Friday, July 24, 2015

Menyikapi Saya tentang “Anda”



Sejak saya tahu Facebook saya diblokir oleh Anda, saya coba bertafakur, “Kenapa diblokir? Memangnya ada yang salah tentang diriku? Atau Anda ingin memutus tali persahabatan? Bukankah saya dan Anda telah sepakat bersahabat?” Aneh! Otak saya buntu. Satu di antara deretan pertanyaan tak mampu saya jawab.

Allah swt berfirman: fas aluu ahla al-dikr (bertanyalah kepada orang yang lebih tahu). Mengiring kalam-Nya, saya ng-inbox kepada teman Facebook saya, Elvien Elviana. Awalnya, saya tanya kabar Anda dilanjutkan dengan cerita tentang pemblokiran itu. Karena dia bukan Tuhan, dia menanggalkan pertanyaan saya. Hingga sekarang dia belum menjawabnya.

Nafsu berbuat yang setimpal tentang pemblokiran ini tiba-tiba mendorong saya. Tapi, novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk-nya Hamka mengingatkan saya akan seorang Zainuddin yang berusaha bersabar hingga jadi seorang penulis hebat sekalipun dia dihianati seorang Hayati yang berjanji setia tapi akhirnya memilih orang lain. Atas cerita itu, saya memilih bersabar. Biarlah Tuhan mengaruniakan petunjuk-Nya sampai Anda sadar bahwa setia atau tulus adalah bagian dari sikap kedewasaan seseorang.

Menjelang hari raya idul fitri hari Jum’at (16/7), saya menunggu hingga tiga hari setelahnya: Apakah Anda akan nelepon untuk sekedar mengucapkan “Minal aidzin wal faizin”? Tapi harapan itu nihil. Terpaksa, saya phone Anda. Saat saya dan Anda ngobrol kelamaan melalui ponsel, sebuah pertanyaan yang tak terduga timbul dari lisan Anda, “Apakah abang masih sayang padaku?” dan “Apakah abang masih cinta padaku?” Dua pertanyaan itu dijawab dengan sangat singkat, yaitu “iya”.

Saya membatin: Kenapa pertanyaan itu sempat saya dengar lagi? Bukankah kita telah mengakhiri segalanya pada tanggal 24 Juli 2015 kemarin?

Setelah Anda kasih tahu pada saya bahwa Anda akan pulang berkunjung ke Madura, yakni rumah aba Anda di Pakong Pamekasan, sehari setelah saya phone ini, saya diminta Anda mengambil power bank saya yang ketinggalan di Situbondo waktu saya mengunjungi Anda 1 tahun silam. Atas keikhlasan Anda, power bank itu Anda bawa ke Madura.

Kemarin (23/7) saya dan famili saya mengunjungi Anda jauh-jauh dari Sumenep ke Pamekasan. Mutar-mutar dan belok sini, belok sana, akhirnya sampai juga di sebuah rumah famili Anda. Anda menyambutnya, lalu saya masuk ke beranda rumah dan dipersilahkan duduk. Saya duduk bersila. Anda duduk berjuntai persis di depan tempat duduk saya. Anda sekarang masih seperti Anda dulu. Cantik. Saya membatin. Kelemahan laki-laki memang ada pada penglihatan, sedangkan kelemahan perempuan ada pada pendengaran. Mata saya lemah menepis ciptaan-Nya. Apakah menepisnya termasuk kufur akan nikmat-Nya? Bukankah memuji dan memuja ciptan-Nya adalah memuji-Nya?

Hati saya sedikit terpikat karena kecantikan. Otak saya berpikir bahwa perempuan cantik bukan karena wajahnya kelihatan cantik dan body-nya seksi, tapi kecantikan perempuan, tafsir saya, dialah yang dewasa yakni tulus—untuk tidak mengatakan ‘tidak play-girl’—dan berwajah molek.

Selama kepulangan saya dari Pamekasan menuju ke dan hingga di rumah, wajah Anda tetap membekas dalam pikir. Kalau pun capek yang memaksa saya beristirahat di atas tikar dan saya berusaha berbaring sambil memejamkan mata, psikologi saya tergoncang. Akhirnya, saya beranjak dan keluar kamar lihat-lihat pemandangan sekitar.

Sambil merenung di atas kegundahan psikologi, petikan kalimat dalam doa usai shalat istiharah—shalat sebagai media curhat hamba kepada Tuhannya atas keambiguan dalam mengambil keputusan, sehingga melalui shalat itu, keambiguan itu hilang dan keputusannya terjawab, baik melalui mimpi atau cara yang lain—tiba-tiba terbersit di dalam otak saya. Begini petikan kalimatnya: Allahumma in kunta ta’lamu anna hadha al-amru khairun li fi dini wa ma’asyi wa akibati amri ajilihi wa ajilihi fakdurhu li tsumma barikli fihih wa inkunta ta’lamu anna hadha al-amr syarrun li fi dini wa ma’asyi wa akibati amri ajilihi wa ajilihi fashrifhu anni wasrifni anhu (Wahai Allah jika engkau tahu bahwa hal ini baik untuk agamaku, kehidupanku, dan dampak urusanku, baik secara langsung dan nanti, maka berikanlah kekuatan (bersabar) bagiku menghadapinya dan berilah keberkahan bagiku tentangnya. Sebaliknya, jika engkau tahu bahwa hal ini tidak baik untuk agamaku, kehidupanku, dan dampak urusanku, baik secara langsung dan nanti, maka hindarkanlah ia dariku dan hindarkanlah aku darinya).

Merenungkan kandungan doa ini psikologi saya sedikit stabil. Apa pun keputusannya kendati bertentangan dengan kemauan saya, saya yakini, termasuk pilihan terbaik yang diberikan Allah swt kepada makhluk-Nya. Tidak perlu prustasi, karena hanya Dialah seorang yang mengetahui apa yang belum diketahui makhluk-Nya.

Saat-saat seperti ini atau kapan pun saya harus kembali kepada petikan firman Allah: Terkadang kamu membeci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan, terkadang kamu mencintai sesuatu, padahal itu jelek bagimu. Artinya, tafsir manusia masih nisbi, sedangkan tafsir Tuhan yang mutlak alias pasti.

Saya dan Anda tak perlu kikuk melangkah. Lepaslah pengikat yang mengerangkeng kemerdekaan hidup. Segala usaha saya dan Anda tidak akan dinilai sia-sia di sisi Tuhan. Tapi, soal keputusan tetap di atas kekuasaan-Nya.[]

Congka’, 24 Juli 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...