Sungguh. Kesempatan bergengsi itu terngiang kembali. Mushabaqah
Qira’atil Kutub (MQK) Se-Jawa Timur ke-4, maksudnya. Sudah dua tahun
hidden, MQK Se-Jawa Timur ke-3 di Nurul Qadim tempo dulu sejak
2011. Teman-teman MQK yang telah tak ada kabar, hanya tinggal kenangan
tulis di diary, kini akan tampak di depan mata. “Aku merindukan kalian
semua, kawan...,” gumam batinku.
Suatu hari di bulan September 2013 teman-teman ngasih kabar, kalau MQK Se-Jawa
Timur ke-4 akan dilaksanakan di salah satu pondok pesantren Bangkalan. Kabar
hangat terkesan dingin bagiku sebab macam-macam lomba meliputi tasawuf, fiqh,
ilmu alat, dan debat, masih belum aku kuasai. Inginnya ikut, tapi kemampuan tak
mengimbangi. Takut-takut hanya memalukan. Teringat dengan pesan abah, “Pamennang!”
Pesan itu terdengar biasa, tapi membeban dalam pikiran. Walau sebisa mungkin
menepis, tetap saja terbayang. Ahhh....
Tak lain dan tak bukan teman-teman pondok akan nyuruh aku ikut. “Ikut
lomba saja, Lil.” Begitu mereka menawarkan sambil menyisipkan sebutan “Lil”,
nama panggilan Khalil. Tak mengiyakan dan tak menolak tawaran bergengsi ini.
Hanya kujawab, “Insya Allah.” Seandainya aku jadi ikut, pasti Tahfid
Al-Fiyah yang diamanahkan. Padahal, hafalan seribu bait nazam ilmu alat:
Nahwu dan Sharraf karya Muhammad bin Abdillah bin Malik Al-Andalusi, jarang di-takrir.
Jadi, banyak nazam yang error atau terlupakan. Takrir kembali?
Aduh, pikiran akan jadi panas. Karena, cara ini ibarat makan nasi satu talam
satu kali. Mungkin, tapi sulit.
Andaikan tetap di Tahfid Al-Fiyah, sedangkan aku tidak siap (tidak
hafal luar kepala), nanti di panggung atau majlis akan kelihatan tidak
maksimal. Pasti ada banyak pertanyaan juri yang ditangguhkan. Bukankah itu
memalukan? Aku tidak ingin kisah buruk segini menjadi cerita. Cukup saja
menjadi cerita di masa kecil, sejak ayah menjewer kupingku karena tidak dapat menjawab
pertanyaan yang disodorkan beliau. Tragisnya lagi, beliau mengancam, “Tak
osa sanguin.[1]”
Karena lihat-lihat kondisi kurang memungkinkan, lebih baik ikut test
seleksi Debat Bahasa Inggris saja. Debat lebih mudah dibandingkan harus
ngafalin berjam-jam seribu nazam. Yang dibutuhkan, mungkin, latihan speaking,
mempersiapkan referensi, dan uji mental agar tidak nervous di depan
publik. Ada beberapa teman-teman BPBA English yang diutus test seleksi sebelum
menuju ke MQK. Ada Igo, Anwar, dan Musfiq. Aku yang dikira sekedar
pendamping, ingin ikut bergabung dengan mereka. Tiba-tiba salah satu pendamping,
Faruq, nyeletuk, “Kamu di Al-Fiyah saja.” Kesannya dia nodong. Nerima atau
tidak? Ketus pikiranku. Apakah aku akan lulus di test seleksi nanti,
sedangkan peserta testnya tidak hanya aku saja, tapi ada santri PPA. Latee?
Takut? Keder? Dikit-dikit. Jadi, santri yang hafal Al-Fiyah lumayan banyak di
Annuqayah. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, hanya satu atau dua santri.
Batinku berdesis.
“Peserta yang Al-Fiyah, mana?” tanya Ustaz Abdul Basith tergepoh-gepoh.
“Ini pak,” ketus peserta test yang lain sambil menunjuk ke arahku.
Tanpa banyak pertimbangan, aku memasuki ruang test di MAT 1 Annuqayah
Putra. Jantung berdebar. Ada beberapa nazam disodorkan. Disuruh lanjut usai
dibaca separuh dari satu nazam. Dari sekian soal yang menghantam, hanya ada
satu tak dapat aku jawab. Tiba-tiba pikiran lupa, melanjutkan. “Ya sudah,”
ucapnya setelah test usai.
Keluar dengan muka nanar sedikit kecewa pada diri sendiri. Senyum
tersungging menepis pandangan muram. Tinggal menungu hasil test pelulusan.
Sebentar. Kira-kira 10 menitan diberi tahukan bahwa aku berhak mewakili
kabupaten Sumenep. “Kok bisa mereka tidak lulus?” tanyaku pada teman
yang ada di sampingku.
“Mereka semua tak hafal keseluruhan. Hanya hafal lima ratus nazam,”
jawabnya bikin kepala mengangguk-ngangguk.
Jelas. Aku akan ikut dalam lomba itu. Bahagia amat dengar keputusan tadi.
“Gimana?” tanya teman sekamar yang sedang menyaksikan penyeleksian Debat Bahasa
Inggris yang ditangani Mr. Lutfi. Sip! Ketusku sambil mengangkat jempol,
isyarat sukses.
“Jadi, nanti kamu ketemu sama dia, sir?” tanya teman yang lain
nakal.
“Eeem, bisa jadi, jika dia ikut. Tapi... rasanya sulit, soalnya dia masih
baru mondok di sana,” ucapku santai.
Nanti aku akan kasih kabar sama abah dan umi. Sehingga,
mereka juga ikut bangga dengar putra sulungnya jadi utusan lomba. Ketus pikiranku.
Usai Diniyah, kira-kira jam 21.00, aku tergepoh-gepoh menuju Warpostel,
tempat santri putra nelepon, baik pakai ponsel: kartu XL, kartu Telkomsel, atau
Telepon Duduk (Telepon Rumah). Nomor 087866122412 milik abah atau 087850756313
milik umi tak lain dan tak bukan pakai kartu XL. Jadi, harus nunggu antrian.
Soalnya, telepon pakai kartu XL, banyak digunakan dibanding kartu yang
lain. Sebab, di lingkungan Madura, rata-rata pakai XL. Murah, lagi meriah.
“Hallo,” sapa seorang lelaki yang tak lain abah.
“Saya Khalil Bah.”
Obrolan dilanjutkan. Kabar gembira disampaikan. Dia kedengaran bangga.
Seakan-akan umi yang rasanya duduk tak jauh dari abah, dibari tahu dengan suara
bisik-bisik. “Masih hafal?” tanyanya sedikit bimbang. Aku tak tahu kenapa
pertanyaan itu muntah. Mungkin, akhir-akhir mereka lihat putra sedikit ada
gelagat berbeda dibandingkan sebelum-sebelumnya, terutama sebelum mondok.
Diketahui, aku pecinta kitab klasik. Tapi, sejak larut di pesantren, aku jarang
bersanding dengan kitab karya ulama terdahulu. Yang sering, hanya cas-cis-cus
wacana kekinian, ditambah bahasa Inggris yang semakin tampak pada diriku. Aku
mengiyakan saja.
“Kapan akan berangkat?”
“Insya Allah, awal Oktober. Doakan abah.”
Klik! Panggilan terputus.
* * *
Jauh hari sebelum tanggal 1 Oktober 2013, para peserta MQK utusan kabupaten Sumenep yang secara keseluruhan santri Annuqayah, berkumpul di kelas MA 1 Annuqayah Putri. Ada yang putra dan putri. Selain aku, santri putra, yaitu Ali Hisyam, Ach. Fairozi, Mashuri Drajat, Ali Fikri, Mizan Asrori, Fairosi, Sofi, Gani, dan beberapa santri putra yang lain. Sedangkan, dari santri putri yang aku kenal, hanya Ima, Mbak Ana, Mbak Faiq, dan santri putri yang lain.
Kehadiran ke sana, tak lain, acara persiapan atau sambutan pemerintah
kabupaten Sumenep, Bapak Mustamik, dan masyaikh Annuqayah. Kebetulan Kiai Halimi Ishamuddin hadir waktu itu. Selain itu, Bapak
Abdul Basit, salah satu juri MQK Bidang Nahwu Wustha (Imrathi).
“Kriteria penilaian dalam lomba nanti meliputi 3 hal: kefasihan membaca (fasahatul
qira’at), kefasihan memberikan makna (fasahatul ma’ani), dan
kefasihan memberikan penjelasan,” jelas Abdul Basit sambil memberikan contoh
dalam teks kitab kuning yang dihafal. Para peserta diam sejenak, kemudian tepuk
tangan serta bersiul. Ruangan tiba-tiba hidup.
Bapak Mustamik tidak bisa menemani keberangkatan peserta kerena hendak
berangkat ke tanah suci. Jadi, mungkin diwakili salah satu pemerintah Sumenep
yang lain. Permohonan maaf yang disampaikan. Dia bilang dengan sedikit guyon,
“Nanti di Multazam, tak aku doakan kalian. Kupanggil nama kalian
nyaring-nyaring. Semoga sukses.” Serentak seakan-akan refleks, mereka
mengamini. “Amien”. Kabulkan doa kami ya Allah. Istajib lana du’aana
ya Allah.
Katanya, nanti pemenang nomor 1 (al-faiz al-awwal) tanpa test
seleksi ulang, tidak seperti pada MQK sebelumnya, akan mewakili Jawa
Timur di ajang MQK Nasional. Mereka terperanjat mendengarnya. Pasalnya?
MQK Nasional justru lebih bergengsi dibandingkan tingkat Jawa Timur.
Karena, selain pengalaman semakin luas, kita akan memperoleh pengetahuan lebih. Di sana akan banyak teman-teman dari beragam
pondok, tidak hanya dari Jawa Timur, melainkan dari jawa-jawa yang lain,
misalkan Jawa Tengah, Jawa Barat, dan lain sebagainya, yang musti akan ketemu.
Mendapat kesempatan ikut saja, bagai kita kejatuhan duren. Apalagi juara.
The most important, para peserta tetap membudayakan akhlak yang baik. Jangan
sampai bertingkah nekat, sehingga dapat mencoreng nama baik Annuqayah dan
kabupaten Sumenep. Pelestarian etika yang baik, adalah ciri khas santri Annuqayah.
Santrinya dikenal tawadu dan sopan. Semoga tidak mengecewakan.
Sudah berjam-jam diam di dalam ruangan, usai sudah acara persiapan MQK.
Santri putra keluar lebih dulu kemudian disusul santri putri sambil jabatan
tangan dengan Kiai Halimi, bapak Mustamik, dan bapak Abdul Basit. Mereka
komat-kamit membaca doa. Munajat pada Tuhan supaya anak didiknya diberi
keselamatan serta kemudahan gapai kesuksesan nanti. Mataku berkaca-kaca. Semoga
kehadiranku di MQK nanti tidak mengecewakan mereka, terutama kedua orang
tuaku sendiri. Aku yakin atas doa kalian, kesuksesan akan mudah digapai. Ad-duau
silahu al-mu’minin. Doa senjata buat orang mukmin.
* * *
Di pagi hari, tetesan embun sirna karena sinar matahari kian menghangat. Kira-kira jam 06.30 para peserta berangkat dari pondok masing-masing. Sesuai pemberitahuan sebelumnya, peserta akan ngumpul di kantor Yayasan Annuqayah, sedangkan peserta putri ngumpul di MTs 1 Putri.
Sampai di kantor sana, peserta yang lain belum datang. Mungkin tinggal dua
atau tiga orang. Sambil nunggu mereka, teman yang lain otak-atik ponsel yang
dibawa. Aku mengerutkan kening. “Kok masih sempat teman-teman pegang hp? Nggak
fokuskan saja pada lombanya? Udahlah.... Tak perlu membicarakan orang lain.
Lebih baik perbaiki diriku sendiri,” pikirku aneh.
Ponsel memang penting, tapi tak segalanya. Kapan dibutuhkan, baru
dioperasikan. Kapan tidak perlu, ditangguhkan. Taken rest. Tidak hanya
manusianya yang galau, alat teknologi pun begitu. Jadinya, error. Makanya,
di komputer butuh di-refresh. Begitu pula di online ponsel
tertulis, SEGARKAN.
Kira-kira jam 07.00, setengah jam menunggu, tiga bis mini melaju dari arah
selatan di jalan yang menjulur di depan kantor Yayasan. Satu bis untuk peserta
putra, satu yang lain untuk peserta putri, dan satu bis yang terakhir untuk
peserta putra dan putri. “Aku daftar yang gabung saja,” usul salah satu peserta
seakan-akan guyon.
“Tak boleh, kamu sudah gede. Itu hanya untuk pendamping dan peserta putra
yang kanak-kanak,” sanggah pendamping.
Santri putra memang semangat jika lihat-lihat santri putri. Begitu pula
dengan santri putri. Hukum haram yang difatwakan dalam kitab klasik yang
sakral, seakan-akan tak ngefek. Sedikit-sedikit dilanggar pula. Bukan mereka
tidak tahu, tapi nafsu mengalahkan akal sehat mereka. Santri yang kritis,
beberapa buku telah dibaca, baik yang bernada filsafat, liberal, plural, sampai
novel sekalipun, berusaha sekeras mungkin berijtihad menghalalkan keharaman
ini. “Bukankah mereka ciptaan Tuhan? Apa salahnya menikmati ciptaanNya?” Nada
kritis santri terkesan kontradiksi.
Perjalanan tidak langsung menuju Bangkalan, tapi masih mampir ke kantor
kabupaten Sumenep. Kehadiran kita di sana mendapat sambutan hangat oleh
pemerintah sana. Disitulah acara pelepasan peserta MQK Sumenep digelar.
Kita disuruh berbaris di bawah terik matahari. Kucuran keringat mengalir dan
membasahi sekujur tubuh. Maunya berteduh di bawah atap kantor, sayang itu hanya
jadi harapan semu. Akhirnya, diperitah melangkah kebelakang, hingga tak satu
pun di antara kita yang enak-enakan merasa kesejukan. “Besabarlah....” Salah
satu pemerintah memberi motivasi.
Pada acara itu, disampaikan kesan bangga lihat peserta dari santri semua,
terutama santri Annuqayah. In fact, mereka masih percaya kualitas santri
dibandingkan yang lain. Santri diyakini dilindungi Tuhan karena setiap detik
jarang tersentuh dosa. Apalagi, bahan kajiannya kitab kuning karya ulama-ulama
yang katanya punya karomah atau keistimewaan.
Akhirnya, acara usai pula. Tidak langsung beranjak dari tempat, tapi masih
berteduh sambil mengipas-ngipaskan selembar kesertas atau kopyah hitam supaya
keringat jadi kering. Kita kelihatan ngos-ngosan. Bayangkan terik matahari itu
panasnya mampu menusuk tulung sumsum.
* * *
Tiga bis mini diparkir tak beraturan di belakang kantor kabupaten Sumenep. Semua peserta, putra dan putri, sedang menuju tiga bis yang tampak di hadapan mereka. Sebagian teman-teman ternyata nakal juga. Lirikan cicak sedang bereaksi. Untung tidak terdengar siulan. Jadinya, suasana terkesan baik-baik.
Mereka berangkat ke Bangkalan
kira-kira jam 09.30. Sambil istirahat menyandar ke sofa bis, separuh kertas
atau benda yang sejenis, seperti songkok, dikibas-kibaskan. Suasana terasa
pengap. Step by step rasa pengap itu memudar, selain dibantu dengan
kipas buatan, juga dibarengi dengan kesejukan AC.
