Kenapa kita bangga? Bahagia? Dan, naudzubillah sombong? Tentu, karena kita kuasa. Entah, kuasa dengan kesuksesan, popularitas, karir, dan kecantikan.
Sebaliknya, kenapa kita kesal? Patah semangat? Kecewa? Ya, tentu ada masalah. Bisa-bisa masalah itu berbentuk kegagalan, krisis ekonomi, dihianati teman, dan karir yang stagnan.
Sekilas begitu motif kebahagian dan kekecewaan yang menghias kepribadian seseorang. Sebenarnya, masih banyak motif lain yang tidak sempat saya urai di sini.
Kebahagian tidak selamanya anugerah. Demikian, kegagalan tidak sepenuhnya petaka. Mari lihat di sekeliling kita! Bukankah banyak tetangga kita bahagia sebab bergelimang harta, padahal ia nestapa oleh bayang-bayang hutang yang menumpuk? Karir mereka meninggi hingga melangit, tapi ia dihantui jeruji besi dan azab Allah nanti?
Di lain episode, kita diperlihatkan pada perjalanan hidup seseorang yang mengenaskan. Ia mengais makanan di tempat sampah yang kotor. Menunggu pelanggan di pinggir jalan yang penuh polusi udara. Berangkat pagi, pulang malam.
Menyaksikan adegan kehidupan kadang bikin bibir tersenyum, kadang mengiris hati. Ya Rab, apa makna dari semua adegan ini? Siapakah yang sebenarnya bahagia di antara hamba-Mu? Orang yang bergelimang harta? Atau orang yang pontang-panting mencari sesuap nasi?
Apa itu kebahagian? Apakah kebahagian dapat diraih hanya bermodal harta yang melimpah? Popularitas? Tidak selamanya. Kebahagian itu relatif. Kebahagian saya belum tentu sama dengan kebahagian Anda. Sebab, kebahagian erat kaitannya dengan ketercapaian mimpi yang dibarengi rasa syukur. Dan, kebahagian itu sebab sikap kanaah. Menerima apa yang telah menjadi ketentuan Allah.
Ketercapaian, syukur, dan kanaah adalah tip-tip meraih kebahagiaan. Melepas sikap syukur dan kanaah akan melahirkan problem yang tidak selesai-selesai, yaitu tamak dan pesimis.
Mari renungkan respons Nabi Sulaiman begitu ia menerima anugerah Allah berupa istana Ratu Balqis:
"Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah bersyukur atau malah mengingkari nikmat-Nya. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". Baca: QS. An-Naml: 40.
Sekaliber Nabi Sulaiman: selain gelar "nabi dan rasul" yang beliau terima, beliau dikaruniai kekayaan yang mampu melenturkan hati Ratu Balqis yang tajir nan jelita. Selain itu, beliau mampu menaklukkan jin hingga memindahkan istana Ratu Balqis ke hadapannya. Itu suatu potensi dan karunia Allah. Walau begitu, Sulaiman tetap tawaduk dan bersyukur. Betapa istana, desis Sulaiman, yang berdiri di hadapannya adalah ilustrasi dari karunia Allah. Beliau sadar itu tantangan, apakah karunia Allah itu akan direspons positif (syukur) atau negatif (kufur).
Kembali pada ilustrasi kehidupan manusia. Kesuksesan dan kegagalan akan menjadi karunia bila kita mampu membungkusnya: mengemas dengan syukur. Kita tidak melulu cemberut, sebab cemberut itu tidak akan mengatasi masalah. Tersenyumlah, biar kita tidak lupa bahagia.
Hiasi diri dengan syukur. Agar segala yang terjadi akan tampak lebih bermakna.[]
No comments:
Post a Comment