Tuesday, June 30, 2015

Membaca Diary



Kira-kira tahun 2012-an, sebuah novel karya Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (akrab dipanggil Hamka), seorang ulama berwibawa dan sastrawan, terkesan menarik, bahkan menggugah mengeja kata perkata. Tenggelamnya Kapal van der Wijck, novel yang aku maksud. Karya sastra ini selain karya-karyanya yang lain sampai sekarang tetap memukau. Banyak para pembaca tak kunjung bosan dan puas menyelam di dalamnya. Seakan-akan atau pastinya ada jiwa pengarang yang sedang merasuk relung nurani. Mereka tidak hanya membaca, tapi menjelma seseorang yang diceritakan dalam novel tersebut. Dalam arti lain, tidak hanya mengeja di mulut, melainkan merasakan di dalam hati. Sejatinya, selain Tenggelamnya Kapal van der Wijck, ada satu karya Hamka yang menarik dan terkenal, yaitu Di Bawah Lindungan Ka’bah (Horison, Desember 2013).

Lagi-lagi kini masih aku ingin review membaca novel itu. Mengingat sejak baca dua tahun silam, sampai sekarang masih terbisit kesan menarik. Kusebut “menarik”, karena membacanya diriku takjub saat Zainuddin dan Hayati yang kandas cintanya karena benturan adat Minangkabau yang amat pekat. Kekerasan adat yang tak mampu diredam memaksa sang pencinta lepas tangan hingga di pelaminan. Sehingga, banyak hal kompleks yang menjamah kisah cinta mereka: cinta, rindu, patah hati, kecewa, sesal, kesal, konflik adat dan agama, perasaan bersalah, dan lain-lain (Horison, Desember 2013). Thus, Zainuddin bagai disambar petir saat dengar kekasihnya telah dinikahi orang lain. Frustasi mendorongnya mengakhiri hidup hingga detik itu dengan bunuh diri. Untung, seorang teman iba melepas keadaan yang terlihat sadis ini.

Di atas hal konpleks yang bervariasi, takdir berpihak pada Zainuddin untuk menulis. Kisah cintanya di masa silam, direnungkan dan dituangkan dalam kata-kata, hingga jadilah karya yang mampu memikat para pembaca karena keindahan bahasa, keseriusan penulis, serta penjelmaan (tajalliyat, istilah ajaran yang dianut oleh Ibnu Arabi) jiwa pada tulisannya. Tulisan Zainuddin telah tercecer di berbagai media cetak dan dibaca banyak orang. Namanya melambung. Banyak orang menanyakan karena rasa takjub. Hingga, si kekasih, Hayati, yang telah melukai hatinya, hianat menjaga janji, dan meruntuhkan bangun cinta menjadi puing-puing, tergugah dan terdorong mengenal siapa sebenarnya penulis karya itu. Tak diduga bahwa penulisnya adalah Zainuddin. Hayati tidak tahu karena Zainuddin tak memakai nama asli, melainkan nama pena saja.

Saat diketahui bahwa kekasihnya di masa silam yang mampu merangkai kata menjadi karya indah dan memukau, cinta yang telah mati suri bersemi kembali. Keretakan yang telah dicatat dalam sejarah dan disaksikan banyak orang, inginnya diperbaiki kembali persis sejak kali pertama kenal dan membina hubungan asmara. Surat cinta yang telah membekukan tinta pena dioretkan, inginnya decairkan seperti di antara mereka kirim-balas surat penuh rasa cinta. Tapi, waktu terkesan lambat. Kenapa setelah dia menyakiti dan diketahui sukses, Hayati baru sadar atas semuanya? Sudahlah. Itulah hanya menjadi cerita saja. Cerita end keinginan Hayati masih bikin Zainuddin ragu dan ragu. Mengabuli atau menolak?

Begitu pula, kisah dalam novel Muhammad Muhyiddin, Warna Merah, Jilbab Berdarah. Aku ingat cerita yang ditulis di dalamnya. Ada dua dukuh, Tempelsari dan Randualas, yang saling bermusuhan. Mereka ibarat air dan minyak yang sulit disatukan. Mereka ibarat kucing dan tikus yang terus bermusuhan. Tragedi tragis selalu bergejolak, pembunuhan, buat lingkungan jadi morat-marit atau brantakan, dan lain sebagainya. Sejatinya, permusuhan ini berawal dari tetuah dua dukuh ini yang salah satu dari mereka kalah dalam pertarungan, hingga perasaan dendam membekas di dalam hati dan diwariskan pada penerusnya.

