“Kalo Ade’ mau berangkat ke pondok, pamit dulu ama Abang,” titahku saat
nelepon di Warpostel PP. Annuqayah Lubangsa.
“Penting kiranya tah?” sanggahnya sedikit mementahkan kalimatku.
“Iya, Ade’.” Aku jawab dengan nada pelan.
“Insya Allah, Abang.”
Percakapan di atas mengingatkanku pada sebuah cerita yang aku tulis dalam diary
(31/8/2013).
Suatu malam rapat sedang berlangsung di asrama BPBA English. Kira-kira
pukul sepuluhan teman-teman ngumpul dan rapat dimulai. Sekretaris baru saja
membuka rapat dengan sapaan salam, hingga menyebut agenda yang hendak
diperbincangkan. Selanjutnya, diserahkan kepada ketua sepenuhnya. Ketua
meneruskan, sekaligus memandu jalannya rapat. Sambil mempersilahkan peserta
rapat komentar atau menyampaikan pendapat, aku lebih pilih diam, tak banyak
berceloteh. Kutunggu panggilan telepon di Warpostel. Panggilan merambat
tebing-tebing pondok, sayang tidak begitu jelas karena tertindih kegaduhan
suara peserta rapat yang kian menghangat. “Biar mereka yang berperan di sana.
Aku lebih baik fokus pada panggilan dari arah sana. Jika aku dipanggil, pasti
dari Ade’. Tapi...,” gumam batinku.
“Tunggu!,” ucapku menyetop perjalanan rapat yang kian memanas. “Aku dengar
ada panggilan telepon untuk orang BPBA bahasa Inggris.”
Teman-teman yang mulai tadi berapi-api menyampaikan pendapat, seketika itu
berhenti. Suasana menjadi sunyi. Mereka menunggu panggilan yang kedua kalinya
sebagai pengokohan.
“Kepada... di BPBA bahasa Inggris, ada panggilan telepon.” Panggil itu
terkesan samar.
“Itu kan, anak BPBA, tapi siapa ya?” tanyaku kebingungan karena orang yang
dipanggil tak begitu jelas di pendengaran.
“Mungkin kamu,” tunjuk teman pada orang yang duduk di depannya.
“Kamu!”
“Yakin kamu!”
Mereka saling tuding. Tapi, salah seorang dari mereka tak langsung
beranjak. Mereka seakan-akan tidak yakin jika mereka yang dipanggil.
“Kamu Lis.” Ucapku memastikan pada Muhlis yang kebetulan hadir di rapat
itu. Barusan aku dengar-dengar sebuatan, “Li....” Huruf berikutnya kabur.
Putusanku meragu. Setengah percaya, setengah tidak jika sebutan itu adalah
namaku. Udah. Biar Muhlis saja yang pergi ke sana. Jika aku yang terpaksa
penuhi panggilan itu dan ternyata salah, diriku merasa malu. Karena, selama
tinggal di pondok jarang ada panggilan untukku. Mungkin, hanya dua atau tiga
kali saja.
Tak lama Muhlis berangkat. Terpaksa permisi menuju arah suara panggilan.
Rapat diteruskan usai berhenti sejenak, karena terjadi kerisuhan kecil barusan.
“Udah lanjutkan saja. Anggap saja itu sponsor.” Sebagian mulai berpendapat.
Rapat berlanjut seperti semula. Kehangatan rapat tak langsung tersentuh.
Tapi, semakin lama, semakin menjadi-jadi. Memang seperti itu rapat. Jika belum
terdengar pendapat nyeleneh dan kritis, peserta rapat yang lain kurang
terpancing untuk berpendapat. Coba satu atau beberapa peserta menyampaikan
asumsi nyentrik, apalagi irrasional, aku sendiri pun ikut terpancing membantah.
Hingga, itu akhirnya mentah. Biar gagasanku saja yang diterima pada kesimpulan
rapat nanti. Sedikit egois.
Muhlis tergepoh-gepoh kembali ke asrama. Gelagat tubuhnya tampak dari
dalam ruangan. Pikiran bergumam, Kok cepat banget?!
“Iya!” komentar teman yang lain.
“Bukan aku, tapi sampean,” ucapnya menunjukku. Aku?! Heran
dan bertanya-tanya.
“Dari siapa, Lis?” tanyaku penasaran.
“Kurang tahu juga. Pokoknya bukan aku. Mungkin saja dari Mbak.”
“E-Mbak?” gumamku lirih. “Maaf, aku pamit,” ujarku seraya beranjak menuju
Warpostel.
Batin bergumam. Pasti panggilan ini dari Ade’. Seingatku, dia kasih kabar
kalau rencana mondok pada tanggal 15 September 2013 diundur ke tanggal 1. Malam
ini, tanggal 31 Agustus 2013. Bisa jadi ia penuhi permintaanku. Pamit.
“Ada panggilan telepon, pak?” tanyaku pelan.
“Benar, sampean.” Sahut salah satu penjaga Warpostel.
“Dari paserah, Kir?” tanyaku pada Bakir yang familiar dengan
panggilan “Kir” atau “Bakir”.