Sebelum mobil tancap gas, mesin dipanaskan. Seumpamanya, pemain sepak bola
yang pemanasan dengan tendangan-tendangan ringan atau saling umpan dengan
sesama temannya, sebelum permainan dimulai. Kala itu pendamping tertatih-tatih
membawa dus yang berisi bungkusan nasi untuk peserta. Perut yang keroncongan
karena tidak makan atau hanya sekedar sarapan di pondok dapat ditambal dengan
bungkusan itu. Wajah mereka semakin kelihatan ceria. Seakan-akan masalah yang
sedang membekam sedikit mereda.
Bis bersilaju dengan kecepatan standard. Pemandangan berupa
pepohonan, ladang, burung yang sedang berterbangan, petani yang sedang sibuk
dengan aktivitasnya, trotoar dan lain sebagainya, tampak di jendela bis.
Santai-santai, bungkusan nasi disodorkan. Mereka berebutan aci-aci ayam yang
dikasih makan. Tangan-tangan diangkat dengan telapak tangan menengadah.
Mengisyaratkan mereka belum menerima sambil berucap, “Uy nasi ke belakang.”
Di situlah kita mulai makan. “Katanya, tak sopan makan sambil berjalan?”
Sebagian teman-teman nyeletuk. Yang lain tersentak dengar kalimat yang tak
asing di telinga mereka. Memang. Etika segitu banyak disampaikan ustaz-ustaz di
pondok, terutama di sekolah melalui hadits Rasul. Sebaiknya, makan yang baik
hendaknya dalam keadaan duduk.
“Nih nasinya.” Bungkus perbungkus disodorkan hingga tak satu pun tersisakan. Jumlah bungkusan yang terkumpul di
dalam kardus terhitung pas. Tak ada satu pun yang dapet dua atau lebih.
Bungkusan, isinya, nasi putih, ikan sapi, mie, dan sambal pedas. Nafsu
makan menjadi-jadi. Seakan-akan, satu bungkus masih mau nambah. Tapi...
udahlah. Tidak baik juga jadi orang rakus. Qana’ah lebih baik. Satu
bungkus disyukuri. Melahap terasa enak. Jalan bis yang bergelombang karena
melewati jalan yang sedikit rusak, tak terpikirkan. Kenikmatan makan mampu
mengalahkan segalanya.
Tak begitu lama larut dalam bungkusan nasi. Tinggal bungkusan itu beserta
satu, dua dan tiga butir nasi. Diremaslah kertas bungkus dan dilontarkan ke
tempat sampah. Hanya tangan kanan yang masih kotor, pikiran menerawang, “Basuh
di mana?” Pandangan diedarkan. Lihat ke samping dan kebelakang, tak ada jendela
atau kaca bis yang terbuka. Maklum. Mobil yang ber-AC tak berjendela. Tak lain
dan tak bukan agar semburan sejuknya tak memantul ke luar.
Bikin pikiran linglug. Teman yang duduk berjuntai di samping kiriku
sedang membasuh lumuran tangan ke botol Aqua kosong. Dipikir-pikir itu ide yang
bagus. Aku manut saja. Tangan dibasuh di botol yang tinggal satu. Sedikit demi
sedikit kotoran yang merekat di telapak tangan jadi bersih. Hanya licin dan bau
anyir yang menyengat indra pencium tetap melekat.
Hidup terasa lebih sempurna, jika perut dalam keadaan kenyang. Sekujur
tubuh jadi segar. Pikiran jadi fresh. Lihat pemandangan karena
iseng-iseng. Tidur di atas sofa dengan tubuh menyandar, mata masih belum
terkantuk-kantuk. Ahhh..! Diskusi apa saja dengan teman-teman, lebih baik dari
pada tak punya aktivitas alias nganggur.
“Lil, ngimana lengkapnya dari kaidah .... waqad yakunu hadfuhu
multazama?” Teman yang duduk persis di sampingku menyodorkan pertanyaan.
“Apa ya?” gumamku dalam pikir dengan dahi berkerut dan kepala mendongak
seraya search ide.
Iiih iya. Pikiranku
tiba-tiba mengigat kaidah terakhir dalam bab Ta’addil Fi’li wa Luzumuhu dalam
kitab Al-Fiyah ibnu Malik. “Ow gini,” ketusku, “Wayuhdhafun nasibuha
in ulima # waqad yakunu hadfuhu multazama.”
“Iya benar. Aku ingat,” ucap Iskandar si penanya tadi.
Perjalanan masih belum melewati pondok pesantren Annuqayah. Mungkin saja
hampir. Dipikir-pikir, nyampek di Bangkalan masih lama. Teman-teman, dilihat ke
belakang, sebagian ada yang lelap, sebagian yang lain masih otak-atik ponsel,
dan sebagian yang lain sedang baca-baca. Aku sebaiknya tidur saja. Istirahat.
Nanti di Bangkalan mulai muthala’ah kitab yang besok akan dilombakan.
Aku harus siap semaksimal mungkin. Mulai dari kefasihan hafalan, dan ketajaman
memberikan arti dan penjelasan agar nanti memberikan kesan positif terutama
terhadap juri.
* * *
Mobil lalu lalang. Deru kenalpot dan bunyi klakson memekik. Telinga sedikit terganggu. Aku sadar usai bangun dari tidur nyenyak. Turun dari bis. Pandangan semakin tambah cerah. Serombongan dengan pakai seragam batik dan rombongan yang lain dengan mengenakan seragam yang berbeda sedang lewat dan menuju tak tahu ke mana. Aku sadar kalau aku awal kali menjejakkan kaki di tempat ini. Mereka, pikiranku menduga, salah satu peserta MQK kali ini. Alih-alih jantung berdebar. Dag-dig-dug.
Sorot mataku fokus ke bawah. Tak butuh mengumbar pandangan kali ini. Tak
baik tersenyum dan bangga dalam kungkungan dosa karena cuci mata. Aku khawatir
hafalan Al-Fiyah-ku error. Saatnya perbanyak istighfar. “Ayo....”
Serentak teman-teman mengajak. Tak tahu mereka akan menuju ke mana. Aku hanya
berbuntut-buntut di belakang. Jalan lurus. Tak jauh dari tempat mobil diparkir,
belok kiri. Nah, tampak di depan mata bangunan lantai tiga, masjid, bangunan
dalam tahap penyelesaian, gubuk-gubuk terbuat dari kayu dan tenda. Di tenda
itulah banyak orang berkerumunan. Mereka kelihatan sibuk memenuhi tugasnya.
Setelah dibaca, di situ tempat pendaftaran peserta serta penerimaan kartu
makan.
Pun, meja berjejar panjang dan lurus. Di depannya tertulis kabupaten dan
kota yang sedang mengutus peserta dalam MQK kali ini. Aku cari kabupaten
Situbondo. Tuh.... Tampak di depanku kabupaten yang aku maksud. Tapi, mana
utusan Situbondonya? Kok tidak kelihatan? Ngutus atau tidak? Pikiranku
bergumam.
“Nih kartunya,” ucap Wahid, salah satu pendamping, sambil
menyodorkan kartu makan. Di kartu itu tertulis tanggal/bulan/tahun, serta waktu
makan (pagi, sore, dan malam), serta lengkap dengan stempelnya. Jadi, sulit
terjadi kecurangan. Teman-teman dengan nada guyon berceloteh, “Gimana kalo di-copy
lagi?” Mereka pikir hal foto-copy-annya akan dipakai sehingga mereka
dapat bagian lebih. Aku hanya tersenyum dengar joke segar ala joke-joke Gus Dus
yang mampu menepis kegalauan.
Selanjutnya, mereka menuju suatu kamar terletak dekat masjid PP. Syaikhona
Cholil Bangkalan. Kamar yang berdempetan tersedia dua ruang. Sedangkan, satu
ruang untuk kabupaten Sumenep. Masuk. Di sana sudah datang seorang lelaki usia
20-an ke atas sedang duduk santai dan khusuk membaca kitab klasik. Teman-teman
langsung menyapa sambil menyebutkan namanya. “Dari mana mas?” tanya temanku.
“Dari Jember. Sampean?” tanyanya balik.
“Dari Sumenep.”
Usai perkenalan, kita mulai ngobrol. Kayaknya semakin akrab. Saling tanya.
Cerita. Katanya ada santri dari Jember. Dia hanya mendongak dan
mengingat-ingat. Tapi, dia tak kenal juga. Sebagian teman yang lain bergegas
mengambil sabun dan perlengkapan mandi lainnya untuk cari-cari kamar mandi.
Rekatan keringat bikin tidak nyaman mereka duduk santai. Sebaiknya mandi dan
istirahat. Aku hanya duduk. Diam. Beringsut ke teman yang lain yang sedang
berbaring sambil pijat tombol ponsel. “Bisa Facebook-kan?” tanyaku.
“Bisa.”
“Boleh pinjam. Aku pengin buka.” Bujukku.
Ponsel Nokia Ketupat disodorkan. Kutulis alamat email, yaitu holy_person@rocketmail.com dan password kemudian
klik saat panah menunjuk pada kata ‘masuk’. Isyarat pengguna Facebook akan buka
jaringan sosial ini. Sebentar. Facebook-ku sudah nyala. Dilihat ada kiriman
pesan. Dibuka. Waaah..! Teman-teman dan adik sepupuku, Syahirul Aliem kirim
gambar balon yang tertulis, Happy birthday. Bacanya amat bangga.
Nyatanya masih ada teman-teman atau orang yang ingat dan perhatian padaku.
Serentak aku balas pesan mereka. “Terima kasih,” tulisku singkat.
Dan arahkan panah pada tulisan ‘keluar’. Klik. Fb-ku sign out.
* * *
Mahgrib telah tiba. Azan mengalun dari masjid dekat kamar peserta MQK kabupaten Sumenep. Sejenak jeda. Baru, zikiran dilantunkan. Santri PP. Syaikhona Chalil Bangkalan duduk berjajar di dalam masjid. Baju putih dikenakan. Seragam yang menjadi peraturan pesantren terkesan terbina persatuan demi menggapai kesuksesan. Pasal, filosopi sapu lidi mampu menyingkirkan kotoran atau sampah karena persatuan yang kuat.
Sebagian teman-teman ikut ngumpul di masjid. Mereka ingin shalat jamaah
Maghrib. Aku tetap di dalam kamar, shalat jamaah besama teman-teman yang lain.
Soalnya, ingin jamaah di masjid, tapi muazin tak kunjung iqamat. Sudahlah. Yang
penting shalat jamaah. Pahalanya tetap dua puluh tujuh. Nabi menjelaskan di
dalam haditsnya. Mungkin, bedanya kekhusukan imam dan makmum. Kalau imam shalat
Maghrib-ku, teman sendiri, tapi imam di masjid sebelah kiai pesantren ini atau
pengurus yang mendapat mandat dari kiai. Maaf, bukan aku sok tahu dan
bisa baca kepribadian seseorang. Biasanya, kiai menduduki predikat teratas
dalam ketakwaannya di bandingkan orang awam. Ya... Allahlah yang tahu
sebenarnya. Aku atau siapa pun hanya berani menduga semata. Sekali lagi
menduga. Tahukah? Menduga sesuatu yang tidak kuat.
Shalatku usai. Tak langsung beranjak atau meringsut ke tempat lain. Sejenak menenangkan diri. Bermunajat kepada Tuhan. Segala
hal dicurhatkan. Sadar hambaNya masih butuh terhadap pertolonganNya. Nurari
sebagai makhluk yang bermakna ‘dicipta’, masih melekat, tanpa sedikit pun
terhapus. Tak ingin si hamba menjadi takabur, murka, apalagi sampai syirik. Naudzubillahi
mindalik. Moga-moga sifat bejat itu tidak menjamah, lebih-lebih mendarah
dalam diri seseorang.
Doaku simpel saja. Tentang doa, aku teringat pada penjelasan ustaz Aziz
Baidhawi saat mengajar kitab di masjid Jami’ Annuqayah pada hari Rabu. “Jika
anda ingin sukses, maka jangan lupakan tiga orang ini setiap kali anda berdoa.
Yang pertama, kedua orang tuamu. Yang kedua, gurumu. Dan yang ketiga,
mertuamu.” Tak sempat aku terlusuri sumber pengambilan penjelasan pak ustaz.
Tapi, pak ustaz bilang penjelasan ini disitir dari hadits Nabi.
Ketiga orang itu yang selalu menghiasi doa-doaku dengan bacaan Al-Fatihah
usai kepada Nabi, keluarga dan shahabat-shahabatnya. Mereka kedua orang tuaku
sendiri (abah dan umi), abah dan umi Ade’ Naila, dan guru-guruku, termasuk
pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah. Dilanjutkan, kepada pengarang kitab Al-Fiyah ibnu Malik, yaitu Muhammad bin
Abdillah bin Malik Al-Andalusi, pengarang kitab Al-Fiyah ibnu Aqil, yaitu
Syaikh Jalaluddin As-Syuyuthi, Syaikhona Cholil Bangkalan, tetangga-tetanggaku,
kakek dan nenek terus ke atas (buyut dan selanjutnya), dan Ade’ Naila.
Tak hanya itu, munajat. Minta pertolongan Tuhan agar di ajang kompetesi
nanti diberi kemudahan dan meraih prestasi gemilang. “Ya, Semoga saya juara 1,”
doaku optimis. Sampai-sampai nazar sekalipun digadai. “Jika saya juara satu ya
Allah..., saya bernazar akan membaca surat Yasin sebanyak seribu kali,” munajatku
berikutnya.
Namun, varian doa yang dipanjatkan, bukan hal yang hampa kerena tidak
ditopang dengan usaha yang maksimal. Dalam Al-Qur’an disebut pada surat
Al-Fatihah, iyyaka na’budhu wa iyyaka nasta’in. Hanya kepadaMu kami
menghamba (berusaha), dan hanya kepadaMu pula kami minta pertolongan (berdoa).
Ayat ke-4 ini jelas dan logis bahwa setiap usaha hendaknya diimbangi dengan doa
agar tidak sombong. Begitu pula setiap doa dibarengi dengan usaha, agar tidak
hampa.
“Makan malam yuk,” ajak teman yang dari tadi duduk dekat posisiku. Kartu makan waktu pagi dan sore pada
hari itu terpaksa
kadaluarsa karena masa tenggangnya habis. Mata
terbelalak lihat orang berlalu lalang di depan area kamar.
“Kapan makan gratisnya
kawan?” tanyaku penasaran.
“Aku baru saja,” ketusnya sambil menyela-nyela gigi yang keselip daging ikan atau butir sambil mengelap tangan basah bekas minyak
dengan kertas bekas.
“Makan?!”
Dia mengangguk.
“Di mana tempat makannya?”
“Tuh,” tunjuknya sambil mengarahkan jari telunjuk ke tempat yang kelihatan sesak pengunjung. Jadi.... tempat makanya tak jauh dari kamarku. Hanya tujuh langkah
sudah sampai. Sejauh mata memandang, tempat itu tampak jelas, sekalipun
sebagian. Sebab, tempat itu terletak di belakang
posko keamanan pesantren.
“Kamu sudah? Makan yuk.” Aku cari-cari teman untuk berangkat bareng.
“Bareng Lil.” Fairosi menyahut sambil mengambil kartu makan yang diselipkan di dalam
ranselnya.
Sambil terbirit-birit berjalan, kartu makan malam dipegang. Penjaga tempat makan
pasti cek kartu makan itu. Tanpa kartu, dikiranya ilegal. Bisa-bisa tak
diizinkan menelan nasi yang kelihatan hangat dengan kepulan asap, ditambah ikan dan lauk pauk
yang tak terbayangkan enaknya.
