Entahlah. Aku sudah lupa akan hari itu. Waktu menakdirkan hambaMu ini
curhat sama mbaknya. Kini, tinggal cerita yang dapat aku tulis di atas kertas
kosong ini. Dengan cerita itu waktunya aku dan orang lain membaca dan menyelam
di dalamnya. Sungguh mubazir, jika cerita itu dibiarkan terdampar dan hilang
karena lalai menulis. Bukankah tulisan adalah pengikat segala-galanya?
Di suatu tempat alias tempat pemanggilan putri obrolan itu mengalir tanpa
celah. Apa pun yang berkenaan denganku, menyangkut pendidikan, keuangan, dan
masalah hati, dicurhatkan tanpa setitik rasa malu. Kenapa harus malu? Kan ia
adalah mbakku? Apalagi ada ikatan famili yaitu sepupu. Sungguh, masih dibilang
dekat dalam struktur nasab. Selain itu, ia tidak mudah membeberkan apa pun yang
aku ceritakan tanpa seizin sebelumnya.
Awalnya, aku hendak memulai bicara. Tak terasa, berat membungkam mulut
berbicara. Rasanya ada sesuatu yang sedang menghalangiku berujar lebih awal.
Terus, malu lagi. Malu membikin rasa optimis jadi kusut. Nurani mafhum bahwa
dia sedang menunggu adiknya speak firstly. Aku kelihatan gugup dikit.
Bukan tampil seperti biasanya. Gugup telah menghapus file-file yang saved
di memoriku. Mbak yang penyabar terpaksa memulai ceritanya.
“Dik.” Ia menyapa dengan nada lembut.
“Iya, mbak?” Aku jawab singkat tanpa celotehan kata apa pun.
“Adik tau ya? Ada seseorang yang begitu perhatian pada Ulfah.” Kepalaku
mendongak menatap lekat wajah mbak yang tampak serius. Dibilang guyon, di
antara kita rarely berkata tidak serius.
“Maksud mbak?” Kerutan kening bikin mukaku kusut. Tak mengerti.
“Dia. Mantan ketua EC amat perhatian sama Ulfah.” Akhirnya mbak berkata seadanya. Tak tercekat rasa berat, kalimat itu
semakin memberikan peta, sehingga ketidakmengertian menemukan jalannya. Jalan
kalau orang yang dimaksud mbak adalah dia. Dia? Tapi ini masih belum pasti
seratus persen. Hanya dugaan nurani. Toh, akal masih kikuk.
“Ima, ya, mbak?” basa-basiku pura-pura tidak tahu.
“Bukan. Bukan dik Ima.”
“Terus siapa?” potongku. Mbak menarik nafas di tengah space.
“N-A-I-L-A.” Dia menyebutkan nama itu dengan mengeja seperti anak TK yang
masih baru belajar membaca.
Stop. Pikiran menerawang,
“Kok bisa dia perhatian sama sepupuku? Apakah karena dia teman dekat Ulfah
atau...?”
“Mungkin dia empati saja,” sanggahku ketus.
“Kalo, aku sangat setuju kamu dengan dia, dik,” sambung mbak
menyeka memotong. Ia berujar polos tanpa berpikir panjang. “Dia bukan keturunan
orang biasa tau. Tau nggak? Dia putri kiai. Punya lembaga lagi. Pokokya, mbak support jika adik sama
dia.”
Aku semakin tidak mengerti kenapa mbak berkata sejujur itu. It’s not
usual. Ia sangat rela adiknya memetik tangkai hati si gadis kelahiran
Situbondo itu. Pening.
“Kok bisa mbak?” Pertanyaan yang terbersit dipikiranku dan tak menemukan
titik terang terpaksa dimuntahkan.
“Ya, aku nggak tau juga. Yang jelas, dia tidak seperti biasanya. Sulit, dik, dia perhatian kayak gitu pada teman
sekamarnya yang sakit. Bayangkan, Ulfah sampai disuapin karena tidak bisa
makan. Mbak pun ikut bertanya-tanya.”
