Bilang I love you,
I miss you, I am longing of you, I adore you, I feel blue you dan yang
lainnya, benar-benar mudah. Mudah bilang bahwa aku mencintaimu atau aku
merindukanmu, maksudnya. Tahukah? Kalimat itu merupakan pengakuan verbal
rasa cinta seseorang pada orang lain atau si kekasih.
Ketika kalimat-kalimat tersebut diucapkan dan mendapat
respons positif, an taradin, saling rela, diucapkan tanpa paksa,
sepasang (si cowok dan si cewek) resmi terjalin hubungan. Ikatan percitaan (relation).
Mereka mulai menjalani hidup penuh dengan kisah asmara. Hati makin hidup
dan peka, begitu pula segala sikap tampak berbunga-bunga. Tak percaya? Lihatlah
orang yang sedang dijamah kisah cinta. Jika tidak tersenyum dan segala curhat
serta pembicaraan selalu itu-itu saja, bisa-bisa merenung atau melamun
sendirian. Seakan-akan ada yang dibayangkan. Entah apa. Kadang disertai diary
sebagai media curhat. Sungguh mabuk, bukan?!
Itu masih “memikat” hubungan. Tali yang dipegang sejak
usia kanak-kanak, kini baru menemukan orang yang rela diikat, hingga jadi
ikatannya. Dianalogikan dengan kayu yang berserakan di tanah, kadang diikat
karena kasihan dibiarkan
begitu saja. Sehingga, diambil, dikumpulkan, dan diikat pakai tali, entah tali
yang kuat, atau mudah rapuh. Sekedar iba. Bisa jadi, rasa iba yang timbul pada
diri seseorang hanya sekejap mata. Kala kayu rapi diikat, tak lama dibiarkan.
Akhirnya, pikatan itu jadi rapuh karena dimakan serangga atau rayap. Kayu yang
dipikat kembali seperti semula. Bertaburan. Namun, bagi si pencari kayu yang
prihatin, kayu itu dibawa pulang dan diletakkan di tempat yang tersedia.
Beruntung. Terjaga dari gangguan rayap-rayap nakal dan pencuri yang
berkeliaran.
Ikatan cinta pun demikian. Kadang si cowok berani
berikrar. Tapi, dia berani langkahi dan langgar sumpah sendiri. Munafik.
Bukankah itu pengkhianat? Khianat itu munafik.
Dia tak ada bedanya dengan kafir Quraisy yang digambarkan
dalam Al-Qur’an dengan “bermuka dua”. Kala mereka ketemu orang yang beriman,
bilang setegas-tegasnya, “Amanna”. Kami beriman. Tapi, dibelakang
mereka, perkataannya dinodai dengan nada mengeceh. “Inna ma’akum innama
nahnu mustahziun”. Sesungguhnya kami segolongan dengan kalian. Kami hanya
mengolok-olok mereka (Al-Baqarah:14).
Jangan keder dan pening. Dibalik kedustaan mereka, ada
Tuhan al-alim, Maha Tahu. Dia balas ucapan mereka beserta
teman-temannya. “Allahu yastahzi’u bihim wa yamudduhum fi tughyanihim
ya’mahun”. Allah yang memperolok-olok dan membiarkan mereka
terombang-ambing dalam kesesatan (Al-Baqarah:15).
Sedangkan, bagi orang yang tulus menjaga ikatan itu kini
dan selanjutnya, keberuntungan tampak di genggaman tangan. Tidak dicemooh
banyak orang. Tidak gelisah. Tidak rakus. Ma’unah. Apa adanya diterima. Karena,
keputusan yang menjadi pilihannya tak lain dan tak bukan yang terbaik baginya.
Ibarat seseorang pilih Islam sebagai agamanya. Ia peluk agama itu secara kaffah
alias sepenuhnya. Tak ada NIATAN poligami agama.
Berilah berita gembira bagi orang yang beriman dan
mengerjakan amal shaleh bahwa baginya surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai. Dan mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga. Mereka berujar,
“Inilah rezeki yang diberikan pada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang
serupa. Mereka memiliki pasangan yang serasi (one heart). Mereka kekal
di sana (Al-Baqarah:26).
Keberuntungan bagi orang yang beriman. Orang yang
mempercayai Allah sebagai Tuhannya, Jibril dan teman-temannya sebagai malaikat,
Al-Qur’an dan beberapa kitab sebelum itu sebagai kitabullah, Muhammad
dan nabi-nabi yang sebelumnya sebagai utusan Allah, hari kiamat sebagai hari
terakhir, dan qada’ dan qadar sebagai ketukan palu Tuhan. Mereka tak pernah
ingkar (kafir) dengan keputusan menurut kata hati nurani. Tak heran,
jika balasan Tuhan adalah surga, tempat yang penuh dengan panorama indah.
