Saturday, November 7, 2015

Islam, Agama Rahmatan lil Alamin



Judul Buku
Islam Agama Kemanusiaan
Penulis
Nurcholish Madjid
Penerbit
Dian Rakyat
Cetakan
4, Maret 2010
Tebal
xxiv + 228 halaman
ISBN
978-979-078-071-2

Sebagai agama semitik, Islam tampil dengan wajah ceria serta membawa misi perdamaian di saentero dunia. Nabi Muhammad ibn Abdillah, satu-satunya nabi pemungkas yang menyebarkan agama ini di tengah-tengah masyarakat yang buta akan kebenaran (jahiliyah). Tak sedikit pertentangan dan kecaman sengit yang ditandaskan kepada beliau.

Untungnya, sifat hilim dan penyabar yang disematkan Allah swt. kepada beliau mampu menjadi tameng. Apapun yang terjadi saat Islam disebar-luaskan, beliau menghadapinya dengan lapang, tanpa rasa pesimis. Dan, yang paling dihindari beliau adalah pemaksaan orang lain untuk mengikuti petuah beliau, yaitu memeluk agama Islam tanpa ditawar sedikitpun; siapapun yang menolak dan membangkan, akan dibunuh, dst.

Bertalian sikap keramahan, keikhlasan, tanpa disertai kekerasan, Islam diminati mayoritas orang di penjuru dunia. Peperangan yang pernah menyejarah di masa terutusnya beliau, itu bukan atas kehendak beliau dan orang muslim, melainkan tatangan orang kafir yang sombong. Membela diri adalah kewajiban.

Abad ke abab, peperangan pada masa Nabi saw. dijadikan cara penyebaran Islam oleh generasi berikutnya. Tak ayal, muncul golongan Khawarij, Wahabi, dan ISIS yang tampil kalap mengibarkan bendera Islam. Kehadiran golongan ini, bukan menjadi penyejuk, melainkan sebuah benalu yang menelan habis substansi agama Islam.

Dalam buku Islam Agama Kemanusiaan yang ditulis Nurchalish Madjid, dijelaskan bagamaina cara memahami Islam sebenar-benarnya. Telah disinggung di pengantar buku ini, bahwa tulisan yang terkumpul dalam buku ini merupakan kumpulan makalah Cak Nur (sapaan akrab Nurcholish Madjid).

Islam diambil dari kata aslama yang diterjemahkan dengan “berislam” (yakni, menempuh hidup pasrah dan tunduk kepada Allah swt.). Kepasrahan kepada Sang Pencipta tidak didasarkan dengan cara berpikir yang tragis: kalap dan fatalis. Dua sifat yang sejatinya tidak disyariatkan Allah swt. dan diajarkan Nabi saw. sering terbias dalam diri penyebar, lebih-lebih Islam fundamentalis. 

“Tidaklah Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat untuk seluruh alam” Al-Qur’an, s. al-Anbiya’/21:107

Merenungkan ayat tersebut, ayat ini merupakan sebuah kritik dan saran Allah swt.: bahwa Nabi saw. sebagai penyampai wahyu Allah swt. kepada umatnya tercipta menjadi sosok penyantun dan penyabar. Pesan Tuhan yang hendak disampaikan tak disertai kekerasan yang berujung kepada perpecahan.

Keramahan pencipta dan pembawa agama Islam, sedikit banyak, membekas dalam tubuh agama Islam itu sendiri. Indonesia sebagai negara demokratis dan tercatat berpenghuni mayoritas muslim, yakni sekitar 90 persen, juga tak disetujui mendengungkan “Islam” sebagai label negara—yakni, negara Islam—dan menyematkannya terhadap ideologi negara ini, Pancasila. Makanya, sila pertama berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”, bukan “Allah Yang Maha Esa.”

Menghargai dan menghormati orang lain tanpa dibatasi etnis, suku, ras, dan agama. Adalah suatu pelecehan dan penghinaan bagi agama non-Islam di Indonesia seandainya didirikan sebuah negara agama (Islam) atau negara yang secara resmi berlandaskan agama. Sebab, menurut Hatta yang terpenting adalah substansinya yaitu keadilan, yang harus diperjuangkan untuk dilaksanakan oleh sebuah negara. (hal 20-21).

