darah yang mengalir deras usai
dihitan hingga perawatan ulang. Di sela-sela itu teman saya tadi tiba-tiba
duduk di samping saya sembari bergumam, “Aku bareng Anam—tetangga dekat teman
saya—dihitan dulu. Anam menahan jeritannya saat rasa sakit kambuh karena takut
pada Pak Midi, familinya. Sedangkan, aku berteriak sekeras mungkin. Benar kata
kebanyakan orang bahwa orang yang menjerit saat dihitan akan cepat-cepat
menjalin pernikahan.” Kira-kira seperti itu saya menerjemah pernyataannya dari
bahasa Madura ke bahasa Indonesia.
Saya
kaget, “Masa iya?!”
“Itu
hanya dugaan semata,” lanjut saya, “kira-kira siapa selain kamu yang punya
peristiwa yang sama dengan yang kamu alami?”
“Fauzi
dan Fauzan,” jawab Amin.
“Terus….”
Pinta saya penasaran.
“Mereka
kan saudara kembar, tapi mereka memiliki kharakter yang berbeda. Fauzi orangnya
betah terutama menahan rasa sakit saat dihitan. Beda hal dengan Fauzan; dia
menjerit dan berteriak mati-matian saat dihitan. Dia kan nggak betah merasakan
perih dan pedihnya sakit,” jelas Amin panjang lebar.
Cerita
teman saya mengingatkan saya pada pembahasan mistik dan filsafat waktu belajar
di bangku kuliah INSTIKA—jika tidak salah semester 2 materi Filsafat yang
diampuh Bapak Damanhuri, M.Ag. Mistik dan filsafat merupakan dua hal yang pradoks;
sederhananya, mistik termasuk peristiwa yang tidak dapat dirasionalkan,
sedangkan filsafat merupakan ilmu yang erat kaitannya dengan pemikiran
rasional, sistematis, dan radikal. Tak ayal, jika mistik dan filsafat selalu
berseberangan dan bertolak-belakang.
Selain
itu, saya teringat dengan kekayaan mistik di pulau Madura—sejauh pengalaman
saya menjalani hidup mulai masa kecil hingga dewasa kini. Madura yang berlatar
pedesaan, setiap peristiwa yang telah, sedang, dan akan terjadi tak
lepas/selalu dikaitkan dengan hal-hal yang berbau mistik. Orang ingin mondok,
misalkan, hari keberangkatannya selalu didasarkan pada hari kelahirannya. Orang
Madura sering menyebutnya “dedinan”
(hari baik). Berbuat di luar dedinan yang
baik tersebut diyakini akan berdampak negatif terhadap masa depannya.
Saya
tidak menyangkal dan tidak menuhankan keberadaan mistik. Soal mistik bukan soal
akal, tapi soal rasa dan fakta. Banyak kepercayaan tentang mistik ini yang
akhirnya menjadi kenyataan. Misalkan dalam peristiwa yang lain yaitu pengantin
laki-laki yang hendak masuk kamar-menemui si istri usai akad nikah berlangsung.
Sering sandal si pengantin laki-laki dijaga; dikhawatirkan ada orang yang benci
lalu membalikkan sandal tersebut. Jika sandal itu dibalik, maka akan
mengakibatkan si lelaki itu impoten.
Satu
cerita lagi, hampir-hampir saya beli sapi untuk peluang berbisnis lewat akad
bagi hasil (mudarabah), segala hal
saya pasrahkan kepada orang tua setelah saya tawakal kepada Allah swt. Waktu
saya berada di Tebuireng Jombang karena mengikuti hataman kitab Shahih Bukhari, iseng-iseng saya tanya kepada
umi selesai atau tidaknya pembelian sapi itu. Kata beliau, aba saya masih
menunggu hari yang tepat untuk rencana pembelian itu. Diri saya membatin,
“Menunggu hari yang tepat?!”
Melihat
peristiwa-peristiwa mistik di atas, sebuah hadits tentang pengusapan dua sepatu
(mash al-khaffain) yang saya dengar
tempo dulu sejak belajar di MTs Al-Fur’qan tiba-tiba bertandang dalam otak
saya, “Andaikan agama selalu didasarkan pada akal, niscaya tidak akan masuk
akal mengusap bagian atas sepatu—sebab, yang kotor adalah bagian bawahnya.”
Artinya, dunia tidak hanya diwarnai dengan peristiwa rasional semata, melainkan
juga dihias dengan peristiwa mistik. Cinta pun demikian, bukankah?[]
Slopeng, 21 Juli 2015
No comments:
Post a Comment