Tuesday, June 30, 2015

Penafsir



Suasana menjadi hening. Angin bertiup dengan pelan menyelusup ke tulang sumsum. Aku duduk, berdiri, dan berjalan-jalan seraya tertatih-tatih. Handphone mendekap di gepalan tangan dan head set yang berwarna putih menutupi kedua telingaku. Sambil kulihat dedaunan yang melambai-lambai karena tertiup angin. Sayang, matahari baru saja terbit dari ufuk timur. Jam sudah menujuk pukuk 07.00. Tak terasa kalau sudah setengah jam ngobrol di ponsel.

Ngobrol yang tanpa tema membuatku bebas untuk berucap dan bertingkah. Yang penting tetap menjaga etika dalam bergaul. Bertutur kata yang sopan salah satunya. Karena, tanpa terkonsep secara sistematis apa yang akan dibicarakan, terkadang pertanyaan muntah tak dapat dibendung. Misalkan, “Gimana kabarnya? Lagi ngapain?” sampai terucap tanpa disengaja, “Eh, Ade’ kenal dengan lagu Cry milik Rihana? Di AEC listening-nya pakai lagu itu.”

“Aku pikir lagu itu tidak cocok dijadikan listening untuk pemula pelajar bahasa Inggris. Soalnya, nyanyiannya cepat banget,” sanggahnya menjelaskan.

“Terus, lagu seperti apa yang cocok? Kamu punya lagu untuk dijadikan listening di kursusan ini?” tanyaku

“Punya.”

“Bisa aku kirimin?”

“Insya Allah.”

Tak lama, tema sudah berubah pada yang lain. “And....”

Tapi, aku masih belum tahu lagu-lagu itu akan dikirim oleh dia ke yahoo-ku. Inginnya tanya itu. Tapi, dipikir-pikir takut kedengaran memaksa atau gimana, ya aku biarkan saja. Aku tunggu sampai dia beri kabar selanjutnya.

Waktu terus berlalu, soal lagu kelihatannya tidak tersentuh lagi saat ngobrol di ponsel. Tema-tema yang lain masih banyak yang belum dibahas. Misalkan, waktu pemberangkatan ke pondok barunya, rencana kunjung ke Madura di hari raya Idul Fitri, kepercayaan dalam menjalin hubungan, dan lain sebagainya. Tema-tema ini, menurutku, lebih penting dari pada hanya bahas lagu doang.

* * *

Aku merekap nilai anggota-anggota kursus bahasa Inggris. Sejauh mana kemampuan listening mereka? Toh, diriku masih mengalami kesulitan untuk memahami maksud lirik lagu yang berbahasa Inggris tanpa membaca teksnya terlebih dahulu. Mungkin, listening-ku masih lemah. Bisa jadi begitu.

“Tuh, lagunya. Udah aku kirim. Dibuka aja di yahoo-mu. Jangan lupa,” tulisnya di kotak masuk handphone-ku.

Ade’ udah mengirimnya? Makasih banget.” Tapi, aku masih perlu pergi ke Ambunten untuk ngambilin itu di warnet. Di rumah, memang ada komputer dan laptop, tapi modemnya dibawa dan digunakan oleh seseorang untuk keperluan lembaga. Di download di ponsel, tidak bisa. Soalnya handphone lazimnya dipakai untuk online Facebook.

“Ya, aku akan ambilin sesegera mungkin. Pokoknya, apa pun yang Ade’ berikan, aku akan hargai, agar pemberianku dihargai pula,” jelasku kemudian.

Seingatku lagu itu dikirim usai hari raya Idul Fitri. Biasanya, pada hari-hari itu banyak penjual tutup pintu, begitu pun warnet. Silaturrahmi ke famili-famili, bagi mereka, lebih penting. Sudah aku tunda untuk pergi ke warnet sampai waktu liburan pondok tinggal dua hari lagi.

Di tengah malam, terkadang aku ngobrol di ponsel dengan dia. Sedangkan, teman-teman dan tetangga-tetangga lagi sedang tidur. Suara menjadi senyap hanya terdengar bunyi hewan seperti jangkrik atau semacamnya. Katanya hewan itu sedang bertasbih kepada Sang Pencipta, sayangnya, kita tidak mengerti tasbih hewan itu.