Islam dikenal sebagai agama yang terbuka. Pelbagai budaya non-muslim diadopsi ke dalam agama Islam sehingga orang yang tidak membaca sejarah menganggapnya budaya itu adalah budaya Islam tulen. Sebagai misal, Pemukulan bedug dan kentungan merupakan pinjaman dari budaya Hindu-Budha itu yang dipakai di banyak masjid. (hal 37). Simbolisasi ini banyak dijadikan keharusan. Seakan-akan Masjid, sejauh pengamatan Cak Nur, tak sempurna tanpa sebuah bedug.

Keterbukaan Islam secara esoteris mengajarkan kepada pemeluknya berpikir dinamis. Islam bukan agama yang fakum atau statis. Pergantiaan waktu dan sentuhan budaya sangat mempengaruhi terhadap tampilan dan peran Islam. Direnungkan saja Islam di masa Nabi saw. dan Islam di masa sekarang!

Cak Nur menegaskan diakhir makalahnya yang berjudul Reorientasi Wawasan Pemikiran Keislaman tentang kemungkinan bentuk peran tepat bagi umat Islam Indonesia di abad ke-21 yang akan segera tiba: Pertama, pengembangan etos Iptek di kalangan umat Islam. Kedua, pluralisme Intra—umat, berdasarkan ajaran ukhuwwah Islamiyah. Ketiga, pluralisme antar—umat beragama. Keempat, pengembangan demokrasi dan keadilan sosial. Kelima, masalah tradisi dan medernitas. Keenam, antisipasi abad informatika dan efek globalisasi. (hal 88).

Sebagai ilmuwan yang hidup di abab ke-21, pemikiran-pemikiran Cak Nur yang tertuang dalam buku ini terkesan radikal, dinamis, plural, dan inklusif. Islam dipeluk dengan rasa keikhlasan, tanpa disandera sikap ekstrim, kalap, dan perang, yang itu semua akan pasti berujung pada kerusakan dan perpecahan.

Kutipan pidato  Nabi saw. menjelang wafat beliau—yang dituturkan oleh Ali ibn Abi Thalib—yaitu: “Wahai sekalian manusia ingatlah Allah. Ingatlah Allah, dalam agamamu dan amanatmu sekalian. Ingat Allah. Ingat Allah, berkenaan dengan orang-orang yang kamu kuasai dengan tangan kananmu. Berilah mereka makan seperti yang kamu makan, dan berilah mereka pakaian seperti yang kamu pakai. Dan jangan kamu bebani mereka dengan beban yang mereka tidak sanggup menanggungnya. Sebab sesungguhnya mereka adalah daging, darah dan makhluk seperti halnya kamu sekalian sendiri. Awas, barangsiapa bertindak zalim kepada mereka, maka akulah musuhnya di Hari Kiamat, dan Allah adalah Hakimnya....” (hal 184)

Semoga menjadi muslim yang mampu mewarisi sikap-sikap Nabi saw.! Selamat membaca![]

Annuqayah, 7 November 2015

Cerita Perjalanan Saya ke Jogja



Tetangga saya bilang bahwa saya berani benar pergi jauh: ke Jogjakarta. Saya diam. Tersenyum masam. Seakan-akan saya ingin menjawab, “Hanya ke sana, kenapa harus takut?”

Saya ngerti itu ungkapan rasa kaget plus khawatir. Jika mereka demikian, justru saya yang terlebih dahulu khawatir. Takut-takut kenapa-kenapa nanti di jalan. Tapi, perasaan negatif itu saya buang jauh-jauh sebelum menguasai alam bawah sadar hingga menggagalkan rencana saya, belanja buku ke Jogja dan observasi kampus-kampus untuk persiapan lanjut S2.

Salah satu cara menghapus perasaan kikuk dalam perjalanan, di antaranya, tujuannya diperjelas; tahu rutenya; punya uang; dan bawa ponsel—ya, bisa untuk komunikasi atau buka/lihat-lihat google map. Melalui komposisi-komposisi itu hati saya merasa tenang. Tinggal saja hati-hati di jalan: dompet (uang/ATM); ponsel; tas; dan barang berharga lainnya.

