Tuesday, June 30, 2015

Kok Cemburu!



Bungkusan kado itu menyeka perhatianku. Papan catur serta anak-anak catur diam kaku di hadapanku. Temanku sebagai lawan dalam permainan ajek memusatkan pikiran dan berambisi jadi pemenang. Setiap yang ada di sampingnya dibiarkan. Menang adalah number one.

Fokusku menjadi pudar sejak lihat bingkusan itu ditenteng seorang teman kamar yang lain sambil nyebut nama Muhlis. “Mana Muhlis? Nih ada kiriman dari mbaknya,” tanyanya bikin aku tersentak. Pikiranku seketika terpusat pada Naila, orang yang aku kenal di ponsel waktu liburan Maulid kemarin.

“Bisa lihat,” pintaku.

Benar dugaan itu. Bungkusan itu dari seorang mbak yang ia ceritakan tempo dulu. Mbaknya tak lain orang yang aku maksud. Kalau seorang mbak yang membanggakan Ade’nya akhir ini akan menjadi alumni plus akan tinggalkan Madura menuju Situbondo, tempat kelahirannya, kenapa cemburu itu selalu bertandang seakan-akan kehadiran bungkusan itu bikin iri. Apa bedanya antara aku dan Muhlis? Pertanyaan itu semakin bikin aku galau. Apakah Muhlis adik yang ia banggakan? Sedangkan, aku hanya seorang Abang yang tak berarti apa-apa?

Eh, kok aku jadi makin gila dan bersikap kekanak-kanakan?

Kalau Muhlis hanya seorang adik, apa lebihnya kado itu. Apakah harapan lebih bisa timbul pada seorang adik? Bisa jadi, tapi sulit. Ganjal melihat seorang adik jatuh cinta sama mbaknya. Brownish tau! Begitulah kira-kira kesan sejarah. Memang cinta tak dapat diukur dari batas usia. Tapi, setahuku Muhlis sudah punya pacar alias orang yang sudah diimpi-impikan. Si doi bukan mbaknya.

“Udahlah. Kenapa aku diperbudak dengan pikiran semu ini?” ketusku.

Inginnya bayangan semu ditepis supaya tidak mengganggu aktivitas lain yang jauh lebih penting. Pikiran tidak mengingat barang tersebut dan fokuskan kembali pada papan catur yang sedang tergeletak di hadapanku. Kelihatannya aku hampir kalah dalam pertandingan karena tidak fokus. Busettt. “Bodoh amat, pikiran dibuat lalu lalang karena sebungkus kado yang jelas-jelas bukan untukku,” kesalku dalam-dalam.

Permainan usai dengan sendirinya. Ganti pemain dengan teman yang mulai tadi nunggu. Bersabar. Shalat Asyar masih belum dilaksanakan. Sedangkan, hadiran di masjid tinggal ceritanya. Baru saja dilaksanakan sejak bel dibunyikan. Sayang, aku tidak jamaah. Waktu shalat masih dibilang panjang. Meneruskan permainan dengan ronda berikutnya, dikira masih nututin waktu shalat. Tapi, dalam pertandingan itu aku KO. Kalah. Ya, terpaksa ganti pemain. Dipikir-pikir dari pada nunggu kelamaan, lebih baik laksanakan shalat dulu. Permainan itu bisa diteruskan nanti. Asyik juga.

Dari kamar Australian Two pindah ke Australian One yang terdengar tak begitu ramai. Hanya beberapa santri yang sedang istirahat. Tidur. Ngobrol. Eh, tak dikirain bungkusan kado itu terlihat kembali di hadapanku. Sedang dibuka. Dilihat isinya. Tak sampai cek lebih jauh. Hanya menoleh sebuah buku UAN MA. Sedangkan, yang selain itu tak sempat aku ingat. Shalat dilaksanakan. Inginnya khusuk karena Tuhan sedang menanti doa hambaNya. Hmmm, pikiran tak kuasa. Bungkusan itu membentuk bayangan. Sampai akhir shalat sekalipun. Bahkan usai shalat masih tetap.

Perasaan tersisih semakin bangkit. Hidup bahagia di hari itu, malah terhanyut dengan barang yang tak jelas. Memang begitu perasaan, sulit dilogikakan. Contoh. Orang sakit panas mengunyah makanan merasa tidak enak, padahal makanan itu lezat dicicipi, apalagi dilahap. Pikiran mengakui rasa makanan itu. Pasti enak. Sayang, perasaan berkata sebaliknya. Akhirnya, bilang, “Kok tawar gini rasanya.” Sungguh, ia menyimpulkan sesuatu yang tidak semestinya. Jangan disalahkan. Si sakit itu sedang tidak enak badan. Sebagian indra perasa sedikit terganggu. Ia akan kambali seperti semula saat pulih dari sakit. “Dia tidak sehat,” kata dokter.

Sejenak merenung. Ketergangguan pikiranku hingga menular pada organ tubuh yang lain, karena pikiran yang tidak sehat. Suatu hal disimpulkan tak sebenarnya. Salah. Error. Jika memang benar adanya, segera berobat sebelum sakitnya bertambah parah, the best choice. Dengan kondisi seperti ini, diriku sedang didera sakit hampir serius. Aku lupa sebuah adagium, “Mencegah lebih baik dari mengobati.” Virus bungkusan kado itu bertebaran menjalar di dalam organ tubuh. Siapa yang seharusnya disalahkan? Aku? Bungkasan kado itu? Atau pengirimnya?

Ahhh, tak perlu pertanyaan-pertanyaan itu dijawab. Itu pertanyaan ngaur, tidak sehat. Dibuat tanpa ditopang dengan pikiran yang sehat. Bukan waktu tepat menyesali apalagi tuding orang lain segala. Tak baik. Cari solusi menyembukan sakit lebih baik. “Tapi,,, ke mana mau berobat?”tanyaku sendiri.

Sakit yang menjamahku, bukan sakit seperti sakit kepala, perut, tipus, kaki luka, sakit mata, atau lainya. Tapi, sakit psikologis. Begitulah aku sebut. Entah yang benar anda beri nama apa akan sakit itu. Tapi, bukan sakit hati alias broken heart. Sebab, aku masih belum jalani asmara.

Orang banyak kambuh sakit tak jauh berbeda dari sakitku. Lihat-lihat orang yang sakit; duduk seakan-akan ngingat-ngingat suatu hal, ngobrol tak segairah biasanya, dan raut mukanya kusut. Biasanya teman-teman bilang, “Tumben pikirannya ngelantur, lagi galau ya.”

Tak sampai tanya atau perhatikan lebih detail, cara nyembuhkan. Biasanya sakit itu sembuh dengan sendirinya. Kemarin-kemarin muka terlihat kurang fresh, kini sudah terhiasai dengan senyum atau ketawa karena hal yang lucu. Atau dia curhat pada teman dekat atau orang lain yang mampu menjadi dokter. Sehingga, solusi problem solving mereka temukan. Atau kunjungi tempat-tempat yang penuh panorama indah, sehingga pikiran ngelantur dan error dapat pulih seperti semula.
Sayang, solusi dan terapi itu tak membawa efek positif. Kondisiku tetap sakit. Tak pulih. Masih dibuat cemburu dan tersisih.[]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...