Para pendongeng sedang asyik menggadai ceritanya. Mereka
seakan-seakan menjadi yang sebenarnya. Hingga, cerita itu terkesan serius. Toh, kadang-kadang geli karena terkesan lucu. Ini dongengnya.
Di suatu tempat (tak sempat disebut namanya)
didirikanlah kampus yang memuat satu mahasiswi dan satu dosen laki-laki. Si
dosen yang terkenal mahir dalam bidangnya, bahasa Inggris, banyak orang memanggilnya
“Bapak Holy Person”. Sungguh nama panggilan yang ‘ngingris’. Juru dongeng sebut
nama mahasiswinya, Naila. Seorang mahasiswi yang cantik, pintar, tapi nyentrik.
“Sekarang pelajaran apa bapak?” tanya Naila mengawali
pembicaraan.
“Bahasa Inggris,” jawab bapak dosen dengan tenang.
“Terus, bab apa? Tentang apa?” tanya Naila mencerocos.
Tak ingin kalah, bapak dosen melayani setiap pertanyaan
yang terus muntah. “Karena sekarang masih pertemuan pertama, kita akan belajar introduction. Yaitu perkenalan. Paham?”
“Iya bapak.”
“Dipersilahkan. Perkenalkan diri anda, alamat, cita-cita dan lain-lain. Please!”
“My name is Naila Aljazilah. My freinds call
me “Naila”. My ideal is I want to go to Sydney. My hobby is reading. That’s
all, sir. Thanks....” Sungguh pekernalan sederhana. Kalimatnya pun pakai
bahasa yang tak sulit dimengerti. Dia duduk kembali sejak berdiri sejak kali
dosen suruh dia maju ke depan untuk memperkenalkan dirinya. Sejatinya,
perkenalan itu hanya untuk si dosen saja. Kan, mahasiswanya hanya satu orang.
“Terus, siapa orang yang saudari sukai?” Kali pertama
mereka jumpa, pertanyaannya sudah terkesan aneh. Tidak beres. Sudah tak
kenapa. Layani saja. Biar tak ngambek. Batinku bergumam risih.
“Eeeem, ada bapak,” mulutku sedikit tercekat,
“K-H-A-L-I-L.” Dia berucap terbata-bata.
Mendengar jawaban polos, raut wajah dosen tiba-tiba
kelihatan pucat. Seakan-akan ada sesuatu yang disembunyikan di balik semunya.
Tapi, tak sampai dia berpikir panjang hingga mengurus. Pelajaran dilanjutkan.
“Pelajaran selanjutnya, reading. Ucapkan kalimat atau kata berikut sebagaimana aku baca. Do you love me?” bacanya pada teks
dengan tatapan fokus pada buku yang tergeletak di hadapannya.
Semakin kentara keanehan pada diri si dosen. Masa kalimat yang
dijadikan contoh tentang tawaran cinta seseorang pada dirinya sendiri. Karena
sebagai mahasiswa, terpaksa mengikuti apa pun perintah dosen, ansalkan itu
baik. Menampik bisa-bisa berakibat fatal. Tidak lulus, bisa jadi. Sehingga,
wajib ngulang pada semester berikutnya. Gawat!
“Do you love me?”
ucapanya dengan kalimat yang sama. Terdengar fasih mengucapkan setiap kata
per-kata. Terlihat skill kalau Naila mahir bahasa Inggris. Bisa saja
dia, anggapan si dosen, ikut kursus di luar jam kuliah jauh hari sebelum masuk
kampus. Nah, bapak dosen tak perlu banyak buang tenaga untuk ngajar. Mungkin
segelintir poin yang belum dikenal atau diketahui disampaikan. Takjub? Bisa
jadi.
Tak begitu lama, pelajaran diakhiri. Dosen keluar kampus
dengan langkah yang dibuat-buat. Sepertinya, dia sok bergaya artis atau model
yang show up di depan publik. Tak penting memikirkan dosen aneh.
Segelintir pertanyaan bertandang. Dia bener dosen atau musafir cinta? Gimana
seandainya nanti dia bersikap aneh-aneh? Kekhawatiran membukam pikiran
berpikir jernih. Keruh. Kiranya tak kuasa menepis. Bisa saja, dia berbuat
semaunya, karena posisinya sebagai dosen yang lebih kuasa.
