Wednesday, July 1, 2015

Refleksi Tawakal



Hadits ini masih bertandang di memoriku. Seolah-olah tak terlupakan. Selalu dikenang kapan dan di mana pun.

Suatu hari seorang sahabat sowan ke kediaman Rasul. Sampai di sana ia tergepoh-gepoh masuk menuju beliau. Sedangkan, kuda yang ditunggangi dibiarkan sendirian di luar sana. “Di mana kudamu?” tanya Nabi.

“Aku tawakkal saja ya Rasul,” jawabnya polos.

“Sudah diikat kuda itu?” tanya Rasul kemudian.

“Tidak.”

“Ikatlah,” perintah beliau seketika.

Hadits itu mengisyaratkan tawakal seorang sahabat yang polos. Pasrah penuh padaNya tanpa dibarengi ikhtiar sama sekali; mengikat kuda yang ditunggangi.

Tawakal, sikap mulia yang semestinya ditanam dalam-dalam bagi seorang muslim. Sikap tawakal, bagiku, tak jauh berbeda dengan sabar sebagai alternatif terakhir saat hambaNya menjalani proses waktu ke waktu. Kusebut sikap mulia karena sering orang putus asa karena tak ada komitmen tawakal. Malah, egois yang didahulukan. Padahal, sikap egois tak baik dalam segala hal. Misal, egois intelektual, egois emosional, dan egois spiritual.

Bersikap tawakal dirasa sangat sulit. Tak semudah kata itu diucap. Karena, berpasrah diri padaNya adalah suatu ujian untuk mengukur kadar sabar atau tidak seorang hamba untuk meraih medali Tuhan yang mulia. Anologinya, murid yang berpasrah diri menunggu hasil evaluasi atau ujian yang telah ia lalui. Hasil excellent atau rendah, butuh bersabar diri menanti. Menjembatani sikap optimis atau putus asa, diperlukan bibit kesabaran. Ya, bisa jadi “sabar” menempati urutan teratas setelah tawakal.

Tawakal. Waktu duduk ngobrol di lokasi pemanggilan santri putri, Ulfah bilang, “Kasihan Mister ya, mbak Nay tak ingin fall in love dengan orang Madura.” Kalimat itu benar-benar menghantamku bagai disambar petir. Hampir aku semaput, tak kuasa melihat realitas. Dapat dibilang, hanyalah sekedar harap, tak tumbuh jadi fakta. Hingga, nuraniku menenangkan. Tak kenapa dia bilang kayak gitu.

“Bi-biarin, kan dia sudah ingin berhenti tahun ini?  Masak aku masih ngarep[1] orang yang akan pergi dari Madura? Sorry,” basa-basiku menghela.

Memang, akal mengakui sungguh sulit memenuhi harapan yang kadung bertandang di dalam hati. I fall in love her. Tapi, kalimat itu hanya aku rasakan di benak saja, tak berani diungkapkan dengan lisan. Penakut. Bisa jadi begitu aku bersikap? Apalagi, dia sangat membenciku. Dengar dan baca namaku saja muaknya minta ampun, apalagi lihat rona wajahku. Tak dapat dibayangkan, jadi apa nanti? Sulit rasanya perbaiki karakter menyelimuti hatinya hingga jadi lunak atau cinta. Aku masih terlalu asing di matanya. Tapi, semua itu bukan tidak mungkin.

Udah! Aku tidak ingin bahas tentang Naila kembali. Pikiran itu tiba-tiba sedikit pesimis akhir-akhir jabatan ketua BPBA English periode 2012-2013 bertengger di pelupuk mata. Aku hanya bisa berharap, dia adalah seorang yang cukup aku tahu lewat obrolan ponsel dan buku diary yang dikirim beberapa bulan silam, bukan dikenal vis. HambaMu terkapar menjalani takdir yang cukup pelik, hingga hampa solusi. Jika dia perempuan baik-baik dalam kehidupanku, bekalilah dia cinta hingga rindu membimbingnya pada jalan yang lurus. Sadar di matanya hinggap butiran debu yang terkatung-katung namaku. Tampak tanpa tabir.

Doa itu sempat terbersit dalam benakku. Berani menggadai doa saat ikhtiar aku lalui. Aku percaya kekuasanNya tanpa batas. Dia tidak akan menyia-nyiakan hamba yang tulus menjalani takdir. Dia tidak akan menguji hamba di atas kadar, hingga dia tak kuasa menjalaninya. Dia Maha Adil. Inna allaha adlun. Percayalah!

Perbincangan dengan sepupuku berakhir juga saat adzan Asyar menggema. Di sana tanya tentang Naila; kabarnya, respons terhadap karya-karyaku, dan detik-detik berada di Annuqayah. Termasuk beruntung, sepupuku kenal dekat dengannya. Setiap gelagat termonitor. Sehingga, merasa asyik dengar cerita-ceritanya. 

Ikhtiarku akhirnya pudar. Hanya bintik-bintik harapan yang ajek membekas di benakku. Teman-teman nakal gojloki aku dengan Naila tak terdengar kembali. Mungkin, mereka mengira di antara kita tidak ada hubungan apa-apa, sebatas kenal saja atau bisa dibilang dekat yang semu. Aku pun merasakan seperti itu.

Pasrah saja. Ikhtiar berlalu dengan sendirinya. Biarlah semua ini mengalir dengan tenang disertai ketukan palu Tuhan sebagai ketentuan takdirNya di hari berikutnya.[]


[1] Ngarep (bahasa Madura): mengharap

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...