Detik berlalu menjadi menit. Menit berlalu menjadi jam. Suasana pondok
kelihatan fresh dan comfortable seperti biasanya. Santri disibukkan dengan aktifitas mereka sendiri:
diskusi dengan secangkir kopi dan sebatang pipa rokok yang diisap
dalam-dalam, membaca buku, fiksi atau non-fiksi, jalan-jalan untuk menepis
kejenuhan, hingga makan bareng di samping masjid dekat dapur santri.
Mereka hidup penuh visi yang
jelas demi menyongsong masa depan yang cerah. Walau hidup pas-pasan karena
keterbatasan lapangan kerja, mereka hidup penuh dengan tarbiyah wa al-ta’lim[1].
Tak jauh kehidupan ala Rasulullah:
sederhana, mandiri, dan berakhlak mulia. Begitulah kehidupan di pesantren.
Waktu diskusi dimulai, awal kali tak ada hasrat untuk ngumpul bareng
teman-teman, tapi ajakan mereka hingga membikin diriku sungkan mengatakan
‘tidak’. Berkata ‘iya’, walau terkesan dipaksakan, akhirnya rasa sadar makin
tumbuh. “Aku harus aktif di kamunitas kayak gini. Soalnya, diskusi ini sangat
menunjang terhadap perkembangan pengetahuan seseorang,” gumam batinku lirih.
Duduk dan diam malu-malu. Varian opini digadai. Ada yang Pro, setuju pada tema yang dibahas, begitu pula ada yang kontra, menolak habis-habisan dan menentang pro.
Forum yang dibentuk melingkar, merupakan cara untuk mempermudah
masing-masing peserta diskusi atau debat, menatap teman yang
lain. Tatapan yang fokus pada objek yang dimaksud, dapat mempengaruhi jiwa
orang yang ditatapnya. Sungguh. Mereka, tak dikira, tak merasa gugup atau nervous
sedikit pun menyampaikan pendapat. Tapi, tak semua, masih ditemukan sebagian kecil yang merasa tercekat-cekat, seakan-akan
terjerat, sehingga tak leluasa bergerak. Sebab, sebagian mereka masih pemula. Aku salah satu di antaranya. Takut salah, terus menghantui
setiap gelagiatku. Tapi, setelah dipikir karakter seperti itu tidak baik
dibiarkan mengendap di dalam diriku, seharusnya di-delete. Terus,
caranya?
Mungkin, berkat aktif di forum diskusi kayak gini, rasa percaya diri
semikin terbangun. Aku pasti bisa seperti mereka. Cerocos batinku bergumam.
“M-e-n-u-r-u-t saya....” Sorotan pandangan mereka tajam terfokus padaku. Detak
jantung semakin kencang. Untung tak ambruk kala itu. Rasa percaya diri tetap
menguat dalam diriku, karena isyarat anggukan kepala mereka, tanda menyetujui,
lebih dari itu memujiku. Nuraniku komentar bahwa pendapat yang disampaikan
lumayan bagus, sehingga penting terus dikembangkan.
* * *
Asyik berkumpul dengan orang kritis, pintar plus cerdas, beberapa hari silam, seakan-akan jiwaku menjadi bagian dari mereka. Hasrat kunjungi komunitas diskusi, sedikit pun tak merasa terpaksa. Murni keinginan yang timbul dari nurani.
Panggilan loadspeaker pesantren terdengar jelas, kalau itu tertuju
padaku. Ada kiriman atau...? Sudahlah. Tak baik juga over mikir sebelum
berbuat. Pikirkan sewajarnya saja. Aku bergegas menuju kantor pesantren,
selatan asrama bahasa Inggris. Kira-kira lima langkah sudah tiba.
“Dari siapa Pak?” tanyaku singkat. Si pengurus KAMTIB ngerti maksud pertanyaan
itu. Aku tanya maksud dipanggilnya namaku tadi, maksudnya.
“Kamu punya famili di Lubri?” ketusnya bikin aku terdiam sejenak.
“I...y...” Maksudku menjawab ‘iya’, terpaksa kata-kata dipotong. Entahlah.
Apa aku terlalu lama diam atau...?
“Nih surat panggilan,” ucapnya usai mengambil seperempat kertas folio.
Diperhatikan. Eh....
Mbak Uuk panggil aku. Segera aku tinggalkan kantor pesantren, tanpa pamit
segala. Bersiram segera di kamar mandi. Baju ganti yang agak sedikit keren.
Wangi-wangian menghujani sekujur tubuh. Aku terlihat lebih perfek dari yang
biasanya. Bagai kunjungi acara penting. Padahal, sekedar ketemu sepupu. Tak
lebih. Kira-kira jam 13.30 aku berangkat ke lokasi pemanggilan putri.
Di lokasi pamanggilan, surat disodorkan tanpa sepatah kata pun. Gimana mau
bicara, wong aku tidak kenal mereka, pengurus KAMTIB putri. Diterima. Lalu, menuju tempat duduk yang tersedia. Ya, aku harus
nunggu. Nunggu tak kelamaan, jika dia datang segera. Atau, duduk berlamaan,
karena mbak masih belum nongol. Mbak-ku dipanggil untold.
“Ummi Salamah, blok E/7, ada panggilan,” panggilnya lewat loadspeaker.
