Sunday, September 27, 2015

Kehidupan Para Pemuja Harta



Judul Buku
Negeri Para Bedebah
Penulis
Tere Liye
Penerbit
PT Gramedia
Cetakan
8, Mei 2014
Tebal
433 halaman
ISBN
978-979-22-8552-9

Menjadi kaya adalah takdir hidup yang terus-menerus didambakan. Sebab kekayaan, orang menjadi terpandang, berkuasa, dan berdiri di nomor wahid. Rumah megah, mobil mengkilap, baju necis, dst dapat menghapus kharisma nasab, ketampanan, dan kepintaran.

Disadari kekayaan bukanlah Tuhan yang Maha Segalanya. Kemauan menjadi kaya, agama tidak melarang, tapi yang dilarang adalah memuja kekayaan sebagai bedak kehidupan. Novel Tere Liye, Negeri Para Bedebah, mengisahkan perjalanan hidup orang yang terbuai kenikmatan harta. Novel ini telah mengungkap kehidupan pelaku kejahatan; korupsi, dst. Kebahagian, di pikiran mereka, hanyalah harta. Ya, harta.

Diceritakan. Thomas, konsultan keuangan, yang berapi-api membuka kedok bejat pejabat-pejabat tinggi yang sering meraup uang rakyat, kongkalikong, dan korupsi di depan publik. Para audiens terperangah mendengar pemaparannya yang terkesan bijak. Sayangnya, Thomas harus menelan ludahnya sendiri saat dihadapkan dengan kasus pamannya, Om Liem, yang melanggar banyak regulasi, ambisius, memanfaatkan banyak koneksi untuk memuluskan bisnisnya, dan banyak kejahatan lainnya.

Thomas menyembunyikan Om Liem dari kejaran polisi hingga Thomas sendiri terkasus juga. Lebih parahnya lagi, sikap Thomas tidak senonoh hari ke hari: menggadai janji-janji palsu—mengembalikan simpanan nasabah dengan syarat dikurangi sepertiga dari simpanan itu—kepada nasabah-nasabah Bank Semesta, menarik kembali uang sogok satu miliar saat keluar dari penjara, dsb.

Harta yang bergelimangan bukan membuat Thomas hidup tenang, namun ia selalu tertekan dan resah karena kejaran polisi. Dia kabur dari suatu daerah ke daerah lain, dari daratan ke lautan, dan dari negara ke negara lain, jaringan kepolisian semakin tambah sigap dan ketat. Thomas dan keluarganya—Om Liem, Tente Liem, dan Opa—bukan semakin lapang, namun bertambah resah dan bingung.

Penghianatan sering terjadi karena harta, kendatipun teman/sahabat sendiri. Ram, salah satu teman Thomas, yang sering membantu saat Thomas terjerat dalam kesulitan. Namun, Ram, di akhir cerita novel ini, berkhianat; Thomas dan Opa diborgol di atas kapal Pasifik. Di situlah pertarungan sengit terjadi. Atas kejahatan Ram, para bedebah seperti Wusdi dan Tunga mati mengenaskan—mulut berbusa dan tubuh roboh di atas kapal—kerena minuman teh yang bercampur racun di atas kapal lalu mereka dilempar ke Laut Cina Selatan. Kemudian, Thomas dan Opa menyusul diceburkan ke dalam laut. Tapi, Thomas dan Opa masih selamat.

Dugaannya, Ram menjadi pemenang setelah para bedebah tercebur ke dalam laut. Ternyata, Ram sendiri tertipu karena kapal yang ditumpangi hilang dari peta navigasi; kapal itu tidak akan menuju Hongkong. Justru kemenangan itu milik Thomas dan Opa.

Novel yang penuh dengan pergulatan hidup dan anti kisah percintaan sedikit banyak memberikan pengalaman berbeda. Saya kira novel Tere ini tampil berbeda daripada novel-novelnya Dee dan Kang Abik—sebutan Habiburrahman El-Shirazy—yang sarat kisah-kisah percintaan. Kendati demikian, karya Tere diminati banyak pembaca, lebih-lebih para feminin.

Kekejaman hidup tak absen saat kita dihadapkan dengan masalah harta guna menggapai kekayaan. Segala cara—tanpa memfilter yang jelek—digunakan. Yang terpenting, visi dan target tercapai.

Melalui novel ini, Tere mengajarkan kita menjadi orang yang selalu berhati-hati dengan kekejaman hidup demi menggapai kenikmatan dan kesenangan fana. Ingat, kesenangan belum tentu menjadi kebahagiaan sekarang ataupun nanti. Apakah kita akan ikut rusak kerena lingkungan kita rusak?[]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...