Suatu hari saat Nughroho, putra satu-satunya Ki Singo tetua dukuh Randualas, jatuh cinta pada seorang perempuan cantik, anggun, dan imut. Dialah Swiji, putri tetua dukuh Tempelsari. Cinta itu bersemi awal kali lihat wajah Swiji di suatu tempat waktu memburu kijang. Sayang, kijang itu tidak dibunuh, karena dicegah Wiji (panggilan Swiji). Teman-teman Nughroho terjadi adu mulut dan cekcok, tapi Nughroho sendiri hanya diam. Tanpa sepatah kata pun yang mampu diucap. Seakan-akan benda menyumbat di mulutnya.

Usai pertemuannya dengan gadis Tempelsari, hidup Nughroho jadi aneh. Sebelum ini, ia sering ngumpul bersama kawan-kawannya, sekarang tidak lagi. Sebelum itu, ia bertubuh kekar dan gagah, kini terlihat kurus. Hal yang menjamah diri Nughroho akhir-akhir ini mendorong ayah dan ibunya bertanya-tanya. Hingga, diketahui bahwa putra tercitanya telah jatuh cinta. Terus, siapakah gadis yang mampu bikin putra begini? Pertanyaan ini membikin orang tua panik. Setelah ditelusuri bahwa gadis yang ada dibelakang semua ini adalah orang Tempelsari, Ki Singo geram. Maksud putranya tidak boleh terjadi. Jika dituruti dan dipenuhi, akan diletakkan di mana muka Ki Singo. Tapi, keegoisan Ki Singo mampu diredam dengan kata-kata istrinya. Akhir, ia manut saja.

Saat diketahui bahwa seorang laki-laki dukuh Randualas jatuh cinta dan ketemuan dengan Swiji, masyarakat Tempelsari tidak menerima melihat kenyataan seperti ini, apalagi putri tetua dukuh mereka sendiri. Hingga, mereka mengeledah rahasia pertemuan Swiji dan Nughroho di puncak gunung Kedeng. Mereka berdua dipisahkan: Swiji dibawa kepada ayahnya, sedangkan Nughroho dikeroyok sampai babak belur. Cinta mereka belum terjalin dengan sempurna, pertarungan sengit terjadi di antara dua dukuh. Darah tumpah berceceran di atas tanah.

Itulah cinta. Rasanya sulit dipisahkan. Sekalipun suasana sesadis ini, cinta mereka berdua tetap kekar. Akhirnya mereka ditakdirkan bertemu di rumah kiai dan dikawinkan, tanpa sepengetahuan masyarakat dukuh mereka. Saat diketahui perut Swiji buncit karena bunting, rasa benci masyarakat Tempelsari semakin menjadi-jadi. Di atas kandungan yang bertandang di perut Swijiwi berbulan-bulan, saatnya dia melahirkan. Karena suasana yang tragis, tak sempat dia panggil dukun yang membantu mengurut perut hingga bayi dilahirkan dengan selamat. Bayi lahir dengan sendirinya. Sedangkan, Swiji semakin melemah dan mengakhiri hidupnya di atas gunung. Nughroho yang mulai tadi mendengarkan panggilan istrinya dan mencari arah panggilan itu, baru ia ketemu setelah istrinya tak bernafas. Akhirnya, Nughroho melemah pula dan meninggal persis menjulur di samping Swiji. Anak yang dilahirkan menangis di tengah orang tuanya. Waktu itulah masyarakat Tempelsari dan Randualas berkumpul mengelilingi Swiji dan Nughroho yang sudah tiada. Baru sejak itulah mereka baru sadar bahwa segala yang diperbuat mereka berdua, tak lain dan tak bukan adalah cara mempersatukan dua dukuh yang mulai sejak dulu sering mendengungkan permusuhan dan menggenggam rasa dendam.

Sejenak merenung usai baca novel tersebut, perasan terkesima bangkit. Nurani mengiyakan. Itu salah satu hikmah baca karya sastra yang dikemas dengan kisah yang penuh beragam hal konfleks.

Baca-baca karya sastra tersebut mengingatkanku saat baca diary milik Ade’. Ada banyak hal, mulai dari yang biasa menjadi luar biasa.

Sunday, 26 of May, 2013
At 11.45 a.m.
When I look at you, I can’t deny there’s a God ‘cause only God could have created someone as wonderful and patient as you, Abang...!?!
In my past life, God said a gem is going to be born on (15) and I give u a boon that you get to be this beautiful gem’s Abang_Nay ...!?!
Couldn’t ask for anything more, but thank to the god for giving me Abang as like you. I only wanna say thanks very much. Don’t forget that someone is wishing for your happiness on every falling star.

Sunday, 26 of May 2013
At 9.10 p.m.
For you Abang, I just wanna say finally you are created to make history in this diary exactly my daily secret life.
I have told you in pink diary that I hold THAT...
Actually, you are always be there. If I think gonna hold down and when can’t no body. Tell me nothin’ and this is what gets me closer to you. And no one knows why I am into you or you to me
....

