Islam Agama Kemanusiaan
Penulis
Nurcholish Madjid
Penerbit
Dian Rakyat
Cetakan
4, Maret 2010
Tebal
xxiv + 228 halaman
ISBN
978-979-078-071-2
Sebagai agama semitik, Islam tampil dengan wajah ceria serta membawa
misi perdamaian di saentero dunia. Nabi Muhammad ibn Abdillah, satu-satunya
nabi pemungkas yang menyebarkan agama ini di tengah-tengah masyarakat yang buta
akan kebenaran (jahiliyah). Tak sedikit pertentangan dan kecaman sengit yang
ditandaskan kepada beliau.
Untungnya, sifat hilim dan penyabar yang disematkan Allah
swt. kepada beliau mampu menjadi tameng. Apapun yang terjadi saat Islam
disebar-luaskan, beliau menghadapinya
dengan lapang, tanpa rasa pesimis. Dan, yang paling dihindari beliau adalah
pemaksaan orang lain untuk mengikuti petuah beliau, yaitu memeluk agama Islam
tanpa ditawar sedikitpun; siapapun yang menolak dan membangkan, akan dibunuh,
dst.
Bertalian sikap keramahan, keikhlasan, tanpa disertai kekerasan,
Islam diminati mayoritas orang di penjuru dunia. Peperangan yang pernah
menyejarah di masa terutusnya beliau, itu bukan atas kehendak beliau dan orang
muslim, melainkan tatangan orang kafir yang sombong. Membela diri adalah
kewajiban.
Abad ke abab, peperangan pada masa Nabi saw. dijadikan cara
penyebaran Islam oleh generasi
berikutnya. Tak ayal, muncul golongan Khawarij, Wahabi, dan ISIS yang tampil
kalap mengibarkan bendera Islam. Kehadiran golongan ini, bukan menjadi penyejuk,
melainkan sebuah benalu yang menelan habis substansi agama Islam.
Dalam buku Islam Agama Kemanusiaan yang ditulis Nurchalish
Madjid, dijelaskan bagamaina cara memahami Islam sebenar-benarnya. Telah
disinggung di pengantar buku ini, bahwa tulisan yang terkumpul dalam buku ini
merupakan kumpulan makalah Cak Nur (sapaan akrab Nurcholish Madjid).
Islam diambil dari kata aslama yang diterjemahkan dengan
“berislam” (yakni, menempuh hidup pasrah dan tunduk kepada Allah swt.).
Kepasrahan kepada Sang Pencipta tidak didasarkan dengan cara berpikir yang tragis:
kalap dan fatalis. Dua sifat yang sejatinya tidak disyariatkan Allah swt. dan
diajarkan Nabi saw. sering terbias dalam diri penyebar, lebih-lebih Islam
fundamentalis.
“Tidaklah
Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat untuk seluruh
alam” Al-Qur’an, s. al-Anbiya’/21:107
Merenungkan ayat tersebut, ayat ini merupakan sebuah kritik dan
saran Allah swt.: bahwa Nabi saw. sebagai penyampai wahyu Allah swt. kepada
umatnya tercipta menjadi sosok penyantun dan penyabar. Pesan Tuhan yang hendak
disampaikan tak disertai kekerasan yang berujung kepada perpecahan.
Keramahan pencipta dan pembawa agama Islam, sedikit banyak,
membekas dalam tubuh agama Islam itu sendiri. Indonesia sebagai negara
demokratis dan tercatat berpenghuni mayoritas muslim, yakni sekitar 90 persen, juga
tak disetujui mendengungkan “Islam” sebagai label negara—yakni, negara
Islam—dan menyematkannya terhadap ideologi negara ini, Pancasila. Makanya, sila
pertama berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”, bukan “Allah Yang Maha Esa.”
Menghargai dan menghormati orang lain tanpa dibatasi etnis, suku,
ras, dan agama. Adalah suatu pelecehan dan penghinaan bagi agama non-Islam di
Indonesia seandainya didirikan sebuah negara agama (Islam) atau negara yang
secara resmi berlandaskan agama. Sebab, menurut Hatta yang terpenting adalah
substansinya yaitu keadilan, yang harus diperjuangkan untuk dilaksanakan oleh
sebuah negara. (hal 20-21).
Islam dikenal sebagai agama yang terbuka. Pelbagai budaya
non-muslim diadopsi ke dalam agama Islam sehingga orang yang tidak membaca
sejarah menganggapnya budaya itu adalah budaya Islam tulen. Sebagai misal, Pemukulan
bedug dan kentungan merupakan pinjaman dari budaya Hindu-Budha itu yang dipakai
di banyak masjid. (hal 37). Simbolisasi ini banyak dijadikan keharusan.
Seakan-akan Masjid, sejauh pengamatan Cak Nur, tak sempurna tanpa sebuah bedug.
Keterbukaan Islam secara esoteris mengajarkan kepada pemeluknya
berpikir dinamis. Islam bukan agama yang fakum atau statis. Pergantiaan waktu
dan sentuhan budaya sangat mempengaruhi terhadap tampilan dan peran Islam.
Direnungkan saja Islam di masa Nabi saw. dan Islam di masa sekarang!
Cak Nur menegaskan diakhir makalahnya yang berjudul Reorientasi
Wawasan Pemikiran Keislaman tentang kemungkinan bentuk peran tepat bagi
umat Islam Indonesia di abad ke-21 yang akan segera tiba: Pertama, pengembangan
etos Iptek di kalangan umat Islam. Kedua, pluralisme Intra—umat,
berdasarkan ajaran ukhuwwah Islamiyah. Ketiga, pluralisme antar—umat
beragama. Keempat, pengembangan demokrasi dan keadilan sosial. Kelima,
masalah tradisi dan medernitas. Keenam, antisipasi abad informatika
dan efek globalisasi. (hal 88).
Sebagai ilmuwan yang hidup di abab ke-21, pemikiran-pemikiran Cak
Nur yang tertuang dalam buku ini terkesan radikal, dinamis, plural, dan
inklusif. Islam dipeluk dengan rasa keikhlasan, tanpa disandera sikap ekstrim,
kalap, dan perang, yang itu semua akan pasti berujung pada kerusakan dan
perpecahan.
Kutipan pidato Nabi saw.
menjelang wafat beliau—yang dituturkan oleh Ali ibn Abi Thalib—yaitu: “Wahai
sekalian manusia ingatlah Allah. Ingatlah Allah, dalam agamamu dan amanatmu
sekalian. Ingat Allah. Ingat Allah, berkenaan dengan orang-orang yang kamu
kuasai dengan tangan kananmu. Berilah mereka makan seperti yang kamu makan, dan
berilah mereka pakaian seperti yang kamu pakai. Dan jangan kamu bebani mereka
dengan beban yang mereka tidak sanggup menanggungnya. Sebab sesungguhnya mereka
adalah daging, darah dan makhluk seperti halnya kamu sekalian sendiri. Awas,
barangsiapa bertindak zalim kepada mereka, maka akulah musuhnya di Hari Kiamat,
dan Allah adalah Hakimnya....” (hal 184)
Semoga menjadi muslim yang mampu mewarisi sikap-sikap Nabi saw.!
Selamat membaca![]
Annuqayah, 7 November 2015

No comments:
Post a Comment