Bagi Naila itulah hantu yang terus mengganggu bahkan
bergentayangan kalau imajinasi dibiarkan lepas. Seorang Abang terbersit di benaknya.
Akhirnya, rasa khawatir mampu diredam sedikit demi sedikit. Abang menjadi
senjata yang siap membela dan menjaga setiap kali dia melangkah. Awas you
ya.... Tak kulaporin sama Abang.
* * *
Waktu mencatat pertemuan berlangsung lebih dari sekali. Tak sempat dihitung. Sejatinya berapa kali pertemuan? Entahlah. Tak penting tahu secara pasti. Pokoknya semua pertemuan, tak pernah absen, sekalipun satu kali. Keaktifan hal terpenting dalam hidup Naila. Yang jelas, cita-cita pergi ke Sydney salah satu motivator hidup. Sebab, tanpa perjuangan dan ketulusan niat yang dibangun dan ditanam dalam-dalam, sulit betah di kampus sana yang tidak sembarang menerima mahasiswa. Hanya mahasiswa yang berbakat dan berprestasi yang layak masuk di sana. Bukankah begitu?
Perjumpaan mereka kini waktunya menghadapi Ujian Akhir
Semester (UAS) kampus. Bisa jadi ujian akhir ini adalah pertemuan terakhir
dengan Bapak Holy Person, jika untuk semester berikutnya ia tidak ngajar
kembali, baik dalam mata kuliah yang serupa atau mata kuliah yang lain. Jika
kesempatan masih berpihak, rektor akan kasih kesempatan mengajar pada semester
berikutnya.
Di hari UAS berlangsung, si dosen membacakan pertanyaan.
Mahasiswi terlihat siap berujian. Dia duduk di depan dosen dengan sopan.
Sedikit pun tak ada celoteh.
“Siapakah yang anda cintai?” untuk soal yang pertama. Si
mahasiswi terkejut mendengar soal yang terkesan ganjal. Kedok dosen semakin
tampak. Dulu awal kali pertemuan, tanyanya aneh-aneh, kini di UAS diulang
kembali.
“Selamat
mengerjakan.” Ucapnya pelan.
“Hanya satu soal, sir.”
Si dosen mengangguk. Satu? Pikiran Naila dibuat
berputar-putar kayak roda. Pening.
Dijawablah.
“Khalil,” tulisnya singkat.
Jawaban selesai. Disertorlah jawaban ke bapak dosen yang
santai duduk di kursi. Isapan rokok kretek mengepul. Asap memenuhi ruang
kuliah. Aku paling benci orang merokok. Sentak Naila kesal. Inginnya
komplain, tapi....
Terus, dia tinggal menunggu waktu pelulusan. Apakah
nilai A (excellent) yang diperoleh? B (good)? C (minimum)?
Nurani yakin nilai A dia akan raih. Karena tak ada lain seseorang yang dicintai
melainkan hanya dia seorang. Khalil. Cinta telah memikat hubungan mereka.
Bahkan, ketulusan serta kepercayaan bersemi demi kekekalan cinta.
Beberapa hari telah menunggu. Kini pengumuman pelulusan
ditempelkan di papan pengumuman dekat kampus tempat dia belajar. Sedikit pun
tak ada perasaan gugup, keder, atau khawatir. Nanti dia akan nelepon Abang
Khalil setelah tahu nilai pelulusan. Dia akan bilang bahwa dirinya “lulus
murni”. Musti si Abang bangga dengan impormasi itu. Semua hal yang terjadi,
baik bahagi, sedih, atau apa pun, ingin selalu dicurhatkan pada si Abang. Dia
sadar bahwa dia adalah orang laik menjadi media curhat. Hingga, kesan, pesan,
bahkan kritik serta motivasi didengar. Seakan-akan ada poin lebih yang
diperoleh. Dia merasa bangga kenal dan punya Abang yang dikira perhatian
menjaga dirinya, apalagi telah menjadi kekasih yang mampu menghidupkan cinta
sepanjang masa.