Tak lama, azan Asyar terdengar mengalun. Durasi waktu ngobrol over.
“Udah dulu dik.” Ia pamit duluan.
Refleks. Bersama-sama kita bangkit dari tempat duduk sambil berpisah
pelan-pelan. Seakan-akan masih berat mengakhiri ceritanya.
Cerita mbak tadi tetap terbayang di alam pikir. Kubiarkan cerita
bertandang di mana saja. Tak ingin diriku semakin terpasung dengan kesemuan.
Aku tak ingin sakit, sedangkan no one ikut prihatin.
Mengingat-ingat cerita di masa silam, hasrat mengenal Naila lebih jauh
semakin terdorong. Dia, yakinku, orang yang baik karena tak mungkin sampai
perhatian pada sepupuku. Terus, kehendak membandingkan cerita itu dengan
pengakuan tokohnya membikin imajinasi tumbuh lebat. Tapi, kapan Ulfah bisa
cerita? Apakah harus manggil dia? Mmm, Aku belum data pemanggilan dengannya.
Jadi, tak bisa manggil. Yang selesai data, hanya dengan mbak Uuk. Makanya, dia
seorang yang sering dipanggil. Sometime I ask this story directly to you,
Ulfah. In holiday? Or...?
* * *
Lama mananti. Akhirnya tiba juga hari itu. Holiday to celebrate Maulid of Prophet Muhammad. Saatnya, pulang ke rumah. Wajah Abah dan Umi terbayang dalam pikir. Pikiran menerawang bagaimana kondisi di rumah sekarang. Pekarangan, jalan di utara masjid, serta masyarakat di sana. I miss you all.
Santri putra sedikit jealous melihat santri putri berjalan
meninggalkan pondok dengan gendongan tas seraya membonceng. Mereka pulang
duluan. Sedangkan, santri putra still pada esok harinya. Memang seperti
itu sistem pamit liburan di PP. Annuqayah. Bukannya tidak adil. Sekali lagi
tidak. Kan tak semuanya “keadilan” diukur dengan kesetaraan atau kesamaan? Akan
tetapi memosisikan sesuatu pada tempatnya, itulah adil. Sungguh adil sistem itu
dipertahankan supaya menanggulangi timbulnya problem seperti santri putra menanti
pulangnya santri putri dan yang lainnya. Sistem ini bukanlah keputusan sepihak,
melainkan diputuskan based on musyawarah antar para masyaih atau kiai.
Tak jadi masalah, minus sehari, dari pada tidak berlibur. Sebaiknya
dipatuhi saja keputusan ini. Mengikuti keputusan kiai, pilihan tepat dan baik
untuk merasakan arti ketulusan dalam mengabdi. Keakuan karena ego hendaknya
dikubur sedalam mungkin.
Di hari esoknya, santri putra berjajaran seperti kereta api seraya
bergiliran pamit dengan bersalaman kepada kiai. Pengurus KAMTIB berdiri
memelotot rambut santri yang tidak sopan. Alternatifnya, rambut dipangkas dan
dihilangkan model yang ganjal itu. Topi dibuka dan ditunjukkan pada pengurus.
Jika dinilai perfek, tanpa masalah, mereka go directly. Sebagian yang
bermasalah dicegat dan dipotong rambut yang kurang layak. Luckily, sebagian
santri, secara ketentuan bermasalah, karena cerdik dan pintar, lolos dari
cegatan. Tanpa rintangan.
Imajinasi santri sekarang sungguh sangat melangit. Inginnya, seperti artis
yang berambut dengan style modern, sedangkan ia masih terpikat dengan
peraturan yang tak dapat ditolelir. Misal, model rambut preman jalan dan bangga
dengan deru sepedanya berlalu-lalang hanya sebatas pamer, tak lain. Senangnya,
rambut disemir, dipang, atau model lainnya. Berusaha memahami
kepribadian mereka yang sesungguhnya, malah bikin bingung. Apakah mereka hanya
sekedar meniru style artis saja? Sedangkan bakat nyanyi tidak punya? Kalo, artis dapat dibilang wajar karena hidup berduit dan
berbakat.
