Usai baca petikan diary Ade’ Naila, aku baru sadar bahwa itu misteri Tuhan yang sulit ditebak dan diprediksi. Karenalah, pertemuan itu terbingkai. Begini petikan diary-nya.
Rabu, 01 Mei 2013
“Assalam
Abang...!”
“Maaf, pasti Abang sudah datang dari Pare ya?
Hehehe sorry ya bukunya ga’ sempat kutitipin ke temanku supaya dikirimin ke
Abang abis ketika mau pergi ke Lubsel. Untuk ngasih bukunya, keadaanku kembali
lagi seperti semula, kepalaku pusing. Jangankan jalan, duduk aja rasanya
miring. Rencananya aku bakalan kirimin buku ini supaya ga’ stress plus nervous.
Eh... ternyata bukan takdirnya. Mungkin ya.”
* * *
Sakit yang menjadi sunnatullah kambuh. Duduk, apalagi langkahkan kaki, tidak kuasa dan tak fit. Tidur atau berbaring di atas lantai adalah alternatif. Sadarkah kalau sakit itu adalah tanda kasih sayang Tuhan pada hambaNya karena suatu hal yang belum terjangkau akal sehat manusia? Kesadaran itu mampu bikin hambaNya optimis sembuh dari sakitnya atas restu Sang Kuasa. Dokter hanya perantara Tuhan menjadi pulih. Begitu pula, terapi, konsumsi obat-obatan, dukun, dan yang lainnya. Pada dasarnya, Dialah dalang itu semua. SelainNya sekedar wayang yang kanaah di atas ikhtiar yang telah usai.
Dia berkehendak kirim diary yang berisi cerita tentang
kepridiannya, sehingga dapat aku baca di perjalanan pada acara Comparative
Study 2013. Segala kepenakan dan kekederan yang hinggap kala itu terhapus sebab
jajaran kalimat di dalam buku tersebut. “Supaya ga’ stress plus
nervous,” tulisnya.
Petikan prasal ini merupakan sebuah ungkapan perhatian. Coba-coba jadi
mufasir ala kadarnya. Entah, tafsir ini benar-benar seirama dengan ide penulis
(author), atau membedai. Yakinlah bahwa setiap kalimat yang tertulis di
dalamnya, ungkapan kata hati si penulis yang tak dusta. Hati nurani.
Sayang, buku itu tak dapat dikirim. Tipus bikin dia kaku bergerak. Harapan
indah, tak sepahit kenyataan. Jadinya, aku tak dapat tahu isi diary-nya
sejak itu, hingga sampai di Annuqayah kembali. Sabar menjadi jembatan melangkah
hidup penuh ilusi. Secara tidak langsung, sabar menjelma seorang motivator
seperti Mario Teguh untuk temukan jalan hidup yang terarah. Waktu terus
bergulir. Past-present-future. Diary itu tetap ia pegang, hingga
perpisahan dengan isyarat ucapan “good bye” pada teman-teman pondok di
Annuqayah akhirnya tiba. Aku baru sadar, kawan.... Sungguh sakit tidak boleh
tidak aku rasakan karena tawa dan senyummu tak kulihat kembali. Moga kita
sama-sama sukses. Amin.
Aku pun mumet. Diary miliknya dengan cover warna hitam, mendekap di
pangkuanku. Kadang itu hangat dalam pelukan, kadang hangat dalam tumpukan buku.
Apakah diary kita berdua sudah diikhlaskan? Yours is mine, mine is
yours. Tapi... diary yang ia
pegang terkesan negatif (agak kekanak-kanakan, childish). Sedangkan, diary
yang aku pegang kunilai jauh lebih sempurna, apalagi diary itu kado
dari uminya.
“Masihkah kurawat diary ini, sedangkan orangnya akan pulang ke
Situbondo?” gumamku sedikit prustasi. Agaknya, segala isi hati yang tertulis di
dalam diary akan menjadi pajangan atau dimusiumkan. Orang yang kumaksud tidak akan baca.
Ahhh... biarkan diary itu tenang di dalam tasku. Kalau diary
ini tak bisa aku apa-apain, sebaiknya dijaga saja. Kan di dalamnya ada tulisan
dia? Memang, tulisan itu sudah dibaca awal kali buku itu sampai ke aku. Tak hanya satu
kali, bacanya. Tapi, berkali-kali. Seakan-akan tak kunjung pupus daya tarik
menyelami kata demi kata yang diurai penuh kejujuran dan ketulusan. Setiap
kata-kata yang tertulis, membacanya persis mendengar ia bertutur di hadapan.
Harapan demi harapan terkesan nihil kerena kepergian dia dari Madura. Good
bye Ade’. Semua yang terjadi di antara kita; perkenalan di ponsel, dan
kiriman diary cukup menjadi cerita yang sama-sama jadi kenangan di dunia
imajiner. Mengingat itu semua, tergantung sejauh mana hati itu terpikat,
sekalipun kita saling tahu, bukan saling kenal, bukankah begitu? Ade’ masih
belum kenal seperti apa aku sebenarnya, begitu pun aku sama Ade’. Wajah Ade’
tak pernah kutatap, walau sekejap. Tahu Ade’ tak jauh dari aku beriman. Hati
berikrar, begitu pula mulut.
Kepergian itu, pilihannya sendiri. Aku hanya berani men-support dengan
ajungan jempol. Semoga kita sama sukses. Percayalah sama takdir yang berada di
genggaman kekuasaanNya. Dia akan memberikan yang terbaik pada hambaNya.
* * *
Hampir menjelang pertengahan malam, ponsel itu masih dalam genggaman. Varian SMS sent-received. Begitu pula, buka-buka fb. “Ne benar Mr. Khalil?” SMS dengan nomor baru. Tak dikenal.
“Iya benar. Ne capa ya?” balasku.
“Aku adiknya mbak Nay. Mbak bilang diary-nya suruh dikirimkan,
soalnya aku akan berkunjung ke rumah mbak,” balasnya.
“Nailanya mana?”
“Dia sudah pulang ke Situbondo.” Sudah. Harapan itu benar-benar nihil.
Kalau memang begitu, terpaksa diary itu aku antarkan.
“Besok, aku ingin ke pondok. Gimana kalo kamu jemput diary itu di
sana?”
“Aduuh, gimana Mister? Aku tidak punya sopir untuk pergi ke sana. Gimana
kalo Mister aja ke sini? Apalagi ne ada titipan dari mbak Nay.” Aku sedikit
terperanjak dengar kalimat “titipan dari mbak Nay”.
“Titipan berupa apa?”
“Buku diary Mister.”
