Tuesday, June 30, 2015

Juru Dongeng



Para pendongeng sedang asyik menggadai ceritanya. Mereka seakan-seakan menjadi yang sebenarnya. Hingga, cerita itu terkesan serius. Toh, kadang-kadang geli karena terkesan lucu. Ini dongengnya.

Di suatu tempat (tak sempat disebut namanya) didirikanlah kampus yang memuat satu mahasiswi dan satu dosen laki-laki. Si dosen yang terkenal mahir dalam bidangnya, bahasa Inggris, banyak orang memanggilnya “Bapak Holy Person”. Sungguh nama panggilan yang ‘ngingris’. Juru dongeng sebut nama mahasiswinya, Naila. Seorang mahasiswi yang cantik, pintar, tapi nyentrik.

“Sekarang pelajaran apa bapak?” tanya Naila mengawali pembicaraan.

“Bahasa Inggris,” jawab bapak dosen dengan tenang.

“Terus, bab apa? Tentang apa?” tanya Naila mencerocos.

Tak ingin kalah, bapak dosen melayani setiap pertanyaan yang terus muntah. “Karena sekarang masih pertemuan pertama, kita akan belajar introduction. Yaitu perkenalan. Paham?”

“Iya bapak.”

“Dipersilahkan. Perkenalkan diri anda, alamat, cita-cita dan lain-lain. Please!

My name is Naila Aljazilah. My freinds call me “Naila”. My ideal is I want to go to Sydney. My hobby is reading. That’s all, sir. Thanks....” Sungguh pekernalan sederhana. Kalimatnya pun pakai bahasa yang tak sulit dimengerti. Dia duduk kembali sejak berdiri sejak kali dosen suruh dia maju ke depan untuk memperkenalkan dirinya. Sejatinya, perkenalan itu hanya untuk si dosen saja. Kan, mahasiswanya hanya satu orang.

“Terus, siapa orang yang saudari sukai?” Kali pertama mereka jumpa, pertanyaannya sudah terkesan aneh. Tidak beres. Sudah tak kenapa. Layani saja. Biar tak ngambek. Batinku bergumam risih.

“Eeeem, ada bapak,” mulutku sedikit tercekat, “K-H-A-L-I-L.” Dia berucap terbata-bata.

Mendengar jawaban polos, raut wajah dosen tiba-tiba kelihatan pucat. Seakan-akan ada sesuatu yang disembunyikan di balik semunya. Tapi, tak sampai dia berpikir panjang hingga mengurus. Pelajaran dilanjutkan.

“Pelajaran selanjutnya, reading. Ucapkan kalimat atau kata berikut sebagaimana aku baca. Do you love me?” bacanya pada teks dengan tatapan fokus pada buku yang tergeletak di hadapannya.

Semakin kentara keanehan pada diri si dosen. Masa kalimat yang dijadikan contoh tentang tawaran cinta seseorang pada dirinya sendiri. Karena sebagai mahasiswa, terpaksa mengikuti apa pun perintah dosen, ansalkan itu baik. Menampik bisa-bisa berakibat fatal. Tidak lulus, bisa jadi. Sehingga, wajib ngulang pada semester berikutnya. Gawat!

Do you love me?” ucapanya dengan kalimat yang sama. Terdengar fasih mengucapkan setiap kata per-kata. Terlihat skill kalau Naila mahir bahasa Inggris. Bisa saja dia, anggapan si dosen, ikut kursus di luar jam kuliah jauh hari sebelum masuk kampus. Nah, bapak dosen tak perlu banyak buang tenaga untuk ngajar. Mungkin segelintir poin yang belum dikenal atau diketahui disampaikan. Takjub? Bisa jadi.

Tak begitu lama, pelajaran diakhiri. Dosen keluar kampus dengan langkah yang dibuat-buat. Sepertinya, dia sok bergaya artis atau model yang show up di depan publik. Tak penting memikirkan dosen aneh. Segelintir pertanyaan bertandang. Dia bener dosen atau musafir cinta? Gimana seandainya nanti dia bersikap aneh-aneh? Kekhawatiran membukam pikiran berpikir jernih. Keruh. Kiranya tak kuasa menepis. Bisa saja, dia berbuat semaunya, karena posisinya sebagai dosen yang lebih kuasa.

