Tanpa terasa perjalanan waktu telah sempai pada
momen itu. Diri ini tak sadar. Seakan-akan hari ini, hari seperti biasanya. Tak
ada yang memukau. Tak ada yang surprise. Tak ada yang fantastik. Sumpah,
akal sehat terbatas menjangkau sesuatu di balik tabir.
Duduk santai menghapus lelah sembari menatap laptop
yang nyala: ada yang buka fb, nonton film, ngetik-ngetik sesuatu, dsb. Semburat
merah kian menghilang terhapus gelap malam di ufuk barat. Shalat Maghrib pun
belum. Inginnya shalat jamaah. Sayang, shalat yang terhias berjuta-juta pahala kandas.
Yah, shalat sendirian.
Obrolan menepis kesunyian tanpa dinyana
membangkitkan lamunan. Ucapan si teman itu yang fokus menatap laptop; online,
bikin saya berdesis ‘oh, iya!’. “Selamat ulang tahun, kawan!” Ingatan pulih,
malam ini bertepat tanggal 15 September 2015. Usia saya telah dua puluh dua
tahun.
Di saat yang seperti ini, saya delimatis merespons
permintaan teman yang perhatian menyambut ulang tahun saya. Dia minta
ditraktir. Eh, saya menanggalkan permintaan itu. “Beli sesuatu gitu!” Celetuk
teman saya yang lain. Saya cuek saja. Saya berbicara yang lain: ‘Saya shalat
aja dulu ya….’
Selesai shalat Maghrib, saya otak-atik laptop yang
nyala. Saya buka fb. Teman-teman di media online ini telah banyak yang
ngucapin “selamat ulang tahun!”. Saya jadi sumiringah. Bahagia. Di balik
kepergian seseorang—entah, dia sedang ada di mana sekarang—banyak orang yang
sudi dan perhatian, kalaupun mereka bukan yang spesial. Optimis melangkah di
tengah dukungan banyak orang, tak kikuk lagi.
Di malam itu, saya banyak menghimpun cerita:
bahagia, sedih, dsb. //Saya merasa bersyukur mengevaluasi kegiatan saya
(penanggung jawab) dan teman-teman, Semarak Dua Bahasa, berjalan tanpa banyak
rintangan daripada tahun sebelumnya. Senyum tersungging. Otak tak banyak
diporsir mikir-mikir pelbagai masalah pelik. Santai dan kerja keras. Saya
ngelihat banyak teman-teman bekerja semangat guna menyukseskan acara ini.
Syukur.//
//Saat duduk tak terlalu jauh dari panggung acara
Semarak Dua Bahasa sekitar arena lomba, sebuah pernyataan teman saya melayang
dan hinggap tepat di depan saya. “Siapa yang ngelatih anak-anak?” tanyanya
menyeka lamunan. “Eee, kalo saya hanya ngelatih peserta lomba pidato saja, yang
lain mereka latihan sendiri,” jawab saya tegas.//
//Saya terkadang merasa sedih melihat semangat
teman-teman yang ikut lomba seakan-akan seperti anak yang hidup di tengah ibu
tiri yang kurang peduli. Sulit membayangkan seperti apa sedihnya mereka menjadi
anak yang terlantar, tidak diperhatikan. “Coba bayangkan!” Ucap saya. Syukur,
persiapan dan penampilan teman-teman tidak memalukan.//
//Entahlah, saya tidak ngerti tentang kegiatan
rutin saya setiap malam, shalat Tahajud. Di malam itu saya terlambat tidur alias
kemalaman. Maklum, ngikut nimbrung di acara lomba hingga hampir jam dua belas
malam lalu istirahat sejenak dan rapat evaluasi. Ya, kurang lebih rapat
evaluasi setengah jam-an. Dan, saya tidur jam satu. Saya niat; baca doa sebelum
tidur tanpa menghidupkan beker, pembantu membangunkan saya. Mata dipejamkan
erat-erat tanpa memperhatikan teman-teman yang main game sepak bola. Kayaknya
mereka asyik. Jam dua nanti saya mohon kepada Tuhan dibangunkan. “Hah!” kaget
saat saya bangun ngelihat semburat matahari terpancar di tebing-tebing
perumahan. Saya bangun kesiangan. Shalat Tahajud, pun shalat Subuh saya,
kandas.//
//Ingat-ingat semangat baca saya tumbuh berkembang.
Seperti Gus Dur, si kutu buku, saya ke mana-mana bawa buku bacaan, sekalipun
tidak akan dibaca kecuali ke toilet/kamar mandi. Guna memelihara ingatan saya,
buku yang selesai dibaca diresensi. Ada banyak buku yang telah selesai dibaca
dan diresensi. Di antaranya, Ganti Hati; Tantangan Menjadi Menteri-nya
Dahlan Iskan, Rectoverso-nya Dee, Gus Dur Garis Miring PKB-nya A.
Mustafa Birsi, Negeri Para Bedebah dan Bidadari-Bidadari Surga-nya
Tere Liye, HAMKA Berbicara tentang Perempuan-nya HAMKA, Oase
Kepemimpinan Kiai Warits-nya KH. Syafi’ie Anshori, dkk.//
Rencana saya kemudian adalah belanja buku. Saya
bingung awalnya pilih-pilih toko buku: di Malang atau di Jogjakarta. Soal
kualitas, tentu toko buku di Jogjakarta yang paling bagus, tapi ongkos
perjalanan (pulang pergi) dari Madura ke Jogjakarta yang amat mahal daripada
perjalanan ke Malang. Tanya-tanya pada teman-teman, Madura-Malang kurang lebih
pulang pergi Rp. 120.000,- sedangkan Madura-Jogjakarta Rp. 200.000,-. Saat
dipikir ulang dan matang-matang, rencana belanja yang ke Malang dirubah ke
Jogjakarta saja. Kalau pun ongkos transportasinya lebih mahal, mendapatkan buku
berkualitas (cetak dan isi) sangat terjangkau.
Semoga pergantian usia ke-22 ini menjadikan saya
semakin lebih baik! Tak ada yang dijadikan media harapan selain doa. Untuk
teman-teman atau yang lain yang telah repot-repot menyambut hari lahir saya,
balasan saya tak banyak melainkan ucapan “terima-kasih”.[]
No comments:
Post a Comment