“Insya Allah. Aku akan ke sana.”
* * *
Keesokan harinya, rombongan mobil untuk jemput mbak Uuk hampir berangkat. Pikiranku menerawang. Aci-aci aku ikut rombongan itu, tak kan diary itu diantarkan ke Pakong. Hanya saja, perjalanan itu berakhir di pondok saja. Kucari solusi lain. Aku putuskan tidak ikut.
Saat rombongan itu berangkat, aku telepon Abah; aku akan ke pondok pula sambil nganterin buku. Awalnya,
tidak diizinin, tapi setelah kujelaskan akhirnya ada lampu hijau. Ngizinin.
Karena sepeda motornya dibawa aba tadi, terpaksa aku pinjam milik tetangga
terdekat. Memori masih mengingatnya. Sepada yang aku kendarahi, Bravo. Sepeda
gaya tua, bisa jadi gengsi dipakai anak muda masa kini. Bagiku tidak.
Apalagi aku hanya nganterin diary, terus pulang. Gimana aku ingin
berlama-lama, ngobrol sama Lay, adik Naila, sedangkan aku sendiri tak akrab?
Malu! Nanti kesannya sok begitu. Khawatir terjadi isu negatif oleh tetangga
terdekat pula.
Berangkat kira-kira jam 09.00. Dilalui perjalanan mulai Ambunten hingga
Pakong. Sampai di sana, aku berteduh sebentar di bawah atap perumahan
dekat jalan raya pasar Pakong. Kurengkuh ponsel yang diam dari tadi. SMS masuk.
Terlihat di layar. “Mister jadi yang mau ke sini?” tulisnya di SMS.
“Aku udah sampai di Pakong sekarang. Rumahmu mana?” balasku tak lama.
“Mister, Pakong mana?”
“Di Pasar.”
“Owww, jalan terus dulu Mister. Kalo, Mister lihat masjid, berarti udah
sampai. Tak kutungguin di sana ya....”
Sepeda dihidupkan kembali. Terus, perjalanan dilanjutkan. Belok kiri di
pertigaan pasar. Tak jauh, di pinggir jalan tampak masjid. Aku menuju masjid
itu. Pikiran meyakini, pasti masjid ini yang dimaksud. Pas di depannya, sepeda
belok kanan, dan diparkir. Sepeda didiamkan. Tak terdengar bunyi, hanya
transportasi lalu-lalang di jalan raya. Ditelpon. “Aku udah ada di depan
masjid,” ucapku.
“Masjid?! Apa namanya?”
“Masjid Nurul Haq.”
“Aduhhh, bukan, bukan, bukan.”
“Terus, masjid yang mana?” Aku jadi mumet.
“Warna kubahnya biru.”
“Iya, sudah tutup dulu.” Ponsel ditutup.
Jadi, aku salah jalan. Aku kendarahi lagi sepeda seraya balik arah menuju
arah balik kiri di pertigaan tadi. Sampai di beberapa masjid, sayang kubahnya
tak berwarna biru, hanya warna putih atau.... Perjalanan terus. Sebentar turun
tanya pada orang sekitar yang sedang berlalu-lalang. Jawabnya tak tahu. Tak
lagi pada orang yang berbeda di tempat yang beda pula, bilangnya suruh terus
sebab masjid yang kumaksud masih jauh. Di sana. Tunjuknya dengan telunjuk
menuding pada arah terus. Jauh. Perjalananku masih lama. Hingga sampai di
sekolah Muhammadiyah. Depan sekolah, sepeda dihentikan tak tahu yang kesekian
kalinya. Phone. Siapa kira dia tahu? Nyatanya... dia tak mengenalnya. Busettt!
Tanya belok ke arah mana di pasar itu, anehnya dia tak tahu belok yang
benar. Jawaban mumet. Hanya saja bilangnya. Sampai di sana
Mister terus... ya terus... nah, terus.... Aku dibekali peta “terus”.
Kucek bensin sepeda. Takut-takut habis tengah jalan. Syukur, lumayan full.
Balik lagi ke pertigaan tadi melanjutkan perjalanan hingga berpapasan dengan
masjid pertama aku lihat. Karena bukan itu, gas dihentak. Sopeda makin kencang.
Selain tatapan mengarah ke depan, sekali-kali pandangan diedarkan. Bukan....
Tuh, bukan.... Kalo ini, bukan.... Sepeda tetap mengelinding. Tak tahu ke
mana. Sepintas aku ingat aku sekarang ada di jalan awal kali aku menuju
Waru-Pamekasan. Optimis sampai di tujuan. Yakinlah! Aku teringat saat
kesasar beserta teman waktu ingin beranjangsana ke rumah teman. Akhir-akhirnya
tiba juga sekalipun kelamaan. Kan, aku punya ponsel. Fungsikan!
Di sebuh toko dekat jalan, seorang ibu sedang menjajankan jualannya. Es,
seingatku. Aku tanya masjid Al-Falah. Dia geleng kepala. Tidak tahu. “Kalangkong[1],”
ucapku.
Sepeda kembali dihidupkan dan teruskan perjalanan. Di kejauhan sana ada pertigaan. Aku ingat pertigaan itu. Jalan belok
kanak, jalan menuju Waru. Pernah kulewati jalan itu dua tahun silam waktu ikut
kursus bahasa Inggris di Radiant English Course (REC). Pasti salah kalau jalan
ke sana dilalui. Pasti jalan belok kiri adalah yang tepat. Tapi ini jalan
kemana? Pikiran bingung. Di warung kecil dekat jalan, seorang laki-laki
berteduh. Ditanya, jawaban tetap sama. Tidak tahu. Ditelepon bahwa aku sedang di pertigaan dekat kantor polisi.
“Bagus....” Keringat seketika sedikit mengering. “Mister terus jalan ya.
Nanti ada pomp bensin. Nyampek di sana terus jalan lagi. Tak jauh Mister akan
lihat pertigaan. Di pertigaan itu belok kanan. Terus, jalan lagi. Di sana ada
amal masjid. Nah, di sini aku sedang nunggu Mister.” Ia jelaskan
serinci-rincinya, tapi pikiran tetap bingung.
Terus, aku ikuti petunjuk tersebut usai pamit pada bapak yang rileks
sambil ngirup udara segar. Eh, tampak pomp bensin di depanku. Seketika
aku parkir sepeda di pinggir jalan sebelah pomp. “Apakah pomp
ini?” tanyaku husnud dzan. Lilitan kebingungan semakin terlepas.
Seakan-akan temukan imajinasi. Kutelepon. “Aku udah nyampek di pomp
bensin,” kabarku.
