Liburan Idul Adha berlangsung begitu cepat. Kini, tanggal 11 Oktober 2013.
Kalender Pondok Pesantren Annuqayah menunjukkan kalau pada tanggal itu ada
liburan Hari Raya Kurban sampai tanggal 18 Oktober 2013. Dapat disimpulkan,
mereka (santri) akan berlibur selama kurang lebih satu minggu alias tujuh hari.
Suasana menjadi fresh. Senyuman tersungging tiada henti. Muka cerah
terlihat sejuk dalam pandangan. “Hore..., kita akan pulang,” ucap sebagian
santri yang kelihatan kayak anak-anak. Beberapa pakaian; baju, jas, jaket,
sarong, dan celana, dimasukkan ke dalam ransel atau dus. Mereka terlihat
semangat dan bernafsu untuk berlibur. Seolah-olah, debu kebahagiaan sedang
hinggap di benak mereka.
Kebahagian yang menjamah banyak santri, diriku masih minus. Ke-minus-an ini disebabkan planning phone Ade’ membedai kenyataan. Sebab, dia tak
bisa berlibur untuk menyambut atau memeriahkan hari raya besar ini di rumahnya.
Bisanya, aku baca komentar atau pesan dia di inbox fb-ku dengan akun,
“Khalilullah (Holy Person)”. “… ini Ade’mu. Apa kabar? …” Walau sekedar
itu, tapi karena dia yang mengirim, membacanya laiknya bercakap-cakap vis atau
ngobrol di ponsel.
Sebagai penyabar, memaksa kehendak sebaiknya dikubur dalam-dalam. Sebab,
di balik kesabaran tersimpan berjuta-juta rahasia Tuhan yang sulit dijangkau.
Yakinlah. Sebagai manusia, tugasku sekedar menjalani dan merencanakan hal di
masa mendatang.
Di sela-sela menatap layar
ponsel dan buka fb, salah satu teman
aktif secara bersamaan. Dialah
yang punya akun “Lely Sibungshu”. Setahuku, dia closer
friend Ade’, apalagi sekelas di
MA 1 Annuqayah Putri. Kucoba tanya-tanya tentang Ade’, terutama kesukaannya. “Sejauh you berteman dengan Naila, apa yang menjadi kesukaan dia, Lel?”
Satu pesan terkirim ke inbox-nya. Tak lama pesan balasan masuk di inbox-ku.
“Dia suka belajar, nyanyi bahasa Inggris, ngusilin
orang, suka sesuatu yang berwarna fink, dan suka makan cokelat.” Aku
hanya mengangguk saja. Terasa inspirasi menyelusup ke pori-pori otak.
Dalam studi hadits, hadits yang diriwayatkan oleh satu orang (hadits
ahad) tentu berbeda kualiatasnya dibanding hadits yang diriwayatkan oleh
orang banyak (hadits mutawatir). Hadits Ahad terkadang diragukan isi dan
kandungannya. Sedangkan, Hadits Mutawatir yang periwayatnya tidak dimungkinkan
berdusta, maka kualitas keabsahannya diyakini dari Nabi Muhammad.
Begitu pula koleksi informasi tentang “dia”. Tidak cukup hanya mengekor pada satu orang, melainkan harus
banyak orang yang ikut serta di dalamnya untuk mendukung atau koreksi satu sama lain. Sehingga, kebenaran informasi semakin bertambah kuat. Keraguan atau
kegamangan sulit membersit di dalam pikir.
Di siang hari, tiba-tiba ada secarik pesan nongol, hingga ponselku berdering. “Ini benar Mr. Khalil?” ejaku. Jantung berdetak kencang. Refleks. Pesan dalam
bentuk pertanyaan, walau asing dengan nomor yang kentara, kujawab dengan
kalimat tanya pula. Semestinya
jawaban itu berbentuk statemen. Sebab, diriku sedikit keder dengan peneror SMS.
Bersikap hati-hati merupakan langkah terbaik.
“Aku adiknya, Naila.” Sepontan
pikiran menerawang sampai-sampai teringat dengan sebuah cerita yang menyejarah di dalam kehidupanku. Dialah yang menjadi cause-effect aku bertemu Ade’ di Pakong kemarin.
“Ya, ini,” ketikku, “Khalil. Ada apa ya?”
Secepat itu dia renpons SMS-ku. “Mbak pulang?”
“Lho, kok bisa tanya padaku? Emangnya, aku apanya Naila?” Aku tampak basa-basi.
“Mister jangan mengelak dariku. Aku sudah tahu tentang Mister dengan Mbak. Pada
waktu Mister mengungkapkan perasaannya pada Mbak, terus Mbak menerimanya, aku
juga ada di sisi Mbak.”
Diamku di layar ponsel menjadi kaku, hingga kuangkat tangan, isyarat
menyerah. “Em... Mbakmu tidak pulang.”
Begitu lama chatting lewat SMS, obrolan mengalir tanpa celah. “Kalo
boleh tahu, apa kesukaan mbakmu?”
“Mbak suka warna fink, baik dalam kondisi bahagia, sedih, dan
galau sekalipun. Dia suka cokelat. Bercita-cita pergi Ke Sidney. Masih ada yang kurang satu, ngusilin.” Pikiranku menerawang, “Apakah Naila suka ngusilin seseorang
atau...?”
Sejauh yang kutahu, Ulfah, selain menjadi anak didiknya, juga menjadi
teman terdekatnya. Sedikit banyak dia tahu tentang gerak-gerik Ade’, terutama kesukaannya. Tepat, kiranya, kuperkaya referensi dengan tanya padanya.
Satu pesan berlayar di sinyal yang
jernih. Isi pesan itu persis pesan-pesan yang dikirim pada
Lely dan Lay.
“Mbak Nay, suka nyanyi, ngusilin seseorang, suka sesuatu yang berwarna fink,
dan suka cokelat seperti tanggo.”
Nah, nurani menyimpulkan “Ngusilin” resmi jadi identitasnya.[]
No comments:
Post a Comment