Kira-kira tahun 2012-an, sebuah novel karya Prof. Dr. Haji Abdul Malik
Karim Amrullah (akrab dipanggil Hamka), seorang ulama berwibawa dan sastrawan,
terkesan menarik, bahkan menggugah mengeja kata perkata. Tenggelamnya Kapal
van der Wijck, novel yang aku maksud. Karya sastra ini selain
karya-karyanya yang lain sampai sekarang tetap memukau. Banyak para pembaca tak
kunjung bosan dan puas menyelam di dalamnya. Seakan-akan atau pastinya ada jiwa
pengarang yang sedang merasuk relung nurani. Mereka tidak hanya membaca, tapi
menjelma seseorang yang diceritakan dalam novel tersebut. Dalam arti lain,
tidak hanya mengeja di mulut, melainkan merasakan di dalam hati. Sejatinya,
selain Tenggelamnya Kapal van der Wijck, ada satu karya Hamka yang
menarik dan terkenal, yaitu Di Bawah Lindungan Ka’bah (Horison, Desember
2013).
Lagi-lagi kini masih aku ingin review membaca novel itu. Mengingat
sejak baca dua tahun silam, sampai sekarang masih terbisit kesan menarik.
Kusebut “menarik”, karena membacanya diriku takjub saat Zainuddin dan Hayati
yang kandas cintanya karena benturan adat Minangkabau yang amat pekat.
Kekerasan adat yang tak mampu diredam memaksa sang pencinta lepas tangan hingga
di pelaminan. Sehingga, banyak hal kompleks yang menjamah kisah cinta mereka:
cinta, rindu, patah hati, kecewa, sesal, kesal, konflik adat dan agama,
perasaan bersalah, dan lain-lain (Horison, Desember 2013). Thus, Zainuddin
bagai disambar petir saat dengar kekasihnya telah dinikahi orang lain. Frustasi
mendorongnya mengakhiri hidup hingga detik itu dengan bunuh diri. Untung,
seorang teman iba melepas keadaan yang terlihat sadis ini.
Di atas hal konpleks yang bervariasi, takdir berpihak pada Zainuddin untuk
menulis. Kisah cintanya di masa silam, direnungkan dan dituangkan dalam
kata-kata, hingga jadilah karya yang mampu memikat para pembaca karena
keindahan bahasa, keseriusan penulis, serta penjelmaan (tajalliyat, istilah
ajaran yang dianut oleh Ibnu Arabi) jiwa pada tulisannya. Tulisan Zainuddin
telah tercecer di berbagai media cetak dan dibaca banyak orang. Namanya melambung.
Banyak orang menanyakan karena rasa takjub. Hingga, si kekasih, Hayati, yang
telah melukai hatinya, hianat menjaga janji, dan meruntuhkan bangun cinta
menjadi puing-puing, tergugah dan terdorong mengenal siapa sebenarnya penulis
karya itu. Tak diduga bahwa penulisnya adalah Zainuddin. Hayati tidak tahu
karena Zainuddin tak memakai nama asli, melainkan nama pena saja.
Saat diketahui bahwa kekasihnya di masa silam yang mampu merangkai kata
menjadi karya indah dan memukau, cinta yang telah mati suri bersemi kembali.
Keretakan yang telah dicatat dalam sejarah dan disaksikan banyak orang,
inginnya diperbaiki kembali persis sejak kali pertama kenal dan membina
hubungan asmara. Surat cinta yang telah membekukan tinta pena dioretkan,
inginnya decairkan seperti di antara mereka kirim-balas surat penuh rasa cinta.
Tapi, waktu terkesan lambat. Kenapa setelah dia menyakiti dan diketahui sukses,
Hayati baru sadar atas semuanya? Sudahlah. Itulah hanya menjadi cerita saja.
Cerita end keinginan Hayati masih bikin Zainuddin ragu dan ragu.
Mengabuli atau menolak?
