“Masa?!” Saya berkata ketus.
“Tadi Mr. Basith bilang: Sekarang kan 5 September….” Teman saya
merespons mengingat kata-kata gurunya.
Saya tertegun. Diam.
Dia melanjutkan, “Tu di buku Silsilah Keluarga Besar Bani
Syarqawi.”
Buku itu dibuka sambil mencari nama ‘Muhammad Ali Fikri’ melalui
urutan silsilah ‘Kiai Syarqawi + Nyai Mariyah’; ‘Kiai Ilyas’; ‘Drs. KH. A.
Warits Ilyas’; lalu ‘Muhammad Ali Fikri’. Persis di bawah tulisan ‘Muhammad Ali
Fikri’ tertulis tanggal lahir di atas.
Kenapa harus teman saya yang bercerita? Kok bukan saya? Saya lalai.
Berhari-hari kurang lebih tujuh tahun saya mondok di PP. Annuqayah daerah
Lubangsa, mengenang—paling tidak mengingat—tanggal lahir guru saya tak pernah
terlintas dalam benak saya. Nafsu telah membutakan segalanya.
Entahlah! Saya harus menggerutu seperti apa menyesali kelalaian
ini. Biarlah itu menjadi evaluasi melangkah di hari selanjutnya.
Mmm… ada cerita menjelang ulang tahun Kiai Muhammad Ali Fikri.
Pertama, menjelang shalat Maghrib malam Ahad (5/9), Kiai Fikri tidak mengimami
shalat Maghrib. Saya tak sampai investigasi langsung kepada khadam dhalem,
pengurus, dsb. Namun, tanpa disengaja, SMS di ponsel pesantren saya baca. Pesan
itu dari beliau. Isinya kurang lebih seperti ini: ‘Mohon shalat jama’ah
diselenggarakan. Saya masih belum mampu. Terima kasih!’
Sebuah pertanyaan terlintas di pikiran saya. “Kenapa beliau harus songkan
saat-saat ulang tahun beliau?” Saya hanya tafakur. Semoga dibalik sakit yang
menjamah beliau merupakan kasih sayang Tuhan kepada hamba-Nya!
M. Quraish Shihab menyatakan pada acara Tafsir Al-Misbah di MetroTv
menjelang sahur: “Mahasiswa saya selalu mendesak saya dipercepat-selesai
ujiannya agar cepat lulus.” Artinya, manusia akan dinyatakan lulus jika
berhasil melewati ujian. Sakit atau apalah.
Sakit banyak levelnya: dari yang tak terlalu parah hingga yang
parah. Yang diperhatikan Allah swt bukan kecil dan besarnya penyakit, tapi
sikap manusia menghadapi sakit itu. Sabarkah? Atau menggerutu? Ditambah
berprasangka negatif seperti Allah tidak kasihan atau apalah.
Dalam buku GANTI HATI Tantangan Menjadi Menteri-nya Dahlan
Iskan diceritakan perjalanan Dahlan yang mengidap sakit—yang menurut mayoritas
orang—termasuk ganas yakni kanker dan ginjal. Keganasan sakit itu banyak
merenggut nyawa. Tapi, bagaimana respons Dahlan menghadapi sakit itu? Dia
berusaha tersenyum, check up rutin, berobat, berdoa, dan tawakal. Tip-tip
itu dirasa cukup menjalani ujian-Nya. Akhirnya, Dahlan sembuh.
Tak lama—jika tidak salah—hanya sehari Kiai Ali Fikri songkan. Di
hari berikutnya, beliau mengimami kembali. Kehalusan suaranya saat membaca
ayat-ayat Al-Qur’an terngiang indah, sekalipun serak-serak karena sakit beliau
tidak pulih total.
Kedua, saya dan teman-teman yang ngobrol menjelang jam dua belas
malam berencana ngaji ke Asta Kiai Warits di sebelah selatan asrama pondok. Tawasul
dan baca surah Yasin merupakan momentum menyambut hari lahir beliau. Saya pikir
momentum itu baik. Bukan dihias dengan nyanyian ‘Happy birthday to you…’;
peniupan lilin; dan pemotongan kue. Bentuk perayaan seperti itu tidak pantas
dijadikan penyambutan hari lahir Kiai Fikri.
Dugaan saya semakin menguat berada pada posisi benar mengingat
beberapa alasan: Kiai Fikri termasuk pengasuh; dan beliau pernah mengkritik
penyambutan hari lahir organisasi daerah IKSAPUTRA dengan nyanyian.
Di hari lahir Kiai Fikri yang ke empat puluh dua semoga menjadikan
beliau semakin lebih baik! Kepribadian beliau yang idealis, sederhana, dan
warak—saya sebagai santrinya—merasa bangga. Saya dapat belajar banyak hal dari
beliau. Wahai guru sejati![]
No comments:
Post a Comment