“Sip, berarti Mister jalan terus. Nyampek di pertigaan belok kanan.” Pomp itu
ternyata benar. Jadi... perjalananku hampir tiba ditujuan.
Jalan lagi. Di samping jalan dengan ladang pemisah kentara masjid berkubah
biru. Itu mungkin? Pikiran bergumam. Terus, aku mau lewat mana? Tak ada
satu jalan pun yang lurus ke masjid tersebut. Masa aku nyebrang sawah? Gila!
Bisa jadi, harus mutar ke sana. Tak dekat, tak jauh. Fifty-fifty.
Di pinggir jalan berdiri sebuah toko. Terlihat keramaian pengunjung.
Jual-beli. Aku turun dari sepeda. “Buk, ekaemmah masjid Al-Falah?[2]”
Aku coba tanya pada salah satu ibu di sana.
Ia jelaskan sementara pikiran menerawang. Tudingkan telunjuknya diarahkan
ke arah sana. Emmm, jadi bukan masjid tadi itu. Gumam pikiran menyela.
Katanya, di masjid Al-Falah ada amal masjid. Amal adalah isyarat yang paling
mudah. “Kalangkong buk,” ucapku bangga.
Berangkatlah tanpa perasaan lelah. Ooh, ini jalan pertigaan itu. Desisku pelan. Sopeda belok kanan. Jalan kelihatan berliku. Terus, dilalui tak jauh
dari pertigaan itu, terdengar alunan minta-minta amal di loadspeaker. “Amal...
amal... amal... sakalangkong. Semoga nyampek tujuan.” Benar
bapak-bapak berjajar di pinggir jalan dengan gayung yang diulur-ulurkan.
Menunggu transportasi lewat. Tak terasa aku sudah tiba. “Mister....” Terdengar
seorang memanggilku beserta temannya. Dia mungkin?! Gumamku sedikit
kaget. Tanpa respons, sepeda dibelokkan. Mereka berdua bergegas menuju ke
arahku sambil masuk ke sebuah bangunan yang aku sendiri tak tahu tempat apaan
itu.
“Lho siapa ni orang? Ingat-ingat jaket yang dikenakannya pernah dipakai
Ulfah waktu ketemu aku di lokasi pemanggilan. Apakah dia...?” pikiran
berkecamuk.
Aku turun dari sepeda menuju seorang yang tampak berdiri menyambut
kedatanganku. Ia kenakan kerudung merah hati, jaket hitam, dan pakai kaca mata.
Tanpa sepatah kata salam ala muslim, ucapku refleks, “Nailanya mana?”
“Lho, emangnya aku hantu apa?!” balasnya menyendir.
“Ow, jadi dia Naila,” pikiranku menyimpulkan. “Maaf.”
Aku duduk di lencak[3].
Ransel yang digendong dari rumah, baru dilepas. Kepenakan, rasa
capek dan pegal pudar dengan sendirinya. Angin siang berdesir. Tiupannya
menghapus peluh yang membasahi sekujur tubuh.
“Mak sampean cuek?” tanyanya. Aku tidak menggubris. Karena,
ucapan itu tak didengar dengan jelas.
“Nih,” ucapku sambil mengulurkan diary yang baru saja diambil dari
dalam tas. Begitu pula diary-ku yang dikirimkan melalui sepupuku
beberapa hari silam ternyata masih terjaga, walau sedikit ada kelainan. Saat
itu, diary beserta buku berjudul “Jika Anda Mau, Pasti Bisa” dan diary
miliknya diberikan kepadaku.
“Sejak jam berapa sampean berangkat ke sini?”
“Emmm, seingatku jam 9 lebih baru berangkat.”
Aku bilang, “Ternyata di sini rumahmu. Saya pikir di pasar Pakong itu. Eh,
malah jalan terus, tanpa menuju ke pasar itu.”
Ia beserta adiknya menyimak ceritaku.
“Sampean udah shalat?” tanyanya. Dilihatlah jam menunjuk kira-kira pukul
14.30. “Shalat dulu ya!” titahnya penuh perhatian. Dorongan itu mengingatkanku
pada saat ia nyuruh aku shalat awal nelepon di siang hari liburan Maulid Nabi. “Bang
shalat dulu, udah pukul berapa sekarang?” Begitu ucapan yang masih aku ingat.
Padahal, jam saat itu masih pukul 13.00. Dipikir-pikir, “Ne orang bener-bener
jaga ibadah?!” Ibadah adalah shalat, maksudku.
“Aku shalat dulu ya?” pamitku.
“Udah punya wuduk?” tanyanya sedikit bimbang.
“Emmm, aku kan tidak jabatan tangan tadi denganmu?” tanyaku ala istifham
inkari. Tak butuh dijawab. Aku masih punya wuduk, maksudnya.
Ngobrol masih tetap berlanjut. Hendak shalat, di-cancle.
“Kamu ngasih sesuatu sama Muhlis?” Mukaku terlihat bekas rasa cemburu sejak beberapa hari silam.
“Apakah Abang ingin sesuatu seperti itu juga?” tawarnya basa-basi.
“Nggak! Ni saja sudah cukup.” Pandanganku beralih pada diary dan buku ilmiah yang tergeletak di
sampingku.
“Shalat dulu ya!” suruhnya pada kali kedua. Keasyikan ngobrol, waktu Dhuhur pun hampir kandas. Sebaiknya
shalat dulu, ngobrolnya bisa dilanjutkan nanti. Nuraniku berdecak.
“Udah, aku shalat dulu.” Pamitku seraya bangkit dari duduk rileks
dan menuju ke masjid tak jauh dari tempat aku duduk. Antara tempat duduk itu dan masjid terpisah dengan jalan raya yang membentang.
Di masjid yang masih dalam tahap penyelesaian, sejarah mencatat bahwa aku
kali pertama shalat Dhuhur di sana. Suatu pengalaman yang sulit terlupakan.
Masjidnya kelihatan sederhana. Beratapkan marmer. Lampu berkatung-katung. Kaca
jendela terlihat lebar, hingga tampak yang ada di luar masjid. Di atas
lantainya terhampar lapik karpet. Pokoknya, it’s beauty.
* * *
Shalat Dhuhurku baru saja usai. Terlalu cepat atau amat cepat. Aku tak sempat lihat stop watch di ponsel. Seberapa lama aku menghadap Tuhan? Sama sekali tak tahu. Ade’ tanya hingga bikin aku berpikir sebentar. “Sampean baca apaan? Kok cepat gitu?!” Tumben pertanyaan itu muntah. Seakan-akan kentara hal ganjil dengan shalatku tadi.