Sampai di area makan, si penjaga menerima kartu yang disodorkan peserta
dan pendamping MQK. Tatapannya dingin begitu kartu milikku diterima. Seakan-akan tak ada hal istimewa. Biasa-biasa saja.
Nah, di dalam ruang makan piring dengan ikan yang sudah dipersiapkan
sebelumnya tertata dan berjajar rapi. Artinya, tak ada jatah lebih
untuk merengkuh ikan atau lauk pauk sesuai kehendak ala “makan jalan”. Hanya saja yang bisa ngambil sepuasnya nasi, kuah, dan saus. Air minum dan basuh lagi. Tak kenapa. Ke sini bukan acara makan-makan, tapi untuk
berlomba.
Duduk di kursi yang tersedia dan berjajar rapi, teman-teman sudah lebih dulu duduk
sambil menelan nasi suapan demi suapan. Tatapan sekejap mengarah ke mukaku.
Kubalas dengan senyuman. Tak lebih. Bukankah senyuman adalah shadaqah? Isyarat
di antara kita masih rukun. Tidak ada permusuhan. Bersama untuk kabupaten
Sumenep. Begitu pula untuk Annuqayah di MQK ini kawan. Benakku bergumam.
Suapan telah menyesaki rongga mulut, nafsu makan sedikit bertambah kuat. Yang kenyang makannya, agar di ajang kompetesi nanti tidak loyo.
Tapi, jangan lupa giat belajar. Makan secukupnya, belajar pun tak
kurang, kalau bisa ditambah dari kadar nasi yang dimakan. Khawatirnya, terlalu banyak makan, ngantuk tak dapat
ditahan. Hingga berakibat malas. Tak baik pula. Aku teringat dengan fatwa
Al-Ghazali untuk tidak banyak-banyak makan. Sebaiknya, makan ketika lapar, dan
berhenti sebelum kenyang. Tak lain dan tak bukan, supaya tidak ngantuk. Etika
makan Nabi selama hidup seperti ini. Tak heran, beliau amat
semangat dalam beribadah kepada Allah, walau jaminan masuk surga tak perlu
diperdebatkan.
Porsi satu piring tak tersisa. Piring dibiarkan diam di tempat dudukku. Tanpa
dibasuh dan diapa-apakan. Sebab, bukan tanggung jawabku lagi, sudah ada orang
khusus yang berkewajiban mencuci. Hemmm.... Perutku kenyang. Doa selesai makan berdesis lirih. Urat-urat bertambah segar. Pandangan semakin sirna.
Rencana semakin cerah. Imajinasi tumbuh. Aku keluar dari ruang makan bersama
temanku.
* * *
Malam Rabu (1/10/2013), orang mondar-mandir dengan seragam yang bervariasi sesuai dengan kabupaten atau kota masing-masing. Aku dan teman-teman bersiap-siap akan berangkat pada acara nanti, yaitu Pembukaan MQK ke-4, di alun-alun Bangkalan. “Ayuk, ayuk, ayuk cepat....” Ajak pendamping tergesa-gesa.
Tak perlu ngetren, tapi rapi dan sederhana, dikira cukup. Sesuai titah
pendamping, peserta dari kabupaten Sumenep, kenakan peci hitam, baju putih
lengan panjang, seragam almamater INSTIKA, dan celana hitam, sedangkan untuk
peserta putri tak jauh beda, hanya saja pakai jilbab atau kerudung. Siap bereaksi. Berangkat bersama: peserta putra berada di depan dan
peserta putri membuntut. Namun, masih belum berbaris. Jalan-jalan santai. Baru
meluruskan barisan dengan membentuk dua-dua ke belakang di depan arena
pengiriman putri PP. Syaikhona Chalil Bangkalan.
Mereka semua siapa ya? Pertanyaan tiba-tiba terbersit. Peserta putri tak banyak aku
kenal, hanya saja Imaniyah, mantan ketua English Club Lubri periode 2012-2013.
Ah... biarin saja. Tak penting aku menghiraukan mereka. Aku harus fokus
pada lomba besok saja. Tapi, gimana mau fokus ya, di luar sana orang lagi
berdesakan dan gaduh. Sudah dulu. Batinku membujuk. Sekarang waktu fresh
otak. Senang-senang. Masak ngadepin acara kayak gini selalu serius.
Jalani saja dulu. Masalah belajar dapat dilanjutkan nanti.
Kumpulan nazam Al-Fiyah yang dicetak dengan bentuk kecil dan mudah
diletakkan di saku dan mudah dibawa ke mana-mana, kecuali tempat-tempat yang
kotor atau najis, tak disentuh. Biar kitab itu tenang dulu. Istirahat. Kalau
dibuka terus-menerus jadinya bisa stress.
Lamunan yang kian membuncah dalam pikiran kembali sirna. Menjadi seperti
semula. Tak rentan loading. Eh, secercah sinar menyelinap tak terduga.
Sinar apaan tuh? Aku tahu itu sinar kamera. Peserta dari kabupaten atau kota
lain sedang asyik foto-foto dengan pose-pose yang bervariasi. Lho, kok yang
dari kabupaten Sumenep dibiarkan tak berpose seperti mereka? Teman-teman baru
sadar kalau diri mereka belum foto. Sejenak. Diri mereka menjadi tersentak dan
pikiran menjadi gelisah, kala dengar tidak bawa kamera. Ya Allah.... Sebisanya
kamera sebagai media penting untuk mendokumentasikan ajang bergengsi ini, saat
acara akan segera digelar masih kerepotan cari-cari kamera.
“Ada yang bawa kamera?” tanya pendamping (official) ling-lung.
“Ini Mister,” sahut seorang peserta putri dari arah belakang seraya
menyodorkan kamera kepada Mr. Lufti.
Untung ada yang bawa, walau satu orang. Andaikan tak ada, pokoknya tak
dapat dibayangkan. Gimana bisa cerita kita serenyah orang makan kacang kalau tanpa persiapan yang matang? Semanis apa pun ceritanya sebagai oleh-oleh untuk
teman-teman di pondok atau siapa pun terasa hambar. Mentah. Sejenak, sejak
kamera direngkuh. Nah, itu di-on. Isyarat kamera sedang nyala. Bidikan kamera menebarkan sinar ke arah depan dan samping dari
kamera di arahkan. Varian pose dimuat: tercengang lihat dan dengar suara heboh
di jalan raya, santai-santai saja sambil menundukkan kepala, ngobrol sama teman
di sampingnya, memperbaiki pakaian yang dikenakan supaya jadi rapi, dan lain
sebagainya.
“Ayo jalan,” perintah official dengan tangan dikibar-kibarkan ke
atas-ke bawah.
Para peserta jalan terbirit-birit dengan barisan yang rapi. Penonton yang
berceceran di pinggir jalan melongo melihat barisan peserta MQK yang datang
dari pesantren di Jawa Timur: PP. Annuqayah, PP. Bata-Bata, PP. Kediri, PP.
Nurul Jadid, PP. Salafiyah Syafi’iyah, dan beberapa pesantren lainnya. Di
sinilah generasi ulama atau anbiya’ sedang berkumpul. Santri menjadi
harapan masyarakat untuk memberikan bimbingan atau didikan. Sebab, dialah yang banyak tahu
tentang ajaran ilahi: tauhid, fiqh, dan tasawuf.
Sampai di jalan raya, mobil tak berani lewat, karena jalan ditutup
sementara. Hanya saja satu atau dua sepeda motor yang menderu-deru dengan
tersendat-sendat. Beragam hiburan dipertontonkan. Ada Drum Band dan Tong-Tong.
Suasana jadi indah. Bunyinya menyesaki sekitar, terutama jalan raya.
Jalan dengan tertatih-tatih, dilihat-lihat sambil cari orang yang pegang plang kabupaten Sumenep.
Mana? Terus diedarkan pandangan ke segala arah. Akhirnya nongol pula. Sumenep... Semenep... Sumenep....
Serentak agak sedikit bergiliran pemegang plang diseru dengan keras. Mungkin
mendengar, barulah bendera menuju suara panggilan tadi. Lha gitu. Ketus
sebagian teman-teman. Si pemegang diposisikan di depan kita. Sekarang,
kehadiran aku beserta teman-teman telah tampak kalau kami orang Sumenep. Mudah
untuk mengenalnya.
Hemz, bayangan Ade’ terus terbentang kuat. Maklum, sejak kali berangkat
dari pondok hasrat hati sangat kuat untuk ketemu dengan Ade’ Naila di kompetesi sana jikalau dia ikut, baik jadi peserta atau official.
Aku melongo milihat dengan mata terbelalak. Ditataplah kuat
plang yang bertuliskan kabupaten Situbondo. Ternyata orang-orang kabupaten
tempat lahir Ade’ sedang berbaris di belakang yang barusan lewat persis di
sampingku. Pikiran terus bertanya. Apakah yang lewat tadi Ade’? Dia ikut? Benak
yakin tanpa terkecuali. Pasti Ade’ ikut. Tapi, di mana...? Apakah mataku jadi rabun seketika karena dia bersembunyi
di balik himpunan teman-temannya?
Pertanyaan-pertanyaan ini yang tetap membuatku optimis. Tak kenal menyerah
untuk tatap wajah yang mampu memikat hati keras menjadi lunak. Di malam itu,
awal kali lihat orang-orang Situbondo. Dengar nama kabupaten ini, begitu pula
membacanya, hati tiba-tiba terperanjat. Seakan-akan ada dorongan kuat dari
luar. “Uuuy, siap-siap. Kelompok kita akan segera berangkat,” ketus official.
“Buat yel-yel agar kedengaran seru dan kelihatan wah,” usul official yang
lain.
Beragam yel-yel diusulkan. Kadang, menarik tapi agak sulit. Kadang, mudah
kurang menarik. Pikiran menerawang. Imajinasi dilepas cari ide cemerlang.
“Aku punya,” sahut ustaz Faruq, “Kita datang untuk menang. Kita pulang
menjadi bintang.” Menarik!
Dicoba berkali-kali, sayang masih selalu ada yang ganjil. Tidak kompak.
Biasanya ketidakserasian dalam mnyuarakan yel-yel tersebut, diperbuat oleh
peserta putra.
“Geser, geser, geser,” suruh dari belakang. Sambil menuju ke depan,
denting suara terdengar jelas, yaitu pelepasan secara legal oleh panitia MQK
ini. Sekarang bagian kita yang akan dilepas. Sejenak beserhenti dan berjalan.
Karena selesai dilepas, yel-yel di atas mengalun semakin kompak. Huuuy, mereka
tepuk tangan.
Aku baru sadar kalau malam Pembukaan MQK tepat pada malam Rabu
(1/10/2013).
* * *
Jalan-jalan di bawah sinar kuning lampu jalan bikin kulit kelihatan mulus tanpa celah. Jalan gapah-gopoh menuju arena acara, alun-alun. Aku sendiri tak tahu di mana. Hanya saja bunyi musik mendengking dari arah sana. MQK ke-4 di Bangkalan dipisah menjadi dua tempat karena tidak muat: di PP. Syaikhona Cholil Bangkalan dan PP. Al-Hikam. Teman-teman dari PP. Syaikhona Cholil Bangkalan cari teman yang muqim[2] di pondok yang satunya. Akhirnya, mereka ketemu di masjid Bangkalan dekat alun-alun. Sekalipun baru saja berpisah, saat bertemu kesannya sama dengan orang yang berpisah dalam jangka waktu lama. Saling tanya keadaan sekitar, air mandinya, masyarakatnya, lingkungan sekitar, dan lain-lain.
Di sana aku ketemu dengan A. Munnawi, Fairosi, Musfiq, ustaz Faruq, dan
beberapa teman yang lain. Mereka kelihat antusias ngobrol di amper masjid. Aku
tak banyak mengumbar kata-kata. Wajib meng-edit obrolan urak-urakan. Ngomong
sesuai kebutuhan. Awal kali aku tak begitu akrab dengan mereka, hanya saja
kenal dari mulut ke mulut atau saat jalan-jalan dan kebetulan berpapasan.
Kadang tak sempat menyapa. Mungkin, Musfiq dan ustaz Faruq yang aku kenal baik,
karena pernah ikut MQK ke-3 di Nurul Qadim beberapa tahun silam.
Sejenak duduk. Suasana terasa kaku ngumpul sama teman-teman yang kurang
akrab. Suara percakapan berdering lirih dari arah belakang. Mereka A. Wahid dan
guru pengajar Nahwu di MA 1 Annuqayah Putri. Si guru itu mungkin hanya sekali
ketemu denganku sebelumnya, yaitu pada acara Musyawarah MKKT (Metode Kitab
Kuning Thariqoh) di ruang kelas sekolah tersebut. Sekedar nguping dari Bapak
Khatib dan cerita A. Wahid, dia dikenal alim. Kuakui begitu usai baca karyanya
berbahasa Arab.
Aku turun dari amper atas masjid ke halaman dan mendekati mereka berdua.
Supaya tidak curiga, aku pura-pura mendekat sepeda yang diparkir persis di
depan mereka. Ditataplah mereka yang sedang berjongkok dengan tatapan malu-malu
kucing. Sepatah kata pun tak muntah. Mungkin iba melihatku terpasung dalam
kesunyian. Wahid memperkenalkan, “Anekah[3]
Khalil peserta Tahfid Al-Fiyah. Orangnya pendiam. Kelihatannya
kurang meyakinkan.”
“Sama dengan saya Khalil. Al-Fiyah kasennengnah kauleh[4],”
ujar si guru lembut. Dia kelihatannya suka berteman. Tak lama, Fairozi datang
dan berjongkok di samping kananku. Tanpa sungkan sedikit pun, temanku ngobrol
akrab amat. “Mereka saling kenal atau...? Setahuku, Fairozi tak pernah cerita
tentang Pak Zaini,” gumam pikiranku.
“Biasanya orang hafal Al-Fiyah dipermudah rizeki dan hidupnya,” nyeletuk
Wahid menyela obrolan. Cerita itu berawal dari fakta dan fatwah teman atau
gurunya yang merasakan akan kemudahan hidup. Sejatinya, rahasia di balik tabir
pernah juga aku dengar dari beragam sumber. Sebut, salah satu pendamping yang
ngobrol dengan aku usai aku selesai tampil di ajang MQK ke-3. Dia bilang, “Dulu
saya pernah hafal Al-Fiyah waktu mondok. Tapi, sekarang sudah lupa. Kata ibnu
Malik orang yang menghafal karyanya akan ada jaminan dari pengarang, JADI ORANG
KAYA DAN ALIM. Saya, Dik, juga tidak ngerti dan tidak memiliki rencana yang
jelas sebelumnya kalau saya nanti akan jadi pemerintah di kabupaten Sumenep.
Saya yakin ini barakahnya Al-Fiyah”; guru kitab; Kiai Wakid alumni PP. Kediri
pernah menjelaskan seperti itu; dan cerita Pak Nizar, guru Qira’atul Kutub di
MD. BTT PP. Annuqayah Lubangsa di kelas 3 A Ulya. Katanya, “Saya punya teman
dulu. Dia hafal Al-Fiyah. Kalau sekarang saya dengar-dengar dia
sudah lupa. Ya... dia lagi disibukkan dengan bisnis. Dia jadi orang sukses
dengan bisnisnya.”