Rasa cemas dan kikuk biasanya timbul jika seseorang dihadapkan pada sesuatu yang belum pernah dijalani. Bagi nelayan, melaut berhari-hari di tengah laut, terkesan biasa, tanpa perasaan keder sedikitpun; bagi pilot, mengendarahi pesawat di atas udara, biasa-biasa saja, seperti mengendarahi mobil di daratan. Tentu kewaspadaan tetap dijaga. Perasaan takut, hanya bagi orang yang tak sama sekali naik perahu dan atau pesawat. Jangankan naik, beli tiket saja untuk naik pesat, misalkan, pusing tujuh keliling.

Sebelum ke Jogja, saya contact teman-teman alumni Annuqayah, kendati pun tidak kenal. Saya kasih tahu saya pengin ke Jogja. Tidak blak-blakan saya tidak tahu, tapi tanya rute dari Madura ke Jogja; kira-kira siapa yang bisa saya hubungi; dan kira-kira pula berapa biaya transportasi dari Sumenep ke Jogja.

Informasi yang masih saya ingat: rute dari Sumenep ke Jogja, yaitu naik bus—baik yang patas ataupun yang ekonomi—dari Terminal Wiraraja Sumenep/nunggu di pertigaan Perenduan menuju Terminal Bungurasi Surabaya; di Surabaya, cari bus jurusan/tujuan Jogjakarta; dan bilang turun di Jembatan Janti. Nanti kalo sampai, saya akan dijemput. Mmm, untuk ongkos dari Sumenep ke Jogja, pulang-pergi, kurang lebih dua ratus ribu-an.

Pengalaman naik bus, pernah saya rasakan beberapa tahun sebelumnya. Nunggu bus di pinggir jalan/di terminal, berdesak-desakan di dalam bus, berdiri berjam-jam di dalam bus karena tidak dapat tempat duduk, kaget tanpa dinyana bus yang ditumpangi berstatus patas—jadi, biayanya lebih mahal daripada bus ekonomi—dsb. Komitmen saya selama perjalanan menghindari naik bus patas. Bukannya fasilitasnya tidak nyaman, tapi biayanya yang mahal. Makanya saya selalu hati-hati memilih bus: terkadang saya tanya “Ekonomi, Pak?” Baru ada jawaban, “Monggo.” Saya naik. Kalo di Terminal Bungurasi saya lihat-lihat papan yang diletakkan di atas parkir bus yang siap-siap berangkat. Menghapus kegamangan yang bercokol di pikiran, lihat saja jajaran kursinya ke samping. Jika jajarannya dua-dua, itu jelas-jelas bus patas. Justru bus ekonomi, jajaran kursinya dua banding tiga.

Di lain sisi, batas penumpang bus patas diukur dari tersisanya kursi atau tidak, sehingga tidak ada penumpang yang berdiri karena tidak mendapat tempat duduk; dikasih jatah makan di pertengahan jalan dengan kupon yang diberikan saat ongkos diminta kondektur.

Sampai di Jogja kira-kira jam 03.00-an saya dijemput di Janti Jogja. Saya bermalam di asrama Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Jogjakarta. Paginya saya belanja buku di Toko Social Agency. Banyak buku yang tersedia, dari yang fiksi hingga non-fiksi. Untuk belanja buku, sengaja saya tidak menulis daftar/nama-nama buku yang akan dibeli, namun mencatat penulis-penulis yang menurut saya hebat seperti Dee Lestari, Habiburrahman El-Shirasy, Tere Liye, Andrea Hirata, Nur Cholish Madjid, Emha Ainun Nadjib, A. Mushtafa Birsi, Prof. Dr. Said Agil Siradj, dsb. Catatan itu muncul melalui pengalaman belanja buku kecil-kecilan di Festifal Cinta Buku (FCB) Annuqayah, dan beberapa toko buku yang lain.

Dulu, saya tidak mempedulikan kualitas buku yang dibeli, yang terpenting saya dapat banyak buku dengan uang sekian dan sekian. Sehingga, buku yang saya beli mendapat komentar minus dari teman-teman. Menyesal? Ia. Tapi, saya sadar yang telah berlalu menjadi evaluasi/pengalaman untuk menuju yang baik/lebih baik.

