Tuesday, June 30, 2015

Inginnya Jadi “Hero”, Tapi...



Keramaian terdengar menyesaki alam sekitar. Transportasi mondar-mandir di jalan beraspal. Orang-orang berjalan tertatih-tatih. Kebisingan ini membangunkanku dari lamunan panjang selama di perjalanan. Alih-alih rumah yang terkesan asing mata memandang, tampak di depanku. Aku baru sadar kalau aku sudah tiba di rumahku yang konon aku dilahirkan, bermain dengan teman-teman, makan, hingga umi memboboki menjelang tidur. “Ndok, kita udah sampai,” ucap si abah sambil menarik tanganku.

Pikiran bergumam. Aku sedang di Situbondo. Dua adik dan umi menyambut kedatanganku. Senyuman tersungging lihat anak sulungnya kembali dengan selamat seraya membawa trofi sebagai kenang-kenangan selama menata karir di Annuqayah. “Umi, hanya ini yang dapat saya berikan,” bisik batinku.

Teman-teman sekolahku dulu mengetahui kedatanganku. Subhanallah. Mereka masih ingat. Teman yang sering usil. Tiba-tiba mereka kunjung ke rumah. Masa itu kembali tersulam. Teringat segala cerita sejak masa kecil bermain, hingga belajar pun bersama. Masih ingat kan? Tanpa ada perasaan sungkan, mereka minta aku cerita. Cerita selama aku berada di Madura. Mereka ingin menyimak cerita itu. Nah, aku ceritakan semuanya. Belajar di pesantren yang terlihat sederhana. Hidup tanpa orang tua, hanya beserta kerabat jauh. Bergurau dengan teman-teman.

Sejak tiba di rumah, ruangan yang dulunya sebagai kamar tidurku sendiri, kini masih utuh. Tak ada banyak perubahan. Mungkin saja, debu yang hinggap di sekitar, hingga bikin dinding jadi kusut. Bisa jadi kamar ini kosong dari penghuni. Abah dan umi berteduh dalam satu kamar yang lain. Apalagi kedua adikku yang masih kecil tak mau terpisah dari pelukan si umi. Kadang tidur masih butuh dibobokin. Itu pun bobok di kamar umi. Kamarku hanya penuh dengan kitab-kitab turats milik abah. Dipikir-pikir tidak kenapa. Aku akan menjadi penghuni sementara. Ini kamar pemberian abah dan umi. Tak baik disia-siakan. Disyukuri saja.

Di sana diary yang berisi tulisan-tulisan Abang masih terdekap di pangkuan. Seakan-akan buku catatan harian itu tak ingin lepas. Tulus menjadi media yang mengingatkan seorang Abang yang kemarin aku temui. Kini ia tidak ikut ngantar kepulanganku ke sini. Tatapan wajahnya tak kuasa ditepis. Wajah itu alih-alih hadir. Pikiran jadi mumet. Dengan cara bagaimana ngobatin kepeningan ini? Tidur, kerena capek baru dari perjalanan? Renungkan saja, biar itu menjadi mimpi saat tidur nanti?

Tapi, aku teringat dengan diary ini. Tak terasa pikiran tiba-tiba tertuju pada buku yang sama. Sepertinya, ada magnet yang mampu mendorong tangan otak-atik lembar perlembar. Dibukalah. Satu halaman yang penuh dengan tulisan Abang, terlihat jelas tulisan yang isinya tetang ketulusan. “Kebahagian Ade’ menjadi kebahagian Abang. Sebaliknya, kesedihan Ade’ menjadi kesedihan Abang. Toh, Abang bukan siapa-siapanya Ade’.” Mata berkunang-kunang. Pikiran menerawang. Bacaan berhenti dengan sendirinya. Diraihlan ponsel yang dari tadi bungkam. Aku langsung telepon Abang. Perasaan sadar tidak laik menafsiri kalimat tadi. Jadinya, tangis terisak-isak. Air mata meleleh membasahi muka. Abang...!

Diary itu menjadi cerita yang membekas dalam nurani. Itu  buku yang aku buka dan baca awal kali tiba di kamar rumahku. Butiran air mata menjadi tasbih atas isyarat perasaan rindu yang tak kuasa ditepis. Isak ini bukanlah seperti tangis sejak usia kanak-kanak dulu. Misal, nangis karena diomeli orang tua, guru, atau digojlok teman-teman.

