Propesi
seseorang tak semuanya sama; ada yang jadi petani, guru, pembisnis, penyanyi
sampai yang jadi pijat. Beraneka propesi ini, disadari atau tidak, sebenarnya
tak luput dari skill yang melekat pada diri seseorang. Sulit—untuk tidak bilang
tidak mungkin—orang petani, misalkan, berpropesi sebagai penyanyi. Irwan,
penyanyi asal Madura, booming tanpa kita
kira, sejatinya skill menyanyi sudah mendarah dalam diri Irwan sejak
kanak-kanak. Irwan pernah melantunkan lagu dengan tajuk Yatim Piatu tempo dulu
dengan seorang anak perempuan (saya sendiri tak tahu namanya), kemudian skill
itu dikembang di Band Vertical, klub musik lokal. Di klub musik itulah lahir
beberapa lagu seperti Tersenyumlah, dll.
Teringat
dengan skill yang mendukung terciptanya propesi seseorang, saya teringat dengan
kebiasaan yang terjadi di pedesaan, yaitu pijat. Pijat, mungkin, lahir dari pedesaan
yang sangat kental dengan mistik, sehingga sering saya temui mistik-mistik
dalam menjalani aktivitas pijat. Misalkan, minyak pijat biasanya tidak dapat
dipakai pada malam Jum’at dan malam Selasa; banyak pasien yang cocok atau
mujarrab pijat pada pemijat tertentu; dan sering doa dibacakan saat aktivitas
pijat berlangsung.
Saya
termasuk santri aktif yang terkadang merasa kurang enak atau pegal. Keinginan
berpijat tiba-tiba terbersit, tapi kepada siapa? Apakah kepada kepada pemijat
dekat area pondok saya? Apakah cara pijat mereka mujarrab?
Pertanyaan-pertanyaan ini sering terlintas sampai-sampai mendorong saya pulang
rumah karena saya punya nenek pemijat yang mampu menghapus rasa pegal dan rasa nyeri
yang memukul-mukul badan saya. Banyak orang di sekitar rumah saya memanggil si
nenek itu “Nyi Moha”. Sayangnya, si nenek itu tiada karena sudah meninggal.
Pasca
kepergiannya saya kebingungan mencari pemijat professional sebagai penerus si nenek tadi. Untuk mencari pengganti
yang tulen didikannya, saya merasa kesulitan karena dia selama hidupnya tidak
pernah mengajarkan cara pijat ala si nenek itu atau buka kursus. Ilmu pijatnya
yang mujarrab dan diminati banyak orang berakhir setelah dia mengakhiri
hidupnya. Akhirnya, saya menunda rencana pijat itu hingga berkisar kira-kira
satu tahun. Anehnya, di sela-sela perjalanan waktu Tuhan mencipta pemijat dekat
rumah saya yang baru naik daun. Tetangga saya bercerita bahwa si pemijat baru
itu mampu menyembuhkan sakit pasien. Sekedar coba-coba mujarrab dan tidanya,
faktanya sakit yang bikin badan saya terasa tidak enak akhirnya sembuh. Banyak
orang memanggilnya Buk Mahmudi.
Sampai
sekarang saya sudah coba dua kali, al-hamdulillah
hasilnya terasa memuaskan. Hal-hal yang berbau mistik seperti di atas juga saya
jumpai pada si pemijat baru itu. Kalaupun sesuatu yang mistik itu tidak ilmiah,
saya tidak berani membantah. Saya hanya diam dan menyimpulkan bahwa dunia tak
semuanya ilmiah.
Mbok, mungkin engkau adalah
pemijat yang dikirim Tuhan untuk meringankan beban orang di sekitar atau
pelosok sana. Terus tingkatkan kualitas pijat Mbok sehingga rizki Tuhan
mengalir tiada henti.[]
Congka’, 5 Juli 2015
No comments:
Post a Comment