Sunday, January 3, 2016

Potret Cak Nur tentang Pesantren



Judul Buku
Bilik-Bilik Pesantren
Penulis
Nurcholish Madjid
Penerbit
Dian Rakyat
Cetakan
-
Tebal
xxx +155 halaman
ISBN
979-523-994-5

Nurcholish Madjid (akrab disapa Cak Nur) adalah salah satu cendekiawan besar Indonesia yang pendapatnya banyak dijadikan rujukan. Dapat dibilang ia selevel Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dalam sebagian persepsi, segala pendapat dua tokoh ini diakui sekalipun tanpa didasari dengan rujukan.

Kontribusi Cak Nur dalam dunia pengetahuan tak perlu dipertanyakan kembali. Tulisan-tulisannya, baik tentang keislaman hingga politik, tercecer di pelbagai media. Terbitnya buku Bilik –Bilik Pesantren adalah giat penerbit untuk mempulikasikan tulisan-tulisan Cak Nur. Lebih fokus pada judul buku ini, tulisan yang dikumpulkan hanya tentang kepesantrenan. Karena bersifat pengelompokan, buku ini dilengkapi dengan pengantar dari Azyumardi Azra dan apendiks yang diambil dari dua tulisan: Pertama, makalah Pak Malik Fadjar yang disampaikan dalam satu Diskusi Panel tentang pesantren yang diselenggarakan oleh Lembaga Kemahasiswaan dan Yayasan Pembina Masjid Salman ITB. Kedua, tulisan yang merupakan laporan Tim Kompas (14 Oktober 1996) tentang seminar memperingati 70 tahun usia Pondok Modern Gontor Ponorogo.

Kecerdasan Cak Nur didukung dengan pengalaman belajar di Pondok Modern Gontor bertahun-tahun mengantarkannya menulis beberapa tulisan tentang pesantren dikomparasikan dengan kehidupan di Barat seperti Eropa, Amerika dan seterusnya.

Pesantren, bagi Cak Nur, adalah lembaga keagamaan asli (indegenous) di Indonesia. Sebab, yang serupa dengan pesantren sudah ada sejak masa kekuasaan Hindu-Budha. Dan, Islam tinggal meneruskan dan mengislamkan lembaga pendidikan yang sudah ada. (hal 3).

Semangat juang pesantren adalah suatu keunikan. Dipikir-pikir pesantren sampai sekarang masih survive. Pertahanan di tengah-tengah arus modernisasi sedikitpun pesantren tak geger. Bahkan, pesantren terbuka merespons perkembangan tanpa menghilangkan jati dirinya. Dalam kaidah usul fiqh disebut, al-muhafadhatu ala al-qadim al-shalih wa al-ahdu bi al-jadidi al-ashlah. Memelihara tradisi lama yang relevan dan mengonsumsi tradisi modern yang lebih relevan.

Keterbukaan dan semangat memelihara jati diri, pesantren masih tetap dipertanyakan bagi Cak Nur. Sebab, ada banyak keganjalan mulai dari tujuan pendidikan, bidang-bidang yang dipelajari, pergaulan, sampai kurikulum yang diterapkan di pesantren disejajarkan dengan perkembangan lembaga-lembaga pendidikan di luar pesantren.

Tujuan pesantren masih terkesan minus. Sebab, ada kecenderungan visi dan tujuan pesantren diserahkan pada proses improvisasi yang dipilih oleh seorang kiai atau bersama-sama para pembantunya secara intuitif yang disesuaikan dengan perkembangan pesantrennya. Sehingga, semangat membaca masa depan ada pada kepribadian pendirinya. Maka, tidak ayal kalau timbul persepsi bahwa hampir semua pesantren itu merupakan hasil usaha pribadi atau individu (individual enterprise). (hal 6).

Sejauh perkembangan zaman, tentunya sedikit banyak diukur dari perkembangan pengetahuan dan teknologi. Sayang pesantren banyak buta teknologi. Dilihat-lihat bidang-bidang pelajaran di pesantren hanyak berkutat pada soal keagamaan semata yang didukung dengan kitab-kitab klasik seperti Nahwu-Sharraf, Fiqh, Aqa’id, Tasawuf, Tafsir, Hadits, Bahasa Arab, dan Fundamentalisme. Sekalipun pesantren memfokuskan diri pada beberapa bidang-bidang itu, kajian-kajian santri tentang materi tersebut terkesan kaku. Apalagi pesantren banyak yang terkesan lambat dalam mempelajari bidang itu. Sebagai misal, santri dalam mempelajari Nahwu-Sharraf hingga bertahun-tahun.