Bagi Naila itulah hantu yang terus mengganggu bahkan bergentayangan kalau imajinasi dibiarkan lepas. Seorang Abang terbersit di benaknya. Akhirnya, rasa khawatir mampu diredam sedikit demi sedikit. Abang menjadi senjata yang siap membela dan menjaga setiap kali dia melangkah. Awas you ya.... Tak kulaporin sama Abang.

* * *

Waktu mencatat pertemuan berlangsung lebih dari sekali. Tak sempat dihitung. Sejatinya berapa kali pertemuan? Entahlah. Tak penting tahu secara pasti. Pokoknya semua pertemuan, tak pernah absen, sekalipun satu kali. Keaktifan hal terpenting dalam hidup Naila. Yang jelas, cita-cita pergi ke Sydney salah satu motivator hidup. Sebab, tanpa perjuangan dan ketulusan niat yang dibangun dan ditanam dalam-dalam, sulit betah di kampus sana yang tidak sembarang menerima mahasiswa. Hanya mahasiswa yang berbakat dan berprestasi yang layak masuk di sana. Bukankah begitu?

Perjumpaan mereka kini waktunya menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS) kampus. Bisa jadi ujian akhir ini adalah pertemuan terakhir dengan Bapak Holy Person, jika untuk semester berikutnya ia tidak ngajar kembali, baik dalam mata kuliah yang serupa atau mata kuliah yang lain. Jika kesempatan masih berpihak, rektor akan kasih kesempatan mengajar pada semester berikutnya.

Di hari UAS berlangsung, si dosen membacakan pertanyaan. Mahasiswi terlihat siap berujian. Dia duduk di depan dosen dengan sopan. Sedikit pun tak ada celoteh.

“Siapakah yang anda cintai?” untuk soal yang pertama. Si mahasiswi terkejut mendengar soal yang terkesan ganjal. Kedok dosen semakin tampak. Dulu awal kali pertemuan, tanyanya aneh-aneh, kini di UAS diulang kembali.

“Selamat mengerjakan.” Ucapnya pelan.

“Hanya satu soal, sir.

Si dosen mengangguk. Satu? Pikiran Naila dibuat berputar-putar kayak roda. Pening.

Dijawablah.

“Khalil,” tulisnya singkat.

Jawaban selesai. Disertorlah jawaban ke bapak dosen yang santai duduk di kursi. Isapan rokok kretek mengepul. Asap memenuhi ruang kuliah. Aku paling benci orang merokok. Sentak Naila kesal. Inginnya komplain, tapi....

Terus, dia tinggal menunggu waktu pelulusan. Apakah nilai A (excellent) yang diperoleh? B (good)? C (minimum)? Nurani yakin nilai A dia akan raih. Karena tak ada lain seseorang yang dicintai melainkan hanya dia seorang. Khalil. Cinta telah memikat hubungan mereka. Bahkan, ketulusan serta kepercayaan bersemi demi kekekalan cinta.

Beberapa hari telah menunggu. Kini pengumuman pelulusan ditempelkan di papan pengumuman dekat kampus tempat dia belajar. Sedikit pun tak ada perasaan gugup, keder, atau khawatir. Nanti dia akan nelepon Abang Khalil setelah tahu nilai pelulusan. Dia akan bilang bahwa dirinya “lulus murni”. Musti si Abang bangga dengan impormasi itu. Semua hal yang terjadi, baik bahagi, sedih, atau apa pun, ingin selalu dicurhatkan pada si Abang. Dia sadar bahwa dia adalah orang laik menjadi media curhat. Hingga, kesan, pesan, bahkan kritik serta motivasi didengar. Seakan-akan ada poin lebih yang diperoleh. Dia merasa bangga kenal dan punya Abang yang dikira perhatian menjaga dirinya, apalagi telah menjadi kekasih yang mampu menghidupkan cinta sepanjang masa.