Tak hanya bakat yang ada kelasnya, tangisan manusia pun ada mutunya. Teringat dengan tangisan orang awam dan sufi. Sungguh tampak berbeda. Awam menangis karena kehilangan harta, terhantam balak, atau menerima ujian. Mereka tidak ingin hidupnya tersentuh dengan aneka sunah Tuhan. Maunya hidup yang penuh dengan bingkai kebahagian melulu, sayang tak mau berusaha keras. Mustahil. Bagi orang sufi, apa pun yang tampak atau yang terjadi di masa silam, sekarang, atau di masa mendatang, adalah ujian Tuhan bagi hambaNya yang disayang. Sufi tersedu-sedu menangis jika selama hidup sama sekali tak dihadapkan dengan ujian, baik ruwet atau biasa-biasa saja. Hidup terasa gamang. Tanpa tantangan demi mengukur kedewasan hidup. Beda bukan?

Dalam perumpamaan yang lain, tak semuanya tangisan mengisyaratkan kesedihan. Ada kalanya seseorang menangis karena suatu kebahagian yang membingkainya. Lihatlah seorang yang meraih prestasi atau dipertemukan dengan keluarganya sejak sekian lama tidak jumpa. Air mata jatuh tanpa terasa. Mereka benar-benar tidak kuasa menahan “karunia Tuhan yang tidak terbilang besarnya” (nailah jazilah).

Nah, jangan gampang menuding seseorang yang sedang menangis. Dia terlalu cengeng. Tak dewasa. Masih terlalu kekanak-kanakan. Justru kita sendiri akan menjadi malu karena keterlaluan mengambil keputusan.
Menangis merupakan bentuk rasa syukur seorang hamba pada TuhanNya. Itu syukur secara praktek, bukan sekedar berucap “Al-Hamdulillah” doang. Dinilai baik syukur di hadapanNya. Sebab, tetesan air mata jatuh bukan tanpa perjuangan untuk meneteskannya. Butuh perasaan mendalam dan perenungan yang tajam pada segala isi alam. Merenungkan adalah langkah untuk kontinu mengingat Sang Khalik. Ternyata masih ada Dzat yang menciptakan dan mengawali. Dialah Yang Maha di atas segalaNya.

Begitu pula, tangisan karena cinta. Cinta seorang hamba pada kekasihnya. Dia menangis karena rindu. Segala harap dipanjatkan kepada Sang Pencinta (al-wadud). Cinta Tuhan menjadi anugerah yang dapat memikat cinta hambaNya pada jalan yang lurus (sirat al-mustaqim). Sejatinya, si hamba itu belajar dari sini. Sehingga, dengan motivasi cinta, tak merasa terpaksa berbuat. Misal, memenuhi segala yang diinginkan si kekasih. Tujuan ini demi kebahagiannya. Tak lain.

Thus, si Abang kelimpungan cari solusi menghentikan isak tangis. Diakuinya. Kali pertama mendengar seorang perempuan menangis. Andaikan dia sedang di sisiku, niscaya kuseka lelehan air mata yang mengalir penuh ketulusan. Sayang, isak itu di ponsel.

“Pokoknya aku kesel. Semua rencanaku jadi gagal setelah mendengar keputusan umi dan abah. Aku harus mondok lagi,” gerutuku.

“Coba dimusyawarahkan dulu. Siapa tahu mereka berubah pikiran?” tawarnya.

“S-sudah. Aku tak berani bicara. Padahal jauh hari sudah aku susun rencana itu. Aku ingin kuliah jurusan Sastra Inggris. Inggris sudah jadi jiwaku. Tak ingin aku berpisah dengannya.” Aku jelaskan.

“Sudah kamu jelaskan pada mereka. Atau tunjukkan bahwa dirimu bisa.”

“Aduh... sulit.” Kata-kata itu membikin pikiran bingung tujuh keliling.

Si Abang menyerah. “Bersabarlah. Siapa tahu itu pilihan terbaik?”

Berhenti dari obrolan itu. Pikiran mumet. Si Abang kelihatan kelimpungan. Dia harus banyak belajar mengatasi kondisi darurat. Sejatinya, seorang kekasih mampu menjadi hero kala kekasihnya dalam kepeningan.

Pantaskah dia disebut hero? Padahal dia hanya menjadi penikmat cerita-ceritanya. Ngatasi masalah, masih kaku. Saatnya introspeksi.[]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...