Monday, July 6, 2015

Menjumpai Si Tukang Pijat



Propesi seseorang tak semuanya sama; ada yang jadi petani, guru, pembisnis, penyanyi sampai yang jadi pijat. Beraneka propesi ini, disadari atau tidak, sebenarnya tak luput dari skill yang melekat pada diri seseorang. Sulit—untuk tidak bilang tidak mungkin—orang petani, misalkan, berpropesi sebagai penyanyi. Irwan, penyanyi asal Madura, booming tanpa kita kira, sejatinya skill menyanyi sudah mendarah dalam diri Irwan sejak kanak-kanak. Irwan pernah melantunkan lagu dengan tajuk Yatim Piatu tempo dulu dengan seorang anak perempuan (saya sendiri tak tahu namanya), kemudian skill itu dikembang di Band Vertical, klub musik lokal. Di klub musik itulah lahir beberapa lagu seperti Tersenyumlah, dll.

Teringat dengan skill yang mendukung terciptanya propesi seseorang, saya teringat dengan kebiasaan yang terjadi di pedesaan, yaitu pijat. Pijat, mungkin, lahir dari pedesaan yang sangat kental dengan mistik, sehingga sering saya temui mistik-mistik dalam menjalani aktivitas pijat. Misalkan, minyak pijat biasanya tidak dapat dipakai pada malam Jum’at dan malam Selasa; banyak pasien yang cocok atau mujarrab pijat pada pemijat tertentu; dan sering doa dibacakan saat aktivitas pijat berlangsung.

Saya termasuk santri aktif yang terkadang merasa kurang enak atau pegal. Keinginan berpijat tiba-tiba terbersit, tapi kepada siapa? Apakah kepada kepada pemijat dekat area pondok saya? Apakah cara pijat mereka mujarrab? Pertanyaan-pertanyaan ini sering terlintas sampai-sampai mendorong saya pulang rumah karena saya punya nenek pemijat yang mampu menghapus rasa pegal dan rasa nyeri yang memukul-mukul badan saya. Banyak orang di sekitar rumah saya memanggil si nenek itu “Nyi Moha”. Sayangnya, si nenek itu tiada karena sudah meninggal.

Pasca kepergiannya saya kebingungan mencari pemijat professional sebagai penerus si nenek tadi. Untuk mencari pengganti yang tulen didikannya, saya merasa kesulitan karena dia selama hidupnya tidak pernah mengajarkan cara pijat ala si nenek itu atau buka kursus. Ilmu pijatnya yang mujarrab dan diminati banyak orang berakhir setelah dia mengakhiri hidupnya. Akhirnya, saya menunda rencana pijat itu hingga berkisar kira-kira satu tahun. Anehnya, di sela-sela perjalanan waktu Tuhan mencipta pemijat dekat rumah saya yang baru naik daun. Tetangga saya bercerita bahwa si pemijat baru itu mampu menyembuhkan sakit pasien. Sekedar coba-coba mujarrab dan tidanya, faktanya sakit yang bikin badan saya terasa tidak enak akhirnya sembuh. Banyak orang memanggilnya Buk Mahmudi.

Sampai sekarang saya sudah coba dua kali, al-hamdulillah hasilnya terasa memuaskan. Hal-hal yang berbau mistik seperti di atas juga saya jumpai pada si pemijat baru itu. Kalaupun sesuatu yang mistik itu tidak ilmiah, saya tidak berani membantah. Saya hanya diam dan menyimpulkan bahwa dunia tak semuanya ilmiah.

Mbok, mungkin engkau adalah pemijat yang dikirim Tuhan untuk meringankan beban orang di sekitar atau pelosok sana. Terus tingkatkan kualitas pijat Mbok sehingga rizki Tuhan mengalir tiada henti.[]

Congka’, 5 Juli 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...