And no one knows why I’m into you,” lantunan lagu itu tiba-tiba terdengar setelah jeda sebentar karena tidak menemukan apa yang akan dibicarakan, sedangkan handphone masih tetap aktif. “Abang,” ucapnya, “sudah diambil lagu-lagu itu, kan?

“Ya Allah, kenapa aku lupa. Maafkan Khalil. Aku memang lalai. Pokoknya, aku janji tuk ngambilin itu sebelum kembali ke pondok,” ucapku mengakui keteledoranku. 

Keesokan harinya, aku naik sepeda motor untuk menuju ke Ambunten. Ya, untuk ngambilin kiriman lagu di yahoo-ku. Sampai di depan lokasi warnet, pintunya kelihatan ditutup. Tak ada sepasang sandal yang terjejer di depan area warnet itu. Berarti, warnet ini sedang closed sekalipun hari sudah mencapai empat hari dari perayaan Idul Fitri. Kucoba cari warnet lain karena warnet di sana tidak hanya satu. Sayang, faktanya tetap senada. Semua warnet tutup pintu. Karena aku tahu bahwa aku tidak bisa memenuhi janjiku di ponsel tadi malam, kutelepon dia tepat sore hari. Waktu itu aku masih berada di Ambunten depan sebuah toko. “Aduh, aku harus bilang gimana?” Gugup.  

Aku tidak bisa ngambilin lagumu sekarang. Warnetnya ditutup.” Dan aku bilang, “Aku akan ambil di pondok saja.”

* * *

Di pondok, aku masih tetap kebingungan otak-atik internet. Soalnya, internet di sana tidak diperbolehkan. Kalau ketahuan melanggar, sanksinya bisa-bisa digundulin atau dibawa ke pengasuh. Badanku gemetar kayak orang ketakutan karena melihat hantu. Sambil termenung, pikiranku menerawang dan melambung di angkasa sana. Saatnya sekarang mencari ide. Tujuan tercapai, tanpa melanggar peraturan pesantren.

Di pondok aku punya teman yang tinggal di daerah yang berbeda, di Nirmala. Dengar-dengar, di daerah ini pengoperasian internet diizinkan. Aku tahu itu, saat lewat di depan warnet dekat pondok sana, banyak pengunjung dari PP. Nirmala. Aku coba kunjungi dia. Siapa tahu dia bisa bantu-bantu. Aku yakin dia tidak keberatan.

Ya, dia menyetujui. Aku dan dia hanya berdua ke warnet. Rasa takut sedikit pun tak menghantui langkahku. Karena yang akan mengoperasikannya bukan aku, melainkan dia seorang. Aku hanya ikut dan menemani sembari menunjukkan apa yang aku inginkan. Memang, aku kelihatan seperti seorang bos yang kerjaannya hanya nyuruh-nyuruh.

Yahoo-ku sedang proses untuk buka. Hanya menunggu beberapa detik akan muncul dan terlihat kiriman Ade’. Benar, kan? Tak lama yahoo itu sudah terbuka. Di kotak masuk yahoo tertulis pesan, “Ini lagunya.” Kira-kira begitu judul kiriman yang aku ingat.

Ada enam lagu yang terkirim. Semua langsung di-download dan di-save di flashdisk yang sudah dimasukkan ke tempat USB CPU. Di antaranya, Everytime (Britney  Spears), This is Me (Demi Lovato), Who Says (Selena Gomez), Let It Rain (JOJO), Baby It’s You (Akon), dan Be with You (Akon). Petikan lagu kedengarannya menarik saat kucoba putar di Winamp.

Pulang dari warnet, lagu-lagu itu diputar kembali di kamar dengan memakai sound system milik BPBA English. Dugaanku barusan benar. Lagu-lagu itu memang menarik. Aku merasa senang mendengar petikan kata yang dilantunkan dengan suara yang merdu oleh penyanyi ternama, bahkan sudah jebol di tingkat internasional. Ditambah, musiknya yang slow dan gimana-gimana. Pokoknya, aku senang amat. Apalagi pengirimnya adalah orang yang sudah mengisi kehampaan hatiku. Syukur menyesaki tebing-tebing bilik pondok.

