Wahai penebar sejuta kesejukan!
Izinkan aku bercerita sekelumit masa silam dan
masa depanku;
Aku adalah orang yang tertindas sebab jahil
menitipkan amanah kepada orang yang salah. Titipan
itu adalah suatu kepercayaan. Penyerahan total cinta. Kala amanah itu diremeh-temehkan,
dampaknya pada diriku sendiri. Aku harus tersungkur dan tercampakkan karena sakit. Sakit
psikis. Yaitu sakit hati.
Ekspresi tangis dengan ritme sesegukan dan
isyarat tetesan air mata tak seberapa dibandingkan
sakit itu. Aku diam. Merenung. Mengadu pada Tuhan. Cukup!
Goresan luka seperti goresan kaca yang pecah.
Semangat menambal dengan sesuap kata-kata “maaf” tak dapat menghilangkan bias.
Bias itu mencipta sejarah suram dan tragis.
Aku belajar dari sejarah. Sejarah adalah masa
lalu yang menginspirasiku menjemput masa depan.
Akhirnya, aku sedikit tegar melupakan sakit dengan hiburan dan janji
mimpi-mimpi indah masa depanku. Mimpi yang menginspirasiku merantau ke Jakarta.
Di ibu kota modern ini kubertaruh: membaca dan menulis. Dua aktivitas favoritku
ini dapat membingkai Jakarta semakin hidup di benakku. Kemudian, kuputuskan
kuliah di UIN Jakarta.
Wahai penebar sejuta kesejukan!
Kecantikan adalah keindahan yang mampu
menghipnotis alam bawah sadar para lelaki. Awalnya
“suka” dan selesai. Tak ada kata lanjut. Ada yang memulai dari perasaan suka
dan kemudian dilanjutkan dengan perasaan cinta. Entah... cinta itu bersemi
sebab apa: tingkah lakunya yang sopan, kata-katanya yang santun, dan intektualnya yang
cemerlang.
Demikian persepsi-persepsi yang aku tahu.
Tetapi, kali ini aku merasakan berbeda. Ia hadir membawa
sejuta kesejukan yang mampu menenangkan hatiku yang kalut dan gundah. Kata-katanya
yang santun, sikapnya yang agamis, dan perhatiannya yang keibuan, mencipta
benih-benih cinta yang tulus berlabuh dan tertanam di laman hatiku.
Rasanya, aku seperti kedatangan tamu yang Tuhan
utus sembari membawa cinta sejati. Aku sadar, aku
sedang tersipu, tetapi aku tidak kuasa mengelak. Apalagi, di saat kesempatan
yang berbeda ia datang dengan ayat-ayat Tuhan yang dilantunkan dengan bacaan
penuh ritme-ritme ketulusan, sampai ayat-ayat itu menjelma menjadi mukjizat
yang melemahkan hatiku yang keras sekeras hati Syayyidina Umar bin Khattab
sebelum memeluk Islam. Akhirnya, aku memilih dia, sekalipun itu hanya bisik
nurani yang ia sendiri tidak mengetahui, mungkin.
Wahai penebar sejuta kesejukan!
Kini hatiku menjadi tenang. Sakinah. Aman.
Sebuah tanya: Benarkah dia adalah malaikat yang diutus Tuhan dan dipercayai
menjaga amanah-amanah yang Dia titipkan? Pertanyaan itu terjawab dengan
sendirinya oleh ketenangan yang tiba-tiba menyelusup ke dalam relung-relung
hati terdalam.
Di saat itu, aku memilihnya sebagai calon
khalifah yang setia bersama-sama berjuang menuju kepastian-kepastian
hidup yang dijadikan sunah Nabi saw, yaitu menikah. Menikah adalah suatu
ikatan yang diperintahkan dalam ajaran Islam. Ikatan itu bukan sekedar ikatan
biasa, tetapi ikatan yang diwarnai dengan kedewasaan berpikir dan
bertindak, dan sikap bertanggung jawab. Tanpa bermodalkan dua ini, ikatan ini
sulit langgeng.
Serius sekali aku membicarakan ikatan pernikahan
ini. Memang. Aku bukan anak kecil lagi yang bahagia dengan hubungan pacaran.
Sejauh yang aku tahu, pacaran itu adalah pelampiasan nafsu semata tanpa
diberengi rasa kedewasaan dan tanggung jawab.
Sungguh beruntung dia merengkuh hatiku, wahai
penebar sejuta kesejukan. “Siapa kamu?” hatiku berdesis, “Bukankah kamu Eka
Fitria Atmawati Hartono?”
Pamekasan, 27 Januari 2016
No comments:
Post a Comment