Begitu pula, kisah dalam novel Muhammad Muhyiddin, Warna Merah, Jilbab
Berdarah. Aku ingat cerita yang ditulis di dalamnya. Ada dua dukuh,
Tempelsari dan Randualas, yang saling bermusuhan. Mereka ibarat air dan minyak
yang sulit disatukan. Mereka ibarat kucing dan tikus yang terus bermusuhan.
Tragedi tragis selalu bergejolak, pembunuhan, buat lingkungan jadi morat-marit
atau brantakan, dan lain sebagainya. Sejatinya, permusuhan ini berawal dari
tetuah dua dukuh ini yang salah satu dari mereka kalah dalam pertarungan,
hingga perasaan dendam membekas di dalam hati dan diwariskan pada penerusnya.
Suatu hari saat Nughroho, putra satu-satunya Ki Singo tetua dukuh
Randualas, jatuh cinta pada seorang perempuan cantik, anggun, dan imut. Dialah
Swiji, putri tetua dukuh Tempelsari. Cinta itu bersemi awal kali lihat wajah
Swiji di suatu tempat waktu memburu kijang. Sayang, kijang itu tidak dibunuh,
karena dicegah Wiji (panggilan Swiji). Teman-teman Nughroho terjadi adu mulut
dan cekcok, tapi Nughroho sendiri hanya diam. Tanpa sepatah kata pun yang mampu
diucap. Seakan-akan benda menyumbat di mulutnya.
Usai pertemuannya dengan gadis Tempelsari, hidup Nughroho jadi aneh.
Sebelum ini, ia sering ngumpul bersama kawan-kawannya, sekarang tidak lagi.
Sebelum itu, ia bertubuh kekar dan gagah, kini terlihat kurus. Hal yang
menjamah diri Nughroho akhir-akhir ini mendorong ayah dan ibunya
bertanya-tanya. Hingga, diketahui bahwa putra tercitanya telah jatuh cinta.
Terus, siapakah gadis yang mampu bikin putra begini? Pertanyaan ini membikin
orang tua panik. Setelah ditelusuri bahwa gadis yang ada dibelakang semua ini
adalah orang Tempelsari, Ki Singo geram. Maksud putranya tidak boleh terjadi.
Jika dituruti dan dipenuhi, akan diletakkan di mana muka Ki Singo. Tapi,
keegoisan Ki Singo mampu diredam dengan kata-kata istrinya. Akhir, ia manut
saja.
Saat diketahui bahwa seorang laki-laki dukuh Randualas jatuh cinta dan
ketemuan dengan Swiji, masyarakat Tempelsari tidak menerima melihat kenyataan
seperti ini, apalagi putri tetua dukuh mereka sendiri. Hingga, mereka
mengeledah rahasia pertemuan Swiji dan Nughroho di puncak gunung Kedeng. Mereka
berdua dipisahkan: Swiji dibawa kepada ayahnya, sedangkan Nughroho dikeroyok
sampai babak belur. Cinta mereka belum terjalin dengan sempurna, pertarungan
sengit terjadi di antara dua dukuh. Darah tumpah berceceran di atas tanah.
