Keramaian terdengar menyesaki alam sekitar. Transportasi
mondar-mandir di jalan beraspal. Orang-orang berjalan tertatih-tatih.
Kebisingan ini membangunkanku dari lamunan panjang selama di perjalanan.
Alih-alih rumah yang terkesan asing mata memandang, tampak di depanku. Aku baru
sadar kalau aku sudah tiba di rumahku yang konon aku dilahirkan, bermain dengan
teman-teman, makan, hingga umi memboboki menjelang tidur. “Ndok, kita
udah sampai,” ucap si abah sambil menarik tanganku.
Pikiran bergumam. Aku sedang di Situbondo. Dua adik dan umi
menyambut kedatanganku. Senyuman tersungging lihat anak sulungnya kembali
dengan selamat seraya membawa trofi sebagai kenang-kenangan selama menata karir
di Annuqayah. “Umi, hanya ini yang dapat saya berikan,” bisik batinku.
Teman-teman sekolahku dulu mengetahui kedatanganku. Subhanallah. Mereka
masih ingat. Teman yang sering usil. Tiba-tiba mereka kunjung ke rumah. Masa
itu kembali tersulam. Teringat segala cerita sejak masa kecil bermain, hingga
belajar pun bersama. Masih ingat kan? Tanpa ada perasaan sungkan, mereka minta
aku cerita. Cerita selama aku berada di Madura. Mereka ingin menyimak cerita
itu. Nah, aku ceritakan semuanya. Belajar di pesantren yang terlihat sederhana.
Hidup tanpa orang tua, hanya beserta kerabat jauh. Bergurau dengan teman-teman.
Sejak tiba di rumah, ruangan yang dulunya sebagai kamar tidurku sendiri,
kini masih utuh. Tak ada banyak perubahan. Mungkin saja, debu yang hinggap di
sekitar, hingga bikin dinding jadi kusut. Bisa jadi kamar ini kosong dari
penghuni. Abah dan umi berteduh dalam satu kamar yang lain. Apalagi kedua
adikku yang masih kecil tak mau terpisah dari pelukan si umi. Kadang tidur
masih butuh dibobokin. Itu pun bobok di kamar umi. Kamarku hanya penuh dengan
kitab-kitab turats milik abah. Dipikir-pikir tidak kenapa. Aku akan menjadi
penghuni sementara. Ini kamar pemberian abah dan umi. Tak baik disia-siakan.
Disyukuri saja.
Di sana diary yang berisi tulisan-tulisan Abang masih terdekap di
pangkuan. Seakan-akan buku catatan harian itu tak ingin lepas. Tulus menjadi
media yang mengingatkan seorang Abang yang kemarin aku temui. Kini ia tidak
ikut ngantar kepulanganku ke sini. Tatapan wajahnya tak kuasa ditepis. Wajah
itu alih-alih hadir. Pikiran jadi mumet. Dengan cara bagaimana ngobatin
kepeningan ini? Tidur, kerena capek baru dari perjalanan? Renungkan saja, biar
itu menjadi mimpi saat tidur nanti?
Tapi, aku teringat dengan diary ini. Tak terasa pikiran tiba-tiba
tertuju pada buku yang sama. Sepertinya, ada magnet yang mampu mendorong tangan
otak-atik lembar perlembar. Dibukalah. Satu halaman yang penuh dengan tulisan
Abang, terlihat jelas tulisan yang isinya tetang ketulusan. “Kebahagian Ade’
menjadi kebahagian Abang. Sebaliknya, kesedihan Ade’ menjadi kesedihan Abang.
Toh, Abang bukan siapa-siapanya Ade’.” Mata berkunang-kunang. Pikiran
menerawang. Bacaan berhenti dengan sendirinya. Diraihlan ponsel yang dari tadi
bungkam. Aku langsung telepon Abang. Perasaan sadar tidak laik menafsiri
kalimat tadi. Jadinya, tangis terisak-isak. Air mata meleleh membasahi muka. Abang...!
Diary itu menjadi cerita
yang membekas dalam nurani. Itu buku yang aku buka
dan baca awal kali tiba di kamar rumahku. Butiran air mata menjadi tasbih atas
isyarat perasaan rindu yang tak kuasa ditepis. Isak ini bukanlah seperti tangis
sejak usia kanak-kanak dulu. Misal, nangis karena diomeli orang tua, guru, atau
digojlok teman-teman.
Tak hanya bakat yang ada kelasnya, tangisan manusia pun ada mutunya.
