Sejak
saya tahu Facebook saya diblokir oleh Anda, saya coba bertafakur, “Kenapa
diblokir? Memangnya ada yang salah tentang diriku? Atau Anda ingin memutus tali
persahabatan? Bukankah saya dan Anda telah sepakat bersahabat?” Aneh! Otak saya
buntu. Satu di antara deretan pertanyaan tak mampu saya jawab.
Allah
swt berfirman: fas aluu ahla al-dikr (bertanyalah
kepada orang yang lebih tahu). Mengiring kalam-Nya, saya ng-inbox kepada teman Facebook saya, Elvien
Elviana. Awalnya, saya tanya kabar Anda dilanjutkan dengan cerita tentang
pemblokiran itu. Karena dia bukan Tuhan, dia menanggalkan pertanyaan saya.
Hingga sekarang dia belum menjawabnya.
Nafsu
berbuat yang setimpal tentang pemblokiran ini tiba-tiba mendorong saya. Tapi,
novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk-nya
Hamka mengingatkan saya akan seorang Zainuddin
yang berusaha bersabar hingga jadi seorang penulis hebat sekalipun dia dihianati
seorang Hayati yang berjanji setia tapi akhirnya memilih orang lain. Atas
cerita itu, saya memilih bersabar. Biarlah Tuhan mengaruniakan petunjuk-Nya
sampai Anda sadar bahwa setia atau tulus adalah bagian dari sikap kedewasaan
seseorang.
Menjelang
hari raya idul fitri hari Jum’at (16/7), saya menunggu hingga tiga hari
setelahnya: Apakah Anda akan nelepon
untuk sekedar mengucapkan “Minal aidzin wal faizin”? Tapi harapan itu
nihil. Terpaksa, saya phone Anda.
Saat saya dan Anda ngobrol kelamaan melalui ponsel, sebuah pertanyaan yang tak
terduga timbul dari lisan Anda, “Apakah abang masih sayang padaku?” dan “Apakah
abang masih cinta padaku?” Dua pertanyaan itu dijawab dengan sangat singkat,
yaitu “iya”.
Saya
membatin: Kenapa pertanyaan itu sempat
saya dengar lagi? Bukankah kita telah mengakhiri segalanya pada tanggal 24 Juli
2015 kemarin?
Setelah
Anda kasih tahu pada saya bahwa Anda akan pulang berkunjung ke Madura, yakni
rumah aba Anda di Pakong Pamekasan, sehari setelah saya phone ini, saya diminta Anda mengambil power bank saya yang
ketinggalan di Situbondo waktu saya mengunjungi Anda 1 tahun silam. Atas
keikhlasan Anda, power bank itu Anda
bawa ke Madura.
Kemarin
(23/7) saya dan famili saya mengunjungi Anda jauh-jauh dari Sumenep ke
Pamekasan. Mutar-mutar dan belok sini, belok sana, akhirnya sampai juga di
sebuah rumah famili Anda. Anda menyambutnya, lalu saya masuk ke beranda rumah dan
dipersilahkan duduk. Saya duduk bersila. Anda duduk berjuntai persis di depan
tempat duduk saya. Anda sekarang masih seperti Anda dulu. Cantik. Saya
membatin. Kelemahan laki-laki memang ada pada penglihatan, sedangkan kelemahan
perempuan ada pada pendengaran. Mata saya lemah menepis ciptaan-Nya. Apakah menepisnya termasuk kufur akan
nikmat-Nya? Bukankah memuji dan memuja ciptan-Nya adalah memuji-Nya?
Hati
saya sedikit terpikat karena kecantikan. Otak saya berpikir bahwa perempuan
cantik bukan karena wajahnya kelihatan cantik dan body-nya seksi, tapi kecantikan perempuan, tafsir saya, dialah yang
dewasa yakni tulus—untuk tidak mengatakan ‘tidak play-girl’—dan berwajah molek.
Selama
kepulangan saya dari Pamekasan menuju ke dan hingga di rumah, wajah Anda tetap
membekas dalam pikir. Kalau pun capek yang memaksa saya beristirahat di atas
tikar dan saya berusaha berbaring sambil memejamkan mata, psikologi saya tergoncang.
Akhirnya, saya beranjak dan keluar kamar lihat-lihat pemandangan sekitar.
Sambil
merenung di atas kegundahan psikologi, petikan kalimat dalam doa usai shalat
istiharah—shalat sebagai media curhat hamba kepada Tuhannya atas keambiguan
dalam mengambil keputusan, sehingga melalui shalat itu, keambiguan itu hilang
dan keputusannya terjawab, baik melalui mimpi atau cara yang lain—tiba-tiba
terbersit di dalam otak saya. Begini petikan kalimatnya: Allahumma in kunta ta’lamu anna hadha al-amru khairun li fi dini wa
ma’asyi wa akibati amri ajilihi wa ajilihi fakdurhu li tsumma barikli fihih wa
inkunta ta’lamu anna hadha al-amr syarrun li fi dini wa ma’asyi wa akibati amri
ajilihi wa ajilihi fashrifhu anni wasrifni anhu (Wahai Allah jika engkau
tahu bahwa hal ini baik untuk agamaku, kehidupanku, dan dampak urusanku, baik
secara langsung dan nanti, maka berikanlah kekuatan (bersabar) bagiku menghadapinya
dan berilah keberkahan bagiku tentangnya. Sebaliknya, jika engkau tahu bahwa
hal ini tidak baik untuk agamaku, kehidupanku, dan dampak urusanku, baik secara
langsung dan nanti, maka hindarkanlah ia dariku dan hindarkanlah aku darinya).
Merenungkan
kandungan doa ini psikologi saya sedikit stabil. Apa pun keputusannya kendati
bertentangan dengan kemauan saya, saya yakini, termasuk pilihan terbaik yang
diberikan Allah swt kepada makhluk-Nya. Tidak perlu prustasi, karena hanya
Dialah seorang yang mengetahui apa yang belum diketahui makhluk-Nya.
Saat-saat
seperti ini atau kapan pun saya harus kembali kepada petikan firman Allah: Terkadang kamu membeci sesuatu, padahal itu
baik bagimu. Dan, terkadang kamu mencintai sesuatu, padahal itu jelek bagimu. Artinya,
tafsir manusia masih nisbi, sedangkan tafsir Tuhan yang mutlak alias pasti.
Saya
dan Anda tak perlu kikuk melangkah. Lepaslah pengikat yang mengerangkeng
kemerdekaan hidup. Segala usaha saya dan Anda tidak akan dinilai sia-sia di
sisi Tuhan. Tapi, soal keputusan tetap di atas kekuasaan-Nya.[]
Congka’, 24 Juli 2015
No comments:
Post a Comment