Tiba di depan kampus, dilihatlah satu lembar kertas yang ditempel di papan. Kaki bergegas menuju tempelan kertas itu. Makin dekat melangkah, makin jelas tulisan yang berjajar dengan pakai huruf-huruf hasil diketik komputer pakai font Times New Roman.

“Hah....” Dia terkejut membaca kata perkata. Nilai UAS kemarin memutuskan bahwa mahasiswi dengan nama Naila Aljazilah TIDAK LULUS. Hasil nilai, C. Dia tahu bahwa hanya nilai A dan B-lah yang berhak diluluskan. Pikiran menerawang. Pusing. Pening. Mumet. Sepatah tanya digadai, “Kok bisa?!”

Dia tetap berdiri di depan papan pengumuman. Pertanyaan lain datang silih berganti. Apakah jawabanku salah? Kan Abang Khalil-lah orang yang aku cintai?

Ketidakmengertian tetap membekas kuat di dalam pikiran. Tidak dikira kalau ketidaklulusan akan menjadi nasib sial sejak mengikuti kuliah di kampus. Padahal, lihat nilai materi yang lain, nilainya A-A-A dan B-B-B. Apalagi sejak masih MI, MTs, dan MA, dia diketahui sebagai siswa berprestasi. Teman-teman dan para guru di sekolah mengakui kepintarannya. Dia pintar bahasa Inggris, Fisika, Matematika, Kimia, Sejarah, dan beberapa bidang yang lain. Selain prestasi akademik, ada banyak prestasi non-akedemik yang dikantongi. Juara pidato bahasa Inggris Class Meeting, pidato bahasa Inggris Se-Madura, dan prestasi yang lain. Bahkan, pernah menjadi delegasi lomba bahasa Inggris Se-Jawa Timur. Tahun 2010 dia pun dipercaya menjadi ketua klub bahasa Inggris, namanya English Club (EC). Aneh jika dia tidak lulus, bukan?

Keputusan yang terpampang membikin nurani tidak membenarkan. Saat ini dia ingin memastikan benar atau tidak, asli atau palsu, nilai yang terkesan ganjal. Kantor fakultas bahasa Inggris tak jauh dari ruang kuliah. Hanya saja lima langkah sudah tiba. Biasanya Bapak Holy Person duduk-duduk di meja dosen sambil ditemani koran, atau buku-buku bacaan. Maklum dia “kutu buku”. Begitu orang lain menberi julukan. Setiap tutur katanya selalu disandarkan pada referensi-referensi buku atau surat kabar yang dibaca. Selain bapak pernah menyelesaikan S1 di dalam negeri INSTIKA, dia raih Magister yaitu S2-nya di luar negeri yaitu di Oxford University melalui biaya siswa penuh.

Ceritanya. Sejak meraih gelar Magister dan dinobatkan sebagai mahasiswa terbaik, banyak para mahasiswi di kampusnya yang terkejut, hingga mereka berani megadaikan cinta mereka. Sayangnya, dia menolak. Sekalipun mata memandang mereka terlihat cantik. Satu pun tak mampu mengetuk nurani. Inginya mereka jadi teman saja. Tak lebih. Rasa kasihan ada, tapi itulah cinta. Sulit dilogikakan. Jika anda adalah menjadi penilai musti bilang, “Sungguh rugi bapak menolak cinta mereka.”

Nah, sekarang dia diangkat menjadi dosen di kampus dekat rumahnya. Dia singgle. Sedangkan, dia berusia 25 tahun. Saat-saatnya cari pasangan untuk menjalani pernikahan. Tapi, siapa? Teman-temannya dulu? Perempuan sekitar rumah yang sering berkeliaran di dapan rumahnya? Atau salah satu mahasiswi di kampus? Sekalipun usia segitu, banyak orang menilai wajah bapak dosen tetap tampak muda, anggun dan elok dipandang mata. Dia awet muda.