Pamitan baru saja berlalu. Kiai kembali ke dhalem.
Sambil menanti teman-temannya pulang, tas yang penuh dengan barang bawaan
seperti pakaian atau apa pun, sedang dipersiapkan. Tinggal go. Senyuman
tersungging tiada henti menghiasi wajah mereka. Sungguh, hari libur menjadi
momen terindah selama mondok. Karena, otak menjadi fresh dan relax pada
hari-hari itu. Sebab, rarely santri yang fokus belajar, yang banyak
disibukkan silaturrahim ke rumah teman-temannya, ngobrol lewat ponsel, chatting
di Facebook, dan lain sebagainya. Peraturan pesantren pun tidak mengikat
setiap gerak nafasnya. Free...!
“Calling aku key.” Pinta teman-teman sambil pamit, “Aku pulang
duluan.”
“Iya. Hati-hati di jalan.” Balasku tersenyum.
* * *
Di rumah. Ponsel sedang dalam genggaman tangan. Alat teknologi itu bergerak dengan cepat. Tak hanya rindu orang tua, ponsel pun dirindukan. Fokus pikiran sampai di rumah usai bersalaman pada mereka dan tetangga sekitar, ponsel yang diam istirahat lama dinyalakan.
Kirim SMS, apalagi telepon teman-teman, ditanggalkan dulu. Badan masih
terasa capek karena baru sampai di rumah dari perjalanan yang melelahkan. Tak
kebayang Annuqayah-Ambunten berjauhan. Sungguh kelamaan jika ditempuh dengan on
foot. Memulihkan stamina dengan istirahat the best. Ah... tidur saja
dulu.
Bangun tidur seperti biasa. Tak ada yang penting diceritakan. Mimpi tak
menghiasi tidurku. Badan terasa berbeda. Capek sedikit pudar. Refleks tangan
merengkuh ponsel yang tergeletak di lantai dari tadi. Satu SMS bergelinding
dengan sinyal kuat, “Ampon rabu?”
Ditunggu. Tetap tak ada balasan. Probably, orangnya lagi tidur atau
disibukkan dengan aktivitas yang menumpuk. Terpaksa kusapa teman-teman yang
dari tadi tak ada kabar. Setelah beberapa SMS di-send, wah mereka connect
tak loading kelamaan. Aku ngerti. Ponselnya sedang dipegang. Setiap
pesan yang masuk langsung diketahui.
Layar ponsel nyala. Kentara satu SMS yang dikira awal kali dari temanku
yang dari tadi nyambung, tak tahunya dari Ulfah. Eh, baru balas ni orang.
“Engki. Ajunan rabu juken?” Tanya balik. Bibirku senyum mengembang.
“Sekarang kamu tidak ada aktivitas?” tanyaku.
“Mmm, saya kira tidak. Lagi relax Mister.” Dia sambil menerawang.
“Inginnya, aku kunjung ke sana. Ke rumahmu.” Terkesan, penting banget.
“Ada mbak Uuk?”
“Ada Mister. Terserah Mister saja.”
“Ya udah. Kalo, begitu. Aku pengin berangkat.” Tulisku ketus.
Panggilan diakhiri.
* * *
Dalam keheningan sore sinar matahari kelihatan remang-remang. Kemerahannya terlihat di ufuk barat. Sambil memburu senja, fokus tatapan ke depan di atas sepeda motor tak terkecoh dengan lamunan semu. Salam “good evening” menunggu putaran jarum jam berpijak pada angka 6. Sampai di rumah yang dekat MI Bustanul Ulum jarum jam menunjuk kira-kira pukul 17.00. Terlambat? Mungkin. No problem.
Aku duduk diam. Senyum malu-malu tersungging. Suasana tampak hard.
Senyuman benar-benar membenarkan energi berbeda dalam suatu pertemuan. Apalagi
kelakuan itu dinilai ibadah yang disetarakan dengan sedekah. Begitu, yang aku ingat dari guru-guruku dulu.
