Bilik-Bilik Pesantren
Penulis
Nurcholish Madjid
Penerbit
Dian Rakyat
Cetakan
-
Tebal
xxx +155 halaman
ISBN
979-523-994-5
Nurcholish Madjid (akrab disapa Cak Nur) adalah salah satu
cendekiawan besar Indonesia yang pendapatnya banyak dijadikan rujukan. Dapat
dibilang ia selevel Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dalam sebagian persepsi,
segala pendapat dua tokoh ini diakui sekalipun tanpa didasari dengan rujukan.
Kontribusi Cak Nur dalam dunia pengetahuan tak perlu dipertanyakan
kembali. Tulisan-tulisannya, baik tentang keislaman hingga politik, tercecer
di pelbagai media. Terbitnya buku Bilik –Bilik Pesantren adalah giat penerbit
untuk mempulikasikan tulisan-tulisan Cak Nur. Lebih fokus pada judul buku ini,
tulisan yang dikumpulkan hanya tentang kepesantrenan. Karena bersifat pengelompokan, buku ini
dilengkapi dengan pengantar dari Azyumardi Azra dan apendiks yang diambil dari
dua tulisan: Pertama, makalah Pak Malik Fadjar yang disampaikan dalam
satu Diskusi Panel tentang pesantren yang diselenggarakan oleh Lembaga
Kemahasiswaan dan Yayasan Pembina Masjid Salman ITB. Kedua, tulisan yang
merupakan laporan Tim Kompas (14 Oktober 1996) tentang seminar memperingati 70
tahun usia Pondok Modern Gontor Ponorogo.
Kecerdasan Cak Nur didukung dengan pengalaman belajar di Pondok
Modern Gontor bertahun-tahun mengantarkannya menulis beberapa tulisan tentang
pesantren dikomparasikan dengan kehidupan di Barat seperti Eropa, Amerika dan
seterusnya.
Pesantren, bagi Cak Nur, adalah lembaga keagamaan asli (indegenous)
di Indonesia. Sebab, yang serupa dengan pesantren sudah ada sejak masa
kekuasaan Hindu-Budha. Dan, Islam tinggal meneruskan dan mengislamkan lembaga
pendidikan yang sudah ada. (hal 3).
Semangat juang pesantren adalah suatu keunikan. Dipikir-pikir
pesantren sampai sekarang masih survive. Pertahanan di tengah-tengah
arus modernisasi sedikitpun pesantren tak geger. Bahkan, pesantren terbuka merespons
perkembangan tanpa menghilangkan jati dirinya. Dalam kaidah usul fiqh disebut, al-muhafadhatu
ala al-qadim al-shalih wa al-ahdu bi al-jadidi al-ashlah. Memelihara tradisi lama yang relevan dan mengonsumsi tradisi modern
yang lebih relevan.
Keterbukaan dan semangat memelihara jati diri, pesantren masih
tetap dipertanyakan bagi Cak Nur. Sebab, ada banyak keganjalan mulai dari
tujuan pendidikan, bidang-bidang yang dipelajari, pergaulan, sampai kurikulum
yang diterapkan di pesantren disejajarkan dengan perkembangan lembaga-lembaga
pendidikan di luar pesantren.
Tujuan pesantren masih terkesan minus. Sebab, ada kecenderungan
visi dan tujuan pesantren diserahkan pada proses improvisasi yang dipilih oleh
seorang kiai atau bersama-sama para pembantunya secara intuitif yang
disesuaikan dengan perkembangan pesantrennya. Sehingga, semangat membaca masa
depan ada pada kepribadian pendirinya. Maka, tidak ayal kalau timbul persepsi
bahwa hampir semua pesantren itu merupakan hasil usaha pribadi atau individu (individual
enterprise). (hal 6).
Sejauh perkembangan zaman, tentunya sedikit banyak diukur dari
perkembangan pengetahuan dan teknologi. Sayang pesantren banyak buta teknologi.
Dilihat-lihat bidang-bidang pelajaran di pesantren hanyak berkutat pada soal
keagamaan semata yang didukung dengan kitab-kitab klasik seperti Nahwu-Sharraf,
Fiqh, Aqa’id, Tasawuf, Tafsir, Hadits, Bahasa Arab, dan Fundamentalisme.
Sekalipun pesantren memfokuskan diri pada beberapa bidang-bidang itu,
kajian-kajian santri tentang materi tersebut terkesan kaku. Apalagi pesantren
banyak yang terkesan lambat dalam mempelajari bidang itu. Sebagai misal, santri
dalam mempelajari Nahwu-Sharraf hingga bertahun-tahun.
Dalam hal pergaulan, pesantren merupakan tempat berkumpulnya para
santri. Hampir setiap hari masing-masing di antara mereka berinteraksi. Melalui
interaksi yang sangat erat, tak dipungkiri pengaruh lingkungan sangat
menentukan terhadap kepribadian santri. Biasanya santri berlebihan dalam
menghormat sehingga kiai atau guru tak ubahnya Nabi Muhammad saw, lebih-lebih
Tuhan. Dan, mereka juga berlebihan dalam mempelajari pelajaran.
