Sunday, September 27, 2015

Momen sebelum, saat, dan setelah Ulang Tahun Saya



Tanpa terasa perjalanan waktu telah sempai pada momen itu. Diri ini tak sadar. Seakan-akan hari ini, hari seperti biasanya. Tak ada yang memukau. Tak ada yang surprise. Tak ada yang fantastik. Sumpah, akal sehat terbatas menjangkau sesuatu di balik tabir.

Duduk santai menghapus lelah sembari menatap laptop yang nyala: ada yang buka fb, nonton film, ngetik-ngetik sesuatu, dsb. Semburat merah kian menghilang terhapus gelap malam di ufuk barat. Shalat Maghrib pun belum. Inginnya shalat jamaah. Sayang, shalat yang terhias berjuta-juta pahala kandas. Yah, shalat sendirian.

Obrolan menepis kesunyian tanpa dinyana membangkitkan lamunan. Ucapan si teman itu yang fokus menatap laptop; online, bikin saya berdesis ‘oh, iya!’. “Selamat ulang tahun, kawan!” Ingatan pulih, malam ini bertepat tanggal 15 September 2015. Usia saya telah dua puluh dua tahun.

Di saat yang seperti ini, saya delimatis merespons permintaan teman yang perhatian menyambut ulang tahun saya. Dia minta ditraktir. Eh, saya menanggalkan permintaan itu. “Beli sesuatu gitu!” Celetuk teman saya yang lain. Saya cuek saja. Saya berbicara yang lain: ‘Saya shalat aja dulu ya….’

Selesai shalat Maghrib, saya otak-atik laptop yang nyala. Saya buka fb. Teman-teman di media online ini telah banyak yang ngucapin “selamat ulang tahun!”. Saya jadi sumiringah. Bahagia. Di balik kepergian seseorang—entah, dia sedang ada di mana sekarang—banyak orang yang sudi dan perhatian, kalaupun mereka bukan yang spesial. Optimis melangkah di tengah dukungan banyak orang, tak kikuk lagi.

Di malam itu, saya banyak menghimpun cerita: bahagia, sedih, dsb. //Saya merasa bersyukur mengevaluasi kegiatan saya (penanggung jawab) dan teman-teman, Semarak Dua Bahasa, berjalan tanpa banyak rintangan daripada tahun sebelumnya. Senyum tersungging. Otak tak banyak diporsir mikir-mikir pelbagai masalah pelik. Santai dan kerja keras. Saya ngelihat banyak teman-teman bekerja semangat guna menyukseskan acara ini. Syukur.//

//Saat duduk tak terlalu jauh dari panggung acara Semarak Dua Bahasa sekitar arena lomba, sebuah pernyataan teman saya melayang dan hinggap tepat di depan saya. “Siapa yang ngelatih anak-anak?” tanyanya menyeka lamunan. “Eee, kalo saya hanya ngelatih peserta lomba pidato saja, yang lain mereka latihan sendiri,” jawab saya tegas.//

//Saya terkadang merasa sedih melihat semangat teman-teman yang ikut lomba seakan-akan seperti anak yang hidup di tengah ibu tiri yang kurang peduli. Sulit membayangkan seperti apa sedihnya mereka menjadi anak yang terlantar, tidak diperhatikan. “Coba bayangkan!” Ucap saya. Syukur, persiapan dan penampilan teman-teman tidak memalukan.//

//Entahlah, saya tidak ngerti tentang kegiatan rutin saya setiap malam, shalat Tahajud. Di malam itu saya terlambat tidur alias kemalaman. Maklum, ngikut nimbrung di acara lomba hingga hampir jam dua belas malam lalu istirahat sejenak dan rapat evaluasi. Ya, kurang lebih rapat evaluasi setengah jam-an. Dan, saya tidur jam satu. Saya niat; baca doa sebelum tidur tanpa menghidupkan beker, pembantu membangunkan saya. Mata dipejamkan erat-erat tanpa memperhatikan teman-teman yang main game sepak bola. Kayaknya mereka asyik. Jam dua nanti saya mohon kepada Tuhan dibangunkan. “Hah!” kaget saat saya bangun ngelihat semburat matahari terpancar di tebing-tebing perumahan. Saya bangun kesiangan. Shalat Tahajud, pun shalat Subuh saya, kandas.//

//Ingat-ingat semangat baca saya tumbuh berkembang. Seperti Gus Dur, si kutu buku, saya ke mana-mana bawa buku bacaan, sekalipun tidak akan dibaca kecuali ke toilet/kamar mandi. Guna memelihara ingatan saya, buku yang selesai dibaca diresensi. Ada banyak buku yang telah selesai dibaca dan diresensi. Di antaranya, Ganti Hati; Tantangan Menjadi Menteri-nya Dahlan Iskan, Rectoverso-nya Dee, Gus Dur Garis Miring PKB-nya A. Mustafa Birsi, Negeri Para Bedebah dan Bidadari-Bidadari Surga-nya Tere Liye, HAMKA Berbicara tentang Perempuan-nya HAMKA, Oase Kepemimpinan Kiai Warits-nya KH. Syafi’ie Anshori, dkk.//

Rencana saya kemudian adalah belanja buku. Saya bingung awalnya pilih-pilih toko buku: di Malang atau di Jogjakarta. Soal kualitas, tentu toko buku di Jogjakarta yang paling bagus, tapi ongkos perjalanan (pulang pergi) dari Madura ke Jogjakarta yang amat mahal daripada perjalanan ke Malang. Tanya-tanya pada teman-teman, Madura-Malang kurang lebih pulang pergi Rp. 120.000,- sedangkan Madura-Jogjakarta Rp. 200.000,-. Saat dipikir ulang dan matang-matang, rencana belanja yang ke Malang dirubah ke Jogjakarta saja. Kalau pun ongkos transportasinya lebih mahal, mendapatkan buku berkualitas (cetak dan isi) sangat terjangkau.

Semoga pergantian usia ke-22 ini menjadikan saya semakin lebih baik! Tak ada yang dijadikan media harapan selain doa. Untuk teman-teman atau yang lain yang telah repot-repot menyambut hari lahir saya, balasan saya tak banyak melainkan ucapan “terima-kasih”.[] 

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...