Monday, February 20, 2017

Menu-menu Doa



Siapa pun ia, selagi ia masih disebut makhluk, musti lemah. Ia tidak kuasa laksana Tuhan Yang Maha Kuasa. Di kala itu, ia butuh yang lain, entah Tuhan ataupun sesamanya.

Kehadiran yang lain adalah sandaran mencapai yang diimpikan. Sebagai misal, kita butuh gorengan, sementara kita sendiri belum tahu membikinnya sebab keterbatasan metode dan praktek bikin gorengan, tentu kita butuh penjual gorengan.

Doa adalah curhat seorang hamba pada Sang Pencipta. Dia diyakininya Tuhan yang memiliki kuasa mewujudkan impian. Seorang hamba menyuguhkan menu-menu doa, mulai persoalan keterpurukan hingga masa depan yang cerah, mulai persoalan krisis hingga hidup cukup, ataupun mulai misterius jodoh hingga pasangan impian.

Di kala itu, seorang hamba merasa lemah. Sikap sombong, angkuh, dan kuasa ditindih sampai tidak terbersit dalam sanubari. Sikap hamba yang seperti ini telah mampu memerangi gejolak batin yang mungkin jauh lebih berat dan sulit dibandingkan menepis kaum kafir Quraisy di medan perang Badar. Pergulatan nafsu adalah satu-satunya peperangan yang halus, bahkan tanpa terasa ia dicinta.

Ketertempelan sikap angkuh dan sombong adalah penyakit yang telah merongrong jiwa tawaduk. Bila sikap itu masih saja belum di-back up akan berakibat fatal pada keterkabulan doa. Sebab, ia telah menduakan Tuhan. Menduakan-Nya berarti sedang menuhankan yang lain, yakni dirinya sendiri yang angkuh. Naudzu billah!

Tuhan, sebagaimana pesan surah Al-Ikhlash, merupakan satu-satunya dzat yang semestinya diesakan. Dia Allah Yang Maha Esa. Tidak beranak dan diperanakkan. Dan, tidak ada tempat bersandar selain-Nya.

Kebersandaran kita kepada manusia terbatas waktu dan tempat. Kala yang dijadikan sandaran tidak lagi di dekat kita, hilanglah sandaran itu. Berbeda menjadikan Tuhan  sebagai tempat bersandar. Tuhan tidak pernah musnah, tidur, meninggalkan hamba-Nya, dan seterusnya. Kapan dan di mana pun, Dia selalu ada untuk hamba-Nya. Terkadang, mereka sendiri yang menyayangkan dan tidak meyakini kehadiran Tuhan, sehingga mereka menjauh. Padahal, Tuhan tidak pernah menjauhi hamba-Nya yang menjauh dari-Nya, pun Dia tidak pernah lupa hamba-Nya yang melupakan-Nya. Demikian pesan Jefri Bukhari.

Berdoalah. Doa itu adalah ungkapan sikap hamba yang membutuhkan Sang Pencipta. Di kala itu, hamba yang senang berdoa tanpa terasa telah menjadi hamba sejati. Dia telah memahami identitas hamba yang diemban.

Berdoa tidak selamanya diperbuat kita seorang. Silakan minta yang lain, entah teman, kerabat, dan kekasih, mendoakan kita. Sebutkan menu-menu doa yang kita pesan. Jangan sampai kalah saat kita memesan menu makanan dan minuman di cafe atau warung sekitar.[]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...