Di pagi yang cerah, semangat bergerak jadi kaku. Genggaman ponsel tetap
terdekap di telinga. Mujur tak jatuh ke jalan beraspal dekat rumah. Suara demi
suara terdengar; wajah si Ade’ tiba-tiba terbayang. Tatapan jadi nihil.
Garis-garis takdirNya terlihat. Nerima, jalan satu-satunya. Di atas
kuasaNya semua fase ini menjadi cerita yang mencekik hati dan dada bernafas
secara leluasa. Huh... masihkah hambaMu bertahan dalam kondisi seperti ini?
Sebuah roman tentang Adam dan Hawa tiba-tiba terbersit.
Suatu keresahan dirasa sejak Tuhan menuding dirinya telah melakoni
perbuatan terlarang di surga. Di kali pertama diberi aba-aba. Larangan
mendekati buah Khaldi. Regulasi yang dibuat untuk dirinya, menjadikan dia
berserta sang kekasih mafhum. Kala itu mereka berikrar akan menaati regulasi
itu. Semua penduduk surga menyaksikan. Salah satunya setan yang dikutuk karena
membangkang perintahNya, yaitu bersujud kepada Adam. Hingga si setan minta
dikekalkan atau dipanjangkan umur sampai kiamat nanti menjelang, agar mampu
memperdaya hamba-hambaNya menjadi pengikut setia. Mendengar pengakuan penuh
optimis, Tuhan mengabulkan. “Tapi ingat, hanya hamba-hambaKu yang bertakwa dan
beriman yang tidak akan mampu terpedaya dengan tipu dayamu!” kataNya sedikit
membuat setan geger.
Suatu hari, Adam dan Hawa merasakan kesenangan yang tiada terukur. Selain
panorama surga yang kian mempesona; mata tiada henti memandang, sang kekasih
terus dalam dekapan. Terasa cukup menjadi hamba di jagat raya ini. Pancaran
sinar cinta mampu menghiasi setiap langkah dan gerak nafas. Makhluk Tuhan lain
jadi iri lihat dua hambaNya hidup romantis. Senyuman tersungging. Tatapan
diraih tanpa paksa. Subhanallah!
Begitu hidup sepasang kekasih. Hidup mereka pun penuh rahman dan rahim
Tuhan. Segala gerak gerik yang terbingkai di antara mereka berdua, tak ada
dosa sebagai konsekuensi, tapi titah yang dikaruniakan. Sungguh. Itu laiknya
nafsu mutmainnah yang mendapat seruanNya, “Ya ayyatuhan nafsul mutmainnah”.
Demikian, nafsu itu kembali kepadaNya dalam keadaan bahagia dan kaya sambutan (radiyatan
mardiyah).
Di atas perasaan iri yang menjangkit diri setan, diam di sangkarnya hanya
menjadi penonton laiknya dibuat iri waktu lihat film-film percintaan.
Seakan-akan mereka stagnan, tak berkembang. Hanya saja tinggal ceritanya.
Andaikan aku menjadi aktor dalam film tersebut, bagaimana jadinya? Senang?
Pasti. Sayang, itu hanya pengandaian saja. Iri mendorong si setan bertingkah.
Di benaknya tersimpan beribu-ribu dendam untuk menghapus kebahagian Adam dan
Hawa agar tidak menikmati keindahan surga dan kebahagian dalam bingkai cinta.
Suatu hari rencana jahat terbersit dalam pikiran si setan. Kedua manusia
yang disanjung-sanjung oleh Tuhan saatnya bertekuk lutut karena tipu dayanya.
Maka, dirayulah Adam berserta kekasihnya untuk mendekati, lebih-lebih memakan
buah pohon terlarang. Setan cerdik men-setting segala hal hingga
rencananya berjalan mulus. Mereka tahu sejak dengar pernyataan Tuhan jauh hari
sebelumnya, bahwa pohon itu dilarang didekati, apalagi dimakan buahnya. Tapi,
setan bilang bahwa buah Khuldi salah satu jalan mengekalkan diri di surga.