Nurani saya merasa lain saat saya baca buku yang ditulis penulis-penulis hebat dan saya mengenalnya, baik melalui cerita teman-teman, baca profilnya, atau ketemu langsung—seperti AS. Laksana, cerpenis dan esais; dan Dr. Seno Gumira Aji Darma, penulis cerita bersambung di harian Koran Jawa Pos. Saya pernah ketemu Seno di acara FCB 2015 di Aula Syarqawi. Moderatornya, Kiai Mamak—sebutan KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, M.Hum.

Nurani saya dan penulis-penulis buku-buku itu seakan-akan terikat kuat. Teks yang dibaca tidak terkesan gamang dan hambar. Teks yang dibaca tidak hanya menjelma dalam otak, tapi membekas di hati.  

Sehari di Jogja, rasa kerasan tiba-tiba membekas. Bukan karena lingkungannya bebas, tapi kebersihan lingkungannya yang terjaga. Tinggal di tempat yang bersih merasa nyaman, sudah saya biasakan di pondok. Terkadang saya marah-marah karena teman-teman tidak nyampu. Dan, selalu saya diingatkan dengan pesan Kiai Warits, Kiai Fikri, dan Kiai Mamak tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan guna mencegah penyakit-penyakit yang hinggap di dalam tubuh kita.

Untuk observasi kampus, saya pikir belum maksimal selama di Jogja. Sebab, saya di sana hanya dua hari-dua malam. Hanyasanya saya punya pengalaman Shalat Idhul Adha di halaman kampus UIN Sunan Kalijaga. Saya posting status di fb, “Pertama kali saya ke Jogja, pertama kali pula saya Shalat Idhul Adha di sana.” Yang menyukai banyak, sedangkan yang komentar hanya satu orang.

Saya tanya-tanya, “Kira-kira kampus mana yang cocok untuk jurusan saya, IQT (Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir)? UIN Sunan Kalijaga? Universitas Gajah Mada? Atau kampus yang lain?” Teman saya masih kebingungan menjawab, lalu dia menyarankan saya tanya ke yang lebih tahu, yakni Ra Mamak, adiknya Kiai Mushthafa Annuqayah. Oke, saya sudah punya jalan. Yang masih saya bingung untuk cari link beasiswa S2. Teman-teman dan guru saya menyarankan searching di internet dengan alamat “dektis”.

Pulang dari Jogja pada malam Jum’at dan sampai di rumah hari Jum’at menjelang azan asyar. Banyak buku yang saya bawa, sekitar 44 buku. Tugas saya sekarang membaca dan menulis—baik diresensi atau yang lainnya.[]

Congka’, 25 September 2015

Madura Agamis, Madura Fatalis



Adalah suatu hal yang lucu, dipikir-pikir, seseorang yang menyeru dan memekikkan semangat ke-Ahlussunnah wal Jama’ah-an tanpa disadari meringkut di ranah ideologi rival ideologi yang dikenal dengan sebutan ASWAJA ini.

Telah mafhum, ASWAJA adalah ideologi yang berdiri di garis moderat/tengah, yakni tanpa dipoles dengan liberalisme dan fatalisme. Ia berpangku pada empat mazhab: Imam Syafi’ie, Imam Malik, Imam Hambali, dan Imam Hanafi; sedangkan, secara sufistik, gaya tasawuf Al-Ghazali dan Imam Junaidi yang dipakai; tanpa terkecuali, golongan Asy-Ariyah dan golongan Maturidiyah, secara teologi, yang ia jadikan pedoman.

Ideologi ASWAJA yang tak asing lagi di telinga kita telah booming di saentero Madura. Sebagai pulau garam yang kuat dengan ajaran keagamaan serta pengamalan dalam kehidupan sehari-hari, dapat dikata sulit tersandera pemikiran-pemikiran asing—yang menurut penganut ideologi ASWAJA sendiri pemikiran-pemikiran asing itu adalah pemikiran yang sesat dan menyesatkan.

Tak banyak tragedi memalukan yang saya amati di pulau Madura. Sebagai misal, sikap seorang lelaki yang hendak menjalani pernikahan tanpa dibekali dengan “kemampuan” (al-istitha’ah) nafkah, yakni harta, untuk istri yang tanpa jelas di depan mata. Ia hanya berani memberi nafkah batin—bersetubuh—tanpa terkecuali. Fatalistik yang seakan-akan biasa sebenarnya telah mendengungkan ideologi golongan Jabariyah (fatalisme). Ke-PD-an yang membekas kuat di pikiran suami tak lain karena tradisi yang membentuknya: orang yang tak mampu secara ekonomi tak kenapa menjalankan pernikahan terlebih dahulu, sedangkan urusan ekonomi sebagai nafkah istri dan anaknya dapat dipikir-pikir nanti pasca pernikahan.

