Kalau
pun di rumah tersedia laptop untuk
lebih leluasa menulis, sifat nakal tetap saja menjerat tangan saya pijat tombol
untuk menulis. Yang sering saya lakukan hanya nonton film atau mendengarkan
musik. Dua aktivitas ini menjadi penting jika saya bisa menyikapinya;
menjadikan nonton sebagai tambahan pengetahuan untuk mengetahui cara
berekspresi dan bertutur, demikian mendengarkan musik untuk menyimak makna yang
tersurat, melatih listening dll.
Namun,
aktivitas menulis, bagi saya, jauh lebih penting untuk mewarnai dunia dibanding
nonton dan dengar musik. Tanpa kita sadari dunia menjadi berkembang; kaya
peradaban, ekonomi meningkat, dan teknologi berkembang pesat, tentu tak lepas
dari warisan manuskrip-manuskrip yang lahir dari aktivitas menulis. Contoh
gamblangnya Al-Qur’an yang mampu kita rengkuh dan baca sekarang karena ditulis
sehingga menjadi mushaf. Dibayangkan saja, bagaimana jadinya andaikan Al-Qur’an
yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw dan disampaikan kepada para sahabat hingga
mereka mampu menghafalnya, tidak dimushafkan? Tentu, kita akan menjadi orang
yang buta dan bodoh karena tidak bisa membaca dan memahaminya.
Ghirah
menulis saya mampu bangkit kembali sejak saya punya blog. Melalui blog, saya
dapat menge-post tulisan-tulisan saya
sehingga dapat dibaca banyak orang di penjuru dunia. Entahlah komentar pembaca
itu positif atau negatif; suka atau tidak. Nyatanya benar. Sejak blog saya jadi,
saya telah posting 42 tulisan yang
saya ketik di komputer dan selesai diedit jauh hari sebelum itu. Tulisan itu
saya posting di Tebuireng Jombang. Di
sana banyak warnet yang buka di pinggir jalan. Kira-kira 3 warnet. Hanya saja
blog saya masih sepi pengunjung alias pengikutnya nol. Saya sadari itu masih
blog baru. Tak seperti “Rindu Pulang,” blog Kiai M. Musthafa, “Dee Idea,” blog
milik Dee Lestari, “Sareyang,” blog yang dikelola Kiai M. Faizi, dll. Ketiga
blog ini dibuat sebelum tahun 2002-an, tahun sebelum saya tahu-menahu tentang
dunia kepenulisan, dan telah ditambahkan di blog saya. Oleh sebab itu, saya
dapat membaca tulisan-tulisan ketiga penulis terkenal ini karena saya legal
jadi pengikutnya.
Bercita-cita
menjadi penulis yang handal memang mudah, tapi membikin cita-cita ini menjadi
kenyataan sungguh sangat dan sangat sulit. Saya husn al-dhan bahwa menulis di blog saya, “Taretan Kaffah”, menjadi awal
saya melangkah, mengarsip tulisan-tulisan saya dan berproses untuk meraih mimpi
melangit dan tertanam kuat di hati yaitu menjadi penulis. Saya sadar, masing-masing
orang punya mimpi yang berbeda. Kalau pun mimpi saya bukanlah mimpi mereka,
saya tak peduli. Karena mimpi yang saya junjung adalah hasil ikhtiar saya. Hati
saya berkeyakinan bahwa menjadi penulis adalah cita-cita yang mampu
menjebatani-keluar dari kesulitan hidup menjadi mudah.
Merujuk
cerita teman saya di Tebuireng bahwa Radit Adhitiya sukses dan booming melalui perantara posting tulisan-tulisannya di blog. Tak
elak, jamak orang yang suka mengkonsumsi tulisan-tulisannya. Sehingga, nama
Adhitiya kesohor.
Selain
itu, seorang yang berproses dan jadi penulis harus punya blog. Awalnya saya
sadar saat saya chatting di Facebook dengan
famili saya di Banyuangi yaitu Naila Warda. Waktu saya bilang bahwa saya suka
menulis, dia tanya blog saya. Saya diam sebentar dan jawab, “Saya nggak punya
blog.” Tambah saya, “Inginnya buat dari kemarin, tapi nggak sempat, apalagi
internet dilarang di pondok.”
Alasan
seperti itu logis, tapi saya kira bukan alasan yang cerdas; alasan menutupi
aib. Di suatu perjalanan dari Madura menuju Tebuireng, saya menyinggung tentang
blog pada teman saya, Fairosi. Dia, dalam ceritanya, mengaku punya blog. Sebuah
kalimat membersit di dalam pikiran, jadi dia bisa buat blog. Terus teman
sekelas saya waktu MTs dulu—namanya Roychan Fajar—dengar-dengar punya blog
dengan akun blognya, “Gubuk Roychan.” Benar atau tidaknya saya masih belum searching di internet. Itu hanya cerita
teman saya tadi.
Selanjutnya,
saya berjanji menge-post tulisan-tulisan
saya di blog saya. Selamat membaca, kawan![]
Congka’, 5 Juli 2015