Teringat dengan tangisan orang awam dan sufi. Sungguh tampak berbeda. Awam
menangis karena kehilangan harta, terhantam balak, atau menerima ujian. Mereka
tidak ingin hidupnya tersentuh dengan aneka sunah Tuhan. Maunya hidup yang
penuh dengan bingkai kebahagian melulu, sayang tak mau berusaha keras.
Mustahil. Bagi orang sufi, apa pun yang tampak atau yang terjadi di masa silam,
sekarang, atau di masa mendatang, adalah ujian Tuhan bagi hambaNya yang
disayang. Sufi tersedu-sedu menangis jika selama hidup sama sekali tak
dihadapkan dengan ujian, baik ruwet atau biasa-biasa saja. Hidup terasa gamang.
Tanpa tantangan demi mengukur kedewasan hidup. Beda bukan?
Dalam perumpamaan yang lain, tak semuanya tangisan mengisyaratkan
kesedihan. Ada kalanya seseorang menangis karena suatu kebahagian yang
membingkainya. Lihatlah seorang yang meraih prestasi atau dipertemukan dengan
keluarganya sejak sekian lama tidak jumpa. Air mata jatuh tanpa terasa. Mereka
benar-benar tidak kuasa menahan “karunia Tuhan yang tidak terbilang besarnya” (nailah
jazilah).
Nah, jangan gampang menuding seseorang yang sedang menangis. Dia
terlalu cengeng. Tak dewasa. Masih terlalu kekanak-kanakan. Justru kita
sendiri akan menjadi malu karena keterlaluan mengambil keputusan.
Menangis merupakan bentuk rasa syukur seorang hamba pada TuhanNya. Itu
syukur secara praktek, bukan sekedar berucap “Al-Hamdulillah” doang. Dinilai
baik syukur di hadapanNya. Sebab, tetesan air mata jatuh bukan tanpa perjuangan
untuk meneteskannya. Butuh perasaan mendalam dan perenungan yang tajam pada
segala isi alam. Merenungkan adalah langkah untuk kontinu mengingat Sang
Khalik. Ternyata masih ada Dzat yang menciptakan dan mengawali. Dialah Yang
Maha di atas segalaNya.
Begitu pula, tangisan karena cinta. Cinta seorang hamba pada kekasihnya.
Dia menangis karena rindu. Segala harap dipanjatkan kepada Sang Pencinta (al-wadud).
Cinta Tuhan menjadi anugerah yang dapat memikat cinta hambaNya pada jalan yang
lurus (sirat al-mustaqim). Sejatinya, si hamba itu belajar dari sini.
Sehingga, dengan motivasi cinta, tak merasa terpaksa berbuat. Misal, memenuhi
segala yang diinginkan si kekasih. Tujuan ini demi kebahagiannya. Tak lain.
Thus, si Abang
kelimpungan cari solusi menghentikan isak tangis. Diakuinya. Kali pertama
mendengar seorang perempuan menangis. Andaikan dia sedang di sisiku, niscaya
kuseka lelehan air mata yang mengalir penuh ketulusan. Sayang, isak itu di
ponsel.
“Pokoknya aku kesel. Semua rencanaku jadi gagal setelah mendengar
keputusan umi dan abah. Aku harus mondok lagi,” gerutuku.
“Coba dimusyawarahkan dulu. Siapa tahu mereka berubah pikiran?” tawarnya.
“S-sudah. Aku tak berani bicara. Padahal jauh hari sudah aku susun rencana
itu. Aku ingin kuliah jurusan Sastra Inggris. Inggris sudah jadi jiwaku. Tak
ingin aku berpisah dengannya.” Aku jelaskan.
“Sudah kamu jelaskan pada mereka. Atau tunjukkan bahwa dirimu bisa.”
“Aduh... sulit.” Kata-kata itu membikin pikiran bingung tujuh keliling.
Si Abang menyerah. “Bersabarlah. Siapa tahu itu pilihan terbaik?”
Berhenti dari obrolan itu. Pikiran mumet. Si Abang kelihatan kelimpungan.
Dia harus banyak belajar mengatasi kondisi darurat. Sejatinya, seorang kekasih
mampu menjadi hero kala kekasihnya dalam kepeningan.
Pantaskah dia disebut hero? Padahal dia hanya menjadi penikmat
cerita-ceritanya. Ngatasi masalah, masih kaku. Saatnya introspeksi.[]
No comments:
Post a Comment