Dari petuah sang guru hingga tulisan-tulisan dalam kitab atau buku disertai gambar-gambarnya sering kita jumpai tentang tema kehidupan setelah kematian. Yang demikian sering pula banyak orang tidak percaya; seakan-akan itu hanya omong kosong yang dibuat-buat sebagian orang pandai berceramah dan menulis—dapat dibahasakan sebagai “dogeng”—padahal yang seperti itu termasuk dinamika kehidupan di alam gaib yang tak dapat diindera semua orang yang masih hidup. Mereka cukup mempercayai/mengimani. Percaya pada alam gaib termasuk salah satu rukun iman.
Kepercayaan sangat berpengaruh terhadap
psikologi seseorang. Dalam contoh yang lain, orang yang takut kepada hantu
karena percaya bahwa di sana banyak hantu yang menakut-nakuti. Ia merasa kikuk
melangkah dan getir bertingkah. Andai saja mindset-nya di-install dengan
dugaan positif sehingga membentuk kepercayaan yang baik, psikologinya akan
merasa tenang.
Orang yang menyakini kehidupan hanya di alam
fana ini biasanya menyangkal kehidupan setelah kematian. Ketidakpercayaan
itulah yang mendorong mereka berbuat sebebas mungkin atau sekehendaknya
sendiri. Menurut mereka, perbuatan baik atau buruk tidak dibalas di akhirat
kelak, melainkan berakhir di dunia ini. Bisa jadi, mereka tidak percaya
keberadaan surga dan neraka yang dijelaskan dalam Al-Qur’an. Naudzubillah! Orang
seperti ini bisa dikategorikan dalam tudingan Allah swt dalam QS. Al-Baqarah:
7: Allah menutup mata hati dan pendengaran mereka. Dan, pelihatan mereka
ditutup. Bagi mereka siksa yang amat berat.
Allah swt telah menutup hidayah-Nya yang
mampu mendorong mereka sadar. Tak ayal, mereka tersesat seolah-olah orang yang
berjalan tersesat sehingga tidak sampai di tempat yang dituju. Dalam ayat yang
lain Dia memarginalkan mereka: …jalan orang-orang yang engkau karuniai
nikmat, bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang
sesat (QS. Al-Fatihah: 7).
Mengulas tentang hidayah Allah swt tidak
serta-merta mengaruniakannya kepada makhluk-Nya, malainkan butuh proses/usaha
dalam menggapai. Dalam sebuah adagium, tak semudah membalikkan kedua
telapak tangan. Tentang pentingnya proses, Dia sendiri dalam mencipta
sesuatu tanpa menafikan proses. Mari kita renungkan firman-Nya: Innama
amruhu idza araada syai’an ai yaqulu lahu kun fayaku (Hanyasanya urusan-Nya
apabila Dia berkehendak terhadap sesuatu seraya berfirman, jadilah maka
sesuatu itu jadi). Lafal jadilah maka sesuatu itu jadi merupakan
terjemahan dari lafal kun fayakun.
Dalam ayat ini, Allah berfirman tanpa
menafikan kata “fa”—menurut Ibnu Malik—termasuk huruf athaf
(konjungsi) yang berfungsi mengambarkan perbuatan yang terjadi secara
bergiliran yang di antaranya diikat dengan proses.
Teringat dengan kehidupan setelah kematian,
sebuah acara Kick Andy di Metro-TV mewawancarai pelaku mati suri—mati lalu
hidup kembali. Dialah Aslina yang mengalami kondisi ini. Mencuplik pemaparan
Aslina, saya sendiri menyimpulkan tak jauh berbeda dengan penjelasan sang guru
dan atau buku/kitab-kitab kuning. Tapi, pengalaman spiritual Aslina yang
diceritakan dengan serius mampu menghipnotis para pendengar.
Ceritanya, [1] sakit seperti kulit yang
disayat pisau tajam/dikuliti benar-benar dirasakan saat ruh dicabut dari jasad;
[2] dia sempat melihat jasadnya sendiri; [3] dia ketemu dengan bapaknya yang
telah meninggal jauh hari sebelumnya; [4] dia ketemu dengan dua orang yang
mendampinginya—yang dalam keyakinan orang Islam, dua orang itu adalah
malaikat—yang keduanya seperti orang laki-laki; dan [5] dia diperlihatkan
dengan kejadian-kejadian di alam kubur seperti orang yang disiksa dengan
memikul besi besar tapi mereka tidak sampai-sampai di tempat yang dituju (orang
itu disiksa karena suka menyantet), dua orang yang berkelahi, dan orang yang
kemaluannya dihunus alat tajam.
Nonton acara itu, saya membatin. Ingatan saya
tumbuh, sungguh banyak orang yang lupa. Mereka dibius dengan kemewahan dan
kenikmatan dunia. Akhirnya, mereka lupa akan siksaan itu.
Kemewahan dunia bukan lantas ditepis
sepenuhnya, tapi dinikmati tanpa membabi-buta. Dalam sebuah hadits, Nabi
Muhammad saw memotivasi umatnya: Berbuatlah untuk duniamu seaka-akan kamu
hidup selamanya dan berbuatlah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati esok. Artinya,
beliau menginginkan kita menjadi orang yang semangat menanam di dunia untuk
dipanen di akhirat kelak.
Kesempatan di dunia tidak disia-siakan.
Menurut Prof. Komaruddin Hidayat, “Jasad manusia sama dengan perekam. Jika yang
direkam adalah hal-hal yang baik, maka hasil rekamannya itu baik pula.
Sebaliknya, jika yang direkam sesuatu yang tidak baik, maka hasilnya tidak baik
juga.”
Setiap sesuatu akan
dimintapertanggungjawabannya. Bukankah kullukum rain wa kullukum mas’ulun an
ra’iyatihi (setiap kamu adalah pemimpin. Dan, setiap pemimpin akan
dimintapertanggungjawabannya)?
Nah, ayat-ayat motivasi hendaknya selalu
direnungkan guna tidak sia-sia menjalani hidup. Sebuah petikan ayat motivasi, Faman
ya’mal mitsqala dzarratin khairan yarah waman ya’mal mitsqala dzarratin syarran
yarah (Maka barang siapa yang mengerjakan amal baik seberat zarah pun, ia
akan melihat (balasan)nya. Dan, barang siapa yang mengerjakan amal buruk
seberat zarah pun, ia akan melihat (balasan)nya).[]
Lubangsa, 28 Juli 2015
No comments:
Post a Comment