Friday, July 24, 2015

Ki Muna dan Kejunilannya



Sebuah kuburan yang baru saya kenal dekat masjid Nurul Huda Congka’ adalah kuburan Ki Muna. Kuburan itu tampak berbeda di antara kuburan-kuburan yang lain di sekitarnya. Perbedaan yang mencolok adalah tebing yang mengitari kuburan Ki Muna.

Saya sering melihat kuburan yang satu itu. Tapi, saya enggan bertanya dan investigasi lebih jauh. Hanya sebuah pertanyaan terkadang bertandangan, “Kok dikasih tebing?!” dan sekedar mengira bahwa kuburan itu adalah kuburan famili saya, tapi saya tidak tahu identitas kefamiliannya.

Sejak keluarga dan tetangga dekat saya tasyakuran bersama di kuburan itu, saya sempatkan bertanya. Ternyata, itu adalah kuburan Ki Muna. Nama Ki Muna pernah saya dengar, tapi sering saya lupa tipe genetiknya yaitu saudara buyut saya, Ki Sadalih. Hanya yang diingat adalah nama kekek dan nenek saya.

Ketakjuban tentang Ki Muna bermula dari cerita-cerita bibi saya, Mak Onang—panggilan saya, sedangkan nama aslinya Riskiya. Kata bibi, beliau dikenal mantih pangocap (perkataannya mudah terkabulkan oleh Allah swt). Ceritanya begini.

[1] Ki Muna mendapat saran dari Kiai Ali Wafa—abanya Kiai Thaifur Ali Wafa—bahwa beliau tidak meludah sembarangan. Dikhawatirkan ludah beliau diinjak atau dilewati anak, cucu, dan cicit beliau, sehingga berdampak negatif.

[2] Suatu ketika beliau diundang membaca Al-Qur’an. Di depan beliau ada daging ayam mentah. Beliau berkata kepada daging itu, “Hei deging, engko’ ta’ embuwa ngaji mon been tak massa’.” Akhirnya, daging mentah jadi matang, lalu dimakan beliau. Baru beliau mengakhiri ngaji Al-Qur’annya.

[3] Suatu hari beliau diminta orang lain cukup mengucapkan sesuatu pada kodok yang sedang berada di dalam kendi besar yang di dalamnya berisi air penuh. Beliau diminta berucap, “Kata’, enom aeng sebedhe edhelem kendi jeriya sampe’ tadhe’.” Al-Hasil, air penuh di dalam kendi besar dapat habis karena diminum kodok yang secara akal sehat tak dapat menghabiskan air sebanyak itu.

Dan, [4] bibi saya tadi termasuk orang yang dekat dengan beliau. Saking dekatnya, sering dia mendengar petuah-petuah beliau dari yang “a” sampai “z”. Karena bibi saya satu-satunya cucu beliau yang berjenis kelamin perempuan, beliau sangat menginginkan dia tetap tinggal di rumahnya sendiri, tidak ikut suaminya. Suatu waktu Ki Muna bilang sama bibi saya, jika kamu tinggal di rumah suamimu, semoga kamu tak pernah sakit. Disitir dari pengakuan bibi saya, dia tidak pernah mengidap penyakit atau sakit bertahun-tahun sejak dia tinggal di rumah suaminya hingga sekarang.

Cerita itu bukan promosi, tapi bentuk rasa syukur atas karunia Tuhan yang diberikan kepada hamba-Nya yang tidak semua orang mendapatkannya, melainkan hamba-Nya yang selalu mendekatkan diri dan mengingat-Nya. Bukankah mengingat-Nya adalah langkah Dia ingat kepada hamba-Nya? Dalam Al-Qur’an, udzkurni adzkurkum (ingatlah kepadaku, niscaya aku mengingatmu).

Peristiwa-peristiwa di luar kebiasaan itu, bagi saya, termasuk karamah yang diberikan Tuhan kepada waliyullah. Saya hanya memprediksi Ki Muna adalah salah satu di antara para waliyullah. Sebab, hanya orang yang wali yang mengetahui status kewalian orang lain.

Dan, dengan hadirnya cerita-cerita kita sebagai pembaca ikut berfikir dan bertanya, “Kenapa kejunilan itu Ki Muna raih?”[]

Congka’, 16 Juli 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...