Nuraniku mempercayai. Menyitir dari penjelasan Kiai Wakid waktu belajar
kitab di kediamannya usai sekolah fomal dulu sejak MTs. Kebanyakan siswa
pulang. Hanya bersisa satu atau dua orang. Ceritanya, pengarang kitab Al-Fiyah
ibnu Malik termasuk waliyullah. Setiap langkah dan gerak-geriknya dijaga oleh
Tuhan. Tak salah jika karya nahwunya menjadi meteri di pondok pesantren mana
pun. Jika tanya apakah engkau kenal dengan kitab Al-Fiyah? Pasti jawabnya ia.
Dan jika tanya terus, “Al-Fiyah apa?” Jawabnya, “Al-Fiyah ibnu Malik.” Padahal,
disadari atau tidak, Al-Fiyah tidak hanya karya ibnu Malik seorang, melainkan
banyak Al-Fiyah yang disusun oleh orang-orang yang mahir dalam bidang Nahwu
ini. Sebut, Al-Fiyah ibnu Mu’thi karya Ibnu Mu’thi, Al-Fiyah ibnu Thaifur karya
kiai Thaifur Ali Wafa, dan yang lainya.
Waliyullah. Dialah kesenangan Tuhan. KekasihNya. Tahukah gimana seorang kekasih
terhadap orang yang dicintai? Di beberapa ceramah si kiai bilang, “Seseorang
yang mencintai orang lain, sedangkan si tangkai hati terjebak dalam kesalahan,
maka dengan refleks dan sesegera mungkin dia akan berusaha menegur atau
memperbaiki.” Teguran bukan dimaknai pencemohan, melainkan suatu bentuk
perhatian. Andaikan tidak ada rasa cinta, yang ada hanya perasaan benci,
setitih debu hitam yang hinggap, tak akan pernah dibahas. Dibiarkan tetap
terkapar dalam kesalahan.
Begitulah yang terjadi dengan ibnu Malik. Sebelum kitab Al-Fiyah ditulis,
kata Pak Wakid, si pengarang sudah hafal terlebih dahulu bait Nahwu dan sharraf
yang berjumlah seribu sehingga diberinama al-fiyah, bahasa Arab,
bermakna “seribu”. Tidak seperti penulis atau penyair mutakhir yang bikin
karya: fiksi atau non-fiksi, yang mana gagasan yang tertuang timbul sejak kali
ditulis. Selesai ditulis, andaikan disuruh me-review tanpa lihat
tulisan, bisa jadi tidak hafal.
Saat Al-Fiyah ditulis, sampai pada bait ke-5, yaitu wataqtadhi ridhan
bi ghairi suhthi # fa’iqatan alfiyatabni mu’thi. Kaidah ini, kata guruku,
bernada sombong. Al-Fiyah ibnu Malik lebih baik (faiqatan) dibandingkan
dengan karya Al-Fiyah ibnu Mu’thi. Apa yang
terjadi setelah itu? Semua bait setelahnya hilang. Terpaksa ibnu Malik
meletakkan penanya. Gagasan yang akan ditulis sedikit pun tak terbersit.
Diceritakan dalam kitab Hasyiyah al-Alamah ibnu Hamdun ala Syarhi
al-Makudy ala al-Fiyah ibni Malik.
Ibnu Malik menambahkan kata ‘faiqatan’ pada bait Al-Fiyah yang
berjumlah seribu. Sampai pada kata itu, beliau berhenti. Hingga beberapa hari
tak mampu melanjutkan pada bait berikutnya. Beliau tidur. Tiba-tiba di
mimpinya, beliau ketemu dengan seseorang yang sama sekali belum dikenalnya.
“Saya dengar Anda sedang menyusun Al-Fiyah yang mencakup ilmu Nahwu?” tanya
seorang tadi.
“Iya,” ketus Ibnu Malik singkat.
“Sampai mana kamu sudah menyelesaikannya?” ujarnya tetap dalam topik yang
sama.
“Sampai faiqatan dari bait Al-Fiyah ini.”
“Terus, apa yang membikin engkau tidak mampu menyelesaikan bait tersebut?”
“Jujur, saya tidak mampu menyelesaikan sejak beberapa hari yang lalu.”
Ibnu Malik semakin terbuka atas permasalahan yang sedang menjeratnya.
“Apakah engkau ingin menyelesaikannya?” tawar ibnu Mu’thi seakan-akan
orang tak dikenal ini memiliki jalan keluar.
“Iya.” Jawab Ibnu Malik polos.
Dengan kata-kata menyendir, Ibnu Mu’thi bilang, “Wal hayyu qad yaghlibu
alfa mayyitin.” Satu orang hidup bisa saja mengalahkan seribu orang mati.
“Moga saja engkau Ibnu Mu’thi?” gumamnya ragu-ragu.
“Iya, saya Ibnu Mu’thi,” jawab Ibnu Mu’thi jujur.
Dengar pengakuan seorang yang tampak di hadapannya, tak lain dan tak
bukan, adalah orang yang disebut-sebut pada bait di mana hafalan Ibnu Malik error,
dia jadi malu terhadap orang tersebut. Setelah fajar menyingsing, subuh pun
tiba dengan sempurna, syair itu terkesan celah. Sadar mendorong Ibnu Malik
berujar, “Wahwa bisabqin haizun tafdhila # mustawjibun tsna’iyal jamila.”
Disanjunglah ibnu Mu’thi oleh Ibnu Malik bahwa pantas kemulian menjamah
kepribadian Ibnu Mu’thi dan layak mendapat pujian yang indah (tsana’iyal
jamila).
Itulah bukti besarnya kasih sayang Allah terhadap hambaNya. Problem yang
minimpa kepribadian si hamba ditegur secara langsung.
“Biasanya orang hafal Al-Fiyah istrinya cantik,” celetuk Pak Zaini.
“Masa Iya bapak?” sanggah Wahid yang duduk di sampingnya.
“Kan Al-Fiyah berhubungan dengan kata uqail yang bermakna elok.”
Aku tercengang. Baru kali ini aku dengar pernyataan itu. Ya... aku hanya
berdoa, “Amien. Semoga perempuan yang ditakdirkan jadi istri saya adalah orang
yang cantik dan shalehah.”
Obrolan itu berakhir saat peserta utusan kabupaten Pamekasan berpose
foto-foto. Pak Zaini, official kabupaten ini, permisi dan terkepoh
berkumpul bersama mereka.
* * *
“Ayo... berangkat,” ajak ustaz Faruq sambil melambai-lambaikan tangan.
Teman-teman bergegas menuju arah suara tadi. Mereka berbaris seperti
semula. Walau sebagian kecil tidak ganti posisi. Dipikir-pikir pergantian tidak
kenapa. Yang penting barisan tetap rapi. Agak jauh sedikit bunyi musik
terdengar mengusik gendang telinga. Hasrat menuju tempat dibunyikannya musik
semakin menjadi-jadi. Depan masjid terlihat lapangan yang ditempati acara
Pembukaan MQK ini, tapi jalan masuk masih harus mutar dulu. Ya... agak jauh.
Sekalipun baru saja break, yel-yel yang tadi menggema, sambil
jalan-jalan santai dilantunkan kembali. Sambil ada ngomandu, yaitu Mr. Lutfi
atau Mbak Romlah sebelum serentak menyanyikannya. Supaya kedengarannya enak,
tidak porak-poranda. Bayangkan! Di pinggir jalan penuh dengan penonton yang
memelototi penampilan kita.
Sayang, semakin jauh berjalan dan lama sampai di tujuan, teman-teman
kelihatan capek. Sehingga, yel-yel dinyanyikan dengan tanpa semangat. Tak
heran, timbul yel-yel yang berbeda. Sebagian peserta nyanyi gini, sedangkan
sebagian yang lain nyanyi begitu. Ah... sulit ngatur mereka. Mr. Lutfi sendiri
kewalahan. Kelihatannya dia tidak diperhatikan, walau berteriak-teriak.
Akhirnya, dia berhenti sendiri.
Tetap jalan santai, kadang dijumpai sahutan sinis dari samping. Si
penonton bilang, “Dari Al-Amien tuh.” Dia sambil mengarahkan telunjuknya.
Dikiranya, peserta delegasi kabupaten Sumenep dari PP. Al-Amien, padahal secara
keseluruhan dari PP. Annuqayah. “Ih, bukan Al-Amien Pak! Tapi Annuqayah. Bikin
kesel ni orang,” ketus sebagian teman-teman yang berbaris berdekatan denganku.
Memang, Al-Amien yang tampak di mata mereka. Sebab, dulu santri
Al-Amienlah yang sering berpartisipasi dalam kompetesi manapun, terutama
tentang bahasa asing, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Arab. Tapi, sekarang
dunia berputar, Annuqayahlah yang berperan mewakili dalam ajang bergengsi, baik
lomba tingkat lokal, propinsi, nasional, maupun internasional. Annuqayah
bangkit dari masa keterpurukan menuju masa keemasan. Syukur!
Sampai di pojok luar lapangan, balik kanan. Dekat pojok itu, para
pemerintah kabupaten Sumenep yang hadir pada acara pelepasan peserta MQK utusan
kabupaten ini, pun hadir menyambut dengan antusias. Mereka menyalami kita
sambil berucap, “Sukses!” Aku pikir itulah doa. Sahutan, ‘Amien’ lirih.
Sebagian teman masih mengingat kesalahan sebagian pemerintah saat
menyampaikan sambutan. Dia bilang ‘MKQ’ bukan ‘MQK’. Dengarnya, teman-teman
terkekeh-kekeh. “Dia hanya gayanya jadi pimpinan kita, sedangkan nyatanya?
Mengecewakan,” kritik si santri cerdik usai acara kemarin di Sumenep. Sebagian
teman yang lain menyangkal, “Eh jangan gitu. Kan dia yang ngasih uang saku pada
kita,” Serentak kata mencemoh semakin berkurang.
Terus jalan, bunyi hiburan Tong-Tong menggema dengan keras. Para
musisi tetap bersemangat memukul-mukul alat-alat musik seperti beduk, tam-tam, tong-tong[5],
dan yang lainya. Pembawa Acara (MC) memberi perhatian untuk memberhentikan
hiburan supaya tidak mengganggu acara yang akan segera dimulai.
Sayang, aba-aba berhenti yang disampaikan lewat sound system tak
direspons positif. Musik tetap berjalan dengan lagu-lagu khas Madura seperti ngapote
dan lain sebagainya. Hingga, seorang tentara tergepoh-gepoh menghampiri
gaungan musik khas Madura tersebut. Tak lama, musik larut dengan sendirinya.
Peserta delegasi dari beragam kabupaten atau kota masuk bergiliran di
pintu masuk menuju lapangan yang luas. Pembawa Acara memanggil satu persatu
sambil menyebut alamat delegasi dan pendampingnya beserta jargon yang tak kalah
menarik dan bervariasi. Lucunya, waktu bagian kabupaten Sumenep yang masuk
lapangan, disebutlah ketua official-nya, ‘Ustaz Faruq, S.Sy’. Gelar S 1
yaitu ‘S.Sy’ dibaca “Sarjana Sains”, padahal yang benar “Sarjana Syariah”. Dengar keganjalan itu teman-teman
terkekeh-kekeh. “Mekkar kopengah Faruq sakonne’,[6]”
sahut salah satu peserta.
Massa sebagian ada yang berjalan menuju tempat yang kosong, sebagian yang
lain berdiri berbaris lurus ke samping dan ke belakang berdasarkan alamat
mereka. Di depan mereka berdiri tegak di tempat khusus untuk undangan. Di
antara mereka (undangan dan peserta) terpisah dengan senggang kira-kira sepuluh
meter-an. Lapangan yang lumayan luas sesak dengan massa. Suara bergemuruh.
Bisa-bisa cepek atau lesu, sebagian peserta ada yang duduk, dan sebagian yang
lain tetap berdiri. Lampu Sirene bersinar tajam. Tak dapat mata menjangkau
sampai mana batas akhir sinarnya. Sambil dimainkan sinarnya, suasana lapangan
semakin bertambah indah dan memukau. Mata rasanya tak ingin dipejamkan. Ingin
selalu mengikuti arah lampu diedarkan sana-sini.
Awal kali anggapanku lampu Sirene hanya sebatas hiasan lapangan atau
hiburan semata. Tak ada lain. Tapi step by step mulai sampai di tengah
lapangan, berdiri di tempat yang tersedia, sampai acara bermula dan selesai,
lampu itu kadang dimainkan: sinar lampu yang satu dengan yang lainya digabung
hingga menyatu, kadang dipisah, yang satu bersinar ke arah kanan, sedangkan
yang satunya bersinar ke arah kiri. Di lain sisi, lampu didiamkan. Misal, waktu
pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sambutan, dan yang lainnya.
Nah, akhirnya aku ngerti dengan sendiri. Lampu itu disinarkan didasarkan
atas jalannya suatu acara. Sebut, sejak acara dimulai sinar lampu dikumpulkan,
tapi kala penyulutan Kembang Api, sinar lampu dikibar-kibarkan disertai bunyi menyayat. Seluruh
kepala mendongak. Melihat letusan Kembang Api yang tak kunjung henti. Hingga
mata merasa perih karena dihinggapi debu petasan itu dari atas. Air mata
meleleh dan diseka. Aneh. Mereka tetap kembali seperti semula. Kepala
mendongak, sedangkan mata terbelalak. Perih tak pasal. Sebab, kesenangan menghapus
segalanya.
Gambus dimainkan di samping kiri peserta. Karena penutupan usai, massa
amburadul. Ada yang tetap menyaksikan letusan Kembang Api yang tak kunjung
berhenti, ada yang nonton penampilan gambus, hingga sebagian peserta naik
panggung seraya zappin[7].
Aku diajak teman yang baru saja zappin dan turun panggung. Tapi, aku
menolak ajakannya. Bayangkan! Malu. Nari kayak gitu tak pernah diperaktekkan dalam
hidupku.
Lagu Arab-an dinyanyikan dengan suara meredu. Hati merasa terpikat larut
menyimak sajak demi sajak yang kaya dengan sastra. Kadang lagu berbahasa
Indonesia berbasis islami, seperti Cintai Aku karena Allah dan lain
sebagainya, pun dilantunkan. Sayang, nontonya tak sampai selesai, teman-teman
keburu pulang supaya tidak berlama-lama di sana karena besoknya (hari Rabu,
2/10/2013) akan berlomba. Agar tidak kendor dan spirit, butuh istirahat.
Teman-teman menarik lenganku kembali ke kamar. Sudahlah. Ikuti saja kehendak
mereka.
Sebelum keluar dari lapangan, aku dan teman-teman foto-foto. Ada yang foto
berdua. Ada yang foto sendirian. Putra-putri bersama pada saat foto bareng. Pose
masing-masing orang terlihat bervariasi. Tak kalah sama artis saat tampil dan
dibidik kamera. Riya’ (ingin dilihat orang lain) dan sum’ah (ingin
diperhatikan orang sekitar) sedikit banyak membekas dalam benak mereka.
Pasalnya? Dekat mereka bertebaran peserta putri. Hem, seperti itu anak muda.
Usia puber. Untung, hasrat jelek ala binatang dapat diredam. Mereka tahu lihat
atau menatap seorang perempuan yang bukan mahram jika tidak ada kepentingan, ulama fiqh
klasik menghukumi haram. Begitulah hukum yang tertulis di dalam kitab Fathul
Qarib.