Nabi Muhammad saw. bersabda: Yaa ma’syar al-syabaab man istathaa’a minkum al-baa’ah falyatazawwaj fa innahu aghuddu li al-bashar wa ahshanu li al-farj waman lam yastathi’ fa alaihi bi al-shawm fa innahu lahu wijaa’—Wahai para pemuda, siapapun yang mampu di antara kamu menikah (al-ba’ah), maka menikahlah karena ia lebih mengekang pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan, siapapun yang tidak mampu menikah, maka sebaiknya ia berpuasa karena puasa itu menjadi tali kendali.

Hadits Nabi saw. ini dipaparkan secara terperinci dalam kitab Shahih Muslim bin Syarh al-Nawawi-nya Yahya bin Saraf Nawawi: Tentang kata “al-baa’ah”, ulama berbeda pendapat. Ada dua peryataan berkenaan dengan kata itu: [1] al-ba’ah adalah bersetubuh (al-jima’); dan [2] al-baa’ah berarti biaya pernikahan (mu’nah al-nikah). Jadi, yang dimaksud mampu bagi lelaki yang berkemauan nikah adalah yang mampu bersetubuh “atau” punya biaya untuk menjalani resepsi pernikahan.

Warna-warni pendapat ulama di atas, tentu, yang sering terlupakan adalah pendapat kedua. Untuk pendapat pertama, tak perlu diperbincangkan lagi: lelaki yang mengebu-gebu menikah banyak yang dikuasi nafsu, yakni memuaskan gelora nafsu yang mematuk-matuk.

Sikap fatalis sejatinya menjadi benalu terhadap kemandirian seseorang. Menjalani kehidupan rumah tangga tak seperti mengarungi kehidupan anak-anak atau hidup seorang diri. Butuh suatu kemandirian sebagai bentuk kedewasaan dalam menghadapi teka-teki hidup. Kecil-besarnya masalah tak segampang mengambil keputusan memutus tali pernikahan yang dibenci Allah swt. Kesiapan menafkahi istri dan anaknya nanti.

Suami adalah seorang imam yang menjadi pelindung dan penyejuk istrinya, sekaligus idola anak-anaknya. Dalam sebuah novel Andrea Hirata yang berjudul Ayah, diceritakan seorang ayah, Sabari, yang mampu menjadi idola anak semata wayangnya, Zorro. Menjadi idola, tak segampang mata berkedip, tapi Sabari tulus mendidik, mencintai tiada batas, dan menyapih Zorro kala belia dulu hingga bisa berjalan. Tak ayal, sikap dan kemampuan yang membekas dalam diri Sabari—sabar, pandai merangkai kata menjadi puisi, dan menyenangkan hati orang lain—mengalir otomatis kepada Zorro.

Memberikan nafkah kepada istri dan anaknya, wajib bagi suami. Hukum wajib yang dikemukakan ulama fiqh menjadi salah satu cara menghindari dosa pelaku dan ditelantarkannya istri dan anaknya karena tidak punya sepeser uang. Sehingga semangat hijrah dari meminta-minta tercapai. Dan, kekuatan iman yang melekat di dalam hati nurani mereka tidak roboh sebab ditukar dengan sebungkus nasi guna mengganjal perut yang menjerit-kelaparan.

Syukur, sikap pasrah yang membabi-buta ini masih dapat tertolong di Madura. Sebab, di sana penduduk hidup saling bantu-membantu, lebih-lebih mertua sendiri yang masih menyerukan anak perempuannya tinggal dan hidup bersama orang tuanya. Segala kebutuhan sedikit banyak ditanggung mertua perempuan. Sekalipun kita sebagai suami nggak punya uang alias kantong kosong masih bisa menambal kebutuhan istri kita dengan kemurahan dan kebelaskasihan mertua.