Tiba di depan kampus, dilihatlah satu lembar kertas yang
ditempel di papan. Kaki bergegas menuju tempelan kertas itu. Makin dekat
melangkah, makin jelas tulisan yang berjajar dengan pakai huruf-huruf hasil
diketik komputer pakai font Times New Roman.
“Hah....” Dia terkejut membaca kata perkata. Nilai UAS
kemarin memutuskan bahwa mahasiswi dengan nama Naila Aljazilah TIDAK LULUS.
Hasil nilai, C. Dia tahu bahwa hanya nilai A dan B-lah yang berhak diluluskan.
Pikiran menerawang. Pusing. Pening. Mumet. Sepatah tanya digadai, “Kok bisa?!”
Dia tetap berdiri di depan papan pengumuman. Pertanyaan
lain datang silih berganti. Apakah jawabanku salah? Kan Abang Khalil-lah orang
yang aku cintai?
Ketidakmengertian tetap membekas kuat di dalam pikiran.
Tidak dikira kalau ketidaklulusan akan menjadi nasib sial sejak mengikuti
kuliah di kampus. Padahal, lihat nilai materi yang lain, nilainya A-A-A dan
B-B-B. Apalagi sejak masih MI, MTs, dan MA, dia diketahui sebagai siswa
berprestasi. Teman-teman dan para guru di sekolah mengakui kepintarannya. Dia
pintar bahasa Inggris, Fisika, Matematika, Kimia, Sejarah, dan beberapa bidang
yang lain. Selain prestasi akademik, ada banyak prestasi non-akedemik yang
dikantongi. Juara pidato bahasa Inggris Class Meeting, pidato bahasa Inggris
Se-Madura, dan prestasi yang lain. Bahkan, pernah menjadi delegasi lomba bahasa
Inggris Se-Jawa Timur. Tahun 2010 dia pun dipercaya menjadi ketua klub bahasa
Inggris, namanya English Club (EC). Aneh jika dia tidak lulus, bukan?
Keputusan yang terpampang membikin nurani tidak
membenarkan. Saat ini dia ingin memastikan benar atau tidak, asli atau palsu,
nilai yang terkesan ganjal. Kantor fakultas bahasa Inggris tak jauh dari ruang
kuliah. Hanya saja lima langkah sudah tiba. Biasanya Bapak Holy Person
duduk-duduk di meja dosen sambil ditemani koran, atau buku-buku bacaan. Maklum
dia “kutu buku”. Begitu orang lain menberi julukan. Setiap tutur katanya selalu
disandarkan pada referensi-referensi buku atau surat kabar yang dibaca. Selain
bapak pernah menyelesaikan S1 di dalam negeri INSTIKA, dia raih Magister yaitu
S2-nya di luar negeri yaitu di Oxford University melalui biaya siswa penuh.
Ceritanya. Sejak meraih gelar Magister dan dinobatkan
sebagai mahasiswa terbaik, banyak para mahasiswi di kampusnya yang terkejut,
hingga mereka berani megadaikan cinta mereka. Sayangnya, dia menolak. Sekalipun
mata memandang mereka terlihat cantik. Satu pun tak mampu mengetuk nurani.
Inginya mereka jadi teman saja. Tak lebih. Rasa kasihan ada, tapi itulah cinta.
Sulit dilogikakan. Jika anda adalah menjadi penilai musti bilang, “Sungguh rugi
bapak menolak cinta mereka.”
Nah, sekarang dia diangkat menjadi dosen di kampus dekat
rumahnya. Dia singgle. Sedangkan, dia berusia 25 tahun. Saat-saatnya
cari pasangan untuk menjalani pernikahan. Tapi, siapa? Teman-temannya dulu?
Perempuan sekitar rumah yang sering berkeliaran di dapan rumahnya? Atau salah
satu mahasiswi di kampus? Sekalipun usia segitu, banyak orang menilai wajah
bapak dosen tetap tampak muda, anggun dan elok dipandang mata. Dia awet
muda.
Entah. Perempuan yang selalu hadir kala merenung, nulis,
tidur, hingga tatapan saat menyampaikan kuliah, adalah mahasiswinya sendiri.