* * *
Suasa sekitar pondok sedikit reda. Peserta yang mukim di sana masih belum datang semua. Mereka asyik menikmati acara pembukaan. Di kamar hanya ada tiga orang; aku, Mizan, dan Mashuri. Malam Rabu, sebelum lelap tidur, hendaknya belajar terlebih dahulu. Benak merasakan masih banyak poin-poin yang masih belum dihafal. I must study hard. Aku harus juara. Benakku memotivasi. Thus, pikiran mengingat Judul buku karya Antonius Arif, “Kalau Anda Mau Pasti Bisa.”
“Kita belajar bersama putri yuk,” ajak teman santai.
“Memangnya boleh apa?” sanggahku dengan mata melotot.
“Apa yang tidak mungkin di dunia ini?” sahut yang lain meyakinkan.
“Kapan?” tanyaku penasaran.
“Sekarang.”
Sejenak. Wahid baru saja tiba di kamar. Dengan nafas ngos-ngosan dia
duduk. Menenangkan diri. Baru separuh karingat kering bercucuran di jidatnya,
dia berujar, “Nanti kita belajar bersama dengan putri.” Perkataan salah satu official
ini bikin benakku yakin akan kebenaran ajakan temanku. Tanpa banyak
komentar, hanya diam yang memikat diriku. Apa jadinya kalau belajar dengan
putri? Memang menyenangkan, tapi coba dipikir ulang. Okey mereka hanya lomba
baca kitab dan debat saja, sedangkan aku lomba tahfid alias menghafal.
Guruku selalu memberikan peringatan, hendaknya jangan cuci mata supaya hafalan yang melekat di
memori tidak hilang atau error.
Aku sudah memutuskan tidak ingin ikut. Tapi, teman-teman tetap memaksa.
Menolak, kenak, begitu pun ikut sama kenak. Andaikan pengasuh tahu akan gelagat
mereka (belajar bersama, putra dan putri) pasti tidak diperbolehkan. Negatifnya
sangat besar.
Ah… terpaksa aku ikut. Sampai di tempat belajar kira-kira sepuluh langkah dari
kamar, teman-teman yang lain sudah mulai belajarnya. Ada yang sibuk cari
pasangan. Aku berdiri mematung. Mata menunduk. Teman-teman sudah menemukan
pasangannya: peserta bidang fiqh putra dengan peserta bidang fiqh putri dan
lain sebagainya. “Peserta Al-Fiyah putri mana?” tanyaku pada temanku.
“Emmm,
tidak ada? Tak ngutus untuk Al-Fiyah,” sahut A. Wahid yang sedang menemani
peserta yang lain belajar.
“Al-Hamdulillah.” Detak jantungku
lega. Al-hasil, aku
belajar sendirian. Kitab dibuka serta takrir hafalan. Keberadaanku kelihatan memelas. Tapi, tak kenapa. Sebab,
kesuksesan datang tak semuanya kerena belajar bersama seperti ini. Melainkan,
sebarapa tekun dan ulet berusaha, hingga apa yang diinginkan tercapai.
Nurani menangis bermunajat di hadapan Sang Kuasa. Yakin. Dia mendengar
setiap deretan doa hambaNya dan mengetahui setiap kehendak hambaNya. Nuraniku
minta semakin menjadi-jadi. Semoga kehadian aku di MQK ke-4 ini membawa nama
baik kabupaten Sumenep dan PP. Annuqayah. “Semoga Saya menjadi pemenang no. 1.
Jika Saya meraih juara 1, Saya akan bernazar ngaji surat Yasin sebanyak 1000
kali,” petikan doaku serius.
Nazar. Kata itu mengingatkanku pada pesan Pak Dangker (panggilan akrab
Bapak Abdul Basit) pada MQK ke-3 sebelumnya di Nurul Qadim-Paiton. Dia bilang,
“Bernazarlah supaya apa pun yang menjadi kehendakmu mudah tercapai.” Sungguh
ide yang baik. Sebab, tak semuanya kesuksesan dicapai hanya mengandalkan usaha
mati-matian, tapi butuh penyucian diri dari dosa yang menjerat kehendak baik
manusia. Salah satu, bernazar baik.
Malam semakin larut. Mata kantuk. Merem melek. Tatap suasana kondisi
terasa dingin karena sentuhan udara malam. Iiih... teman-teman tetap semangat
belajar. Mata mereka terbelalak menatap barisan tulisan berbahasa Arab karya
ulama klasik serta berdiskusi dengan partner-nya. Satu orang pun belum
ada yang tumbang. Semangat menjadi sang pemenang patut diajungkan jempol
setinggi mungkin. Aku tidur duluan kawan.
Tanpa basa-basi, aku meninggalkan tempat belajar dan menuju kamar yang
kelihatan petang. Lampu kamar dimatikan. Pasti di sana teman-teman yang lain
tidur terlebih dahulu. Tapi, kapan mereka belajar? Eeem, mereka dapat
warisan ilmu ladunni, bukankah? Sudahlah. Jangan sok ngurus orang lain.
Batinku berdiskusi. Terpenting, aku sendiri sudah belajar, hanya menunggu
takdir Tuhan besok dan selanjutnya.
Sampai di kamar, mereka sudah lelap dengan mimpi indah. Kitab Al-Fiyah
ibnu Aqil ditaruh di lemari santri PP. Syaikhona Cholil Bangkalan. Apalagi
lemari itu disediakan untuk peserta MQK.
Badan rebah dekat teman-teman. Doa dibacakan. Mata dimeremkan. Selamat
ketemu besok. See you tomorrow.
* * *
Esok hari, tepat pada kelender 2 Oktober 2013, hari Rabu, sejak pagi hari kira-kira jam 07.00-an bunyi sound system saling bersahutan antara majlis satu dengan majlis lain yang saling berdekatan. Kira-kira ada 14 majlis yang tersedia di MQK ini. Juri berjalan tertatih-tatih menuju majlis yang dimaksud. Sebab, beda bidang lomba, beda pula majlisnya. Demkian, beda marhalah[8] seperti marhalah ula (tingkat pemula), marhalah wustha (tingkat menengah), dan marhalah ulya (tingkat teratas), beda pula majlisnya. Tapi, peserta, baik putra atau putri, berkumpul dalam satu majlis jika bidang lomba dan marhalah-nya sama. Babak penyisihan dan penentuan juara disepakati dipisah. Putra dengan putri dibedakan, maksudnya.
Majlis yang persis di depan kamarku, ajang kompetisi sudah dimulai. MC
sedang membuka lomba, sedangkan tiga dewan juri duduk berbaris di hadapan
tempat duduk peserta. Peserta yang hadir masih dapat dihitung dengan jari.
Maklum, jam 07.00 masih terlalu pagi. Lama kelamaan, tempat duduk yang awal
kosong semakin terlihat sesak. Penuh dengan peserta yang baru saja hadir.
Majlis ini bukan majlisku. Majlis untuk Nahwu Ulya (Al-Fiyah) di samping
kamarku. Kira-kira sepuluh langkah sampai di sana. Suara juri lewat sound yang
diam di sampingnya, terdengar jelas ke ruang kamar.
Bergegas menuju majlis sambil lihat-lihat situasi dan penampilan peserta
lain. Aku masih nomor peserta ratusan, dapat dibilang lama. Bisa tampil besok
hari, hari Kamis tanggal 3 Oktober 2013. Kesempatan untuk cari gaya juri memberikan nilai atau
skor tinggi bagi peserta. Penampilan dan peserta yang bagaimana yang diinginkan
juri? Sebab, setiap juri, kata Pak Mustami, tak luput dari faktor subjektif,
sekalipun faktor objektif yang sejatinya didengungkan. Nonton sebentar.
Kemudian kembali ke kamar. Just to kill time, buka-buka kitab. Bosan
ajak teman jalan-jalan untuk lihat suasana luar di jalan yang kaya dengan
transportasi mondar-mandir sana-sini. Maklum di sana perkotaan.
Terlanjur larut dalam perjalanan, sebaiknya aku bersama temanku, Fikri,
mampir di majlis 14, arena Debat Bahasa Inggris. Dengar-dengar, Mr. Lutfi
bilang untuk majlis debat bahasa asing ini diletakkan di Hotel Ratu Ebuh. Hotel
yang dipandang pada malam hari waktu jalan menuju tempat pembukaan dari luar,
bangunannya begitu megah. Tak kalah dengan aula INSTIKA, bahkan melebihi. Aku
respons. Sungguh majlis strategis. Pasalnya? Speaking bahasa Inggris
butuh tempat yang mampu melahirkan suara bergema, sehingga enak didengar.
“Fik, ke sana yuk.” Ajakku seraya menuju hotel itu. Kita berdua tak
langsung nyebrang. Mobil lewat tak kunjung henti. Hingga harus nunggu sebentar.
Sambil berjalan tergepoh, mata memandang bergantian, kekiri-kekanan.
Halaman hotel sedang dipijaki, tapi lihat suasana agak sedikit sepi. Suasa
massa tak terdengar. “Memangnya benar di sini tempatnya?” Pikiranku bergumam.
Sejenak berdiri tenang. Desah nafas yang ngos-ngosan sedikit terobati.
Fikri hanya diam mematung dekat aku berdiri. Kening berkerut. Jidat ditepuk.
Kemungkinan besar bukan di sini tempatnya. Masa kita harus berdiam diri di
sini? Lihat-lihat orang lewat di sekitaran itu. Tiba-tiba seorang satpam.
Ditanya, “Permisi, untuk majlis Debat Bahasa Inggris bertempat di mana bapak?”
tanyaku mencegat jalan-jalan santainya.
“Owww, bukan di sini Dik. Tuh di sana,” katanya sambil menunjukkan jari
telunjuk ke selatan. Tapi, aku tidak tahu lingkungan di sini.
“Di mana bapak?” tanyaku kembali.
“Di kantor kabupaten Bangkalan.”
Mata melotot sebentar. Seakan-akan ada gelagat orang. “Terima kasih pak,”
ucapku. Kemudian, bergegas menuju kantor itu. Kita harus melintasi jalan yang
padat dengan transportasi lalu lalang.
Al-Hamdulillah. Mampu melewati satu jalan lurus. Sekarang santai saja. Kita sedang berada
di pinggir jalan. Di samping terhampar lapangan luas yang ditempati acara tadi
malam. Pikiran mumet cari kantor yang ditunjuk si satpam barusan. Di mana? Ini?
Atau itu? Benar-benar pening. Coba melintas di lapangan melalui pintu samping
yang tersedia. Di bawah besar pinggir lapangan, ada dua orang yang kelihatannya
peserta MQK. Aku yakin karena pakaian yang dikenakan. Seragam batik. “Boleh
tanya? Majlis Debat Bahasa Inggris di mana engki?” tanyaku tiba-tiba.
“Itu. Dekat dari sini,” ketusnya dengan logat bahasa Jawa tulen.
“Terima kasih mas.” Ucapku sambil meninggalkan mereka.
Keluar dari lapangan kantor kabupaten Bangkalan telah penuh dengan orang.
Pas kita sampai di sana, Mr. Lutfi sedang menemani peserta putra dan putri
delegasi Sumenep. Sambil menatap laptop yang nyala mereka terlihat sibuk
sedikit. Mungkin, sedang cari-cari referensi. “Kok masih belum dimulai?”
tanyaku menyela obrolan santai.
“Masih ambil lutri[9].
Ini mantan ketua BPBA English Lubangsa,” ujar Mr. Lutfi sambil
memperkenalkan aku pada mbak Faiq.
“Mbak, mondok daerah mana?” tanyaku sama mbak Faiq.
“Di Latee 2....”
“Jadi, peserta Aphrodite ya?” tebakku.
“Iya.”
“Ini Mister? Dari mana?” tanyaku yang lain pada Mr. Lutfi sambil menuding
mbak Ana.
“Dia Ana. Mondok Latee 2.”
“Jadi, sama-sama dari Aphrodite....” Aku menyimpulkan sepintas.
“Dulunya Iya. Sekarang tidak lagi tinggal di sana,” sahut mbak Faiq.
Ada satu peserta putri yang masih belum aku singgunng. Sejatinya, dia dan
aku saling kenal jauh hari sebelum MQK ini. Dia pernah ngobrol lewat ponsel,
SMS, Facebook, dan pernah kunjung ke rumah waktu kursusan AEC berlangsung untuk
ngantar familinya, Raudah dan Aisyah. Dia Imaniyah. Teman-teman dia sering
panggil Ima.
Anehnya, dia tak menyapa sepatah kata pun. Cuek amat. Hanya saja aku
menyender dengan sepatah pertanyaan, “Yang satunya dari mana Mister?” ketusku
sama Mr. Lutfi.
“Dari Lubri.” Mr. Lutfi ngira aku masih belum kenal.
Sofi, Faid dan Igo, peserta debat bahasa Inggris Putra, sedang duduk
santai dekat aku berdiri. Kitab kuning terdekap di pangkuanku. Fikri ikut
berdiri di belakangku.
“Lil, punya gagasan tentang harta warisan?” tanya Faid menyeka lamunanku.
“Tentang harta warisan....”
“Iya dik,” susul mbak Faiq.
“Ada dua pendapat. Bagi yang pro bilang, kalau harta warisan merupakan
ketetapan Tuhan secara mutlak sebagaimana tertulis dalam Al-Qur’an surat
An-Nisa’. Pada ayat-ayat itu akan ditemukan pembahasan mengenai bagian-bagian
orang yang akan menerima harta warisan dengan bilangan yang diputuskan oleh
Tuhan.
“Sedangkan, yang kontra timbul dari kaum liberal. Mereka bilang warisan
merupakan suatu ketidakadilan. Bisa dibayangkan? Masa satu orang perempuan
mendapat bagian separuh dari bagian orang laki-laki. Firman Tuhan, Falidz
dzakari mitslu haddhil unsayayni. Toh, itu adalah ayat Al-Qur’an bukan
lantas diartikan secara teks. Sedangkan, kitab itu relevan kapan pun dan di
mana pun. Jadi, tidak penting praktek faraid atau warisan pada masa kini.
Andaikan ingin digagas hendak disamaratakan antara laki-laki dan perempuan. Kan
perempuan sekarang dengan dulu berbeda? Dulu perempuan sering di rumah, tak
banyak banting tulang. Sekarang? Perempuan bekerja sama dan persis seperti
laki-laki, bahkan melebihi.”
“Terus....”
“Iya gitu lha mbak. Pokoknya, kalau kita ada di pihak pro, teks Al-Qur’an
yang harus disodorkan. Sedangkan, jika kita nanti di pihak kontra maka gagasan
kaum liberal yang semestinya digunakan.” Jelasku menyimpulkan.
Usai bantu-bantu mereka cari referensi, aku tinggalkan mereka sebentar dan
jalan-jalan di samping majlis. Kadang lihat pengambilan lutri di sana.
Bayang-bayang Situbondo tetap membekas. Pandangan diedarkan seraya mencari Ade’
Naila. Siapa tahu dia ikut pada MQK kali ini? Tapi.... Tak ada gelagat dia
sedikit pun.
Sudahlah. Mungkin dia masih ada di luar sini. Ngisi-ngisi waktu lowong,
aku dan Fikri belajar bersama dekat mobil yang diparkir. Awal kali Fikri yang
baca kitab Sullamut Taufiq, sedangkan aku memperhatikan dan menanyakan
penjelasan, arti, dan kedudukan Nahwu dan Sharraf-nya. Seakan-akan aku jadi
juri. “Kalau bisa anda padukan dengan referensi yang lain saat menjelasan.
Insya Allah, akan menambah nilai juri. Jangan hanya fokus pada kitab ini. Kutip
referensi kitab-kitab yang berkaitan atau membahas tentang tasawuf seperti Ihya’
Ulumid Din, Minhajul Abidin, dan... pokoknya kitab tentang tasawuf.”