Coba kita bayangkan seandainya kita berkeluarga/meningkah dengan perempuan kelahiran Jawa—yang sejauh pengamatan saya disertai cerita-cerita teman-teman—bahwa setelah selesai akad nikah seorang perempuan yang sah menjadi istri kita, secara sah pula dilepas dari ketergantungan kepada mertua perempuan! Terus, apa yang kita perbuat seandainya saat itu pula kita tidak punya bekal yang berupa ekonomi? Mau ngutang sama istri kita? Malu. Mau diam? Tak bertanggung jawab.

Nah, sikap fatalis yang lama menggurita sebaiknya dibabat sedikit demi sedikit. Ahlussunah wal Jamaah yang telah mengajari kita berpikir netral, yakni tidak materialis dan fatalis, adalah suatu langkah menjadi suami/ayah sejati bagi istri dan anak-anaknya. Dialah ayah bertanggung jawab: memberikan nafkah, menyayangi, dan mendidik.[]  

Annuqayah, 21 Oktober 2015

Mendidik Anak dengan Cerita dan Dongeng



Judul Buku
Ayahku (Bukan) Pembohong
Penulis
Tere Liye
Penerbit
PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan
10, Januari 2014
Tebal
299 halaman
ISBN
978-979-22-6905-5

Pertumbuhan seorang anak menjadi cerminan pendidikan orang tuanya. Baikkah ia? Atau brutalkah? Dalam hadits Nabi Muhammad saw. dijelaskan, Kullu mauludin yuuladu ala fitrah al-islam illa inna abawaahu yahudaanihi wa yanshiraniihi wa yumajjisaniihi—setiap anak dilahirkan dengan membawa agama Islam yang murni (fitrah al-islam), hanyasanya kedua orang tuanya yang akan menjadikannya beragama Yahudi, Nasrani, dan Majusi.”

Sebuah cerita dalam bentuk novel tentang lika-liku seorang bapak mendidik anaknya tampil memukau dalam novel Tere Liye, Ayahku (Bukan) Pembohong.

Dam. Dialah anak seorang bapak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng sejak kanak-kanak. Pelbagai dongeng yang diceritakan Ayah cepat memikat kesukaan dan kecintaan Dam akan dongeng itu. Selain dongengnya menarik, memotivasi, dan mendidik, Ayah punya kepandaian mengarang-ngarang cerita. Seakan-akan cerita itu faktual.

Ayah menceritakan sang Kapten, pemain sepak bola bergengsi dan hebat. Nama sang Kapten menyeruak ke pelosok dunia. Kesukaan Dam akan sepak bola menjadikan sang Kapten sebagai idolanya.

“Kami menjadi teman baik sejak malam itu, Dam. Dua hari kemudian, Ayah kembali memesan sup hangat, dan sang Kapten kecil yang mengantar. Kami berbincang banyak hal. Meski usianya baru delapan, dia mempunyai mimpi dan cara berpikir seperti orang dewasa. Aku bertanya, benda apa yang menyembul di saku celananya. Dia tertawa, mengeluarkan bola kasti yang separuh botak. Dia suka main sepak bola, tapi tidak cukup uang untuk membeli bola sungguhan. Hanya dengan bola kasti yang dia temukan di kotak sampah itulah dia menggunakan halaman belakang restoran sebagai tempat bermain, sambil menunggu tugas mengantar pesanan. Menendang-nendang bola kasti, membuat lingkaran target di dinding, memasang tiang-tiang halang, dan berlatih mengiring bola. Itu cara yang baik untuk mengusir rasa bosan sampai pemilik restoran menyuruhnya bergegas membawa pesanan.” (hal 33).

Cerita Ayah membuat Dam kaget. Dam kecil yang masih lugu mengiyakan keabsahan cerita itu. Pemain yang diidolakan ternyata teman Ayahnya sendiri.

Suntikan semangat Ayah tidak mematahkan semangat Dam saat melihat sang Kapten cedera dan mengakhiri kekalahan 2-3. Dam kembali bangkit.

“Percayalah, Dam. Sang Kapten akan bermain minggu depan walau dengan kaki dibebat. Sang Kapten akan membalas kekalahan ini. Dia tidak akan menyerah, tidak akan pernah. Ayah berani bertaruh.” Motivasi Ayah (hal 12).

