Wednesday, July 1, 2015

“Tali Cinta”

Bilang I love you, I miss you, I am longing of you, I adore you, I feel blue you dan yang lainnya, benar-benar mudah. Mudah bilang bahwa aku mencintaimu atau aku merindukanmu, maksudnya. Tahukah? Kalimat itu merupakan pengakuan verbal rasa cinta seseorang pada orang lain atau si kekasih.
Ketika kalimat-kalimat tersebut diucapkan dan mendapat respons positif, an taradin, saling rela, diucapkan tanpa paksa, sepasang (si cowok dan si cewek) resmi terjalin hubungan. Ikatan percitaan (relation). Mereka mulai menjalani hidup penuh dengan kisah asmara. Hati makin hidup dan peka, begitu pula segala sikap tampak berbunga-bunga. Tak percaya? Lihatlah orang yang sedang dijamah kisah cinta. Jika tidak tersenyum dan segala curhat serta pembicaraan selalu itu-itu saja, bisa-bisa merenung atau melamun sendirian. Seakan-akan ada yang dibayangkan. Entah apa. Kadang disertai diary sebagai media curhat. Sungguh mabuk, bukan?!
Itu masih “memikat” hubungan. Tali yang dipegang sejak usia kanak-kanak, kini baru menemukan orang yang rela diikat, hingga jadi ikatannya. Dianalogikan dengan kayu yang berserakan di tanah, kadang diikat karena kasihan dibiarkan begitu saja. Sehingga, diambil, dikumpulkan, dan diikat pakai tali, entah tali yang kuat, atau mudah rapuh. Sekedar iba. Bisa jadi, rasa iba yang timbul pada diri seseorang hanya sekejap mata. Kala kayu rapi diikat, tak lama dibiarkan. Akhirnya, pikatan itu jadi rapuh karena dimakan serangga atau rayap. Kayu yang dipikat kembali seperti semula. Bertaburan. Namun, bagi si pencari kayu yang prihatin, kayu itu dibawa pulang dan diletakkan di tempat yang tersedia. Beruntung. Terjaga dari gangguan rayap-rayap nakal dan pencuri yang berkeliaran.
Ikatan cinta pun demikian. Kadang si cowok berani berikrar. Tapi, dia berani langkahi dan langgar sumpah sendiri. Munafik. Bukankah itu pengkhianat? Khianat itu munafik.
Dia tak ada bedanya dengan kafir Quraisy yang digambarkan dalam Al-Qur’an dengan “bermuka dua”. Kala mereka ketemu orang yang beriman, bilang setegas-tegasnya, “Amanna”. Kami beriman. Tapi, dibelakang mereka, perkataannya dinodai dengan nada mengeceh. “Inna ma’akum innama nahnu mustahziun”. Sesungguhnya kami segolongan dengan kalian. Kami hanya mengolok-olok mereka (Al-Baqarah:14).
Jangan keder dan pening. Dibalik kedustaan mereka, ada Tuhan al-alim, Maha Tahu. Dia balas ucapan mereka beserta teman-temannya. “Allahu yastahzi’u bihim wa yamudduhum fi tughyanihim ya’mahun”. Allah yang memperolok-olok dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan (Al-Baqarah:15).
Sedangkan, bagi orang yang tulus menjaga ikatan itu kini dan selanjutnya, keberuntungan tampak di genggaman tangan. Tidak dicemooh banyak orang. Tidak gelisah. Tidak rakus. Ma’unah. Apa adanya diterima. Karena, keputusan yang menjadi pilihannya tak lain dan tak bukan yang terbaik baginya. Ibarat seseorang pilih Islam sebagai agamanya. Ia peluk agama itu secara kaffah alias sepenuhnya. Tak ada NIATAN poligami agama.
Berilah berita gembira bagi orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh bahwa baginya surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga. Mereka berujar, “Inilah rezeki yang diberikan pada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa. Mereka memiliki pasangan yang serasi (one heart). Mereka kekal di sana (Al-Baqarah:26).
Keberuntungan bagi orang yang beriman. Orang yang mempercayai Allah sebagai Tuhannya, Jibril dan teman-temannya sebagai malaikat, Al-Qur’an dan beberapa kitab sebelum itu sebagai kitabullah, Muhammad dan nabi-nabi yang sebelumnya sebagai utusan Allah, hari kiamat sebagai hari terakhir, dan qada’ dan qadar sebagai ketukan palu Tuhan. Mereka tak pernah ingkar (kafir) dengan keputusan menurut kata hati nurani. Tak heran, jika balasan Tuhan adalah surga, tempat yang penuh dengan panorama indah. Imajinasi menggambarkan bahwa surga itu indahnya di atas panorama tempat megah di bumi.
