Wednesday, July 1, 2015

Tetesan Air Mata



Berani tak terasa membangkitkan tangan oret-oret pena di diary. Jika sebelumnya isi buku itu hanya tentang aktivitas sehari-hari dan kata hati yang ditulis dengan bahasa yang kaku dan gugup, tapi kini kata yang jujur telah mulai mengisi halaman demi halaman.

Tak sempat aku membacanya tulisan di diary itu. Hanya saja, dengar cerita-cerita yang disampaikan dengan nada yang gugup atau keder. Dia malu menyampaikannya, mujur menulis cerita itu tidak malu. Jika menulisnya disertai dengan perasaan yang gugup atau gerogi, isi diary-nya akan menjadi morat-marit. Yakin. Sebab, tulisan adalah ungkapan isi hati dan imajinasi seseorang. Kala keduanya baikan, tulisannya akan kelihatan santun. Sebaliknya, jika keduanya galau, kata-kata yang membentuk pragraf akan kedengaran rancu.

Aku tidak mengira cerita itu tumbuh. Dugaan awalnya yang sok benci hingga membuatku geger dengar ceritanya, entah kenapa semua itu menjadi lentur kala tatapan usai ibarat sekeras besi menjadi lunak saat dipanaskan pada bara api. Apakah aku “air” yang mampu memadamkan benci yang membara dalam benaknya? Ataukah aku hanya seseorang yang “tidak ada apa-apanya” dan tiba-tiba sok kenal dan sok jadi hero? Entahlah. Apa pun jawabannya. Wong, dia punya kebebasan untuk jawab, apalagi aku hanya tanya saja. Aku tak perlu menjadi penjajah yang kejam memaksa seseorang yang tak berdosa.

Dia sedang memulai ceritanya.

Sabtu (6 Juli 2013) hanya menjadi cerita yang mampu meneteskan air mata. Kenapa baru sekarang kesadaran itu tumbuh dan membumi saat nafas terakhir aku berada di Madura? Tidak jauh hari sebelumnya? Tidak 2009, tahun dia baru tinggal di Annuqayah? Tidak 2010, tahun dia rentangkan sayap dan hirup ragam pengetahuan? Tidak 2011, dia kibarkan bendera menjadi sang juara? Tidak 2012, dia genggam jabatan “ketua” hingga banyak person meliriknya? Dan kenapa kok 2013, saat-saat aku harus langkahkan kaki sambil ucapkan salam perpisahan, “Good bye Annuqayah”?

Pertanyaan itu hanya menjadi lamunan yang terus mendorongku berpikir dan berpikir. Berpikir positif akan semua itu, adalah solusi terbaik untuk menemukan jawaban. Namun, semua itu menjadi rahasi Tuhan. Hanya dia seorang yang mengetahuinya. Ah... akhirnya aku hampir putus asa. Tapi, aku tak boleh berlagak dan bersikap begitu. Tak baik. Aku harus menjadi orang yang kuat menghadapi ujian ini. “This is me.” Begitulah petikan judul lagu Demi Lavato. Sebuah lagu yang menjunjung keakuan, tanpa membangga-banggakan diri orang lain. Inilah aku, bukan inilah bapakku.

Air mata menetes membasahi pipiku. Tak terasa bayangan seorang Abang hadir saat duduk di pelataran rumah, sujud di shalat malamku, dan melamun menatap keheningan. Wajahnya yang menyejukkan pandangan ala qurratul a’yun tak kuasa ditepis. “Abang... Ade’mu masih merindukan kehadiranmu,” ketusnya menyeka lamunan panjang.

Pikiran yang keras bak batu yang sulit dirapuhkan, luluh lanta karena sentuhan aura yang tak kunjung pudar. Ya, karena aura itu. Hati menjadi luluh. Kehadiran orang itu amat sederhana. Ia hanya pakai peci warna putih, jaket warna hitam, dan sarung merah hati, yang dikenakan tanpa pertimbangan, al-hasil melahirkan kesimpulan yang sempurna. Sungguh di luar dugaan. 

Laki-laki, bagiku, banyak. Tak terhitung. Mereka bahkan lebih ganteng, cakep, kaya, dan gaul dibandingkan Abang. Tapi, semuanya biasa-biasa saja, kesannya. Sedikit pun tak mampu menggerakkan hatiku. Toh, menurut banyak teman-teman, dinilai “sip” dan “ngetop”, tapi bagiku masih minus. Mereka sekedar kenal dan jadi teman dekat. Tak lebih, hanya sebatas teman.

Tapi, beda dengan Abang. Di wajah dan gaya penampilan Abang yang sederhana, mampu bikin hatiku terketuk. Apakah aku salah menyia-nyiakan seorang Abang Khalil? Tak laik kalimat ini dipertanyakan kembali. Hati nuraniku sudah membenarkan;  pikiran mengiyakan; gerak tubuh menjadi gelisah. Dialah seorang lelaki yang tak patut disia-siakan. Sungguh rugi seseorang yang mengabaikannya.