Di sela-sela mendengarkan musik itu, sedikit pun tak terlintas kalau isi dari lagu itu ada pesan yang disampaikan oleh pengirimnya. Pikiranku masih belum menjangkau sampai ke sana. Hanya sekedar menikmati alunan musiknya doang. Begitu pun teman-teman yang duduk tak jauh dari sisiku, mereka kelihatan senang mengikuti alunan lagu yang sedang dinyanyikan. Toh, makna yang disampaikan, mereka sendiri tidak mengerti secara keseluruhan. Tak seperti lagu yang berbahasa Indonesia. Tanpa perhatian yang serius, pikiran sudah mengerti bait perbait. Tapi, aku kagum pada mereka. Mereka senang. Senangnya mereka sudah cukup. Mereka kelihatan menghargai apa yang aku miliki.

Waktu kembali dari liburan Ramadlan ke pondok sudah mencapai hampir seminggu, aku sudah tahu sebelumnya kalau aku akan pulang karena dibutuhkan untuk menjadi MC di acara pernikahan Mbak Uuk. Aku bahagia. Aku dapat phone Ade’ kembali karena Ade’ masih belum berangkat ke pondoknya. Katanya, akan berangkat tanggal 15 September 2013 mendatang. Halaman rumah beserta lingkungan yang kelihatan sederhana terbayang di dalam lamunanku saat duduk sendirian usai dengarkan lagu-lagu itu. Hingga muncul sepatah tanya, “Bagaimana seandainya Ade’ tahu kalau aku akan pulang?” Sepertinya, pikiran lagi fresh untuk menerawang ke segala objek.

Terus, pada hari Kamis aku pamit ke pengasuh. Baru mendapat izin dari beliau, kulangkahkan kaki dengan terasa ringan, sedangkan mata melotot menunggu taksi jurusan Ganding lewat di jalan samping Buk Jamil. Menunggu bermenit-menit, satu taksi pun tak nongol-nongol. Kelihatannya, hari itu sopir taksi lagi tak mood untuk cari penumpang. Mungkin saja, bukan waktu yang tepat sopir mengantarkan penumpang. Karena, hari itu bukan hari yang ramai dengan orang atau santri pergi ke pasar. Misalkan, hari Senin waktu pasaran di Ganding, dan hari Kamis waktu pasaran di Kemisan. Ya, terpaksa aku jalan kaki dari pondok ke Ganding. Sekalipun jarak di antara dua tempat itu agak jauh. Aku optimis kalau di Ganding akan ada taksi jurusan ke Sumenep. Sebagai pereda capek dan lesu, kuambil kitab kecil Nazam Al-Fiyah yang mulai tadi terdekap di kantong bajuku sembari dibuka dan dihafalkan beberapa bait.

* * *

Senja terlihat jelas di ufuk barat. Dengan kemerahan sinarnya, dedaunan dan jalan raya terlihat remang karena tertutup gelap malam. Terdengar lantunan azan dari musala terdekat. Waktu shalat maghrib sudah tiba. 

Aku masih berada di tengah jalan, yaitu di Slopeng usai turun dari angkot atau taksi yang aku tumpangi. Kebetulan ada seorang pedagang cabe yang baik hati dan memberikan pinjaman ponsel untuk phone Abah di rumah. Tapi, saat aku telepon, nomornya aktif tapi tidak diangkat-angkat. Mungkin, dia masih sedang shalat maghrib. Dicoba phone berulang-ulang, tetap tidak ada respons. Terpaksa, ponsel itu diserahkan ke pemiliknya.

“Udah nak, aku beri tahu sama Abahmu kalo dia phone balik; kamu sudah pulang dan berada di perjalanan. Gimana kalo kamu ikut si bapak itu? Siapa tahu dia bisa ngantar kamu ke Mahwani sana,” ucap pedagang cabe merasa kasihan melihatku sendirian.