Entah. Perempuan yang selalu hadir kala merenung, nulis, tidur, hingga tatapan saat menyampaikan kuliah, adalah mahasiswinya sendiri. Dia Naila. Mahasiswi semester 1 Jurusan Sastra Inggris. Sulit mengurai. Alasan apa yang mampu melunakkan bapak dosen. Pokoknya sejak kali masuk kampus, gelagat bapak kelihatan ada berbeda dibandingkan jauh hari sebelumnya. Dari baca-baca buku, jadi sering merenung. Dari nulis opini atau artikel, jadi giat belajar nulis puisi yang kental dengan kata-kata puitis atau sastra.

“Assalamu’alaikum,” sapa Naila lirih.

“Waalaikum salam. Please come in.” Bapak dosen mempersilahkan.

Bapak dosen sedang sibuk mengecek berkas-berkas. Kelihatannya tidak bisa diganggu. Pandangan fokus pada kertas-kertas serabutan. Kedatangan mahasiswinya kurang mendapat pelayanan serius. Tapi, saat pandangan dialihkan dan terlihat Naila yang datang, seketika itu pula dia berhenti seraya mempersilahkan duduk. Seakan-akan dia tak mengalihkan pandangan. Fokus pada dia seorang.

Sambil duduk-duduk, dia berujar, “What can I help you, Nay?

About my UAS. Bapak kasih saya nilai C. Jadi saya diputuskan tidak lulus,” keluh Naila.

“Ya memang gitu adanya,” jawab bapak dosen.

“Tapi... saya pikir jawaban itu benar, sir. Terus kenapa bapak kasih nilai jelek?” tanyanya memaksa.

“K-a-r-e-n-a aku yang pantas menjadi jawaban itu.” Kata-katanya terbata-bata.

“Maksud bapak?!” tanyanya sedikit tidak mengerti.

“Aku. Holy Person. You must answer my name.” Ucapnya blak-blakan.

“Lho, kok bisa bapak bilang gitu? Apa hubungan bapak denganku?”

Sejenak dia diam. Tak menggubris pertanyaan tadi. Dengan hati kesal, dia bilang, “Anda harus ikut remedi.”

“Remedi?” tanyanya terkejut.

“Ya. Anda harus ikut remedi.”

“Kalo itu sudah keputusan bapak, aku terima,” ucapnya seakan-akan dipaksakan.

“Terus di mana tempatnya?” tanyanya kemudian.

“Di restoran.”

“Restoran?!” gumamnya kaget. Terkesan aneh. Remedi aja di tempat gitu. Kurang pantas, kesannya.

Naila keluar. Di balik pintu kantor pandangan akan dirinya semakin remang-remang. Seakan-akan merasa iba. Tapi, karena rasa kesal, dan marah dikit, perkataan memaksa dan kurang pantas diumbar.

* * *

Di pagi-pagi buta, Naila tiba di restoran yang diminta bapak dosen. Pengunjung belum memenuhi ruang restoran. Hanya saja segelintir orang dan para pelayan yang sibuk goreng-goreng ikan, dan masak. Di sela-sela menatap udara dingin, diambillah ponsel yang masih terdekap di dalam ransel yang digendongnya. Diteleponlah Abang yang sedang menjalani studinya di Harvard University.

“Abang,” sapanya lirih.

“Ade’? Udah bangun pagi-pagi,” basa-basinya perhatian.

“Pastinya Bang. Sekarang aku ada di restoran,” ucapnya.

“Beli-beli makanan? Makan yang banyak, biar gemuk. Nanti....”

Dia memotong. “Bukan beli makanan, tapi....” Tak dapat melanjutkan perkataannya.

“Tapi apa?” tanyanya penasaran.

“Itu Bang, bapak dosen kasih Naila remedi.”

“Lho kok bisa remedi? Naila udah nakal ya?”

“Bukan. Ceritanya gini. Saat aku UAS, bapak dosen kasih soal. Soalnya, ‘Siapakah yang anda cintai?’ Ya aku jawab Abang Khalil. Tapi, saat pengumuman nilai ditempelkan, aku diputuskan tidak lulus. Dan anehnya Bang, saat Naila tanya langsung pada bapak dosen. Jawabanya, karena aku tidak menjawab dirinya. Ya bapak Holy Person itu.” Jelasnya serius.