“Yaaa aku baca ala kadarnya. Tak begitu panjang dan tak begitu singkat,”
jelasku sambil sedikit tercekat duduk di tempat tadi.
“Cepat ya?!”
Tatapku masam. Malu. Benar-benar cepat, tapi tidak over, pikirku.
Surat yang dibaca, tak kupilih surat yang jumlah ayatnya lumayan
panjang-panjang. Sebut, al-Baqarah, al-Kahfi, Yusuf dan yang lainnya.
Apalagi usai shalat, keburu keluar masjid, tanpa dikir dulu, hanya sekedar doa
saja. Takut, mereka nungguin di luar masjid. Pikirku demikian.
Terkesan menoton. Panas matahari menyentuh kulit. Lalu, beralih tempat
dari warung ke area masjid. Pindah ke sana saja Mister? Salah seorang
dari mereka mengajakku. Aku hanya mengangguk. Manut saja. Wong aku tak tahu
area di sana. Di serambi masjid, percakapan dilanjutkan. Tak terkira
percakapan tampak akrab banget. Padahal kita masih kali pertama bertemu. Akal
sehat sulit menebak. Sudahlah. Hanya Dialah yang tahu. Misteri apa di balik itu
semua? Hemmm....
“Em... siapa tutor grammar di EC?” basa-basiku tanya untuk menepis
keheningan. Memang, sebelum-sebelum itu Ulfah pernah cerita bahwa mbak Nay
pembimbing grammar di EC. “Bravo!” ketusku usai menyimak cerita
sepupuku. Bilang begitu karena yang setahuku dia hanya pintar dan fokus speaking,
tak dikira dia mahir pula dalam bidang grammar. Sungguh luar biasa!
“Ada....” Dia pura-pura tak tahu menahu. Udah, aku tak sampai mengorek
hingga ke akar-akarnya. Takutnya terkesan sok ngurus. Kemudian ia bilang, “Kalo
buku grammar, aku punya banyak. Ada Using and Understanding English
Grammar–”
“Yang berwarna ungu?” tebakku memotong. Kover bukunya, it means.
“Ada lagi. Fundamentals of English Grammar–” sebutnya kemudian.
“Karya Betty yang berwarna hitam?” ketusku menyeka.
“Kalo, English Grammar in Use? Punya?” tanyaku tiba-tiba.
“Punya.”
“Basic English Grammar?” tanyaku mencerocos.
“Nggak punya.”
“Kalo aku punya,” ucapku terkesan pamer.
“Essentials of English Grammar?” tanyaku seakan-akan terus
mengejar.
“Nggak punya.”
“Modern English?”
“Nggak punya.”
“A Practical English Grammar?”
“Nggak punya.”
“Kalo, Let’s write English?”
“Nggak punya!”
“Sampean mau bandingin grammar kita, kan?” tudingnya bikin mulut tercekat. Sejenak diam. Kaku.
“Bukan... aku pengin tau aja. Siapa tau grammar punyamu lebih
lengkap.” Jelasku meng-cut pikiran yang bukan-bukan. Kesan tidak sopan
yang aku perbuat dan sok pamer begitu, hilang sedikit demi sedikit.
“Ngomong-ngomong, kok bisa kamu mondok sini?” Sudah beralih tema.
“Ya, awalnya aku tak ada niatan tuk mondok di Annuqayah. Tapi, abah bilang
kalo pondok di Madura dekat dengan laut. Sepertinya, ketika belajar selalu
bertatapan dengan laut. Kesannya... indah!” ceritanya polos.
“Kenyataannya...?!” sanggahku.
“Gitulah, lautnya tidak ada. Tapi, aku terus berusah kerasan, sekalipun
itu tak sesuai dengan cerita abah.”
Ponselku bergetar. Satu SMS masuk tampak di layar. Dibuka.
“Mister, gimana kalo kita jalan-jalan. Tak enak banyak orang di sini.”
Kira-kira begitu kalimat yang aku ingat. SMS dari Lay. Aneh, tak bilang
langsung, masih lewat SMS, padahal jarak berdekatan. Mungkin... malu atau gimana?
“Terus....” Ketusku pasrah sama mereka. Tatapanku nanar. Ide pun tumpul. Tak
tahu tuk ngonsep. Sudahlah… kamu tamu. Jangan sok tahu. Batinku berbisik pada diriku sendiri. Ya, jalan-jalan ke mana
saja, asalkan tak tersesat, boleh. Jika kita kesesat, takut aku tak bisa
pulang. Nanti umi tanya. Bisa jadi orang tua mereka pula.
“Terserah Mister saja!” ucap Lay pasrah.
“Lho, kok bisa terserah aku?” sanggahku kaku, “Kan aku tamu di sini.”
“Gimana kalo jalan-jalan ke situ mbak?” bisiknya pada Naila sembari
mengarahkan jari telunjuk ke jalan lurus di samping utara masjid. Seakan kita
menuju ke jalan yang terus lurus ke barat. Aku sendiri tidak tahu jalan itu
mengarah ke mana. Entahlah, ruwet
mikirin rute. Mereka lebih tahu. Aku pasrah pada mereka. Setting jalan-jalan
sedang direka-reka.
“Mari Mister!”
Pas aku mau bangkit dan langkahkan kaki, hendak turun dari masjid. Seorang bapak, jika tidak salah dia
peminta-minta amal depan masjid atau tetangga sekitar, sedang mengajakku shalat
jamaah. “Ustaz... shalat jamaah dulu,” serunya dari arah tak berjauhan.
“Udah shalat dulu,” ujar sebagian yang lain.
“Shalat dulu,” dukung Ade’ dengan tatapan muka “ia”.
Aku palingkan muka seraya menuju ke dalam masjid. Jamaah shalat lumayan
banyak. Ada yang sedang shalat Sunnah Qabliyah. Ada yang masih baru
masuk masjid dengan muka yang dibasahi air wuduk. Ada yang sedang duduk dan
menghadapkan mukanya ke kiblat, berdikir.
Aku shalat sunnah. Lihat-lihat imam shalat jamaah masih belum datang
menghampiri mihrab. Shalat baru saja dilaksanakan. Tetap imam itu belum nongol.
Para makmum sabar menunggu. Aku pilih jalan pintas. Shalat munfarid. Sendirian.
Dikira, nunggu imam masih kelamaan.