“Iya,” responsnya seraya mengangguk-nganggukkan kepala.
Kemudian, giliran aku yang dicoba untuk mengulang hafalan. Fikri
memperhatikan sambil memegang teks nazam Al-Fiyah. Maklum, dia tidak hafal
nazam karya Ibnu Malik ini. “Fik, kalau bisa diacak. Tes aku bagian depan,
bagian tengah, bagian belakang, atau.... Pokoknya diacak,” pintaku memaksa.
Beberapa nazam dibaca separuh dari satu nazam kemudian aku melanjutkan
sampai ada tanda berhenti seperti ucapan “stop”, atau dia melanjutkan
pada nazam yang lain. Begitulah seterusnya. Gaya hafalan seperti itu tak jauh
berbeda dengan yang ditanyakan dewan juri terhadap peserta. Usai menghafal,
dilanjutkan dengan memberikan arti dan menjelaskan. Cukup.
Larut dalam belajar. Tak terasa lama duduk bersama. “Ke sana yuk.” Aku
mengajak Fikri kembali ke majlis usai belajar.
* * *
Waktu Dhuhur baru saja tiba. Sinar matahari pas di atas kepala. Jalan-jalan cari udara segar atau iseng-iseng, tak mood. Biasanya banyak orang lelap usai pulang dari berkerja di sawah di pedesaan, atau pulang sekolah atau kuliah bagi santri di pondok. Tepatnya dibikin waktu istirahat. Namun, tidak saat MQK berlangsung. Peserta yang belum tampil dan kemungkinan akan tampil kira-kira jam 13.30-an bergegas menuju majlis masing-masing dari pada istirahat atau keluyuran. Sebab, peserta yang dipanggil tiga kali tidak hadir, akan diputuskan gugur. Sayang, kalah sebelum bertanding.
Suasana panas terasa hingga mengucurkan keringat. Diam dalam keadaan tanpa
bersiram, kondisi badan tidak sehat dan fresh. Sebaiknya, ambil sabun,
pasta gigi, odol dan sampo, kemudian pergi ke kamar mandi dekat dapur santri.
Lewat di samping majlis 4 Nahwu Ulya, MC mengumumkan bahwa semua peserta akan
tampil nanti malam (malam Kamis). Namaku juga disebut. “Jadi aku harus
bersiap-siap,” gumam pikiranku.
Detak jantung tiba-tiba kencang. Sedikit gemetar. Alat-alat mandi yang
direngkuhnya terlihat geleng-geleng. “Puih, hanya dengar namaku dipanggil, jantung malah tak
karuan. Apalagi nanti ketika tampil. Yakin ambruk di depan. Mental penakut
diriku kalau terus kayak gini. Ah.... Pokoknya aku harus cari cara
menghilangkan mental bejat. Masa seorang Khalil yang sering ikut dalam beragam
kompetesi, akhir-akhir ini nervous.” Batinku mengomel.
Di kamar mandi, bayangan gerogi masih membekas. Perlahan bayang-bayang itu
mampu ditepis. Kucoba alihkan pikiranku pada objek lain. Sebut, pergi shopping
di pasar malam, jalan-jalan dan lain sebagainya. Sebenarnya, yang membikin
jiwa terganggu, pertanyaan setengah optimis, setengah pesimis alias skeptis,
“Bagaimana seandainya aku kalah?” Pertanyaan itu timbul karena tudingan abah
dan teman-teman pondok. “Pokoknya kamu harus menang Lil,” ketus mereka. Walau aku jawab santai, “Insya Allah”, jantung
dag-dig-dug.
Ketenangan jiwa dalam berlomba sangat penting selain mampu secara
intelektual. Kadang ada orang pintar tapi tidak mampu membikin suasana atau
penonton tertarik atau kaget, karena nervous atau gugup. Di sisi lain,
kadang peserta yang biasa-biasa saja mampu bikin suasana bergairah dan
terbangun. Apalagi, selain pintar, ditambah mampu menyetarakan emosi dengan
kondisi, hasilnya akan terlihat memuaskan.
Pernyataan itu awal kali timbul dan disadari oleh diriku sendiri waktu
bimbingan lomba MQK ke-3 di Nurul Qadim. Kala itu Pak Dangker bilang kalau
dalam berlomba tidak hanya mengedepankan intelektual, tapi butuh penyertaan
kecerdasaan emosional. Terus, ditopang dengan pengalaman aku berpartisipasi
dalam ajang kompetesi, baik tingkat lokal, pulau, dan provinsi. Begini ceritanya.
Sejak baru mondok di PP. Annuqayah daerah Lubangsa tahun 2009, pernah aku
didaftarkan ikut lomba baca kitab di Sya’baniyah se-Annuqayah. Kitab yang
dilombakan adalah Kifayatul Ahyar. Ingatanku masih jelas, yang jadi juri
adalah bapak Dangker. Sedangkan, bab yang dibaca adalah muamalah.
Waktu juri mempersilahkan aku memberikan arti dan pemahaman, diriku dapat
dibilang “bisa” tapi kurang begitu meyakinkan, terutama terhadap juri.
Sehingga, kesannya biasa-biasa saja. Lebih terpuruknya, tidak menarik. Begitu
pula, saat ditanyakan kedudukan suatu kalimah atau kata dalam ibarah yang
dibaca. Sekalipun, pada kali terakhir si juri berkomentar, “shaheh.”
Apa yang terjadi pada saat penentuan pemenang di malam puncak? Harapan
yang bergumpal di dalam hati, tak menghasilkan apa-apa. Aku kalah. Nah, di atas
kekalahan itu, diriku sering mengevaluasi hingga timbul suatu pertanyaan yang
terbias di dalam pikiran, “Sebenarnya, apa yang kurang dari diriku?” Hingga
sadar penampilanku kurang meyakinkan dan memukau.
Pada tahun berikutnya, tahun 2010, ajang Sya’baniyah digelar kembali.
Santri dari beragam daerah: Lubangsa, Latee, Nirmala, dan Lubsel, berdatangan.
Panggung yang agak meninggi diletakkan di pojok timur utara masjid Jami’
Annuqayah. Sungguh tempat strategis mendorong audiens nonton. Aku ikut kembali.
Sedangkan, kitab yang akan dibaca adalah Fathul Mu’in. Jurinya dari
daerah Latee, yaitu Sama’. Saat namaku dipanggil, aku naik ke atas panggung.
Dibukalah maqra’[10].
Dibaca dan dijelaskan dengan nada lantang dan serius sambil disertakan
referensi dari kitab yang lain. Para penonton terperangah melihat penampilanku.
Sorak-sorai serta tepukan tangan menggema dari arah yang bervariasi. Nurani
yakin kalau aku akan juara 1. Begitu pula penonton nyeletuk, “Pasti juara 1.
Jika tidak, jurinya yang salah pilih.” Terkesan egois.
Ya... di malam puncak, namaku
dipanggil pertama kali sebagi juara 1 Qira’atul Kutub. Syukur menggema. Tampak
prestasiku. Tapi, ke depan aku tidak boleh nakal. “Semoga dengan prestasi ini,
diriku semakin termotivasi untuk belajar dan belajar,” harap batinku. Di
samping itu, aku dapat biaya siswa SPP Kampus INSTIKA selama 4 semester.
Lumayan masih ada tunjangan, sehingga tidak terlalu memberatkan abah dan umi.
* * *
Malam Kamis. Waktu aku tampil. Biasanya waktu malam break. Tapi, karena tadi sore, jurinya berhalangan, diganti pada malam hari. Saat lomba dimulai, penonton, terutama santri pondok pesantren sana nonton bareng. Arena sekitar sesak dengan publik. Pada malam itu tidak ada tontonan lain selain lomba tahfid Al-Fiyah. Banyak peserta yang nervous hingga berakibat fatal, karena gojlokan penonton. Apa yang ditanyakan dewan juri, tak mampu dijawab, terutama hafalan. Sering kata “pass” atau “next” diucapkan. Aduh, gimana dengan diriku? Aku jadi keder dan bingung.
Aku berusaha menenangkan diri, jantung tak bisa dikompromi. Bisa-bisa aku
akan ambruk nanti. Skor yang dihasilkan musti rendah jika tetap kondisi jiwaku
seperti ini.
“Mungkin sampai di sini dulu Musabaqah Qira’atil Kutub Nahwu Tingkat Ulya.
Untuk yang akan tampil besok, adalah Khalilullah....” MC menutup serta
memberikan informasi dengan menyebut namaku pertama kali.
“Al-Hamduliilah saya tampil besok,” gumam batinku bangga.
Penonton bubar usai lomba malam itu diakhiri. Mereka bertebaran. Jadi, aku
akan tampil hari Kamis. Moga meberikan yang terbaik! Amin....
* * *
“Kapan kamu akan tampil?” tanya teman-teman.
“Sekarang. Pertama kali lagi,” jawabku jujur.
Pagi itu matahari meninggi setinggi tombak. Tanpa bersiram, hanya pakai parfum sekadarnya, langsung
berangkat ke majlis. Pertanyaan temanku masih membekas di pikiran. Tak kuasa
menepis, malah jadi pengganggu: bikin mental nervous. Inginnya, aku tampil tanpa
ditonton mereka. Takut hanya bikin mereka kecewa karena tidak maksimal.
Aku sudah duduk santai di bangku yang tersedia di majlis. Peserta yang
lain semakin banyak berdatangan. Begitu pula penonton, baik dari kabupaten Sumenep
sendiri, maupun kabupaten atau kota lainnya. Saat namaku dipanggil oleh MC, aku maju. Namun, sebelum duduk
di pentas, aku ngambil maqra’ yang dibungkus dengan amplop. Kemudian
diserahkan kepada panitia yang lain yang duduk berdekatan dengan MC. Detak
jantung mematuk-matuk dada. Gemetar dikit. “Moga saja tepat pada maqra’ yang
gampang,” munajat benakku terus-menerus. Tapi, apakah tidak terlambat doa
itu dipanjatkan sejak itu? Masih ingat? Fir’aun yang dibilang terlambat
bertaubat sebab nyawa sudah tinggal dikerongkongan. Nah, semestinya doa itu
dipanjatkan jauh sebelum maq’ra’ diambil. Kalau soal itu, sudah aku lakukan setiap kali selesai
shalat lima waktu.
“Dipersilahkan
dibaca.
Mukadimah,” perintah juri yang duduk pada posisi paling kiri di depanku.
“Qala Muhammadun huwabnu maliki # Ahmadu rabbillaha khaira maliki,”
bacaku dan enam nazam berikutnya.
Pada sesi berikutnya juri tadi membaca separuh dari satu nazam,
kemudian aku melajutkan, hingga ia menghentikan dengan membaca nazam yang lain.
Sungguh dibuat linglung pikiran melanjutkan serta menebak nazam yang dibaca.
Sebab, nazam itu tidak disebutkan bab dan urutannya.
Seingatku, ada dua hafalan yang disangkal dan di-stop karena
kesalahan kata yang dihafal atau lupa untuk melanjutkan. Aku diam. Tanpa
sepatah kata pun. Misal, “pass” atau “next”.
Khawatir, juri kasih nilai rendah.
Beralih pada sesi pertanyaan, juri yang lain membacakan suatu syair Arab
dan menanyakan kata yang terkesan sulit dari syair tersebut. Untung, masih mampu
dilalui dengan baik. Terus, dia melanjutkan dengan pertanyaan yang lain.
Kujawab dengan santai. Benak meyakini kalau jawaban ini benar adanya. Tapi…
juri berkata lain. “Sampean ngerti atas maksud penjelasan ini, tapi contoh sampean tidak sama
dengan penjelasannya,” kritiknya pedas dengan logat
bahasa Jawa tulen.
Diriku diam saja. Tanpa sepatah kata pun untuk menyangkal. Teman-teman
yang antusias menyaksikan penampilanku kecewa. Aura mukanya terlihat dingin.
Rasa optimis sekitika itu antara hidup dan mati. Dalam pikiran mereka
“kemungkinan juara” sangat sulit aku gapai. Begitu pula yang aku rasakan.
Usai meninggalkan pentas atau majlis dan kembali ke kamar, langsung badan
direbahkan ke lantai sambil berucap, “Tadhe’. Kacla’ mon sateyah[11]”
sambil menggaruk-garuk kepalaku.
“Khalil liberal,” kesan Igo yang baru saja menyaksikan penampilanku.
“Gimana?!” tanya Wahid dari luar jendela kamar yang sedang terbuka. Sinar
matahari merasuk ke dalam ruang kamar.
“Banyak kritikan dari dewan juri,” sahut Hisyam, adik Wahid yang kebetulan
ikut MQK bidang Balaghah Ulya.
Sambil berbaring, sambil menunggu takdir. Antara optimis dan pesimis
berkecamuk di dalam pikiran. “Yakin masuk babak final,” gumam pikiran. “Sulit
tau, wong penampilannya saja amburadul,” sahut pikiran yang lain.
Pikiran satu dengan yang lain saling bersahutan tiada henti. Nurani merintih,
sekalipun senyuman yang dibuat-buat dan
dipaksakan terhias di wajahku. Orang lain ngira keadaanku biasa-biasa saja,
seperti sediakala, tapi kenyataannya aku sedang bersedih. Sedih karena beban
moral. Aku malu pulang ke pondok dengan tangan hampa. Tanpa membawa tropi.
Apalagi ditanya dan didengar abah, pasti kesannya sinis.
Dengar-dengar pengumuman yang masuk babak penyisihan, akan diambil enam
peserta dengan nilai tertinggi. Sejak waktu Dhuhur tiba, Musabaqah Nahwu Ulya
(Al-Fiyah) baru saja selesai. Dilayar proyektor terbentang lebar nama-nama
peserta yang masuk pada babak final, untuk merebut juara 1, 2, 3 dan harapan 1,
2, 3. Kuperhatikan urutan nama-nama peserta. Ternyata... namaku menempati urutan
ketiga. Wah... Kaget lihat aku masuk pada babak final. Benakku setengah
percaya, setengah tidak. Untuk memastikan seketika itu aku tanyakan pada
panitia yang sedang menatap laptopnya. “Pak, bisa lihat peserta yang masuk
babak final?” pintaku pelan.
“Bisa,” ucapnya sambil mengarahkan kursor pada file yang dimaksud.
“Nih,” ucapnya kemudian.
“Sampean yang mana?” tanyanya sedikit penasaran.
“Itu, nama Khalilullah, pak,” ucapku sambil mengarahkan jari telunjuk ke
namaku yang tampak di layar laptop.
“Ow, dari Sumenep ya?”
“Iya.”
“Mondok di Annuqayah?”
Diriku kaget, dia nyebut nama Annuqayah. “Kok bisa tahu Annuqayah bapak?”
Aku berlagak kayak orang kaget gitu.
“Dulu saya pernah berkemah di sana. Saya punya teman mondok di sana. Tapi,
siapa namanya ya.... Aduh, saya lupa. Tapi, kalo wajahnya masih ingat.”
“Kalo sudah dulu, bisa-bisa saya tak kenal juga.”
“Kagum saya ke anak-anak Annuqayah.”
“Sih... jangan muji gitu lha pak.”
“Beneran. Pokoknya, saya titip Sumenep sama sampean.”
“Makasih Bapak.”
Diriku yakin seratus persen. Aku masuk di babak final. Diriku bangga.
Jadi, besok hari Jum’at aku akan tampil kembali. Biar aku berada pada urutan ke
tiga, yang terpenting, besok aku ada di urutan nomor satu, alias juara satu.
Amin.
Kembali ke kamar, tak langsung buka mulut. Biar mereka tanya lebih dulu.