Itulah cinta. Rasanya sulit dipisahkan. Sekalipun suasana sesadis ini,
cinta mereka berdua tetap kekar. Akhirnya mereka ditakdirkan bertemu di rumah
kiai dan dikawinkan, tanpa sepengetahuan masyarakat dukuh mereka. Saat
diketahui perut Swiji buncit karena bunting, rasa benci masyarakat Tempelsari
semakin menjadi-jadi. Di atas kandungan yang bertandang di perut Swijiwi
berbulan-bulan, saatnya dia melahirkan. Karena suasana yang tragis, tak sempat
dia panggil dukun yang membantu mengurut perut hingga bayi dilahirkan dengan
selamat. Bayi lahir dengan sendirinya. Sedangkan, Swiji semakin melemah dan
mengakhiri hidupnya di atas gunung. Nughroho yang mulai tadi mendengarkan
panggilan istrinya dan mencari arah panggilan itu, baru ia ketemu setelah
istrinya tak bernafas. Akhirnya, Nughroho melemah pula dan meninggal persis
menjulur di samping Swiji. Anak yang dilahirkan menangis di tengah orang
tuanya. Waktu itulah masyarakat Tempelsari dan Randualas berkumpul mengelilingi
Swiji dan Nughroho yang sudah tiada. Baru sejak itulah mereka baru sadar bahwa
segala yang diperbuat mereka berdua, tak lain dan tak bukan adalah cara
mempersatukan dua dukuh yang mulai sejak dulu sering mendengungkan permusuhan
dan menggenggam rasa dendam.
Sejenak merenung usai baca novel tersebut, perasan terkesima bangkit.
Nurani mengiyakan. Itu salah satu hikmah baca karya sastra yang dikemas dengan
kisah yang penuh beragam hal konfleks.
Baca-baca karya sastra tersebut mengingatkanku saat baca diary milik
Ade’. Ada banyak hal, mulai dari yang biasa menjadi luar biasa.
Sunday, 26 of May, 2013
At 11.45 a.m.
When I look at you, I can’t deny there’s a God
‘cause only God could have created someone as wonderful and patient as you,
Abang...!?!
In my past life, God said a gem is going to be
born on (15) and I give u a boon that you get to be this beautiful gem’s
Abang_Nay ...!?!
Couldn’t ask for anything more, but thank to the
god for giving me Abang as like you. I only wanna say thanks very much. Don’t
forget that someone is wishing for your happiness on every falling star.
Sunday, 26 of May 2013
At 9.10 p.m.
For you Abang, I just wanna say finally you are
created to make history in this diary exactly my daily secret life.
I have told you in pink diary that I hold THAT...
Actually, you are always be there. If I think
gonna hold down and when can’t no body. Tell me nothin’ and this is what gets
me closer to you. And no one knows why I am into you or you to me
....
Tidak mengira dia bikin tulisan seperti itu. Sebelum aku sampai rasa
takjubku, aku teringat dengan pernyataan Ronald Frank, sang motivator cinta,
tetang Cara Buat Pria Jadi Peka. Kadang pria tidak tanggap memahami
gelagat orang wanita. Si wanita, misalkan, sering kasih sesuatu (bingkisan),
kirim salam, tanya kabar dan semacamnya, sayangnya, si pria ngiranya
biasa-biasa saja. Padahal, di dalam diri si wanita tersimpan benih cinta yang
malu untuk diungkapkan directly. Memang, wanita bersikap pemalu. Sebab,
mengukur perasaan malu itu wanita dibungkam dengan 99% rasa malu, sedangkan
laki-laki hanya 1% saja. Biasanya dan bisanya si wanita hanya mampu bikin jalan
agar si pria mampu menjejakinya. Untung, jika si pria peka, jika tidak?
Wanita mudah sensitif. Peka terhadap segala hal. Apa pun yang menjamah
dirinya, apalagi itu datang dari seorang pria, dugaannya jauh lebih tinggi.
Sebut, salam atau bingkisan yang disampaikan pria terhadap wanita,
ditanggapinya itu suatu rasa cinta atau kedekatan hati yang sedang terpikat.
Nah, menjadi tanggung jawab pria, memulihkan emosional yang sehat, agar mampu
membaca dan memberikan jawaban pada wanita. Kata Ronald, cara untuk membaca
kondisi wanita dapat dilihat dari muka dan pandangannnya. Karena, semua hal
yang terjadi akan tergambar dan termonitor di organ tubuh tersebut.