Shalat Asyar finis. Aku segera keluar dari masjid. Lihat-lihat lingkungan
sekitar sambil cari mereka berdua. Sedang di mana mereka sekarang? Eh, mereka
sedang duduk-duduk di warung di samping jalan raya. Buset! Mereka kelihatan
buka-buka diary miliknya yang terisi tulisan-tulisanku. Pandanganku
tajam pada mereka. Mafhum apa isyarat yang tampak dari mukaku. Seketika diary
ditutup. Mereka udah baca buku itu freely, sedangkan aku sendiri
dicegat saat diary-ku mau diotak-atik waktu ia berikan plus aku
terima. “Eh... jangan dibaca sekarang!” cegahnya. Selembar kertas berhasil
dibuka. Terlihat foto seorang ibu lumayan gemuk berkerudung dan pakai baju hitam
beserta dua anak kecil: satu yang paling kecil duduk di pankuan si ibu; dan
satu yang lain dengan usia lebih tua duduk di hadapannya sambil pakai seragam
(baju putih, dasi hitam dan celana hitam). Sama sekali aku tidak tahu dan kenal
siapa mereka. Tapi, Ade’ bilang kalau mereka ibunya beserta dua adiknya.
Hampir foto yang melekat dengan jilitan diambil. Tapi, aku cengah.
“Jangan, jangan, biarkan saja.” Dia urungkan niatnya. Foto itu tetap tenang
seperti semula.
Sambil turun dari masjid, sandal jepit dikenakan. Menuju mereka duduk,
mereka bergegas menghampiriku.
Karena planning-nya jalan-jalan, apalagi waktu maghrib masih lama.
Kan masih baru saja Asyar. Jalan yang ditunjuk barusan, tak jadi dilaluli.
Entah alasan kenapa, aku sendiri tak sempat tanya. Dari pada rewel, lebih baik
ikut mereka saja. Diputuskan jalan-jalan ke arah selatan mengikuti jalan raya
terus lurus. Transportasi: mobil, sepeda, dan yang lain berderu lalu-lalang.
Kira-kira 100 meter jalan di pinggir jalan, kita belok kiri menuju jalan sekitar
perumahan ala pedesaan. Terlihat macam pepohonan dan ladang. Hanya saja satu
pohon yang kuingat, yaitu bambu. Mobil sedang diparkir di garasi dekat rumah
pemiliknya.
“Mbak… kita akan terus kemana?” tanya Lay linglung.
“Terserah....” Aku nyeletuk pasrah.
“Ke sana saja,” ucap Naila arahkan jarinya. Lurus.
Berhenti sejenak, tuk cari ide. Lalu, jalan-jalan berlanjut. Capek? Tidak
juga. Tak tahu kenapa. Mungkin karena perjalanan ini, pengalaman pertamaku
menghabiskan senja bersama seseorang yang baru ketemu, toh sejak dulu aku tahu
namanya. Emmm, apakah tidak terlambat andaikan harapan memiliki kembali bersemi
saat pertemuan itu berlangsung? Padahal, dia akan pulang ke Situbondo? Ahhh.
Aku tak boleh pesimis. Apakah perasaan ini tumbuh atas dasar cinta, bukan
nafsu? Jika perasaan itu benar-benar tulus, kenapa pesimis? Apakah cinta hanya
terpikat pada jarak yang berdekatan? Bukankah Adam dan Hawa merasakan ketulusan
cinta saat diturunkan ke muka bumi di tempat yang berjauhan dan dipertemukan
dalam rentan waktu yang lama? Ya Allah berilah jalan untuk sabar. Pikiran
berkecamuk. Mumet.
Jalan-jalan terus. Tatapan senja semakin tajam. Indah. Angin berhembus.
Debu-debu di sekitar perumahan dan jalan sedikit mengepul.
“Setelah ini mau lanjutin kemana?” celotehku menyeka keheningan.
“Nggak tau,” jawabnya dingin.
“Lho, kan kamu baru saja lulus, biasanya nerusin ke jenjang perkuliahan?
Jurusan apa?” tanyaku sedikit memaksa.
“Inginnya Sastra Inggris–”
“Temanmu, Ummul Khair, dengar-dengar akan kuliah di Malang dan masuk
jurusan Sastra Inggris?”
“Iya.”
“Kalo, jurusanku, kamu tahu?” tanyanya pamer.
“Tafsir Hadits.”
“Lho, kok bisa tau? Tanya sama siapa?”
“Tuh, aku baca di bukumu.”
“Ow...” kepalaku mengangguk, “pelajaran apa yang kamu sukai?” Sambil terus
berjalan santai. Tak terasa semakin jauh. Gundukan batu tampak nongol di tengah
jalan. Rumput-rumput pun tumbuh tak teratur.
“Banyak....”
“Kalo kitab kuning?” tanyaku memotong.
Dia kelihatan kaget dengar pertanyaan itu. Aku tahu dia bukan pecinta
kitab klasik yang sering diajarkan di pesantren. Memang aku sudah tahu jauh
hari sebelumnya, hanya saja iseng-iseng tanya. Ulfah pernah cerita-cerita itu
semua.
“Jangankan suka. Bacanya njelimet.”
“Ngaji kan?” Kepalaku menoleh ke kanan. Tampak raut wajahnya.
“Kadang-kadang. Soalnya, aku sering bimbing anak-anak kursus?” jelasnya.
“Kiai Warits alim bener ya...? Kadang santri yang tidak ngerti maksud teks
kitab kuning waktu dibaca, tapi ketika simak penjelasan beliau, mereka jadi
ngerti,” ceritaku berlanjut, “Dia morok[4]
kitab Al-Hikam karya Ibnu Athoillah. Kalo, di putri beliau morok juga?”
“Iya.” Ia mengangguk.
“Aku pernah dengar cerita beliau dari abah, kalo kiai hafal Al-Fiyah,
seribu nazam itu, hanya dalam jangka waktu seminggu. Bahkan, kamus Munjid pun
yang tebalnya melebih kamus Munawwir dan artinya berbahasa arab, beliau
sudah luar kepala. Maka, teman-teman beliau panggil Kiai ‘kamus berjalan’. Alim
bener,” ceritaku penuh rasa kagum.
“Kiai.”
“Munjid. Kamus itu seperti kamus Oxford di dalam bahasa
Inggris yang makna masing-masing katanya pakai bahasa Inggris. Yang benar pronuncation
kata oxford bilang ‘aksfed’ atau ‘oksford’?” tanyaku padanya.
Takut-takut salah aku ngucapin kamus itu.
“Gitulah.” Mengiakan saja.
“Itu Kiai Warits. Kalo Naila?” tanyaku.
“Kalo Khalil?” tanyanya membantah.