Seorang perempuan berjalan tertatih-tatih. Dipandang, ternyata mbakku
sudah datang. Kepala mendongak. Senyuman tersungging dari arah jauh. Dibalas
dengan senyuman. Sedekah atau dosa? Senyuman lawan jenis, kala itu, tak sempat
terpikirkan. Pasalnya, tak ada daya syahwat di antara kita. Mau bersyahwat, sedangkan dia sendiri mbak yang berusia lebih tua
dariku, apalagi sepupu. Walau agama memperbolehkan menjalin cinta dengan sepupu sendiri hingga berlanjut ke jenjang pernikahan, bagiku, hal itu
ditangguhkan saja. Dalam Nuansa Fiqh
Sosial, ditulis perkawinan yang terjalin antara kerabat dekat akan
menyebabkan keturunan menjadi lemah mental dan intelektual.
Dia sampai di tempat dudukku. Tepat di sampingku dengan space sedikit
dia duduk. Tudingan negatif tak berani orang lain lakoni. Sebab, mereka
meyakini benar-benar tidak ada tujuan jelek.
“Mbak....” Sapaan itu mengalir tanpa celah.
Obrolan start dengan dingin. Terkesan tak ada gairah sama sekali.
Biasa, permulaan. Dalam olahraga, masih pemanasan. Permainan belum dimulai.
Biarkan obrolan mengalir free tanpa kungkungan list poin yang
hendak dibicarakan. Kali ini, pertemuan di antara kita, bukan layaknya
pertemuan presiden dengan publik. Hingga mendorong si presiden meng-list yang
akan disampaikan. Nanti, di forum tak terkesan ngelantur. Sesuatu yang
tidak penting disampaikan berapi-api di hadapan mereka.
Step by step, percakapan semakin
bertambah hard. Asyik.
“Mbak, siapa nama ketua EC?” tanyaku memotong. Kini, masih tahun 2011.
“Naila. Emang, ada apa dik?” Ia kelihatan penasaran dengan pertanyaan yang terkesan serius.
“Kemarin aku telepon dia. Tanya pendistribusian buku.”
“Ow, gitu.” Dugaan negatif tak jadi bertandang di pikirannya. Memang, mbak seperti itu bersikap. Tak suka memaksa orang lain
cerita sampai end, apalagi itu bersifat private.
Obrolan berhenti dengan sendirinya durasi waktunya habis. Sampai azan
Ashar bersahutan di masjid.
* * *
Aku tahu kalau ketua EC itu tidak ada ikatan famili dari abah dan umi. Nah, ini masalahnya. Optimis untuk manggil sesuai dengan permintaannya kemarin, sulit terwujud. Biarkan itu jadi rencana saja, sedangkan fakta berkata sebaliknya. Insya Allah kita saling mengerti, kalau peraturan pesantren merupakan keputusan paten. Melangkahi adalah pelanggaran. Sadar. Melanggar perilaku yang tidak baik.
Di kantor pesantren sebuah percakapan kecil terjalin.
“Bapak, boleh minta tolong panggilin ketua EC,” pintaku dengan nada
memohon.
“Bisa. Tapi, siapa namanya?” Pertanyaan itu muncul kembali. Tak kunjung
pupus.
Sebenarnya, aku ingin jawab directly supaya tidak berlarut-larut
lemas berdiri di hadapannya. Sayangnya, nama itu hilang di memoriku bagai
disapu angin kencang. Tak tersisa sedikit pun. Pikiran mumet. Whereas,
kemarin aku sudah tanyakan ke mbak Uuk. “Siapa namanya...?” Dia mengulang
pertanyaan yang kedua kalinya.
Diam menjeratku. Kerutan kening terlihat. Pikiran menerawang. Hasilnya,
tetap nonsen.
“Maaf, lupa Pak.”
Recovery apapun untuk
menggambilikan file yang ter-delete, hasilnya tetap sama.
Salahnya, nama itu tidak ditulis di diary. Andai dicatat, upaya untuk
mengingat cukup buka catatan dalam buku tersebut. Beres.
Nama terkesan unik. Ditanya kemarin, dekat-dekat ini sudah lupa.
Dibandikan dengan nama artis atau pemain-pemain sepak bola ternama, walau baru
saja bangun dari tidur dan ditanya seketika itu, jawaban mengalir tanpa celah. Probably,
nama itu tidak aku hafal seperti aku masih mengahafal nazam Al-Fiyah
tempo dulu.
Memang, sesuatu yang hanya diingat di pikiran cepat ter-delete.
Antonius Arif menulis di Kalau Anda Mau Pasti Bisa, “Temporary memory
yang berbentuk informasi yang didapat dari luar dan masuk ke dalam pikiran
manusia, kadang bersifat sementara. Sebab, itu hanya singgah di pikiran sadar (conscious)
saja. Pikiran sadar manusia hanya menguasai 10-12% dari seluruh informasi yang
masuk.” Jadi, untuk memperkuat ingatan, hendaknya memperkerjakan pikiran bawah
sadar (subconscious) yang mampu menguasai 88-90% untuk mengingat seluruh
informasi yang masuk. Sedangkan, untuk memulihkan subconscious bisa
dengan imajinasi, permanent memory, emosi, dan protective.
“Kok bisa tidak tahu.” Ia sedikit
kecewa mendengar jawabanku.
Usai ganggang telepon disodorkan, obrolan start. Aku sampaikan
kalau tidak bisa manggil. Soalnya, kemarin ditanya ke pengurus KAMTIB, nama
kita tak terdata, baik berstatus saudara, sepupu, dan organisasi.
“Tak kenapa.” Jawabnya pelan.
Panggilan ditutup.[]
No comments:
Post a Comment