Jaminan rezeki dan makanan sudah ditanggung. Di sana, cerita guruku, ada bidadari cantik yang menjadi pelayan. Tak susah dan tak bosan hidup di surga. Berhasrat? Pasti. Dari pada dicampakkan ke dalam neraka. Tempat yang mengerikan, tentu tidak menyenangkan, dibandingkan penjara di dunia. Lihatlah penjara saja. Satu pun tak ingin hidup di sana. Tentu tidak bebas. Meringis!
Nah, dua kekasih yang diikat dengan tali, “tali cinta”, baginya, suatu tanggung jawab. Mereka saling memengang amanah. Menghidupkan cinta. Cinta yang baru hidup, jangan dibiarkan terlantar atau mati, karena kelalaian si pencinta. Jadikan itu bernafas dan tersenyum karena kejujuran dan ketulusan yang tergambar di antara mereka.
Yang terpenting, adanya saling kepercayaan. Di mana pun dan kapan pun, cinta yang dipikat rasa “kepercayaan” tetap berlabuh sekuat-kuatnya di dalam nurani. Tak ada niatan neko-neko. Selingkuh dibalik kekasih, karena tidak diketahui. Berdusta dibelakangnya, sebab dia tidak melihatnya. Mereka saling menjaga. Kepercayaan telah menguatkan “tali cinta”.
Seperti cinta Yusuf dan Zulaikhah. Sungguh percintaan yang dibingkai dengan kesucian jiwa, ketulusan hati, dan kejujuran. Pikiran jorok yang bisa jadi mengotori kesucian cinta, dihindari. Misal, ingin mendua karena lihat orang lebih cantik atau tampan. Di mata mereka, hanya Yusuflah yang tampan. Begitu pula, bagi Yusuf, hanya Zulaikhalah yang memukau. Titik.
Dalam roman dahulu diabadikan cinta Layla-Majnun. Tak lain, sekalipun bisa jadi cerita itu fiktif atau rekaan semata, membuat orang lain kagum. Bayangkan. Seberapa tuluskah si Qais hingga rela meninggalkan orang tua, kekayaan yang menumpuk, dan menunggu berlama-lama, karena cintanya pada si Layla yang dalam anggapan orang lain tak begitu cantik? Tapi itulah cinta. Mampu menyihir mata memandang. Semua kelihatan menawan. Siapa yang mengira si Qais akan bertahan dalam sengit dan pedih yang membekam. Ia berani hidup di tengah binatang dan tempat-tempat jorok yang tak seorang pun berani berada di sana.
Kerjaannya hanya melantunkan syair-syair cinta, hingga mampu membikin orang lain kagum dan senang mendengarkan petikan-petikan sajaknya. Tak ada rasa terpaksa, sekalipun waktu membuat dia menunggu bertahun-tahun. Saking cintanya pada Layla, tawaran ayahnya untuk dinikahkan dengan perempuan lain, ditolak. Ia lebih baik mati, dari pada kehilangan sang kekasih, Layla.
Pada akhir ceritanya, Qais bagai disambar petir kala dengar Layla telah meninggal. Kini dia dikubur. Timbunan tanah dan gundukan batu tampak jelas di depan mata. Qais tak tak kuasa menahan tangis dan lelehan air mata. Ia hanya tersungkur di dekat kuburan Layla sambil memohon pada Tuhan untuk menarik nyawanya. Ia pilih mati sebagai jalan terbaik ketemu dengan kekasihnya setelah lama tidak ketemu. Badan Qais semakin melemah dan kematian menjemput. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun!
Sungguh mengesankan larut dalam cerita dan roman di atas. Sebuah percintaan yang dilalui dengan kepercayaan atau keimanan yang kuat. Tak merasa gamang, geger dan keder sekalipun. Mereka takut jadi orang munafik yang sengaja hianati ucapannya sendiri.
Dan dua kekasih sama-sama berikrar, “Cinta milik kita bersama. Tanamkan kepercayaan agar cinta itu tak mudah rapuh.” Hingga mereka ingat “tali cinta”. [KHALILULLAH]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...