Makanya, senyuman dibudayakan dalam Islam demi melestarikan keharmonisan antar
sesama.
“Fah, gimana kabarnya EC?” Pertanyaan yang satu ini sering muntah.
Mungkin, saat itu aku menjabat sebagai ketua BPBA English PPA. Lubra. Sehingga, kedekatannya dengan anak-anak EC bagai jari
telunjuk dari jari tengah.
“Fine, thanks.” Ia berujar dengan bahasa Inggris yang masih
terkesan ke-madura-an.
Segala hal diceritakan. Hingga kita berdua larut dalam keasyikan cerita.
Tak terasa matahari tak terlihat kembali di ufuk barat. Break sejenak
untuk menunaikan Shalat Maghrib. Ceritanya dapat dilanjut nanti.
Secepat itu, menghadap Sang Waktu. Bermodalkan doa shalat dan doa usai
shalat, enough.
“Fah, Katanya Naila pernah perhatian banget waktu kamu sakit?” Kutanya
cerita yang pernah dibeberkan mbak Uuk sejak ngobrol di lokasi pemanggilan
putri.
“Kok Mister bisa tau itu?” tanyanya sedikit penasaran.
“Mbak Uuk pernah cerita.” Jawabku lirih.
Ia mulai bercerita.
“Iya. Aku pernah sakit panas di pondok kemarin. Pokoknya, hari itu tidak
seperti di hari biasanya aku sakit. Pernah jauh hari sebelum sakit ini menjamah
tubuhku, aku sakit panas. Memang sih, teman-teman pondok tanya penuh
iba, bantu penuhi kebutuhanku: belikan makanan, obat-obatan, atau apalah.
Mereka juga nemenin. Tapi, itu terasa biasa bagiku. Mereka membantu
layaknya seorang teman, atau teman sejawat . Ya, aku bersyukur masih ada orang
yang baik dan perhatian melihat kondisiku yang sakit-sakitan. Tidak sehat. Jasa
baik mereka, tetap tak pernah kulupakan. Akan aku simpan di hati yang paling
dalam.”
Ia menarik nafas. Jeda sejenak. Lalu meneruskan.
“Ya begitu. Sedangkan, yang satu ini sungguh berbeda. Aku rasakan
detik-detik perbedaan ini sejak belajar di English Club bersama teman-teman
yang baru aku kenal. Dari banyak teman, hanya ada satu teman spesial atau dapat
aku anggap sebagai familiku sendiri. Mister pasti tau kan?”
“Siapa?” potongku.
“Dia mbak Nay. Dia perhatian penuh padaku. Persis yang mbak Uuk ceritakan pada Mister kemarin.”
“Terus?” pintaku dia melanjutkan. Kedengarannya seru menyelami diksi dan
plot cerita tersebut.
“Sebelum aku cerita yang sebenarnya, aku minta cerita ini jangan sampai
ketahuan sama mbak Nay. Aku takut dia marah atau kesel.”
“Okey, aku janji.” Selaku ketus.
“Gini Mister. Saat aku sakit panas, badanku kaku bergerak. Nafsu makanku
tidak normal seperti biasanya. Badanku terasa panas. Nah, di tengah sakitku,
mbak Nay selalu menemaniku. Ia kelihatan
tulus. Sedikit pun tak ada perasaan terpaksa. Aku rasakan saat aku tidak dapat
makan karena tangan kananku tidak memiliki daya. Dia rela menjadi pengganti ebuk-ku[1].
Dia suapin. Toh, dia lihat aku tidak berdaya. Aku tidak mengerti. Kenapa mbak
Nay sangat perhatian padaku. Apakah karena aku teman dekatnya, atau karena aku
adalah sepupunya Mister? Entah, apa jawabannya. Yang tau sebetulnya hanya dia
seorang. Tapi, benakku meyakini semua itu karena Mister ada dibalik itu semua.”
