Saturday, November 7, 2015

Islam, Agama Rahmatan lil Alamin



Judul Buku
Islam Agama Kemanusiaan
Penulis
Nurcholish Madjid
Penerbit
Dian Rakyat
Cetakan
4, Maret 2010
Tebal
xxiv + 228 halaman
ISBN
978-979-078-071-2

Sebagai agama semitik, Islam tampil dengan wajah ceria serta membawa misi perdamaian di saentero dunia. Nabi Muhammad ibn Abdillah, satu-satunya nabi pemungkas yang menyebarkan agama ini di tengah-tengah masyarakat yang buta akan kebenaran (jahiliyah). Tak sedikit pertentangan dan kecaman sengit yang ditandaskan kepada beliau.

Untungnya, sifat hilim dan penyabar yang disematkan Allah swt. kepada beliau mampu menjadi tameng. Apapun yang terjadi saat Islam disebar-luaskan, beliau menghadapinya dengan lapang, tanpa rasa pesimis. Dan, yang paling dihindari beliau adalah pemaksaan orang lain untuk mengikuti petuah beliau, yaitu memeluk agama Islam tanpa ditawar sedikitpun; siapapun yang menolak dan membangkan, akan dibunuh, dst.

Bertalian sikap keramahan, keikhlasan, tanpa disertai kekerasan, Islam diminati mayoritas orang di penjuru dunia. Peperangan yang pernah menyejarah di masa terutusnya beliau, itu bukan atas kehendak beliau dan orang muslim, melainkan tatangan orang kafir yang sombong. Membela diri adalah kewajiban.

Abad ke abab, peperangan pada masa Nabi saw. dijadikan cara penyebaran Islam oleh generasi berikutnya. Tak ayal, muncul golongan Khawarij, Wahabi, dan ISIS yang tampil kalap mengibarkan bendera Islam. Kehadiran golongan ini, bukan menjadi penyejuk, melainkan sebuah benalu yang menelan habis substansi agama Islam.

Dalam buku Islam Agama Kemanusiaan yang ditulis Nurchalish Madjid, dijelaskan bagamaina cara memahami Islam sebenar-benarnya. Telah disinggung di pengantar buku ini, bahwa tulisan yang terkumpul dalam buku ini merupakan kumpulan makalah Cak Nur (sapaan akrab Nurcholish Madjid).

Islam diambil dari kata aslama yang diterjemahkan dengan “berislam” (yakni, menempuh hidup pasrah dan tunduk kepada Allah swt.). Kepasrahan kepada Sang Pencipta tidak didasarkan dengan cara berpikir yang tragis: kalap dan fatalis. Dua sifat yang sejatinya tidak disyariatkan Allah swt. dan diajarkan Nabi saw. sering terbias dalam diri penyebar, lebih-lebih Islam fundamentalis. 

“Tidaklah Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat untuk seluruh alam” Al-Qur’an, s. al-Anbiya’/21:107

Merenungkan ayat tersebut, ayat ini merupakan sebuah kritik dan saran Allah swt.: bahwa Nabi saw. sebagai penyampai wahyu Allah swt. kepada umatnya tercipta menjadi sosok penyantun dan penyabar. Pesan Tuhan yang hendak disampaikan tak disertai kekerasan yang berujung kepada perpecahan.

Keramahan pencipta dan pembawa agama Islam, sedikit banyak, membekas dalam tubuh agama Islam itu sendiri. Indonesia sebagai negara demokratis dan tercatat berpenghuni mayoritas muslim, yakni sekitar 90 persen, juga tak disetujui mendengungkan “Islam” sebagai label negara—yakni, negara Islam—dan menyematkannya terhadap ideologi negara ini, Pancasila. Makanya, sila pertama berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”, bukan “Allah Yang Maha Esa.”

Menghargai dan menghormati orang lain tanpa dibatasi etnis, suku, ras, dan agama. Adalah suatu pelecehan dan penghinaan bagi agama non-Islam di Indonesia seandainya didirikan sebuah negara agama (Islam) atau negara yang secara resmi berlandaskan agama. Sebab, menurut Hatta yang terpenting adalah substansinya yaitu keadilan, yang harus diperjuangkan untuk dilaksanakan oleh sebuah negara. (hal 20-21).

Islam dikenal sebagai agama yang terbuka. Pelbagai budaya non-muslim diadopsi ke dalam agama Islam sehingga orang yang tidak membaca sejarah menganggapnya budaya itu adalah budaya Islam tulen. Sebagai misal, Pemukulan bedug dan kentungan merupakan pinjaman dari budaya Hindu-Budha itu yang dipakai di banyak masjid. (hal 37). Simbolisasi ini banyak dijadikan keharusan. Seakan-akan Masjid, sejauh pengamatan Cak Nur, tak sempurna tanpa sebuah bedug.

Keterbukaan Islam secara esoteris mengajarkan kepada pemeluknya berpikir dinamis. Islam bukan agama yang fakum atau statis. Pergantiaan waktu dan sentuhan budaya sangat mempengaruhi terhadap tampilan dan peran Islam. Direnungkan saja Islam di masa Nabi saw. dan Islam di masa sekarang!

Cak Nur menegaskan diakhir makalahnya yang berjudul Reorientasi Wawasan Pemikiran Keislaman tentang kemungkinan bentuk peran tepat bagi umat Islam Indonesia di abad ke-21 yang akan segera tiba: Pertama, pengembangan etos Iptek di kalangan umat Islam. Kedua, pluralisme Intra—umat, berdasarkan ajaran ukhuwwah Islamiyah. Ketiga, pluralisme antar—umat beragama. Keempat, pengembangan demokrasi dan keadilan sosial. Kelima, masalah tradisi dan medernitas. Keenam, antisipasi abad informatika dan efek globalisasi. (hal 88).

Sebagai ilmuwan yang hidup di abab ke-21, pemikiran-pemikiran Cak Nur yang tertuang dalam buku ini terkesan radikal, dinamis, plural, dan inklusif. Islam dipeluk dengan rasa keikhlasan, tanpa disandera sikap ekstrim, kalap, dan perang, yang itu semua akan pasti berujung pada kerusakan dan perpecahan.

Kutipan pidato  Nabi saw. menjelang wafat beliau—yang dituturkan oleh Ali ibn Abi Thalib—yaitu: “Wahai sekalian manusia ingatlah Allah. Ingatlah Allah, dalam agamamu dan amanatmu sekalian. Ingat Allah. Ingat Allah, berkenaan dengan orang-orang yang kamu kuasai dengan tangan kananmu. Berilah mereka makan seperti yang kamu makan, dan berilah mereka pakaian seperti yang kamu pakai. Dan jangan kamu bebani mereka dengan beban yang mereka tidak sanggup menanggungnya. Sebab sesungguhnya mereka adalah daging, darah dan makhluk seperti halnya kamu sekalian sendiri. Awas, barangsiapa bertindak zalim kepada mereka, maka akulah musuhnya di Hari Kiamat, dan Allah adalah Hakimnya....” (hal 184)

Semoga menjadi muslim yang mampu mewarisi sikap-sikap Nabi saw.! Selamat membaca![]

Annuqayah, 7 November 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...