“Siapa sih dosennya?” tanyanya agak sedikit marah.

“Bapak Holy Person.” 

“Boleh kirimi nomor hp-nya? Tak kutelepon. Dan tanyakan apa sebenarnya maksud si dosen itu.”

Nomor hp dikirim. Tak langsung ditelepon tapi masih nunggu waktu yang tepat. Mungkin, dia sibuk dengan studinya di luar negeri sana.

Sambil duduk di kursi, dia menunggu kehadiran bapak dosen. Sayang masih belum datang. Jam telah menunjuk pukul 07.00. Dibilang lama dia menunggu. Tapi, ia jalani semua ini dengan sabar. Kemudian, bapak dosen tergopoh-gopoh berjalan menuju ke dalam restoran. Sambil mengedar-edarkan pandangan, Naila panggil, “I’m here, sir.” Bapak dosen menuju dan mendekati meja di pojok sana.

Mereka duduk saling bertatapan. Pandangan aneh tidak terhapus  sepenuhnya, bahkan menjadi-jadi pada diri bapak dosen.

“Naila sudah siap ikut remedi?” tanya bapak dosen sok tegas.

“Iya, sir.”

“Nih soalnya.” Lembar soal diberikan. Dibaca. “Masihkah anda berpegang teguh atas kometmenmu?” Satu pertanyaan. Terkesan gampang. Tapi, sulit tangan menulis jawabannya. Apa boleh buat, akhir-akhir jawaban dieja, sekalipun terkesan berat. Ia tetap atas pendiriannya. Ia tak ingin mengantikan posisi Abang dengan orang lain, terutama bapak dosen sendiri.

Membaca secara langsung tulisan itu, wajah bapak dosen memerah. Kelihatannya ia marah. Rasa khawatir timbul pada diri Naila. Lalu diteleponlah si Abang.

“Aduh, aku takut. Si dosen, wajahnya memerah. Marah mungkin.” Dia mengadu jujur.

“Tunggu. Aku akan phone si dosen itu.”

Panggilan ditutup. Tak lama, ponsel bapak dosen berdering. Diyakini si Abang sedang nelepon. Diangkatlah.

“Hallo, siapa ya?” tanya bapak dosen pelan.

“Ni benar dengan Bapak Holy Person?” tanya si Abang penuh teka-teki.

“Iya. Ini siapa?”

“Aku kekasihnya Naila. Aku dengar bapak bertindak sewenang-wenang. Itu benar kan?”

“Maksudnya?”

“Bapak jangan pura-pura tidak tahu. Aku dengar semuanya dari Ade’ku.”

“Emangnya kenapa?”

“Bapak jangan sok kuasa. Sekalipun, predikat dosen telah bapak raih. Kelakuan bapak yang tidak adil, kalau masih tetap begini, aku laporkan pada bapak rektor. Biar bapak dipecat secara tidak terhormat,” kecamnya pedih.

Bapak dosen diam. Genggaman ponsel mendekap di telinganya. Dia berhenti agak lama. Seakan-akan ada sesuatu yang dipikirkan.

“Maafkan aku ya. Aku kira semua jawaban Naila tidak serius. Aku kira dia belum punya seseorang. Aku stop berbuat segitu.” Bapak dosen sadar.

Dengan kata maaf tadi, panggilan diakhiri. Tak banyak berpikir, dia bilang dengan nada menyesal, “Maafkan aku Nay, kalau semua kelakuan aku adalah salah. Sekali lagi minta maaf. Untuk kali ini saudari dinyatakan lulus.”

Mendengar penjelasan bapak dosen, Naila bangga. Ternyata dia memperoleh nilai  A. Sungguh nilai yang amat baik.

Dia berterima kasih, sekalipun bapak dosen merasa sakit memendam rasa ini. Pedih.

* * *

Hemz, kita sadar kalau semua cerita di atas hanya dongeng. Dongen untuk menepis kepenakan. Tawa menghiasi suasana usai cerita. Asyik![]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...