“Sebentar. Kok bisa ngikutin aku? Apa hubungannya?” Potongku seketika.
“Udah Mister. Aku tau semuanya. Semoga dugaan itu benar.” Kata-kata malah
bikin aku kebingungan.
Ah... tak mengerti.
Hatiku kini baru berusaha jujur. Perasaan cinta pada seorang gadis yang
aku kenal lewat telepon sekarang ini terbentang kuat di lubuk hatiku. Sebenarnya,
cinta itu sudah dipendam mulai dulu. Sayangnya, cinta itu remang-remang.
Karena, sejak itu tidak ada komunikasi. Dia kelihatan sudah hilang di pelupuk
mata. Sehingga, adanya terkesan remang-remang.
Dari pada memendam perasaan terus-menerus, sungguh aku seperti menumpuk
harta yang tak kepakai. Harta itu tidak akan bernilai guna. Tidak akan
berkembang. Tidak akan berkurang pula. Harta itu sama seperti semula. Begitu
juga, cinta yang terpendam, tidak diungkapkan, tidak akan menghasilkan apa-apa.
Malahan, cinta itu akan hilang ditelan masa. Dipikir-pikir, lebih baik cinta
tersebut dilepas agar menemui muaranya. Entah, hasilnya positif atau negatif
alias nihil. It doesn’t matter. Yang penting usaha digerakkan. Ibarat
melepas anak panah dari busurnya. Kenak atau tidak, tidak jadi masalah. Itu
namanya ikhtiar atau usaha.
Di atas skeptis atau keragu-karaguan, terus atau end di sini saja,
sempat terlintas di dalam pikir. Tapi, yang membuatku samakin optimis
melangkah, perhatian yang ia curahkan untuk sepupuku. Sejauh mata memandang, ia
selalu hadir di hatiku. Entah, kegundahan ini hanya aku rasakan. Pikiran
kembali mengingat penjelasan guruku, Bapak Aziz. “Untuk buat perempuan
mengingat kita, tak usah pakai guna-guna. Cukup diingat saja. Tuhan pun akan
mengingat hambaNya jika mereka mengingatNya. Apalagi seorang perempuan.
Ingatlah dia, dia akan mengingatmu.” Di samping itu teman-temanku bilang waktu
ngobrol. “Satu hati dengan hati yang lain terpikat. Jadi, kala seseorang sedang
merindukan orang lain, debu rindu itu akan tersentuh pada benaknya. Jangan
khawatir.” Hatiku semakin bertambah kuat.
Diam lamaku berakhir saat aku mulai berujar, “Fah, kamu punya nomor
HP-nya?”
Ia geleng kepala. “Ndak punya Mister. Mister ingin bicara ama mbak Nay
ya?”
“Iiiya.”
“Cie, ndak, ndak aku takut Mister nyakitin mbak Nay.” Jawabnya sinis.
“Takut gimana?”
“Aku taku Mister nyakitin mbak Nay.”
Kekhawatiran ini tumbuh dalam dirinya, saat ia dengar bahwa aku putus
dengan Ice’ beberapa bulan silam. Ia takut kejadian itu terjadi pada mbaknya,
mbak yang sudah menjadi separuh hidup. Makanya, ia bilang dia dianggap sebagai
familinya sendiri sekalipun tak ada ikatan kerabat yang jelas. Tapi, setelah
aku jelaskan kenapa perpisahan itu terjadi di antara aku dan dia, ia baru
menerima. Ceritanya begini.
Berusaha tulus sudah aku bina sejak awal hati terpikat. Bentuk perhatian
sudah aku curahkan: mulai menjadi teman ngobrol di hari libur, carikan buku
sebagai bahan referensi di pondok, hingga hidden rahasia hubungan itu.
Bertahan di atas semua ini tidak pernah ada rasa terpaksa sedikit pun. Karena,
yang aku inginkan satu. “Dia bahagia.”
