Saturday, September 5, 2015

Merenungkan Kehidupan setelah Kematian



Dari petuah sang guru hingga tulisan-tulisan dalam kitab atau buku disertai gambar-gambarnya sering kita jumpai tentang tema kehidupan setelah kematian. Yang demikian sering pula banyak orang tidak percaya; seakan-akan itu hanya omong kosong yang dibuat-buat sebagian orang pandai berceramah dan menulis—dapat dibahasakan sebagai “dogeng”—padahal yang seperti itu termasuk dinamika kehidupan di alam gaib yang tak dapat diindera semua orang yang masih hidup. Mereka cukup mempercayai/mengimani. Percaya pada alam gaib termasuk salah satu rukun iman.

Kepercayaan sangat berpengaruh terhadap psikologi seseorang. Dalam contoh yang lain, orang yang takut kepada hantu karena percaya bahwa di sana banyak hantu yang menakut-nakuti. Ia merasa kikuk melangkah dan getir bertingkah. Andai saja mindset-nya di-install dengan dugaan positif sehingga membentuk kepercayaan yang baik, psikologinya akan merasa tenang.

Orang yang menyakini kehidupan hanya di alam fana ini biasanya menyangkal kehidupan setelah kematian. Ketidakpercayaan itulah yang mendorong mereka berbuat sebebas mungkin atau sekehendaknya sendiri. Menurut mereka, perbuatan baik atau buruk tidak dibalas di akhirat kelak, melainkan berakhir di dunia ini. Bisa jadi, mereka tidak percaya keberadaan surga dan neraka yang dijelaskan dalam Al-Qur’an. Naudzubillah! Orang seperti ini bisa dikategorikan dalam tudingan Allah swt dalam QS. Al-Baqarah: 7: Allah menutup mata hati dan pendengaran mereka. Dan, pelihatan mereka ditutup. Bagi mereka siksa yang amat berat.

Allah swt telah menutup hidayah-Nya yang mampu mendorong mereka sadar. Tak ayal, mereka tersesat seolah-olah orang yang berjalan tersesat sehingga tidak sampai di tempat yang dituju. Dalam ayat yang lain Dia memarginalkan mereka: …jalan orang-orang yang engkau karuniai nikmat, bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (QS. Al-Fatihah: 7).

Mengulas tentang hidayah Allah swt tidak serta-merta mengaruniakannya kepada makhluk-Nya, malainkan butuh proses/usaha dalam menggapai. Dalam sebuah adagium, tak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Tentang pentingnya proses, Dia sendiri dalam mencipta sesuatu tanpa menafikan proses. Mari kita renungkan firman-Nya: Innama amruhu idza araada syai’an ai yaqulu lahu kun fayaku (Hanyasanya urusan-Nya apabila Dia berkehendak terhadap sesuatu seraya berfirman, jadilah maka sesuatu itu jadi). Lafal jadilah maka sesuatu itu jadi merupakan terjemahan dari lafal kun fayakun.

Dalam ayat ini, Allah berfirman tanpa menafikan kata “fa”—menurut Ibnu Malik—termasuk huruf athaf (konjungsi) yang berfungsi mengambarkan perbuatan yang terjadi secara bergiliran yang di antaranya diikat dengan proses.

Teringat dengan kehidupan setelah kematian, sebuah acara Kick Andy di Metro-TV mewawancarai pelaku mati suri—mati lalu hidup kembali. Dialah Aslina yang mengalami kondisi ini. Mencuplik pemaparan Aslina, saya sendiri menyimpulkan tak jauh berbeda dengan penjelasan sang guru dan atau buku/kitab-kitab kuning. Tapi, pengalaman spiritual Aslina yang diceritakan dengan serius mampu menghipnotis para pendengar.

Ceritanya, [1] sakit seperti kulit yang disayat pisau tajam/dikuliti benar-benar dirasakan saat ruh dicabut dari jasad; [2] dia sempat melihat jasadnya sendiri; [3] dia ketemu dengan bapaknya yang telah meninggal jauh hari sebelumnya; [4] dia ketemu dengan dua orang yang mendampinginya—yang dalam keyakinan orang Islam, dua orang itu adalah malaikat—yang keduanya seperti orang laki-laki; dan [5] dia diperlihatkan dengan kejadian-kejadian di alam kubur seperti orang yang disiksa dengan memikul besi besar tapi mereka tidak sampai-sampai di tempat yang dituju (orang itu disiksa karena suka menyantet), dua orang yang berkelahi, dan orang yang kemaluannya dihunus alat tajam.

Nonton acara itu, saya membatin. Ingatan saya tumbuh, sungguh banyak orang yang lupa. Mereka dibius dengan kemewahan dan kenikmatan dunia. Akhirnya, mereka lupa akan siksaan itu.

Kemewahan dunia bukan lantas ditepis sepenuhnya, tapi dinikmati tanpa membabi-buta. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad saw memotivasi umatnya: Berbuatlah untuk duniamu seaka-akan kamu hidup selamanya dan berbuatlah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati esok. Artinya, beliau menginginkan kita menjadi orang yang semangat menanam di dunia untuk dipanen di akhirat kelak.

Kesempatan di dunia tidak disia-siakan. Menurut Prof. Komaruddin Hidayat, “Jasad manusia sama dengan perekam. Jika yang direkam adalah hal-hal yang baik, maka hasil rekamannya itu baik pula. Sebaliknya, jika yang direkam sesuatu yang tidak baik, maka hasilnya tidak baik juga.”

Setiap sesuatu akan dimintapertanggungjawabannya. Bukankah kullukum rain wa kullukum mas’ulun an ra’iyatihi (setiap kamu adalah pemimpin. Dan, setiap pemimpin akan dimintapertanggungjawabannya)?

Nah, ayat-ayat motivasi hendaknya selalu direnungkan guna tidak sia-sia menjalani hidup. Sebuah petikan ayat motivasi, Faman ya’mal mitsqala dzarratin khairan yarah waman ya’mal mitsqala dzarratin syarran yarah (Maka barang siapa yang mengerjakan amal baik seberat zarah pun, ia akan melihat (balasan)nya. Dan, barang siapa yang mengerjakan amal buruk seberat zarah pun, ia akan melihat (balasan)nya).[]

Lubangsa, 28 Juli 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...