Imajinasi menggambarkan bahwa surga itu indahnya di atas panorama tempat megah
di bumi.
Jaminan rezeki dan makanan sudah ditanggung. Di sana,
cerita guruku, ada bidadari cantik yang menjadi pelayan. Tak susah dan tak
bosan hidup di surga. Berhasrat? Pasti. Dari pada dicampakkan ke dalam neraka.
Tempat yang mengerikan, tentu tidak menyenangkan, dibandingkan penjara di
dunia. Lihatlah penjara saja. Satu pun tak ingin hidup di sana. Tentu tidak
bebas. Meringis!
Nah, dua kekasih yang diikat dengan tali, “tali cinta”,
baginya, suatu tanggung jawab. Mereka saling memengang amanah. Menghidupkan
cinta. Cinta yang baru hidup, jangan dibiarkan terlantar atau mati, karena
kelalaian si pencinta. Jadikan itu bernafas dan tersenyum karena kejujuran dan
ketulusan yang tergambar di antara mereka.
Yang terpenting, adanya saling kepercayaan. Di mana pun
dan kapan pun, cinta yang dipikat rasa “kepercayaan” tetap berlabuh
sekuat-kuatnya di dalam nurani. Tak ada niatan neko-neko. Selingkuh
dibalik kekasih, karena tidak diketahui. Berdusta dibelakangnya, sebab dia
tidak melihatnya. Mereka saling menjaga. Kepercayaan telah menguatkan “tali
cinta”.
Seperti cinta Yusuf dan Zulaikhah. Sungguh percintaan yang
dibingkai dengan kesucian jiwa, ketulusan hati, dan kejujuran. Pikiran jorok
yang bisa jadi mengotori kesucian cinta, dihindari. Misal, ingin mendua karena
lihat orang lebih cantik atau tampan. Di mata mereka, hanya Yusuflah yang
tampan. Begitu pula, bagi Yusuf, hanya Zulaikhalah yang memukau. Titik.
Dalam roman dahulu diabadikan cinta Layla-Majnun. Tak
lain, sekalipun bisa jadi cerita itu fiktif atau rekaan semata, membuat orang
lain kagum. Bayangkan. Seberapa tuluskah si Qais hingga rela meninggalkan orang
tua, kekayaan yang menumpuk, dan menunggu berlama-lama, karena cintanya pada si
Layla yang dalam anggapan orang lain tak begitu cantik? Tapi itulah cinta.
Mampu menyihir mata memandang. Semua kelihatan menawan. Siapa yang mengira si
Qais akan bertahan dalam sengit dan pedih yang membekam. Ia berani hidup di
tengah binatang dan tempat-tempat jorok yang tak seorang pun berani berada di
sana.
Kerjaannya hanya melantunkan syair-syair cinta, hingga
mampu membikin orang lain kagum dan senang mendengarkan petikan-petikan
sajaknya. Tak ada rasa terpaksa, sekalipun waktu membuat dia menunggu
bertahun-tahun. Saking cintanya pada Layla, tawaran ayahnya untuk
dinikahkan dengan perempuan lain, ditolak. Ia lebih baik mati, dari pada
kehilangan sang kekasih, Layla.
Pada akhir ceritanya, Qais bagai disambar petir kala
dengar Layla telah meninggal. Kini dia dikubur. Timbunan tanah dan gundukan
batu tampak jelas di depan mata. Qais tak tak kuasa menahan tangis dan lelehan
air mata. Ia hanya tersungkur di dekat kuburan Layla sambil memohon pada Tuhan
untuk menarik nyawanya. Ia pilih mati sebagai jalan terbaik ketemu dengan
kekasihnya setelah lama tidak ketemu. Badan Qais semakin melemah dan kematian
menjemput. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun!
Sungguh mengesankan larut dalam cerita dan roman di atas.
Sebuah percintaan yang dilalui dengan kepercayaan atau keimanan yang kuat. Tak
merasa gamang, geger dan keder sekalipun. Mereka takut jadi orang munafik yang
sengaja hianati ucapannya sendiri.
Dan dua kekasih sama-sama berikrar, “Cinta milik kita
bersama. Tanamkan kepercayaan agar cinta itu tak mudah rapuh.” Hingga mereka
ingat “tali cinta”. [KHALILULLAH]
No comments:
Post a Comment