“Masuk babak final?” tanya salah satu mereka.
“Iya.”
Sambil buka Facebook, kutulis status. Mohon doa teman-teman. Semoga
berhasil. Pikiran refresh sejenak. Nanti lanjutkan belajar untuk
persiapan besok. Besok hari penampilanku harus lebih baik dari pada sebelumnya.
Harus.
* * *
Kala sore hampir berganti petang, senja tampak di pelupuk mata. Terasa indah dalam pandangan. Ingin selalu hanyut bersamanya. Nazam Al-Fiyah yang dicetak dengan bentuk kecil, mendekap di dalam saku jaketku. Planning sore ini, aku takrir hafalanku di masjid dekat kamar. Soalnya di sana suasana tenang. Suara hingar bingar mampu diredam dengan lantunan kalam Tuhan yang dibaca santri.
Di masjid bagian depan, aku duduk. Nurani terasa terpikat ruh ulama,
hingga lelehan air mata mengalir tak dikira. Aku baru sadar kalau tempat yang
sedang aku diami, tempat shalat Syaikhona Khalil Bangkalan. Pikiran menerawang
mengingat sejarah baik ulama kharismatik ini. Hingga beliau dikenal waliyullah
karena karamah yang tampak dari diri beliau. Misal, mampu memadukan atau
menjawab kasus fiqh dengan nazam Al-Fiyah, mampu melepas jeratan ketidakfasihan
Kiai Syamsul Arifin saat membaca Al-Qur’an dengan air ludah beliau, dan lain
sebagainya. Sungguh hebat!
Setelah kirim al-Fatihah, takrir hafalan dimulai dari depan hingga
belakang. Lama duduk di masjid, tak terasa saf kosong sejak kali sampai di
sana, tiba-tiba sudah penuh dengan santri yang mengenakan baju gamis putih.
Diriku jadi kaget. Sebab, saat itu pula aku kenakan jaket hitam. Sungguh tampak
hanya aku yang ganjil di mata mereka. “Bagaimana seandainya tamu pakai baju
selain putih di sini?” tanyaku pada santri yang duduk di sampingku.
“Tak kenapa. Pakai gamis putih hanya bagi santri sini,” ujarnya sedikit
menepis kegundahan.
“Allahu akbar, allahu akbar....” Muazin melantunkan iqamah. Santri
berdesakan menuju saf terdepan. Badanku terbanting. Tak kuasa berdiri dalam
desakan, aku keluar dari saf. Kemudian, pindah ke saf yang paling belakang.
Al-Hamdulillah. Takriran seribu nazam selesai dengan sempurna. Nanti tinggal baca-baca
syarahnya.
* * *
Jum’at pagi tanggal 4 Oktober 2013, babak final telah dimulai. Jam menunjuk pukul 07.00-an. Panggilan diurut dari skor tertinggi hingga terendah sejak babak penyisihan. Karena aku ada pada urutan ke-3, jadi dua peserta akan tampil sebelumku. Sambil memperhatikan gaya penampilan dua peserta, kitab Al-Fiyah ibnu Aqil dibuka di hadapanku. Dieja kata demi kata.
Pada babak final, selain hafalan, tanya-jawab, juga ditambah dengan bacaan
syarah kitab ibnu Aqil-nya. Mendengar informasi ini, responsku tenang alias
santai. Insya Allah aku siap kalau hanya membaca dan menjelaskan isi teks yang dibaca.
Peserta pertama dipanggil. Dia maju seraya mengambil maqra’ sebelum
beranjak ke pentas. Usai tampil, diperoleh skor 655. Skor segitu, baginya, berada
antara harapan juara 1 atau bisa jadi anjlok jika peserta selanjutnya
menampilkan skor lebih tinggi. Tampil pada urutan pertama dalam kompetisi,
bagiku, sering tidak menguntungkan. Sebab, banyak kesalahan diperbaiki oleh juri pada penampilan peserta selanjutnya.
Untung aku masih nomor urut 3. Bisa mengevaluasi peserta pertama dan kedua.
Berlanjut pada peserta nomor urut 2, hingga finis ditampilkan lebih rendah
dari penampilan pertama tadi, yaitu 625. Kemudian, dipanggillah namaku. Gemetar
bukan main. Tapi, sedikit demi sedikit mampu diredam. Aku teringat akan pesan
teman. “Supaya tidak gerogi, pijatlah jari kelingking sebelum tampil,” ujarnya.
Mujur, pesan itu terasa manfaatnya.
Duduk di hadapan juri usai mengambil maqra’. Satu juri berbisik
pada juri di sampingnya. Dugaanku, mungkin mereka sedang ngomong tentang aku.
Bukannya sok GEDE RASA (GR) atau sok gimana, dua juri pada MQK kali ini pernah
menjadi juri dalam MQK sebelumnya. Sedikit wajahku tak asing di mata mereka.
Mungkin....
Si juri menyuruh baca mukadimah Al-Fiyah. Terus, dilanjutkan dengan soal
nazam yang lain. Pikiran berputar sana-sini. Jujur kalau hari-hari sebelumnya
Ade’ku, Naila, selalu terbersit di pikiranku (teringat), tapi waktu itu Ade’
sedikit pun tak terpikirkan. Bukannya aku melupakan, tapi agar fokus pada soal
yang disodorkan juri. Maafkan Abang,
Ade’.
Soal hafalan usai sudah. Berganti pada tanya jawab. Aku memang ketir kala
berhadapan dengan juri yang satu ini. Pasalnya? Dia berbeda dengan dua juri
yang lain. Kalau dua itu masih pegang kitab, Ibnu Aqil atau Hasyiyah
ibnu Aqil, tapi dia tidak. Bukan dia sok sombong. Dia memang alim. Selain
hafal nazam ini, juga hafal makna dari nazam tersebut. Learn by heart. Kesempatan
untuk menggurui juri sangat sulit. Beberapa pertanyaan melayang dan menghantam
tiada henti. Mujur dapat ditepis.
Mikropon dialih ke juri yang lain. Dengan enteng dan santai dia tanya
tentang kasus di dalam bab Shifat Musyabbahah. Bab ini pernah dipelajari
bahkan dihafal, jadi tanpa pening pertanyaan itu dijawab dengan sempurna. Dia
mengangguk-ngangguk. Seakan-akan dia membenarkan akan jawabanku.
Waktu telah habis. Juri yang terakhir berusul apakah soal untuk bacaan
syarah akan dilanjutkan. Dua juri yang duduk di sisi kanan dan kiri mengangguk.
Setuju. “Dipersilahkan buka shahifah....[12],”
perintahnya. Setelah dibuka tak dikira tepat pada bab Tarhim, bab yang
membahas Munada yang dibuang huruf akhirnya.
“Silahkan dibaca,” perintahnya kemudian.
Baris demi baris dilalui dengan santai disertai lahjah (logat) baca
kitab yang meyakinkan. “Sudah, sudah.” Dia menghentikan bacaanku.
“Dipersilahkan diberi arti,” suruhnya dengan logat bahasa Jawa asli.
Diberi arti sambil dijelaskan maksud ibarah tersebut. Si juri
menyelipkan pertanyaan, sehingga penjelasanku sering terpotong-potong. Tapi,
tak kenapa. Keterpotongan ini bukan atas kesengajaan, tapi memang juri sendiri
yang bikin. Terlalu asyik menjelaskan. Waktu sudah lama berlalu. Tepukan tangan
isyarat memberikat support saling bersahutan. Seingatku, Mr. Lutfi salah
seorang yang tepuk tangan nyaring. Hingga, juri meng-cut, “Sudah.
Cukup.”
Tanpa langsung berucap salam pemungkas, diriku kaget. Mau berhenti atau
masih terus? Tapi, si juri bilang yang kedua kali untuk berhenti. Mungkin,
sudah dikira cukup.
Salam diucap, kemudian aku turun. Mr. Lutfi yang masih duduk santai di
kursi yang tersedia untuk peserta, dihampiri. Duduk di dekatnya, tanpa sepatah
kata pun. Peluh yang bercucuran, dikipas dengan kartu peserta yang sedikit
lebar sehingga udara menghapus keringat yang bercucuran. “Sip Lil,” puji Mr.
Lutfi. Aku balas dengan senyuman.
“Dari mana Mas?” tanya orang setengah baya yang duduk tak terlalu jauh.
Mungkin hanya dipisah satu kursi.
“Dari Sumenep. Annuqayah,” sebutku kedua-duanya, Sumenep yang
mendelegasikan aku di MQK ini, dan Annuqayah sebagai media yang banyak
mengajariku tentang ilmu.
“Bapak jadi official?” tanyaku.
“Iya.”
“Ada yang masuk di babak final?” pertanyaanku dimengerti kalau aku tanya
peserta yang dibimbingnya.
“Iya. Tu dia,” katanya sambil menunjuk kepada seseorang laki-laki yang
tinggi badan persis denganku. Dia pakai seragam. Di bagian pundaknya tertulis
nama BLITAR.
“Bapak dari mana?” tanyaku pura-pura tak tahu.
“Dari Blitar.”
Dengan jawaban tadi, tiba-tiba obrolan berhenti dengan sendirinya. Nilai
dipampangkan di panpan proyektor, berjumlah 675. Sungguh skor tertinggi
dibandingkan peserta sebelumnya. Lihat skor itu, si ibu yang duduk di depan
kiriku tanya, “Dari mana, dik?”
“Lho, kenapa aku disorong pertanyaan asalku?” gumamku merasa bangga
sedikit dikenal orang lain.
“Annuqayah Sumenep, bu,” jawabku tanpa meneruskan obrolan, sehingga dengan
sendirinya berhenti sampai di situ.
Peserta yang lain dipanggil. Sayang, skor yang dikantongi masih di bawah
skor milikku, yaitu 635, dan 640. Tapi, saat peserta dari Blitar baru saja maju
usai MC panggil namanya. Sehingga, ketika ditampilkan skornya melonjak di atas
skorku, 678. Hasrat meraih juara pertama, tak seirama dengan kenyataan.
Masalah? Sudahlah. Tak penting disesali. Syukuri saja. Walau juara 2, aku
merasa bangga, begitu pula dengan kedua orang tuaku, guru-guru, teman-teman,
dan Ade’ku, Naila.
Dalam keadaan bangga, aku pinjam ponsel dan panggil abah. Beri tahu kalau
putranya meraih juara 2. “Tapi, tak bisa melanjutkan ke tingkat Nasional,”
kataku mengingat penjelasan Pak Mustami’ di acara musyarawarah beberapa hari
sebelum berangkat.
“Aduh.... Tolos tak ikut di tingkat nasional?” kesannya sinis
sedikit.
“Kan masih proses, bah?” Aku menyangkal.
“Iya.”
“Umi kaemmah[13]?”
tanyaku kangen dengar suara umi.
“Hel, ini Khalil,” panggilnya pada umi.
“Halo,” sapanya lembut.
“Al-Hamdulillah juara 2, mi,” kataku terkesan pamer.
“Ow, juara satunya siapa?”
“Dari Blitar. Hanya kalah tiga angka. Kauleh memperoleh skor 675,
sedangkan dia, 678.” Aku berusaha menjelaskan.
“Lil, katanya IKSAPUTRA kunjung ke sini?” tanyanya lain tentang anak-anak
Ikatan Santri Pantai Utara yang akan melaksanakan acara Orientasi Pengkaderan
Iksaputra (OKI) di rumah.
“Engki, mi.”
“Kapan di sini siap-siap? Katanya konsumsi dari sini?”
Umiku terkesan bangga.
“Besok paginya saja, mi. Untuk waktu Dhuhur, Taufiq yang nanggung.”
“Aba kaemmah pon?” tanyaku.
Ponsel dialihkan pada abah.
“Ada apa Lil?”
“Ba... punya nomor HP-nya pak Wakid dan pak Sarbini.” Mereka adalah guru
yang ngajarin aku kitab kuning sejak masih berada di rumah, sebelum mondok.
Memoriku tetap mengingat kalau aku berlajar Matnul Jurmiyah, kitab dasar
Nahwu kepada pak Sarbini setiap malam Jum’at usai shalat Isya’ dan setiap sore
setelah shalat Jum’at, dan Fathul Qarib kepada pak Wakid setiap hari
selain hari Jum’at usai jam sekolah fomal kira-kira jam 13.00 sampai 13.30-an.
“Punya,” jawabnya sambil pijat tombol ponsel.
“Ada ba?” tanyaku tidak sabar.
“081....” Nomor kartu XL dibaca. Itu nomor bapak Wakid. Pas nomor itu
diketik di layar ponsel, langsung dipanggil. Tuuut! Aktif.
“Halo,” sapanya persis suara Pak Wakid waktu masih dulu dengarkan
penjelasan kitabnya.
“Khalil, muridnya sampean.”
“Ya ada apa, Lil?”
“Al-Hamdulillah kauleh juara 2 di MQK, pak.”
“Bagus. Saya juga ikut bangga.... Sudah dulu Lil. Ini masih ada kerjaan.”
“Sakalangkong pak.”
Panggilan dimatikan. Kemudian tersambung kembali dengan milik abah.
“Masuk?” tanya abah.
“Lastareh pon apareng oneng[14].”
“Nomor Bapak Sarbini, bah....”
“Nih 081....”
Dicoba panggil. Ternyata masuk.
“Assalamu’alaikum.” Sapa Pak Sarbini.
“Wa’alaikum Salam. Khalil bapak.”
“Bagaimana lombanya?”
“Al-Hamdulillah juara 2, pak.”
“Al-Hamdulillah. Untung besar sampean. Karena, sampean masih
sebentar belajar kitab, sudah mampu juara.”
“Makasih, bapak.”
“Sampean sekarang ada di mana?”
“Di Bangkalan, pak.”
“Owww....”
“Udah dulu ya, bapak.” Telepon dimatikan. Begitu panggilan yang tersambung
dengan ponsel abah usai pamit.
Nafas mangalir dengan tenang. Di bawah tenda yang ditempati tempat
pendaftaran kemarin, banyak terjual benda-benda spesial dijadikan
kenang-kenangan MQK ke-4 Bangkalan. Sebut, bolpen, anting-anting kunci, kaos,
dan lain sebagainya. Benda-benda tersebut dapat ditulisi apa saja dengan ukiran
yang bagus. Aku merasa tertarik untuk beli, apalagi saat itu pikiranku teringat
Ade’ Naila. Pasti dia bangga lihat Abangnya seperti ini. Mulai sejak kemarin
sudah dicari-cari tetap tidak ada, karena dia tidak ikut di MQK kali ini. Emmm,
aku ingin kasih sesuatu sama dia. Gimana andaikan dibeliin barang kayak gitu?
Menarikkah?
Di atas pertanyaan-pertanyaan yang masih meragukan langkahku, akhirnya
mampu ditepis. Ah... dia tidak akan melihat apa yang diberikan, melihat orang
yang memberi. Kalau aku, Abangnya sendiri, yang ngasih, pasti dia menerima
dengan rasa bangga. Yakin.
Diputuskan beli. “Kalau ini berapa, pak?” tanyaku sambil mengangkat bolpen
warna putih.
“Semuanya beserta ukiran namanya 5.000,-.” Dia menjelaskan.
“Saya ambil anting-anting berbentuk waru saja, pak,” pilihku yang lain
sambil menunjuk benda yang tergeletak dekat si penjual.
“Kasih nama “Naila” dan “Abang”. Pada kata Abang dikasih tanda petik. Diletakkan
di bawah nama Naila itu, pak.” Jelasku njelimet.