Dia Naila. Mahasiswi semester 1 Jurusan Sastra Inggris. Sulit mengurai. Alasan apa yang mampu melunakkan bapak dosen.
Pokoknya sejak kali masuk kampus, gelagat bapak kelihatan ada berbeda
dibandingkan jauh hari sebelumnya. Dari baca-baca buku, jadi sering merenung.
Dari nulis opini atau artikel, jadi giat belajar nulis puisi yang kental dengan kata-kata puitis atau sastra.
“Assalamu’alaikum,” sapa Naila lirih.
“Waalaikum salam. Please come in.” Bapak dosen
mempersilahkan.
Bapak dosen sedang sibuk mengecek berkas-berkas.
Kelihatannya tidak bisa diganggu. Pandangan fokus pada kertas-kertas serabutan.
Kedatangan mahasiswinya kurang mendapat pelayanan serius. Tapi, saat pandangan
dialihkan dan terlihat Naila yang datang, seketika itu pula dia berhenti seraya
mempersilahkan duduk. Seakan-akan dia tak mengalihkan pandangan. Fokus pada dia
seorang.
Sambil duduk-duduk, dia berujar, “What can I help
you, Nay?”
“About my UAS. Bapak kasih saya nilai C. Jadi
saya diputuskan tidak lulus,” keluh Naila.
“Ya memang gitu adanya,” jawab bapak dosen.
“Tapi... saya pikir jawaban itu benar, sir. Terus
kenapa bapak kasih nilai jelek?” tanyanya memaksa.
“K-a-r-e-n-a aku yang pantas menjadi jawaban itu.”
Kata-katanya terbata-bata.
“Maksud bapak?!” tanyanya sedikit tidak mengerti.
“Aku. Holy Person. You must answer my name.”
Ucapnya blak-blakan.
“Lho, kok bisa bapak bilang gitu? Apa hubungan bapak
denganku?”
Sejenak dia diam. Tak menggubris pertanyaan tadi. Dengan
hati kesal, dia bilang, “Anda harus ikut remedi.”
“Remedi?” tanyanya terkejut.
“Ya. Anda harus ikut remedi.”
“Kalo itu sudah keputusan bapak, aku
terima,” ucapnya seakan-akan dipaksakan.
“Terus di mana tempatnya?” tanyanya kemudian.
“Di restoran.”
“Restoran?!” gumamnya kaget. Terkesan aneh. Remedi aja
di tempat gitu. Kurang pantas, kesannya.
Naila keluar. Di balik pintu kantor pandangan akan
dirinya semakin remang-remang. Seakan-akan merasa iba. Tapi, karena rasa kesal,
dan marah dikit, perkataan memaksa dan kurang pantas diumbar.
* * *
Di pagi-pagi buta, Naila tiba di restoran yang diminta bapak dosen. Pengunjung belum memenuhi ruang restoran. Hanya saja segelintir orang dan para pelayan yang sibuk goreng-goreng ikan, dan masak. Di sela-sela menatap udara dingin, diambillah ponsel yang masih terdekap di dalam ransel yang digendongnya. Diteleponlah Abang yang sedang menjalani studinya di Harvard University.
“Abang,” sapanya lirih.
“Ade’? Udah bangun pagi-pagi,” basa-basinya perhatian.
“Pastinya Bang. Sekarang aku ada di restoran,” ucapnya.
“Beli-beli makanan? Makan yang banyak, biar gemuk.
Nanti....”
Dia memotong. “Bukan beli makanan, tapi....” Tak dapat
melanjutkan perkataannya.
“Tapi apa?” tanyanya penasaran.
“Itu Bang, bapak dosen kasih Naila remedi.”
“Lho kok bisa remedi? Naila udah nakal ya?”
“Bukan. Ceritanya gini. Saat aku UAS, bapak dosen kasih
soal. Soalnya, ‘Siapakah yang anda cintai?’ Ya aku jawab Abang Khalil. Tapi,
saat pengumuman nilai ditempelkan, aku diputuskan tidak lulus. Dan anehnya
Bang, saat Naila tanya langsung pada bapak dosen. Jawabanya, karena aku tidak
menjawab dirinya. Ya bapak Holy Person itu.” Jelasnya serius.