Tidak mengira dia bikin tulisan seperti itu. Sebelum aku sampai rasa takjubku, aku teringat dengan pernyataan Ronald Frank, sang motivator cinta, tetang Cara Buat Pria Jadi Peka. Kadang pria tidak tanggap memahami gelagat orang wanita. Si wanita, misalkan, sering kasih sesuatu (bingkisan), kirim salam, tanya kabar dan semacamnya, sayangnya, si pria ngiranya biasa-biasa saja. Padahal, di dalam diri si wanita tersimpan benih cinta yang malu untuk diungkapkan directly. Memang, wanita bersikap pemalu. Sebab, mengukur perasaan malu itu wanita dibungkam dengan 99% rasa malu, sedangkan laki-laki hanya 1% saja. Biasanya dan bisanya si wanita hanya mampu bikin jalan agar si pria mampu menjejakinya. Untung, jika si pria peka, jika tidak?

Wanita mudah sensitif. Peka terhadap segala hal. Apa pun yang menjamah dirinya, apalagi itu datang dari seorang pria, dugaannya jauh lebih tinggi. Sebut, salam atau bingkisan yang disampaikan pria terhadap wanita, ditanggapinya itu suatu rasa cinta atau kedekatan hati yang sedang terpikat. Nah, menjadi tanggung jawab pria, memulihkan emosional yang sehat, agar mampu membaca dan memberikan jawaban pada wanita. Kata Ronald, cara untuk membaca kondisi wanita dapat dilihat dari muka dan pandangannnya. Karena, semua hal yang terjadi akan tergambar dan termonitor di organ tubuh tersebut.

Tentang rasa takjub usai baca diary itu, karena bersamaan terdengar kabar Ade’ benci amat dan sedang terdekap masa-masa terakhir berada di Annuqayah, mungkin tapi sulit akan timbul bias-bias cinta. “Sungguh. Aku terlambat,” gumam batinku. Tapi, kenyataannya, membaca isi diary di atas. Dia merasakan bias-bias asmara pada seorang Abang. Aku sendiri, maksudnya. Namun, semua perasaan itu tertutup oleh sifat femininnya, yang katanya wanita mudah sensitif, tapi pemalu. Sehingga, ia hanya nulis semua kata hatinya di sebuah catatan hariannya saja. Mungkin, cara itulah yang paling mudah untuk dijadikan teman curhat. Dan nantinya akan dibaca banyak orang, terutama aku sendiri.

Aku sebut diary baginya menjadi teman curhat segala hal. Coba baca petikan isi diary  milik dia tanggal 10 Juni 2013.

Aku bahkan ga’ sempat bertanya alasan mengapa air mata ini tiba-tiba turun? Apa karena aku ga’ berkedip sama sekali atau karena ada sesuatu masuk ke mataku. Setelah menutup buku ini tiba-tiba air mataku mengalir. Sydney... sakit banget rasanya lihat konic yang terkenal itu. Aku takut yang mau menghadapi kenyataan kalau nantinya, harapan, keinginan, cita-cita, impian dan mimpiku akan Sydney hanyalah bayangan semu. Aku terlalu over, over acting, dan over harus menggilai Sydney seperti buku-bukuku yang penuh Sydney, foto background, nama yang kumirip-miripkan bahkan kini semua orang tau aku tergila-gila pada Sydney. Terkadang pernyataan mereka membuat aku sakit. Jadi setidaknya aku kuliah di Sydney. Mengingat abah dan umi tak melirik barang sekalipun akan ucapan Nayla. Mereka mengira Nayla hanya bermimpi sesaat dan pasti mengira omongan Nayla hanya omong kosong. Tapi, hanya dengan bermimpi dan gila seperti inilah aku mengeksplor semuanya. Aku mampu untuk berdiri di podium-podium hanya satu gambaran yang di pelupuk mataku, “Sydney”.
Ketika mengkomparasikan keinginan mereka dan keinginan Nayla akan sulit banget....
....

Sungguh, curhat Ade’ yang sebenarnya untuk mewujudkan cita-citanya, yaitu kuliah di Sydney-Australia, tapi semua itu terasa sulit dan berat karena dibenturkan dengan restu kedua orang tua. Abah dan umi Ade’ ternyata berkeinginan lain, jika disejajarkan dengan keinginan Ade’. Sungguh masalah! Karena ada ikhtilaf antara impian dan fakta.