Apa aku harus berjalan sekalipun batas antara Semaan-Slopeng sangat jauh ke rumahku. Kucari cara. Di situ ada seorang penjual cabe yang masih belum pulang. Setelah si ibu tadi menanyakan kesediannya ngantarin aku ke Mahwani, bapak itu masih mikir panjang. Hingga akhirnya, dia bersedia, sekalipun sedikit terasa berat. Pertigaan itu, menurutku, sudah agak dekat ke rumahku. Ya, aku bonceng saja. Untung masih ada orang yang berhati baik. Kalau tidak, apa jadinya.

Hingga, sampai dirumah aku ucapkan salam dan jabat tangan ke Abah dan Umi. Sebelum aku shalat, kucoba phone Ade’ ternyata nomornya masih aktif. Sebentar, phone diterima. Aku bilang, “Assalamu’alaikum. Aku pulang, Ade’.”

“Abanggg….” Dia terdengar memanggil nama itu seperti orang baru ketemu. Dia kelihatan kangen. Sehingga, dia tumpahkan segalanya dengan panggilan kata A-B-A-N-G.

“Eh, aku mau shalat dulu. Aku akan telepon Ade’ pakai nomorku saja. Ini kan milik Umi,” ucapku berusaha menyeka beberapa kalimat yang dia ucapkan.

Usai shalat Maghrib, aku langsung phone balik. Waktu itu aku ngobrol sampai larut malam. Begitu pula di waktu pagi dan siang besoknya. Aku katakan kalau kirimannya Ade’ masih aku simpan dan jaga. Terutama, lagu yang aku download beberapa hari silam.

Beberapa lagu diputar pada keesokan harinya saat laptop nyala di hadapanku. Memang dia hafal. Dia kedengaran asyik ikut nyanyi. Aku hanya diam saja. Kemudian, Ade’ bilang, “Semua lagu yang aku kirim ada pesan yang aku sampaikan.”

Mendengar penjelasan itu aku dibuat kaget sembari beranjak dari posisi berbaring menjadi duduk. “Terus, apa pesannya?” tanyaku tiba-tiba.

“Sudah, Abang pahami aja sendiri.”

“Insya Allah.”

Aku berhasrat untuk cari lirik lagu-lagu tersebut. Karena, aku ingin tahu apa pesan yang dia sampaikan. Aku ingin menjadi penafsir dari pesan Ade’ dalam lagu itu sebagaimana para mufassir Al-Qur’an yang menjadi penjelas pesan-pesan Tuhan.

* * *

Dua bulan sudah berlalu. Liburan Idul Adha PP. Annuqayah telah tiba pada tanggal 18 Oktober 2013. Santri tertatih-tatih berjalan meninggalkan pondok sembari mengendong ransel yang berisi berkas-berkas; baju, celana, dan lainnya. Mereka kelihatan bahagia menyambut kehadiran hari raya besar Islam. Aku sempatkan pergi ke warnet untuk download lirik lagu-lagu tersebut. Pasti di sana ada. Sehingga, tak lama sudah ada beberapa lirik yang kukantongi, sehingga mencapai lima lirik.

Dari lirik yang telah tersimpan di flashdisk, ku-design sedemikian rupa dan ku-print sehingga dapat dibaca dan dibawa ke mana-mana.

Teman-teman melihatku dengan pandangan yang aneh. Tumben aku bawa lirik lagu. Karena, yang biasa aku bawa hanya buku-buku ilmiah atau buku grammar. Menurut mereka, aku tidak bakat nyanyi. Mereka beranggapan gini dan gitu karena tingkahku yang ganjil. Udah biarkan saja. Mereka masih belum tahu apa sebenarnya yang aku inginkan.

Lirik itu selalu menyertai dudukku sembari mendengarkan lantunan lagu yang sepadan dengan lirik tersebut. Musik mengalun menyesaki ruangan. Aku ikut nyanyi. Toh, mulutku masih kaku karena tidak terbiasa dengan nyanyian yang berbahasa Inggris. Tapi, dikit-dikit ada perkembangan yang aku rasakan sehingga aku semakin bertambah semangat. Disadari, setiap suatu butuh kebiasaan. Kita bisa karena biasa. Aku terus biasakan nyanyi sampai aku bisa.

Di samping mengeja kata demi kata dari lirik tersebut, kusempatkan memahaminya. Sehingga, pesan yang Ade’ sampaikan di dalam lagu itu dapat aku tafsirkan.