Sakit alias sakit hati tak pernah aku rasakan. Karena, sejak itu pertama
aku belajar cinta. Di sela-sela asyik tenggelam di dalamnya, sepupuku, Ulfah,
bilang, “Kalau kamu tau seperti apa orang yang sakit hati, tak dapat
dibayangkan sakitnya.” Ia menceritakannya dengan serius. Tapi, aku dengarnya
biasa-biasa saja. Ucapnya yang disampaikan dengan semangat hanya disambut
dengan senyum dingin.
Singkat cerita. Akhir bulan Ramadlan, usai kursus di AEC, ia kelihatan
berbeda. Awalnya komunikasi seharian. Hari itu ia tak muncul-muncul. Ditanya,
“Kok ndak dibalas SMS-ku!” Mirisnya, tak ada jawaban. Sungguh, kentara keganjalan
yang membuat pikiranku semakin linglung. Terus, ditanya, akhirnya
dibalaslah dengan sepatah kalimat, “Aku akan jelaskan pada saat yang tepat.”
Aneh bukan?
Saat darusan di masjid bareng anak-anak di kampungku, alunan kalam Tuhan
menyejukkan hati dan menghiasi kegalauan. Ayat Tuhan sungguh menjadi obat,
terutama gangguan batin. Ayat demi ayat aku perhatikan. Petikan kalimatnya
terkandung sejuta makna, sehingga dapat membawa hamba ke jalan mustaqim (lurus).
Mendengarkan bacaan mereka (anak-anak baru baligh), masih terkesan biasa.
Maklum, mereka masih baru belajar baca Al-Qur’an. Kadang terdengar bacaan error;
terbata-bata, tajwid yang keliru, hingga makhrijul huruf pun begitu. Aku
benar-benar kagum melihat semangat mereka menabung pahala di bulan Ramadlan
ini dengan tadaru-san.
Lampu ponselku berkedip-kedip. Tampak dilayar panggilan dari Ice’ dengan nama kontak “Tata” yang sebenarnya nama itu disitir dari bahasa
Inggris (Amirican Slang) dengan makna “good bye.”
Panggilan diangkat sambil bangkit menuju ruangan yang mampu meredam bunyi
nyaring sound system.
Aku sapa. Tak ada dugaan negatif gini-gitu. Seingatku, ia merespons dengan
dingin. “Iya. Biasa.” Begitulah, ucapnya masih aku ingat. Aku tetap berusaha
hidupkan situasi menjadi bergairah. Sayangnya, tak ada perubahan. Hingga,
selang beberapa menit, ia bilang, “Aku ingin semuanya temenan saja.” Dengan
kata-kata yang terlontar santai bikin pikiranku mafhum maksud yang
sebenarnya.
“Artinya, kita tak ada hubungan lagi?” ketusku.
“Iya.” Sepatah kata, dengarnya bikin hati disayat pisau.
Nah, saat terdengar kata-kata itu rasa kecewa tiba-tiba bangkit seketika.
“Kenapa kamu baru bilang kata itu saat ini? Kenapa tidak dulu sebelum terjalin
hubungan?” tudingku serius.
Beberapa pertanyaan terdampar dalam penyesalan. Tak ada jawaban. Sunyi
sedang membungkam. Ya Allah, hambaMu terlihat tidak berdaya kala itu. Tak ada
tempat berkeluh-kesah, melainkan hanya kepadaMu seorang. Buatlah hambaMu kuat
menerima ujian ini. Aku pasrah kepadaMu. Hanya Kamulah yang tahu dibalik itu
semua. Dengan emosi panggilan diputus.
Sejenak. Cerita itu usai.
“Insya Allah. Aku akan carikan nomor ponsel mbak Nay. Tenang Mister.” Dia
berani bilang seperti itu saat mencermati apa yang aku katakan. “Putus”
hubungan dalam cerita di atas bukanlah aku yang memutuskan, tapi dia sendiri.
Hukum karma belum diamandemen. Apa pun bentuk perbuatan
manusia akan mendapat balasan yang setimpal. Allah Maha Tahu.
“Thanks.”[]
No comments:
Post a Comment