“Siapa sih dosennya?” tanyanya agak sedikit marah.
“Bapak Holy Person.”
“Boleh kirimi nomor hp-nya? Tak kutelepon. Dan tanyakan
apa sebenarnya maksud si dosen itu.”
Nomor hp dikirim. Tak langsung ditelepon tapi masih
nunggu waktu yang tepat. Mungkin, dia sibuk dengan studinya di luar negeri
sana.
Sambil duduk di kursi, dia menunggu kehadiran bapak
dosen. Sayang masih belum datang. Jam telah menunjuk pukul 07.00. Dibilang lama
dia menunggu. Tapi, ia jalani semua ini dengan sabar. Kemudian, bapak dosen
tergopoh-gopoh berjalan menuju ke dalam restoran. Sambil mengedar-edarkan
pandangan, Naila panggil, “I’m here, sir.” Bapak dosen menuju dan
mendekati meja di pojok sana.
Mereka duduk saling bertatapan. Pandangan aneh tidak
terhapus sepenuhnya, bahkan menjadi-jadi
pada diri bapak dosen.
“Naila sudah siap ikut remedi?” tanya bapak dosen sok
tegas.
“Iya, sir.”
“Nih soalnya.” Lembar soal diberikan. Dibaca. “Masihkah
anda berpegang teguh atas kometmenmu?” Satu pertanyaan. Terkesan gampang. Tapi,
sulit tangan menulis jawabannya. Apa boleh buat, akhir-akhir jawaban dieja, sekalipun
terkesan berat. Ia tetap atas pendiriannya. Ia tak ingin mengantikan posisi
Abang dengan orang lain, terutama bapak dosen sendiri.
Membaca secara langsung tulisan itu, wajah bapak dosen
memerah. Kelihatannya ia marah. Rasa khawatir timbul pada diri Naila. Lalu
diteleponlah si Abang.
“Aduh, aku takut. Si dosen, wajahnya memerah. Marah
mungkin.” Dia mengadu jujur.
“Tunggu. Aku akan phone si dosen itu.”
Panggilan ditutup. Tak lama, ponsel bapak dosen
berdering. Diyakini si Abang sedang nelepon. Diangkatlah.
“Hallo, siapa ya?” tanya bapak dosen pelan.
“Ni benar dengan Bapak Holy Person?” tanya si Abang
penuh teka-teki.
“Iya. Ini siapa?”
“Aku kekasihnya Naila. Aku dengar bapak bertindak
sewenang-wenang. Itu benar kan?”
“Maksudnya?”
“Bapak jangan pura-pura tidak tahu. Aku dengar semuanya
dari Ade’ku.”
“Emangnya kenapa?”
“Bapak jangan sok kuasa. Sekalipun, predikat dosen telah
bapak raih. Kelakuan bapak yang tidak adil, kalau masih tetap begini, aku
laporkan pada bapak rektor. Biar bapak dipecat secara tidak terhormat,”
kecamnya pedih.
Bapak dosen diam. Genggaman ponsel mendekap di
telinganya. Dia berhenti agak lama. Seakan-akan ada sesuatu yang dipikirkan.
“Maafkan aku ya. Aku kira semua jawaban Naila tidak
serius. Aku kira dia belum punya seseorang. Aku stop berbuat segitu.” Bapak
dosen sadar.
Dengan kata maaf tadi, panggilan diakhiri. Tak banyak
berpikir, dia bilang dengan nada menyesal, “Maafkan aku Nay, kalau semua
kelakuan aku adalah salah. Sekali lagi minta maaf. Untuk kali ini saudari
dinyatakan lulus.”
Mendengar penjelasan bapak dosen, Naila bangga. Ternyata
dia memperoleh nilai A. Sungguh nilai yang amat baik.
Dia berterima kasih, sekalipun bapak dosen merasa sakit
memendam rasa ini. Pedih.
* * *
Hemz, kita sadar kalau semua cerita di atas hanya dongeng. Dongen untuk menepis kepenakan. Tawa menghiasi suasana usai cerita. Asyik![]
No comments:
Post a Comment