Tentang rasa takjub usai baca diary itu, karena bersamaan terdengar
kabar Ade’ benci amat dan sedang terdekap masa-masa terakhir berada di
Annuqayah, mungkin tapi sulit akan timbul bias-bias cinta. “Sungguh. Aku
terlambat,” gumam batinku. Tapi, kenyataannya, membaca isi diary di
atas. Dia merasakan bias-bias asmara pada seorang Abang. Aku sendiri, maksudnya.
Namun, semua perasaan itu tertutup oleh sifat femininnya, yang katanya wanita
mudah sensitif, tapi pemalu. Sehingga, ia hanya nulis semua kata hatinya di
sebuah catatan hariannya saja. Mungkin, cara itulah yang paling mudah untuk
dijadikan teman curhat. Dan nantinya akan dibaca banyak orang, terutama aku
sendiri.
Aku sebut diary baginya menjadi teman curhat segala hal. Coba baca
petikan isi diary milik dia
tanggal 10 Juni 2013.
Aku bahkan ga’ sempat bertanya alasan mengapa air
mata ini tiba-tiba turun? Apa karena aku ga’ berkedip sama sekali atau karena
ada sesuatu masuk ke mataku. Setelah menutup buku ini tiba-tiba air mataku
mengalir. Sydney... sakit banget rasanya lihat konic yang terkenal itu. Aku
takut yang mau menghadapi kenyataan kalau nantinya, harapan, keinginan,
cita-cita, impian dan mimpiku akan Sydney hanyalah bayangan semu. Aku terlalu over,
over acting, dan over harus menggilai Sydney seperti buku-bukuku yang penuh
Sydney, foto background, nama yang kumirip-miripkan bahkan kini semua orang tau
aku tergila-gila pada Sydney. Terkadang pernyataan mereka membuat aku sakit.
Jadi setidaknya aku kuliah di Sydney. Mengingat abah dan umi tak melirik barang
sekalipun akan ucapan Nayla. Mereka mengira Nayla hanya bermimpi sesaat dan
pasti mengira omongan Nayla hanya omong kosong. Tapi, hanya dengan bermimpi dan
gila seperti inilah aku mengeksplor semuanya. Aku mampu untuk berdiri di
podium-podium hanya satu gambaran yang di pelupuk mataku, “Sydney”.
Ketika mengkomparasikan keinginan mereka dan
keinginan Nayla akan sulit banget....
....
Sungguh, curhat Ade’ yang sebenarnya untuk mewujudkan cita-citanya, yaitu
kuliah di Sydney-Australia, tapi semua itu terasa sulit dan berat karena
dibenturkan dengan restu kedua orang tua. Abah dan umi Ade’ ternyata berkeinginan
lain, jika disejajarkan dengan keinginan Ade’. Sungguh masalah! Karena ada
ikhtilaf antara impian dan fakta.
Namun, mimpi bagiku doa ‘sang pemimpi’ (meminjam bahasa Andrea Hirata
dalam judul bukunya, Sang Pemimpi). Sebab, ada kalimat bijak yang diselipkan
di makalah penyaji Abdurrahman, “Bermimpilah sebelum jadi pemimpin.” Bahkan,
guruku, pak Mistarum bilang, “Sebelum aku ngajar di MA, saya selalu bermimpi
sebelum itu. Begitu pula, sebelum saya punya sepeda Vario, aku bermimpi
dulu. Jadi bermimpilah!”
Aku hanya diam saja. Pertanyaan datang bertubi-tubi, “Masa iya?” Agak
ragu-ragu. Namun, setelah direnungkan dan dipikir ulang, semua perkataan itu
ada benarnya pula. Apalagi guruku, Pak Nur, tanya, “Apa cita-citamu?” pada
semua siswa di kelas dua MA 1 Annuqayah Putra. Teman-teman, begitu pula,
menakar cita-cita bervarian. “Cita-citaku ingin jadi orang membahagiakan orang
tua,” bilang temanku.
“Ingin jadi guru,” sahut yang lain.
“Ingin jadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa,” usul yang lain kemudian
dan seterusnya.