Dalam hal pergaulan, pesantren merupakan tempat berkumpulnya para santri. Hampir setiap hari masing-masing di antara mereka berinteraksi. Melalui interaksi yang sangat erat, tak dipungkiri pengaruh lingkungan sangat menentukan terhadap kepribadian santri. Biasanya santri berlebihan dalam menghormat sehingga kiai atau guru tak ubahnya Nabi Muhammad saw, lebih-lebih Tuhan. Dan, mereka juga berlebihan dalam mempelajari pelajaran.

Segi mistis dalam setiap pengajian terbukti dari adanya konsep wirid. Biasanya seorang kiai konsisten mengaji kitab tertentu pada hari tertentu sebagai sebuah wirid sehingga itu menjadi semacam wajib hukumnya yang apabila ditinggalkan dengan sengaja terkesan berdosa.

Dari segi ideologi, pesantren memilih Ahlussunnah wal Jamaah sebagai cermin. Ahlussunnah wal Jamaah adalah sebuah ideologi yang mengacu pada golongan sunni. Dalam ilmu kalam mengikuti pemikiran Abu Hasan Al-Asy’ari. Dari teologi ini yang dipelajari kaum santri adalah tentang dua puluh sifat Tuhan. Biasanya, kitab yang dijadikan rujukan adalah Aqidatu al-Awwam. Sedangkan, dalam bidang fiqh ideologi itu mengacu pada empat madzhab: Imam Syafi’ie, Imam Malik, Imam Hambali, dan Imam Abu Hanifah.

Segi lain yang membedakan kaum santri dari lainnya adalah dalam hal pakaian. Santri konsisten dengan songkok dan sarung. Songkok pernah dianggap simbol kebangsaan berkat propaganda Bung Karno. Dan, itu pernah pula menjadi ejekan Hadi Subeno, seorang tokoh abangan yang anti santri dan pernah menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah serta pernah pula menjadi ketua umum Partai Nasional Indonesia. Hadi melakabkan santri sebagai “kaum sarungan”.

Tasawuf di pesantren bukan suatu yang asing. Terkadang santri tidak dapat menyeimbangkan bidang ilmu yang dikotomik yaitu ilmu kalam dan ilmu fiqh dengan ilmu tasawuf. Tentunya tasawuf esoteris, sementara teologi dan fiqh eksoteris. Dua segi yang berlawanan ini sulit dipertemukan. Mujur, Al-Ghazali mampu menyelamatkan dua kubu yang berseteru ini melalui karyanya, Ihya’ Ulum al-Din. Prestasi gemilang ini mengantarkannya meraih gelar Hujjatul Islam (argumentasi Islam atau pembela Islam). Hanyasanya, kesan tasawuf Al-Ghazali adalah asketik. Sehingga, pemikiran Al-Ghazali mendapat kecaman dari Ibnu Rusyd dengan karyanya, Tahafut al-Tahafut (Pengrusakan Buku Pengrusakan) dan yang paling sengit kecamaan itu timbul dari Ibnu Taimiyah, seorang ulama yang banyak mengilhami pergerakan pembaharuannya Muhammad Abduh di Mesir.

Potret minus tentang kondisi pesantren dihadapkan pada perkembangan zaman oleh Cak Nur mendapat kesan klise atau gagasan yang utopis bagi Prof. Drs. A. Malik Fajar, M.Sc. Sebab, perkembangan pesantren saat ini telah jauh menjulang dan menjanjikan terhadap keinginan masyarakat. Pada dekade 70-an dan 80-an, ketika LSM menjadi mainstream gerakan pemberdaan rakyat pesantren sering dilibatkan sebagai mitra dalam pembangunan masyarakat pedesaan. Pesantren dinilai lebih dekat dan mengetahui seluk-beluk masyarakat yang berada di lapisan bawah. Seperti, Pondok Pesantren Annuqayah yang terdapat di pedesaan Guluk-guluk, Sumenep tampil dengan rintisan Program Pengembangan Masyarakat yang membawa perubahan yang luar biasa terhadap lingkungan sekitarnya. Sebab itulah, Annuqayah medapatkan hadiah dan penghargaan Kalpataru. (hal 123).

Pernyataan Cak Nur di atas yang terkesan memojokkan pesantren tak lain kerena cara pandangnya yang ingin membandingkan pesantren dengan memakai pendekatan formatif, dan teori-teori ilmu-ilmu sosial Barat. Sehingga hasilnya menyesatkan (hal 136). Tulisan Cak Nur itu tidak relevan lagi dijadikan cermin untuk pesantren sekarang ini sebab tulisan tersebut ditulis pada dekada 70-an.

Dan, kesimpulan negatif Cak Nur tentang masa depan pesantren tentu sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang ada: kesuksesan yang diraih alumni-alumni pesantren seperti KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdhatul Ulama; Abdurrahman Wahid, presiden kelima Indonesia; Prof. Dr. Said Aqil Siradj, ketua PBNU; dan lain sebagainya. Bukankah demikian, Cak Nur?[]


Annuqayah, 21 Desember 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...