“Katanya, butuh sama sampean. Bilangnya ada kepentingan bahasa
Inggris,” jelas Bakir tanpa menyebut nama pemanggilnya.
Ponsel berdering.
Diangkat. “Paserah?” tanyanya dengan logat Madura. Terdengar di
telinga suara perempuan bercakap-cakap. “Neka’” bilangnya seraya
menyodorkan ponsel dalam keadaan nyala.
Kurengkuh ponsel dan letakkan di telinga kanan. “Hallo, assalamu’alaikum.”
Aku menyapa dengan salam.
“Wa’alaikum salam. Ini aku, Bang. Naila.” Sebutnya.
“Kamu...” ucapku kaku. Terkesan malu sebut “Ade’” karena di sampingku
banyak teman-teman yang sedang duduk menunggu antrian nelepon.
“Abang... Naila akan berangkat besok.”
“Papejeng ajer kie.[1]”
“Aku ngerti kenapa Abang berbicara begitu. Abang tidak bebas bicara
gini gitu, kan? Hihihi”
“Iya. I’m longing of you.”
“Apa tuh, longing of?”
“Longing of is miss.”
“Aku punya juga. I feel blue you.”
“Apa itu?”
“Sama dengan longing of.”
Sejenak aku free berceloteh. Bilang kata cinta segala. Sebab, pakai
bahasa Inggris. Orang di sekelilingku tidak ngerti. Ngiranya aku bicara apaan.
Hingga mereka tak jadi nguping.
“Orang yang ada di sisi Abang ngerti tidak jika Abang bicara bahasa
Inggris?”
“I think they don’t understand.” Terkesan lebih leluasa pakai
bahasa asing dibanding pakai bahasa Indonesia, atau Madura, yang mudah bikin
mereka mafhum.
“Bang, gimana penafsiran bait Al-Fiyah-nya?”
“Mau belajar Al-Fiyah?”
“Bukan. Itu makna yang pernah Abang sebutin sama Naila.”
“Ow itu.” Tembak pikiranku.
“Emangnya... untuk apa?”
“Aduh. Pokoknya Naila butuh.”
Terdengar suara kertas diacak. Seakan-akan, tafsir asmara bait Al-Fiyah
itu ingin dicatat. Mungkin dalam diary-nya.
“Kalya’i wal kafi minibni akramak # wal ya’i wal ha min salihi mamalak.
Artinya, ‘Mulai sejak dulu, aku sudah menyayangimu. Sekarang, tinggal kamu
mengharap atau merindukan apa yang aku pendam atau miliki’.”
“Gimana, Bang?” pintanya diulang.
“Kalya’i....” Kalimat itu dibaca kembali dengan pelan seraya diulang
berkali-kali.
“Makasih Abang.”
“Nih ada lagi yang satunya. Wakullu mudmarin lahil bina yajib # walafdu
majurra kalafdi manusib. Artinya, ‘Setiap hati nurani tidak akan pernah
dusta. Dan tutur kata yang halus laksana kata yang membias dalam hati tersebut’.”
“Nih kalo Abang mau bicara dengan temanku?” tawarnya.
“Siapa?”
“Sapa aja Bang.”
“Hallo siapa ya?” tanyaku dingin.
“Temannya Naila. Sampean siapa?”
“Aku temannya juga.”
“Aku ingin titip dia. Dijaga supaya dia tidak kabur,” ucapku asal-asalan.
“Ow, insya Allah ndak. Pondoknya dekat rumahku.”
“Sampean mondok juga?”
“Nggak mondok.”
“Nailanya mana?” tanyaku.
“Ada di luar.”
Terdengar samar dia panggil Ade’.
“Hallo,” sapa Ade’.
Tak terasa malam semakin larut. Ruang Warpostel menjadi hening. Agak sepi.
Jam segini. Jam 10 kebelakang, waktu tutup. Santri lagi tahu. Waspostel tidak
melayani mereka nelepon. Tapi, aku tetap bertahan dalam obrolan. Penjaganya
lagi duduk di luar. Hanya ada satu santri yang tidur-tiduran seraya ditemani
majalah. Rasa tidak nyaman tiba-tiba timbul andaikan terus dilanjut.
“Eh, Warpostelnya ingin tutup. Udah dulu ya?” Ucapku tak kuasa. Aku yakin,
inginnya obrolan ini berlangsung berlarut malam. Karena, malam itu terakhir dia
pegang ponsel. Besoknya sudah berangkat ke pondok.
“Aduh.... gimana?” gumam batinku bikin aku bingung. Mau berhenti atau
tidak. Dilema.
Usai aku permisi stop dulu, isak tangis terdengar. Tak kuasa menahan rasa
sedih yang sedang menjamah. “Ikh, ikh, ikh.”
“Udah dulu ya?” ucapku. Tak ada respons. Hanya sedu tangis yang mencekam.
“Udah ya,” izinku kembali.
“I-iya Abang.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
Panggilan ditutup. Bayang-bayang tangis tampak jelas di depan mata.
Seakan-akan tak kuasa menyeka air mata yang penuh dengan ketulusan.[]
No comments:
Post a Comment