Misalkan, lagu pertama, Everytime (Britney  Spears) yaitu And everytime I try to fly/ I fall without my wings/ I feel so small/ I guess I need you baby/ And everytime I see you in my dreams/ I see your face, it's haunting me/ I guess I need you baby merupakan lagu yang pernah dia putar usai pertama kali dia bertemu denganku di Pakong-Pamekasan pada hari Sabtu tanggal 6 Juli 2013 M. dan saat-saat terakhir dia berada di Madura, dan besok dia akan pulang ke Situbondo, tempat dia lahir. Dia sadar pada petikan lirik itu bahwa dia masih butuh seorang Abang. Sebagaimana yang disampaikan di dalam lagu itu, bahwa penyanyi ingin terbang setiap waktu, tapi dia selalu jatuh karena tidak memiliki sayap. Sehingga, keinginan yang melangit menyadarkan bahwa dia masih butuh seseorang yang selalu hadir di dalam mimpi indahnya, yaitu kekasihnya (baby).

Lagu kedua, Be with You (Akon) yaitu ... And no one knows why I'm into you... dapat aku tafsirkan menjadi tiga interpretasi; pertama, petikan lirik tersebut senada dengan isi diary-nya (25 Januari 2013 M.), “I’m happy if you are happy.Kutulis kalimat itu di dalam diary-nya yang aku baca. Aku tahu bahwa “I’m into you” bermakna “Saya merupakan bagian darimu”. Saya dan kamu ibarat satu tubuh. Kalau sakit menjamah kepala, maka organ tubuh yang lain akan merasakan sakitnya. Begitu pula sebaliknya, kala kepala merasa fresh, maka organ tubuh akan ikut fresh juga. Maka, kalimat “I’m happy if you are happy” merupakan bentuk ungkapan perhatian bahwa kebahagian tidak hanya dirasakan sendiri, tapi bagaimana orang lain juga ikut merasakannya. Kedua, kalimat yang pernah dia ucapkan saat dia sadar kalau marah yang dia perbuat beberapa hari silam merupakan suatu hal yang tidak pantas dia lakukan padaku. Karena, dia teringat dengan pesanku jauh hari sebelumnya, “Jangan menyakiti hati orang lain.” Pesan yang dia kirim ke inbox Facebook-ku  berupa “Apaaa? Becik, becik, becik...”. Dia sadar, “Kenapa harus dia orang yang terus aku benci dan salahkan. Apakah sudah lupa akan pesan dia padaku dulu. Apalagi kalau dipikir, aku masih ada rasa (fall in love) dengan dia.” Semua itu aku baca di diary-nya (24 Maret 2013 M.). Ketiga, petikan lagu itu pernah mewarnai diary-nya. Dia menulis beberapa baris kalimat yang dia tujukan padaku. Isinya, “For you Abang. I just wanna say finally you’re created to make history in this diary exactly my daily secret”. Dia memandang bahwa aku dicipta untuk membuat cerita di diary-nya.

Lagu ketiga, Baby It’s You (Akon) yaitu I don't ask for much, baby/ Having you is enough merupakan petikan lagu yang seirama dengan isi diary-nya (Sunday/26 Mei 2013/11.45 WIB). “Abang_Nay !?! Couldn’t ask for anything more but thank the god for giving me Abang as like you”/“I only wanna say THANKS VERY MUCH. Don’t forget that someone is wishing for our happiness on every falling star.” Kehadiranku di dalam kehidupan dia merupakan anugerah Tuhan. Dia merasa beruntung karena Tuhan mencipta aku menjadi Abangnya. Sehingga, aku menjadi Abang dia sudah cukup. Dia tidak ingin meminta lebih banyak dari itu, seperti harta atau apalah.

Begitulah tafsir dari petikan lirik lagu yang dia kirim. Aku hanya penafsir saja. Sedang author (orang yang menyampaikan pesan) adalah dia sendiri. Jadi, predikatku seperti para penafsir ayat-ayat Allah. Benar dan salah hanya Dialah yang tahu. Mereka hanya mengira mungkin seperti ini atau seperti itu penafsirannya.[]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...