Dalam paruh waktu yang lain, Ayah bercerita Lembah Bukhara. Ia mengaku pernah berkunjung ke lembah itu. Tempatnya yang indah. Sayang, keindahan itu akhirnya rusak karena keserakahan penghuninya, para penambang emas.

Dam fokus menyimak cerita. Ayah meneruskan cerita Kepala Suku Penguasa Angin. Suku itu suka bergurau, bercengkrama, dan bermain. Satu dan yang lain humanis dan tidak ambisius. Hidup kerumahtanggaan terpatri.

Ayah menjelaskan manis dan pahitnya perjuangan Suku Penguasa Angin;

“Tetapi kehidupan sebaik itu tidak datang sendiri, Dam. Suku Penguasa Angin mengorbankan banyak hal untuk memastikan pemahaman yang baik itu tetap ada. Mereka dijajah ratusan tahun, dihina, dianggap rendah, lebih dari sekedar olok-olok soal rambut keriting kau. Mereka memberikan apa saja untuk memastikan generasi berikutnya tetap memiliki pemahaman yang baik. Cara hidup yang baik.” (hal 155-156).

Dam remaja berubah kritis mengkaji cerita-cerita Ayah. Ceritanya yang terkesan berlebihan bikin Dam tergoncang psikologinya. Mumet. Apakah cerita itu faktual? Atau imajiner? Di tengah-tengah kebingungan yang berkecamuk, Dam memastikan, “Ayahku bukan pembohong!”

Kebingungan terjadi karena ceritanya yang berlebihan tanpa jawaban yang jelas—saat Dam tanya benar atau tidak cerita itu. Hanya saja Ayah bercerita dan bercerita. Apalagi saat Dam belajar di Akademi Gajah dan mendapat hukuman membersihkan perpustakaan, temannya dipertemukan dengan buku-buku dongeng yang isinya tentang cerita persis dengan yang Ayahnya ceritakan. Sama sekali tanpa menyinggung Ayah dalam cerita itu.

Kepercayaan Dam akan kebenaran cerita-cerita itu nihil. Mustahil Ayah menunggang layang-layang, mengunyah apel mas, atau bersahabat baik dengan sang Kapten.

Tak heran jika Dam remaja berkata tegas;

“Berhentilah bercerita.” Aku meremas rambut, tidak peduli raut sedih Ayah. “Tidak mengapa Ayah membohongiku dengan cerita-cerita itu sejak kecil. Tidak mengapa. Aku tahu boleh jadi cerita itulah satu-satunya Ayah miliki sebagai hadiah, teman bermain, kesenangan untukku. Tetapi berhentilah membohongi Ibu tentang kesimpulan si Raja Tidur. Kumohon….” (hal 235).

Sikap Dam keras kepala terkesan amoral dalam pandangan ibu dan teman-temannya. Tapi, ketidakpuasan akan cerita-cerita Ayah dapat terjawab saat dihadapkan dengan kenyataan yang tampak di depan mata.

Dam tumbuh menjadi orang yang berbudi luhur, pintar, dan berprestasi. Di antaranya, [1] Dam lulus dengan nilai sempurna di Akademi Gajah untuk kelas menggambar dan pengetahuan alam; [2] ia memperoleh pencapaian dalam mengembangkan pemahaman hidup yang bersahaja (hal 241); [3] Dam meraih juara lomba renang estafet antarklub; dan [4] ia menjadi arsitek yang maju dan menjadi pembicara di forum-forum.

Cerita itu telah memotivasi, mendidik, dan berubah menjadi imajinasi unik.

Selain itu, saat Ayah Dam tutup usia. Sang Kapten datang melayat; dan informasi tentang cerita Ayah bahwa ibunya adalah artis sejak usia mudanya mengakurat. Sehingga, di akhir novel ini, Dam berkata tegas, “Ayah bukan pembohong.”

Novel Tere ini dapat dijadikan cermin bagi orang tua dalam mendidik anaknya. Mendidik dengan cerita-cerita banyak disukai. Hanya yang penting digarisbawahi mutu cerita itu. Sebab, tak keseluruhan cerita itu positif. Carilah cerita yang bernuansa edukatif, memompa semangat, dan tidak berlebihan.[]

Annuqayah, 3 Oktober 2015  

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...