Monday, February 20, 2017

Tuhan, Hamba, dan Doa



Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang penuh kerugian, sedang kita tidak merasa.

Kita mengaku muslim. Tetapi, seringkali kita berprilaku tercela: mencela, mengoceh, dan merasa paling benar di tengah kontroversi. Kita mengaku bertuhan pada Yang Esa. Sayang, hati menyakini yang lain sedang menganti posisi-Nya. Tak sadar, kita telah teperosok dalam ketidaksadaran.

Hidup butuh yang lain. Tentu, yang lain adalah Tuhan. Apakah kita akan dibuat abai kepada sesama? Tidak. Kita dituntut menjadikan Tuhan pertama dalam segala hal: suka dan duka. Baru manusia dan seterusnya. Bukan kebalik. Manusia dulu, misal, kemudian Tuhan. Mendahulukan manusia daripada Tuhan adalah simbol terlepasnya kepercayaan yang ditanam semenjak lahir: fitrah.

Mari bertanya soal Tuhan. Siapakah dia? Ada di manakah ia? Dan seterusnya. Kendati beribu tanya bermunculan, kita selalu dibuat tidak puas. Sebab ketidakpuasan itulah, pencarian manusia tentang Tuhan tidak berujung dan bertepi.

Hanya Al-Qur'an menyampaikan pesan Tuhan soal pertanyaan hamba tentang eksistensi-Nya.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran. (QS. Al-Baqarah [2]: 186)

Tandas sekali Tuhan memastikan wujud-Nya. Dia dekat. Seakan-akan Dia selalu bersama kita kapan pun dan di mana pun. Dia selalu melihat kita. Kendati kita merasa sendirian. Tidak sadar, Dia dekat.

Kedekatan Tuhan tak bisa dibandingkan dengan kedekatan selain-Nya. Selain Tuhan boleh dekat. Tapi, kedekatan mereka berbatas. Kala mereka pergi, sirna dari dekat kita. Itulah manusia serba lemah.

Kedekatan Tuhan menjadi penanda bahwa doa hamba-Nya akan selalu disimak dan didengar, walau doa itu tidak terucap. Hanya desiran hati yang tidak dapat didengar selain-Nya. Dalam pesan ayat di atas, doa hamba akan dikalbulkan bila kita benar-benar berdoa kepada-Nya, bukan selain-Nya.

Kunci dari sejuta doa adalah kepercayaan hati, bahwa doa itu terkabul. Entah, keterkabulan doa itu waktu itu pula ataupun masih ditunda. Tuhanlah yang mengetahui. Tugas kita selaku hamba sederhana, yakni beribadah. Mengabdi kepada-Nya. Tunjukkan identitas keberhambaan. Jadikan Tuhan Yang Esa adalah yang pertama, bukan yang kedua.[]

Menu-menu Doa



Siapa pun ia, selagi ia masih disebut makhluk, musti lemah. Ia tidak kuasa laksana Tuhan Yang Maha Kuasa. Di kala itu, ia butuh yang lain, entah Tuhan ataupun sesamanya.

Kehadiran yang lain adalah sandaran mencapai yang diimpikan. Sebagai misal, kita butuh gorengan, sementara kita sendiri belum tahu membikinnya sebab keterbatasan metode dan praktek bikin gorengan, tentu kita butuh penjual gorengan.

Doa adalah curhat seorang hamba pada Sang Pencipta. Dia diyakininya Tuhan yang memiliki kuasa mewujudkan impian. Seorang hamba menyuguhkan menu-menu doa, mulai persoalan keterpurukan hingga masa depan yang cerah, mulai persoalan krisis hingga hidup cukup, ataupun mulai misterius jodoh hingga pasangan impian.

Di kala itu, seorang hamba merasa lemah. Sikap sombong, angkuh, dan kuasa ditindih sampai tidak terbersit dalam sanubari. Sikap hamba yang seperti ini telah mampu memerangi gejolak batin yang mungkin jauh lebih berat dan sulit dibandingkan menepis kaum kafir Quraisy di medan perang Badar. Pergulatan nafsu adalah satu-satunya peperangan yang halus, bahkan tanpa terasa ia dicinta.

Ketertempelan sikap angkuh dan sombong adalah penyakit yang telah merongrong jiwa tawaduk. Bila sikap itu masih saja belum di-back up akan berakibat fatal pada keterkabulan doa. Sebab, ia telah menduakan Tuhan. Menduakan-Nya berarti sedang menuhankan yang lain, yakni dirinya sendiri yang angkuh. Naudzu billah!

Tuhan, sebagaimana pesan surah Al-Ikhlash, merupakan satu-satunya dzat yang semestinya diesakan. Dia Allah Yang Maha Esa. Tidak beranak dan diperanakkan. Dan, tidak ada tempat bersandar selain-Nya.

Kebersandaran kita kepada manusia terbatas waktu dan tempat. Kala yang dijadikan sandaran tidak lagi di dekat kita, hilanglah sandaran itu. Berbeda menjadikan Tuhan  sebagai tempat bersandar. Tuhan tidak pernah musnah, tidur, meninggalkan hamba-Nya, dan seterusnya. Kapan dan di mana pun, Dia selalu ada untuk hamba-Nya. Terkadang, mereka sendiri yang menyayangkan dan tidak meyakini kehadiran Tuhan, sehingga mereka menjauh. Padahal, Tuhan tidak pernah menjauhi hamba-Nya yang menjauh dari-Nya, pun Dia tidak pernah lupa hamba-Nya yang melupakan-Nya. Demikian pesan Jefri Bukhari.

Berdoalah. Doa itu adalah ungkapan sikap hamba yang membutuhkan Sang Pencipta. Di kala itu, hamba yang senang berdoa tanpa terasa telah menjadi hamba sejati. Dia telah memahami identitas hamba yang diemban.

Berdoa tidak selamanya diperbuat kita seorang. Silakan minta yang lain, entah teman, kerabat, dan kekasih, mendoakan kita. Sebutkan menu-menu doa yang kita pesan. Jangan sampai kalah saat kita memesan menu makanan dan minuman di cafe atau warung sekitar.[]

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...