Bungkusan kado itu menyeka perhatianku. Papan catur serta anak-anak catur
diam kaku di hadapanku. Temanku sebagai lawan dalam permainan ajek memusatkan
pikiran dan berambisi jadi pemenang. Setiap yang ada di sampingnya dibiarkan.
Menang adalah number one.
Fokusku menjadi pudar sejak lihat bingkusan itu ditenteng seorang teman
kamar yang lain sambil nyebut nama Muhlis. “Mana Muhlis? Nih ada kiriman dari
mbaknya,” tanyanya bikin aku tersentak. Pikiranku seketika terpusat pada Naila,
orang yang aku kenal di ponsel waktu liburan Maulid kemarin.
“Bisa lihat,” pintaku.
Benar dugaan itu. Bungkusan itu dari seorang mbak yang ia ceritakan tempo
dulu. Mbaknya tak lain orang yang aku maksud. Kalau seorang mbak yang
membanggakan Ade’nya akhir ini akan menjadi alumni plus akan tinggalkan
Madura menuju Situbondo, tempat kelahirannya, kenapa cemburu itu selalu
bertandang seakan-akan kehadiran bungkusan itu bikin iri. Apa bedanya antara
aku dan Muhlis? Pertanyaan itu semakin bikin aku galau. Apakah Muhlis adik yang ia banggakan?
Sedangkan, aku hanya seorang Abang yang tak berarti apa-apa?
Eh, kok aku jadi makin gila dan bersikap kekanak-kanakan?
Kalau Muhlis hanya seorang adik, apa lebihnya kado itu. Apakah harapan
lebih bisa timbul pada seorang adik? Bisa jadi, tapi sulit. Ganjal melihat
seorang adik jatuh cinta sama mbaknya. Brownish tau! Begitulah kira-kira
kesan sejarah. Memang cinta tak dapat diukur dari batas usia. Tapi, setahuku
Muhlis sudah punya pacar alias orang yang sudah diimpi-impikan. Si doi bukan
mbaknya.
“Udahlah. Kenapa aku diperbudak dengan pikiran semu ini?” ketusku.
Inginnya bayangan semu ditepis supaya tidak mengganggu aktivitas lain yang
jauh lebih penting. Pikiran tidak mengingat barang tersebut dan fokuskan
kembali pada papan catur yang sedang tergeletak di hadapanku. Kelihatannya aku
hampir kalah dalam pertandingan karena tidak fokus. Busettt. “Bodoh amat,
pikiran dibuat lalu lalang karena sebungkus kado yang jelas-jelas bukan
untukku,” kesalku dalam-dalam.
Permainan usai dengan sendirinya. Ganti pemain dengan teman yang mulai
tadi nunggu. Bersabar. Shalat Asyar masih belum dilaksanakan. Sedangkan,
hadiran di masjid tinggal ceritanya. Baru saja dilaksanakan sejak bel
dibunyikan. Sayang, aku tidak jamaah. Waktu shalat masih dibilang panjang.
Meneruskan permainan dengan ronda berikutnya, dikira masih nututin waktu shalat. Tapi, dalam pertandingan itu aku KO. Kalah.
Ya, terpaksa ganti pemain. Dipikir-pikir dari pada nunggu kelamaan, lebih baik
laksanakan shalat dulu. Permainan itu bisa diteruskan nanti. Asyik juga.
Dari kamar Australian Two pindah ke Australian One yang terdengar tak
begitu ramai. Hanya beberapa santri yang sedang istirahat. Tidur. Ngobrol. Eh,
tak dikirain bungkusan kado itu terlihat kembali di hadapanku. Sedang dibuka.
Dilihat isinya. Tak sampai cek lebih jauh. Hanya menoleh sebuah buku UAN MA.
Sedangkan, yang selain itu tak sempat aku ingat. Shalat dilaksanakan. Inginnya
khusuk karena Tuhan sedang menanti doa hambaNya. Hmmm, pikiran tak kuasa.
Bungkusan itu membentuk bayangan. Sampai akhir shalat sekalipun. Bahkan usai
shalat masih tetap.
Perasaan tersisih semakin bangkit. Hidup bahagia di hari itu, malah
terhanyut dengan barang yang tak jelas. Memang begitu perasaan, sulit
dilogikakan. Contoh. Orang sakit panas mengunyah makanan merasa tidak enak,
padahal makanan itu lezat dicicipi, apalagi dilahap. Pikiran mengakui rasa
makanan itu. Pasti enak. Sayang, perasaan berkata sebaliknya. Akhirnya, bilang,
“Kok tawar gini rasanya.” Sungguh, ia menyimpulkan sesuatu yang tidak
semestinya. Jangan disalahkan. Si sakit itu sedang tidak enak badan. Sebagian
indra perasa sedikit terganggu. Ia akan kambali seperti semula saat pulih dari
sakit. “Dia tidak sehat,” kata dokter.
Sejenak merenung. Ketergangguan pikiranku hingga menular pada organ tubuh
yang lain, karena pikiran yang tidak sehat. Suatu hal disimpulkan tak
sebenarnya. Salah. Error. Jika memang benar adanya, segera berobat
sebelum sakitnya bertambah parah, the best choice. Dengan kondisi
seperti ini, diriku sedang didera sakit hampir serius. Aku lupa sebuah adagium,
“Mencegah lebih baik dari mengobati.” Virus bungkusan kado itu bertebaran
menjalar di dalam organ tubuh. Siapa yang seharusnya disalahkan? Aku? Bungkasan
kado itu? Atau pengirimnya?
Ahhh, tak perlu pertanyaan-pertanyaan itu dijawab. Itu pertanyaan ngaur,
tidak sehat. Dibuat tanpa ditopang dengan pikiran yang sehat. Bukan waktu tepat
menyesali apalagi tuding orang lain segala. Tak baik. Cari solusi menyembukan
sakit lebih baik. “Tapi,,, ke mana mau berobat?”tanyaku sendiri.
Sakit yang menjamahku, bukan sakit seperti sakit kepala, perut, tipus,
kaki luka, sakit mata, atau lainya. Tapi, sakit psikologis. Begitulah aku
sebut. Entah yang benar anda beri nama apa akan sakit itu. Tapi, bukan sakit
hati alias broken heart. Sebab, aku masih belum jalani asmara.
Orang banyak kambuh sakit tak jauh berbeda dari sakitku. Lihat-lihat orang
yang sakit; duduk seakan-akan ngingat-ngingat suatu hal, ngobrol tak segairah
biasanya, dan raut mukanya kusut. Biasanya teman-teman bilang, “Tumben
pikirannya ngelantur, lagi galau ya.”
Tak sampai tanya atau perhatikan lebih detail, cara nyembuhkan. Biasanya
sakit itu sembuh dengan sendirinya. Kemarin-kemarin muka terlihat kurang fresh,
kini sudah terhiasai dengan senyum atau ketawa karena hal yang lucu. Atau
dia curhat pada teman dekat atau orang lain yang mampu menjadi dokter.
Sehingga, solusi problem solving mereka temukan. Atau kunjungi
tempat-tempat yang penuh panorama indah, sehingga pikiran ngelantur dan error
dapat pulih seperti semula.
Sayang, solusi dan
terapi itu tak membawa efek positif. Kondisiku tetap sakit. Tak pulih. Masih
dibuat cemburu dan tersisih.[]
No comments:
Post a Comment