Sampai di perumahan dekat jalan, terlihat tetangga sedang duduk. Tapi, aku
tak merasa gugup. Mereka tak mungkin curiga pada kita. Sebab, aku dengar
orang-orang sekitar sana tidak kenal betul pada Naila. Mereka jarang lihat dia.
Kemungkinan besar tak akan terjadi isu-isu negatif. Apalagi saat peminta-minta
amal masjid tanya tentang aku baru nyampek, kasih tahu bahwa aku adalah
ustaz pondoknya. Makanya, satu dari mereka panggil aku ‘ustaz’ saat usai azan
Asyar. Aku terkejut dan keheranan dengar panggilan itu. Pikiranku
berkesimpulan, mungkin karena aku pakai peci putih?!
Melewati jalan perumahan, jalan turun dan naik sambil belok kiri yang tak
tahu menuju ke mana. Ambil foto pakai ponsel. Eman-aman, bisa dibuat
oleh-oleh dan kenang-kenangan.
“Mister... ini sudah jauh. Gimana kalo balik?” sahut Lay mematung.
“Terserah.”
Kita balik melewat jalan yang dilalui tadi. Alam sekitar tak banyak
perbedaan. Anehnya, capek tak terasa hingga butuh istirahat untuk melanjutkan
perjalanan. Kita tetap spirit. Jalan terus. Perbincangan mengalir tanpa celah.
Hanya saja obrolan itu fokus pada aku dan Naila. Lay hanya menjadi pendengar
dan penikmat cerita-cerita yang terkesan asyik. Kasihan!
Sungguh. Akal terbatas untuk menjawab ‘kenapa kita bener-bener terlihat
akrab laiknya sesama teman yang sudah lama kenal dan ketemu, padahal ini
pertemuan yang pertama kali?’, apalagi kita kelihatan romantis tak kalah
romantisnya pasangan yang apel. Jalan-jalan berduaan. Hanya saja kita tidak
pegang-pegang tangan. Eh, tak boleh. Dia bukan mahramku. Dan dia masih belum
menjadi yang halal bagiku. Aku harus sehat menyikapi pertemuan ini.
Sampai di jalan raya, aku cerita-cerita agar suasana tak terkesan kaku.
“Pernah aku tanya pada anak-anak BPBA tentang cara membuat pertanyaan dari
kata ‘become’ pada kalimat ‘I become a teacher’, tapi tak seorang
pun yang dapat menjawabnya. Dan aku bilang pada mereka, siapa yang bisa jawab
akan aku kasih uang sebesar 20.000,-. Eman-eman kan buat beli cukok[5]
tuk makan? Aku suruh mereka tanyakan pada siapa saja, terutama pada guru
bahasa Inggrisnya. Sayang, dalam jangka waktu lama tak ada jawaban yang pas.
Pernah aku suruh Muhlis tanyak ke kamu. ‘Lis tanya ke mbakmu saja. Eman-eman
punya mbak pintar, kalo tidak dimanfaatkan’.”
Dia terkekeh-kekeh dengar cerita itu. Aku melanjutkan dengan cerita yang
lain.
“Pernah aku dipanggil dan edhukani[6]
oleh kiai karena latar belakang pada surat Rekomendasi Pengasuh Comparative
Study. Aku tulis, bahwa studi komparatif diibatkan dengan cerita Nabi Musa
yang belajar ilmu kepada Nabi Hidir. Di mana kepergiaan Nabi Musa dari Mesir
beserta seorang pemuda ke sebuah laut yang dikenal dengan majma’al bahrain (tempat
bertemunya dua lautan), aku samakan dengan studi komparatif. Ternyata, menurut
kiai kesimpulan itu salah. Sehingga, latar belakang itu harus dirubah kembali. Dag-dig-dug. Jantung berdetak kecang waktu
itu. Ngetek[7].”
Dia respons cerita ini dengan senyuman. Ah... payah.
Di depan sebuah toko yang sedang tertutup, kita duduk usai jalan-jalan.
Sambil tatap masjid yang megah dekat kita duduk. Dan hirup udara segar. Lelah
itu baru terasa.
Dia dan adiknya juga ikut duduk. Aku berjongkok sambil tatap muka Ade’.
Sentuhan cinta tiba-tiba bangkit kembali. Pikiran menyimpulkan. “Ni orang bener-bener
cantik dan manis tak seperti saat aku lihat foto-fotonya. Jadi, foto tak
seratus persen memberikan kesimpulan yang semestinya. Butuh lihat secara
langsung. Foto yang menipu,” desisku dalam pikir.
“Sungguh beruntung seorang perempuan yang pilih bahasa Inggris. Karena, speaking-nya
jauh lebih baik dan menarik dibandingkan orang laki-laki. Beda halnya dengan
bahasa arab. Kebanyakan muhadatsah orang laki-laki yang kedengaran
menarik dibandingkan orang perempuan. Makanya, kalau kita ikut lomba, apalagi speech,
peserta dari laki-laki jarang yang juara. Tak tau kalo itu debat. Kan yang akan disampaikan blak-blakan saat-saat
itu juga. Tidak seperti speech yang sudah dihafalkan sebelumnya,”
ceritaku panjang lebar.
“Masa?!” tanyanya kelihatan kaget.
Begitu cerita yang satu selesai. Finis. Pindah pada tema yang lain. Emang,
seperti ngobrol. Satu tema tak cukup. Ya, kalau ngobrolnya hanya semenit, atau
dua menitan. Jika ngobrol sampai berjam-jam, satu tema akan terkesan basi dan
menoton. Harus punya tema beragam, agar selalu aktual. Yang satu selesai,
pindah tema yang lain. Seperti pada cerita di atas. Kupikir penjelasannya sudah
finis, maka diteruskan dengan cerita berikutnnya.
Pertanyaan ini pernah disampaikan. “Saat menjelang studi komparatif ke
GENTA-Pare, anak-anak EC, lagi riuh ya?” tanyaku penasaran.
“Nggak. Biasa aja.” Ia jawab dengan tenang. Pikiranku bertanya-tanya. “Kok
ada yang beda dari sejumlah informasi yang aku tampung dari teman-teman?
Katanya, sampai bilang pamer gitu? Dari pengurus BPBA English sendiri,
bilangnya, BPBA English sombong? Buat headline, opini, atau humor, tak
lepas dari GENTA? Kelihatannya kekeringan tema.”
Jawaban itu terasa ganjal. Yang mana benar? Ini? Atau itu?
Ya, sejak itulah jawaban tak mampu dipetakkan. Tapi, waktu kubaca diary
Ade’ ternyata dugaanku benar adanya. Bahwa anak ini lagi dibuat iri dan sakit
hati karena informasi itu. Begini isi diary-nya.
