Sebuah
kuburan yang baru saya kenal dekat masjid Nurul Huda Congka’ adalah kuburan Ki
Muna. Kuburan itu tampak berbeda di antara kuburan-kuburan yang lain di sekitarnya.
Perbedaan yang mencolok adalah tebing yang mengitari kuburan Ki Muna.
Saya sering
melihat kuburan yang satu itu. Tapi, saya enggan bertanya dan investigasi lebih
jauh. Hanya sebuah pertanyaan terkadang bertandangan, “Kok dikasih tebing?!”
dan sekedar mengira bahwa kuburan itu adalah kuburan famili saya, tapi saya
tidak tahu identitas kefamiliannya.
Sejak
keluarga dan tetangga dekat saya tasyakuran bersama di kuburan itu, saya
sempatkan bertanya. Ternyata, itu adalah kuburan Ki Muna. Nama Ki Muna pernah
saya dengar, tapi sering saya lupa tipe genetiknya yaitu saudara buyut saya, Ki
Sadalih. Hanya yang diingat adalah nama kekek dan nenek saya.
Ketakjuban
tentang Ki Muna bermula dari cerita-cerita bibi saya, Mak Onang—panggilan saya,
sedangkan nama aslinya Riskiya. Kata bibi, beliau dikenal mantih pangocap (perkataannya mudah terkabulkan oleh Allah swt). Ceritanya
begini.
[1] Ki
Muna mendapat saran dari Kiai Ali Wafa—abanya Kiai Thaifur Ali Wafa—bahwa
beliau tidak meludah sembarangan. Dikhawatirkan ludah beliau diinjak atau
dilewati anak, cucu, dan cicit beliau, sehingga berdampak negatif.
[2] Suatu
ketika beliau diundang membaca Al-Qur’an. Di depan beliau ada daging ayam
mentah. Beliau berkata kepada daging itu, “Hei
deging, engko’ ta’ embuwa ngaji mon been tak massa’.” Akhirnya, daging
mentah jadi matang, lalu dimakan beliau. Baru beliau mengakhiri ngaji
Al-Qur’annya.
[3] Suatu
hari beliau diminta orang lain cukup mengucapkan sesuatu pada kodok yang sedang
berada di dalam kendi besar yang di dalamnya berisi air penuh. Beliau diminta
berucap, “Kata’, enom aeng sebedhe
edhelem kendi jeriya sampe’ tadhe’.” Al-Hasil, air penuh di dalam kendi
besar dapat habis karena diminum kodok yang secara akal sehat tak dapat
menghabiskan air sebanyak itu.
Dan,
[4] bibi saya tadi termasuk orang yang dekat dengan beliau. Saking dekatnya,
sering dia mendengar petuah-petuah beliau dari yang “a” sampai “z”. Karena bibi
saya satu-satunya cucu beliau yang berjenis kelamin perempuan, beliau sangat menginginkan
dia tetap tinggal di rumahnya sendiri, tidak ikut suaminya. Suatu waktu Ki Muna
bilang sama bibi saya, jika kamu tinggal
di rumah suamimu, semoga kamu tak pernah sakit. Disitir dari pengakuan bibi
saya, dia tidak pernah mengidap penyakit atau sakit bertahun-tahun sejak dia
tinggal di rumah suaminya hingga sekarang.
Cerita
itu bukan promosi, tapi bentuk rasa syukur atas karunia Tuhan yang diberikan
kepada hamba-Nya yang tidak semua orang mendapatkannya, melainkan hamba-Nya
yang selalu mendekatkan diri dan mengingat-Nya. Bukankah mengingat-Nya adalah
langkah Dia ingat kepada hamba-Nya? Dalam Al-Qur’an, udzkurni adzkurkum (ingatlah kepadaku, niscaya aku mengingatmu).
Peristiwa-peristiwa
di luar kebiasaan itu, bagi saya, termasuk karamah yang diberikan Tuhan kepada
waliyullah. Saya hanya memprediksi Ki Muna adalah salah satu di antara para waliyullah.
Sebab, hanya orang yang wali yang mengetahui status kewalian orang lain.
Dan,
dengan hadirnya cerita-cerita kita sebagai pembaca ikut berfikir dan bertanya,
“Kenapa kejunilan itu Ki Muna raih?”[]
Congka’, 16 Juli 2015
No comments:
Post a Comment