Folklore Madura
Penulis
Emha Ainun Nadjib
Penerbit
PROGRESS
Cetakan
3, Februari 2007
Tebal
xii + 150 halaman
ISBN
979-9010-02-0
Sekian banyak buku yang ditulis Emha Ainun
Nadjib mendapat perhatian serius banyak pembaca. Di samping titel ‘penyair’
yang disandang, perhatian Ehma terhadap hal-hal sepele menjadi salah satu
faktor lahirnya buku Folklore Madura—buku yang mengisahkan sikap jenaka
dan lugu orang Madura, namun sarat makna.
Sekalipun judul buku ini lebih spesifikasi
terhadap orang Madura, isinya penuh dengan kisah-kisah aktor lain seperti
Saridin, Gus Dur, Kang Shobary, dan Pak Profesor. Di antara kisah-kisah ini
yang menarik, adalah kisah Saridin, pelajar yang nyantri ke pondoknya Sunan
Kudus.
Watak Saridin yang tampak nyentrik selalu
menjadi perhatian banyak santri Sunan Kudus, lebih-lebih beliau sendiri. Salah
satu sikap nyentrik Saridin yang sampai-sampai bikin banyak santri kagum adalah
tunjuk adegan menjatuhkan dirinya dari atas pohon yang tinggi ke tanah tanpa
rasa sakit sedikit pun. Bisik-bisik santri, hebat!
Sikap nyentrik Saridin tidak mengurangi rasa
takdimnya kepada sang guru (Sunan Kudus). Dalam tulisan Emha yang berjudul
“Kisah Per-jambleng-an Nasional” diceritakan Saridin mendadak muncul
saat pelatihan silat berlangsung; kedatangannya telah merusak suasana:
bernyanyi keras dan bertepuk tangan. Para santri geram. Karena sikap Saridin
yang terasa menyakitkan, mengejek, menghina, menertawakan, dan mempermalukan,
santri senior berteriak: “Kalau kamu berani-berani lagi menginjakkan kakimu di
tanah padepokan ini, saya tidak bertanggung jawab kalau kakimu patah-patah atau
tenggorokanmu memuntahkan darah dan bahkan ususmu sekalian.” (hal 64).
Tanpa dinyana, Saridin tiba-tiba menghilang.
Santri mumet lalu Sunan Kudus tersenyum melihat kelakuan santrinya dan kasih
tahu mereka bahwa Saridin ada di jumbleng. Ternyata benar. Hampir saja
dikeroyok, tapi Sunan Kudus menghadangnya. Suasana jadi tenang, Sunan tanya
kepada Saridin, “Sampai kapan kamu akan berjongkok di situ?”//“Terserah Sunan,”
jawab Saridin, “Hamba bermaksud berguru kepada Sunan. Hamba memohon diterima
menjadi murid Sunan. Untuk itu hamba bersedia melakukan apapun yang Sunan
perintahkan.”//“Kamu mau jongkok di situ sepekan?”//“Sendiko, Sunan.”// (hal
66).
Keluguan dan sikap nyentrik Saridin tampak di
mata banyak orang, terutama santri Sunan Kudus. Di balik sikap nyentri ini
sejatinya dia kritis. Dia: [1] menertawakan orang-orang yang sembahyang/shalat
yang terkesan lawakan. Mereka sebenarnya bersikap sok khusuk dan serius, tapi
hatinya berkeliaran ke mana-mana. Seakan-akan Tuhan dipermainkan; dan [2]
mengkritik mahasiswa yang belajar di kuliah. Disadari atau tidak, kata ‘kuliah’
diambil dari bahasa Arab ‘kulliyah’ yang bermakna ‘universal’.
Sayangnya, mereka tidak menjadi “manusia universal” melainkan “manusia
fakultatif.”
Sikap kritis Saridin yang secara tidak
langsung telah mengkritik cara pandang/anggapan kita yang sempit; sehingga
kebenaran didasarkan pada sesuatu yang tampak baik dalam pandangan mata.
Padahal kata hati bisa jadi berbeda dengan perbuatannya.
***
Orang Madura, merujuk sinopsis buku ini,
merupakan bangsa yang memiliki kemampuan menghadirkan realitas secara sederhana
melalui parodi orisinal yang berasal dari kehidupan sehari-hari. Sikap lucu
yang terpancar dari kepribadiannya, salah satunya, kisah orang Madura yang
bepergian ke kota—baca tulisan Emha di buku ini, Play=Mainan Boy=Anak-anak—ketika
bermaksud membeli oleh-oleh untuk cucunya dia bilang: “Saya mau beli playboy.
Play itu mainan. Boy itu anak-anak.”
Sikap lucu ini ditulis Emha karena makna
filosofisnya sangat kuat; parodi ini mengkritik sikap banyak orang pergi haji
ketika pulang selalu disibukkan dengan oleh-oleh yaitu mainan anak-anak,
padahal jarak yang ditepuh dari rumahnya hingga Mekah lalu balik/pulang sangat
jauh dan tentunya menghabiskan biaya yang sangat mahal. Kenapa tidak difokuskan
beribadah saja?
Kendatipun sikap lucu itu tak dapat
dipisahkan dari sosok orang Madura, jangan lantas ditafsirkan orang Madura
tidak serius atau suka ngelantur. Emha dalam buku ini telah menghapus anggapan
negatif/bukan-bukan tentang orang Madura.
Pertama, bangsa Madura religius. Dalam tulisan
yang bertajuk Mati Serius Cara Ketawa jelas: pandangan bangsa Madura
tentang mati tampak berbeda dari bangsa-bangsa lainnya. Mereka pikir, mati
adalah suatu kegembiraan yang kalau Tuhan memperbolehkan—yang akan mereka
jalani dengan tertawa-tawa. Sebab, mati itu media bertemu dengan Tuhan.
Kedua, kompeten menjunjung kehormatan. Berbicara
tentang kehormatan, saya teringat dengan budaya carok Madura yang meledak
hingga luar Madura. Budaya tragis ini tercipta karena pandangan kuat tentang
kehormatan untuk masing-masing orang. Hilangnya kehormatan menjadi hinanya diri
manusia. Lebih baik mati dengan darah yang memuncrat daripada merasa diejek,
dihina, dan terkucilkan.
Ketiga, the most favourable people—orang
yang baik. Sebuah tulisan Emha berjudul The Most Favourable People yang
saya kutip mengurai tentang sosok bangsa Madura. Diceritakan, ada seorang
pasien yang menolak dikasih donor pamannya. Sebab, si paman itu iblis
kelakuannya. Apa jadinya jika darah itu masuk ke dalam tubuh si pasien nanti!
Sungguh kuat menjaga perilaku dan moral hidupnya!
***
Parodi Saridin dan bangsa Madura mampu
menyadarkan persepsi dan kelakuan salah kita yang tidak disadari karena
terkesan remeh temeh. Justru akibat besar itu timbul dari hal yang kecil.
Tulisan Emha sungguh memberikan sumbangsih
positif dan plus bagi kita guna menjadi manusia yang mampu menelaah peristiwa
hidup yang remeh. Dengan tulisan yang santai, komunikatif dan mengalir, sangat
enak tulisan-tulisan di buku ini dibaca dalam kondisi apapun, terutama saat
jenuh. Selamat membaca![]
Lubangsa, 26 Agustus 2015
