Sunday, September 27, 2015

Dua Hal Menyambut Hari Lahir Kiai Ali Fikri



“Masa?!” Saya berkata ketus.

“Tadi Mr. Basith bilang: Sekarang kan 5 September….” Teman saya merespons mengingat kata-kata gurunya.

Saya tertegun. Diam.

Dia melanjutkan, “Tu di buku Silsilah Keluarga Besar Bani Syarqawi.

Buku itu dibuka sambil mencari nama ‘Muhammad Ali Fikri’ melalui urutan silsilah ‘Kiai Syarqawi + Nyai Mariyah’; ‘Kiai Ilyas’; ‘Drs. KH. A. Warits Ilyas’; lalu ‘Muhammad Ali Fikri’. Persis di bawah tulisan ‘Muhammad Ali Fikri’ tertulis tanggal lahir di atas.

Kenapa harus teman saya yang bercerita? Kok bukan saya? Saya lalai. Berhari-hari kurang lebih tujuh tahun saya mondok di PP. Annuqayah daerah Lubangsa, mengenang—paling tidak mengingat—tanggal lahir guru saya tak pernah terlintas dalam benak saya. Nafsu telah membutakan segalanya.

Entahlah! Saya harus menggerutu seperti apa menyesali kelalaian ini. Biarlah itu menjadi evaluasi melangkah di hari selanjutnya.

Mmm… ada cerita menjelang ulang tahun Kiai Muhammad Ali Fikri. Pertama, menjelang shalat Maghrib malam Ahad (5/9), Kiai Fikri tidak mengimami shalat Maghrib. Saya tak sampai investigasi langsung kepada khadam dhalem, pengurus, dsb. Namun, tanpa disengaja, SMS di ponsel pesantren saya baca. Pesan itu dari beliau. Isinya kurang lebih seperti ini: ‘Mohon shalat jama’ah diselenggarakan. Saya masih belum mampu. Terima kasih!’

Sebuah pertanyaan terlintas di pikiran saya. “Kenapa beliau harus songkan saat-saat ulang tahun beliau?” Saya hanya tafakur. Semoga dibalik sakit yang menjamah beliau merupakan kasih sayang Tuhan kepada hamba-Nya!

M. Quraish Shihab menyatakan pada acara Tafsir Al-Misbah di MetroTv menjelang sahur: “Mahasiswa saya selalu mendesak saya dipercepat-selesai ujiannya agar cepat lulus.” Artinya, manusia akan dinyatakan lulus jika berhasil melewati ujian. Sakit atau apalah.

Sakit banyak levelnya: dari yang tak terlalu parah hingga yang parah. Yang diperhatikan Allah swt bukan kecil dan besarnya penyakit, tapi sikap manusia menghadapi sakit itu. Sabarkah? Atau menggerutu? Ditambah berprasangka negatif seperti Allah tidak kasihan atau apalah.

Dalam buku GANTI HATI Tantangan Menjadi Menteri-nya Dahlan Iskan diceritakan perjalanan Dahlan yang mengidap sakit—yang menurut mayoritas orang—termasuk ganas yakni kanker dan ginjal. Keganasan sakit itu banyak merenggut nyawa. Tapi, bagaimana respons Dahlan menghadapi sakit itu? Dia berusaha tersenyum, check up rutin, berobat, berdoa, dan tawakal. Tip-tip itu dirasa cukup menjalani ujian-Nya. Akhirnya, Dahlan sembuh.

Tak lama—jika tidak salah—hanya sehari Kiai Ali Fikri songkan. Di hari berikutnya, beliau mengimami kembali. Kehalusan suaranya saat membaca ayat-ayat Al-Qur’an terngiang indah, sekalipun serak-serak karena sakit beliau tidak pulih total.

Kedua, saya dan teman-teman yang ngobrol menjelang jam dua belas malam berencana ngaji ke Asta Kiai Warits di sebelah selatan asrama pondok. Tawasul dan baca surah Yasin merupakan momentum menyambut hari lahir beliau. Saya pikir momentum itu baik. Bukan dihias dengan nyanyian ‘Happy birthday to you…’; peniupan lilin; dan pemotongan kue. Bentuk perayaan seperti itu tidak pantas dijadikan penyambutan hari lahir Kiai Fikri.

Dugaan saya semakin menguat berada pada posisi benar mengingat beberapa alasan: Kiai Fikri termasuk pengasuh; dan beliau pernah mengkritik penyambutan hari lahir organisasi daerah IKSAPUTRA dengan nyanyian.

Di hari lahir Kiai Fikri yang ke empat puluh dua semoga menjadikan beliau semakin lebih baik! Kepribadian beliau yang idealis, sederhana, dan warak—saya sebagai santrinya—merasa bangga. Saya dapat belajar banyak hal dari beliau. Wahai guru sejati![] 

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...