Berani tak terasa membangkitkan tangan oret-oret pena di diary. Jika
sebelumnya isi buku itu hanya tentang aktivitas sehari-hari dan kata hati yang
ditulis dengan bahasa yang kaku dan gugup, tapi kini kata yang jujur telah
mulai mengisi halaman demi halaman.
Tak sempat aku membacanya tulisan di diary itu. Hanya saja, dengar
cerita-cerita yang disampaikan dengan nada yang gugup atau keder. Dia malu
menyampaikannya, mujur menulis cerita itu tidak malu. Jika menulisnya disertai
dengan perasaan yang gugup atau gerogi, isi diary-nya akan menjadi
morat-marit. Yakin. Sebab, tulisan adalah ungkapan isi hati dan imajinasi
seseorang. Kala keduanya baikan, tulisannya akan kelihatan santun. Sebaliknya,
jika keduanya galau, kata-kata yang membentuk pragraf akan kedengaran
rancu.
Aku tidak mengira cerita itu tumbuh. Dugaan awalnya yang sok benci hingga
membuatku geger dengar ceritanya, entah kenapa semua itu menjadi lentur kala
tatapan usai ibarat sekeras besi menjadi lunak saat dipanaskan pada bara api.
Apakah aku “air” yang mampu memadamkan benci yang membara dalam benaknya? Ataukah
aku hanya seseorang yang “tidak ada apa-apanya” dan tiba-tiba sok kenal dan sok
jadi hero? Entahlah. Apa pun jawabannya. Wong, dia punya
kebebasan untuk jawab, apalagi aku hanya tanya saja. Aku tak perlu menjadi
penjajah yang kejam memaksa seseorang yang tak berdosa.
Dia sedang memulai ceritanya.
Sabtu (6 Juli 2013) hanya menjadi cerita yang mampu meneteskan air mata.
Kenapa baru sekarang kesadaran itu tumbuh dan membumi saat nafas terakhir aku
berada di Madura? Tidak jauh hari sebelumnya? Tidak 2009, tahun dia baru
tinggal di Annuqayah? Tidak 2010, tahun dia rentangkan sayap dan hirup ragam
pengetahuan? Tidak 2011, dia kibarkan bendera menjadi sang juara? Tidak 2012,
dia genggam jabatan “ketua” hingga banyak person meliriknya? Dan kenapa
kok 2013, saat-saat aku harus langkahkan kaki sambil ucapkan salam perpisahan,
“Good bye Annuqayah”?
Pertanyaan itu hanya menjadi lamunan yang terus mendorongku berpikir dan
berpikir. Berpikir positif akan semua itu, adalah solusi terbaik untuk
menemukan jawaban. Namun, semua itu menjadi rahasi Tuhan. Hanya dia seorang
yang mengetahuinya. Ah... akhirnya aku hampir putus asa. Tapi, aku tak boleh
berlagak dan bersikap begitu. Tak baik. Aku harus menjadi orang yang kuat
menghadapi ujian ini. “This is me.” Begitulah petikan judul lagu Demi
Lavato. Sebuah lagu yang menjunjung keakuan, tanpa membangga-banggakan diri
orang lain. Inilah aku, bukan inilah bapakku.
Air mata menetes membasahi pipiku. Tak terasa bayangan seorang Abang hadir
saat duduk di pelataran rumah, sujud di shalat malamku, dan melamun menatap
keheningan. Wajahnya yang menyejukkan pandangan ala qurratul a’yun tak
kuasa ditepis. “Abang... Ade’mu masih merindukan kehadiranmu,” ketusnya menyeka
lamunan panjang.
Pikiran yang keras bak batu yang sulit dirapuhkan, luluh lanta karena
sentuhan aura yang tak kunjung pudar. Ya, karena aura itu. Hati menjadi luluh.
Kehadiran orang itu amat sederhana. Ia hanya pakai peci warna putih, jaket
warna hitam, dan sarung merah hati, yang dikenakan tanpa pertimbangan, al-hasil
melahirkan kesimpulan yang sempurna. Sungguh di luar dugaan.
Laki-laki, bagiku, banyak. Tak terhitung. Mereka bahkan lebih ganteng,
cakep, kaya, dan gaul dibandingkan Abang. Tapi, semuanya biasa-biasa saja,
kesannya. Sedikit pun tak mampu menggerakkan hatiku. Toh, menurut banyak
teman-teman, dinilai “sip” dan “ngetop”, tapi bagiku masih minus. Mereka
sekedar kenal dan jadi teman dekat. Tak lebih, hanya sebatas teman.
Tapi, beda dengan Abang. Di wajah dan gaya penampilan Abang yang
sederhana, mampu bikin hatiku terketuk. Apakah aku salah menyia-nyiakan seorang
Abang Khalil? Tak laik kalimat ini dipertanyakan kembali. Hati nuraniku sudah
membenarkan; pikiran mengiyakan; gerak
tubuh menjadi gelisah. Dialah seorang lelaki yang tak patut disia-siakan.
Sungguh rugi seseorang yang mengabaikannya.