Namun, mimpi bagiku doa ‘sang pemimpi’ (meminjam bahasa Andrea Hirata dalam judul bukunya, Sang Pemimpi). Sebab, ada kalimat bijak yang diselipkan di makalah penyaji Abdurrahman, “Bermimpilah sebelum jadi pemimpin.” Bahkan, guruku, pak Mistarum bilang, “Sebelum aku ngajar di MA, saya selalu bermimpi sebelum itu. Begitu pula, sebelum saya punya sepeda Vario, aku bermimpi dulu. Jadi bermimpilah!”

Aku hanya diam saja. Pertanyaan datang bertubi-tubi, “Masa iya?” Agak ragu-ragu. Namun, setelah direnungkan dan dipikir ulang, semua perkataan itu ada benarnya pula. Apalagi guruku, Pak Nur, tanya, “Apa cita-citamu?” pada semua siswa di kelas dua MA 1 Annuqayah Putra. Teman-teman, begitu pula, menakar cita-cita bervarian. “Cita-citaku ingin jadi orang membahagiakan orang tua,” bilang temanku.

“Ingin jadi guru,” sahut yang lain.

“Ingin jadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa,” usul yang lain kemudian dan seterusnya.

Terakhir, Pak Nur bilang, “Pilih cita-cita yang jelas.” Jadi, kejelasan dan ketidakjelasan cita-cita yang dimiliki seseorang akan mengaburkan dia sendiri melangkah untuk mewujudkan mimpinya. Tapi, yang paling terkesan atas pertanyaan guru tadi, cita-cita yang sebelumnya aku duga itu tidak begitu penting, tapi ternyata menjadi gambaran dalam melangkah untuk masa berikutnya. Jadi hidup penuh dengan ketidakbingungan, melainkan punya tujuan yang jelas.

Cita-cita. Kadang orang menjadi stres dan gila karena mimpi yang dijunjung setinggi langit tidak tercapai. Ingatlah bahwa menyongsong cita-cita setidaknya disesuaikan dengan kadar dan kemampuan seseorang. Ustaz Rofiq Sujak menyatakan, “Jika anda hanya punya uang 4.000, jangan bermimpi beli rokok Suriya yang harganya jauh di atas uang yang dimiliki. Jika anda tetap memaksa untuk keinginan anda, bisa-bisa anda akan nyolong untuk menimpali kekurangan dengan uang anda. Begitu pula dengan anda bermimpi. Sesuaikan mimpi anda dengan kemampuan anda.” Masuk akal!

Terus, gimana jika mimpi itu sesuai dengan kemampuannya, tapi kenyataan berkata sebaliknya? Satu kuncinya, “Bersabarlah.” Mungkin, belum saatnya Tuhan akan menampakkan kekuasaanNya pada diri hambaNya yang tiada henti bermunajat dan berusaha. Yakinlah bahwa suatu saat nanti Dia akan mewujudkan mimpi anda, atau anda akan diberi ganti yang lebih baik dari mimpi yang anda susun. Allah Maha Alim.

Terus, begitu pula dengan mimpi yang Ade’ tanam sejak mondok di Annuqayah, tapi terasa berat karena tidak ada sinyal baik dari orang tua Ade’. Yakinlah. Allah akan mewujudkan mimpi itu di masa mendatang. Sayang, kita tidak tahu kapan. Itulah rahasia Tuhan. Sebagai manusia berbaik sangkalah, sebab kehendak dan kekuasaanNya berkutat pada sangkaan hambaNya. Ana inda dhanni abdibi.

Sunday, 26 of May 2013
At 12.45
Good afternoon Annuqayah!
Meninggalkanmu dalam kurun waktu 41 hari lagi, membuatku menerawang. Aku merasa belum siap. Aku rasa future-ku bakal kehilangan momen-momen indah bersama anak-anak EC, especially Rainbow room dalam laughing, crying, kidding, studying, eating, sleeping together. Kalian tau ga’ sih kebersamaan kita bagi Nayla berharga banget. Semuanya kayak emas yang tak ternilai harganya. Nanti Nay keluar. Nayla ga’ bakalan ngerasain momen bahagia ini lagi. Rasa sayang kita selama ini, membuat Nayla berani melakukan apa saja asalkan bisa menghadirkan kebahagian di antara kita semua. Kok nangis! Oww jelek tau!

Saat bacaanku sampai pada tulisan ini, inginnya air mata menetas. Aku laiknya Ade’ dalam kisah tersebut. Sungguh pedih berpisah dengan teman yang terkadung sudah menjadi bagian dari hidupnya. “Pokoknya, kadung itu masuk ke hati, sulit untuk dipisahkan,” ujar temanku saat cerita kisah cintanya dengan perempuan dan telah resmi jadi tunangannya.

* * *

“Terima kasih atas diary-nya, Ade’,” tulisku. Sebab, aku dapat mensejajarkan reaksi nurani antara diary Ade’ dengan karya-karya penulis ternama di atas.[]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...