Hadits ini masih bertandang di memoriku. Seolah-olah tak terlupakan.
Selalu dikenang kapan dan di mana pun.
Suatu hari seorang sahabat sowan ke kediaman Rasul. Sampai di sana
ia tergepoh-gepoh masuk menuju beliau. Sedangkan, kuda yang ditunggangi
dibiarkan sendirian di luar sana. “Di mana kudamu?” tanya Nabi.
“Aku tawakkal saja ya Rasul,” jawabnya polos.
“Sudah diikat kuda itu?” tanya Rasul kemudian.
“Tidak.”
“Ikatlah,” perintah beliau seketika.
Hadits itu mengisyaratkan tawakal seorang sahabat yang polos. Pasrah penuh
padaNya tanpa dibarengi ikhtiar sama sekali; mengikat kuda yang
ditunggangi.
Tawakal, sikap mulia yang semestinya ditanam dalam-dalam bagi seorang
muslim. Sikap tawakal, bagiku, tak jauh berbeda dengan sabar sebagai alternatif
terakhir saat hambaNya menjalani proses waktu ke waktu. Kusebut sikap mulia
karena sering orang putus asa karena tak ada komitmen tawakal. Malah, egois
yang didahulukan. Padahal, sikap egois tak baik dalam segala hal. Misal,
egois intelektual, egois emosional, dan egois spiritual.
Bersikap tawakal dirasa sangat sulit. Tak semudah kata itu diucap. Karena,
berpasrah diri padaNya adalah suatu ujian untuk mengukur kadar sabar atau tidak
seorang hamba untuk meraih medali Tuhan yang mulia. Anologinya, murid yang
berpasrah diri menunggu hasil evaluasi atau ujian yang telah ia lalui. Hasil excellent
atau rendah, butuh bersabar diri menanti. Menjembatani sikap optimis atau
putus asa, diperlukan bibit kesabaran. Ya, bisa jadi “sabar” menempati urutan
teratas setelah tawakal.
Tawakal. Waktu duduk ngobrol di lokasi pemanggilan santri putri, Ulfah
bilang, “Kasihan Mister ya, mbak Nay tak ingin fall in love dengan orang
Madura.” Kalimat itu benar-benar menghantamku bagai disambar petir. Hampir aku
semaput, tak kuasa melihat realitas. Dapat dibilang, hanyalah sekedar harap,
tak tumbuh jadi fakta. Hingga, nuraniku menenangkan. Tak kenapa dia bilang
kayak gitu.
“Bi-biarin, kan dia sudah ingin berhenti tahun ini? Masak aku masih ngarep[1]
orang yang akan pergi dari Madura? Sorry,”
basa-basiku menghela.
Memang, akal mengakui sungguh sulit memenuhi harapan yang kadung
bertandang di dalam hati. I fall in love her. Tapi, kalimat itu hanya
aku rasakan di benak saja, tak berani diungkapkan dengan lisan. Penakut. Bisa
jadi begitu aku bersikap? Apalagi, dia sangat membenciku. Dengar dan baca namaku saja muaknya minta ampun, apalagi lihat rona
wajahku. Tak dapat dibayangkan, jadi apa nanti? Sulit rasanya perbaiki karakter
menyelimuti hatinya hingga jadi lunak atau cinta. Aku masih terlalu asing di
matanya. Tapi, semua itu bukan tidak mungkin.
Udah! Aku tidak ingin bahas tentang Naila kembali. Pikiran itu tiba-tiba
sedikit pesimis akhir-akhir jabatan ketua BPBA English periode 2012-2013
bertengger di pelupuk mata. Aku hanya bisa berharap, dia adalah seorang yang
cukup aku tahu lewat obrolan ponsel dan buku diary yang dikirim beberapa
bulan silam, bukan dikenal vis. HambaMu terkapar menjalani takdir yang
cukup pelik, hingga hampa solusi. Jika dia perempuan baik-baik dalam
kehidupanku, bekalilah dia cinta hingga rindu membimbingnya pada jalan yang
lurus. Sadar di matanya hinggap butiran debu yang terkatung-katung namaku.
Tampak tanpa tabir.
Doa itu sempat terbersit dalam benakku. Berani menggadai doa saat ikhtiar
aku lalui. Aku percaya kekuasanNya tanpa batas. Dia tidak akan
menyia-nyiakan hamba yang tulus menjalani takdir. Dia tidak akan menguji hamba
di atas kadar, hingga dia tak kuasa menjalaninya. Dia Maha Adil. Inna allaha
adlun. Percayalah!
Perbincangan dengan sepupuku berakhir juga saat adzan Asyar menggema. Di
sana tanya tentang Naila; kabarnya, respons terhadap karya-karyaku, dan
detik-detik berada di Annuqayah. Termasuk beruntung, sepupuku kenal dekat
dengannya. Setiap gelagat termonitor. Sehingga, merasa asyik dengar
cerita-ceritanya.
Ikhtiarku akhirnya pudar. Hanya bintik-bintik harapan yang ajek
membekas di benakku. Teman-teman nakal gojloki aku dengan Naila tak terdengar
kembali. Mungkin, mereka mengira di antara kita tidak ada hubungan apa-apa,
sebatas kenal saja atau bisa dibilang dekat yang semu. Aku pun merasakan
seperti itu.
Pasrah saja. Ikhtiar berlalu dengan sendirinya. Biarlah semua ini
mengalir dengan tenang disertai ketukan palu Tuhan sebagai ketentuan takdirNya
di hari berikutnya.[]
No comments:
Post a Comment