Di atas tetesan air mata, udara malam menjadi teman curhatnya. Andaikan
dapat kuputar, ingin waktu kelam yang penuh dengan kebencian jadikan sebuah
cerita yang penuh dengan senyuman. Kerutan kening berubah menjadi wajah yang berseri-seri.
Entahlah. Hanya ratapan dan penyesalan. Tak baik mengomeli kejadian yang
berlalu.
Tatapan ke depan semakin cerah. Salahkah berdoa pertemuan itu terulang
kembali? Hingga tertulis di halaman diary yang masih kosong, waktu telah
mepertemukan kita berkali-kali. Terus, tak ada penyesalan karena kali terakhir
kuhentakkan suara dan kuhirup udara di pulau Abang. Madura. Ya, Madura.
Aku tak mengerti. Kenapa aku menangis karenanya? Hanya kali ini aku belajar
“nangis”? Bukankah di pangkuanmu umi jeritan dan lelehan air mata engkau seka,
sehingga ritme nyanyian selalu engkau lagukan dengan suara lembut, hingga tidur
memikatku? Aku sudah dewasa, masak aku tidak kuat menahan air mata meleleh?
Bukankah cinta di balik semuanya? Aku harus jujur? Atau tetap bertahan dalam
kedustaan?
Seandainya aku seorang laki-laki, semua aku pekikkan. “Aku mencintaimu,
Abang.” Sayang, itu sia-sia. Aku memiliki hati dan rasa malu. Tak
semestinya ego keperempuan itu pudar karena nafsu. Lebih bersabar, kapan Tuhan
melunakkan si Abang membukakan hatinya padaku. Hati nurani akan selalu berdoa
demi kebaikanku. Semuanya tawakal padaMu.
Lagi-lagi, lagu dengan judul Everytime yang dilantunkan penyanyi
internasional, Britney Spears, sedang menghias lamunan panjang. Dengan petikan lirik dan alunan lagunya,
imajinasi itu semakin kuat. Pertambatan hati semakin sulit dilepas.
Begini petikan
lirik lagunya.
Come notice me
And take my hand
So why are we
Strangers when
Our love is strong
Why carry on without me?
And everytime I try to fly
I fall without my wings
I feel so small
I guess I need you baby
And everytime I see you in my dreams
I see your face, it's haunting me
I guess I need you baby
Sadar. I pada lirik di atas tak kuasa meninggikan ego untuk
terbang, sehingga terjatuh karena tidak memiliki sayap. Akhirnya, kesadaran itu
mendorong dirinya berpikir bahwa I butuh seseorang, kekasih (baby)
untuk merajut mimpinya. Lagi pula rasa sadar itu terbuka karena mimpi yang
hadir saat tidur menutup ingatan. I sedang berada di alam bawah sadar,
alam yang memiliki kekuatan lebih dibandingkan alam sadar. Mimpi itu bercerita.
I melihat wajah si kekasih itu. Seakan-akan wajah itu terbayang. Dan I
bilang yang kedua kalinya, “I need you baby”. Kubutuh kamu sayang.
Asyik! Coba
lanjutkan pada lirik berikutnya.
I make believe
That you are here
It's the only way
I see clear
What have I done
You seem to move on easy
Saat fakta bilang, bahwa I tidak kuasa terbang sendirian serta
mimpi si kekasih menghiasi sela-sela tidurnya, I percaya bahwa you (si
kekasih) berada di dekat I. Sekalipun secara kenyataannya you
jauh di mata, tapi terasa dekat di hati. Sulit akal merasionalkan. Seakan-akan you
bersemi sebegitu cepat di lubuk hati I.
I may have made it rain
Please forgive me
My weakness caused you pain
And this song is my sorry
Semoga tidak terlambat! Di atas keegoan I, tak ada cara atau
jalan lain, kecuali minta maaf. Please forgive me. Karena kelemahan I
telah bikin you merasa tersakiti.
At night I pray
That soon your face
Will fade away
Di malam yang kelam I panjatkan doa di sisiNya semoga wajah you
menjadi pudar karena aku tak kuasa menahan rintihan yang berkepanjangan ini.
I optimis menatap masa
berikutnya. Dilantunkan lirik terakhir sebagai penutup.
After all...
After all...
Mulut diam menyimak petikan lirik lagu di atas. Mulai tetesan air mata,
hingga lamunan yang ditemani dengan alunan lagu. Sekedar menerawang. Andaikan
hati dapat membaca keadaanmu kala itu, sungguh aku akan hadir mengabulkan segala
kehendak yang telah terbersit di benakmu.
Cukup, dikira, rasa penyesalan dan kata maaf kamu sampaikan. Hanya aku
(Abang) yang masih belum mengungkapkan kata maaf itu. “Maafkan Abang, Ade’.
Bukankah Abang tidak mendengarkan doa Ade’, tapi inilah Abang. Sungguh lemah.
Sekali lagi mohon maaf.”
Air mata menetes. Alam menjadi saksi. Ya Allah![]
No comments:
Post a Comment