Di atas tetesan air mata, udara malam menjadi teman curhatnya. Andaikan dapat kuputar, ingin waktu kelam yang penuh dengan kebencian jadikan sebuah cerita yang penuh dengan senyuman. Kerutan kening berubah menjadi wajah yang berseri-seri. Entahlah. Hanya ratapan dan penyesalan. Tak baik mengomeli kejadian yang berlalu. 

Tatapan ke depan semakin cerah. Salahkah berdoa pertemuan itu terulang kembali? Hingga tertulis di halaman diary yang masih kosong, waktu telah mepertemukan kita berkali-kali. Terus, tak ada penyesalan karena kali terakhir kuhentakkan suara dan kuhirup udara di pulau Abang. Madura. Ya, Madura.

Aku tak mengerti. Kenapa aku menangis karenanya? Hanya kali ini aku belajar “nangis”? Bukankah di pangkuanmu umi jeritan dan lelehan air mata engkau seka, sehingga ritme nyanyian selalu engkau lagukan dengan suara lembut, hingga tidur memikatku? Aku sudah dewasa, masak aku tidak kuat menahan air mata meleleh? Bukankah cinta di balik semuanya? Aku harus jujur? Atau tetap bertahan dalam kedustaan?

Seandainya aku seorang laki-laki, semua aku pekikkan. “Aku mencintaimu, Abang.” Sayang, itu sia-sia. Aku memiliki hati dan rasa malu. Tak semestinya ego keperempuan itu pudar karena nafsu. Lebih bersabar, kapan Tuhan melunakkan si Abang membukakan hatinya padaku. Hati nurani akan selalu berdoa demi kebaikanku. Semuanya tawakal padaMu.

Lagi-lagi, lagu dengan judul Everytime yang dilantunkan penyanyi internasional, Britney Spears, sedang menghias lamunan panjang. Dengan petikan lirik dan alunan lagunya, imajinasi itu semakin kuat. Pertambatan hati semakin sulit dilepas.

Begini petikan lirik lagunya.

Come notice me
And take my hand
So why are we
Strangers when
Our love is strong
Why carry on without me?

And everytime I try to fly
I fall without my wings
I feel so small
I guess I need you baby
And everytime I see you in my dreams
I see your face, it's haunting me
I guess I need you baby

Sadar. I pada lirik di atas tak kuasa meninggikan ego untuk terbang, sehingga terjatuh karena tidak memiliki sayap. Akhirnya, kesadaran itu mendorong dirinya berpikir bahwa I butuh seseorang, kekasih (baby) untuk merajut mimpinya. Lagi pula rasa sadar itu terbuka karena mimpi yang hadir saat tidur menutup ingatan. I sedang berada di alam bawah sadar, alam yang memiliki kekuatan lebih dibandingkan alam sadar. Mimpi itu bercerita. I melihat wajah si kekasih itu. Seakan-akan wajah itu terbayang. Dan I bilang yang kedua kalinya, “I need you baby”. Kubutuh kamu sayang.

Asyik! Coba lanjutkan pada lirik berikutnya.

I make believe
That you are here
It's the only way
I see clear
What have I done
You seem to move on easy

Saat fakta bilang, bahwa I tidak kuasa terbang sendirian serta mimpi si kekasih menghiasi sela-sela tidurnya, I percaya bahwa you (si kekasih) berada di dekat I. Sekalipun secara kenyataannya you jauh di mata, tapi terasa dekat di hati. Sulit akal merasionalkan. Seakan-akan you bersemi sebegitu cepat di lubuk hati I.

I may have made it rain
Please forgive me
My weakness caused you pain
And this song is my sorry

Semoga tidak terlambat! Di atas keegoan I, tak ada cara atau jalan lain, kecuali minta maaf. Please forgive me. Karena kelemahan I telah bikin you merasa tersakiti.

At night I pray
That soon your face
Will fade away

Di malam yang kelam I panjatkan doa di sisiNya semoga wajah you menjadi pudar karena aku tak kuasa menahan rintihan yang berkepanjangan ini.

I optimis menatap masa berikutnya. Dilantunkan lirik terakhir sebagai penutup.

After all...
After all...

Mulut diam menyimak petikan lirik lagu di atas. Mulai tetesan air mata, hingga lamunan yang ditemani dengan alunan lagu. Sekedar menerawang. Andaikan hati dapat membaca keadaanmu kala itu, sungguh aku akan hadir mengabulkan segala kehendak yang telah terbersit di benakmu.

Cukup, dikira, rasa penyesalan dan kata maaf kamu sampaikan. Hanya aku (Abang) yang masih belum mengungkapkan kata maaf itu. “Maafkan Abang, Ade’. Bukankah Abang tidak mendengarkan doa Ade’, tapi inilah Abang. Sungguh lemah. Sekali lagi mohon maaf.”

Air mata menetes. Alam menjadi saksi. Ya Allah![]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...