Bukankah kata “khuldi” bermakna “kekal”?
Rayuan yang diungkapkan dengan manis membuat mereka terlena. Segala
perkataan setan diikuti. Didekatilah pohon terlarang. Kala pohon itu sedang di
dekat mereka, tampak buah bergelantung hingga mendorong nafsu memetiknya. Tak
kuasa menahan, terpaksa tangan diajungkan dan dipetiklah. Satu buah didapat dan
berada dalam genggaman tangan. Dimakanlah. Buah yang dimakan nabi Adam keselak
di kerongkongan dan menjadi “khuldi” di leher. Sedangkan, buah yang dimakan
Hawa belum sampai diperut, namun berhenti di dada, sehingga jadilah “buah
dada”.
Sadarlah. Dikerjakan larangan Tuhan. Pakaian yang dikenakan mereka berdua,
tiba-tiba terlepas dari tubuhnya. Tak ada pilihan lain menyadari kelalaian
selain bertaubat. Tapi, tak semudah itu. Tuhan memberikan sanksi. Diturunkanlah
Adam beserta Hawa ke muka bumi. Mereka berada di tempat yang terpisah dan jarak
yang sangat jauh. Bahkan, Tuhan sengaja mempertemukan mereka dalam waktu yang
lama.
Sungguh. Perasaan kangen: berjumpa, ketemu, bersama, berseda gurau,
tersenyum, kesel, dan ketawa bersama, benar-benar dirasakan. Andaikan semua itu
dapat ditukar dengan harta, pada waktu itu pula, akan digantikan. Sayang, itu
sanksi karena suatu pelanggaran. Segala hal yang terjadi seharusnya diterima
dengan sabar. Hanya sabar yang bikin mereka kekar bertahan dalam ujian dan
kepahitan. Segala doa dipanjatkan. Kesalahan di masa silam menjadi evaluasi
untuk masa depan. Sesal? Pasti. Pesimis? Tidak.
Saatnya mereka memetik buahnya. Usai sudah jalan yang kaya cerita.
Sehingga, suatu waktu takdir mempertemukan mereka kembali. Tak ada yang sangsi.
Demikian, tak ada yang mengganjal. Dia tetap Adam yang dikenal, bagi Hawa.
Dialah kekasihku, Hawa, yakin Adam. Secuil pun cinta mereka, tak berkurang.
Normal.
Seluruh jagat raya kagum menyaksikan ketulusan hamba Allah yang sabar
menerima keputusanNya serta menjaga kepercayaan atas cinta yang memikat seerat
mungkin. Diyakini bahwa kekuatan cinta seseorang diketahui karena jarak yang
memisahkan dan lama waktu yang memikat. Seberapa tuluskah kita bertahan
dalam semua itu?
Mengingat kembali roman itu, rasa kesal merasa terobati. Berbaik sangka
saja. Semua ini cara membingkai kisah cinta ala Adam dan Hawa. Tak mudah geger
dan keder sekalipun badai membentur. Dapat dibilang ujian; sabar menerimanya.
Dibalik kesabaran, misteri atau rahasiaNya akan terlihat dan terkesan indah dan
surprise. Dia Maha Tahu. Tak mungkin zalim pada hambaNya sendiri.
Bukankah Dia bersifat ar-rahman dan ar-rahim. Dua sifat yang
selalu dilantun kala baca Al-Qur’an.
Kira-kira jam 06.30 dia pamit. “Aku titip Madura untukmu, Abang,”
ucapnya pasrah. Sungguh berat menjawab “ia”. Ini amanah. Dan dia bilang
kemudian. “Aku mau berangkat ya Bang.”
Diam. Mulutku menjadi bungkam. Suasana kembali sunyi. Hanya sepatah
kalimat yang aku ucapkan, “Selamat jalan. Hati-hati ya....”
Percakapan diputus. Pikiran menerawang. Ia sedang naik bus. Panggilan
tidak aktif. Ponsel sengaja dimatikan.
No comments:
Post a Comment