Segi mistis dalam setiap pengajian terbukti dari adanya konsep
wirid. Biasanya seorang kiai konsisten mengaji kitab tertentu pada hari
tertentu sebagai sebuah wirid sehingga itu menjadi semacam wajib hukumnya yang
apabila ditinggalkan dengan sengaja terkesan berdosa.
Dari segi ideologi, pesantren memilih Ahlussunnah wal Jamaah
sebagai cermin. Ahlussunnah wal Jamaah adalah sebuah ideologi yang mengacu pada
golongan sunni. Dalam ilmu kalam mengikuti pemikiran Abu Hasan Al-Asy’ari. Dari
teologi ini yang dipelajari kaum santri adalah tentang dua puluh sifat Tuhan.
Biasanya, kitab yang dijadikan rujukan adalah Aqidatu al-Awwam. Sedangkan,
dalam bidang fiqh ideologi itu mengacu pada empat madzhab: Imam Syafi’ie, Imam Malik, Imam Hambali,
dan Imam Abu Hanifah.
Segi lain yang membedakan kaum santri dari lainnya adalah dalam hal
pakaian. Santri konsisten dengan songkok dan sarung. Songkok pernah
dianggap simbol kebangsaan berkat propaganda Bung Karno. Dan, itu pernah pula
menjadi ejekan Hadi Subeno, seorang tokoh abangan yang anti santri dan pernah
menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah serta pernah pula menjadi ketua umum
Partai Nasional Indonesia. Hadi melakabkan santri sebagai “kaum sarungan”.
Tasawuf di pesantren bukan suatu yang asing. Terkadang santri tidak
dapat menyeimbangkan bidang ilmu yang dikotomik yaitu ilmu kalam dan ilmu fiqh
dengan ilmu tasawuf. Tentunya tasawuf esoteris, sementara teologi dan fiqh
eksoteris. Dua segi yang berlawanan ini sulit dipertemukan. Mujur, Al-Ghazali
mampu menyelamatkan dua kubu yang berseteru ini melalui karyanya, Ihya’ Ulum
al-Din. Prestasi gemilang ini mengantarkannya meraih gelar Hujjatul
Islam (argumentasi Islam atau pembela Islam). Hanyasanya, kesan
tasawuf Al-Ghazali adalah asketik. Sehingga, pemikiran Al-Ghazali mendapat
kecaman dari Ibnu Rusyd dengan karyanya, Tahafut al-Tahafut (Pengrusakan
Buku Pengrusakan) dan yang paling sengit kecamaan itu timbul dari Ibnu
Taimiyah, seorang ulama yang banyak mengilhami pergerakan pembaharuannya Muhammad
Abduh di Mesir.
Potret minus tentang kondisi pesantren dihadapkan pada perkembangan
zaman oleh Cak Nur mendapat kesan klise atau gagasan yang utopis bagi Prof.
Drs. A. Malik Fajar, M.Sc. Sebab, perkembangan pesantren saat ini telah jauh
menjulang dan menjanjikan terhadap keinginan masyarakat. Pada dekade 70-an dan
80-an, ketika LSM menjadi mainstream gerakan pemberdaan rakyat pesantren
sering dilibatkan sebagai mitra dalam pembangunan masyarakat pedesaan.
Pesantren dinilai lebih dekat dan mengetahui seluk-beluk masyarakat yang berada
di lapisan bawah. Seperti, Pondok Pesantren Annuqayah yang terdapat di pedesaan
Guluk-guluk, Sumenep tampil dengan rintisan Program Pengembangan Masyarakat
yang membawa perubahan yang luar biasa terhadap lingkungan sekitarnya. Sebab
itulah, Annuqayah medapatkan hadiah dan penghargaan Kalpataru. (hal 123).
Pernyataan Cak Nur di atas yang terkesan memojokkan pesantren tak
lain kerena cara pandangnya yang ingin membandingkan pesantren dengan memakai
pendekatan formatif, dan teori-teori ilmu-ilmu sosial Barat. Sehingga hasilnya
menyesatkan (hal 136). Tulisan Cak Nur itu tidak relevan lagi dijadikan cermin untuk
pesantren sekarang ini sebab tulisan tersebut ditulis pada dekada 70-an.
Dan, kesimpulan negatif Cak Nur tentang masa depan pesantren tentu
sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang ada: kesuksesan yang diraih alumni-alumni pesantren
seperti KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdhatul Ulama; Abdurrahman Wahid,
presiden kelima Indonesia; Prof. Dr. Said Aqil Siradj, ketua PBNU; dan lain
sebagainya. Bukankah demikian, Cak Nur?[]
Annuqayah, 21 Desember 2015

No comments:
Post a Comment