Saturday, September 5, 2015

Parodi Saridin dan Bangsa Madura



Judul Buku
Folklore Madura
Penulis
Emha Ainun Nadjib
Penerbit
PROGRESS
Cetakan
3, Februari 2007
Tebal
xii + 150 halaman
ISBN
979-9010-02-0

Sekian banyak buku yang ditulis Emha Ainun Nadjib mendapat perhatian serius banyak pembaca. Di samping titel ‘penyair’ yang disandang, perhatian Ehma terhadap hal-hal sepele menjadi salah satu faktor lahirnya buku Folklore Madura—buku yang mengisahkan sikap jenaka dan lugu orang Madura, namun sarat makna.

Sekalipun judul buku ini lebih spesifikasi terhadap orang Madura, isinya penuh dengan kisah-kisah aktor lain seperti Saridin, Gus Dur, Kang Shobary, dan Pak Profesor. Di antara kisah-kisah ini yang menarik, adalah kisah Saridin, pelajar yang nyantri ke pondoknya Sunan Kudus.

Watak Saridin yang tampak nyentrik selalu menjadi perhatian banyak santri Sunan Kudus, lebih-lebih beliau sendiri. Salah satu sikap nyentrik Saridin yang sampai-sampai bikin banyak santri kagum adalah tunjuk adegan menjatuhkan dirinya dari atas pohon yang tinggi ke tanah tanpa rasa sakit sedikit pun. Bisik-bisik santri, hebat!

Sikap nyentrik Saridin tidak mengurangi rasa takdimnya kepada sang guru (Sunan Kudus). Dalam tulisan Emha yang berjudul “Kisah Per-jambleng-an Nasional” diceritakan Saridin mendadak muncul saat pelatihan silat berlangsung; kedatangannya telah merusak suasana: bernyanyi keras dan bertepuk tangan. Para santri geram. Karena sikap Saridin yang terasa menyakitkan, mengejek, menghina, menertawakan, dan mempermalukan, santri senior berteriak: “Kalau kamu berani-berani lagi menginjakkan kakimu di tanah padepokan ini, saya tidak bertanggung jawab kalau kakimu patah-patah atau tenggorokanmu memuntahkan darah dan bahkan ususmu sekalian.” (hal 64).

Tanpa dinyana, Saridin tiba-tiba menghilang. Santri mumet lalu Sunan Kudus tersenyum melihat kelakuan santrinya dan kasih tahu mereka bahwa Saridin ada di jumbleng. Ternyata benar. Hampir saja dikeroyok, tapi Sunan Kudus menghadangnya. Suasana jadi tenang, Sunan tanya kepada Saridin, “Sampai kapan kamu akan berjongkok di situ?”//“Terserah Sunan,” jawab Saridin, “Hamba bermaksud berguru kepada Sunan. Hamba memohon diterima menjadi murid Sunan. Untuk itu hamba bersedia melakukan apapun yang Sunan perintahkan.”//“Kamu mau jongkok di situ sepekan?”//“Sendiko, Sunan.”// (hal 66).

Keluguan dan sikap nyentrik Saridin tampak di mata banyak orang, terutama santri Sunan Kudus. Di balik sikap nyentri ini sejatinya dia kritis. Dia: [1] menertawakan orang-orang yang sembahyang/shalat yang terkesan lawakan. Mereka sebenarnya bersikap sok khusuk dan serius, tapi hatinya berkeliaran ke mana-mana. Seakan-akan Tuhan dipermainkan; dan [2] mengkritik mahasiswa yang belajar di kuliah. Disadari atau tidak, kata ‘kuliah’ diambil dari bahasa Arab ‘kulliyah’ yang bermakna ‘universal’. Sayangnya, mereka tidak menjadi “manusia universal” melainkan “manusia fakultatif.”

Sikap kritis Saridin yang secara tidak langsung telah mengkritik cara pandang/anggapan kita yang sempit; sehingga kebenaran didasarkan pada sesuatu yang tampak baik dalam pandangan mata. Padahal kata hati bisa jadi berbeda dengan perbuatannya.

***

Orang Madura, merujuk sinopsis buku ini, merupakan bangsa yang memiliki kemampuan menghadirkan realitas secara sederhana melalui parodi orisinal yang berasal dari kehidupan sehari-hari. Sikap lucu yang terpancar dari kepribadiannya, salah satunya, kisah orang Madura yang bepergian ke kota—baca tulisan Emha di buku ini, Play=Mainan Boy=Anak-anak—ketika bermaksud membeli oleh-oleh untuk cucunya dia bilang: “Saya mau beli playboy. Play itu mainan. Boy itu anak-anak.”

Sikap lucu ini ditulis Emha karena makna filosofisnya sangat kuat; parodi ini mengkritik sikap banyak orang pergi haji ketika pulang selalu disibukkan dengan oleh-oleh yaitu mainan anak-anak, padahal jarak yang ditepuh dari rumahnya hingga Mekah lalu balik/pulang sangat jauh dan tentunya menghabiskan biaya yang sangat mahal. Kenapa tidak difokuskan beribadah saja?

Kendatipun sikap lucu itu tak dapat dipisahkan dari sosok orang Madura, jangan lantas ditafsirkan orang Madura tidak serius atau suka ngelantur. Emha dalam buku ini telah menghapus anggapan negatif/bukan-bukan tentang orang Madura.

Pertama, bangsa Madura religius. Dalam tulisan yang bertajuk Mati Serius Cara Ketawa jelas: pandangan bangsa Madura tentang mati tampak berbeda dari bangsa-bangsa lainnya. Mereka pikir, mati adalah suatu kegembiraan yang kalau Tuhan memperbolehkan—yang akan mereka jalani dengan tertawa-tawa. Sebab, mati itu media bertemu dengan Tuhan.

Kedua, kompeten menjunjung kehormatan. Berbicara tentang kehormatan, saya teringat dengan budaya carok Madura yang meledak hingga luar Madura. Budaya tragis ini tercipta karena pandangan kuat tentang kehormatan untuk masing-masing orang. Hilangnya kehormatan menjadi hinanya diri manusia. Lebih baik mati dengan darah yang memuncrat daripada merasa diejek, dihina, dan terkucilkan.

Ketiga, the most favourable people—orang yang baik. Sebuah tulisan Emha berjudul The Most Favourable People yang saya kutip mengurai tentang sosok bangsa Madura. Diceritakan, ada seorang pasien yang menolak dikasih donor pamannya. Sebab, si paman itu iblis kelakuannya. Apa jadinya jika darah itu masuk ke dalam tubuh si pasien nanti! Sungguh kuat menjaga perilaku dan moral hidupnya!

***

Parodi Saridin dan bangsa Madura mampu menyadarkan persepsi dan kelakuan salah kita yang tidak disadari karena terkesan remeh temeh. Justru akibat besar itu timbul dari hal yang kecil.

Tulisan Emha sungguh memberikan sumbangsih positif dan plus bagi kita guna menjadi manusia yang mampu menelaah peristiwa hidup yang remeh. Dengan tulisan yang santai, komunikatif dan mengalir, sangat enak tulisan-tulisan di buku ini dibaca dalam kondisi apapun, terutama saat jenuh. Selamat membaca![]

Lubangsa, 26 Agustus 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...