25 April 2013
Ehm... ga’ kerasa sudah menjadi hari-hari yang
sudah lama banget dilalui. Ya... ya... ya... tinggal beberapa hari lagi sampean
hendak pergi ke PARE. Selamat ya... sudah bikin anak EC tambah kelimpungan,
tambah jealous, tambah envy, dan tambah-tambah lainnya yang lupa bahkan ga’
muat disebutin.
Lihat-lihat jam kira-kira kurang 15 menit untuk sampai jam 17.00.
Dipikir-pikir lebih baik disempurnakan saja sampai 17.00 pas. Abah dan umi
tidak akan tanya, sekalipun aku pulang larut malam. Sebelum berangkat sudah
pamit. Mereka tahu kepergianku. Aku bangga plus sedikit kesal. Bangga,
karena mereka begitu perhatian pada putra sulungnya, sehingga keluar rumah, walau dekat pun diperhitungkan. Mereka khawatir takut terjadi
sesuatu yang menimpa si anak. Sedikit kesal, karena pamit yang bersusah-susah
untuk mendapat izin, hidupku agak sedikit tidak bebas, tak seperti teman-teman
yang keluar secara bebas. Entahlah. Setiap apa yang diperbuat orang tua untuk
anaknya, baik terkesan longgar atau ketat, karena ada rasa cinta, yaitu cinta
si orang tua pada anak yang dilahirkan penuh perjuangan. Bayangkan. Andaikan
cinta mereka hanya rekaan semata, apalagi tipuan, niscaya ada perasaan
“terpaksa” yang menimpa mereka saat anak masih kecil menangis, berbuat nakal
dan melakoni apa saja yang itu ganjal dalam benak mereka. Tapi, mereka tetap
bersabar melihat sikap dan perbuatan si anak itu.
Aku terus cerita saat studi komparatif ke GENTA (Golden English Training
Area)-Pare. Jauh hari sebelum itu, aku bersama teman-teman berkunjung ke sana. Sayangnya, tak bawa oleh-oleh yang
berwujud: buah-buahan, boneka, baju, anting-anting, dan yang lainnya. Hanya
saja, bawa cerita. Apakah cerita itu menarik, atau sekadar bermanfaat saja?
Terserah yang mau menilainya. Ya, aku sebagai pencerita tak mahir seperti laiknya
dai-dai yang mampu menghadirkan banyak audiens. Ceritanya begini.
Sungguh. Senang lihat suasana Pare yang berlatar semi kota. Tak begitu
kota, tak begitu pula desa banget. Masyarakat, baik orang sana atau anak-anak
yang ikut kursus, pagi-pagi naik sepeda. Mereka lalu-lalang ke sana ke mari.
Ada yang gendong ransel. Ada yang tak bawa apa pun. Aku tak terlalu memelototi
mereka. Bisa saja, mereka berangkat ke asrama kursus yang tak, agak, dan amat
jauh dari tempat indekos. Atau sekedar olahraga pagi untuk menyehatkan badan
yang kendor.
Tempat kursus terlihat memenuhi area Pare. Ada GENTA yang dikunjungi waktu
studi komparatif, GET (Glory English Training), BEC (Basic English Course), dan
masih banyak kursusan yang lain. Jalan-jalan keliling Pare terasa menyenangkan.
Baru kali ini Pare yang dulu hanya menjadi cerita, sekarang sudah tampak di
depan mata. Di sela jalan-jalan, disempatkan mampir di toko buku yang tak jauh
dari GENTA. Buku grammar berbahasa Inggris dibeli. Di antaranya, Basic
English Grammar, Fundamentals of English Grammar, Understanding and Using
English Grammar (karya Betty Schramfer Azar), English Grammar in Use (karya
Raymond Murphy), Essentials of English Grammar (karya Fuad Mas’ud), A
Practical English Grammar (karya A.J. Thomson dan A.V. Martinet) dan Modern
English (karya Marcella Frank). Dipikir-pikir lumayan cukup buku sebanyak
itu dijadikan referensi penyusunan buku grammar. Semakin banyak
referensi atau buku yang dibaca, semakin luas penjabarannya. Tak mudah menuding
“salah”, apalagi “sesat”, jika suatu ketika ditemukan perbedaan yang mencolok.
Sebelum jalan-jalan kita disambut hangat oleh pengurus GENTA. Mereka
sedang menanti saat turun dari bus. Dengan seragam yang dikenakan, teman-teman
seketika itu kenal dan tahu bahwa mereka adalah pengurus. Sambil salaman dan
mulai bincang bahasa Inggris, kita dipersilahkan menuju asrama kursus. Terlihat
di atap depan bagian atas tulisan “GENTA Campus”. Nah, di sana, yaitu di lantai
dua, asrama kursusnya, terutama tempat acara-acara digelar. Bersama-sama kita
naik. Tempatnya sederhana. Di atas sana angin mudah masuk ke sela-sela kamar.
Dingin menghapus kepenakan. Apalagi disertai sinar matahari yang hangat. Tak
begitu lama duduk santai, acara langsung dimulai.
Aku menyampaikan sambutan di depan teman-teman, pengurus dan direktur
GENTA. Dag-dig-dug. Degap jantung mematuk dada. Aku tak boleh keder. Kan, di
pondok aku belajar organisasi. Setiap malam Selasa selalu ada latihan untuk
menguji mintal seperti jadi master of cerimony (MC), baca Al-Qur’an,
pidato, puisi, dan nyanyi. Apalagi, aku santri Annuqayah. Teringat dengan pesan
kiai Naqib, salah satu pengasuh PPA. Nirmala waktu siska MD. BTT. “Sebagai
santri Annuqayah, harus siap tampil. Tak boleh gugup.” Aku coba. Toh, sekalipun
sambutan kali itu bukan yang pertama kali, beberapa hari sebelumnya sambutan
pernah disampaikan di depan santri Bata-Bata waktu Studi Pers (Press Study)
ke Bata-Bata Bilingual Centre (BBC).
Pengalaman. Tak salah, jika kata bijak bilang, “The experience is the
best teacher.” Ternyata, pengalaman guru yang terbaik. Satu kali mencoba,
dua dan tiga kali berikutnya kita pasti bisa. Percaya?
Aku bersyukur dapat sambutan di depan publik. Itu terjadi karena aku
sebagai ketua BPBA English periode 2012-2013 M. Dipikir-pikir, jadi ketua yang
butuh menguras tenaga dan memeras otak, pokoknya njelimit dan ruwet, di
sisi yang lain dirasakan enaknya pula. “Dapat dikenal banyak orang.” Orang
musti tanya, “Siapa ketuanya?” Makanya, jangan takut-takut jadi ketua. Itulah
kepercayaan yang tak dapat ditukar dengan permata.