“Tulis dulu dik,” perintahnya sambil menyodorkan kertas dan bolpen.
Ditulislah. NAILA “Abang”.
“Hanya satu,” gumam pikiranku.
“Nih Pak ditambah dengan bolpen yang warna hitam,” beliku yang lain,
“kasih tulisan yang sama.”
Sayang, si penjual salah tulis. Ditulislah. “Naila Abang”. Sudah.
Tak kenapa.
Dikira cukup untuk Ade’. Sejenak aku diam. Pikiran menerawang. Eh, aku
punya famili di PP. Annuqayah Lubri, Lilik dan Ulfa. Sebenarnya, familiku tidak
hanya mereka, tapi mereka yang paling dekat dan akrab. Aku belikan mereka dua
bolpoin: yang satu diberi nama LILIK, dan yang lain dikasih
nama ULFAH.
Moga saja bermanfaat!
* * *
Malam Sabtu. Aku ingat malam itu. Malam yang penuh kebahagian. Tahukah? Pada malam itu acara penutupan MQK digelar. Hasrat melihat, merengkuh, memeluk dan mencium piala bergengsi terbayang di depan mata walau aku masih berada di kamar sambil siap-siap berangkat. Seperti biasanya, aku pakai seragam sebagaimana di acara pembukaan beberapa hari silam: peci hitam, baju putih dilapisi jaket almamater INSTIKA, dan celana hitam.
Selain itu, aku kangen teman-teman pondok. Biasa. Sudah 4 hari plus 5 malam mulai tanggal 1 sampai tanggal 5
aku berada di sana, sekalipun tinggal di sana jauh berbeda dibandingkan waktu
berada di pondok. Peraturan free. Aku keburu cerita kebahagian yang
Allah berikan padaku. Tapi, gimana? Kehendak untuk panggil lewat ponsel sudah
diusahakan, sayangnya teman-teman tidak punya nomor HP pondok. Sekalipun ada
satu atau dua nomor, tapi tidak aktif ketika di-call.
“Ayo cepat, ayo cepat, teman-teman yang di PP. Al-Hikam sudah datang,”
ajaknya mencerocos. Telinga seakan-akan terganggu mendengarnya.
“Tunggu bentar, pak. Masih siap-siap nih?, sanggahku sama Pak
Wahid.
Kita sudah kelihatan rapi. Bau parfum menyengat hidung menciumnya. Then,
keluar menuju depan kamar sambil tertatih-tatih berjalan ke tempat acara. Tapi, di mana? Pikiran pening. Sungguh tak tahu
di mana acara itu dilaksanakan. Sebab, sayup-sayup suara sound system tak terdenger
sedikit pun. Sambil berjalan, segelintir ragu-ragu hinggap seketika. Benarkah
acara penutupan sekarang? Bukan besok? Kan lombanya baru selesai tadi sore?
Ah... tak penting untuk memperdebatkan. Sebaiknya jalani saja dulu. Jika
nanti acaranya ada, ya bagus, cepat-cepat pulang. Jika tidak ada, aku isi waktu
yang terlanjur keluyuran dengan enjoy suasana di luar, hirup udara segar
atau pergi ke warnet yang terbuka siang malam. Aku pengin online. Ingin
tahu keadaan FB-ku. Pasti ada pesan nongol, pemberitahuan, permintaan
pertemanan, pun teman-teman yang aktif. Bisa-bisa ada pesan dari Ade’ Naila.
Ih... udah mengahayal. Kengen tah? Pastinya iya. Hingga, aku dengar komentarnya
di dunia maya ini. Kalau bisa dengar suaranya. Kalau bisa lagi, ketemu
orangnya.
“Acara penutupannya akan bertempat di mana?” tanyaku sambil menyusuri
jalan raya beraspal. Lampu-lampu jalan bertandang di atas jalan seraya
memuncratkan sinarnya, hingga jalan jadi tampak tanpa bantuan alat penerang
seperti obor atau senter. Transportasi: sepeda, mobil, atau semacamnya lewat
tak kunjung henti, lewat satu, yang lain membuntut dari belakang. Untuk
nyeberang harus nunggu hingga ada senggang antara aku dan mobil (dan sepeda)
yang kelihatan masih menjauh tampak dengan sinar lampu yang mencolok atau
ketika lampu merah nyala.
“Di Hotel Ratu Ebuh,” katanya.
“Ratu Ebuh?!” Sedikit kaget.
“Iya koh.”
Sampai di pagar suara sound terdengar keluar. Pak Dangker dan
istrinya yang bergandengan tangan Mbak Romlah menyambut kedatangan kita.
Iskandar, teman yang bersama menuju ke hotel bertingkat dan megah, disambut
dengan rasa kecewa. “Kok bisa juara 3?” ucap Pak Dangker saat tahu dia
(Iskandar), juara 1 Nasional MQK tahun sebelumnya diketahui juara 3 MQK tingkat
Jawa Timur kali ini. Dia hanya diam. Senyum terlihat, sekalipun terkesan berat
dibikin.
“Iya, dik, kok juara 3?” tambah Mbak Romlah, sebagai official Debat
Bahasa Arab. Aku sendiri melihat Iskandar diperlakukan segitunya.
Di luar hotel, peserta dari kabupaten dan kota lain sedang masuk lewat di
depan kita. Kita, delegasi kabupaten Sumenep, tetap santai-santai di luar. Nah,
di situ aku ketemu dengan teman-teman Annuqayah, baik yang telah kenal jauh hari
sebelumnya, atau yang belum kenal sekalipun. Sebut, Musfiq, Munawwir, Fairosi,
dan beberapa teman yang lain.
“Gimana? Menang?” tanyaku pada Musfiq, peserta Debat Bahasa Arab.
“Menang, tapi masih belum pasti juara 1 atau 2. Aku yakin juara 1,” ucapnya
penuh optimis.
“Aduh... aku merasa malu sama yang putri.”
“Kok bisa bilang gitu?”
“Aku yang diketahui sering ikut lomba, nyatanya bicara di forum terkesan
hambar....”
“Siyah, jangak sok belagu.”
“Gini Lil. Peserta putri muhadatsah-nya cepat banget dan lahjah-nya
bagus. Aku merasa malu.” Sampai di situ aku tak menanggapi lebih lanjut.
Sambil berdiri, menatap atap dan pagar halaman hotel, kaki merasa lemas. Inginnya duduk, tapi di
mana. Di luar sana, dilihat-lihat, tak ada kursi satu pun. Sebaiknya, kalau
ingin duduk, masuk ke dalam. Tapi, kapan... mereka masih tetap di luar.
“Masuk yuk!” ajakku pada teman-teman yang berdekatan berdiri.
“Tunggu bentar saja,” ujarnya seakan-akan ada sesuatu yang surprise.
Akhirnya, satu persatu masuk bergiliran. Berada di dalam, rekatan endapan
peluh yang mengguyur sekujur tubuh, seketika terhapus dengan sejuk AC di
ruangan. Edarkan pandangan. Kelihatannya tak ada satu kursi yang kosong.
“Dik, sini. Ada yang kosong.” Ucap bapak melambaikan tangannya untuk
menghampirinya. Kita berebutan melangkah. Sayangnya, semua tinggal menjadi
cerita. Tiba-tiba yang peserta selain Sumenep duduk mendahului kita. Directly,
kita disuruh cari tempat duduk yang kosong di ruangan lain depan bagian
kiri dari jajaran kursi beratus-ratus peserta yang duduk.
Bungkusan snack direngkuh dalam genggaman tangan. Saat tampak kursi
kosong di depan mata, segera duduk untuk menghilangkan rasa penak, lelah dan
lesu. Snack yang belum diketahui isinya, diletakkan di atas kursi
dekatku. Musik mengalun memenuhi ruangan.
Acara dimulai mulai laporan ketua panitia hingga ditutup. Setelah itu,
musik Al-Abrar membawakan sebuah lagu. Suasana jadi enjoy. Terus,
dipanggil peserta berjuara mulai marhalah ula hingga marhalah ulya.
Mereka, peserta, bertaburan maju ke depan panggung sambil ngambil piala.
Usai piala itu aku rengkuh, foto-foto sebentar: foto sendirian dan foto
bersama. Pokoknya, malam itu very happy.
Di bawah panggung aku cari-cari Ima. Sekalipun tampak di depan mata, malu
tak dapat dipendam. Aku ingin nitip bolpoin yang dibeli kemarin untuk Ulfah dan Lilik.
Panggil atau....
Aku harus ajak teman yang kenal dia. Igo. Dia kan kenal? Apalagi
pernah belajar bersama hingga larut malam. “Kamu kenal Ima?” tanyaku.
“Engki.” Dia menjawab lirih baru saja keluar dari dalam ruangan.
“Aku butuh sama dia. Ikut yuk.”
Kita berjalan menuju ke dalam ruangan kembali. Katanya Ima masih ada di
dalam. “Tuh, Ms. Ima,” tunjuknya.
“Iya.” Igo menghilang. Entah ke mana. Aku sendiri tak tahu jejaknya.
Mungkin ia pulang duluan.
“Sampean Ima ya?” tanyaku pura-pura tak kenal.
“Mau foto Mister,” tawarnya bikin aku terperanjat.
“Eeeendak. Nih aku mau nitip sesuatu sama Ulfah dan ini sama Lilik.” Dengar
nama Lilik dia diam sebentar. Seakan-akan dia tidak kenal.
“Lilik. Karimatul Amali.” Jelasku.
“Iya Mister. Aku tahu.”
“Makasih Ima.”
“Foto dulu. Sekalian buat kenang-kenangan sama dik Ulfah bahwa Mister-nya
dapat sesuatu.” Tawarnya kembali.
“Iya.”
Kamera dibidikkan. Kedipan sinar menghantam sekujur tubuhku.
“Jangan lupa Ima,” ketusku.
“Mister harus salametan.”
“Nanti. Tak kan kirimi sesuatu untuk anak-anak EC.”
Aku pergi lebih dulu sambil menyusul teman-teman yang hendak pulang juga.
* * *
Sampai di kamar. Hadiah meliputi piagam dan tropi, diletakkan ditempat yang aman. Sekejap, aku ngajak teman-teman pergi ke warnet. Soalnya, aku sendiri masih belum tahu tempatnya. “Ayo, aku mau ikut,” sahut temanku.
“Bersama kalo mau ke warnet,” sahut yang lain.
“Aku juga. Aku pengin ngenet juga,” ketus yang satunya.
“Cepetaaan!” ajakku.
“Let’s go,” celoteh salah satu dari mereka.
Di pinggir jalan, pandangan diedarkan. Lihat warnet. Siapa tahu di sana
ada. “Di mana, kanak?” tanyaku penasaran. Keburu menatap dunia maya.
“Sana, balik kiri dikit,” ucapnya sampai dekat perempatan.
Benar, dari arah jauh sudah terlihat aura warnet. Langkahku semakin cepat.
Sampai di dalam sana, teman-teman datang sebelum aku. Mereka kelihatan asyik
buka sesuatu dan online di FB. Aku duduk di komputer di bagian pojok.
Mulai pukul 00.00 WIB aku baru online di fb. Sepucuk pesan melayang ke inbox
FB Naila Aljazilah.
“U bisa ol ya de'??????” tulisku.
Sayangnya, pesan ini tak ada komentar. Sebab, FB-nya tak aktif. Walau gitu
kenyataannya, benakku berharap pesan itu dibalas. Sebab, ada beberapa keanehan.
Sebut, aku pernah diundang ke grup Motivator dan lain sebagainya. Aku yakin dia
buka fb. Tapi... apakah dugaan itu benar? Kan dia sendiri bilang kalau di
pondoknya dilarang buka FB? Terus, dia titipkan FB-nya ke aku, bahkan terserah
aku mau dibagaimanakan? Aku semakin penasaran. Takut, ada orang lain yang buka.
Waktu semakin larut. Teman-teman yang online sedikit. Mungkin hanya
lima orang saja. Just to kill time, dibukalah fb Ade’ usai FB-ku di-sign
out.
Tak lama, aku berganti pada punya Ade’. Walau malam gini, jam dua belas ke
belakang banyak teman-temannya yang online. Paling sedikit, sekitaran
tiga puluh. Maklum, teman Ade’ terbilang 3000-an lebih. Sedangkan, milikiku
hanya 400-an.
Karena aku yang buka miliknya, pesan yang baru saja kirim terpaksa dibuka.
Jadi, harus kirim lagi nanti. Gampang kalau hanya soal itu. Tak butuh kerja
otak dan kerja keras.
Terasa sudah boring, pindah lagi ke FB-ku usai sign out milik
Ade’. Dan, FB-ku tampil. Kutulis di perihal penting FB-ku. Juara 2 Tahfid
Al-Fiyah MQK ke-4 Se-Jatim. Terima kasih atas kedua orang tua, para masyaikh
Annuqayah, guru-guru, teman-teman dan Ade’ku tercinta (ANA). Kira-kira seperti
itu bahasanya. ANA itu singkatan dari Abang N Ade’.
Satu pesan dikirim ke inbox FB Naila Aljazilah. Jam kira-kira menunjuk 02.00 WIB.
“DE', U BISA OL YA??????”
Pesan ini dia balas pula. Aku baca di liburan Idul Adha.
“Abang,,, ya alhamdulliah ini Ade’mu piye kabare? apik2 kan? Naila
kngennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn-nnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn
BGT sama Abang selamat ya Abang sayang menjuarai tahfid alfiyahnya? aku bangga
am Abang,,dan aku tau Abang pasti ikut aku yakin aja oh ya naila bisa OL tapi
bisanya cuma yg tangkai hati nayla kalau naila aljazilah gak bisa jadi tolong
Abang add aku di tangkai hati nayla trus buka aja kalau mau confirm ini
emailnya tangkai hati "Nayla_chers@yahoo.com (....)[15]
than atas ultahku maksih,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, naila sayang Abang than
happy birthday on Sepetember yg telah lewat buat Abang, have a Nice
twenty!!! maaf gak bisa kasih surprise skrg,,,tapi akhirx tunggu ja
deh me NAY _CHERS.”
Aku balas, “Mkash ug de' ats doa Ade’. Gmn kirimnx
yg poskan udh xmpek???? Klo, Ade’ amt kngen. Abng lbh dr itu. Slmat hr ry idul
adha Ade’. Mhon maaf jk ad tutur kt n skap yg tdk sopan. Abng akn brsh mnjd yg
trbaik. Klo, bs Ade’ phone q q ingn dngr suar Ade’.”
* * *
Besok pagi kira-kira jam 07.00-an kita pulang bersama. Selamat tinggal Bangkalan. I miss you, Annuqayah.[]
[1] Tak
osa sanguin: Jangan dikasih uang saku.
[2] Muqim
(bahasa Arab): tinggal
[3] Anekah
(bahasa Madura): Ini
[4] Kasennengnah
kauleh: kesukaanku.
[5] Tong-tong
(bahasa Madura): potongan bambu dari ruas ke ruas yang lain. Kemudian
dilubangi bagian tubuh bambu supaya melahirkan bunyi.
[6] Sebutan
bagi orang yang dipuji karena merasa bangga.
[7] Menari ala gambus.
[8] Marhalah
(bahasa Arab): tingkatan atau level
[9] Bagian untuk
waktu tanding di suatu perlombaan.
[10] Ibarah
yang akan dibaca.
[11] Nasib
buruk bagiku sekarang ini.
[12] Shahifah
(bahasa Arab): halaman
[14] Sudah
beri tahu
[15] Titik
dalam kurung ganti dari password facebook Tangkai Hati Nayla.
No comments:
Post a Comment