Negeri Para Bedebah
Penulis
Tere Liye
Penerbit
PT Gramedia
Cetakan
8, Mei 2014
Tebal
433 halaman
ISBN
978-979-22-8552-9
Menjadi kaya adalah takdir hidup yang
terus-menerus didambakan. Sebab kekayaan, orang menjadi terpandang, berkuasa,
dan berdiri di nomor wahid. Rumah megah, mobil mengkilap, baju necis, dst dapat
menghapus kharisma nasab, ketampanan, dan kepintaran.
Disadari kekayaan bukanlah Tuhan yang Maha
Segalanya. Kemauan menjadi kaya, agama tidak melarang, tapi yang dilarang
adalah memuja kekayaan sebagai bedak kehidupan. Novel Tere Liye, Negeri Para
Bedebah, mengisahkan perjalanan hidup orang yang terbuai kenikmatan harta. Novel
ini telah mengungkap kehidupan pelaku kejahatan; korupsi, dst. Kebahagian, di
pikiran mereka, hanyalah harta. Ya, harta.
Diceritakan. Thomas, konsultan keuangan, yang
berapi-api membuka kedok bejat pejabat-pejabat tinggi yang sering meraup uang
rakyat, kongkalikong, dan korupsi di depan publik. Para audiens terperangah
mendengar pemaparannya yang terkesan bijak. Sayangnya, Thomas harus menelan
ludahnya sendiri saat dihadapkan dengan kasus pamannya, Om Liem, yang melanggar
banyak regulasi, ambisius, memanfaatkan banyak koneksi untuk memuluskan
bisnisnya, dan banyak kejahatan lainnya.
Thomas menyembunyikan Om Liem dari kejaran polisi
hingga Thomas sendiri terkasus juga. Lebih parahnya lagi, sikap Thomas tidak senonoh
hari ke hari: menggadai janji-janji palsu—mengembalikan simpanan nasabah dengan
syarat dikurangi sepertiga dari simpanan itu—kepada nasabah-nasabah Bank
Semesta, menarik kembali uang sogok satu miliar saat keluar dari penjara, dsb.
Harta yang bergelimangan bukan membuat Thomas hidup
tenang, namun ia selalu tertekan dan resah karena kejaran polisi. Dia kabur
dari suatu daerah ke daerah lain, dari daratan ke lautan, dan dari negara ke
negara lain, jaringan kepolisian semakin tambah sigap dan ketat. Thomas dan
keluarganya—Om Liem, Tente Liem, dan Opa—bukan semakin lapang, namun bertambah
resah dan bingung.
Penghianatan sering terjadi karena harta,
kendatipun teman/sahabat sendiri. Ram, salah satu teman Thomas, yang sering
membantu saat Thomas terjerat dalam kesulitan. Namun, Ram, di akhir cerita
novel ini, berkhianat; Thomas dan Opa diborgol di atas kapal Pasifik. Di
situlah pertarungan sengit terjadi. Atas kejahatan Ram, para bedebah seperti
Wusdi dan Tunga mati mengenaskan—mulut berbusa dan tubuh roboh di atas
kapal—kerena minuman teh yang bercampur racun di atas kapal lalu mereka
dilempar ke Laut Cina Selatan. Kemudian, Thomas dan Opa menyusul diceburkan ke
dalam laut. Tapi, Thomas dan Opa masih selamat.
Dugaannya, Ram menjadi pemenang setelah para
bedebah tercebur ke dalam laut. Ternyata, Ram sendiri tertipu karena kapal yang
ditumpangi hilang dari peta navigasi; kapal itu tidak akan menuju Hongkong. Justru
kemenangan itu milik Thomas dan Opa.
Novel yang penuh dengan pergulatan hidup dan anti
kisah percintaan sedikit banyak memberikan pengalaman berbeda. Saya kira novel
Tere ini tampil berbeda daripada novel-novelnya Dee dan Kang Abik—sebutan
Habiburrahman El-Shirazy—yang sarat kisah-kisah percintaan. Kendati demikian,
karya Tere diminati banyak pembaca, lebih-lebih para feminin.
Kekejaman hidup tak absen saat kita dihadapkan
dengan masalah harta guna menggapai kekayaan. Segala cara—tanpa memfilter yang
jelek—digunakan. Yang terpenting, visi dan target tercapai.
Melalui novel ini, Tere mengajarkan kita menjadi
orang yang selalu berhati-hati dengan kekejaman hidup demi menggapai kenikmatan
dan kesenangan fana. Ingat, kesenangan belum tentu menjadi kebahagiaan sekarang
ataupun nanti. Apakah kita akan ikut rusak kerena lingkungan kita rusak?[]

No comments:
Post a Comment