Mr. Komar, direktur GENTA, menyampaikan sambutan setelahku. Dengan nada
yang serak-serak bicara, apalagi style pronuncation dan logat Inggrisnya
masih ke-madura-an, tak begitu ‘ngetop’, tapi yang membuat para pendengar
merasa terpana, cara menjelaskan, pengalaman, dan kualitas keilmuannya. Ia
alumni pesantren selama sepuluh tahun dan telah meraih gelar Magister (S2).
Diakui, pemikirannya agak sedikit liberal. Dia bilang bahwa pesantren harus
mampu menata santri mampu menemukan bakat. Banyak orang berlama-lama di
pesantren, tapi tak ada satu bidang ilmu pun yang digapainya. Begitu pula,
lulusan pesantren yang bingung untuk mengajarkan ilmunya karena tidak temukan media yang layak. Misalkan, seorang
yang pintar kitabnya setidaknya menjadi kiai yang sibuk mengajar ilmu agama
kepada santrinya, bukan menjadi petani yang disibukkan dengan duniawi; orang
yang pandai bahasa Inggris mampu mengembangkan kebahasaannya dengan mendirikan
kursus; dan lain sebagainya.
Pesantren, katanya, yang mulai sononya dicekoki dengan ilmu keagamaan,
seperti kitab-kitab turats, seharusnya buka mata lebar-lebar pada masa kini. Dunia sekarang sedang membutuhkan bahasa Inggris, kitab
kuning no bargain (tidak laku).
Teman-teman agak riuh dengar “kitab kuning tidak laku”. Tapi, pada akhir
sambutannya, Mr. Komar meluruskan. “Bukan secara sepenuhnya tak ada ruang bagi
kitab kuning untuk berperan. Melainkan, tahu kitab kuning bagi santri bukan
anjuran, tapi kewajiban. Mereka harus tahu. Sedangkan, bahasa Inggris sebagai
bahasa yang populer dan banyak dibutuhkan, setidaknya dipelajari pula. Kalau ia
ibaratkan bahwa bahasa Inggris untuk kepentingan dunia, sedangkan kitab kuning
untuk kebahagian akhirat. Sempurnakah?”
Ada lagi, cara ngajari seseorang, terutama bahasa Inggris. Disitir dari
penjelasan direktur GENTA. “Jangan cekoki anak didik dengan sesuatu yang
menakutkan. Misalkan, si guru dengan nada marah bilang, “Kok melanggar? Nih
sanksinya.” Bilang “sanksi” terkesan bikin badan gemetar dan perasaan tidak menerima,
sekalipun si murid salah. Memakai bahasa yang halus dan nyaman didengar, sangat
menentukan semangat dan kesuksesan anak didik. Kata ‘sanksi’ di GENTA diganti
dengan “partial” atau “hadiah”. Jadi siapa pun yang melanggar, akan diberi “hadiah” seperti menghafalkan kosa kata atau vocab.” “Anak-anak
sini sering minta hadiah kepada saya. Dia ngaku dengan sendirinya bahwa dia
melanggar,” ucapnya.
“Duh, jam sudah pas!” Diriku kaget.
“Aku mau pulang, sudah malem nih,” pamitku keburu-buru.
Dia hanya mengangguk.
Sebelum pulang, sempat terbayang di pikiranku untuk jadikan
kenang-kenangan selain foto-foto alam sekitar di pinggir jalan pelataran rumah.
Eh, gimana kalo aku minta dia foto-foto? Ketus pikiranku. Tapi, aku malu bilang secara blak-blakan.
Aku harus cari cara lain. Kusampaikan permintaan itu pakai bahasa Inggris. “Take
picture please,” pintaku.
Ponsel diberikan kepada Lay. Kamera dibidikkan. Beberapa pose didapat. Ada
yang berdiri tegak dengan kedua tangan terlentang. Ada yang melirik dan menoleh
ke samping dengan badan membungkuk. Dibelakangnya terlihat masjid menjadi latar
atau background.
“Aku pulang dulu ya,” pamitku kali kedua. Seakan-seakan berat diucapkan.
“Eh… tunggu dulu aku punya nyanyian untuk Abang,” cegahnya. Aku berhenti.
Tak melangkah.
Dia mulai menyanyi sebuah lagu yang aku tidak tahu apa judul lagunya.
Hanya saja kalimat pertama yang aku ingat dan hafal. “I know there is
something in your eyes.” Lagu ini diperuntukkan untukku seorang. “To my
beloved brother, Mr. Khalilullah,” ucapnya sebelum mulai menyanyi. Kurekam suaranya dengan ponsel yang disodorkan mendekat
lisannya.
Finis.
Satu langkah. Ada satu pertanyaan yang masih terkatung-katung.
“Nih nomor hp-mu, kan?” tanyaku sambil menunjukkan layar ponsel dengan
nama kontak ‘Ade’’. Ya, aku tak punya pikiran yang bukan-bukan kasih nama
itu. Yang jelas, nama itu sebagai bentuk penghormatan seseorang yang lebih tua
kepada yang lebih muda. Selain itu, nama ‘Ade’’, bagiku, mengisyaratkan
kedekatan seseorang dengan orang lain.
Kunaiki sepeda. Sayang, sepeda tua itu, tak cepat hidup. Pedal sudah
diinjak berkali-kali. Hasilya sama. Mogok. Lama-kelaman hidup. Aku pamit dan
pulang.
Tatapan itu tetap berkunang-kunang di mata dan terbayang di pikiran.
Sedangkan, sepeda berlalu semakin jauh. Tak kelihatan.[]
[1] Kalangkong
(bahasa Madura): terima kasih
[2] Bu, di mana masjid
Al-Falah
[3] Lencak
(bahasa Madura): tempat duduk yang memuat banyak orang, terbuat dari bambu,
dan memiliki empat kaki. Itu seperti kasur.
[4] Morok
(bahasa Madura): mengajar. Tapi, kata itu digunakan pada seorang kiai atau
ustaz yang mengajar kitab kuning kepada muridnya.
[5] Cuko’
(bahasa Madura): ikan. Tapi di Madura kata itu digunakan untuk ikan goreng,
sayur-mayur, sambal, dan yang lain yang dijadikan penyedap untuk makan.
[6] Edhukani
(bahasa Madura): dimarahi.
[7] Ngetek
(bahasa Madura): gemetar.
No comments:
Post a Comment