Terakhir, Pak Nur bilang, “Pilih cita-cita yang jelas.” Jadi, kejelasan
dan ketidakjelasan cita-cita yang dimiliki seseorang akan mengaburkan dia
sendiri melangkah untuk mewujudkan mimpinya. Tapi, yang paling terkesan atas
pertanyaan guru tadi, cita-cita yang sebelumnya aku duga itu tidak begitu
penting, tapi ternyata menjadi gambaran dalam melangkah untuk masa berikutnya.
Jadi hidup penuh dengan ketidakbingungan, melainkan punya tujuan yang jelas.
Cita-cita. Kadang orang menjadi stres dan gila karena mimpi yang dijunjung
setinggi langit tidak tercapai. Ingatlah bahwa menyongsong cita-cita setidaknya
disesuaikan dengan kadar dan kemampuan seseorang. Ustaz Rofiq Sujak menyatakan,
“Jika anda hanya punya uang 4.000, jangan bermimpi beli rokok Suriya yang
harganya jauh di atas uang yang dimiliki. Jika anda tetap memaksa untuk
keinginan anda, bisa-bisa anda akan nyolong untuk menimpali kekurangan dengan
uang anda. Begitu pula dengan anda bermimpi. Sesuaikan mimpi anda dengan
kemampuan anda.” Masuk akal!
Terus, gimana jika mimpi itu sesuai dengan kemampuannya, tapi kenyataan
berkata sebaliknya? Satu kuncinya, “Bersabarlah.” Mungkin, belum saatnya Tuhan
akan menampakkan kekuasaanNya pada diri hambaNya yang tiada henti bermunajat
dan berusaha. Yakinlah bahwa suatu saat nanti Dia akan mewujudkan mimpi anda,
atau anda akan diberi ganti yang lebih baik dari mimpi yang anda susun. Allah
Maha Alim.
Terus, begitu pula dengan mimpi yang Ade’ tanam sejak mondok di Annuqayah,
tapi terasa berat karena tidak ada sinyal baik dari orang tua Ade’. Yakinlah.
Allah akan mewujudkan mimpi itu di masa mendatang. Sayang, kita tidak tahu
kapan. Itulah rahasia Tuhan. Sebagai manusia berbaik sangkalah, sebab kehendak
dan kekuasaanNya berkutat pada sangkaan hambaNya. Ana inda dhanni abdibi.
Sunday, 26 of May 2013
At 12.45
Good afternoon Annuqayah!
Meninggalkanmu dalam kurun waktu 41 hari lagi,
membuatku menerawang. Aku merasa belum siap. Aku rasa future-ku bakal
kehilangan momen-momen indah bersama anak-anak EC, especially Rainbow room
dalam laughing, crying, kidding, studying, eating, sleeping together. Kalian
tau ga’ sih kebersamaan kita bagi Nayla berharga banget. Semuanya kayak emas
yang tak ternilai harganya. Nanti Nay keluar. Nayla ga’ bakalan ngerasain momen
bahagia ini lagi. Rasa sayang kita selama ini, membuat Nayla berani melakukan
apa saja asalkan bisa menghadirkan kebahagian di antara kita semua. Kok nangis!
Oww jelek tau!
Saat bacaanku sampai pada tulisan ini, inginnya air mata menetas. Aku
laiknya Ade’ dalam kisah tersebut. Sungguh pedih berpisah dengan teman yang
terkadung sudah menjadi bagian dari hidupnya. “Pokoknya, kadung itu masuk ke
hati, sulit untuk dipisahkan,” ujar temanku saat cerita kisah cintanya dengan
perempuan dan telah resmi jadi tunangannya.
* * *
“Terima kasih atas diary-nya, Ade’,” tulisku. Sebab, aku dapat mensejajarkan reaksi nurani antara diary Ade’ dengan karya-karya penulis ternama di atas.[]
No comments:
Post a Comment